Chapter 2

summary : Cagalli berusaha mengerti kesibukan Athrun-kekasihnya sebagai seorang ketua OSIS. Tapi bagaimana jika Athrun terlalu sibuk sampai-sampai Cagalli merasa tidak dipedulikan olehnya? Mungkinkah Cagalli bisa bertahan? Atau kah dia mulai tergoda dengan cinta baru yang menyapanya?

Rate : T

Genre : Romance & Drama

Warning : AU, mungkin OOC.

Disclaimer : Clamp.

Trust You

Athrun merasakan suasana asing saat matanya masih terpejam, hembusan angin yang biasa ia rasakan selalu membuat hatinya tentram dan damai. Tapi angin yang berhembus sekarang malah membuat hatinya galau dan seolah menyampaikan rasa kesepian yang amat mendalam.

Athrun memberanikan diri membuka mata untuk melihat apa yang ada disekelilingnya. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah sekumpulan Bunga Matahari yang diterangi oleh jingga senja yang akan segera tenggelam dan dia sedang berdiri ditengah padang Bunga Matahari itu.

'Tidak ada yang aneh, matahari senja memang sangat indah' pikirnya sambil memperhatikan jingga senja itu.

Saat Athrun mencoba mengedarkan pandangannya untuk mencari sesuatu yang janggal, matanya malah tertuju pada setangkai Bunga Matahari yang membelakangi sinar matahari. Dia dekati Bunga Matahari itu dan diperhatikannya dengan saksama.

'Bunga Matahari ini bahkan tidak memerlukan sinar matahari untuk dapat bertahan hidup, mirip sekali dengan Cagalli yang bahkan tidak memerlukan penampilan luar untuk membuat dirinya mempesona' batin Athrun masih memperhatikan bunga matahari itu.

'Hanya perlu satu senyuman untuk membuatku jatuh cinta padamu, Cagalli. Dan senyum itu takkan pernah hilang dari hatiku' Athrun membayangkan Cagalli tersenyum padanya.

Athrun mengalihkan pandangannya dari bunga itu, tiba-tiba dia melihat sesosok gadis yang berdiri membelakanginya di tengah sekumpulan Bunga Matahari dengan jarak sekitar 100 meter dari tempat ia berada saat ini. Athrun tidak dapat melihat dengan jelas siapa gadis itu.

Athrun's POV

'Apa aku aku mengenalnya? Tapi siapa?'

Aku langkahkan kakiku untuk memastikan gadis yang tengah berdiri membelakangiku. Rasa penasaranku semakin menjadi tatkala gadis itu memulai langkahnya untuk beranjak pergi seolah dia menyadari keberadaanku yang mulai mendekat. Tak ingin dia pergi, aku pun berlari menyusuri padang Bunga Matahari itu. Dia mulai berlari seakan ingin menghindariku, ku percepat lariku untuk menggapainya.

Meskipun dia berlari, tetap saja dia seorang perempuan dan kecepatan lari seorang perempuan tidak akan bisa mengalahkan kecepatan seorang laki-laki. Dan akhirnya jarak antara aku dan dia semakin dekat.

'Bukankah itu,, Cagalli….'

Menyadari gadis itu adalah Cagalli, aku sudah tidak sabar lagi untuk segera menghampirinya…. Sosok yang sangat ku rindukan….

"Cagalli…" ucapku lirih saat berhasil menggapai tangannya dan membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya.

"Cagalli, aku sangat merindukanmu" segera saja aku menarik dan membawanya ke dalam pelukanku.

"Aku bahagia sekali bisa bertemu denganmu,, apa kau juga merasakan hal yang sama denganku" pelukanku semakin erat padanya.

Cagalli tidak memjawab pertanyaanku, tapi dapat ku rasakan dia mulai membalas pelukanku. Aku berharap ini bukan mimpi, kalaupun ini mimpi aku berharap takkan pernah terbangun untuk selamanya.

Aku mulai mengendurkan pelukanku sekedar ingin memandang wajahnya. Ku tatap wajah itu dengan lekat sambil tetap memegang erat kedua tangannya, tidak ada yang berubah darinya. Dia tersenyum padaku, namun itu bukan senyum tulus yang sering ia berikan padaku, senyumannya kali ini seolah dipaksakan.

"Cagalli, aku….. maafkan aku" aku angkat suara menyadari keheningan yang mewarnai pertemuan kami.

"Athrun, ku mohon… jagalah dirimu baik-baik! Ambillah pilihan yang terbaik yang akan membuatmu bahagia" aku jadi bingung dengan maksud perkataannya itu.

"Cagalli, apa maksud dari per—" belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah melepaskan genggaman tangannya dariku.

Dia tersenyum lagi padaku, namun kali ini adalah senyum tulus yang sering aku lihat darinya. Aku merasa terhipnotis melihat senyum itu, sangat indah untukku…hanya untukku. Saat aku mulai tersadar, ternyata Cagalli sudah tidak ada di depanku dan ku lihat dia sudah berlari membelakangiku. Aku tak ingin dia pergi dariku…

"CAGALLI…!" aku mulai berlari sambil berteriak menyebut namanya berharap dia menghentikan langkahnya yang menjauhiku.

Tapi dia semakin jauh dan aku tidak dapat melihat keberdaannya lagi. Aku menyesal membiarkan dia pergi dariku. Perlahan ku rasakan lututku mulai melemas dan akhirnya jatuh berlutut di tengah padang Bunga Matarhari yang mengelilingiku.

"CAGALLI…! CAGALLI, AKU MENCINTAIMU DAN AKAN SELALU BEGITU…!" ucapku berteriak pada Cagalli yang sudah tidak terlihat lagi.

"Tuan,, Tuan Muda.." ku dengar ada suara samara-samar yang menggelitik indra pendengaranku.

"Tuan,, Bangun Tuan.. ini sudah siang, nanti tuan terlambat ke sekolah" suara itu semakin jelas dan akhirnya ku buka mataku untuk melihat siapa yang memanggil-manggilku.

"Syukurlah Tuan Muda sudah bangun,, Tuan Muda sudah ditunggu oleh tuan besar untuk sarapan bersama" ternyata itu suara pelayan di rumuahku.

Aku bingung ternyata aku sudah berada di dalam kamarku sendiri, tapi bukankah tadi aku sedang berada di tengah sekumpulan bunga dan… ada Cagalli juga bersamaku.

"Umm.. kenapa aku ada di kamarku sendiri?" tanyaku pada pelayan itu.

"Bukankah sejak tadi malam Tuan Muda terus berada di kamar ini? Lalu kenapa Tuan Muda bertanya seperti itu?" pelayan itu malah mengerutkan keningnya.

"Ohh, begitu.. Aku hanya bingung saja.." balasku padanya.

"Bingung kenapa Tuan? Apa Tuan Muda baik-baik saja?" dia mulai mengkhawatirkan keadaanku.

"Bukan… bukan apa-apa, aku baik-baik saja. O ya, katakan pada ayah sarapannya duluan saja, aku ingin mandi dulu" ucapku sembari beranjak dari tempat tidur.

"Baik Tuan. Saya permisi dulu" ucapnya sambil melangkah pergi dari kamarku.

Normal POV

'Sepertinya ada yang aneh pada tuan muda akhir-akhir ini. Tapi ada apa ya? Kenapa aku jadi memikirkan hal ini, lagipula ini kan bukan urusanku' batin pelayan itu saat melangkah keluar dari kamar Athrun.

'Apa yang tadi itu cuma mimpi? Tapi apa maksud dari mimpiku tadi? Kenapa Cagalli berkata seperti itu?' Athrun terus bertanya dalam hati tentang mimpi yang baru dialaminya.

Athrun kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi karena menyadari bahwa dia sudah kesiangan. Apa pendapat murid lain jika seorang Ketua OSIS malah terlambat datang ke sekolah? Dan Athrun tidak ingin hal itu sampai terjadi.

~#####~

Archangel High School, sekolah yang sangat terkemuka di Negara Orb. Sekolah ini setiap tahun selalu saja melahirkan siswa-siswi yang cerdas dan mampu meraih berbagai prestasi. Sekolah yang selalu menjadi idaman siswa-siswi yang baru lulus dari Junior High School.

Di sekolah ini juga lah Cagalli, Kira, Athrun dan Shinn menuntut ilmu. O iya satu lagi,, selain Kira dan Cagalli ada juga siswa-siswi yang kembar, sebut saja Lacus dan Meer.

Suasana sekolah tampak seperti biasanya bagi siswa-siswi yang ada di sana, tak terkecuali dengan Cagalli. Dia sudah terbiasa dengan suasana ini,, suasana sekolah tanpa seorang Athrun di sampingnya. Cagalli, Lacus dan Shinn adalah siswa kelas 2-2, sedangkan Kira, Athrun, dan Meer merupakan siswa dari kelas 2-1.

Cagalli Yula Athha, siswi yang jago basket. Dia juga adalah kapten tim basket putri di Archangel High School. Kemampuannya dalam bermain basket tidak perlu diragukan lagi, bahkan siswa laki-laki pun jarang sekali yang dapat mengalahkannya dalam memainkan olahraga yang sangat dikenal dikalangan remaja tersebut. Sudah banyak prestasi yang ia raih bersama timnya, mulai dari Kejuaraan Nasional sampai di Festival Olahraga Internasional. Walau pun Cagalli jago bermain basket, dia juga termasuk siswi yang cerdas dengan berbagai prestasi akademik. Cagalli adalah tipe gadis yang cuek terhadap penampilan dan dikenal galak di kalangan siswa laki-laki. Hanya orang-orang terdekatnya saja yang dapat melihat sisi lembut dari seorang Cagalli Yula Athha.

Athrun Zala, siswa tampan yang cerdas dan dikagumi kaum hawa. Tidak sedikit gadis yang harus menerima penolakan cinta dari Athrun. Sifatnya yang baik tapi misterius itulah yang menjadi daya tariknya. Dia juga seorang Ketua OSIS yang dapat menjadi teladan bagi siswa-siswi lain. Dengan begitu, sempurnalah sosok seorang Athrun Zala di mata kaum hawa. Tapi sayangnya, dia sudah memiliki pujaan hati yaitu Cagalli Yula Athha.

Kira Yamato, merupakan adik kembar dari Cagalli. Sifatnya yang ramah dan baik juga menjadi daya tarik bagi kaum hawa. Dia juga populer di kalangan para siswi, hanya saja popularitasnya masih kalah jika dibandingkan dengan Athrun. Dia merupakan Wakil Ketua OSIS di Archangel High School. Sama seperti Athrun, Kira juga sudah mempunyai Lacus yang selalu menghiasi hatinya.

Shinn Asuka, siswa yang jago bermain basket. Sama seperti Cagalli, dia juga seorang kapten tim basket putra yang telah membawa timnya meraih berbagai prestasi. Di sekolah itu, hanya Shinn lah yang mampu menyaingi Cagalli dalam urusan basket. Shinn juga sahabat Cagalli sejak kecil yang selalu setia menemani Cagalli.

Lacus dan Meer, sepasang siswi kembar yang identik. Sangat sulit untuk membedakan keduanya. Bagi mereka yang teliti, dapat membedakannya dengan mudah lewat jepit rambut yang mereka gunakan. Selain itu, mereka juga memiliki karakter yang berbeda. Lacus adalah kekasih Kira, sedangkan Meer memendam perasaan terhadap Athrun. Lacus adalah Sekretaris OSIS, sedangkan Meer menjabat sebagai Bendahara OSIS.

~#####~

"Selamat pagi, Cagalli" Cagalli baru memasuki kelasnya dan langsung disambut oleh Lacus dan Meyrin.

"Selamat pagi juga. Sepertinya kalian ceria sekali" balas Cagalli sambil meletakkan tasnya di tempat duduk yang bersebelahan dengan tempat duduk Lacus.

"Ah tidak, sama seperti biasanya saja. Hari ini tidak ada yang spesial" sahut Meyrin.

"Umm,, kalian, kau sudah dengar berita bagus belum?" sambungnya.

"Memangnya ada berita apa, Meyrin?" tanya Lacus.

"Hehe.. Kalian pasti kaget mendengarnya, terutama kau, Cagalli" jawab Meyrin dengan yakin.

"Aku? Memangnya ada berita apa? Sepertinya kau yakin sekali aku akan terkejut mendengarnya" Cagalli mengerutkan keningnya.

"Begini, kabarnya David Archuleta akan menggelar konser di pusat kota" kata Meyrin dengan serius.

"HAAHH? KAPAN? KAU TIDAK BERCANDA KAN?" tanya Cagalli dengan tidak sabar sambil mengguncang-guncangkan bahu Meyrin.

"Apa itu benar, Meyrin?" tanya Lacus yang lebih tenang dibandingkan dengan Cagalli.

"I.. iya. Tapi lepaskan dulu bahuku, kalau tidak,, aku tidak akan mengatakannya" sontak Cagalli menjauhkan tangannya dari bahu Meyrin.

"Ayo cepat, katakan kapan konsernya?" Cagalli semakin penasaran.

"Konsernya akan digelar di Town Hall malam ini" jawab Meyrin.

"Kalau begitu, kita harus segera membeli tiketnya" kata Cagalli beranjak berdiri dengan penuh semangat.

"Masalah tiket tenang saja, aku sudah membelikan 3 tiket VIP untuk kita" ujar Meyrin sembari memperlihatkan 3 tiket konser yang sudah dibelinya.

"Kita?" sahut Lacus yang mulai bingung.

"Iya,, kita.. Aku, kau, dan Cagalli" jawab Meyrin disertai senyum manisnya.

"Maaf, aku tidak bisa ikut. Aku sudah punya janji dengan Kira. Sekali lagi maaf" ucap Lacus agak sedih.

"Ohh, begitu… kau tidak perlu minta maaf, tidak apa-apa kok" sahut Meyrin yang langsung membuat hati Lacus menjadi lega.

"Tapi tiket yang satu lagi untuk siapa ya? O iya Cagalli, bagaimana kalau kau ajak Athrun?" sontak Cagalli terkejut mendengar kalimat Meyrin.

"Kalau Athrun, sudah tentu dia tidak bisa. Kau tau sendiri kan, dia sedang sibuk merencanakan acara Pentas Seni yang tidak lama lagi akan digelar" ucap Cagalli agak menunduk ketika teringat kembali dengan masalahnya.

Menyadari perubahan ekspresi Cagalli, Meyrin dan Lacus jadi bingung. Akhirnya Meyrin angkat suara.

"Kalau begitu,, ajak saja Shinn" sahut Meyrin.

"Emm, baiklah.. aku akan coba mengajaknya" Cagalli mengangkat wajahnya dan tersenyum karena tidak ingin Meyrin dan Lacus curiga.

"Kalau Cagalli yang mengajak, Shinn pasti tidak akan menolak" goda Meyrin pada Cagalli yang disambut dengan tawa kecil oleh Meyrin dan Lacus.

Percakapan antara tiga gadis itu pasti akan berkelanjutan kalau saja seorang guru tidak datang untuk memulai pelajaran. Mereka bertiga akhirnya duduk di tempat masing-masing karena takut pada guru yang mengajar kali ini. Ya, dia adalah guru yang terkenal sangat galak di kalangan murid kelas 1 sampai kelas 3. Akhirnya, pelajaran yang membosankan di kalangan para siswa pun di mulai.

~#####~

"Kalau begitu, saya permisi dulu dan terima kasih" ucap Athrun sambil membungkuk, kemudian keluar dan menutup pintu yang bertuliskan "Ruang Kepala Sekolah".

"Hei Athrun, apa yang barusan kau lakukan di ruang kepala sekolah?" sapa Kira yang mengagetkan Athrun.

"Emm,, tadi aku meminta persetujuan dari Pak Durandal untuk menggelar acara Pentas Seni" jawab Athrun.

"Umm… Athrun, apa kau sibuk setelah ini? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu,, berdua saja" ujar Kira sambil berjalan mendekati Athrun.

"Tidak kok, aku sedang tidak sibuk. Memangnya ada apa, Kira?" tanya Athrun agak bingung. Tidak biasanya Kira memintanya berbicara hanya empat mata.

"Aku tidak bisa membicarakannya di sini. Bagaimana kalau di atap sekolah saja?" ajak Kira.

"Baiklah, kurasa memang lebih baik kalau kita bicara di sana" sahut Athrun.

Mereka berdua akhirnya berjalan menuju atap sekolah karena waktu masih menunjukkan waktu istirahat makan siang, jadi mereka punya waktu yang cukup panjang untuk berbicara.

'Apa ya kira-kira yang ingin dibicarakan Kira denganku, sepertinya serius sekali. Apa ini ada hubungannya dengan Cagalli?' Athrun bertanya dalam hati.

TBC

Akhirnya selesai juga chapter ini, saya sudah berusaha membuat chapter ini lebih panjang dari sebelumnya. Mengenai adanya nama David Archuleta, tidak lebih karena dia adalah penyanyi idola saya.

O iya, terima kasih buat para senpai yang sudah review fic saya. Review dari senpai semua membangkitkan semangat saya untuk meneruskan fic ini.

Bagaimana tentang chapter kali ini? Silahkan review untuk menyampaikan kritik dan saran / tanggapan tentang chapter ini. Tapi ingat, tidak menerima flame…!

Gomen kalau ceritanya kurang bagus…

Sekali lagi, mohon reviewnya…