Remake dari Abbi Glines "Fallen Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Aku harap alur cerita akan cukup masuk akal ^^
Sekuel dari FF "The Virgin And The Playboy"
This sekuel is for you all!
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Rate M!
Romance, Drama, Hurt/Comfort
Yaoi, boyXboy
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 2
Yoongi POV
Aku menghapus air mataku dan memaksakan diri untuk mengambil nafas dalam. Aku tidak boleh menyerah sekarang. Aku tidak menyerah ketika aku duduk memegang tangan ibuku saat dia menghembuskan nafas terakhirnya. Aku tidak menyerah saat mereka membaringkannya di tanah yang dingin. Dan aku tidak menyerah ketika aku menjual satu-satunya rumahku. Aku tidak akan menyerah sekarang. Aku bisa melaluinya.
Aku tidak punya cukup uang untuk menyewa kamar hotel tapi aku punya mobilku. Aku bisa tinggal di mobilku. Mencari tempat aman untuk memarkirnya di malam hari mungkin akan menjadi satu-satunya masalahku.
Kota Busan kelihatannya cukup aman tapi aku sangat yakin jika mobil tua ini di parkir disembarang tempat akan menarik perhatian. Aku akan melihat polisi mengetuk jendelaku bahkan sebelum aku tidur.
Aku akan menggunakan dua puluh ribu won terakhirku untuk mengisi bensin. Kemudian aku bisa mengemudikan mobilku ke pusat kota dimana mobilku tidak akan ketahuan di tempat parkir.
Mungkin aku bisa memarkirnya di belakang restoran dan mendapat kerja juga di sana. Aku tidak perlu bensin untuk pulang pergi ke tempat kerja. Perut keronconganku mengingatkanku kalau aku belum makan sejak pagi tadi. Aku akan menghabiskan beberapa won untuk makan. Dan berdoa semoga aku akan mendapatkan kerja esok hari.
Aku akan baik baik saja. Aku memutar kepalaku untuk memeriksa di belakangku sebelum aku menghidupkan mesin mobil dan mundur. Sepasang mata hitam menatapku.
Sebuah teriakan kecil lolos dariku sebelum aku tahu kalau itu adalah Jimin.
Apa yang dia lakukan berdiri di luar mobilku? Apakah dia meyakinkan dirinya kalau aku telah meninggalkan rumahnya?
Aku benar-benar tidak mau berbicara lagi dengannya. Aku mengalihkan tatapanku untuk keluar dari tempat ini sebelum dia mengangkat alis matanya padaku.
Apa maksudnya?
Kau tahu apa? Aku benar-benar tidak ingi mengakui dia terlihat sangat seksi saat melakukannya. Aku mulai menghidupkan mobil tapi tiba-tiba mesin meraung, aku mendengar bunyi klik dan senyap.
Oh tidak. Jangan sekarang. Tolong jangan sekarang.
Aku menggoncangkan kunci dan berdoa kalau aku salah.
Aku tahu alat pengukur bensinku rusak tapi aku melihat alat pengukur jarak. Aku seharusnya masih punya beberapa mil lagi. Aku tahu aku bisa.
Aku menghantamkan telapak tanganku pada setir dan memanggil mobil dengan beberapa pilihan nama tapi tidak terjadi apa-apa. Aku terjebak.
Apakah Jimin akan menelpon polisi? Dia ingin aku keluar dari rumahnya jadi dia keluar untuk memastikan aku sudah pergi. Tapi aku tidak bisa pergi.
Apakah dia akan membuatku ditangkap? Atau yang lebih buruk, memanggil mobil derek. Aku tidak punya uang untuk mendapatkan kembali mobilku jika dia melakukannya. Paling tidak di penjara aku dapat makan dan tempat tidur.
Menelan gumpalan yang tersangkut ditenggorokanku aku membuka pintu mobil dan berharap yang terbaik.
"Ada masalah?" tanya Jimin.
Aku ingin berteriak histeris dalam frustasi. Namun, aku memutuskan untuk mengangguk.
"Aku kehabisan bensin." Jimin mendesah.
Aku tidak berbicara. Aku memutuskan untuk menunggu keputusan yang menjadi pilihan terbaik di sini. Aku bisa saja memohon dan membela diri setelahnya.
"Kenapa kau tidak pernah mengangkat teleponku?"
Apa? Ah, Apakah dia bertanya tentang hari itu?
Nomor telepon yang kuberikan padanya setelah malam kencan one night stand itu?
Mukaku memerah. Jadi dia mengingatku.
"HP ku rusak dan banyak masalah yang pada akhirnya nomor itu entah menhilang kemana," jawabku.
Jimin mengangkat alisnya, "Benarkah? Tidak kau perbaiki?"
Aku mencoba keras tidak marah. Memang HP-ku rusak, dan Ibuku yang kondisi sakitnya semakin parah. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi HP sialan itu dibandingkan Ibuku. Tapi saat ini aku memerlukan kemurahan hati pria ini untukku. Menekan komentar sinis di ujung lidahku, aku tersenyum.
"Ya. Benar. Aku juga tidak mempunyai HP lagi sejak saat itu."
Jimin menyeringai dan mengangkat bahu.
"Maaf. Aku hanya penasaran."
Dia berhenti dan matanya menelusuri tubuhku dan kembali keatas dengan perlahan. Rasa panas tiba-tiba merayapi pipiku dengan memalukan.
"Sedikit tambahan dariku. Tubuhmu sedikit seperti bertambah dewasa. Apa kau sering bercinta setelah kita melakukan-nya?"
Pertanyaan apa itu? Apa maksudnya?
Aku ingin tahu dengan segera seperti apa nasibku kedepannya, bukan membicarakan tentang kegiatan bercintaku pada pertemuan kami yang kedua ini. Selain itu, Zhoumi, mantan pacarku dan teman terdekatku, tidak pernah membahas hal seperti ini bahkan saat kami masih bersama. Apa maksudnya itu.
"Tidak. Aku jarang… tidak bercinta dengan banyak pria. Aku punya masalah lain yang lebih besar daripada harus bercinta. Sekarang, aku kehabisan bensin. Aku hanya punya dua puluh ribu won. Ayahku kabur dan meninggalkanku setelah mengatakan dia akan membantuku untuk bertahan hidup. Percayalah padaku, dia adalah orang TERAKHIR yang ingin kumintai tolong. Sekarang, apakah kau akan menelpon polisi atau mobil derek? Aku lebih menyukai polisi dalam masalah ini jika aku boleh memilih," aku menutup mulutku untuk menyudahi kata-kata kasarku.
Dia telah mendorongku terlalu jauh dan aku tidak bisa mengontrol mulutku. Sekarang, aku dengan bodohnya memberi dia ide bodoh tentang mobil derek. Sialan.
Jimin mengangkat kepalanya dan mengamatiku. Kesunyian lebih dari yang bisa kuatasi. Aku hanya membagi sedikit informasi pada pria ini. Dia bisa saja membuat hidupku lebih sulit jika dia menginginkannya.
"Aku tidak suka Ayahmu dan dari nada bicaramu, begitu pula kau," katanya penuh pertimbangan."Ada satu kamar kosong malam ini. Kosong hingga Ibuku pulang dari liburannya. Aku tidak menyuruh pembantu rumah tangga untuk tinggal di sini sementara dia berlibur. Kim Ahjumma hanya datang untuk bersih-bersih seminggu sekali saat Ibuku berlibur. Kau bisa menempati kamarnya yang ada di bawah tangga. Kamarnya kecil tapi ada ranjangnya."
Dia menawariku kamar. Aku tidak akan menangis. Aku bisa melakukannya larut malam nanti. Aku tidak jadi dipenjara.
Terima kasih Tuhan.
"Satu-satunya pilihanku adalah mobil ini. Aku bisa menjamin apa yang kau tawarkan jauh lebih baik. Terima kasih."
Jimin mengerutkan dahi beberapa saat, kemudian segera hilang dan ada senyum tipis di wajahnya.
"Di mana kopermu?" tanyanya.
Aku menutup pintu mobil dan berjalan ke belakang mobil untuk mengeluarkannya. Sebelum aku bisa mengambilnya, sesosok tubuh hangat dengan aroma yang kurindukan dan lezat meraihnya duluan.
Aku membeku saat Jimin meraih koperku dan menariknya keluar. Berbalik aku menatapnya. Dia berkedip padaku.
"Aku bisa membawakan tasmu. Aku bukanlah seorang bajingan."
"Terima kasih, sekali lagi," aku tergagap, tidak bisa jauh dari tatapannya. Matanya begitu mengagumkan. Bulu mata hitam yang membingkai hampir terlihat seperti garis mata. Dia memiliki semua yang hal alami di sekeliling matanya.
"Ah,bagus, kau menghentikannya. Aku memberimu lima menit dan kemudian keluar untuk memastikan kau tidak kehilangannya."
Suara akrab Hoseok mengagetkanku dari kebingunganku dan aku berbalik untuk berterima kasih atas interupsinya. Aku telah menatap Jimin seperti orang bodoh.
"Dia akan memakai kamar Kim Ahjumma sampai aku bisa menghubungi Ayahnya dan mencari tahu sesuatu."
Jimin seolah terganggu. Dia berjalan ke sampingku dan memberikan kopernya pada Hoseok.
"Ini, tolong antarkan dia ke kamarnya. Aku harus kembali."
Jimin berjalan tanpa menatap ke belakang. Diperlukan seluruh tekadku untuk tidak melihatnya pergi. Terutama sejak melihat belakang jeansnya yang sangat menggoda. Dia bukanlah orang yang harus kusukai lagi, paling tidak untuk saat ini.
"Dia adalah seorang yang kasar," kata Hoseok, menggelengkan kepalanya dan menatap padaku. Aku setuju dengannya.
"Kau tidak perlu membawa koperku masuk lagi," aku berkata sambil meraih koper.
Hoseok menjauhkannya dari jangkauanku.
"Aku bersikap seperti adik yang tidak akan membiarkanmu membawa koper ini saat aku dua kali lebih kuat darimu untuk membawanya."
Aku ingin tersenyum jika saja satu kata yang baru saja membuatku kaget.
"Adik?" aku mengulangi.
Hoseok tersenyum tapi senyum itu tidak mencapai matanya.
"Kupikir aku lupa bilang kalau aku anak dari suami Hyori yang ke dua. Dia menikah dengan ayahku saat aku berusia tiga tahun dan Jimin empat tahun, mereka menikah hingga aku berusia lima belas. Sejak saat itu Jimin dan aku bersaudara. Hanya karena ayahku bercerai dari ibunya tidak mengubah apa pun antara kami. Kami pergi sekolah bersama dan bergabung di perkumpulan yang sama."
Oh. Oke. Aku tidak menduganya.
"Berapa banyak suami yang dimiliki Hyori?"
Hoseok tertawa pendek kemudian berjalan menuju pintu.
"Ayahmu suami nomor empat."
Ayahku adalah orang bodoh. Wanita seperti dia kelihatannya mudah berganti suami seperti dia berganti celana dalam. Berapa lama dia melupakan para lelaki itu dan membuka hati lagi?
Hoseok berjalan di belakang dan tidak berkata apa-apa padaku saat kami menuju dapur. Dapur itu besar dengan meja batu pualam hitam dan peralatan rumah tangga yang banyak. Kemudian dia membuka pintu yang terlihat seperti jalan lebar di pantry.
Bingung, aku melihat sekelilingku kemudian mengikutinya masuk ke dalam. Dia berjalan ke belakang ruangan itu dan membuka pintu lain. Dia punya cukup ruang untuk masuk dan meletakkan koperku di ranjang. Aku mengikutinya dan berputar di sekitar ranjang ukuran twin yang hanya meninggalkan jarak beberapa inci antara ranjang dan pintu.
Aku benar-benar ada di bawah tangga. Sebuah meja kecil ada diantara ranjang dan itu, tidak ada apa-apa lagi.
"Aku tidak tahu di mana kau akan menyimpan kopermu. Kamar ini kecil. Aku sebenarnya tidak pernah kesini." Hoseok menggelengkan kepalanya dan kemudian mendesah.
"Dengar, jika kau ingin tinggal di apartemenku kau bisa. Paling tidak aku akan memberimu kamar yang bisa membuatmu bergerak di dalamnya."
Ucapan Hoseok yang manis membuatku tidak ingin menolak penawarannya. Tapi dia tidak membutuhkan tamu tak diundang untuk menempati salah satu kamarnya.
Paling tidak disini aku bisa menyembunyikan diri jadi tidak ada seorang pun yang akan melihatku. Aku bisa membersihkan sekitar rumah dan mendapatkan kerja di suatu tempat.
Mungkin Jimin akan membiarkanku tidur di kamar kecil yang tak terpakai ini sampai aku punya cukup uang untuk tidak merasa seolah aku terpukau ada akan mencari toko bahan makanan besok dan memakai dua puluh ribu wonku untuk membeli makanan.
Selai kacang dan roti akan menjadi makananku selama seminggu atau lebih.
"Di sini sempurna. Aku akan baik-baik saja itu,Jimin akan menelpon Ayahku besok dan mencari tahu kapan dia akan kembali. Sekali lagi, aku sangat menghargai tawaranmu."
Hoseok melihat sekeliling kamar sekali lagi dan tidak senang pada kamar ini tapi aku sudah cukup senang.
"Aku tidak suka meninggalkanmu. Ini terasa salah."
Dia menatapku sekarang dengan suara memohon.
"Ini hebat. Lebih baik daripada mobilku."
Hoseok mengerutkan dahi,
"Mobil? Kau berencana tidur di mobil?"
"Ya, benar. Kamar ini,bagaimana pun juga,memberikan aku sedikit waktu untuk mencari tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya."
Hoseok menjalankan tangannya ke rambutnya.
"Maukah kau berjanji sesuatu?" tanyanya.
Aku bukan orang yang suka berjanji. Yang aku tahu dari janji adalah mereka mudah dilupakan. Aku mengangkat bahu. Hal terbaik yang bisa kulakukan.
"Jika Jimin menyuruhmu pergi, telepon aku."
Aku akan menyetujui dan tahu jika aku tidak punya nomor teleponnya.
"Dimana HP-mu jadi aku bisa memasukkan nomorku?" tanyanya.
Hal ini akan membuatku terdengar makin menyedihkan lagi.
"Aku tidak punya."
Hoseok menganga padaku,
"Kau tidak punya HP? Tak heran kau punya senjata."
Hoseok meraih ke sakunya dan mengeluarkan sesuatu yang mirip kuitansi.
"Kau punya pulpen?"
Aku mengeluarkan pulpen dari dompetku dan memberikannya padanya.
Dia dengan cepat menuliskan nomornya dan memberikan kertas dan pulpen padaku.
"Telepon aku. Aku serius."
Aku tidak akan pernah meneleponnya tapi dia baik sekali dengan tawarannya. Aku mengangguk. Aku tidak menjanjikan apa-apa.
"Kuharap kau tidur nyenyak disini."
Dia melihat sekeliling kamar kecil itu dengan rasa khawatir di matanya. Aku akan tidur dengan nyenyak.
"Tentu," aku menyakinkan dia.
Dia mengangguk dan keluar dari kamar menutup pintu dibelakangnya. Aku menunggu hingga aku mendengar dia menutup pintu pantry sebelum aku duduk di ranjang di samping koperku. Ini akan baik-baik saja.
Aku bisa menjalaninya.
-TBC-
[Thanks untuk review n feedbacknya all]
[Seperti biasa akan aku bales by PM ya]
[Aku juga senang mayoritas merespon positif untuk sekuel ini :)]
[Keep read & review!]
