"Pagi-pagi buta gini, kau mau kemana?"
Pemuda berambut pirang yang tengah memakai jaket hitam dibalik kimono abu-nya menoleh–menatap wanita berkimono biru tua yang tengah duduk di tepi ranjang. "Berburu."
"Oh." Wanita berambut ungu pucat tersebut mengangguk-anggukan kepalanya. "Naruto, kalau begitu aku ikut!"
Pemuda bermata biru yang dipanggil Naruto tersebut sejenak melirik wanita berambut ungu yang tengah menatapnya penuh antusias. "Jangan Konan, kau kan masih terluka."
Mendengar larangan datar dari Naruto, Konan merengut–mengerucutkan bibirnya. "Kakiku sudah sembuh kok."
Naruto menghela napas panjang seraya mengambil senjata berburunya yang menggantung di dinding gua. Senjata tersebut adalah sebuah Horton Scout alias panah khusus dengan bentuk seperti pistol.
"Terserahlah."
Dalam Keterasinganku
Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: Semi-Canon, OC, OOC, Typo(s), Dll.
Chapter 2: Dua Sisi
Konan mengikuti Naruto keluar dari gua dan menelusuri hutan. Mereka hanya berjalan beriringan, tanpa kata atau perbincangan basa-basi. Hanya derik serangga dan binatang lainnya yang melatari perjalanan berburu mereka. Matahari semakin meninggi, mengikis keberadaan sang embun tipis yang melapisi dedaunan dan rumput.
"Tsk!" Naruto berdecak pelan seraya menghentikan langkahnya di pinggir sungai, lebih tepatnya dekat air terjun.
Konan ikut menghentikan langkahnya seraya menatap Naruto penuh tanya. "Kenapa Naru?"
"Kita udah menelusuri hampir seluruh hutan..," Naruto menatap Konan sambil menukikkan alisnya. Tatapannya memancarkan rasa heran dan kecewa. "...tapi tak ada satu pun binatang buruan yang kita temukan."
Konan mengangguk setuju. "Kau benar, dari tadi kita keliling hutan tapi tak menemukan satupun kelinci apalagi rusa—KYAAA!"
Konan menghentikan ucapannya dengan teriakan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia melihat Naruto membuka baju dan kimono-nya.
"Apa-apaan teriakanmu itu?"
Konan mengintip diantara sela-sela jarinya, ia melihat Naruto hanya memakai celana boxer. "A-Apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja berburu. Daerah ini merupakan lokasi terbaik berkumpulnya ikan tuna jumbo." Naruto meraih tangan kaku Konan seraya memberikan pakaian dan panahnya. "Nitip ya!"
BYUUR!
Naruto pun melompat ke sungai.
'Kirain...' Konan menghela napas panjang sambil mengelus dadanya yang masih bergemuruh.
Sraaach!
Syuuuung~
Pluk! Pluk! Pluk! Plukk!
Ikan tuna dengan panjang 30cm beterbangan—terlempar dari dasar sungai ke sekitar kaki Konan. "UWAAAH!"
Naruto muncul kepermukaan seraya menggelengkan kepalanya dengan cepat sehingga memercikan hujan lokal dari rambutnya, ia menepi–menghampiri Konan yang tengah memasukan ikan-ikan kedalam keranjang kertas yang dibuatnya. "Kau... keranjang itu."
"Aku yang membuatnya. Eheheheheh." Konan menyeringai penuh arti. "Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Aku ini ninja yang dapat memanipulasi kertas."
'Emangnya dia pernah mengatakannya? Ah sudahlah...' Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya mengambil pakaiannya yang tergantung rapi di ranting pohon. Dia kembali memakai pakaiannya. "Apa keranjang itu kuat? Kertas kan rapuh."
"Kertasku bisa menghancurkan batu besar, apalagi buat menyangga ikan."
Naruto mendesah pelan mendengar ucapan Konan yang terdengar sombong. "Oh, bagus deh!"
Konan tersenyum kecil seraya mengangkat keranjang yang penuh dengan ikan tersebut.
Tap.
"Eh?"
Konan menengadah, menatap heran Naruto yang menyentuh tangannya. Naruto tersenyum lembut, membuat Konan sedikit merona.
"Biar aku aja."
"O-Oke." Konan melepas tangannya, membiarkan keranjang ikan tersebut diangkut Naruto.
"Ayo!" Naruto berjalan, meninggalkan Konan yang terlihat linglung.
"Kemana?"
Naruto menoleh sejenak. "Ke desa dibawah gunung, kita jual ikannya."
"Ah! Tunggu!" Konan mengejar Naruto yang melanjutkan langkahnya.
-rischa7x-
Desa Mogura, merupakan sebuah desa kecil yang berada dibawah pegunungan batas negara api. Walaupun berada dipinggiran, akan tetapi desa tersebut merupakan desa yang sangat ramai karena menjadi pusat perdagangan para pemburu dan petani.
Di sebuah kedai kecil, tepat dipinggir jalanan desa tersebut, terlihat Naruto dan Konan tengah duduk di meja panjang depan kedai sambil menikmati semangkuk ramen.
Sluuurp!
"Enaaaak!"
"Benar! Enak banget! Apa karena aku juga sudah lama tak menikmati ramen?" Naruto tersenyum simpul melihat Konan yang begitu menikmati ramen-nya. "Habis makan, bagaimana kalau kita membeli pakaian?"
Konan mengalihkan perhatiannya pada Naruto. "Eh?"
Naruto menunjuk kimono yang dipakai Konan. "Pakaian yang kau pakai sudah sangat usang."
"Tak apa, ini kan pakaian pemberianmu!" tolak Konan halus.
"Setidaknya aku ingin kau memakai pakaian yang pantas."
Konan menggeleng seraya menggamit lengan jaket Naruto. "Tapi, uang penjualan ikan tadi tak akan cukup—"
"Tenang aja..," Naruto memotong ucapan Konan. "Aku membawa uang simpananku. Mungkin bisa beli dua sampai tiga kimono."
"Ya..," Konan sedikit merona. "Makasih deh kalo gitu."
"Oh!" Naruto melirik mangkuk Konan yang sudah kosong seraya tersenyum. "Ternyata kau sudah menghabiskannya, mau berangkat sekarang?"
"Eh?" Konan menatap mangkuk Naruto yang belum habis–setengahnya. "Ramenmu masih banyak, kau habiskan saja dulu."
Naruto mengusap perutnya seraya menatap Konan dihiasi senyuman kaku. "Aku udah kenyang."
"Tapi–"
"Ayo!" Naruto menggandeng tangan Konan. "Kita ke toko samping kedai aja, kulihat pakaian disana bagus-bagus."
Konan menghela napas panjang. "Tak heran kau begitu kurus. Kau itu laki-laki, kenapa makanmu tak sampai setengah mangkuk?"
"Entahlah, aku selalu mual karena kekenyangan dan ingin memuntahkannya kembali, mungkin karena ususku pendek." Naruto tertawa kaku.
"Ufufu." Konan terseyum geli.
-rischa7x-
Konan berdiri didepan dinding kaca yang besar, ia memakai kimono ungu dengan motif bunga-bunga putih yang kecil.
"Wah cocok banget sama kamu." Naruto mengacungkan jempolnya.
Konan tersenyum kaku. "Ah tapi ini..."
"Jangan khawatir, aku punya uang." Naruto menghampiri Konan seraya menempelkan jepit rambut berwarna ungu yang matching dengan kimononya. "Lagipula, aku jarang memakai uangku."
Konan tersenyum lebar dihiasi rona dipipinya. "Makasih Naruto."
-rischa7x-
Naruto membuka matanya, yang pertama ia lihat adalah kolong ranjang yang berisi dus-dus tempat menyimpan baju-bajunya. Dia meregangkan badannya seraya duduk dan melirik Konan yang tertidur pulas di atas ranjang, ia tersenyum kecil kemudian melipat selimut tipis yang tadi menutupinya dan melipat tikar yang membatasi dirinya dengan lantai tanah. Naruto berjalan keluar gua, merasakan udara pagi yang masih gelap nan dingin. Dia duduk di bawah pohon besar yang lembab.
Pikiran Naruto sedang tak nyaman, sudah dua minggu lebih ia membiarkan Konan tinggal bersamanya. Naruto merasa Konan sangat suka tinggal bersamanya, ia pun merasa begitu. Tapi ada suatu hal yang begitu mengganjal pikirannya, yaitu rasa laparnya. Lapar isi perut manusia. Walau tak menentu, namun pasti, setiap sebulan sekali kesadaran Naruto akan hilang dan diambil alih oleh instingnya untuk memangsa manusia. Naruto memang menyukai nasi, ramen dan makanan manusia lainnya. Akan tetapi, rasa haus darah dan daging dari darah iblisnya cukup besar walau Naruto mencoba untuk terus menahannya.
'Gawat! Aku tak bisa menahannya lebih lama lagi.' Naruto memejamkan matanya, merasakan udara dingin yang meresap kedalam setiap inci dari bagian tubuhnya. 'Mau tak mau, aku harus menyuruhnya kembali ke tempatnya berasal.'
"NARUTO!"
Naruto menoleh ke sumber suara, ia melihat Konan tengah melambaikan tangan, mengisyaratkan agar menghampirinya. Naruto mengangguk seraya melakukan apa yang diisyaratkan.
"Sarapan sudah siap."
Naruto tersenyum kaku. "Makasih."
Konan tersenyum seraya menggandeng tangan Naruto dan membawanya masuk kedalam.
Seperti yang dikatakan Konan, rebusan tahu dan jamur sudah matang dengan mangkuk dan sumpit yang tergeletak rapi dan siap untuk dipakai. Mereka berdua duduk berdampingan dan mulai menikmati hidangan.
"Itadakimasu." ucap mereka berdua bersamaan.
Naruto menghela napas panjang seraya melirik Konan yang tengah duduk sambil makan dengan lahap. "Konan."
Konan menghentikan aktivitasnya mendengar ucapan Naruto yang pelan. "Ya?"
"Asal mu darimana apakah tidak ada orang yang mencarimu?" tanya Naruto seraya menatapnya serius.
"Kenapa kau tanya begitu?" Konan balik bertanya.
"Kau tahu, sudah cukup lama kau tinggal disini." Naruto menggaruk pelipisnya yang tak gatal. "Aku hanya takut kalau keluarga atau temanmu khawatir. Mereka pasti tengah mencarimu."
Konan kembali melahap sarapannya. "Tenang saja, orang tuaku sudah lama meninggal dan teman-temanku tak mungkin mencariku."
"Jangan berpikir begitu, teman-temanmu pasti sangat khawatir. Setidaknya temui dulu mereka." Naruto tersenyum kaku.
"Apa kau mulai merasa terganggu karena aku tinggal disini?" tanya Konan, terdengar sedikit sinis.
Naruto kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal. Konan sedikit kesal melihat tingkahnya yang tidak seperti biasanya. "Begini Konan..."
Konan tersenyum pahit. "Kau ingin aku meninggalkan tempat ini?"
"Bukan nya begitu..." Naruto menggeleng pelan. "Aku hanya merasa kalau kita tidak boleh terlalu lama bersama."
"Kenapa?"
Naruto semakin bingung bagaimana menjelaskannya melihat Konan yang emosi. "Eto.."
Konan meletakkan mangkuk dan sumpitnya. "Kau mulai membenciku? Karena aku selalu menyusahkanmu?"
"Bu-Bukan..." Naruto menggeleng cepat.
"Terus APA?" tanya konan sedikit membentak dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Dia tidak suka melihat Naruto yang kaku dan terlihat menyembunyikan sesuatu. "Katakan saja kau membenciku karena aku mengganggu kan?!"
Naruto mendengus kasar. "YA! Aku memang merasa terganggu ada kau di sini!"
"Dasar bodoh!" Dada Konan terasa sakit, matanya terasa panas mendengar bentakan Naruto. Dia mulai terisak dan menangis tersedu-sedu. "Kenapa kau tidak menyangkalnya..."
"Konan, jangan menangis..," Naruto mengelap air mata yang mengalir di pipi Konan. "Kenapa kau begitu menyukai tempat ini? Tempat yang tak layak dihuni manusia..."
Konan menggenggam tangan Naruto seraya menatapnya tajam dan penuh ketulusan. "Aku suka tinggal di sini karena aku mencintaimu! Apa salah kalau ingin tinggal dengan orang yang kucintai?!"
Naruto sangat terkejut mendengarnya, dadanya terasa penuh oleh sesuatu hingga begitu sesak. "Kenapa? Kenapa kau menyukaiku?"
Brukk!
Konan menerjang Naruto. Memeluknya. "Kau kesakitan kan?"
"Eh?" Naruto tak mengerti dengan apa yang Konan katakan.
"Sejak aku melihatmu, matamu... selalu terlihat sedih, menderita dan kesepian..," Konan mengeratkan pelukannya. "Makanya... makanya aku ingin kau bahagia dan terlihat senang."
Naruto semakin terkejut mendengarnya, ia merasa ingin menangis. Dia membalas pelukan Konan. 'Makasih, kau mengajariku bahwa iblis sepertiku juga punya perasaan sedih dan menangis. Tapi dengan keadaanku, sepertinya aku tak pantas bahagia.'
"Kumohon, biarkan aku tetap bersamamu Naruto."
"Maaf Konan, kita tak bisa bersama." Naruto melepas pelukan Konan, menatap Mata konan yang berkaca-kaca. "Seharusnya kau hidup dengan layak. Baju yang layak, tempat tinggal yang layak, dan orang yang layak."
Konan berdiri seraya membuka kimono ungu motif bunga yang dipakainya, ia telanjang bulat hanya menyisakan celana dalam putihnya saja. Naruto menengadah menatap Konan heran, ia jengah dengan apa yang dilakukan wanita disampingnya.
"Konan..."
"Tak butuh..." Konan menatap Naruto tajam. "Aku tak butuh ini..," Suara Konan mulai tersendat, ia menahan tangisannya. "Baju yang bagus? Tempat yang bagus? Aku tak perlu! Aku hanya ingin bersamamu. Biarkan aku terus bersamamu Naruto!"
Naruto menunduk mendengar permohonan Konan. "Maaf Konan, aku tak punya arah dan tujuan untuk hidup. Dunia kita sangat berbeda. Aku senang bertemu denganmu dan aku takkan mungkin melupakanmu."
"Naruto! Aku—"
"Temukan kebahagiaanmu, Konan." Naruto memungut kimono yang tergeletak didekat kaki Konan, ia berdiri seraya menutupi tubuh Konan dengan kimono tersebut.
Cup.
Naruto mengecup bibir Konan. "Kumohon pergilah."
Bluuush!
Pipi Konan merona merah. Antara senang akan ciuman dan sedih akan usiran Naruto. "Tau ah!"
Konan mengelap air matanya seraya berlari dari gua tersebut, meninggalkan Naruto yang berdiri terpaku menatap punggungnya yang semakin menjauh.
-rischa7x-
Konan berlari secepat kilat, ia menggunakan chakra-nya sehingga dalam sekejap sudah berada di perbatasan hutan. Dia menghentikan langkahnya di sebuah ranting pohon beringin besar yang berada di pinggiran desa dan cukup jauh dari gunung tempat Naruto tinggal, ia duduk sambil memeluk lututnya.
"Naruto..."
Senyuman Naruto terbayang-bayang dalam ingatannya. 'Hanya dengan bersamamu... kau tersenyum, aku bahagia.'
"Naruto..."
Konan mengingat saat dirinya berjalan disamping Naruto. 'Bersamamu, berjalan bersama, aku sangat senang.'
Tes.
Air mata yang Konan tahan, mengalir deras melewati pipinya, ia menangis dalam diam. Dia menengadah, menatap langit kelabu yang melatari tatapan sendunya. "Bersamamu, hari-hari bagai mimpi. Terima kasih."
Sriiing~!
Cincin batu putih di tangan kanan–lebih tepatnya jari tengah Konan bersinar. Konan menghela napas panjang seraya menutup matanya.
-rischa7x-
Di sebuah ruangan gelap nan lembab, terlihat pria kurus berjubah hitam dengan motif awan merah tengah duduk disofa sambil menatap layar televisi.
"Uhuk! Uhuk!"
Suara batuk pria tersebut begitu menggema.
Sriing~!
"Ada apa Nagato?"
Konan dalam wujud hologram berdiri didepan pria kurus tersebut.
Pria yang dipanggil Nagato tersebut menengadah, menatap Konan dihiasi senyuman lega. "Kudengar kau terluka parah dan terjatuh ke sungai, tampaknya kau baik-baik saja."
Konan mengangguk. "Aku baik-baik saja."
"Syukurlah, apa kau keberatan juka kuberi misi?" tanya Nagato ragu.
"Tak masalah."
Nagato tersenyum samar. "Temui klien di desa mogura, dia ingin kita membunuh seseorang untuk membalas dendam."
"Desa Mogura?"
"Ya. Kenapa?" tanya Nagato, heran.
"Tidak." Konan menggeleng. "Hanya kebetulan saja saat ini aku tak jauh dari desa itu."
"Baguslah, kalau begitu kau bisa menyelesaikannya dengan cepat." Nagato kembali tersenyum samar.
"Ada yang lucu?"
"Tidak, targetmu ada di buku bingo alias daftar buronan." Nagato menujuk poster yang tergeletak di sofa, tepat disampingnya. Poster tersebut menampilkan wanita elegan yang tengah tersenyum manis. "Jadi, selain mendapat bayaran dari klien, kita juga bisa menjual kepalanya. Kakuzu pasti akan senang."
"Kenapa wanita elegan begitu bisa ada di buku bingo?" tanya Konan, heran.
Nagato mendengus sambil tersenyum. "Kudengar dia sangat cerdik dalam memanipulasi dan mengkorupsi uang. Ada desa yang hancur karenanya, makanya dia dimasukan kedalam list."
"Oh gitu! Kalau begitu sekarang aku akan langsung menemui klien." ucap Konan seraya mengangguk mantap.
"Bagus!" Nagato mengacungkan selembar kertas yang bergambar sebuah denah. "Datang ke cafe itu setengah jam dari sekarang."
"Aku mengerti."
Konan pun menghilang dari hadapan Nagato.
-rischa7x-
Di sebuah cafe remang-remang, terlihat Konan tengah duduk di meja pojok bersama wanita paruh baya berkimono putih yang sudah menguning. Wanita tersebut terlihat lebih tua dari umurnya, wajahnya yang pucat pasi menggambarkan bahwa ia sedih dan menderita.
"Tolong bunuh orang ini." Wanita tersebut menyodorkan sebuah foto yang menampilkan foto wanita paruh baya tengah duduk dikursi dengan background jendela yang menampilkan pemandangan desa. "Namanya Aarude Mikami, ia adalah seorang rentenir di desa sebelah, desa Kinteji. Dia meminjamkan uang dengan syarat harus mengembalikannya dalam jangka sebulan. Saat itu aku sangat perlu uang untuk pengobatan suamiku. Tapi..,"
Hiks!
Wanita tersebut terisak, ia mencoba menceritakan apa yang terjadi padanya. "...dia membawa uang bayaran yang dijanjikan sekaligus menyita semua barang berharga dirumah. Suamiku tak menyetujuinya dan dia ditembak mati oleh salah satu bodyguard-nya... tolong..," Wanita tersebut mengeluarkan sekantong uang dari balik kimono-nya seraya memberikannya pada Konan. "Tolong balaskan kebencianku..."
"Aku mengerti." Konan mengangguk seraya membawa uang tersebut dan pergi.
-rischa7x-
Desa Kintenji, merupakan desa besar yang sebagian besar dihuni oleh orang-orang kaya. Dengan santai, Konan menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah rumah tradisional yang besar dan megah. Dia memisahkan dirinya menjadi ratusan lembar kertas berbentuk kupu-kupu dan memasuki rumah tersebut.
Di lantai tiga, di salah satu ruangan kamar, terlihat wanita paruh baya cantik berkimono merah tengah duduk disinggasananya. Dia mengelus rambut hitamnya yang disanggul seraya menyeringai sambil menatap wajah-wajah muram yang berlalu lalang di jalanan desa tersebut. "Heh!" Dia meneguk segelas wine yang dipegangnya. "Wine yang dibeli dari uang rampasan memang enak."
Plap! Plap! Plap!
Kertas-kertas kecil beterbangan mengelilingi tubuh wanita tersebut.
Prang~!
Ia menjatuhkan gelasnya. Pecah.
"A-Apa yang ter—"
Ucapannya tak ia lanjutkan, seluruh tubuhnya kaku karena tertutupi kertas. Bagai mumi dan perbannya.
"Halo Aarude-san." Konan tersenyum psycho.
"Mmph!"
Sraak! Sraak!
Konan membuka kertas yang menutupi matanya. Wanita tersebut memelototi Konan, tatapan penuh amarah campur takut.
"Apakah seenak itu?" tanya Konan dihiasi senyumannya.
"Mmmph!"
Aarude hanya bisa meronta, berharap dapat lepas dari kertas-kertas yang menutupi seluruh tubuhnya. Konan mengambil botol wine yang tergeletak di meja kecil samping kursi Aarude.
Gluk!
"Blah!"
Konan menegak minuman keras tersebut seraya menjulurkan lidahnya.
"Nggak enak!" Konan menghela napas panjang seraya menatap wanita tersebut sedih. "Kau tahu, aku sedang patah hati. Kenapa kau menipuku?"
Prang!
Konan melempar botol tersebut seraya mengeluarkan pisau kecil dari balik kimono-nya. "Rasanya benar-benar nggak enak tau!"
Plap! Plap!
Kertas yang menutupi perut wanita tersebut melepaskan dirinya.
Breeeek!
Konan berjongkok seraya merobek baju yang menutupi perut wanita tersebut, ia tersenyum kecil sambil menatap perut mulus tersebut. "Sepertinya kau benar-benar hidup bahagia dengan uang kotormu."
Jleb!
Konan mulai menusukan pisau kecilnya, mengukir sesuatu disana.
-rischa7x-
"Maafkan aku Konan."
Naruto menunduk sambil berjalan menuju pohon yang tadi pagi ia sandari sebelum Konan pergi. Langit jingga mulai menggelap, angin dingin kelam berhembus menghapus sisa cahaya matahari.
Nguuung~!
"Ugh!"
Naruto menutup telinganya yang berdengung hebat, ia mencoba menahan rasa laparnya.
Brukk!
Dia pingsan.
"Ah... lapar." Naruto membuka matanya, iris birunya berubah menjadi merah keemasan. Dia bangun seraya berjalan pelan menyusuri hutan. "Pengen makan jeroan, aku ingin membelah perut manusia dan memakan usus mereka yang penuh darah..." Air liur mulai menetes dari sudut bibirnya, ia mengelapnya dengan tangan yang sudah berubah menjadi cakar layaknya kaki burung pemangsa. "Semuanya akan kulahap tanpa tersisa."
"Kau serius ingin jalan kesini?"
Naruto menghentikan langkahnya, ia memutuskan untuk menghampiri dua pemuda yang tak jauh darinya. Dia melihat pemuda terssebut tengah berjalan sambil berbincang pelan, salah satu dari mereka tampak ketakutan.
Krekk!
"Siapa?" seru kedua orang itu bersamaan. Mereka terkejut mendengar ranting patah.
"Pasti cuma binat—UWAAAAA~!"
Mereka berteriak melihat mahluk aneh yang sudah berdiri didepannya—
BRUUK!
—dan menerjangnya.
-rischa7x-
Walau malam sudah tiba, desa Kintenji masih ramai. Para warga desa berbondong-bondong menuju tengah alun-alun.
"Pemandangan yang menakjubkan."
Konan menoleh, menatap dua pria berjubah hitam dengan motif awan merah yang tengah menghampirinya. Seorang pria berambut abu klimis dan pria bercadar hitam. "Hidan, Kakuzu."
"Rich bitch?" Hidan si rambut klimis tersenyum penuh arti. "Kalau Deidara melihat ini, dia akan mengomentari seni-mu yang payah Konan."
Konan melirik wanita telanjang berlumuran darah dan tanpa kepala yang disalib ditengah alun-alun, di perutnya terukir goresan pisau dengan tulisan besar: RICH BITCH. Tulisan tersebut berwarna darah yang menghitam diantara merahnya darah segar yang mengalir dari lehernya.
Konan mendelik Hidan seraya menyodorkan kantong plastik hitam yang dipegangnya pada Kakuzu. "Ini."
"Apa?" tanya Kakuzu.
"Kepala dan uang bayaran misi tadi." jawab Konan datar.
Kakuzu mengintip isi kantong tersebut. "Kenapa kau menitipkannya?"
"Apa kau tak ingin pulang ke markas?" tanya Hidan, heran.
"Ada hal yang ingin kulakukan."
Hidan mengangguk. "Oh."
"Sampai nanti." Konan pun pergi meninggalkan mereka berdua diantara lautan manusia yang mulai memenuhi alun-alun. 'Sekali lagi, aku ingin bertemu dengannya dan memastikan perasaannya padaku. Jika dia benar-benar tak ingin bersamaku, aku akan menyerah.'
-rischa7x-
"Kemana sih dia? Kenapa tak ada di gua?" Konan berjalan menyusuri jalanan yang biasa dilaluinya bersama Naruto. "Apa dia terlibat dalam suatu masalah?"
Graup! Graup! Syuuup! Glub!
Konan merasa mendengar suara kunyahan binatang yang tengah mengoyak makanannya dengan rakus karena kelaparan, tanpa pikir panjang, ia mendekati sumber suara. Konan menghentikan langkanya, ia sangat terkejut melihat punggung berkimono abu dari pemuda yang dikenalnya tengah berjongkok membelakanginya. Didepan pemuda tersebut terbaring dua pemuda yang tergeletak diatas genangan darah, tak bernyawa. Perut kedua pemuda tersebut hancur terkoyak dan salah satu dari mereka telah kehilangan seluruh isi perutnya.
"Naruto?"
Naruto menoleh, ia menghentikan acara makannya seraya berdiri sambil tersenyum sinis. Dia mengelap bibirnya yang penuh darah dan membuang usus yang tengah dipegangnya tepat diantara kedua mayat tersebut. "Heh!" Naruto tersenyum lebar, memamerkan jajaran giginya yang runcing.
"Na..," Konan sangat terkejut melihat penampilan Naruto saat ini. Wajahnya terlihat sangat bengis dengan mata merah dan tangan bercakar runcing seperti burung. "Naruto, kau kah itu?"
"JEROAAAAN!" Naruto berlari menerjang Konan.
Refleks, Konan melakukan handseal. "Kusari kami no jutsu!"
Plap! Plap!
Kertas-kertas beterbangan membentuk rantai yang kuat, mengikat tangan dan kaki Naruto dengan pohon-pohon yang berjajar.
"Naruto!" Konan menerjang, memeluk Naruto yang memberontak karena tak bisa menggerakkan tubuhnya. "Naruto! Kumohon hentikan."
Naruto menghentikan rontaannya. "A-Aa..."
"Naruto! Hey Naruto! Sadarlah!" Konan mengeratkan pelukannya. "AKU SANGAT MENCINTAI NARUTO!"
Naruto terkejut, iris matanya kembali menjadi normal–berwarna blue saphire. Nampaknya suara Konan mencapai alam bawah sadarnya.
"Ko... nan..."
Konan terkejut mendengar Naruto mengucapkan namanya, ia menatap Naruto yang terlihat menahan sesuatu. "Ga... wat... pergi menjauh dariku! Aku bukan manusia seperti yang kau pikirkan..."
"Nggak!" Konan menggeleng.
"Kenapa.. sampai begini." Iris Naruto mulai memerah kembali. "Tinggalkan aku, lagipula aku tak punya tujuan untuk hidup."
"Kau tinggal mencari alasan hidup yang lain. Jangan lupa! Ada orang lain yang tak ingin kehilanganmu!" Konan melepas pelukannya, ia mengecup bibir Naruto seraya tersenyum lembut. "Dan akulah salah satunya."
"Konan..." Naruto mulai menitikan air matanya. "Kenapa? Kenapa kau begitu peduli padaku?"
"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya?" Konan kembali memeluk Naruto yang terbelenggu oleh rantainya. "Aku mencintaimu!"
"Konan..."
Sriiiiiing~!
Pusaran angin bercahaya putih mengelilingi mereka berdua. Rantai-rantai kertas yang membelenggu Naruto hancur. Tubuh Naruto kembali normal, ia membalas pelukan Konan dan kehilangan seluruh kesadarannya–pingsan.
To Be Continued
-Author Note-
Rischa7x: Eh! Eh!
Naruto: Kenapa lu Ris?
Rischa7x: Stt!
Konan: Dih centil lu.
Rischa7x: Aku mau ngucapin makasih buat yang udah mau baca cerita ini, baik itu silent reader ataupun yang ninggalin review.
Naruto: Kayak didiksaputra, balay7, Si Hitam, Ibiki Guru BP, Awim Saluja, Guest, Kitsune857, Da Discabil Worm NA, mumei, Nell Neverlookback, Guest, Guest, Guest,aka tsukki, ajis93560, 666 username, Kairi1099, dan Patih Alam.?
Rischa7x: Yup!
Konan: Siapa tuh?
Naruto: Mereka itu yang ninggalin review di chapter sebelumnya.
Konan: Ohh.
Rischa7x: Kalau mau dibales, direct chat aja langsung ya. Eheheheheheheheh! #ngedipganjen
Konan: Emang bakal lu bales? #sinis
Rischa7x: Iya lah1 kalo aku buka akun tapi heheh
Konan: Ciaaaah!
Rischa7x: Eh! Eh! Eh!
Konan: Apa lagi sekarang?
Rischa7x: Ayo kita pamit dulu!
Naruto: Come on!
Naruto, Konan, Rischa7x: Hay para pembaca! Sekali lagi, makasih udah baca! Sampai jumpa di chapter selanjutnya! #melambaikantangan
