Come Back Is Real—nggak, ini bukan DOTA.

[Balada Big Family: Series]

Faktanya, saya belum menemukan judul lain yang sreg di hati selain judul ini.

Warning: Typo(s), OC, sho-ai.

A/N: Maaf saya baru muncul guys :")))

Hetalia masih punya Papa Hidekaz Himaruya.


[Artis]

"Lu tahu siapa artis musiman di bulan Romadon?"

"Siapa?"

Inderapura mengangkat satu jari. "Pak Ustad."

"Gua ngasih tahu aja, kalau Aceh mendadak datang buat nempeleng kepala lu—gua gak bakal nolong."

"Hah? Mana—"

PLAK!

"... ASTAGFIRULLAH SAKIT."

"Mana yang menyamakan Ustad dengan artis musiman, hah? Mana—"

"Kan mereka sama-sama dimintain tanda tangan mendadak Aceh!"

"MASA BODOOOO!"

Mungkin Inderapura lupa kalau yang jadi sepuh dan suka menjadi imam di masjid daerah sini adalah Samudra Pasai dan Aceh.

[Globalisasi]

Kenapa sekarang Banten dan Inderapura menggunakan bahasa gaul saat berbicara berdua?

"Kan emansipasi—eh, maksudnya globalisasi," Banten menjawab dengan ringan. "Bahasa gaul bukan cuma dipakai oleh manusia. Tentunya, kalau ngobrol dengan kerajaan yang lebih tua kami memakai bahasa yang sopan. Terikat tata krama."

Pertanyaannya, kenapa hanya saat berdua?

"Yaah," Banten melirik Inderapura yang sibuk dengan ponselnya. Lalu menggaruk-garuk pelipisnya karena bingung harus menjawab apa. "Karena kalau dengan kerajaan yang lain, kami tidak begitu dekat. Masih segan begitu, lah."

Bukan karena kalian berdua memiliki hubungan spesial—

"Astagfirullah, aku sama Indera?" Banten mengusap dada tak percaya. "Gak mungkin lah, lagian dia kan ada affair sama Aceh."

"Dan lagi pula, hatiku masih setia pada wanita di rumah ini," dia mengulum senyum tipis. "Yang sayangnya wanita itu tampaknya sudah melabuhkan hatinya pada seseorang."

Kalingga, ya?

"Memang perempuan di sini siapa lagi?"

Sabar ya. Ah, sebelum janur kuning belum melengkung, masih sah hukumnya untuk menikung.

"Iya, hahaha, masalahnya," pemuda itu mengulum senyum lebih lebar. "Melihat dia bahagia saja, rasanya aku sudah puas."

"Banten."

Banten melirik Inderapura yang barusan menyebut namanya.

"Apa?"

"Ngabuburit, yuk? Cari ta'jil, kalau beruntung—cari jodoh sekalian."

Banten memutar bola mata. "Traktir ya, wa."

"Uwa gak ada fulus," Inderapura melempar bantal sofa pada temannya, yang ditangkap dengan cekatan. "Dan btw, muka sedih gak cocok buatmu, Nten."

Dan untuk ke sekian kali, Banten mengulum senyum lagi.

[Kalingga]

Puasa. Harus menahan diri untuk tidak makan mulai sejak imsak sampai matahari terbenam.

Tapi sebenarnya bagi Kalingga hal yang sulit bukan masalah menahan lapar dan dahaga.

Yang sulit itu menahan luapan amarah yang hampir selalu melepaskan diri tiap kali ia beradu muka dengan Sriwijaya.

[Nyebut]

"Kalau abis saur jangan tidur, nanti diabetes."

"Gak bakal. Lu tau hal apa yang sebenernya bikin gua diabetes?"

"Apaan?"

"Senyum lu."

"... ASTAGFIRULLAH INDERA, NYEBUT! ACEEEEH INI SI INDERAPURA KENAPA YA ALLAH SEREM-"

[Bau Petasan]

Aroma petasan tercium di udara.

Inderapura memejamkan mata. "Ah, bau petasan"

Di sampingnya Aceh meniup asap rokok ke udara. "Ah, bau duit dibakar."

[Tarawih]

"Sekarang aja taraweh, nanti mah jadi tara weh."

"... Pajajaran, plis, kalau mau ngelawak pake bahasa yang universal dong. Jawa misalnya."

[Tobat]

Aceh dan Inderapura duduk di beranda rumah, sambil bermain catur untuk menunggu waktu buka. Ya, jika ada satu hal yang membuat mereka akur itu adalah catur.

Bukan rahasia lagi jika kerajaan di Sumatera kebanyakan suka bermain catur. Termasuk Inderapura, meski pada awalnya orang-orang tidak percaya.

"Mau tobat ah." Tiba-tiba Inderapura berkata. Aceh yang sebelumnya bertopang dagu mempertimbangkan langkah apa yang akan diambil olehnya untuk mengalahkan raja lawannya, begitu mendengar perkataan Inderapura langsung mengalihkan atensinya.

"Hmmm." Gumam Aceh.

Inderapura lalu memasang cengiran lima jari. "Bulan Puasa doang."

Detik berikutnya terdengar suara pukulan.

PLAK!

"Adaw!"

[Tobat Lagi]

"Mau tobat ah."

"Hooh."

"... taun depan."

"Keburu mati lu."

[Kebiri]

Sekedar informasi saja, hukum kebiri untuk kejahatan pemerkosaan sudah disahkan.

"Wha," Kediri menatap layar televisi dengan tertarik. "Kupikir tadi tulisannya Kediri, taunya kebiri."

[Kebiri]

Aceh menatap berita di televisi dengan wajah puas. Tentu saja. Pemerkosa memang lebih hina dari pembunuh. Apalagi jika pemerkosa itu merangkap pembunuh juga.

Makin hina saja!

"... telah dialiansir, hukum kebiri mendapat persetujuan dari menteri dan presiden. Namun KOMNAS HAM masih belum menunjukkan persetujuan..."

Bola mata diputar karena jengah. Tangan bergerak mengambil cangkir kopi dan membawanya untuk diseruput pelan.

"Hak Asasi Manusia...," ucapnya. "Kejahatannya melanggar HAM tapi pelakunya malah tidak dihukum karena HAM."

Decakan prihatin terdengar.

"Inilah kenapa aku pernah bersikeras memisahkan diri dari negeri ini."

Kopi kembali diseruput.

"Tapi sekarang aku sadar, dari pada memisahkan diri, lebih baik aku memperbaikinya."

Di atas tangga, Putra memperhatikan dengan senyum di wajahnya. Dalam hati berterima kasih karena Aceh tidak berniat mengkhianatinya.

[Papua]

Di ruang keluarga, dengan televisi menyala. Mereka berempat duduk sambil menunggu berita mengenai awal bulan puasa. Kerajaan lainnya tidak jelas ada di mana. Entah di ruangannya atau meliar entah ke mana.

Omong-omong, hilal belum terlihat ya.

"Kita yang di sini sih enak," Kutai berkata. Tarumanegara meliriknya. "Bisa langsung tahu berita tentang terlihatnya hilal, lain halnya dengan yang di Papua."

Mataram mengangguk setuju. Di sampingnya Demak melirik sejenak sebelum kembali fokus pada buku di pangkuan.

"Mereka mungkin harus menunggu sampai besok." Timpal Mataram.

Kemudian tiba-tiba Samudra Pasai lewat sambil berkata.

"Kalian seperti sedang-apa namanya, oh, ya," jeda sejenak. "Double date."

Lalu pria berumur itu hilang di belokan. Meninggalkan empat kepala yang berspekulasi dengan liar.

"... astagfirullah."

[Anak Gembala]

Dia bukan anak gembala yang selalu riang serta gembira. Tidak peduli serajin apa pun dia bekerja dan tak pernah lelah tralalala.

Lagi pula apa konotasinya? Maksudnya kalau dia rajin kerja maka dia akan selalu gembira? Atau apa?

Sriwijaya hanya kerajaan yang suka mengoleksi keris dan berbagai senjata lainnya. Pria itu punya fetish-tidak, bukan fetish, dia hanya lebih suka bergumul dengan benda-benda mati dari pada ada di antara manusia.

"Aku bukan anti sosial juga." Katanya tiba-tiba. Dia hanya memiliki karakter yang agak berbeda. Karakter yang akan dibenci mereka yang belum mengenalnya.

Ah, dia sebenarnya bukan pendendam kok. Hanya saja Majapahit dan Medang merupakan pengecualian.

"Sriwijaya."

Pria itu menoleh ke arah pintu, di mana Shingasari menyender dengan tangan terlipat di depan dada.

Sriwijaya mengembalikan atensinya pada literatur di hadapannya. Kemudian tanpa menoleh, dia bertanya.

"Apa?"

Shingasari tidak menjawab pertanyaan yang dialamatkan padanya. Dia justru melangkahkan kakinya menghampiri Sriwijaya. Netra cokelatnya menyapu pandang pada penjuru ruangan. Sesuai ekspektasi. Sriwijaya dan sikap cinta kebersihannya.

"Aku hanya mau melihatmu," kata Shingasari seringan bulu. Ia menarik kursi di seberang Sriwijaya dan duduk di atasnya. Tangannya menopang dagu, netranya ia paku pada pria dengan rambut panjang yang diikat rendah.

"Tidak biasanya," kata Sriwijaya tanpa mengalihkan pandangan dari serangkaian kalimat di depannya. "Ada masalah apa?"

Hening meraja. Shingasari menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Sriwijaya. Pria yang dijuluki negara kesatuan Indonesia pertama itu menghela napas dan menutup literaturnya.

Ia alihkan atensinya pada Shingasari. Sepenuhnya. Kacamata yang membingkai wajahnya ia tanggalkan.

"Baik, aku salah berkata. Lakukan apa yang kau mau di sini-ah," sebuah gagasan yang ia anggap cemerlang menghampiri pemikirannya. Sriwijaya menatap Shingasari yang balas memandangnya tepat di mata. "Bagaimana kalau kita saling adu senjata saja?"

Seulas senyum terbit di wajah Shingasari.

Jika ada satu orang di dunia yang menerima dan memahami dirinya luar dalam, itu adalah Sriwijaya.

"Aku tak akan menolak."

[Rohingya]

"Apa kabar pengungsi Rohingya?"

Inderapura melirik Aceh karena pria itu tak kunjung menjawab.

"Mereka sedang berpuasa," jawabnya kalem. Tanpa mengalihkan atensi dari koran di tangan. "Insya Allah, mereka baik-baik saja."

"Alhamdulillah," kata Inderapura. "Samudera Pasai mana?"

"Ngasih makan ikan koi di belakang."

[LDR]

"Tarumanegara, tahu LDR itu singkatan dari apa?"

"Long Distance Relationship?"

"Bukan. Lontong Dan Rendang."

Tangan bergerak menyentuh dahi orang yang tadi mengajukan pertanyaan.

"... Kutai, kamu masih kuat puasa, kan?"

[Godaan Lain]

"Paha ayam lebih bikin lupa diri dari pada paha orang."

Shingasari menggeleng, tidak setuju dengan perkataan Inderapura barusan.

"Pengecualian untuk yang menyukai keduanya. Sama-sama terlihat menggiurkan."

"Hooh, maksudmu yang suka makan dan suka berpikir mesum?"

Kepala digelengkan. "Bukan. Maksudku kanibal."

Dan Inderapura kehilangan suaranya untuk sementara karena masih belum terbiasa bercakap-cakap bersama salah satu mantan kerajaan yang pernah berada di bawah Sriwijaya.

[Time Change]

Orang yang kau diamkan saat ini, boleh jadi pernah menjadi pusat alam semestamu.

"Jangan bahas yang galau-galau lah," Cirebon mengalihkan netranya dari kamera. Tapi dia tak bisa kabur dari kejaran paparazi yang mendadak mengejarnya.

Sebut saja, Banten dan Inderapura.

"Bukan cuma kamu doang kok Cirebon," Banten mencoba menguatkan Cirebon yang terus menghela napas sejak melihat dirinya dan Inderapura menghampirinya sambil membawa kamera dan botol mineral yang difungsikan sebagai microphone.

Jangan menghiraukan segala kedisfungsionalan yang terjadi di sini.

"Kami juga bakal mengejar yang lainnya," Inderapura memberi penjelasan, tanpa berhenti menyorot wajah Cirebon dengan handycam di tangannya. Punya Putra. Dia sudah izin kok. "Kamu jadi yang pertama dong, ayolah."

Cirebon mengusap wajahnya dan minta dikuatkan hatinya untuk menghadapi dua jejadian yang hobi mengacaukan seisi rumah. "Ya sudahlah, cepat mulai."

Banten mengacungkan jempol dan mulai mewawancara pria dengan visual tiga puluhan di depannya.

"Bisa minta klarifikasi affairmu dengan Demak?"

Lalu bunyi jangkrik meraja.

"Memang Cirebon dan Demak punya hubungan apa?"

Pertanyaan tiba-tiba dari orang yang tidak terduga sebelumnya membuat tiga orang pertama menahan napas karena kaget. Kemudian tiga pasang mata bergulir menatap tangga, di mana Mataram berdiri dengan wajah penuh tanya.

Juga, entah disadari oleh orangnya atau tidak, menguarkan aura murka yang tidak biasa.

Oh, tidak.

.

.

.

.

"POKOKNYA INI SALAHMU TEN, SALAHMU!"

"LAH KOK AKU—"

"KALAU MATARAM SAMPE JADI YANDERE DAN NGEJAR CIREBON BUAT DITANYAIN MACAM-MACAM SAMBIL DIANCEM PAKE CELURIT AKU GAMAU TANGGUNG JAWAB, SALAHMU, INI SEMUA SALAHMU."

"KOK AKU SIH LHAA—"

.

.

.

"Um," Cirebon mengusap tengkuknya. Sebentar-sebentar ia melirik Mataram yang masih berdiri di tempat yang sama. Anak tangga.

"Tidak apa-apa," kata Mataram tiba-tiba. "Aku tahu kau punya perasaan pada Kalingga, bukan Demak." Lanjutnya kalem.

Kemudian dengan suara sedingin es dia kembali bersuara. "Kan?"

Meski dengan senyum biasa di wajahnya, entah kenapa Cirebon tidak merasakan aura kasih sayang yang menguar dari Mataram seperti biasa.

"I-iya."

[Bukan Rahasia]

Bukan rahasia lagi jika Kediri tidak begitu suka Shingasari. Jika dimintai alasannya, kerajaan yang selalu bersama Inderapura itu akan menjabarkannya satu persatu sampai mulutnya berbusa.

Nggak deng.

Wajahnya hanya akan mengerut tidak suka saat mendengar nama Shingasari, hampir sama seperti Sriwijaya saat melihat atau mendengar nama Mataram.

Jenggala mengusap dagunya. "Seingatku sih karena dulu Shingasari suka meniru Kediri," katanya menjawab pertanyaan Banten.

Jangan bertanya kenapa mereka berdua bisa bicara seperti ini.

Banten mengangguk-angguk paham. Sampai kemudian netranya menangkap keberadaan Kediri yang memperhatikan Shingasari dan Inderapura yang sedang membicarakan sesuatu di halaman rumah.

Rasanya... Kediri punya alasan lain dan Banten tahu itu.

"Jenggala, kupikir Kediri tidak suka Shingasari karena itu," katanya sambil menunjuk bagaimana raut wajah Kediri saat ini.

Jenggala mengikuti arah yang ditunjukkan Banten, kemudian senyum setan merekah di wajahnya.

"Ohohohoho, adikku sudah besar~"

[Jatuh Cinta]

Jatuh cinta, oh berjuta rasanya. Manis, asam, asin, ramai rasanya. Pahit dan kesat, seperti obat dan getah pohon.

Bicara soal jatuh cinta, topik menarik yang tidak pernah membosankan untuk dibahas. Karena hal itu bisa membongkar aib orang dan membuatnya malu.

Yah, jahat memang. Tapi siapa yang peduli juga, haha. Yang penting ada bahan untuk cerita.

Akui saja, kalian menyetujuinya.

"Ah, aku jatuh cinta."

Panca melirik Putra yang menatap layar televisi dengan wajah mendamba.

Acara memasak menempati urutan pertama sebagai hal yang dibenci Panca, setelah Malaysia dan India.

[Tak Pernah Dewasa]

Beberapa minggu yang lalu adalah saat-saat paling krusial dalam hidup Putra.

Maksudnya saat dia tiba-tiba disekap dari belakang, dibuat pingsan, dibawa ke tempat antah barantah, ditanyai macam-macam, dan berujung pada rutukannya tentang mengapa orang-orang di luar sana masih saja kebingungan untuk membedakan dirinya dengan saudara—yang sebenarnya malas ia akui—merangkap tetangganya.

Razak namanya.

Jadi singkatnya beberapa hari yang lalu Putra diculik dan dimintai tebusan untuk membebaskannya. Anehnya, telepon mengenai permintaan tebusan itu bukan pada Panca atau Kalingga.

Tapi pada pemimpin di Malaysia. Razak yang menerima teleponnya. Dan bisa dibayangkan betapa paniknya ia saat tahu abang—yang tak akan pernah ia akui—tersayangnya diculik dan disandera. Dia khawatir kalau Putra akan dilecehkan.

Sebenarnya Putra masih bertanya-tanya kenapa semua orang khawatir akan dirinya yang menjadi objek pelecehan. Apakah Putra terlihat semenggairahkan itu? Tidak juga.

Tapi bagi orang lain, iya.

Kemudian setelah mendapatkan kesadarannya yang sempat menguap, Razak secepat kilat menghubungi Kalingga dan menanyakan kabar Putra. Ia mencoba memastikan bahwa telepon yang ia terima sebelumnya hanya iseng semata.

Tapi ternyata bukan.

"Kemarin itu? Ah, tenang saja. Mereka memberiku makan dan minum, aku juga tidak diintimidasi terus," kata Putra menjelaskan. Kalingga masih memasang wajah khawatir seolah takut anak gadisnya hamil diluar nikah—yang sejujurnya sangat lucu, dan hampir memecahkan tawa Sriwijaya kalau saja dia tidak bisa menguasai dirinya. "Dan tidak, tidak ada yang melecehkanku. Kalau itu yang kau khawatirkan."

Sriwijaya memutar bola matanya, merasa delusi Kalingga terlalu jauh. Kemudian ia beranjak dari ambang pintu ruangan itu dan pergi tanpa suara.

"Aku ini bukan perempuan, ya ampun," Putra tersenyum masam. Gondok akan tingkah Kalingga namun tak sampai hati untuk melukai perasaan wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu tersebut. "Mereka orang baik-baik. Salah satunya mengaku kenal dengan Panca."

Mendengar namanya disebut, Panca tidak bisa menahan lirikan untuk pemuda yang barusan berbicara. Laki-laki berkacamata itu duduk di meja kerja yang terletak di kamar mereka. Ya. Sebenarnya tadi dirinya dan Putra sedang mesra-mesranya.

Sampai kemudian Kalingga datang dan menghancurkan semuanya.

"Aku tetap khawatir," Kalingga menyugar rambut yang menghalangi pandangannya. "Ini pernah terjadi saat kau masih kecil, dan aku waktu itu masih belum dewasa."

"Dan kami terlambat menyelamatkanmu," perempuan itu menahan tangisnya sekuat tenaga, dia adalah perempuan yang tegar dan tak mudah membuang air mata untuk hal yang ia anggap sia-sia. Namun Putra adalah pengecualian. "Ketika Sriwijaya menemukanmu setelah berminggu-minggu kami mencari—dan itu terasa seperti neraka tanpa ujung—keadaanmu sangat mengkhawatirkan."

Putra tersenyum mencoba menenangkan. "Aku sudah besar, meski belum dan tak akan pernah cukup dewasa untukmu dan yang lainnya, aku bisa menjaga diri. Setidaknya, kau tahu aku punya 'mereka' yang selalu memasang badan untukku. 'kan?"

Kalingga memicingkan matanya, mencoba menghentikan dirinya yang hampir kelepasan menangis. "Ya, ya," dia mengusap ubun-ubun Putra dengan sayang. Lalu menarik kepala anak itu dan mengecup dahinya. "Kau akan selalu menjadi anak kami, tak peduli seperti apa pun dirimu."

Putra tersenyum manis. Dan Kalingga merasa melihat Putra ketika usianya belum mencapai lima.

"Aku tahu."

"Nah, sekarang kau tidur, jangan begadang," Kalingga menarik selimut dan menyelimuti Putra sampai dada. "Selamat malam."

"Selamat malam, Ibu."

Kalingga mengulum senyum mendengar Putra memanggilnya seperti dulu. Wanita itu memberi anaknya satu kecupan lagi dan beranjak dari sana.

Satu detik sebelum pintu kamar ia tutup, Kalingga menyempatkan diri untuk melempar delikan penuh ancaman pada Panca.

Ya, ultimatum seorang ibu untuk melindungi anaknya tidak bisa diremehkan.

Panca mengusap pelipisnya dan menghela napas. Antara kesal, muak, dan ingin tertawa bercampur jadi satu.

[Duduk]

"Duduk bisa bikin puasa kita batal?" Inderapura mengulang perkataan Samudera Pasai dengan nada tak percaya, seolah pria berumur itu baru saja mengatakan jika Aceh menyatakan cintanya pada Jenggala—tidak nyambung dan tidak mungkin sama sekali. "Gak ada kaedahnya sama sekali."

Samudera Pasai tidak cepat-cepat menyela, jika Aceh maka akan lain cerita. Pria bersorban itu pasti akan langsung melayangkan kopeah saktinya ke kepala Inderapura. Tapi ini Samudera Pasai, pria paling nyante se-Indonesia.

"Duduk bisa membatalkan puasamu," kata Samudera Pasai lamat-lamat. "Kalau kau duduk sambil iseng memasukkan nasi padang ke mulutmu."

Inderapura kicep.

Sekarang ia tahu dari mana sifat ngelesnya berasal.

"Aku boleh ketawa, Samudera Pasai?"

"Ketawa juga bikin puasamu batal nak—"

"AKU GAK DENGER APA-APA. AKU GAK DENGER APA-APA YA ALLAH."

[Lempar Koin]

Kali ini kening Banten berkerut karena otaknya tidak bisa mencerna perkataan Inderapura yang mendadak bicara.

"Lempar koin bisa bikin batal puasa?" Banten membeo. "Hah, ini pasti sejenis kentut di kolam renang."

Inderapura menggeleng dengan wajah serius, yang mau tak mau membuat Banten deg-degan tidak jelas.

"Lempar koin bisa bikin puasamu batal, kalau kamu lempar koinnya ke dada perempuan dan minta maaf sambil ngusap dada perempuan itu."

Sekarang Banten yang kicep.

"ACEH, INDERAPURA MESUM ACEH HAJAR DIAAA!"

"E-EH ANJIR—"

[Hargai]

"Kita coba pasang banner yang antimainstream, jangan yang menye kayak di selebaran di jalan!" kata Kediri membuka diskusi.

Jenggala menatapnya skeptis, dia memang paling suka menghancurkan semangat adiknya yang terkadang menggebu-gebu seperti kuda di pacuan.

"Bagaimana kalau 'Hargai mereka yang tidak berpuasa. Dilarang alay.'?"

Sejujurnya, kalimat Jenggala—meski tidak sesadis Shingasari—tetap saja meninggalkan luka.

"Y-ya, aku setuju."


"Aku kangen tuak...,"

Percaya atau tidak, kalimat barusan diucapkan oleh Kalingga—yang sedang bermuram durja di dekat jendela sambil memandangi langit bertaburan bintang—dengan sangat pelan dan penuh kehati-hatian.

Tapi tetap saja, telinga seseorang menangkapnya.

Sriwijaya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Penuh cinta,

Bosondeicus.