Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
Hitam dengan putih. Yin dan Yang. Gelap dengan terang. Begitulah asumsi yang menjadi perbandingan antara benar dan salah. Anggapan-angggapan bahwa pada akhir suatu cerita putih diatas hitam. Mencap putih sebagai pembawa kebenaran dan hitam pembawa kekelaman. Dalam satu dua kasus kau bisa menggunakan kosa kata itu dengan tepat. Tapi bukan berarti semuanya kan? Suatu pembodohan? Ah tidak..ini mengenai 'relatif'. Relatif dari mana kau memandangnya, relatif subyeknya.
Kuberitahu tentang lambang putih yang 'pernah' dipercayai oleh sebagian manusia yang menempati desa daun atau sebutlah Konoha. Garis bawahi kata pernah, karena pada kenyataannya kini sebagian dari mereka mungkin sudah melupakan keberadaannya.
Dewi Shiroi. Putih. Perlambang suci. Yah memang pas dia menyandang gelar itu. Bukan hanya kulitnya yang berwarna putih bersih ah..putih susu. Hatinya yang lembut, penuh kerendahan hati. Suci? Yah kurasa dia memang masih suci.
Terlahir dengan dikaruniai anugerah berlebih dari Kami. Bohong besar jika kau mengatakan dia gadis buruk rupa, buruk moralnya. Dia sangat santun, penyayang, ah..hampir mendekati sempurna.
Semua penduduk Konoha mengelu-elukannya. Selalu menomorsatukan dirinya. Tapi hey..tidakkah mereka sadar? Sikap mereka yang memujanya itu telah menumbuhkan kedengkian di hati sahabat Sang Dewi. Katakanlah dia Kuroi. Pemuda yang selalu berada di dekatnya sejak mereka baru melihat isi dunia sampai mereka kini menjadi sepasang remaja mendekati dewasa. Bingung? Lupakan soal itu. Awalnya Kuroi hanya menganggap bahwa sikap penduduk itu hanya hal biasa. Namun entah iblis darimana yang membisikinya. Membisikkan niat jahat, niat kelam sekelam warna rambutnya. Hatinya yang memang sudah jengkel perlahan diisi satu tetes dua tetes dendam, dan kelamaan tetesan-tetesan itu berkumpul dan menghitamkan hatinya.
Purnama di malam ke dua puluh tujuh bulan Oktober tahun itu. Ditemani sang iblis tak kasat mata yang seakan menuangkan minyak penyulut api dendamnya. Semakin dituangkan semakin besar.
Langkah mengendap menghasilkan bunyi tap tap yang lembut. Mata dengan api dendam yang membara, hati dengan tinta hitam yang sudah menodainya. Nyanyian hewan malam melodi kematian. Melodi kematian yang menjadi pemacunya.
Matanya menatap nyalang sesosok gadis yang terlelap terbungkus selimut. Seolah mampu melindunginya dari apapun, namun tidak dari makhluk nista yang tengah menjilat bibirnya lapar itu.
Masih tetap terlelap saat kulit porselennya diraba sensual, saat lidah tak bertulang menyapu sisi wajahnya. Membelalak kaget saat di depan wajahnya terdapat wajah lain yang tengah menyeringai seram.
"Ku-" Belum sempat mengeluarkan suara, matanya kembali membelalak. Noda merah terciprat membasahi selimutnya yang semula berwarna putih bersih.
Tak ada jeda. Tanpa ampun tubuhnya dikoyak secara bertubi-tubi dan membabi buta. Tak ada satu patah kata pun yang meluncur dari mulutnya. Aneh? Ya. Mulutnya seakan terkunci rapat.
Tubuh kecilnya meronta dengan perlawanan yang sia-sia. Hal terakhir yang dilihatnya pemuda itu menggumamkan satu kata maaf sebelum semuanya menggelap. Sudah saatnya dia berdiri di depan gerbang kematian. Terbang membawa seikat kenangan menuju Nirwana. Mengucapkan selamat tinggal dari dunia fana yang baru dirasakannya selama kurang lebih delapan belas tahu. Ya..delapan belas tahun memakan kenyang pujian-pujian tanpa menyadari satu hati yang terluka karenanya dan akhirnya empu dari hati itulah yang merenggut paksa rohnya untuk tercabut dari raga.
"Tunggu beberapa waktu lagi Kuroi…"
.
"Apa yang kau lakukan padanya, Sasuke?" Pemuda bernama Itachi itu bertanya pada Sasuke penuh interogasi. Bukannya bodoh, Sasuke hanya pura-pura tidak memahami maksud kakaknya itu dengan menggumamkan kata andalannya.
"Hn?"
Itachi mendengus kesal. "Apa yang kau lakukan pada isi kepalanya? Kenapa dia terlihat baik-baik saja."
"Hanya mengunci ingatannya," Jawab Sasuke enteng.
"Kau benar-benar gila, Teme!" Pekik Naruto sambil menuding Sasuke dengan ujung telunjuknya.
"Singkirkan jarimu jika tak ingin melihatnya membusuk di depanmu, Dobe" Ujar Sasuke pedas membuat nyali Naruto menciut, buru-buru ditariknya kembali jarinya.
Neji memandang datar mereka berdua lalu pandangannya terhenti pada Sasuke agak lama. Empat tahun dia mengenal pemuda itu dan itu tak membuatnya cukup untuk memahami karakter Sasuke. Terlalu gelap dan terlalu rapat. Seakan tak ada celah bagi orang lain untuk menapaki lebih dalam sisi lain dirinya. Yah..empat tahun dia tergabung bersama Akatsuki. Kelompok bayaran yang tediri dari beberapa anggota dengan latar belakang yang berbeda-beda. Namun itu tak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap bekerja kompak demi mendapat beberapa lembar yen. Sasuke adalah anggota kedua setelah Neji. Empat tahun sempat Neji habiskan untuk bertemu pandang dengan pemuda Uchiha itu. Sampai suatu hari Sasuke mendapat perintah untuk menjadi pengawal pemimpin Konoha. Kemampuannya yang memang sudah melalangbuana di kalangan rakyat Konoha rupanya telah sampai di telinga Asuma dan memintanya untuk menjadi pengawalnya, atau lebih tepatnya pengawal – sekaligus pengasuh – bagi Putri Kerajaan.
Dan kini pemuda itu telah kembali dan membawa seorang gadis kecil yang ternyata adalah 'majikan' Sasuke sendiri. Pemikiran yang tidak-tidak memang sempat membayangi Neji perihal sikap Sasuke yang menurutnya lancang. Ya, lancang. Membawa kabur Seorang Putri dari pemimpin desa Konoha. Ah..rupanya Tuan Hyuuga ini belum mengetahui kebenaran yang sedang terjadi sehingga menyebabkan Sasuke menculik Sakura.
"Kurasa..ramalan itu memang benar adanya" Kali ini Hidan yang angkat bicara. Mengelus dagunya dengan memasang pose berpikir.
"Apa maksudmu, Hidan?" Tanya Naruto dengan raut penasaran yang tak dibuat-buat.
"Dewi Shi-"
"Hwaaa…Sasukeeee-niiiiiiii!" Pengacau cilik telah muncul. Yah..setidaknya itulah jeritan inner Sasuke saat melihat gadis kecil berlari menubruk tubuhnya.
"H-hey..lep-" Niat Sasuke ingin melepaskan pelukan Sakura dan mengomelinya terhenti saat melihat lutut gadis itu mengucurkan darah segar. Kristal bening menggenang di pelupuk emerald itu. Inilah saat-saat yang paling pemuda itu benci.
"Dia tersandung batu saat berlari mengejar layang-layang," Seorang gadis pirang baru saja muncul dibalik pintu dengan bercucuran peluh.
"Hey..Sakura-chan coba kulihat lukamu," Sakura menelengkan kepalanya pada Naruto yang memasang wajah lembut. Baru satu langkah, tubuhnya malah terangkat tinggi. Siapa lagi pelakunya kalau bukan..
"Biar aku saja yang mengobati." Naruto dan Ino – si gadis pirang – hanya memasang wajah bengong dengan kelakuan Uchiha satu itu.
"Dia..sehat kan?" Pertanyaan Naruto hanya dijawab angin yang menerbangkan helaian kuningnya.
.
"Sasuke-nii"
"Hn?"
"Boleh kupinjam pedangmu itu?" Tanya Sakura seraya menunjuk katana yang tersampir di sisi tubuh Sasuke yang saat itu tengah mengobati luka di lututnya.
"Tidak"
"Dasar pelit!" Sakura menggembungkan pipinya, membuat wajahnya terlihat menggemaskan. Sasuke terkekeh kecil.
"Jangan tertawa seperti itu!" Bentak Sakura masih ngambek. Sasuke mengedikan bahu. Selesai mengobati luka Sakura, dipangkunya gadis itu walau Sakura sedikit memberontak namun akhirnya gadis itu mengalah dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Sasuke. Tangan mungilnya memainkan tonjolan di leher bagian depan Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya mendengus pelan.
"Dulu..ada seorang putri kecil yang sangat manja dan nakal. Dia begitu dimanjakan oleh kedua orang tuanya," Sasuke melirik sekilas Sakura yang mendadak menjadi anteng. Tangan mungilnya kini diletakkan diatas kaki -benar anggun dan manis jika sudah seperti itu. Membuat jakun Sasuke naik turun.
"Kau menyindirku eh..Tuan Uchiha."
"Diam dan dengarkan. Jangan menyela sampai aku menyelesaikannya!" Perintah Sasuke membungkam Sakura, "Suatu hari kerajaannya diserang oleh sekelompok perompak. Semua pasukan dikerahkan, bahkan sang raja pun turun tangan. Sang Putri tak menyadarinya karena sang raja memberikan obat bius pada makanan yang sebelumnya telah dia makan. Rupanya sang raja sudah memperikarakan kejadian itu akan terjadi. Sang raja beserta seluruh pasukannya bertarung sampai titik darah penghabisan. Namun sayangnya sang raja terbunuh. Dia yang sebelumnya telah berjanji di depan makam istrinya tak bisa memenuhi janjinya. Janji untuk melindungi putinya. Detik-detik sebelum kematiannya, dia menitipkan Sang Putri pada seorang pemuda yang telah dipercayainya. Pemuda itu mengangguk lalu membawa Sang Putri pergi ke tempat aman. Tiga tahun sejak kejadian itu Sang Putri tumbuh menjadi seorang gadis catik yang kuat. Dia sangat ahli dalam pedang. Suatu hari.."
Sasuke membelai sayang helaian halus Sakura. Bersyukur pada Kami karena masih bisa membelai Si Merah Muda itu. Putri dalam dongeng itu sendiri sebenarnya adalah gadis yang kini tengah terlelap dalam dekapannya.
Dia mengetahui hampir semuanya soal latar belakang penyerangan itu. Salahkan pada seorang anggota ANBU yang dengan cerobohnya meletakkan salah satu gulungan misi diatas meja kerja Hokage yang saat itu tengah kosong dan dengan jendela ruangan yang terbuka. Sasuke membacanya. Semuanya. Satu yang disadarinya. Sakura dalam kondisi terancam. Entah kapan lagi orang itu akan menunjukkan diri. Mata sharingan tidak bisa memprediksi soal waktu., tapi hanya berupa gerakan. Menunggu itu menyebalkan. Dan menunggu itu mendebarkan. Tapi satu yang Sasuke tanamkan dalam keyakiannya. Dia akan melindungi miliknya. Bersumpah demi Dewi Shiroi bahwa titipan orang itu harus dijaganya dengan seluruh nyawanya sekalipun.
"Kau memberitahuku apa tujuan aku dilahirkan di dunia,Hime.." Dikecupnya pipi tembem gadis itu lalu menyusulnya dalam alam mimpi dengan sejuta keindahan menyingkirkan kegelapan kehidupan.
.
.
Bau anyir bangkai manusia menyengat. Mengundang sekawanan lalat dan gagak hitam. Mengepakkan sayap menari penuh kebahagiaan. Santapan terhidang. Ucapkan itadakimasu berbaur bersama yang lainnya.
Satu pekikan nyaring disusul dengan langkah-langkah yang terburu-buru. Membubarkan pesta para gagak, namun tidak dengan lalat-lalat yang masih beterbangan.
Pertanyaan bagaimana mungkin beredar di kepala-kepala itu. Malam itu semuanya tampak baik-baik saja. Setidaknya itulah yang mereka ketahui. Hujan turun dengan tidak berperikemanusiaan. Tak ada dentingan logam atau pekik kesakitan. Mungkinkah teredam dengan merdunya suara hujan yang tercipta karena berbenturan dengan tanah? Mustahil. Lalu kenapa?
"Asuma-sama.." Shikamaru menunduk sedih melihat tubuh tegap itu kini terbujur kaku dengan keadaan yang menyedihkan. Namun bisakah disebut menyedihkan jika seulas senyum tulus itu terpatri? Wajahnya terlihat damai walau tidak kentara. Mengambil korek api milik pria itu yang tergeletak tak jauh darinya. Seakan menjadi alarm pengingat, pemuda itu berlari meninggalkan pria yang disebutnya Asuma itu menuju ruangan yang menjadi satu-satunya harapan terakhir ditengah keputusasaannya.
BRAKK
Kosong. Bahkan aroma cherry itu seolah sudah melebur bersama sisa angin semalam. Hilang tak berbekas. Bunyi bruk terdengar saat dia mendudukan diri diatas ranjang berwara merah muda lembut itu.
Shikamaru tidak menggunakan frasa 'jika saja' dalam kamusnya, terdengar seperti hal yang tabu baginya. Karena memang kenyataannya begitu. Jika saja dekat dengan pengandaian, jauh dengan realistis. Namun kini jika saja meracuni isi kepalanya.
Jika saja dia tidak pergi malam itu.
Jika saja dia menuruti permintaan Sang Hime untuk menemaninya tidur di kamarnya.
Jika saja dia tidak menjalankan misi itu.
Namun apa? Itu hanya dalam jika saja.hilangkan itu Shikamaru dan terima kenyataan. Kau dan kecerobohanmu. Tapi ini terlalu mustahil. Ya..otak jeniusnya menolak untuk menerima (mungkin) kenyataan bahwa Hime telah pergi – pergi dalam artian lenyap dari bumi dan tak berbekas. Sesaat rahang Shikamaru mengeras saat logika dan emosi sesaatnya bertarung. Ujung benang kusut itu telah ditemukan. Memicing dengan gigi gemelutuk.
"Akan kuremukkan tulangmu jika kau kutemukan, Uchiha.." Desis pemuda itu pada angin yang berembus. Menghantarkan emosinya pada pemuda di seberang. Pemuda yang telah mencuri..ah..dia tepis niat itu dan melesat pergi setelah sebelumnya menyambar selendang hijau yang tergeletak diatas ranjang. Mencium aroma yang memabukkan itu sebagai pemacunya.
Dapatkan dia Shikamaru…
TBC
Review?
