Chapter 2 : Peristiwa Dimusim Gugur
Rumah Sakit Umum Tokyo, Pukul 2.00, dini hari.
Suasana tegang masih bertahan didepan ruang operasi. Derap kaki yang bermain dengan lantai menjadi nada, helaan nafas menjadi hawa, gemeretak gigi menjadi rasa, dan tatapan kosong menjadi warna. Ada sirat ketakutan, ada sirat kekhawatiran, ada sirat kegelisahan. Setiap wajah tampak tak tenang.
Cklek'~!
Suara pintu yang dibuka membuat sekelompok manusia terperanjat seketika. Bak magnet negative-positif, sosok yang berpakaian serba hijau itu telah menarik mereka-mereka yang nampak pucat, netra-netra berbeda warna mengkilat resah. "Bagaimana operasinya dokter?" Inoichi memulai.
"Apa Ino baik-baik saja?" Tenten menambah.
"Bagaimana bayinya?"
"Apa berjalan lancar?"
"Tidak terjadi apa-apa'kan, dokter?!"
Pertanyaan demi pertanyaan sarat akan ketakutan menyerbu sosok dokter berkaca mata dengan kepala yang masih tertutup Nurse cap. Sosok dokter bertubuh sedikit gembul itu membuka maskernya, dan terlihatlah sepasang bibir yang tersenyum hangat. "Syukurlah, persalinannya lancar. Ibu dan Bayinya selamat. Bayi perempuan yang sehat. Besok kalian sudah bisa melihatnya." Ucap sang dokter tenang.
Semuanya bernafas lega, ketegangan yang tadi tercipta kini berganti senyum sumringah. Kegelisahan yang tadi ada kini berganti haru yang menghias setiap wajah. Ada rasa bahagia, lega, terharu, bingung, khawatir, tak percaya, takjub dan jutaan rasa lainnya bergabung menjadi satu. Membuat pelangi tak kasat mata yang menghias malam nan dingin. Inoichi dengan segera memeluk pria berambut panjang di sampingnya, menunjukkan betapa hatinya kini menghangat bahagia.
"Hi-Hizashi? Selamat! Kau telah menjadi seorang kakek. Akan ada suara mungil yang akan memangil kita kakek. Kakek Inoichi, kakek Hizashi!" suaranya bergetar penuh keharuan. Ada tawa kecil yang menyela penuh kegembiraan.
"Iya, Inoichi. Tak ada yang lebih membahagiakan dari ini." Hizashi membalas pelukan besannya itu dengan tak kalah bahagia.
"Ah! Kau percaya itu? Aku menjadi paman, Tenten!" Deidara berseru memeluk erat gadis mungil disampingnya, menyalurkan kegembiraan yang tiada duanya. Terharu juga tak percaya, ada rasa bahagia yang berbeda dari biasanya. Sedang Tenten tersenyum lebar, membalas pelukan pemuda yang dua tahun lebih tua darinya itu, tangannya menepuk punggung lebar Deidara, mencoba menyampaikan bahwa dirinya-pun tak kalah bahagianya. Meski sesekali gerak tangan itu beralih, untuk menghapus bening kecil di tepi kelopaknya.
"Aku akan memberi tahu Neji sekarang! Dia pasti senang sekali, un!" sorak Deidara gembira, melepas pelukan eratnya dari gadis manis itu dengan binar yang secerah surai suryanya. Tampa membuang waktu lagi, Ia melangkah cepat menjauh, mencoba mencari sang adik ipar dengan terburu, syarat akan luapan bahagia yang menderu.
"T-tenten nee-san, kita akan akan jadi bibi sekarang. Senangnya.," Hinata yang sedari tadi diam mulai bersuara, menepuk kecil bahu Tenten yang terasa lemas.
"Ya" jawabnya singkat, menampakkan senyum dengan rasa yang campur aduk. Jangan tanya apakah gadis itu bahagia atau tidak, karena jawabannya pasti 'iya', meski ia-pun tak bisa bohong, jika titik kecil dihatinya menyembulkan perih yang menganga.
Ending Of Our Fate
Naruto Belong to Masashi Kishimoto
Pair : Tenten x Neji
Slight : Tenten x Deidara
Neji x Ino
Rate : T semi M (buat jaga-jaga)
Genre : Drama, Hurt/comfort, friendship and Family
Warning : hujan typo, banjir OOC, abal, gaje, EYD ancur, gak layak baca.. etc
(Like? You can keep calm and happy with this or FnF, RnR)
(Don't like? Keep Calm and press 'Back' bottom)
Secangkir kopi hangat kini tinggal ampas. Terdiam bisu di atas meja dengan bekas. Laki-laki itu masih betah menatap jauh keluar kaca bening. Pemandangan kota Tokyo dari ketinggian lantai sepuluh rumah sakit saat dini hari, rupanya mampu melepas sejenak rasa jengahnya. Dari atas sini, pemandangan kota yang berkerlip bak refleksi bintang diatasnya. Sepi ini begitu nyaman dirasa. Tak banyak orang yang terjaga dimalam selarut ini, buktinya saja, di kantin rumah sakit yang memang buka 24 jam ini hanya terdapat lima orang pelanggan, dan nampaknya dua orang lagi telah bersiap untuk pergi.
Laki-laki berambut coklat itu menghela nafas berat, mencoba mengontrol rasa yang tak pantas. Sesekali matanya terpejam untuk kembali terbuka dengan raut berbeda, sesekali pula kepalanya tertunduk untuk kembali mendongak dengan mimic tak terbaca. Tangannya masih beradu ketuk dengan meja bundar. Ada beribu rasa dalam hatinya yang kian lama kian mempersempit paru-parunya, ada berjuta emosi yang bahkan tak mampu ia gambarkan. Ia putus asa, ia lelah, ia ingin menyerah, ia mati. Ada bermilyar kegetiran yang begitu menyiksa namun tak mampu ia melawan. Mata bulannya telah gerhana. Ah tidak, mata itu memang sudah lama menggelap.
Sreek~
Ia mulai berdiri kasar. Kemudian menyeret kaki-kakinya untuk melangkah pelan. Kedua tangannya ia semayamkan disaku celana, tatapannya yang kosong lurus kedepan, langkahnya penuh kepastian, meski tak ada yang tau bahwa kini pikirannya melayang-layang. Langkah gontainya terlampau santai, mendorong jejak menyusuri lorong demi lorong, bibirnya terkatup bak terekat lem super kuat. Hentakan sepatunya berketepuk setiap kali bertemu lantai, memberi bunyi dimalam yang kian sunyi, memberi isi di koridor yang kian sepi.
Tap ~
Langkahnya berhenti di depan pintu putih dengan syimbol gambar putih polos berbentuk sketsa manusia. Ia terdiam beberapa saat disana. Namun tak lama, tangan kanannya yang sedari tadi bersemayam didalam saku celana ia keluarkan, terulur mencoba meraih daun pintu dan memutarnya pelan.
"Ah! disitu kau rupanya, un !" teriakan seseorang dari kejauhan seolah suara semut yang sedang berbisik diindranya. Ia tak mendengar, atau mungkin pura-pura tak mendengar? Entahlah, ia tetap melanjutkan langkahnya masuk kedalam, tampa sesentipun menggerakkan ekor matanya untuk menoleh.
Brakk'!
Ia tutup pintunya kasar, kemudian kembali melangkah pelan menuju sebuah cermin besar. Dia kembali terdiam disana, menambah sunyi suasana di toilet yang bisa ia pastikan hanya ada dirinya. Ia tertegun lama, menatap tajam pada bayangan yang terpantul memilukan. 'Dasar brengsek!' batinnya mengumpat dalam diam.
'Kau tak punya kesempatan, bodoh!' lagi-lagi ia mengumpat, dengan tatapan tajam menusuk tepat di mata perak yang karat.
'Kau telah habis! Hidup telah memilihmu menjadi seonggok daging bernyawa namun mati! Kau… kau hanyalah boneka yang bisa dipermainkan sesuka hati! Kau punya nyawa tapi tiada arti, Brengsek!' Batinnya kian menderu. Menyuarakan gemuruh yang berkabung dihatinya. Tatapan itu, tatapan lavender yang layu. Bahkan sampai detik ini ia tak lelah memohon untuk mati.
'Apa yang kau inginkan dariku, Kami-sama!' petir dihatinya mulai menyambar.
CETARRRRRRR'~~
Dan cermin pemantul bayangan itu telah berserakan, menyisakan puing yang bercampur noda darah. Mengalirlah, kumohon mengalirlah dengan deras! Agar Tuhan tahu bahwa dirinya telah lelah.
Cklek ~
Suara pintu yang terbuka sama-sekali tak membuatnya bergeming ataupun menoleh. Ia masih setia menatap bayangannya pada sisa cermin yang retak. Tangan penuh luka itu masih enggan untuk melepaskan pecahan kaca, atau mungkin pecahan kacalah yang enggan meninggalkan kepalan tangan yang telah menghancurkannya.
"Apa yang kau lakukan, Neji?!" pertanyaan beraura dingin semakin membekukan tulang. Sorot mata sebiru lautan berkilat tajam, bersiap meluapkan tsunami jika memang dibutuhkan.
Yang ditanya tak menjawab, hanya kepalan tangan yang masih menempel didinding cermin itu semakin ia tekan.
"Neji, Anakmu sudah lahir! Perempuan yang cantik, tak maukah kau untuk mengendongnya pertama kali?!" ada sirat kegamangan yang menekan disetiap hurufnya, ada sirat kebahagiaan disetiap katanya, pun juga tersirat penegasan yang tak mau menerima kekecewaan. Namun sang adik ipar terlihat tak peduli.
"Persetan! Aku tak akan membiarkanmu mendekatinya!" teriaknya tiba-tiba. Tangannya yang kini terjatuh dari tempelan kaca meluncurkan cairan merah kental. Menggambarkan luka pada jiwa dan raganya.
"Apa maksudmu, Neji?" sekali lagi, tekanan disetiap hurufnya terdengar dalam, mencoba menahan hasrat tertahan. Tangannya kian mengepal, menahan amarah yang meluap mengembang.
"Tenten! Jangan mendekatinya!"
"Masih pantaskah kau membicarakan masalah ini?! Sedang istrimu tak sadarkan diri, dan anakmu menunggu belaianmu, Neji?!" amarahnya tiada lagi tertahan, bentakannya yang tak kalah keras menjatuhkan sisa kaca yang tadi tertempel didinding. Mencipta bunyi petir baru yang menggema dalam ruang yang dingin nan sunyi.
"Aku tidak peduli!"
BUGH'!
Satu pukulan keras mendarat tepat diwajahnya, membuat tubuh rapuh itu terjungkal dengan gampangnya, melukis warna biru kemerahan dan sedikit luka.
"Selama ini aku cukup sabar melihat perlakuan dinginmu pada adikku! Tapi sekarang kau benar-benar keterlaluan! Bahkan Tenten-pun akan melakukan hal yang sama jika mendengar kalimat itu, Neji!" kini, amarahnya benar-benar meletus, memuntahkan lahar panas yang siap melepuhkan.
Pemuda berkemeja hitam itu kembali berdiri dengan susah payah, tangannya bergerak menghapus titik merah diujung bibirnya. Ia sama sekali tak menurunkan kadar sorotannya, entah setan apa, ia tersenyum angkuh dan tertawa remeh.
"Kalimat apa, ha!? Kalimat bahwa aku mencintainya? Yamanaka?!"
BUGGHHH'! DUAKKKK'!
Satu pukulan kembali mendarat diperutnya, satu pukulan lagi menghantam wajahnya. Deidara sudah tak bisa menahannya lagi, laki-laki dihadapannya ini sudah hilang kendali. Ia kembali memukulnya bertubi-tubi, membuat objeknya terkulai lemas. Laki-laki berambut pirang itu meraih kerah baju Neji, kemudian menghempaskan pemiliknya ke dinding.
Buagh'!
Satu tinju lagi menohok diperutnya. Neji meringis menahan sakit, namun tak berniat melawan. Seolah rasa sakit diraganya sedikit mengobati luka dibatinnya.
"Kau keterlaluan… Aku tak bisa lagi bersabar melihatmu menyakiti dua perempuan yang kusayangi! Jika kau tak bisa membahagiakan keduanya?! Bahagiakan salah satunya! Jika kau tak bisa membahagiakan Tenten, bahagiakanlah Ino! Jika memang kau tak akan pernah bisa membahagiakannya, jangan sakiti hatinya! Itu akan sedikit mengobati luka Tenten, Neji!," masih dengan tangan yang meremas keras kemeja lawan bicaranya erat, Deidara membentak dengan penekanan yang begitu sangat disetiap kalimatnya, kilat dimatanya kian tajam, menusuk tepat dimata lavender yang mematung.
"Jika memang, kau benar-benar mencintainya.." lanjutnya dengan nada dalam, kegeramannya terdengar lewat giginya yang bergemeretak.
Deidara menghela nafasnya yang terlampau berat, pelan namun pasti genggaman eratnya mulai melonggar, kemudian terlepas sempurna dengan tangan yang masih menegang. Deru nafasnya naik turun, akibat emosi yang tumpah membuncah. Deidara yang biasanya periang dan konyol itu ternyata mempunyai sorotan mata tajam yang membunuh. Laki-laki bersurai panjang itu terdiam, menatap lawan bicaranya kosong.
Deidara memutar kakinya berbalik, membelakangi laki-laki bernetra perak yang mematung ditempatnya. Terdengar nafasnya yang berhembus kasar, sekasar gerak tangannya mengusap wajah lelahnya. Ia menghela nafasnya lagi, untuk kemudian merapikan kemeja silvernya yang agak kusut akibat aksinya tadi.
"Ikut aku. Kuobati lukamu dan segera tengok anakmu." ucapnya datar dan menitah.
Neji hanya bisa menuruti kakak iparnnya itu sekarang. Apa yang diucapkan Deidara masih terngiang jelas digendang telinganya, memukul telak relung hatinya.
'Jika kau tak bisa membahagiakan Tenten, bahagiakanlah Ino! Jika memang kau tak bisa membahagiakannya, jangan sakiti hatinya! Itu akan sedikit mengobati luka Tenten, Neji!'
Dan sekelebat ingatan tiga tahun yang lalu-pun kembali berdengung nyaring, memperingatinya akan sesuatu yang penting.
'Menyakitinya, akan lebih menyakitiku, Neji!'
Neji lupa, jika perbuatannya sekarang hanya akan menggali luka Tenten lebih dalam. Dan ia tak ingin melakukannya lagi, setelah apa yang selama ini gadis bermahkota coklat itu jalani. Penderitaannya jauh belum seberapa, dibanding dengan penderitaan Tenten selama hidupnya. Jika memang dirinya tak bisa menjadi cahaya dalam hidup Tenten, maka ia tak ingin menjadi duri yang menyakitinya.
Harus Neji akui, jika memang dirinya tak bisa membahagiakan keduanya, tidak Tenten, tidak pula Ino. Pilihan terbaik yang ada didepannya sekarang adalah, jangan menyakiti Ino, Jika memang ia benar-benar mencintai Tenten. Karena bagi gadis berambut coklat yang begitu dicintainya itu, Ino adalah prioritasnya dan keluarga Yamanaka adalah hidupnya. Ia tidak boleh melupakan kenyataan itu.
Dengan susah payah, ia seret langkah demi langkah, mengikuti Deidara yang telah lebih dulu keluar. Meninggalkan kamar mandi penuh pecahan kaca dengan seberkas merah dipuing-puingnya.
Klek'!
Dan pintupun tertutup sempurna. Menambah sepi kamar mandi yang sebenarnya tak kosong. Karena tampa mereka sadari, satu sosok telah terdiam lama disana, dibalik toilet yang tertutup.
"Jadi begitu….," Ucapan pelan dan berbisik. Senyum asimetris yang tampak aneh tercetak dibelah bibir.
"Menarik!"
…
...
Pukul 10.30 pagi.
Berkas cahaya menyelinap lewat celah kaca dengan tirai yang dibiarkan tersikap. Bunga mawar merah terlihat segar dan menyegarkan dalam pot keramik yang berada diatas meja sisi kiri tempat tidur pasien. Disofa hitam panjang itu telah duduk dua manusia paruh baya yang tengah berbincang ringan-Inoichi dan Hizashi, sedang Hinata telah pulang lebih dulu. Seorang gadis bercepol dua dengan kemeja putih polos itu berdiri menggendong sesuatu dalam pangkuannya, seorang bayi mungil yang terlihat anteng dan tenang. Ia sedikit menggoyangkan laju tangannya, mencoba memberikan kenyamanan pada si mungil yang kini terlelap. Tapi seorang pemuda pirang dengan poni panjang yang menutup salah satu matanya itu tengah berusaha mengganggu, sesekali tangannya mencubit lembut pipi halus yang masih merah itu, sesekali pula ia mencuri elus pada puncak hidung mancung si kecil, membuat si bayi mungil tak tenang, terlihat dari bibirnya yang bergerak-gerak, dan alis tipis yang mengernyit.
"Hentikan Deidara-nii, kau akan membangunkannya!" gadis berambut coklat yang sedang menggedong si bayi nampak risih, beberapa kali ia harus menghindari tangan nakal yang berusaha mencuri belai pipi merah si mungil. Beberapa kali ia melayangkan tatapan tajamnya pada Deidara, tapi sepertinya si objek dari tatapan malah semakin menikmati aksinya.
"Dia tak boleh tidur dulu. Aku belum puas mencubiti pipinya, un!"
Sementara dikursi tepat disisi kanan pasien itu, terduduk seorang laki-laki bersurai panjang kecoklatan. Menatap seseorang yang tengah tertidur pulas. Meski mungkin telinganya ia pasang lebar-lebar untuk mendengarkan senda gurau menyesakkan dibelakangnya. Tangannya yang berbalut perban itu mengusap wajah pucatnya kasar, mencoba menghalau lelah yang menyapa, berusaha mengendalikan dirinya semampu yang ia bisa. Beruntung keluarganya tak bertanya lebih jauh perihal luka ditangan dan sedikit lebam kebiruan diujung bibirnya.
'Ah, tadi ada seseorang mengamuk dikamar mandi, mungkin Stress akibat ditinggal orang terkasih. Dan Neji yang waktu itu ada ditempat, masuk pada objek amukannya, un!' Jawaban jujur yang mengambang. Dan mereka percaya dengan ucapan Deidara.
"Ungh.." bunyi lenguhan kecil mengalihkan semua mata padanya, yah! Pada si putri tidur yang kini telah bangun.
"Ino, kau sudah sadar?!" tanya Neji sambil lalu membantu Ino duduk bersandar pada bantal dengan nyaman. Mulai sekarang, ia akan mencoba bersikap hangat padanya.
"Neji-kun! Mana anak kita?" tanyanya langsung, pada pemuda yang menatapnya hangat.
"Ini dia si putri kecil" Tenten langsung menghampirinya, memperlihatkan sang putri pada ibundanya. Ino tersenyum lebar melihat seorang bayi mungil yang tampak tenang dalam timangan Tenten. Ada rasa tak percaya juga bahagia, rasa takjub juga terharu luar biasa. Telunjuk lentiknya bergerak menghapus titik bening yang mengalir lembut dipipinya. Neji beralih duduk disisi tempat tidur Ino, untuk kemudian tangan berbalut perban itu membantu membersihkan cairan hangat dipipinya.
"Tenten! Aku ingin menggendong anakku!" Ino nampak tak sabar, membuat semua bibir menyunggingkan senyum dan menggelengkan kepala.
"Lihatlah dia?! Tidak seperti orang yang baru saja dioperasi!" celetuk Deidara. Ino hanya mendengus.
Tenten dengan hati-hati mengalihkan si bayi pada pangkuan Ibunya. "Dia cantik sekali" bisiknya.
"Tentu saja! Anakku pasti cantik!" balas Ino mengecup sang anak lembut. Titik bening kecil dipelupuk matanya kembali mengambang. Symbol kebahagiaan juga keharuan, takjub juga tak percaya, bahwa ada nyawa yang lahir didunia ini lewat perantaranya.
Inoichi menghampiri putrinya yang baru saja siuman itu, ia ambil posisi duduk diseberang tempat tidur Ino. Kemudian mengecup pucuk kepalanya lembut.
"Jadi Ino, apa kau sudah memikirkan nama untuk si cantik?" ucapnya membelai rambut pirang putrinya. Sesekali telunjukknya beralih pada pipi merah lembut cucunya.
"Aku ingin Tenten yang memberinya nama!" jawabnya cepat.
"A-aku?!" kaget Tenten menunjuk dirinya sendiri, tak yakin.
"Ya, tentu saja! Jika Neji-kun tak keberatan!" jawab Ino enteng, mengalihkan tatapannya pada Neji yang duduk disisinya.
"Sama sekali tidak!" jawab Neji tersenyum.
"Kenapa aku?" Tanyanya ragu.
"Memangnya kau tak mau?"
"T-tentu saja mau…,"
Meski agak heran, Tenten mulai berfikir sejenak, membiarkan jemarinya menyanggah dagunya. Tak berapa lama, ia kembali bersuara.
"Bagaimana dengan Aimi, Aimi Hyuuga! Keindahan cinta, menitip harapan agar cintanya berakhir indah!" ucapnya dengan binar. Beberapa orang nampak tertegun seketika. Tak terkecuali Neji yang menatapnya tak terbaca.
"Bagus sekali! Anakku Aimi-chan!" Ino kembali mengecup lembut bayinya.
"Nama yang bagus Tenten!" puji Inoichi, tersenyum.
"Terima kasih Inoichi-sama!"
Deidara membelai puncak kepalanya lembut. Tenten hanya tersenyum hangat, bahagia juga terharu. Meski ia tau, kehadiran Aimi tentu akan semakin mempertegas, bahwa dirinya memanglah harus menyerah! Menyerah bahwa tak akan mungkin lagi ada harapan baginya. Ah… tentu saja, sejak hari dimana janji suci itu terlontar, ia sudah memantapkan hatinya untuk memutuskan harapannnya. Meski mungkin, ia tak tau, bisakah ia menumbangkan perasaannya yang kian mengokoh disetiap harinya? Bisakah ia membuang nafas yang selama ini menjadi penopang hidupnya? Bisakah ia mengacuhkan dia yang telah lama menjadi nyawa? Ia tidak tau, yang jelas sekarang adalah, refleksi dua orang yang disayanginya telah lahir. Kini ia temukan prioritas baru dalam hidupnya. Dia, Hyuuga Aimi.
..
..
..
..
..
..
..
Tiga bulan telah berlalu, mengantar angin pada sebuah rumah yang kini tak lagi sunyi. Karena tangis dan tawa bayi terdengar kesuluruh penjuru. Memberi cerah disetiap cuaca, memberi kehangatan disetiap dingin yang terasa. Mencipta perasaan hangat dalam tawa, setiap kali si kecil Aimi bertingkah menggemaskan.
Musim gugur telah tiba, dedaunan yang jatuh mencipta oranye dijalanan. Angin sepoi yang berhembus menerbangkan daun-daun kering yang berserakan. Pagi ini, ruang keluarga disebuah rumah yang didominasi warna putih dan kebun bunga kecil diberandanya, tampak sedikit lebih ramai. Disana telah terduduk disofa keluarga empat manusia dengan cangkir tehnya masing-masing.
"Mereka tampak akrab!" ucap seorang laki-laki setengah abad, setelah menyesap teh hangat yang disuguhkan menantunya. Matanya terarah lurus pada taman kecil diberanda rumah, dimana seorang pemuda pirang dan gadis coklat tengah bermain-main dengan seorang balita mungil.
"Yah, mereka memang akrab dari kecil. Meski Dei-nii lebih terkesan mengganggu." Tanggap Ino yang juga memperhatikan mereka.
"Lihatlah Aimi, dia tampak senang dalam gendongannya!" ujar Inoichi.
Sementara Neji, tak berniat bergabung dalam pembicaraan ini. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan teh hangatnya, meski mata lavendernya juga menatap lekat kearah yang sama.
Tak lama, Hizashi berdehem, untuk kemudian kembali berucap dengan senyum asimetrisnya. "Mereka tampak cocok dan saling tertarik"
Sontak semua pasang mata teralih padanya. Tak terkecuali Neji yang mulai tak tenang. Perasaannya tidak enak.
"Maksud ayah?!" Ino tau kemana arah pembicaraan ini dan ia ingin memastikan.
"Kenapa tak satukan mereka saja"
Uhuk uhuk!
Dan laki-laki berambut panjang yang tengah menikmati tehnya itu harus tersendak mendengar penuturan kilat sang ayah. Cepat-cepat ia berusaha untuk pulih dari keterkejutannya dan memandang tajam menghujam pada netra yang sama diseberang sana. Inilah yang ia takutkan. Lambat laun hal ini pasti terjadi. Meski ia sudah bersiap selama bertahun-tahun, tetap saja hal ini kembali mengiris pedih hatinya. Ia menghela nafas dalam, sangat dalam. Mencoba untuk mengontrol kembali emosinya. Mencoba menata kembali hatinya, bahwa Tenten juga berhak mendapatkan kebahagiaannya. Tenten juga berhak bahagia, meski tampanya.
Luka yang ia rasa kembali menganga. Apa Tenten akan lebih bahagia tampanya? Apakah Tenten akan bahagia? Hanya dengan membayangkannya membuat hatinya kembali nyeri, seperti tertohok batu tajam, seperti dihujam ribuan pedang. Membayangkan bahwa dirinya selamanya tak akan bisa menjadi cahayanya. Membayangkan bahwa dirinya bukanlah alasan dari kebahagiannya. Ia seperti ditendang tinggi keangkasa untuk kemudian dihempaskan kasar kebumi.
Seketika ia dikagetkan oleh tangan lembut yang menggenggam erat tangannya yang mengepal, membuat mata bulannya melirik pada sang pemilik tangan. Yah, Ino sedang menatapnya dalam, memberikan senyuman terhangat. Neji terdiam sesaat, sebelum kemudian ia membalas genggaman lembut itu, pun membalas dengan senyuman hangatnya. Bukankah ia telah bertekad, bahwa ia akan berusaha untuk tak lagi menyakiti Tenten ataupun Ino?! Bukankah ia telah berniat, untuk menorehkan senyum pada bibir Tenten dan Ino?! Apakah ini saatnya bagi dirinya merelakan Tenten dan mulai menerima Ino? Argh.. ia tak bisa, ia tak akan bisa. Sekeras apapun ia mencoba, perasaannya selalu sama. Tenten adalah pemilik hatinya, tidak akan berubah sampai kapanpun, hatinya tak akan rela, ia tak akan pernah rela, selamanya tak akan pernah rela. Meski mungkin saat-saat dimana ia harus melepas kini telah tiba. Jika ia benar-benar mencintainya, ia harus melepas Tenten meraih kebahagiaannya. Ia yakin Deidara akan menjaganya, ia yakin Deidara bisa mengukir senyum dibibir manisnya, ia yakin Deidara bisa melalukannya, melakukan sesuatu yang tak bisa ia lakukan seumur hidupnya. Nyeri, hatinya begitu nyeri. Ia menarik nafas sebanyak yang ia bisa, berusaha mengisi stok oxygen diparu-parunya yang menyempit.
"Kau tau, Hizashi?! Sebenarnya aku memang berencana seperti itu.," Senyuman hangat Inoichi seketika membekukan darahnya. Bahkan jika ia sudah mempersiapkan diri beribu tahun, ia tetap akan merasakan sakit setiap kali mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang terdengar begitu menakutkan ditelinganya, hingga dengungannya kembali berulang menyakitkan. Oh takdir, betapa perih luka, betapa getir dirasa. Ia semakin menegang, wajahnya semakin pucat. Meski ia telah berusaha sekuat yang ia bisa, nyatanya ia tetap tak mampu menerima kenyataan yang membelenggu, ia tak bisa. Kini mata bulan itu seolah tertutup soflens bening.
"Tenten sudah seperti anakku. Ia tumbuh besar bersama Ino, ia juga tidur dalam belaianku, sama seperti Ino. Dan aku juga tidak akan sembarangan memilihkan jodoh untuknya. Jika memang mereka berdua setuju. Aku akan sangat senang!" lanjut Inoichi, masih dengan senyum yang merekah. Netra sebiru laut itu tak jua lepas dari taman diberanda rumahnya, melihat pemandangan tembus kaca, dimana pemuda pirang dan gadis coklat itu tampak tersenyum riang bersama sang cucu.
Kini, ia sudah hangus. Kilat petir menyambarnya dengan brutal. Ia mati. Kini ia benar-benar tak tau harus apa dan bagaimana. Ia telah habis, benar-benar habis. Bibirnya nampak bergetar, tangannya makin menggenggam erat tangan mungil istrinya. Ia seolah tak peduli jikalau Ino akan menyadari perasaannya. Terkoyak, hatinya kembali terkoyak. Ia beku seketika.
Hizashi menampakkan senyum penuh arti. Tangannya kembali terulur meraih cangkir putih dan menyesap teh hangat untuk yang kesekian kalinya. Kemudian meletakkan cangkir itu kembali ketempatnya dengan pelan.
"Kenapa tak kau tanyakan saja pada mereka? Lebih cepat lebih baik kan?"
Bahkan untuk mengeluarkan satu huruf-pun ia tak lagi mampu. Rahangnya mengeras, tubuhnya menegang. Apa? Apa yang harus ia lakukan? Apa? Apa yang harus ia tampakkan sekarang?
"Ah.. boleh saja! Ini kesempatan yang bagus, semua anggota keluarga tengah berkumpul, dan sungguh waktu yang tepat dengan adanya kau disini, Hizashi"
Dan sekarang ia tau bagaimana rasanya menjadi mayat yang hidup.
….
Suasana senyap memenuhi ruang, udara dingin yang berhembus begitu membekukan tulang. Rasa gelisah, canggung, aneh, bingung, sakit, bahagia, teraduk-aduk menjadi satu. Hembus angin yang membawa daun-daun kering menambah hawa tak nyaman diruang coklat tua. Disana, diseberang meja, dua manusia nampak tegang seketika, mata keduanya nampak bulat sempurna, raut wajahnya nampak pucat kentara, jemarinya terlihat tak tenang meronta. Sunyi senyap menjadi isi, waktu seolah berjalan begitu lambat bak evolusi, hanya bunyi dedaunan kering yang berserak diluar ruangan, deru nafas yang terhembus pelan, serta suara ludah yang begitu susah untuk ditelan.
"Jadi, bagaimana?"
Pertanyaan itu seketika membuat dua manusia terlonjak. Mata berbeda warna dari pemilik yang duduk bersebelahan saling memandang satu sama lain, mencoba menyampaikan pesan lewat sirat yang terpancar. Bingung, canggung, resah, gusar dan jutaan rasa yang entah apa namanya memenuhi setiap celah. Deidara bukannya tak senang, ia bahkan kelewat senang mendengar niat keluarganya yang juga merupakan harapannya sejak lama. Tapi masalahnya adalah, Tenten. Ia paling tahu bagaimana perasaan gadis bercepol dua ini. Seseorang yang mengisi hatinya bukanlah dirinya, dan ia tak mau memaksa Tenten menerima niat ini. Biar bagaimanapun, ia tak ingin mengekang Tenten, tak ada yang boleh, tidak dirinya, tidak juga keluarganya. Cukup sekali Tenten dibuat tak punya pilihan, dan Deidara tak ingin menambahnya lagi. Baginya, dengan melihat senyum terpatri dikedua belah bibir mungil gadis itu, sudah sangat teramat cukup.
Ia bingung harus bagaimana, pun juga senang luar biasa. Mereka hanya diam selama beberapa saat, sebelum kemudian Deidara berdehem, membuat atensi semua orang kini tertuju padanya.
"B-begini. M-mungkin kami, per-lu bicara, berdua. M-maksudku, aku… aku… tak keberatan, m-maksudku.. maksudku.. Aku terserah Tenten, mu-mungkin begitu saja" entah kenapa kata-kata yang ingin diucapkannya hilang entah kemana, berganti canggung dan gugup luar biasa, bahasanya kacau. Ia hanya tertawa kikuk. Dengan tangan yang mengusap kasar bagian tengkuk.
"Saya bersedia! Jika Deidara-nii bersedia."
"Tidak masa-"
"-apa?!"
Deidara tak bisa untuk tak terkejut mendengar jawaban cepat Tenten. Ah bukan hanya Deidara, semua mata juga terlihat sama, meski emosi yang terpancar nampak berbeda.
Tenten hanya bisa menundukkan kepalanya dalam, ia sendiri tak tau apa keputusannya ini tepat atau tidak. Perasaannya campur aduk. Yang ia tahu, keputusannya ini akan semakin mendekatkan Neji dan Ino, pun juga akan membahagiakan semua keluarga. Jemarinya saling menekan kuat, pertanda bahwa ada kecamuk yang begitu sangat beradu dihatinya. Entah ia tahu atau tidak, bahwa ada hati yang melayang-layang tinggi kesyurga, juga ada yang remuk dan hancur seketika itu juga.
"Te.. Tenten. Kau bersedia?" Deidara menatap lekat kearahnya, mengangkat dagunya dengan jemarinya, menggiring gadis itu untuk balas menatapnya. Dan terlihatlah oleh netra birunya bagaimana kilat kesungguhan terpampang disana, terlihat begitu tegas tampa keraguan, meski kaca bening nampak menyapu retinanya yang memerah.
"A-apa Deidara-nii mau menerimaku?" ia menjawab dengan pertanyaan. Deidara semakin terkejut dibuatnya. Hatinya kini membuncah bahagia, sungguh tak ada kebahagian apapun yang setara dengan ini seumur hidupnya. Dengan cepat pemuda itu merengkuh si gadis coklat kedalam pelukannya. Sangat erat mencoba menyalurkan rasa yang meluap-luap.
"Pertanyaan bodoh! Kau sangat tau, aku begitu menyayangimu, Tenten" ucapnya mengecup lembut pucuk kepala Tenten, sedang gadis itu hanya bisa membenamkan wajahnya pada dada bidang Deidara, menyembunyikan sirat diwajahnya yang begitu kacau balau.
Sementara diseberang sana, satu manusia seolah sedang ditarik ulur nyawanya. Ia tak bisa lagi menyembunyikan badannya yang bergetar hebat. Seandainya air lautnya tak kering, mungkin sudah ada tsunami yang menumpah sekarang. Seandainya pelupuk matanya tak kemarau, mungkin sudah ada badai yang mengamuk dimata bulannya. Ia mematung ditempat, mengedipkan matapun ia tak kuat. Nafasnya kian sesak, ia sekarat.
"Ehem, baiklah.. sepertinya kita sudah tau jawabannya" Inoichi mengembangkan senyumnya, kemudian tertawa kecil melihat dua sejoli itu tak jua melepas pelukan mereka. Hizashi menyunggingkan senyum penuh kemenangan, sementara Ino hanya mematung ditempat, beradu antara bahagia dan bingung, terharu juga ragu.
"Aku permisi dulu" suara serak yang menyela membuatnya menjadi pusat perhatian. Yah, Neji telah beranjak sebelum mereka melihat bagaimana kilat dimata pemuda itu bergemuruh tertahan.
…..
Neji memutar kran air di watafel kamar mandinya, ia raup air sebanyak yang ia bisa, kemudian membasuh wajahnya dengan kasar, mata levenderya memerah, sarat akan luapan emosi yang membuncah. Nafasnya naik turun, berusaha menghirup oxygen sebanyak mungkin, berusaha mengisi udara diparu-parunya yang menipis, bibirnya bergetar hebat, udara seolah enggan masuk, tangannya memegang mulut wastafel dengan kuat, sangat kuat, sebelum kemudian tangannya kembali meraup air dan di tabuhkan kewajahnya asal. Ia mengeram tertahan. Kenapa takdir, selalu membuatnya menjadi tak berdaya. Kenapa takdir membuatnya mati untuk kemudian hiduplagi, Ini menyesakkan, ini menyedihkan, hatinya benar-benar terkoyak tak beraturan.
Cairan hangat nan bening akhirnya meluap, mengaliri pipi pucatnya yang mengurus, bercampur dengan warna air dilesung pipinya yang memang basah. Ia terisak dalam diam. "Tenten" lirihnya pada bayangan yang terpantul dihadapannya.
"Tenten.." nama itu kembali meluncur disela isakan paraunya. Kepalanya mulai menunduk, membuat beberapa helai coklatnya ikut berayun nan basah.
Klek~
Dan suara pintu yang dibuka, seketika membuatnya terkesiap. Yah! Ino telah berdiri tepat dibelakangnya, memandang nanar pada sosok stoic yang kini terlihat begitu rapuh. Hatinya seperti diiris sembilu kala melihatnya. Selama ini ia selalu berusaha menyangkal dari kenyataan yang tampak jelas dimatanya. Mata itu, mata amesthys itu terlihat berbeda ketika bertemu dengan mata kecoklatan milik Tenten, dan berubah redup ketika bertemu iris birunya. Ia takut, ia begitu takut menerimanya, hingga kemudian ia membutakan penglihatannya, menulikan telinganya, bahwa apa yang selama ini tertangkap oleh indranya, hanyalah bayangan yang tak nyata.
Ia begitu takut, sangat ketakutan, setiap kali Iris sebiru langit itu menagkap gambar buram yang begitu memilukan. Tapi toh ia berusaha untuk tak melihat, pura-pura tak melihat. Meski jauh dilubuk hatinya, ada sesuatu yang begitu kuat berusaha mendobrak pertahanannya. Argh… ia bahkan tak tau bagaimana cara menggambarkannya. Perasaan was was yang menyakitkan, bahwa dirinya telah menyakiti banyak orang. Perasaan bahwa dirinya adalah manusia terkejam yang pernah ada.
Ia coba menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk kemudian dihembuskannya kasar.
"Neji-kun..," lirihnya, menyentuh pundak kendur yang masih tak bergeming diposisinya. Sunyi berselimut dingin memenuhi ruang sempit itu untuk beberapa saat. Keduanya sama-sama terdiam, tenggelam dalam lautan perasaan masing masing, mencoba mengontrol emosi yang menggerogoti setiap sel tubuhnya.
"M-maafkan aku Neji-kun… maafkan aku yang menjadi jurang penghalang diantara kalian.." suaranya terdengar parau.
Seperti tersambar petir, seperti tersengat listrik bertegangan tinggi, Neji terlonjak, berbalik secepat kilat, menatap lekat nan dalam pada Iris biru yang mulai berair.
"I-Ino, kau.."
"Aku tau. Aku sangat tau…. Maafkan aku! Sungguh aku telah menjadi neraka untuk kalian berdua. Aku terlambat menyadarinya. Dan sekarang, aku tak bisa…aku tak bisa Neji-kun. Hiks, A-Aimi. Aimi adalah prioritasku. Maafkan aku.," kini Ino terisak didepan matanya. Membuatnya harus kembali mengisi persediaan oksigennya yang teramat tipis.
"Maafkan aku! Aku terlalu egois, hingga memikirkan kesenanganku saja. kumohon maafkan aku" tangis Ino semakin menjadi. Neji dengan cepat menarik gadis itu dalam pelukannya. Tidak, ia tak boleh lagi menjadi alasan dari airmata kedua wanita itu.
"Ino.."
"Aku jahat, kan?! Aku jahat telah memisahkan kalian dengan paksa. Menyikasa kalian, menyakiti kalian. Hanya untuk obsesi yang mengatas namakan cinta. Aku jahat, Neji-kun. Maafkan aku!" setiap kata yang terucap terdengar gemetar. lelehan Kristal mengucur lancar.
"Ino, kumohon! Jangan menangis. Aku minta maaf. Maaf telah masuk dalam hidupmu dan merusak segalanya. Maaf karena aku hanya menjadi duri yang selalu menyakitimu, juga Tenten." Neji mengeratkan pelukannya. Ino hanya bisa terisak teredam didadanya. Tubuh mungilnya begitu bergetar menegang. Neji mengambil nafas, matanya terpejam dalam, dengan dagu yang ia sandarkan dipuncak kepala Ino.
"Bersabarlah sedikit lagi terhadapku! Aku akan berusaha, untuk jadi suami dan ayah yang baik, untukmu dan Aimi" entah Neji harus lega ataukah mati. Yang tampak didepan matanya sekarang hanyalah, ini yang terbaik baginya. Juga bagi semuanya. Sekali lagi, ia hirup udara sebanyak yang ia bisa. Mengeratkan pelukannya pada gadis mungil yang bergetar hebat dalam pangkuannya. Yah! Jika ia tak bisa membahagiakan Tenten, paling tidak ia bisa membahagiakan Ino, jika memang tidak akan pernah bisa, setidaknya ia harus bertahan untuk Aimi.
Ino mengangguk pelan, masih dengan isakan yang membanjir.
'Maafkan aku, Tenten! Kumohon maafkan aku!'
Selama bertahun-tahun, tak ada yang tahu, bahwa kalimat itu selalu terucap dibatinnya, sebanyak hembusan nafasnya, seirama dengan denyut nadinya.
…
…
…
…
….
Kini, takdir telah membawanya sejauh ini, pada siang dimusim kuning. Pada hari untuknya menjadi seorang pengantin. Yah! Kini telah tiba saatnya, bagi dirinya mengarungi samudra dengan kapal yang berbeda. Bernakhoda seorang kapten berambut pirang yang akan mengantarnya pada pulau impiannya.
Ia tersenyum tipis, meski ada getar kecil disela senyumnya. Matanya memandang lurus pada bayangan yang terpantul dicermin. Pada seorang gadis bergaun Cinderella dengan atasan seperti putri Bella, terlihat cantik dan anggun dengan rambut coklat yang tergelung tinggi. Sapu tangan jaring membalut kedua lengannya, tiara putih kecil tersemat dipuncak kepalanya. Anting bunga mungil nampak berayun dikedua telinganya. Sementara kalung emas putih dengan lebar 1cm berliontin Daisy itu telah melingkar rapi di leher jenjangnya yang terbuka.
'Sudah saatnya ya?' batinnya bergumam.
'Apa sudah saatnya?' bersitnya lagi.
'Apa benar-benar saatnya?' kilat matanya penuh tanya, namun tak berharap adanya jawaban. Ia masih diam, mengamati refleksi dirinya pada benda pemantul bayangan.
Drrrrrrttttt~
Getar handphone diatas meja riasnya sontak menyadarkannya dari lamunan. Dengan cepat ia meraihnya, dan terlihatlah satu nama disana. Ia tersenyum sekilas, kemudian menempelkan handphonenya ketelinga.
"Dei-nii.." desisnya.
"Oh hai..! A-apa pengantinku sudah siap?" terdengar suara khas yang belakangan ini memenuhi hari-harinya.
"Apa kau begitu merindukanku? Beberapa menit lagi kita akan bertemu, kan? Dei-kun~" goda Tenten, dengan nada manja yang dibuat-buat.
"O-oh, haha… ehem sebenarnya iya! A-aku hanya ingin mengatakan satu hal, un!" ujar Deidara agak terbata. Bisa Tenten tebak, bahwa pemuda itu sedang gugup sekarang. beberapa menit lagi prosesi pernikahan mereka akan dimulai.
"Uh? Apa itu?"
"Aku mencintaimu!"
Pip~
Tenten tercenung beberapa saat. Namun tak lama, bibir ranumnya melengkung keatas.
"Dasar!" gumamnya tersenyum.
Drrrrrrttttt~~
Hanphonnya kembali berbunyi. Tenten kembali mengangkatnya cepat.
"Ada apa lagi, Dei-nii." Ucapnya dengan nada malas.
"Maaf mengecewakanmu nona!" eh? Bukan Deidara?
"Siapa?"
"Bukan siapa-siapa! Hanya seseorang yang sedang bersama bayi mungil mengemaskan. Siapa namanya ya? Oh Aimi Hyuuga"
Deg!
"A-apa maksudmu? Katakan yang jelas!"
"Wah wah! Jangan marah begitu nona. Seorang pengantin harus tampil cantik nan anggun, bukan?!"
"Tidak lucu!"
"Baiklah nona pemarah! Katakanlah aku penculik. Itu amat sangat jelas ditelingamu, bukan?!"
Deg!
Jantungnya berdegup kencang dengan tiba-tiba, terkejut dengan pernyataan yang tak pernah ia sangka.
"Oh iya! Aku telah mengirim sms padamu. Datanglah kesini nona! Karena Aimi sedang memanjat pohon sekarang!"
"K-kau, bercanda!" teriak Tenten yang mulai tegang, ia bahkan bisa mendengar bagimana bunyi jantungnya yang menggebu.
Terdengar tawa remeh dari seberang sana.
"Sampai jumpa, 15 menit lagi"
Pip~
Secepat kilat Tenten memeriksa pesan yang masuk. Dan kini matanya melebar seketika, wajah terias make up itu nampak pucat dengan raut resah yang begitu kentara. Hanphonenya jatuh kelantai, seiring dengan gerak tubuhnya berbalik, melangkah cepat keluar dari ruangan pengantin itu.
Kedua tangannya menarik gaunnya sedikit keatas, agar ia bisa dengan leluasa berlari menuruni tangga. Tak peduli para tamu yang memandang aneh kearahnya.
"Tenten! Kau mau kemana?" Inoichi nampak kaget melihat gadis bakal menantunya ini terlihat begitu ketakutan.
"I-ino, dimana Ino!?" tanyanya bergetar.
"Ada apa, Tenten?" Ino yang tak jauh dari tempat menyahut. Tenten menoleh padanya dan langsung melancarkan tanya.
"Ino! Dimana Aimi?"
"Hei, tenanglah! Aimi sedang bersama Bibi Yume ditaman."
Tampa menghiraukan raut heran semua orang, Tenten berlari kencang menjauh, Ino dan Inoichi mengikuti dibelakangnya. Segudang tanya telah berputar-putar dikepala mereka. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Tenten!"
Tak ada sahutan yang berarti. Tenten masih melanjutkan acara berlarinya menuju taman yang dimakasud. Dan seiring dengan gerakannya yang melambat, tubuhnya bergetar hebat dengan mata yang membulat. Melihat Bibi Yume, saudari Inoichi telah tak sadarkan diri dengan keranjang bayi yang kosong.
"Yume!" kaget Inoichi berlari menghampiri saudarinya, sementara Ino langsung menghampiri keranjang bayinya.
"Aimi! Ayah, Aimi tidak ada!" ia berteriak Histeris.
"Apa?!"
Suasana mendadak dipenuhi kepanikan. Para tamu yang entah sejak kapan mengerubungi mereka terdengar gaduh.
Tampa membuang waktu, Tenten segera berbalik.
Tap tap tap~!
Gerak kakinya menderu. Menyusuri setiap langkah dengan cepat. Menghampiri mobil Sport putih milik Ino, kemudian melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Meninggalkan rumah yang telah diwarnai ketegangan.
'Aimi, kumohon tunggu aku'
…
…
"Deii-nii! Cepatlah! Jangan sampai kita kehilangan dia!" suara yang terdengar panic menggema didalam mobil hitam yang melaju kencang.
"Harusnya kau tidak ikut Ino. Apapun yang terjadi, ini pasti bukan sesuatu yang baik. ini berbahaya!" tanggap Neji yang duduk dikursi depan, raut tegang dan khawatir terpatri nyata diwajahnya.
"Aku tak bisa duduk tenang, sementara Tenten dan Aimi dalam bahaya!" tutur Ino bergetar gelisah.
"Kau yakin nomor pengirim itu tidak dapat dihubungi lagi, Deidara?" Inoichi yang duduk dikursi belakang bersama Ino tak kalah tegang.
"Sudah kucoba berkali-kali, tetap tidak bisa!" raut wajah Deidara begitu kacau.
"Sialan! Siapapun orangnya. Kupastikan dia akan membayarnya!" geramnya, Neji hanya bisa mengepalkan tangannya kuat. Urat-urat yang keluar sarat akan amarah.
Sementara jauh didepan mereka, seorang gadis cantik tengah berlari tampa alas kaki. Menyusuri jalan setapak berkerikil tajam, menembus semak, menerobos masuk kedalam hutan. Deru nafasnya kembang kempis.
'Aimi. Aimi. Aimi.'
Hanya nama itu yang berputar-putar dalam kepalanya. Mata kecoklatannya sedari tadi berkilat membulat, sarat akan ketegangan yang teramat sangat. Kedua tangannya masih menyingsingkan gaun panjangnya, berusaha memberi akses pada kedua kakinya untuk melangkah lebih cepat. Tak peduli penampilannya yang kini berantakan. Tak peduli pada kaki-kakinya yang memerah kesakitan.
….
Mobil Alphard hitam telah berhenti melaju, tepat dibelakang mobil sport putih yang di tinggalkan pemiliknya.
Pria berambut coklat panjang langsung keluar dari mobil dengan tergesa, mengambil langkah seribu menorobos masuk hutan diikuti yang lain. 'Brengsek! Apa yang orang itu inginkan dari keluargaku?'
Batinnya bergemuruh, kedua tangannya mengepal, matanya berkilat tajam penuh amarah. Dua orang yang menjadi alasan hidupnya kini berada dalam bahaya. Siapapun yang mengirim sms itu pada Tenten, ia yakin orang itu tak main-main.
From : Unknown
Hutan Osa, 15 menit. Atau bayi cantik ini mati.
…
…
"K-kau…" mata hazelnya membulat tak percaya, melihat sosok misterius itu telah berdiri tegak dihadapannya.
"Telat dua detik" ucap sosok berjas hitam sewarna surainya itu dingin.
"Apa yang kau inginkan? Dimana Aimi!" bentak Tenten, menatap tajam menghujam pada netra elang beberapa meter darinya.
"Seperti biasa. Kau tak sabaran.." sosok itu tersenyum sinis.
"Katakan - dimana – Aimi?!" geram Tenten penuh penekanan.
"Tenang, sebentar lagi dia akan bangun." ucapnya sembari mengeluarkan sebuah benda dari balik jasnya.
'p-pistol?'
Tenten tercekat seketika. Ia mulai was-was dengan situasi seperti ini.
"K-kau gila! Dimana Aimi?!" teriaknya lagi. Ada nada ketakutan disetiap kata yang terdengar bergetar. Raut wajah itu sangat pucat, begitu tegang dengan degup jantung yang beradu bak genderang perang. Lehernya serasa tercekik.
Pemuda berjas hitam itu tertawa remeh.
"Aku memang gila! Coba tebak siapa yang membuatku begini?" ia tersenyum angkuh, tatapan tajamnya begitu dingin. Telunjuknya terulur menyentuh pelatuk pistol SIG hitam buatan Jerman yang melekat ditangannya. Tenten mulai panik, hawa menakutkan menjalari setiap inchi tubuhnya yang begitu gemetar. Ia semakin kesulitan menelan ludahnya.
"A-apa yang akan kau lakukan? Jangan main-main!" kilat matanya jelas menggambarkan bahwa gadis itu sangat ketakutan, kini lidahnya begitu kelu, tenggorokannya kering, nafasnya naik turun.
Pria berjas hitam itu kembali tersenyum remeh.
"Jangan takut. Aku hanya ingin mempertemukanmu dengan si kecil"
Belum sempat Tenten mengedipkan matanya, sebuah suara telah menggema….
Klek!~
DOORRRRR!
.
.
.
To be Continued
A/N: Nama Aimi ane search di gugel XD
Haiii…. Adakah diantara kalian yang menunggu fict abal ini?!
Tidak ada ya?! Maaf kalau begitu (-_-"
Baiklah… twooshoot gak jadi, naggung, hehe.. mungkin sudah bisa dipastikan chappy depan adalah the last chap. Maaf juga kalau chap ini gajenya udah kelewatan, gak layak baca dan begitu mengecewakan. Ane ikhlas jika anda-anda sekalian melayangkan protes -_-"
Seperti biasa, ane sangat teramat sangat menunggu kritik dan saran dari para Readers sekalian, agar cara nulis ane gak amburadul. Apalagi masalah EYD, coz pengetahuan ane minim bingo soal itu. XD saya akan sangat senang jika para reader menanggapi tulisan gaje ane dikotak ripiu, krn bagaimanapun harus ane akui, revi itu salah satu penambah mood, dan penyemangat bagi amatiran seperti ene. :v
My big thanks to all of readers yang berkenan mampir untuk membaca, aspecially bagi yang udah fav, fol, dan menyempatkan diri utk repot sedikit dg memberikan reviewnya. Apalah arti fict ini tampa kalian, Terima kasih banyak, maaf ane tak bisa membalas kebaikan kalian. :")
Big Hug : Arindadestiani,V-R-Ka, Silverberg Norn, Sabaku No Dili, Kirei Atsura, NazliaHaibara, Uchiha Nuari Sooya, chubby, Anikwaw, Sabaku Leny/Leny Chan :D, Aura39panda/Ten-chan, Zyyn'x, aa' Siluett XD. And silent reader semua, ai lop yu pull :D
Yg login ane blz di PM
Sooya : hehe, Tentennya menderita dulu*dicekek XD tp tenang, diakan perempuan tangguh, gak akan kalah ame 'sakit' xixixi*ktawa garing* ini dia kelanjutannya, maaf apabila mengecewakan. Thanks ya sooya-san slalu berkenan mampir :') lup yu!
Chubby : jadinya? Ya begitulah… #diblender X"D hidup memang rumit dedek*malah baver :v hahag abaikan! Terima kasiiiih banyaak krn dedek slalu nyempetin baca and revi ff gajeku. TTwTT aku terharu. Boleh peluk gak? *plakk.
Sabaku Leny : kyaaaa…. Guling2 gak ngajak2 (?) ekekekek abaikan yg ini. XD terima kacang yang banyak yaa XD, Leny-chan udah berkenan mampir. Iya ane juga seneng krn ada Hizashi#loh? XD ini dia klanjutannya, moga gak kapok ya. *kecup :v
Zyyn'x : ehehe, ehem… ini saya, etapi gak tau cp dede yang u maksud. XD but thanks to review.
Siluett : aih.. si aa' langsung wot? :"D makacang ya aa'-san slalu mampir di ff abal ane. Lope yu too mat 3 XD #pelukerat
Terima kasih semua…. Moga gak kapok ya utk review fict gak jelas ini, ehehe…. see you in the next chap…
