Title: Skip A Beat!

Pairing : EunHae/HaeHyuk (Donghae x Eunhyuk)

Rating: masih PG-13

A/N: Makasih banyaaak buat yang udah baca dan review chapter sebelumnya! Dibales lewat PM ya, gomawoo *tebar cium*

siapa saya (? XD) hahaha ketebak ya? Kita lihat apa tebakannya benar keke :p ini sudah lanjuut~

sweet haehyuk aa gomawooo ini sudah lanjut~

eunkha ini sudah diapdet~ cukup asap kah? XD hoho iya memang hyuk ga cocok ah jadi seme selama masih ada hae :') gomawooo XD

D.D ANNYEONG URI LEAD DANCER kekeke ah siapelu manggil2 unnie -_-)-o iya yang english version itu buat dipost ditempat lain haha iyadong aku rajin :'D jeongmal gomawooo ({}) ah kalo ga manis bukan haehyuk namanya~

Kamiyama kaoru gomawooo! hahah nggak kok nggak jauh beda dari itu ;;XD tapi kalo pengganggu hubungan sih pasti ada~ hmm yang bales dendam siapa ya? ;) nanti di chapter2 selanjutnya ketauan kok keke ini udah apdet~

Minwoo619 ah sebenarnya hyuk masih cuman suka sama hae sebagai temen ^^ tapi akan berubah kok~ dan pmeran namja lain seperti si siwon di skipbeat? aa itu mungkin ada mungkin tidak ;;XD

EviLisa2101 anyyeong! ana imnidaa~ 95line! Hah bohong, anaknya haehyuk saya :B *plak* iya mereka berpisah dan bertemu lagi~ appa memang jahat *nodnod* ini sudah lanjuut~ gomawoo *tangkap bannernya*

HaeHyukkielf ini sudah lanjuut chingu~ ah sama aku juga semangat liat ff haehyuk :''D ini kilaatt! gomawo juga reviewnyaa!

Faooii ah sama aku juga lagi seru nonton skipbeat ^^ haha ini ga terlalu skipbeat verse sih tapi emang terinspirasi :D gomawo reviewnyaa~

hyukhyuk, Park Soohee, Aya'kyu ini sudah lanjuuuut~ gomawo dan selamat membaca!

::

Fic ini memang terinspirasi dari Skip!Beat yang dibintangi oppa2 ganteng kita. Tapi ceritanya gabakal persis sama. Cuma ngambil sedikit ide storyline :D setelah sekitar chapter 3 mungkin baru ketauan kenapa~

Disclaimer: Super Junior © SM Entertaiment. Super Junior members belong to themselves, their parents, and God. Cuma plot cerita ini milik saya~


Enjoy!

SKIP A BEAT!

::

A Super Junior Fanfiction

::

© AiNeko-chan


~Chapter 1 : Reunion

::

.

.

Hari itu bermula seperti biasa.

Seperti biasa, namja itu memulai harinya dengan bangun pagi, mendengar weker alaminya berdering meneriakkan 'Hyukjae! Bangun sekarang atau kau tidak dapat sarapan!' -dan mengumpulkan nyawanya dalam posisi duduk untuk beberapa saat sebelum benar-benar bangun dan pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya.

Anjing chihuahua kesayangannya akan menggonggong ketika ia keluar dari kamar mandi, meminta jatah sarapan. Dan ia akan tersenyum dan menuntun hewan manis itu ke mangkuknya, memberi makanan anjing di dalamnya dan melihat anjing kecil itu makan sebelum ia bangkit dan turun ke ruang makan.

Dan ketika ia melahap sarapannya, mengabaikan suasana ribut dari noona dan appa-nya (yang sepertinya terlambat bangun lagi), ia akan menyalakan televisi, mengganti channel nya ke satu berita- dimana untuk saat ini reporternya baru selesai mengumumkan berita kriminal.

Ani, ia tidak tertarik dengan penjahat yang kabur dari penjara. Lalu kenapa dia menonton berita? Karena ia tahu news section berikutnya akan membuat matanya berbinar seperti permata.

"Berikutnya, lintas KPOP terbaru," reporter berambut pendek di balik layar kaca itu berkata. Gambar sebuah girl group, diiringi musik yang lebih ceria—'Gee' dari Girls' Generation yang baru-baru ini keluar, muncul di belakangnya.

"SM entertaiment yang membuat gebrakan besar dengan debut girl group barunya, Girls' Generation. Baru-baru ini mengungkapkan rencananya membuat satu boy group lagi," ucap reporter itu. Layar televisi berubah full menjadi wajah seorang lelaki paruh baya yang bicara di depan mic diiringi flash light dari kamera di sekelilingnya. "CEO Lee SooMan-ssi mengatakan, grup ini akan memiliki lebih banyak anggota dari Girls' Generation, dan sedang dalam tahap persiapan untuk debut."

Hyukjae melihat berita itu tanpa rasa tertarik. Ia melihat jam dinding. Sebentar lagi waktunya berangkat sekolah, apa reporter ini tidak bisa cepat mengabarkan berita lain? Yang Hyukjae tunggu, tepatnya. Seharusnya itu menjadi berita terpanas hari ini!

"Selanjutnya,"

Layar di belakang reporter itu berubah menjadi wajah seorang lelaki dengan rambut coklat, memakai kacamata hitam dan tersenyum sambil mengangkat tangan ke arah kamera.

Mata Hyukjae berbinar (seperti yang ia prediksikan). Ia mengambil remote untuk mengeraskan suara TV itu sampai ke volume yang paling tinggi.

"Hari ini, Lee Donghae yang baru-baru ini juga merayakan satu tahun debutnya dari SM entertaiment, mengeluarkan single terbarunya. Perusahaan memprediksi bahwa single ini akan laku berat di pasaran, dan akan mulai menghitung posisinya dalam chart."

"YEAH!"

Gadis yang baru saja duduk di samping Hyukjae untuk mengambil sarapan cepatnya, mengernyitkan alis melihat dongsaengnya melebarkan tangan dan berseru seperti seorang fanboy. Ia melihat ke televisi dan memutar mata ketika menemukan sumbernya.

'Pantas saja.'

Yah, dongsaengnya memang seorang fanboy, kenyataannya. Fanboy dari seseorang yang masih terpampang wajahnya di layar kaca di depan mereka sekarang. Lee Donghae.

"Single 'Beautiful' ini dibuat sendiri oleh Donghae-ssi. Seperti yang sudah dijelaskan pihak SM sebelumnya, Interview mengenai single ini sendiri akan diadakan dua jam dari sekarang. Comeback stage yang ditunggu-tunggu akan pertama dilangsungkan di Music Bank lusa."

"Noona, aku mulai merasa tidak enak badan. Bisa tolong bilang ke umma aku tidak bisa masuk sekolah?" Hyukjae berpura-pura batuk, melihat dengan wajah memelas kepada noona-nya, yang hanya memutar bola mata sebagai jawaban.

"Sakit karena ingin melihat interview Lee Donghae, alasan yang bagus untuk umma memukulmu dengan sapu nanti."

"YAH! Kumohon, bohong apa saja—"

"Lee Hyukjae, aku mendengarmu! Dan tidak, kau tidak akan bolos sekolah lagi untuk menonton TV seharian di kamar! PERGI KE SEKOLAH SEKARANG JUGA!"

Hyukjae mendesis pelan.

"Aish. Ya, umma. Yaaa."

Menyerah, Hyukjae mengambil tas dengan mengabaikan wajah menyebalkan Sora dan bergegas keluar dari pintu depan tanpa mematikan TV terlebih dahulu. Yah, ia bisa melihat isi interviewnya di youtube. Lagipula, ia harus memastikan membeli sesuatu sepulang sekolah nanti.

.

.

-o-o-

"Hyuk! Bagaimana kalau sepulang sekolah ini kita main bola?"

Hyukjae mengatupkan kedua tangannya di depan muka, "Mian, Junsu-ah, hari ini tidak bisa."

Namja seumuran yang berdiri di depannya sekarang mengernyitkan alis. "Memangnya ada kegiatan klub nanti?"

"Aniyaa, aku hanya ada sedikit urusan pribadi." Jawab Hyukjae, memikirkan tentang benda yang akan dia beli, dan kegiatan yang akan dia lakukan sepulang sekolah nanti setelah mendapat benda tersebut. Bibirnya membentuk lengkungan tipis yang lama-lama berubah jadi cengiran lebar.

Melihat temannya— yang sekarang senyum-senyum sendiri di luar kesadarannya, kerutan kecil muncul di dahi Junsu.

"Hyuk-"

"YAAA, HYUK-AH! Kau sudah lihat berita tadi pagi?"

Junsu mengeluarkan suara 'argh' yang cukup keras. Langsung kesal melihat seorang yeoja berambut coklat pendek -yang entah sejak kapan sudah berada di antara dirinya dan Hyukjae- yang baru saja memotong ucapannya. Badannya membungkuk dan bersandar di atas meja Hyukjae- di depan Junsu. Mata sama berbinarnya dengan namja di hadapannya.

"Tentu saja!" Hyukjae berseru antusias.

"Itu 'kan? ITU!"

"IYA, ITU!"

"Single terbaru Lee Donghae!" mereka berseru pada saat bersamaan, membuat beberapa pasang mata yang ada di kelas itu tertuju pada mereka. Tapi siapa peduli? Mereka terlalu sibuk dengan dunia kecil mereka untuk peduli, bahkan dengan Junsu yang sudah memutar bola mata dan menjauh untuk mencari orang lain untuk diajak main sepulang sekolah. Sukses mencoret Hyukjae dari daftar targetnya.

"Aku sudah punya CDnya." yeoja itu berkata bangga.

"MWO? Bohong! Bagaimana bisa? 'Kan baru keluar hari ini!"

"Koneksi, koneksi~"

"Kau tidak pernah bilang punya koneksi sebelumnya!"

"Kakak sepupuku baru saja diterima jadi kru di SM Entertaiment," yeoja itu tersenyum, menikmati ekspresi iri sahabatnya. "Begitu CDnya dicetak, dia langsung mengirimkan satu padaku. Didiskon pula."

"Sena-ah~" Hyukjae melembutkan bicaranya, menatap Sena dengan tatapan memelas.

"Anii~ Apa gunanya koneksi pribadi kalau kugunakan buat orang lain?"

Hyukjae cemberut.

"Daripada itu, kau harus tahu, liriknyaaaa! Donghae-oppa yang menulisnya sendiri, kau tahu kan? LIRIKNYA SANGAT ROMANTIS~!"

"Bagaimana aku bisa tahu, aku 'kan belum dapat CDnya." Hyukjae masih merengut. Walaupun ia sedikit tertawa dalam hati. Oppa? Donghae bahkan lebih muda beberapa bulan dari dirinya dan Sena.

"Karena itu aku memberimu spoiler," Sena tertawa setan. "Sini biar kunyanyikan. You are completely beautiful~"

Bola mata Hyukjae melebar. Panik.

"YAH! Berhenti! Jangan nyanyikan!"

"—I just can't be without you giirrl~"

"YAAH! SENA-AH!"

Orang-orang di kelas itu tertawa kecil melihat tontonan menarik di bangku belakang kelas. Hyukjae dan Sena memang bukan satu-satunya fans Lee Donghae di kelas dan di kota itu. Beberapa sering ikut berteriak-teriak dan berbicara seputar pangeran idola mereka. Walau berapa kalipun dilihat, sedikit aneh untuk seorang namja yang terkenal populer di sekolah mereka seperti Hyukjae untuk menjadi fanboy namja lain yang sama populernya.

Tapi tidak ada yang mencela. Karena keduanya berteman baik dengan hampir seluruh anak di kelas. Dan menyukai Lee Donghae di Mokpo tempat mereka tinggal, benar-benar bukan sesuatu yang aneh.

.

.

-o-o-

Hyukjae berlari secepat yang ia bisa, sambil berusaha supaya tidak menabrak siapapun di jalan.

Ayolah, ayolah! Dia tidak bisa kehabisan benda itu!

Gara-gara guru yang dengan sangat kurang kerjaannya menambah jam pelajaran (untuk persiapan ujian, katanya), kelasnya jadi harus pulang satu jam lebih lama dari seharusnya. Satu jam yang sangat berarti! Bagaimana kalau dia benar-benar kehabisaan?

"Ahjussi!" Serunya segera setelah ia memasuki toko itu ; toko CD. Ahjussi berkacamata bulat di balik counter tersenyum. "Hyukjae, kau terlambat hari ini. Tadi penuh sekali, lho."

Ekspresi Hyukjae jatuh seketika. Aah, sial. Benar-benar kehabisan? -Ia baru saja memikirkan sejumlah kalimat kutukan untuk guru yang membuatnya terlambat, ketika sebuah benda berbentuk segi empat bersampul laki-laki tampan diayunkan di depan mukanya.

Mata Hyukjae melebar. Ia menatap ahjussi toko langganannya dengan dua mata bulatnya. Terkejut.

"Aku 'kan tidak bilang kau kehabisan. Aku tahu kau pasti datang, makanya kusimpan satu buatmu."

Dan saat itu, wajah ahjussi di depannya jadi terlihat seperti malaikat berbaju putih dengan lingkaran halo di kepala.

"Ahjussiiii! Jeongmal gomawoyo! Saranghae!"

Ahjussi itu tertawa dalam pelukan erat Hyukjae.

"Tunggu, masih ada kabar baik lagi. Mau dengar?"

Hyukjae melepaskan pelukannya, menatap ahjussi itu dengan alis yang terangkat sebelah.

"Karena hari ini penjualan pertama, ada bonus."

.

.

-o-o-

Cengiran lebar tergambar di wajahnya. Menunjukkan gusinya pada ruangan tempat ia berdiri. Di depannya, di atas kertas licin, sosok Lee Donghae, idolanya, tergambar. Dari rambut yang sebagian tertutup topi sampai ujung kaki. Dengan kemeja putih, celana hitam, suspender dan pantofel. Rambut coklatnya diikat setengah ke belakang dan satu matanya tertutup oleh topi yang miring. Bibirnya menyunggingkan senyum. Matanya damai untuk dilihat, seperti biasa.

"Ya! Donghae-ah, kenapa kau tampan sekali?" Ucapnya dengan cemberut palsu, memukul bagian dada poster Donghae di depannya pelan, kemudian tersenyum lagi.

Memutar CD yang baru ia beli di stereo kamarnya, Hyukjae duduk di atas kasur, mendengarkan alunan melodi yang keluar dari alat tersebut.

You are completely beautiful

I just can't be without you, girl

You are completely beautiful

I just can't be without you, girl

Suara seperti malaikat mengalun di telinganya, membuat Hyukjae tersenyum dan menjatuhkan dirinya di atas kasur.

Sosok 'malaikat' itu terbayang di benaknya. Idola sekaligus sahabatnya, yang selama tiga tahun terakhir hanya bisa ia lihat lewat layar kaca.

Donghae-ah, jeongmal bogosipeo.

.

-o-o-

"Lee Donghae! Lee Donghae!"

Donghae tersenyum, melepas topi yang ia pakai dan meletakkannya di atas dengkul, menundukkan kepala untuk mengucapkan salam terakhir.

"Kamsahamnida~" yang dibalas dengan sorakan fansnya, menyerukan namanya berkali-kali. Ia baru saja selesai dengan perform single terbarunya di 'music bank'. Yang disambut positif oleh fans, tentu saja.

Selagi ia melangkah ke luar panggung, kru-kru menyunggingkan senyum kepadanya, 'Kerja bagus, Donghae-ssi', dan untuk formalitas, ia tersenyum tipis balik.

'Kerja bagus? Cuma itu yang bisa mereka katakan dari awal debut sampai sekarang?'

Ia tidak bisa merasa tidak kesal memikirkan mereka tidak melihat perkembangannya sama sekali, 'kan?

'Jelas-jelas sekarang hampir 60 persen dari penonton Music Bank adalah fansku.' Bibir laki-laki itu terbentuk menjadi seringaian kecil.

"Donghae, cepat ganti baju. Kita masih harus ke tempat lain setelah ini."

Donghae mengeluarkan erangan kecil saat mendapati manajernya di depan ruang ganti dan mulai membuka kertas schedule-nya.

Kepalanya pening mendengar schedule yang padat. Ralat. Sangat padat.

"Berikutnya masih ada waktu lebih dari 30 menit, 'kan? Kita tidak tinggal di sini sebentar? Sepuluh menit lagi mereka akan mengumumkan pemenangnya," Donghae mencoba memberi alasan.

"Kau tidak masuk dalam 2 besar minggu ini, tidak mungkin kau menang. Percuma saja kalaupun kita menunggu, hanya membuang waktu." Manajernya membalas. "Perusahaan berharap banyak padamu, tapi sepertinya masih sulit untuk mengalahkan mereka yang dari JYP atau YG, ya?"

Aura di sekitar Donghae berubah kelam. Yang tidak disadari oleh manajernya. Telapak tangannya menjadi sebuah kepalan. Ia benci dibandingkan dan diucapkan seolah gagal. Dia datang ke dunia hiburan ini bukan untuk dibilang gagal!

"Hari jum'at sampai minggu, shooting CF," ujar manajernya, membaca keterangan lebih lanjut, "Ah, dan tempatnya bukan Seoul. Kebetulan sekali, pihak sana pasti sudah menyelidiki biografimu sebelumnya."

Donghae mengernyitkan alis, tapi tidak bertanya apapun.

"Aku yakin kau pasti merindukan kampung halamanmu."

.

-o-o-

"LEE DONGHAE AKAN DATANG KE MOKPO?"

"Ssst! Kecilkan suaramu!"

"JINJJA?"

"Ne, ne, ne! Diam sebentar! Seosaengnim bisa mendengarmu dari luar!"

Hyukjae, dengan mata lebar dan wajah tidak percaya-nya, menutup mulut rapat-rapat ketika melihat Park-seosaengnim melirik mereka dengan mata tajam dari balik jendela yang menghubungkan kelasnya dengan koridor. Dan banyak pasang mata memperhatikan dari tiap sudut kelas.

Praktek kimia, se-membosankan apapun, bukan tempat yang tepat untuk memulai gosip dengan Hyukjae. Sena mencatat dalam hati, menghela nafas.

"... Kau serius?" Hyukjae berbisik, berhasil menenangkan diri.

"Iya, mungkin belum beredar di internet. Tapi aku dapat informasi dia akan ke sini untuk shooting CF hari minggu ini."

"JINJJA?"

"Aish, Hyukkie, sudah kubilang kecilkan suaramu." Sena mendesah kesal.

Tapi Hyukjae tidak mendengar. Oh, bagaimana ia bisa mendengar kalau pikirannya hanya berpusat pada satu info yang baru diterimanya itu? Lee Donghae, satu-satunya idolanya. (Erm, itu benar.) Orang yang dikaguminya. Inspirasinya.

Sahabat yang sudah tiga tahun tidak bertemu dengannya.

Ini kesempatannya untuk bertemu langsung dengan Donghae! Di tempat kenangan mereka, mereka bisa bernostalgia begitu bertemu. Membayangkannya saja membawa senyum lebar di wajah namja itu.

"... Sena-ah. Aku harus bertemu dengannya, apapun yang terjadi!"

.

.

-o-o-

.

"LEE DONGHAEEEE!"

BUAK

"Hei, ming-"

"DONGHAE OPPAAAAA!"

"OMO! DIA MELIHAT KESINI!"

BUGH

"Sena-ah!"

"Hyukkie-aaahh!"

"OPPAAAAAAA! KYAAAAAAA!"

DZIGH

"..."

.

.

".. Apanya yang 'apapun yang terjadi', Hyukjae-ah?" Sena menggeram. Tubuhnya tersandar pada bangku taman terdekat. Nafasnya memburu dan tangannya memegang pinggang yang- yakin, pasti ada bekas biru besok.

"Siapa yang tahu fangirls bisa sekuat itu, Sena-ah!" Hyukjae berseru, tak kalah emosi. Dengan nafas yang juga memburu.

Kemana harga dirinya sebagai namja kalau adu dorong dengan kumpulan cewek saja kalah? Bahkan sampai terdorong, terjambak, ter-apa lagi tadi, entah bagian tubuh macam apa yang membuatnya tersungkur dan terhanyut keluar kerumunan. Walaupun, ya, yang dia hadapi bukan cewek-cewek biasa. Tapi fangirl. Yang fanatik. Dan yang kuat.

"... Kenapa bisa sebanyak dan se-mengerikan itu sih lagipula. Katamu sedikit yang tahu soal kedatangan Donghae ke Mokpo?" tanyanya lagi.

Sena mendecih.

"Satu minggu lalu 'sih, masih sedikit. Siapa ya yang teriak-teriak jadi satu anak kelas tahu?"

Sena tertawa sedikit melihat ekspresi super menyesal Hyukjae setelahnya. Ia menyentil pelan hidung sahabatnya.

"Bodoh, bukan gara-gara itu tahu. Internet melakukan segalanya. Fans dari kota lain yang dekat sini juga pasti tidak melewatkan kesempatan melihat idolanya dari dekat."

"..oh." Hyukjae mendesah pelan. Kenapa Donghae harus se-terkenal itu sih? Walaupun ia bahagia untuk sahabatnya, mimpi jadi idola terkenalnya tercapai- tapi- tapi, argh.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, ya?" ucap Sena tiba-tiba. "Aku tidak mau kembali ke pusaran mengerikan itu." Ia menunjuk kerumunan yang sebenarnya berjarak cukup jauh dari tempat mereka terkapar sekarang. Tapi suara 'kyaaaa! Kyaaaa!' nya terdengar nyaring bahkan sampai ke situ. Padahal sumber yang membuat mereka berteriak saja tidak kelihatan sama sekali.

".. Seingin apapun aku melihat Donghae... Aku juga." Hyukjae membalas dengan suara pelan.

Menjadi fans yang tidak cukup 'kuat' itu berat... Keduanya menghembuskan nafas dengan suara 'haaaah' keras bersamaan.

"Bagaimana kalau kita ke toilet dulu? Mendadak aku kebelet pipis."

.

.

-o-o-

Hyukjae menaikkan resleting celananya, menghembuskan nafas lega.

"Apa Sena sudah selesai ya.." Bisiknya dalam hati. Ia melangkahkan kaki keluar toilet laki-laki dan melirik sedikit ke arah toilet wanita. Sepertinya belum. Hyukjae melirikkan matanya kembali ke bangku di depan toilet dan duduk di atasnya.

Matanya memperhatikan keseluruhan taman di depannya. Taman kecil yang hijau. Di pinggirnya bisa kelihatan laut yang biru dan tenang yang dibatasi dengan pagar dan daratan miring. Khas Mokpo.

Bayangan dua anak berlari-lari di taman ini. Di pinggir laut itu. Bermain ayunan, naik pohon, bahkan sampai turun ke laut untuk saling menjatuhkan di pesisir pantai, terbayang di benak Hyukjae. Ia tersenyum tipis. Lucu, bagaimana kenangan tujuh tahun yang lalu masih teringat dengan jelas bagaikan baru kemarin ia mengalami itu.

Oh, iya.

Apa Donghae sengaja memilih Mokpo untuk shooting ini karena, dia juga rindu tempat ini?

Tidak mungkin. Itu pasti diputuskan oleh produsernya.

Apa Donghae akan mengenalinya kalau ia benar-benar bertemu langsung dengannya?

... Pasti. Kan?

Mustahil Donghae melupakannya, seperti mustahil bagi Hyukjae untuk melupakan Donghae, 'kan?

"Donghae-oppaaaa!"

"Kyaaaaaaaa!"

Mata Hyukjae melebar. Ia menengadahkan kepalanya untuk melihat kerumunan yang tak asing bergerak tak jauh darinya. Kumpulan yeoja itu bergerak seperti kumpulan ikan koi yang berebutan mendapatkan makanannya- yang berjalan di depan mereka dengan kacamata hitam dan senyum simpul. Sementara orang-orang bertopi yang sepertinya kru- atau manajernya, menahan yeoja-yeoja itu agar tidak melakukan sesuatu yang membahayakan artisnya, Lee Donghae itu sendiri.

Hyukjae dapat merasakan jantungnya berdegup kencang. Matanya terus mengikuti sosok itu. Memakai jaket kulit. Tinggi, berkulit bersih, rambut coklat, mata indah yang tertutup kacamata hitam. Sosok yang mendekati kesempurnaan.

Ia masih memperhatikan Donghae dengan wajah kagum saat, kerumunan itu lewat di depannya, dan mata artis itu mengintip dari balik aksesori hitamnya dan bertemu pandang dengan iris cokelat Hyukjae.

Bertemu pandang.

DEG. DEG. DEG.

Untuk sesaat, dunia Hyukjae seperti berhenti berputar. Ia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Senang, panik, sekaligus bingung.

Donghae benar-benar melihatnya? Apa yang harus ia lakukan? Pura-pura tidak melihat karena penampilannya saat ini benar-benar tidak pantas dilihat? Tersenyum dan melambaikan tangan seperti seharusnya seorang teman lama bereaksi? Atau menghampiri dan memeluknya, mengatakan padanya ia benar-benar merindukannya?

Sadar akan kondisi, Hyukjae baru saja akan melakukan pilihan yang kedua, saat tiba-tiba Donghae memutar kembali kepalanya secepat saat ia melirik Hyukjae sekilas, dan berjalan santai seperti saat sebelumnya. Membuat Hyukjae membeku di tempat.

"Hyukjae-ah? Aku mendengar sorakan dari dalam toilet! Apa tadi Donghae- eh? Hei, Hyuk?" Sena yang baru keluar dari toilet melambaikan tangannya di depan Hyuk. Yang ekspresinya berubah menjadi seperti campuran antara bingung, kesal, dan kecewa.

Apa Donghae tidak mengenaliku?

.

.

-o-o-

.

.

Setelahnya, satu hari seperti berlalu dengan sangat cepat. Hyukjae tidak merasa ingin untuk membuka laptop dan mencari info-info atau menonton video seperti rutinitas biasanya. Setelah pulang dari taman dengan Sena, ia menghabiskan waktu di rumah dengan makan dan tidur. Membuat Sena bertanya-tanya apa yang terjadi lewat beberapa sms dan telepon, tapi Hyukjae hanya menggeleng dan mengatakan 'tidak apa-apa'. Klise seperti Sena katakan dengan suara kesal di balik telepon.

Saat flashback kejadian di taman tadi terputar di benaknya, Hyukjae menggenggam erat kain bantal di bawah tangannya dan mengeluarkan erangan frustasi.

Apa dia tidak melihatku?

Tidak, jelas-jelas siang tadi Donghae melihatnya. Tapi jelas-jelas ia tidak menunjukkan reaksi apapun yang bisa membuat Hyukjae tahu ia menyadari keberadaannya.

Walaupun sedang dalam keadaan yang tidak pantas untuk saling menyapa, setidaknya ia bisa tersenyum atau apa 'kan? Mereka sahabat yang sudah tidak bertemu selama tiga tahun!

TING TONG

Hyukjae menggeram saat suara bel itu memecah pikirannya. Ia membenamkan kepala dalam bantal. Berharap umma atau noona-nya akan menjawab dan membuka pintu supaya bunyi itu segera berhenti.

TING TONG.

TING TONG.

"Argh." Hyukjae baru teringat fakta bahwa umma-nya sedang pergi belanja. Dan Sora pergi ke rumah teman- yang berarti dia tidak akan pulang sampai di atas jam tujuh malam.

Dengan malas, Hyuk bangun dari tempat tidurnya, menuruni tangga dan menuju pintu depan dengan wajah kusut saat bel itu berbunyi lagi. "Yaa, sebentar."

"Siapa-"

Sosok seseorang dengan jaket berwarna kuning gading dan hoodie yang menutupi sampai sebagian dahi, masker dan celana panjang berdiri di depannya segera setelah Hyukjae membuka pintu. Kalau ia tidak mengenali orang itu, ia pasti sudah mengambil jarak dan bersiap untuk menutup pintu kalau-kalau ia orang jahat yang ingin menghipnotis dan merampok rumahnya. Tapi... tidak.

Ia tidak bisa tidak mengenali sepasang iris coklat seperti manik-manik, dua kelopak mata yang membuat mata orang tersebut sesuatu yang sangat mendamaikan yang pernah Hyukjae lihat. Dan senyum yang secara tidak langsung terlihat dari balik maskernya.

Tidak, saat mata dan senyum itu adalah sesuatu yang selalu ingin Hyukjae lihat selama tiga tahun terakhir ia menghabiskan waktunya di Mokpo.

"... Donghae?"

.

-o-o-

::TBC


A/N:

Sena yang disini itu pasangan blind datenya Hyuk di WGM. Pribadi, aku suka dia~ walaupun adegan dia ditangisin Hyuk itu kontraversial, tapi mereka berdua lucu XD ( tapi masih lucuan eunhae lol *desh* ), soalnya sempet kepikiran pake HyunA atau Gyuri, tapi mereka terlalu..em, 'mewah' buat jadi karakter orang biasa lol. Kalo Hyoyeon bakal ada peran sendiri nanti~

Donghae disini rambutnya coklat tua, terus yang di poster itu waktu dia perform Beautiful di SS2. Aku ga gitu ngerti soal sistem kerjanya music bank dan korean entertaiment industry, jadi sekenanya aja ya mianhae.. ._. Kalo ada readers yang berminat menjelaskan sedikit, silakaan! XD

Lastly, salam kenal buat semua author senior fandom ini ^^ mohon kritik dan saran lewat review, readers yang bukan author juga yaa! Gomawo :*

Reviews make update faster!

~AiNeko