A/N:
Sebuah karya kolaborasi saya dengan Kimono'z,
karya ini telah kami cetak dalam bentuk fanbook maupun light novel.
Dipublikasi di dua tempat yaitu ffn (akun saya) dan wattpad (akun Kimono'z).
Nantikan fanbook kami berikutnya ya, akan ada unsur romansa dengan laga di sana ^^
Disclaimer:
Chara yang digunakan dalam cerita ini diambil dari Naruto karya Masashi Kishimoto.
ForgetMeNot09
ft.
Kimono'z
present
.
.
.
MARRY SUNSHINE
.
.
.
Bagian 2
Matanya mengerjap. Hal pertama yang dilihatnya adalah warna putih gading dari atap kamar. Dengan kepala yang masih terasa sakit, Hinata bangun, lalu duduk. Berusaha mengingat-ingat apa yang terakhir kali terjadi. Perkara yang membuatnya tak sadar kan diri, dan tiba-tiba berada di atas ranjang.
Ah! Laki-laki itu.
Hinata panik. Ia menoleh ke samping dan ...
"Kyaaa ...," teriaknya.
Pria yang baru saja ia cari ternyata ada di sampingnya. Tersenyum padanya. Atau lebih tepat menyeringai.
Hinata menelan ludah gugup. Perlahan ia menggeser posisi tubuhnya, bergerak mundur dan menjauh.
"K-kau siapa?!"
Hinata semakin menarik tubuhnya untuk mundur. Akan tetapi pria itu justru naik ke atas ranjang, membuatnya terpaksa merebahkan tubuh karena pria tersebut kini merangkak di atas tubuhnya. Kian dekat hingga kening mereka bersentuhan.
"Aku adalah iblis." Pria itu berucap. "Iblis baik hati yang akan menemanimu dalam sepi dan ...,"
Netra Hinata membulat. Ia tahu benar kalimat ini. Kalimat yang ia buat sebagai dialog pertama antara Marry dan Sunshine.
" ... menyayangimu."
Napas Hinata semakin tercekat di tenggorokan kala mendengar si pria memperkenalkan namanya.
"Sunshine."
MARRY SUNSHINE
"Hinata."
Yang dipanggil menoleh. Tatapannya mengarah pada Sunshine yang kini tengah memainkan sendok sayur di sela jemarinya. Seringai yang berbeda menghiasi bibir tipis pria itu. Tidak seperti saat pertama bertemu, kali ini, seringainya lebih mirip anak kecil yang nakal.
Hinata menyusuri tubuh Sunshine dengan pandangan matanya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut kuning menantang gravitasi, mata biru sejernih lautan, bibir tipis, goresan di pipi, hingga sayap hitam di belakang punggung dan tanduk di atas kepalanya. Semua objek itu benar-benar penggambaran nyata dari tokoh dalam novelnya, Sunshine.
Hinata pusing tujuh keliling. Bukan hanya ciri fisik, apa yang dilakukan pria itu juga mirip dengan yang ia tuliskan dalam novel.
Hinata mencubit pipinya, berusaha meyakinkan diri bahwa ini mimpi.
"Akh ...," batinnya menjerit, sakit.
"Sunshine, bisa kembalikan sendok itu?"
Pria itu menyeringai lebar. Ia melayang sejarak setengah meter dari lantai. Menatap nakal sambil berputar-putar pelan. Intensi yang kentara sekali untuk membuat Hinata kesal.
"Ya Tuhan, mengapa pula aku membuat adegan yang seperti ini? Aku pikir bisa mengakrabkan hubungan mereka. Akh ... ternyata efeknya justru mengesalkan."
Hinata memijit pelipis yang sakit. Kepalanya mendadak pening dengan tingkah laku pria itu. "Sunshine, ayolah kembalikan. Aku butuh sendok itu untuk mengaduk sayur. Ayolah, aku sudah lapar."
Dan Hinata bukan Marry yang selalu sabar. Ada kalanya semua berbatas. Hinata membelalakkan mata saat melihat Sunshine terbang menjauh. Ia mengejarnya.
"Sunshine!"
MARRY SUNSHINE
Seharian ini Hinata habiskan untuk memasak. Seharusnya tidak butuh waktu lama, tapi hari ini berbeda. Semua karena Sunshine, semua karena pria itu. Pria yang selalu berulah dan menggodanya selama kegiatan memasak.
Gadis itu kelelahan. Tanpa sadar ia tertidur di ruang makan. Kepalanya bersandar pada tepi meja. Wajahnya terlihat lelah.
Mendadak, ia terbangun dan bersin. Bukan tanpa sebab, Sunshine menggelitiki hidung mungilnya menggunakan ujung kemoceng. Jadi saja Hinata merasa geli meskipun tengah tertidur.
"Apa yang kau lakukan?"
Hinata kembali bersin. Ia menggosok hidungnya yang memerah. Matanya mendelik tajam pada Sunshine. Sialnya, pria itu malah menjulurkan lidah dan berlari menghindarinya. Terulanglah adegan kejar-kejaran antara dirinya dengan pria itu seperti beberapa jam lalu.
MARRY SUNSHINE
Agaknya kini Hinata mulai terbiasa dengan keberadaan pria itu. Setiap bangun pagi, yang selalu ada di samping ranjangnya adalah dia. Memandang dan menggoda dengan tatapan nakal.
"Selamat pagi," sapanya.
Hinata tersenyum canggung. Dengan cepat ia menggosok-gosok kedua mata dan sudut bibirnya. Berniat menghilangkan semua pertanda bahwa ia baru saja bangun tidur. Bahkan rambut yang kusut, ia sisir dengan jari-jari lentiknya.
"Se-selamat pagi," gugupnya lirih.
Hinata berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Pria itu mengikuti dari belakang. Berjalan tenang dengan raut muka tak bersalah. Hinata menoleh, menatap curiga, tapi Sunshine malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hinata menggelengkan kepalanya dan berbalik, kembali berjalan. Rasanya ia memang mendengar langkah Sunshine, maka dari itu ia kembali menoleh. Lagi dan lagi pria itu sedang mengalihkan pandangannya sambil bibirnya mengerucut dan bersiul-siul. Hinata memincingkan mata. Jarak antara dia dengan pria itu masih tetap sama. Artinya Sunshine memang mengekorinya.
Gadis itu mendesah kesal. Ia membalikkan badan dan melipat kedua tangan di depan dada.
"Sunshine?!" Ia memanggil lantang.
"Hm?"
"Jangan mengikutiku!"
"Tidak. Aku tidak mengikutimu."
Mata Hinata semakin memincing. Namun yang didapatnya adalah tatapan tanpa dosa Sunshine. Pria itu benar-benar pandai mengubah mimik muka. Kadang ia bisa menyeringai nakal, menatap menggoda, atau bahkan seperti saat ini membuat Hinata melunak.
"Lalu mengapa kau berada di belakangku?" Hinata bertanya lembut.
"Huh? Memang tidak boleh?"
"Bukan tidak boleh, tapi Sunshine, aku akan mandi. Jadi kau tunggu saja di sana ya." Hinata mengarahkan telunjuknya pada kursi meja rias.
"Aku mau menemanimu di dalam." Suara Sunshine mendadak serak saat mengatakan itu, netra birunya mengerling nakal, raut mukanya pun berubah menggoda. Ugh, sial!
Hinata salah tingkah tapi dengan cepat menguasai diri. Ia meraih handuk yang menggantung di bahu dan mengibas-ibaskannya ke arah Sunshine.
"Mesum!"
MARRY SUNSHINE
Tiga puluh menit berlalu. Selesai mandi, Hinata segera mengeringkan tubuhnya dan berganti pakaian. Tentu saja setelah ia memastikan bahwa Sunshine tidak berada di kamarnya.
Hari ini ia mengenakan gaun hijau pastel yang terbuat dari katun Cina. Gaun itu sepanjang lutut, bagian atas tanpa lengan, dan menempel anggun pada tubuhnya. Gaun itu pemberian sang ayah di hari ulangtahunnya setahun lalu. Hinata terlihat cantik dengan rambut indigo yang terurai jatuh. Tampak anggun dan menawan.
Namun sayang, bukan seperti itu gaya Hinata. Ia mengambil sweater rajut dengan warna hijau gelap dari lemari lantas memakainya. Pakaian itu agak kebesaran. Tapi Hinata tak acuh.
"Hinata?"
Ia menoleh, mendapati Sunshine sedang berdiri di ambang pintu, bersandar pada salah satu sisinya.
"Aku mau ke pasar. Kau mau ikut?"
Sunshine bak anak kecil yang mendapat tawaran permen, mengangguk antusias. Pria itu melayang rendah dan menghampiri Hinata.
"Ayo!"
Hinata pun tersenyum.
Keduanya berjalan beriringan. Perbincangan ringan menemani sepanjang jalan, mengatasi kecanggungan Hinata.
Dalam suasana seperti ini, terkadang tingkah Sunshine terlihat seperti pria normal. Menanggapi dengan serius jika ia sedang menceritakan sesuatu yang serius, dan menanggapinya dengan candaan ketika ia tengah bergurau. Terkadang pula sifat kekanakan Sunshine muncul. Seperti saat ini.
"Sunshine, jangan menarik-narik rambutku!"
"Hm? Aku tidak menariknya."
"Itu kau menarik rambutku."
"Aku hanya menyentuhnya. Rambutmu indah sekali."
Hinata terpaku sejenak, jantungnya berdegup kencang. Ada sensasi asing yang ia rasakan. Lalu, hangat menjalar pada kedua belah pipinya. Ya, ia tengah merona.
"Terimakasih," jawabnya lirih.
Gadis itu melanjutkan langkahnya seraya menarik napas dalam dan mengembusnya perlahan. Berusaha menetralkan detak nadinya yang sudah tak keruan. Ia tak menyadari sepasang iris biru kini menatapnya nakal dengan seringai mencurigakan.
Set!
"Awww ..."
Hinata berteriak kala merasakan tarikan yang lebih kuat dari sebelumnya. Bukan sebab kesakitan, melainkan ia terkejut atas apa yang dilakukan Sunshine di tengah jalan dan tatapan orang lain kepadanya.
"Sunshine!"
Netranya menajam, memberikan tatapan membunuh pada pria itu. Sunshine kembali memasang tampang polos.
"Ada apa?"
"Sudah kubilang jangan menarik rambutku!"
"Aku tidak menariknya Hinata, aku hanya menyentuhnya."
Merasa kesal karena dipermainkan, Hinata meraih pergelangan tangan Sunshine dan meletakkannya di sisi tubuh kekar pria itu.
"Jangan main-main!"
Hinata menghentakkan kaki dan berjalan cepat agar terhindar dari keusilan Sunshine. Beberapa langkah, memang lelaki itu tak lagi menarik rambutnya. Namun sekarang ia justru melayang-layang rendah mengelilingi Hinata sambil sesekali mengusili orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Hinata merasa gemas. Ingin rasanya meneriaki Sunshine dengan suara yang lebih lantang.
Jujur, ia malah heran, mengapa orang-orang seolah tidak peduli pada kelakuan kekanakan Sunshine. Bukan sekali ini saja, setiap saat ia berjalan bersama pria itu, Sunshine selalu bertingkah konyol. Dan orang-orang di sekitar mereka tak acuh. Padahal, tidak jarang Sunshine mengusili orang-orang tersebut, seperti saat ini.
Tak mau ambil pusing memikirkan hal itu, Hinata memilih mengabaikannya.
"Oh, mungkin mereka terlalu cuek dan malas meladeni pria yang seperti bocah ini," gumamnya melirik Sunshine.
MARRY SUNSHINE
"Lobak, sawi, rebung ...,"
Hinata membaca daftar belanja dan mencocokkannya dengan barang-barang yang ada di warung pedagang di hadapannya.
Sesekali matanya melirik ke sekitar, mencari keberadaan Sunshine. Namun ternyata pria tersebut telah menghilang.
"Oh, mungkin dia lelah dan pulang terlebih dulu."
Hinata mengamati sekitar. Pandangannya jatuh pada seorang pedagang tinta warna alami. Matanya berbinar cerah. Pedagang itu adalah pedagang langganan sang ayah dulu, ketika ayahnya kesulitan mendapat bahan baku tinta warna.
"Paman!"
Pria yang dipanggil menoleh.
"Ah, Hinata. Apa kabar?"
"Aku baik-baik saja. Paman Ibiki sendiri bagaimana?"
Pria dengan wajah menyeramkan tersebut tersenyum. Ia menilik ke balik punggung Hinata dan terlihat mencari-cari. Hinata yang merasa tidak nyaman pun kebingungan.
"Paman, ada apa?"
"Mana ayahmu? Tidak biasanya dia menyuruhmu ke pasar sendirian untuk membeli pewarna."
Hinata tercengang. Memang kematian sang ayah terbilang mendadak. Jadi tidak banyak orang mendengar berita kematiannya. Apalagi, orang-orang yang memang tinggal jauh dari distrik Torridge. Ibiki merasa heran karena Hinata hanya diam dan menunjukkan raut sedih. Seakan pertanyaannya adalah pertanyaan yang tabu untuk diucap. Pelan pria itu menepuk pundak Hinata.
"Hinata?"
Hinata mendongak, menatap mata Ibiki. Netranya meredup. Entah mengapa ia belum bisa sepenuhnya beranjak dari bayang-bayang sang ayah.
"Ayah meninggal dua bulan lalu, Paman."
Sudah Hinata duga sebelumnya. Perkataannya menuai kekagetan luar biasa dari pria kekar itu.
"Benarkah? Apa ayahmu sakit?"
Hinata mengangguk. Tanpa sadar setetes air mata turun ke pipinya. Membuat Ibiki merasa bersalah karena telah bertanya. Pria itu kembali mengusap bahu Hinata.
"Sudahlah. Kau tahu, setiap makhluk bernyawa pasti akan mati, tak terkecuali ayahmu. Atau bahkan kau sendiri."
Hinata terisak.
"Yang pasti kau tidak boleh terus menerus terpuruk. Kau tahu, orang yang meninggal tidak akan lenyap. Dia hidup dalam ingatanmu. Namun jika kau terus seperti ini, ayahmu yang melihat pasti kecewa, Hinata. Aku mengenal ayahmu dengan baik. Dia begitu sayang padamu, dia begitu percaya bahwa kau bisa diandalkan. Dia tak pernah sekali pun berburuk sangka padamu. Kau adalah harapannya. Jangan biarkan semua harapan ayahmu hancur karena kau tidak mau bangkit dari kesedihan."
Rentetan kata nasihat terdengar tegas di telinga Hinata. Ia sadar, apa yang dikatakan Ibiki benar adanya. Ia juga tidak mau terus-terusan terjebak dalam kerisauan yang muncul dari hatinya sendiri.
Hinata mengusap pipinya dengan cepat, menghapus air mata yang bersarang di sana. Kemudian bibir mungilnya menyemat senyuman.
"Terima kasih, Paman. Paman telah membuatku sadar. Aku tidak akan mengecewakan ayah, aku berjanji."
Ibiki pun turut tersenyum.
"Ya, baguslah. Sekarang kau mau ke mana?"
"Aku akan pulang, Paman. Paman tidak ingin mampir? Aku akan membuat kare yang enak untukmu."
Ibiki tertawa seraya menepuk puncak kepala Hinata.
"Lain kali saja. Aku harus menghabiskan dagangan ini sebelum matahari terbenam."
Hinata mengangguk. Tangannya terulur untuk mengambil tas belanjanya. Namun tas itu menghilang. Gadis itu mengernyitkan dahi, matanya menatap ke sisi kanan tempat ia meletakkan tas tersebut terakhir kali, sebelum menyapa Ibiki.
"Astaga!" Hinata berteriak. Ibiki yang mendengarnya ikut terkejut.
"Ada apa Hinata?"
Mata Hinata terbelalak . Benar, tas belanja yang baru ia letakkan di samping tempatnya berdiri mendadak lenyap. Celingak celinguk gadis itu mencari.
"Tasku, Paman. Tasku hilang."
Ibiki pun ikut membantu Hinata mencari tas tersebut tetapi tidak ada di mana pun. Hinata bahkan kembali menyusuri perjalanannya memasuki pasar, dan tas itu masih tidak ditemukan. Hinata semakin panik. Bukan karena tas itu sendiri, tetapi karena di dalam tas tersebut ada dompet, dan semua uang terakhir yang ia miliki ada di dalam sana.
"Coba kau cari di rumah, Hinata. Mungkin tertinggal?"
Hinata menggeleng kuat.
"Tidak mungkin, Paman. Aku yakin tadi membawanya."
Ibiki berusaha menenangkan Hinata yang pada dasarnya memang mudah panik. Pria paruh baya itu berkata lebih tegas.
"Kau sadar bukan keadaanmu masih kacau? Jadi mungkin saja kau melupakan tas itu dan tidak membawanya bersamamu."
Hinata terdiam dan tampak berpikir. Jika dicerna lebih lanjut, ucapan Ibiki memang masuk akal.
"Baiklah. Terima kasih, Paman. Aku akan pulang dan mencarinya di rumah."
Hinata berlari pulang. Sepanjang perjalanan tak melewatkan tiap jengkal tanah yang ia lalui, berharap ia menemukan tas itu di sana. Atau paling tidak, dompetnya.
"Semoga aku memang melupakannya di rumah. Semoga tas dan dompet itu ada di rumah," rapalnya dalam hati.
MARRY SUNSHINE
Beruntung ada angkutan umum yang melintas sehingga jarak antara pasar dan rumah dapat ia pangkas. Ya, meski masih butuh perjuangan dengan berlari untuk benar-benar sampai di depan rumahnya.
Hinata berhenti tepat di depan pintu. Napasnya tersengal, ia membungkuk, dan memegang kedua lututnya yang gemetar.
"Hosh ... hosh ..."
Seolah tidak mau kalah dengan rasa lelah, Hinata berlari masuk. Tak peduli jika napasnya masih berantakan.
Gadis itu mencari di setiap sudut rumah, di setiap lantai. Tetapi tetap tas tersebut tak dapat ia temukan. Tujuan terakhir, Hinata berlari ke kamarnya. Ia membagi pandangan ke seluruh ruangan, sampai selaput pelanginya mendapati sosok Sunshine yang sedang berdiri di atas bingkai jendela kamar. Bibir pria itu tersenyum lebar. Hinata jengah, ia merasakan sebuah firasat buruk bahwa dirinya sedang dipermainkan.
Gadis itu terkesiap ketika melihat sebuah benda berwarna cokelat yang diputar-putar oleh jemari lelaki itu.
"Sunshine!"
Hinata berteriak kesal. Kakinya menghentak lantai kamar. Dengan kecepatan yang ia anggap laju, ia mengejar Sunshine. Tentu saja tidak semudah itu menangkap iblis tampan tersebut.
"Apa salahku, Hinata?"
"Kau mengambil tas itu dan membawanya pulang!"
Hinata mengulurkan tangan hendak meraih tubuh Sunshine, tapi Sunshine mengelak. Sunshine melayang-layang di udara dan menjulurkan lidahnya.
"Aku tidak melakukan itu. Aku menemukannya di atas ranjang."
Sunshine terus mengelak dan enggan menyerahkan dompet tersebut. Sementara Hinata dengan sisa-sisa tenaga yang ada masih berusaha meraihnya dari cengkeraman Sunshine.
"Sunshine, tolonglah!"
Gadis itu rupanya benar-benar tak mampu menandingi kekuatan Sunshine. Ia terduduk lemas di sisi ranjang. Matanya sendu dan napasnya tersengal. Rambut indigonya yang panjang menjadi lepek karena keringat.
Ekspresi Sunshine melunak. Ia merendahkan posisinya dan berjalan mendekati Hinata.
"Baiklah aku akan memberikannya. Nah, silakan."
Ia menyodorkan dompet itu tepat di depan wajah Hinata. Gadis itu menyambutnya dengan senyuman lemah dan berdiri perlahan. Ketika tangannya hampir sampai, Sunshine justru menarik dompet itu ke belakang punggung. Hinata refleks bergerak ke depan dan memeluk tubuh kekar Sunshine.
Keduanya dilanda keheningan cukup lama. Jeda yang cukup untuk saling merasakan hangat tubuh, untuk saling mendengar detakan menggebu, untuk saling beradu panas udara yang keluar dari pernapasan mereka.
Sampai seseorang dari mereka tersadar, Hinata menarik tubuhnya menjauh. Ia memeluk tubuhnya sendiri untuk meredam perasaan aneh yang menggelitik. Tubuhnya panas dan dingin, perutnya rasa berputar antusias. Sekali lagi Hinata menekan dadanya kuat.
"Berhentilah, tolong ... ini menyakitkan," gumamnya dalam hati.
"Kau sudah tidak menginginkannya?"
Suara berat Sunshine mengejutkan Hinata. Hinata mendongak, menatap pria yang telah berdiri menjulang. Ia menelan ludah gugup dan mengangguk.
"Ini."
Sunshine kembali menyodorkan, dan Hinata menerima dengan tangan gemetar. Belum sempat dompet itu berada dalam genggamannya, Sunshine menarik pergelangan tangan Hinata kuat, dan memeluk tubuhnya erat.
"Kena kau!"
"Sunshine!" Hinata merasakan pipinya seperti terbakar.
.
.
.
Bersambung
