Do You Believe In Love? © Bychancehappened

Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing: Narusasu

Genre: Angst/Romance

Published: Jul 12, 2015

Story id: 11373896


Do You Believe In Love?

Bychancehappened


Uzumaki Naruto menduduki kepala patung Hokage ke empat di Gunung Hokage sambil melihat jalanan Konoha yang sibuk.

Bisikan angin musim dingin bulan Oktober yang membuatnya menggigil sampai ke tulang, tidak cukup untuk membuatnya ingin pulang ke rumah. Tidak... Itu bukan rumahnya, apartemen kosong yang dingin itu bukan rumahnya, tempat itu hanya mengingatkannya bahwa ia benar-benar kesepian dan menyedihkan. Lagipula seorang demon tidak akan membiarkan dirinya sendiri mati hanya karena kedinginan.

Mendesah, ia menutup matanya ketika mengingat kejadian pagi tadi. Sekali lagi dirinya kalah dengan insting demon dalam tubuhnya. Ia bisa saja mengancam atau memukul ninja yang melawannya demi menyelamatkan gadis kecil itu, tetapi sekali lagi ia kehilangan kontrol dirinya dan membiarkan insting kemarahannya nyaris membunuh pria itu.

Meskipun Naruto percaya bahwa pria itu memang ditakdirkan untuk mati atas apa yang telah dilakukannya.

Kemudian sepasang mata bulat hitam menginvasi otaknya. Ketakutan yang nampak di obsidian hitam yang dilihatnya itulah yang menyentaknya dari kemarahan. Naruto benar-benar bersyukur untuk itu, sebab karena berkat tatapan pria itu ia tidak harus membunuh seorang ninja elit di desa ini lagi.

Meskipun ia masih bisa mengalahkannya besok dalam pertarungan... dan meskipun setelah duapuluh tiga tahun hidupnya akan semakin dibenci oleh seluruh penduduk desa, ia tidak peduli lagi. Ia hanya tahu bahwa ia tidak akan menyerah. Ia akan bertarung untuk melindungi penduduk desa bahkan jika mereka membencinya. Jika mereka tetap ingin melawan insting iblis dalam tubuhnya, itu adalah kesalahan mereka sendiri.


Sasuke berbaring di futon kamarnya, menggigil kedinginan. Ia tidak berniat menghidupkan lilin atau memakan makan malamnya.

Sesuatu yang ia pikirkan hari ini adalah balas dendam. Ia ingin melawan demon itu untuk apa yang telah demon itu lakukan pada gadis kecil tadi.

Namun, pikiran Sasuke terputus ketika ia mendengar pintu apartemennya terbuka. Hanya ada satu orang yang memiliki kunci pintu rumahnya, dan Sasuke tahu siapa itu.

"Apa yang kau lakukan di sini, Neji?" tanya Sasuke tanpa bangun dari posisinya.

"Kau sendiri, kenapa berbaring dalam kegelapan, Sasuke?" Sambil membuka jubahnya, Neji berjalan mendekati meja dan menghidupkan lilin.

"Hn."

Sasuke menyingkirkan selimut lalu bangkit dan duduk di futonnya. "Kau tidak perlu datang untuk melihatku. Kita sudah bertemu pagi ini, jadi kenapa kau datang lagi?"

Neji berjalan mendekati Sasuke dan duduk di pinggiran futon. Futon itu sangat tidak nyaman untuk tidur, tapi setiap kali Neji bermaksud untuk membelikan yang baru, Sasuke selalu menolak.

"Tidak begitu penting. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku akan mengikuti pertandingan besok. Beberapa orang meragukan kemampuanku untuk menjadi ketua klan." Neji berhenti untuk mengambil napas.

"Lalu mereka ingin kau melakukan apa?" tanya Sasuke ingin tahu. Bukannya Sasuke meragukan kemampuan sepupunya juga. Setelah Itachi meninggalkan desa dan menjadi ninja pelarian, Sasuke yakin Neji adalah ninja yang paling kuat di desa ini.

"Well, mereka ingin aku membunuh demon."

"Apa?" Mata Sasuke membulat. "Demon itu?"

"Yeah. Hokage mengadakan sebuah pertandingan di stadion besok pagi," jawab Neji tanpa menatap mata sepupunya.

"Neji, kau harus melakukannya. Aku... aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri tapi aku tidak mungkin bisa, jadi kau yang harus melakukannya," kata Sasuke putus asa.

"Apa? Apa yang bicarakan, Sasuke? Kenapa kau ingin membunuhnya? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Neji, penasaran karena kemarahan tiba-tiba sepupunya.

Sasuke mendesah dan menatap Neji, menarik napas dalam-dalam, ia mulai menjelaskan setiap detail apa yang terjadi tadi pagi.

"Itulah alasannya, Neji. Aku membenci desa ini tapi apa yang dilakukannya benar-benar tidak termaafkan. Kau harus memberikannya pelajaran."

Neji merasa darahnya mendidih mendengar semuanya dari mulut Sasuke.

"Jangan khawatir, Sasuke. Ia tidak akan melihat matahari tenggelam besok. Aku janji." Dengan itu Neji meninggalkan rumah untuk latihan dan melampiaskan kemarahannya.


Stadion sudah dipenuhi para penduduk desa; tidak ada satupun tempat tersisa. Mereka semua berkumpul untuk melihat pertunjukkan kematian demon Konoha.

Hokage, Orochimaru Senin, berjalan dengan menjalin kedua tangannya. Kebisingan berhenti untuk sesaat.

'Oh, well,' batinnya, 'Nikmatilah pertunjukkanmu, tetapi kau tidak akan bisa mengalahkan demon itu, dasar bodoh. Jika wadah demon itu mati hari ini, artinya aku harus menyegel iblis itu pada seorang bayi lain sebelum demon itu melarikan diri.'

Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Neji berjalan menuju balkon, mengikuti Hokage mereka dari belakang.

Dan Hokage memulai sambutannya.

"Seperti yang kita semua tahu bahwa hari ini kita berkumpul di sini untuk menyaksikan pertarungan antara Hyuuga Neji dan Uzumaki Naruto—si demon Konoha. Hanya ada satu peraturan dalam pertandingan ini; yaitu pertandingan akan terus berlanjut sampai salah satu dari mereka mati. Pertandingan ini diajukan langsung oleh Hyuuga Hiashi dan separuh anggota dari klan Hyuuga. Segala kerusakan akan ditanggung oleh pihak Hyuuga. Apa ada yang kalian pertanyakan?"

Figur seorang pria berjubah hitam yang menutup tubuhnya dari kepala hingga kaki tersentak karena ucapan itu. 'Tidak,' pikir Sasuke. 'Aku harus menghentikannya. Bagaimana jika demon itu yang menang?' Ia mulai merasa panik karena tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Sudah terlambat.

Sasuke berdiri di sudut stadion. 'Carrier' tidak diinjinkan muncul di tengah-tengah tanah 'suci' gedung stadion, jadi Sasuke menyamar dengan jubah hitamnya. Ia ingin sekali melihat demon itu sekarat, tetapi sekarang ia merasa itu adalah ide yang buruk.

DING DONG!

Jam berbunyi tepat ketika mengarah ke angka sembilan dan itu berarti peringatan bahwa pertandingan akan dimulai. Neji melompat turun dari atas ke medan laga dan mendarat sempurna dengan kakinya.

Dari arah yang berlawanan, Uzumaki Naruto berjalan dan berdiri di depan Neji.

Tidak ada formalitas, tidak ada kata-kata dari dua ninja itu. Dengan jurus bayangan dari sang demon, pertandingan itu dimulai.


Sasuke merasa gelisah. Pertarungan sudah berjalan satu jam dan pertandingan semakin sengit. Tetapi ia cukup kagum ketika Neji mengeluarkan jurus Juuken Hou: Hakke Rokujuu Yonshou miliknya untuk memutuskan aliran cakra Naruto.

Ketika Naruto jatuh tersungkur ke tanah, Neji tidak berhenti. Ia mengeluarkan beberapa kunai dan melemparkannya ke arah demon itu. Naruto berusaha menghindar, tapi kunai itu tetap mengenai lengan dan pahanya.

Sekarang Sasuke bisa mendesah lega. Tampaknya pertarungan ini memang berpihak pada Neji. Ia tidak pernah melihat Neji bertarung secara sungguhan, tetapi melihat bagaimana ia bertarung hari ini Sasuke yakin Neji tidak dapat dikalahkan.

Tak lama kemudian, demon itu mencoba untuk bangkit dengan kakinya yang gemetar, namun ia terlempar ke belakang tiba-tiba karena serangan kuat dari Juuken yang dilancarkan oleh Neji. Tubuhnya membentur dinding dengan bunyi –bruk- yang kuat lalu tersungkur.

Seluruh penonton menjadi riuh, suara sorakan untuk Neji serta umpatan untuk demon itu memenuhi udara.

"MATI! MATI! MATI! KAU DEMON!"

"HYUUGA-SAMA, TUHAN MEMBERKATIMU KARENA MENGALAHKAN MAKHLUK ITU!"

"BUNUH DIA! BUAT DIA SEKARAT! BUNUH DIA SEPERTI DIA MEMBUNUH PARA SAUDARA KITA!"

Semua penonton berteriak sangat antusias. Naruto bisa merasakan cakra demon dalam tubuhnya bergemuruh, ia tahu bahwa ia tidak akan bisa menahan ini lebih lama lagi.

'Shit,' gumamnya ketika cakra demon di tubuhnya mulai bersatu dengan cakra miliknya, memperbaiki dan melepaskan pusaran cakra yang terkunci.

Ketika Neji mendekat dan menarik kerah jaketnya untuk memaksanya berdiri, Naruto berbisik dengan suara pelan, "Tolong jangan paksa aku untuk melepaskan kekuatan demon ini, Neji-san. Aku tidak bisa menahannya lagi. Mundurlah."

Neji tertawa mendengar kalimat itu. "Apa kau sedang mengemis untuk tetap hidup, Demon-san? Takdirmu sudah diputuskan; kau akan mati di sini. Kau akan mendapatkan hukuman untuk perbuatan kejammu selama ini."

Setelah mengatakan itu, Neji membenturkan kepala Naruto ke dinding sekuat tenaga hingga dinding tersebut retak. Darah mengalir dari kepala Naruto membasahi rambutnya yang blonde dengan warna merah.

Matanya berubah merah. Naruto tertawa kecil, ia berkata dengan suara berat, "Perbuatan kejam, eh? Aku tidak melakukan apapun, sebaliknya aku menyelamatkan mereka. Orang-orang itu tidak pernah mengerti, aku bukan demon tapi aku hanya wadah untuk demon."

Dan akhirnya Naruto kalah melawan Kyuubi—demon dalam tubuhnya—dan merupakan siluman rubah berekor sembilan. Cakra merah yang mengelilingi tubuhnya seketika membuat Neji terpental jauh menabrak dinding.

Orochimaru menyeringai. 'Akhirnya,' gumamnya.

Keheningan merayap cepat pada seisi stadion ketika mereka menciut ketakutan karena ditatap sepasang mata merah yang dingin.

Sementara Neji kembali berdiri tegak selepas dari keterkejutannya. Mata berpupil lavender miliknya bersinggungan dengan sepasang pupil merah berapi.

"Byakugan," seru Neji. Urat di sekitar matanya mulai menojol, tapi anehnya itu hanya sesaat, sebab urat itu menghilang detik berikutnya. Neji tersentak, ia sadar bahwa tidak memiliki banyak cakra untuk mengaktifkan doujutsu itu.

Karena lengah, tiba-tiba saja demon itu sudah berdiri di depannya dan menendang perutnya dengan kuat hingga ia tersungkur. Ia terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Beberapa pukulan lain bersarang di wajah, dan memaksanya kehilangan udara.

Di bangku penonton, Sasuke melotot horor ketika demon itu memukul sepupunya terus menerus hingga Neji terengah-engah dan darah keluar dari mulutnya.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, Naruto melompat mundur menjauhi Neji yang tengah berusaha berdiri dengan kaki yang gemetar.

Sasuke kembali membelalakkan matanya ketika Naruto mulai mempersiapkan serangan akhir. Ia tidak bisa diam lagi. Akhirnya ia melompat turun dari bangku penonton dan mendekat pada sang demon. Kedua tangannya mulai membentuk sebuah jurus.

Tudung jubah yang dikenakan Sasuke lepas dari kepalanya dan identitasnya terbongkar, ia bisa mendengar penduduk desa menyerukan sesuatu namun ia mengabaikannya. Ia harus menyelamatkan Neji, apapun resikonya.

"Katon; Goukakyuu No Jutsu." Sasuke meluncurkan gulungan bola api raksasa ke arah Naruto.

Namun, matanya membulat ketika bola apinya diserap habis oleh sekumpulan cakra merah yang ada di sekitar demon itu. Sehingga ia sama sekali tidak bisa menghentikan ketika tangan Naruto mengentak dada Neji dengan kuat.

"NO! NEJI!" Sasuke berlari menghampiri sepupunya dan menangkap tubuhnya yang limbung. "KAU MEMBUNUHNYA, MONSTER!" Ia berteriak sambil menyandarkan tubuh Neji ke dadanya, matanya menatap nanar pada Naruto.

Naruto tersentak mundur. Matanya berubah menjadi safir. Ia menatap sepasang bola mata hitam yang menatapnya penuh kebencian, kemudian pada tubuh tak bernyawa lawannya, kakinya mundur goyah.

"Aku... Aku sudah memperingatinya. A-Aku tidak bermaksud membunuhnya. Maaf," gumamnya, meskipun kata-kata maaf itu tidak akan berguna lagi.

"DIAAAM!" teriak Sasuke, air mata mengalir deras dari matanya, ia kehilangan satu-satunya keluarga hari ini. Berdiri, ia mulai melepaskan beberapa pukulan pada Naruto, dan pria itu berdiri seperti boneka dan menerima semua pukulan dan umpatan yang dilontarkan padanya tanpa protes.

Sesaat kemudian, seseorang datang dan menangkap tangan Sasuke dari belakang. Ketika ia menoleh, ia menemukan Hyuuga Hiashi berdiri di belakangnya seraya menatap mereka berdua dengan penuh kebencian.

"Dia bisa menghindari serangan itu jika bukan karena jurus menyedihkanmu itu," Ia mendesis di telinga Sasuke.

"APA YANG CARRIER LAKUKAN DI TANAH SUCI ITU?" Seseorang berteriak dari kerumunan.

"ITU ADALAH KESALAHANNYA JIKA DEMON ITU MENANG!"

"DIA SUDAH MENGOTORI UDARA DI SINI!"

Sasuke menatap dengan air mata yang berderai ketika para kerumunan stadion ramai-ramai menuntut untuk menghukumnya.

Hiashi menoleh pada Hokage. "Aku juga setuju dengan para penduduk desa, Hokage-sama. Dia bertanggungjawab atas kematian keponakanku. Aku menginginkan hukuman yang setimpal untuknya."

"SERAHKAN SAJA DIA PADA DEMON ITU! BUAT DIA MENDERITA SEPERTI HALNYA KITA MENDERITA KARENA KESALAHANNYA!" Seorang pria berteriak.

Kerumanan itu nampaknya berniat membuat kekacauan; semua orang meneriakkan permintaan mereka—

"SERAHKAN DIA PADA DEMON ITU! BUAT DIA KETAKUTAN! BUAT DIA MENDERITA!"

—sampai Hokage berdiri di tengah-tengah lapangan.

"CUKUP!" pintanya. "Aku, Orochimaru, Hokage kelima di desa ini akan memberikan hadiah kepada Uzumaki Naruto. Dia akan mendapatkan satu-satunya carrier dengan darah Uchiha karena sudah memenangkan pertarungan ini; hadiah itu adalah Uchiha Sasuke."


TBC...


Fiuh, ripeng. Sorry for bad translate, inilah chap keduaaa, aku menggunakan kalimatku sendiri tanpa mengubah jalan cerita.

Baca sampai abis, untuk semua, khususnya reviewer atas nama d14napink; Makasih banget untuk usul idenya ya, tapi mungkin kamu missed something, aku udah kasih warning di chap satu bahwa fic ini cuma terjemahan dari pemilik asli, jadi aku hanya menerjemahkan tanpa bisa mengubah plot dan lain sebagainya. ;)

Review?