Boundaries

Naruto bukan punya sayaahh!


Chapter 2:

Hinata menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di depannya, Sasuke menatapnya tajam. Di samping kanannya, Hanabi menatap Sasuke dengan tatapan ditajamkan. Di samping kiri Hinata, Neji terdiam dengan muka datar. Mereka berempat duduk mengelilingi meja kecil. Terus begitu dalam waktu yang lama, hingga akhirnya Hanabi bangkit.

"Sampai kapan kita akan diam begini terus?" serunya kesal.

"A-ano…."

"Bagaimana kalau kita melepaskan rantai di lehernya dulu?" ucap Neji memotong perkataan Hinata. "Itu yang ingin kau katakan kan, Hinata?"

Hinata mengangguk seraya tersenyum. Hanabi kembali duduk dan menatap Sasuke.

"Kenapa lehernya dirantai?" tanya Hanabi.

"Ka-karena… a-aku be-belum melakukan pe-perjanjian d-de-dengannya…," ucap Hinata. Neji dan Hanabi saling lirik, sedikit terkejut.

"Darimana kau tahu, Hinata?" tanya Neji.

"Hn," Sasuke menyeringai tipis. "Itulah mengapa aku memilihmu."

Wajah Hinata memerah. Mengetahui apa yang Neji dan Hanabi tidak tahu, baginya sudah seperti pujian tersendiri. Ditambah Sasuke yang menyeringai—walaupun Hinata tetap menganggapnya menyeramkan, namun sepertinya Sasuke tak seburuk itu.

"Kalau begitu, silahkan buat perjanjian dengannya," ucap Neji. "Kami pergi dulu."

"Eeh? Neji-nii, bagaimana dengan Hinata-nee?" protes Hanabi. Namun Neji tak menjawab, hanya menarik gadis kecil itu keluar ruangan. "Hinata-nee!"

"Ah…," tangan Hinata menggapai, hendak menahan kedua saudaranya pergi, namun pintu keburu ditutup Neji. Tangan Hinata langsung turun, lesu. Kenapa kakak sepupunya itu begitu tega membiarkan ia sendiri bersama orang yang ia takuti?

Kini, tinggal Hinata dan Sasuke yang saling berhadapan. Hinata menunduk makin dalam, sementara Sasuke masih menatapnya tajam.

"Bisakah kita mulai sekarang?" tanya Sasuke sedikit bosan. Suara Sasuke mengagetkannya, membuat gadis itu mendongak.

"I-iya!" jawab Hinata. "Ta-tapi a-aku tak k-kuat mi-minum sake..."

"Pantas semua orang meremehkanmu," ucapan Sasuke langsung menusuk Hinata. Gadis itu kembali tertunduk, menahan tangis.

"Kau tahu, ada cara lain untuk melakukan perjanjian," ucap Sasuke menghela napas. Tak menyangka gadis ini begitu rapuh.

Hinata mendongak sedikit, penasaran.

"Cara lainnya adalah, darahmu dan darahku harus bersatu."

"Eeh?" Hinata mengangkat wajah sepenuhnya, menatap Sasuke kaget. Namun wajah Sasuke mengatakannya seakan hal itu biasa.

"Tapi, kalau melakukan perjanjian itu, saat kau mati, aku juga ikut mati. Aku tak bisa diturunkan kepada penggantimu nanti. Itulah perjanjian setia yang sebenarnya."

"Ba-bagaimana…."

Sasuke menggigit jempolnya, membuat darah segar keluar. Ia menatap Hinata lurus, mengacungkan jempolnya yang berdarah. Hinata mundur. Ia benar-benar belum siap.

"Kau tak bisa mundur lagi," ucap Sasuke. "Ini perintah ketua klan sebelumnya."

Hinata menggeleng, ketakutan.

"Kau ingin dianggap sehebat saudara-saudaramu kan? Lebih hebat dari saudara-saudaramu?"

Hinata melirik Sasuke, tergoda sedikit. Lalu kemudian menggeleng, "Aku tak pernah berpikiran seperti itu!"

"Benarkah?" Sasuke mendekati Hinata, membuat gadis itu makin mundur.

"Yo-yokai-san…," Hinata mundur ketakutan hingga punggungnya menabrak dinding.

"Itu bukan namaku," ucap Sasuke menyipitkan matanya, kesal.

"Ma-maaf… bi-bisakah ng…."

Sasuke tak memperdulikan Hinata yang wajahnya sudah memerah karena ketakutan. Ia makin mempersempit jarak antara keduanya. Hinata memejamkan mata, ketakutan. Badannya kembali gemetar, dan jantungnya kembali berdentum. Namun tak terjadi sesuatu. Hinata mulai membuka mata pelan… dan menemukan Sasuke menggapai tangannya dan menggigit jempol Hinata.

"Aa—" Hinata mengerang kesakitan.

"Heh. Begitu saja kau sudah mengeluh," cibir Sasuke. Yokai tampan itu tak memperdulikan Hinata yang mengelak dengan terbata-bata, namun menempelkan jempolnya dengan jempol Hinata. Luka dengan luka. Darah dengan darah.

"Ah," Hinata menyadari setetes noda darah mengotori tatami di bawahnya. Namun detik berikutnya, Hinata sudah tak sanggup mengeluarkan desahan apapun karena kekagetan menguasasinya. Berpusat di noda darah yang ia perhatikan, muncul lingkaran, meluas hingga Hinata dan Sasuke masuk ke dalamnya. Ruangan bergaya Oriental itu telah berubah menggelap, seakan keduanya ditelan kegelapan. Darah yang mengotori tatami itu kembali keatas, memanjang, berubah menjadi tali merah dan mengikat keduanya.

Hinata tak bisa lagi menjerit. Suaranya seakan hilang. Ia hanya bisa memejamkan mata, ketakutan, berharap ini hanyalah mimpi dan begitu ia bangun, ternyata kakeknya masih hidup dan ia bisa hidup tenang selamanya.

"Buka matamu," suara Sasuke mengagetkannya, membuatnya membuka mata. Semua telah kembali semula. Ruangan tempat mereka duduk tadi, punggung Hinata yang menabrak dinding, dan wajah Sasuke yang terlalu dekat. Wajahnya seketika memerah.

"A-anoo…."

"Darah kita telah menyatu, Nona," ucap Sasuke membungkuk hormat. "Panggillah aku kapan pun kau mau. Perintahkan apapun, bahkan mati sekalipun, akan kujalani jika itu perintahmu."

Hinata mengerjapkan matanya, bingung. Apakah ini Sasuke yang sebelumnya? Yang mencibirnya? Yang membuatnya ketakutan?

"Jangan panggil aku 'Nona', U-Uchiha-san," ucap Hinata. "Pa-panggil a-aku Hinata."

"Baik, Hinata-sama."

"Ta-tanpa suffix," tambah Hinata.

"Dan bisakah Anda memanggil saya dengan nama depan? Maafkan ketidak—"

"S-Sasuke…."

Sasuke mendongak, terkejut karena majikan barunya—yang ia kira penakut dan kurang percaya diri—bisa memotong ucapannya.

"S-Sasuke-san," wajah cantik itu memerah. "Tolong jangan pakai bahasa baku dan terlalu sopan. Berlakulah seperti biasa."

Seketika Sasuke menyeringai. Ia kembali duduk lega dan terlihat santai, "Inilah mengapa aku memilihmu."

Pernyataan—yang sebenarnya tidak jelas, pujian atau bukan—berhasil membuat wajah Hinata memerah. Gadis itu menunduk, berharap Sasuke tak melihat wajah memerahnya. Sudah dua kali Sasuke mengatakan hal itu, namun Hinata belum mengerti benar apa maksudnya. Apa alasan Sasuke sebenarnya. Dan seakan mengerti apa yang Hinata pikirkan, Sasuke menambahkan.

"Kalau aku memilih salah satu dari kedua saudaramu, mungkin aku masih berbahasa normal, disuruh-suruh, tak bisa sebebas ini," jelas Sasuke, membuat Hinata mengangkat kepalanya.

"Ta-tapi a-aku y-yang p-paling lemah… ti-tidak s-seharusnya kau m-memilihku," ucap Hinata.

"Karena itu aku akan membuatmu lebih kuat dari semua Hyuuga disini," jawab Sasuke santai. Mata Hinata melebar, tak percaya Sasuke dapat mengatakan hal itu dengan begitu santai.

"Maka dari itu, suruhlah aku melatihmu hingga kau layak menjadi kepala klan berikutnya," tambah Sasuke lagi. Hinata terdiam. Jauh di lubuk hatinya, ia masih ingin kabur, ingin pergi keluar Konoha, bebas sebebas anak remaja lainnya. Bukan mengurusi klan dan yokai-yokai mengerikan. Bahkan, beberapa saat yang lalu ia masih takut pada Yokainya.

"Bukan saatnya kau lari. Ini saatnya kau berdiri dan menghadapi," ucap Sasuke lagi, membuat mata Hinata terbeliak.

"B-Bagaimana…?"

"Kau dan aku satu sekarang, ingat?"

Mata lavender itu menatap mata Sasuke. Entah apa artinya. Dan akhirnya, terucaplah perintah Hinata, "Latih aku hingga layak menjadi kepala klan berikutnya."

Yokai tampan itu kembali menyeringai. "Baik."


Walaupun tak terlihat di wajah datarnya, Hinata tahu benar kalau yokai miliknya itu sedang bosan. Luar biasa bosan, malah. Ia hanya memandangi Hinata dengan tatapan kosong. Sementara yang ditatap merasa benar-benar bersalah dan tak enak.

Gara-gara telah melakukan perjanjian, tubuh Hinata belum bisa beradaptasi dengan Sasuke. Karena itulah sekarang mereka disini, di kamar Hinata, dengan Hinata terbaring lemah.

Pintu diketuk. Hanabi menggeser pintu kamar Hinata, membawakan makan malam.

"Terima kasih, Hanabi," ucap Hinata seraya tersenyum lemah.

Alis Hanabi bertautan, khawatir, "Nee-chan baik-baik saja?"

"Ada aku disini," jawab Sasuke, membuat Hinata terperangah.

"Aku tak bertanya padamu," balas Hanabi ketus. "Nee-chan, katanya ada yang ingin kau ceritakan?"

Hinata terdiam, mengingat lagi perkataannya. Ah, seusai ayahnya melakukan perjanjian dengan Itachi!

"Tidak jadi," ucap Hinata. Alis Hanabi makin mengkerut, namun karena ingin kakaknya istirahat, ia hanya bisa mengangguk dan pamit.

Setelah pintu ditutup, ruangan kembali sunyi. Hinata mengambil makanannya, sementara Sasuke terdiam.

"Kau… selalu bercerita pada adikmu?" tanya Sasuke.

Hinata, yang sedang meniup sup yang panas, menoleh, tersenyum kecil, "Iya. Tapi dengan adanya kau, mungkin aku akan bercerita kepadamu."

"Hn," Sasuke kembali terdiam. Namun akhirnya bicara lagi, "Sebenarnya tidak perlu. Karena sekarang, kau dan aku satu."

Kalimat itu. Berkali-kali telah Sasuke ucapkan ke Hinata, membuat gadis itu merasa bodoh dan bebal. Untuk menghilangkan rasa malunya, gadis itu kembali meniup sup panasnya.

"Kenapa kau tak menyuruhku untuk menyuapimu?" tanya Sasuke, membuat Hinata hampir tersedak.

"A-a-a-ap-apaa?"

"Menyuapimu."

"U-untuk apa?" tanya Hinata balik.

Sasuke menaikkan alisnya heran. "Agar kau bisa istirahat."

Hinata tertawa kecil, "Aku memang lelah, tapi paling tidak, tanganku masih bisa berfungsi."

Jawaban itu sepertinya sanggup membungkam Sasuke. Setelah gadis berambut gelap itu menyelesaikan makanannya, sunyi kembali datang. Senyap menguasai ruangan. Wajah Sasuke kembali bosan.

Hinata bertanya-tanya, apa yang biasanya Sasuke lakukan? Kenapa Sasuke meunggunya disini? Kenapa dia tak kembali ke alamnya sebentar, atau ikutan istirahat? Berapa umur Sasuke? Apa yokai bisa jatuh cinta? Kalau iya, apakah Sasuke memiliki orang yang ia cintai? Bagaimana dengan orang tuanya? Dan ribuan pertanyaan lain berterbangan di otak Hinata. Namun gadis itu tak berani bertanya. Segan. Canggung. Tapi ia penasaran.

"Kalau kau ingin bertanya, tanyakan saja," ujar Sasuke, membuat Hinata terperangah sekian kalinya. "Tak usah segan, kau—"

"—dan aku satu sekarang," potong Hinata, terkekeh sendiri. "Padahal aku baru bertemu denganmu tadi, tapi aku sudah hapal kata-katamu."

Sasuke tak menjawab. Wajahnya masih sama datar, namun Hinata tahu benar kalau yokai miliknya itu mulai merasa santai.

"Eh," Hinata menyadari sesuatu. Ia terduduk dengan mata fokus ke Sasuke, membuat sebelah alis Sasuke terangkat heran. Tangan putih itu menggapai leher yokai miliknya, menyentuh dan meraba kesekelilingnya.

"Rantainya hilang!"

Sasuke takjub sekaligus heran. Takjub akan kepolosan majikan barunya dan heran karena perkataannya. Bukankah tadi ia sendiri yang bilang kalau rantainya baru lepas setelah melakukan perjanjan?

"Tentu saja, bukankah—" Sasuke tercekat, melihat Hinata yang kelihatannya sudah tak lagi mendengarkan, melainkan tersenyum bahagia dengan mata berkaca-kaca.

"Syukurlah, Sasuke-san," ucapnya tulus, penuh syukur.

Sungguh, Sauke tak habis pikir. Tak pernah menyangka hati Hinata benar-benar selembut dan setulus ini. Selemah ini. Manusia, decaknya dalam hati. Mengolok sekaligus memuji. Harusnya kini ia yang bersyukur, telah memilih Hinata. Ia dapat memelihara dan menjaga hati mulia itu. Ia dapat melindungi malaikat itu.

"Untunglah aku memilihmu," gumam Sasuke tak sadar, hanya sebuah bisikan lirih dan pelan. Namun sunyi yang menghiasi kamar Hinata membuat gumaman itu terdengar oleh pemilik kamar walaupun samar-samar.

"Apa?" tanya Hinata, menyangka Sasuke berbicara padanya. Yokai itu menggeleng pelan, kembali menidurkan majikannya dan menyelimutinya. "'Istirahatlah," ujar Sasuke.

Hinata hanya mengangguk pelan, menuruti Sasuke. Tak lama, dirinya tertidur.


Pagi hari, ketiga Hyuuga muda berangkat ke sekolah. Sepagian ini, Sasuke berulang kali mendadak muncul di samping Hinata, mengagetkan majikannya itu. Hingga Hinata siaga 1, siap-siap kalau Sasuke muncul lagi.

Setelah berpisah dengan Neji dan Hanabi, Hinata berjalan sendiri menyusuri koridor sekolah. Ia masih bersiap-siap, kalau nanti Sasuke mendadak muncul. Namun yang muncul bukanlah Sasuke, melainkan cowok berambut pirang dengan wajah yang sepertinya selalu sumringah. Ia berjalan berlawanan arah dengan Hinata. Tangannya terangkat, memberi salam.

"Ohayou, Hinata!" sapanya.

Wajah Hinata seketika memerah, mengangguk tidak wajar, "O-ohayou, Naruto-kun!"

Begitu Naruto lewat, Hinata segera masuk ke toilet, mengatur degup jantungnya. Hari belum siang, tapi jantungnya telah bekerja begitu keras.

"Oh, namanya Naruto ya."

Lagi-lagi, jantungnya diserang. Sasuke, yang sudah berdiri disebelah Hinata, kembali mengejutkan Hinata. Gadis itu mengelus dadanya. Begitu ia siap tadi, Sasuke tak kunjung muncul, sekarang….

"Yah, memang itulah tujuanku seharian ini. Mengagetkanmu," jawab Sasuke tanpa ditanya. Tak memperdulikan mata Hinata yang melebar, ia melanjutkan, "Jadi, kau menyukainya."

"S-Siapa?"

"Naruto," jawab Sasuke singkat. Wajah datarnya tak menunjukkan apa-apa. Hanya ketertarikan, sedikit. Begitu sedikit hingga Hinata tak terlalu sadar.

Berusaha menghilangkan warna merah yang menghiasi pipinya, Hinata menjawab gugup—melihat kelain arah, tapi bukan ke arah Sasuke, "Kita satu sekarang. Jadi kau tahu apa jawabannya kan?"

Sasuke bergumam sinis sebagai jawaban. Tanpa aba-aba, ia mengangkat tubuh Hinata dan mendudukannya di sebelah westafel hingga tinggi mereka sama.

"A-a—"

Sebelah alis Sasuke terangkat. Tanpa perlu berpikir, Hinata tahu, Sasuke menuntut cerita selengkapnya. Apalagi tangan Sasuke berada tepat di sebelah kaki Hinata—menguncinya dan Hinata tahu persis, Sasuke takkan membiarkannya pergi sebelum bercerita.

"B-Baiklah," Hinata menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Kau mau tahu apa saja?"

"Semunya," jawab Sasuke singkat, namun menuntut.

Hinata menelan ludah begitu melihat mata Sasuke yang berkilat, "Ngg… yah, aku menyukai Naruto dari dulu. Namun dia… mm, menyukai Sakura," Hinata menambahkan cepat-cepat begitu melihat Sasuke kembali menaikkan sebelah alisnya, "—temanku sejak kecil."

"Klasik," komentar Sasuke. "Ternyata membosankan."

Kepala Hinata tertunduk makin dalam, namun tak bisa menyembunyikan kekehannya, "Kau tertarik pada kisah cinta?"

Sasuke mendecih pelan, "Hanya kisah majikanku. Jadi, majikanku menyukai orang idiot rupanya."

"I-i-i-idiot?"

"Dia tak sadar kau menyukainya, padahal wajahmu seolah spanduk yang bertuliskan 'AKU SUKA PADAMU'. Kalau begitu, apa namanya?"

Wajah Hinata kini memerah seutuhnya, "A-a-a-a-ap—"

Bel berbunyi, menghentikan gagap Hinata yang semakin menjadi-jadi. Tanpa disuruh, Sasuke kembali menurunkan tubuh Hinata dan menepuk kepalanya.

"Pulang sekolah nanti, latihan pertama," ucap Sasuke dengan wajah datarnya, lalu menghilang. Sementara Hinata memegangi wajahnya yang masih merah membara, bertanya-tanya dalam hati apakah Sasuke benar? Apakah Naruto memang sebodoh itu? Ataukan ia yang bodoh?

Hinata menggeleng putus asa, lari menuju kelasnya.


BRUKK…

Keduanya terjatuh. Hinata dan Hanabi. Shikigami mereka kembali menjadi kertas biasa yang tertiup angin. Baik Hinata atau Hanabi sama-sama mengatur napas mereka. Diantara mereka, Sasuke dan Neji berdiri, sama-sama berwajah datar, tak bereaksi apapun.

Hinata mebiarkan rambut dan badannya kotor karena terbaring di lahan kosong. Dadanya naik turun, keringat mengucur deras. Ia terlalu letih hingga harus memejamkan matanya untuk mengumpulkan kekuatan. Namun, begitu ia membuka mata, shikigami Hanabi menyerangnya.

"Cukup!" seru Sasuke dan Neji bersamaan. Hinata menghela napas lega, tak peduli meskipun lagi-lagi Hanabi mengalahkannya. Hanabi lebih cepat pulih dan menyiapkan shikigaminya dibanding Hinata.

Hanabi mengulurkan tangannya pada Hinata yang segera disambut. Gadis itu terduduk lesu. Sementara Neji dan Hanabi melirik Sasuke yang tak menunjukkan ekspresi apapun.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Neji. Sasuke hanya diam, tak menjawab apapun, melainkan memandang Hinata lekat-lekat.

"Kau lelah?" tanya Sasuke. Ia berjongkok di depan Hinata, mengangkat dagu majikannya agar ia dapat melihat matanya. Hinata sendiri hanya bisa pasrah, tak sanggup menjawab.

"Hei, jawab pertannyaanku!" alis Neji berkerut.

Sasuke menoleh, "Ada harapan. Tak seburuk yang kalian bilang."

Setelah berkata seperti itu, ia menggendong Hinata dan menghilang dari pandangan. Sementara Neji dan Hanabi hanya bisa tertegun lama sebelum menyadari bahwa saudara kesayangan mereka telah pergi.


Hinata tak sanggup berkata apapun. Letih tak terkira. Bahkan saat Sasuke menggendongnya pun ia tak protes. Ia biarkan Sasuke membawanya ke kamar dengan sejekap mata dan menidurkannya di atas kasur.

"Kau pasti sangat lelah," gumam Sasuke. Hinata hanya dapat menatap mata gelap Sasuke nanar. Cukup dengan itu, Sasuke telah mengerti. Ia duduk disebelah futon, menatap Hinata datar.

"Kuberitahu hasil latihan hari ini," ucap Sasuke. "Kau hanya berbeda tipis dari adikmu, tapi jika kau lebih cepat pulih dan lebih percaya diri, kau dapat melampauinya."

Tatapan Hinata kosong, menjawab ucapan Sasuke. Yokai tampan itu mengangkat bahunya, "Terserah kalau tidak percaya."

Hinata tersenyum kecil, lalu memejamkan matanya. Baru kali ini ada yang memberinya harapan. Biasanya mereka yang melihat hasil latihan Hinata hanya bisa geleng-geleng kepala, mengerutkan alis, atau bahkan menghela napas kecewa. Hanya Sasuke yang bermuka datar dan memberitahu sejujurnya, dimana kelemahan dan bagaimana ia dapat berhasil di latihan berikutnya.

Tapi, akankah Hinata bisa secepat itu belajar dan mengerti? Ini bukanlah pelajaran seperti yang diajarkan di sekolah, ini adalah masa depan Hinata!

Memikirkan itu, Hinata menenggelamkan seluruhnya dibalik selimut.


Heah... jadi juga chapter 2. Nggak lebih baik dari chapter pertama ya. Oh ya, bagi yang bertanya-tanya soal Yokai:

Yōkai (妖怪?) adalah kelas obake, makhluk dalam cerita rakyat Jepang (dengan banyak asal dari Tiongkok) yang terdiri dari setan oni sampai kitsune atau wanita salju Yuki-onna. Beberapa merasuki binatang dan bagian fitur manusia (seperti Kappa dan Tengu). Yōkai umumnya memiliki kekuatan spiritual atau supernatural.

yah, itulah yang saya copy dari Wikipedia. Semoga dapat dimengerti ^^

oh, dan mungkin ada yang bingung juga soal shikigami. Shikigami itu kertas (yang kayaknya udah di mantrai juga ya) yang nantinya bisa jadi makhluk yang menolong si pemilik shikigami itulah kira-kira. Kalau masih penasaran, silahkan cari di google, atau ada yang tahu definisi sebenarnya? ^^; *authorsesat

kritik dan saran saya tunggu lewat review ^^