Aaa, setelah sekian lama baru bisa update (dasar author gaje), meskipun dengan story yang jg semakin gaje hahahaha, maklumilah ^^v

Tsuru-chan: ini ni, yang ga jadi-jadi diupdate dari tgl 7 Mei hahahaha (*dilempar masuk got karena telah bermain-main)

Cloud-san: penasaran? kenapa? ohoho... (*diketapel sampe ke planet uranus karena cengengesan gaje)

disini ada backflash story lagi, sedikit bikin bingung ya? sama hehehehe, jadi, biar adil, marilah kita sama-sama binuuunn, horeee, hidup binnnuun! (*ditempeleng Guan Ping karena bikin onar), enjoooy...

...

.

Kaulah yang pertama, menjadi cinta, tinggal lah kenangan..

.

Xing Cai menutup kedua matanya, kenangan masa kecil itu begitu membekas. Kepolosan anak-anak dan benih-benih awal rasa itu, rasa yang tak akan pernah hilang. Untuknya, hanya untuknya...

Backflash story, Xing Cai, 19 tahun,

Xing Cai tidak lagi menjadi putri kecil Jendral Zhang Fei. Xing Cai, sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Tidak hanya cantik, namun juga mempunyai kemampuan untuk terjun ke medan perang. Ayahnya benar-benar bangga padanya. Dibawah bimbingan Zhao Yun, Xing Cai menjadi salah seorang pemimpin pasukan yang handal.

Hanya saja, tidak ada yang dapat menebak jalan pikiran Xing Cai, sekalipun itu Liu Shan, anak Liu Bei yang juga merupakan teman masa kecilnya. Meskipun mereka tumbuh bersama sejak Guan Ping mengikuti ayahnya, Liu Shan tetap tidak mampu membaca hati dan pikiran Xing Cai. Dalam keadaan apapun Xing Cai tidak pernah menunjukkan emosinya, entah dia marah, sedih, atau takut, raut mukanya tetap sama. Tenang, dingin... Entah kenapa dia begitu.

"Xing Cai..." Panggilan Liu Shan membuat Xing Cai yang sedang menyiapkan kudanya menoleh.

"Ya, pangeran Liu?"

"Jangan memanggilku pangeran, panggil namaku saja, Xing Cai. Kau akan ikut berperang lagi ya?"

"Iya."

"Tapi Xing Cai, tidak seharusnya kau begitu, perang itu sangat berbahaya... Kau tahu, hal buruk bisa terjadi pada siapapun..." Liu Shan berusaha menahan Xing Cai untuk pergi.

"Pangeran Liu, dalam perang, apapun bisa terjadi, itu benar. Tidak hanya hal buruk, tapi juga hal baik kan? Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Shu..." Jawab Xing Cai sambil tersenyum.

"Kau ini, tidak berubah, masih saja keras kepala..."

"Hmm... Pangeran Liu juga tidak berubah, masih sering kuatir..."

"Tentu saja aku kuatir! Apalagi saat ini kau tidak ditemani Zhao Yun!"

"Tapi... "

"Aku harus bagaimana Xing Cai? Katakan! Aku harus bagaimana untuk bisa menahanmu disini?"

"Pangeran Liu tidak harus melakukan apa-apa. Hanya mendoakan ku, itu saja..." Xing Cai tersenyum, kemudian menaiki kudanya. Liu Shan kehilangan kata-kata, hanya bisa menatapnya.

"Nah, aku berangkat Pangeran Liu, jaga dirimu dan istana Shu ya..."

Dan Xing Cai pun memacu kudanya ke arah pasukan yang sudah menunggu. Ia akan berangkat ke Mai Castle sebagai bantuan karena pasukan Shu terjepit. Xing Cai bahkan tidak tahu akan menolong siapa, yang ia tahu, pasukan yang terdesak itu adalah pasukan Shu, dan ia harus segera kesana.

Sementara Liu Shan menarik napas panjang, "Hhh, Xing Cai, mengapa kau tidak mengerti? Apa kau tidak mau mengerti perasaanku? Apa lagi yang harus kulakukan agar kau mengerti?"

Liu Shan menyukai Xing Cai sejak pertama kali melihatnya. Waktu itu, ia melihat Xing Cai bersama Guan Ping duduk di bawah pohon persik. Saat melihatnya Guan Ping pun memanggilnya dan mengenalkannya pada Xing Cai.

Backflash story, Liu Shan, 8 tahun,

"Ah Dou!" Panggil Guan Ping saat melihat Liu Shan yang mengintip dari balik pintu istana. Guan Ping melambaikan tangan memanggilnya kesana, ke tempat itu. Sambil menyeka ingusnya Liu Shan berjalan ke arah Guan Ping dan Xing Cai.

"Nah, Xing Cai, ini Liu Shan, putra paman Liu Bei. Ehm, tapi aku lebih suka memanggilnya Ah Dou hehehe... Ah Dou, ini Xing Cai, teman baru kita. Dia putrinya paman Zhang Fei." Guan Ping mengenalkan mereka berdua.

"Salam kenal pangeran Liu, aku Xing Cai." Xing Cai tersenyum dan mengulurkan tangan.

"Aaa.. Se.. Senang berkenalan.. A.. Aku Li.. Liu Shan.." balas Liu Shan terbata-bata karena grogi. Tapi genggaman tangan yang lembut dan senyuman hangat Xing Cai membuat hati Liu Shan langsung menyukainya.

"Naah, karena kita sudah berkumpul disini, kita berjanji seperti ayah kita yuk, untuk selalu setia kepada Shu Han!" Guan Ping bersorak penuh semangat. Lalu berbisik ke Xing Cai, "Nanti aku juga mau berjanji sesuatu untuk Xing Cai." Xing Cai bengong, tapi kemudian hanya menganggukkan kepala meskipun tidak mengerti. Kadang-kadang Guan Ping memang suka tidak jelas begitu. Liu Shan melihat itu, tapi tidak mendengar jelas apa yang dibisikkan Guan Ping ke Xing Cai. Ah, Liu Shan juga ingin begitu..

"Yaaa! Mari berjanji untuk Shu Han!"

"Aku Guan Ping, akan selalu membela dan setia pada Shu!"

"Aku Xing Cai, akan tetap menjaga dan setia pada Shu!"

"A.. Aku.. Liu Shan.. A.. Akan berusaha!"

"Loh? Ah Dou kenapa beda sendiri?" Tanya Guan Ping heran.

"A.. Maksudku.. Aku akan berusaha menjaga Shu.." Liu Shan menjawab dengan nada tidak yakin. Dia merasa bersalah karena asal bicara di depan Xing Cai. Xing Cai hanya tersenyum,

"Berbeda juga tidak apa-apa pangeran Liu, kita semua memang harus berusaha dan saling membantu." Ah, Liu Shan lega mendengar kalimat itu, sungguh menyejukkan. Liu Shan sangat menyukainya.

Xing Cai itu, meskipun perempuan, tapi tenang dan kuat. Tapi kadang-kadang juga terlihat sangat manis dan lembut. Liu Shan senang memperhatikan wajah Xing Cai yang cemberut saat digoda Guan Ping, atau wajah kuatir Xing Cai saat Guan Suo terjatuh dari meja, atau senyumnya saat Xing Cai menyemangati Liu Shan yang selalu terlambat pulang karena tidak bisa-bisa mengerjakan soal yang diberikan bibi Yue Ying.

"Ini, untuk Xing Cai." Guan Ping memberikan sebuah permen ke tangan Xing Cai, dan itu terjadi saat sedang belajar. Xing Cai yang terkejut hanya bengong menatap Guan Ping, "Guan Ping, dilarang makan saat belajar..." Ujarnya berbisik ke Guan Ping.

"Kalau paman Zhuge tidak tahu kan tidak apa-apa." Balas Guan Ping sambil nyengir. Liu Shan yang melihat itu berkata, "Xing Cai betul, Ping, tidak boleh makan saat belajar."

Zhuge Liang yang sedang menulis mendengar itu, "Siapa yang makan di kelas?" tanyanya. Semua diam. "Pangeran Liu Shan?" Zhuge Liang bertanya pada Liu Shan. Liu Shan melihat dengan takut-takut, aduuh, bilang tidak ya? Kalau bilang nanti Xing Cai juga bisa ikut dihukum, kan kasihan.. Aduuh bagaimana ini.. Liu Shan panik sendiri. Xing Cai menunduk, sementara Guan Ping tenang-tenang saja, ia sudah siap dengan segala resiko perbuatannya, ayahnya selalu mengajarkan itu. "Berani berbuat, berani bertanggungjawab, Ping!" begitu yang selalu dikatakan Guan Yu kalau Guan Ping mengeluh.

"A.. Anu, paman, eh, pak guru.. Tadi saya mengigau.." Jawab Liu Shan akhirnya. Zhuge Liang yang tahu kalau Liu Shan berbohong hanya tersenyum dan terus menatapnya. Liu Shan jadi serba salah, "Ke.. Kenapa paman Zhuge? Kenapa menatapku terus?" protesnya. Zhuge Liang masih tetap dengan aksi diamnya. Liu Shan makin merasa bersalah, "Uuh, baik, saya mengaku, tadi saya bohong!"

"Jadi?" tanya Zhuge Liang. Liu Shan menatap Guan Ping dan Xing Cai bergantian. Guan Ping balas menatapnya, tampangnya tenang-tenang saja, sementara Xing Cai masih menunduk. Hmm, sepertinya Guan Ping tidak keberatan untuk dihukum lagi, lagipula itu kan memang salahnya, pikir Liu Shan. "Ping makan permen di kelas, pak guru," kalimat itu meluncur dari mulut Liu Shan, yang akhirnya membuat Zhuge Liang menyetrap Guan Ping dan harus berdiri di luar kelas. Tapi tiba-tiba,

"Sa.. Saya juga pak guru!"

"Hm? Xing Cai?" Zhuge Liang terlihat heran.

"Iya, saya juga makan di kelas, ini.." Xing Cai memperlihatkan permen di mulutnya. Liu Shan ternganga, kapan Xing Cai melakukannya? Dan KENAPA Xing Cai melakukannya? Itu pertanyaan besar!

"Baiklah, silahkan berdiri menemani Guan Ping." Xing Cai mengangguk dan berjalan ke luar kelas. Tunggu, berarti nanti mereka berdua saja disana kan? Aaah, tidak boleh! Liu San panik. "Pak guru, aku juga!" Liu Shan berdiri dan mempelihatkan bungkusan permen yang entah darimana dia dapat kepada Zhuge Liang. Zhuge Liang menarik napas, tersenyum, dan mempersilahkan Liu Shan untuk keluar, kemudian kembali melanjutkan pelajarannya.

"Kenapa kamu keluar juga?" Tanya Guan Ping heran saat melihat Liu Shan. Liu Shan diam saja.

"Aahaha, lucu juga ya, kita bertiga disetrap begini, apa ayah-ayah kita juga pernah begini ya?" Meskipun disetrap Guan Ping masih saja tidak sedih. Xing Cai akhirnya menimpali, "Jangan-jangan lebih parah, hihihi..." dan mereka tertawa. Sungguh, Liu Shan juga ingin ikut menimpali obrolan itu, tapi dia tidak tahu harus berkata apa, hhh...

Liu Shan juga ingin Xing Cai memperhatikannya, Liu Shan menyukai Xing Cai. Xing Cai tidak pernah merendahkannya meskipun waktu itu dia bertubuh gemuk. Xing Cai juga tidak pernah mengejeknya meskipun waktu itu dia sangat bodoh. Yang ia lihat, Xing Cai selalu menyemangatinya dengan senyuman itu.

Tapi, ia tidak bisa membuat Xing Cai tertawa lepas terbahak-bahak seperti yang selalu dilakukan Guan Ping. Ia juga ingin dipukul dengan lembut seperti yang dilakukan Xing Cai saat Guan Ping membuatnya kesal. Ia juga ingin seperti Guan Ping yang bisa menggendong Xing Cai dan membawanya berlari mengelilingi taman persik itu. Ia tidak pernah bisa mengajak Xing Cai kabur dari pelajaran Zhuge Liang meskipun ia ingin. Kenapa Guan Ping bisa melakukannya? Meskipun Xing Cai selalu menyemangatinya, tapi kenapa perhatian Xing Cai begitu berbeda kepada Guan Ping? Xing Cai terlihat benar-benar alami kalau sedang bersama Guan Ping. Seperti lepas dari segala beban, ah Liu Shan cemburu...

Dan hingga kini, hingga mereka dewasa, dan tentunya Liu Shan juga telah berubah, sepertinya perasaan Xing Cai pada Guan Ping tidak berubah. Xing Cai selalu menolak kalau Liu Shan mengajaknya berjalan-jalan di taman. Padahal tiap malam Xing Cai selalu menyempatkan diri mampir ke dekat pohon persik tua itu sepulang latihan bersama Zhao Yun. Liu Shan melihatnya dari jendela kamarnya. Xing Cai juga sepertinya selalu mengalihkan pembicaraan kalau Liu Shan sudah mulai mencoba mengungkapkan perasaannya. Sepertinya Xing Cai tahu, tapi entah kenapa, Xing Cai tidak pernah membiarkan Liu Shan mengatakan kalimat sakti itu. Xing Cai, Xing Cai, apa kau masih memikirkan Guan Ping? Hhhh... Liu Shan menarik napas panjang hingga bayangan Xing Cai bersama pasukannya hilang dari matanya.

.

Betapa cinta ini sungguh berarti, tetaplah terjaga

...

that's all this ch, mind to review? ^^