"Achii Hyung!"
Teriakan Changmin membahana di dalam apartemen milik Achii, namun tak ada sahutan sama sekali. Yunho menyusul masuk dari belakang Changmin menuju ke ruang tamu untuk memeriksa, lalu Changmin mengekor dibelakang Yunho.
Jujur saja, menghadapi Achii yang sedang mabuk adalah hal mengerikan yang tak ingin dilihat Changmin. Ia pernah menenangkan Achii yang sedang mabuk, namun Achii malah hampir menghajarnya. Beruntung ada Yunho yang menyelamatkannya waktu itu.
Bicara soal Yunho.. pipi Changmin memerah mengingat ciuman tak sengaja mereka tadi—Bruak!
"Aww"—dan Changmin pun melupakan jika ia masih mengikuti Yunho dari belakang. Yah setidaknya ia tidak jatuh—eh? Kenapa tubuhnya tidak sakit? Harusnya ia jatuh sekarang. Changmin membuka matanya perlahan, manik musang Yunho yang pertama kali ia lihat, Yunho menahan badannya, dan Changmin menggenggam erat baju Yunho bagian depannya. Seolah sadar mereka dimana, Changmin langsung berdiri tegak tiba-tiba dan melepaskan pegangannya.
"Kau tak apa Minnie?" Tanya Yunho.
"U-um tak apa, terima kasih" ucap Changmin sambil menunduk, menyembunyikan wajah malunya.
"Eh Yunho? Changmin? Ada apa kalian kemari?" Changmin dan Yunho menolehkan kepala mereka dan mendapati Achii dengan wajah akwardnya berdiri didepan pintu kamarnya.
.
.
JIJOONIE PRESENTS
.
AN CANON/SEMI-CANON FANFICTION
.
"I LOVE YOU, CHANGMIN"
.
.
.
MAIN CAST: JUNG YUNHO, SHIM CHANGMIN, ETC.
MAIN PAIR : HOMIN COUPLE (JUNG YUNHO AND SHIM CHANGMIN)
RATE : T - M
LENGTH : 2 of 2
DESCLAIMER : HOMIN COUPLE DAN SEMUA CAST HANYA MILIK TUHAN YME, DIRI MEREKA MASING-MASING, KELUARGA, DAN PARA FANS! ONLY PLOT IS MINE!
WARN! : TYPO'S! ALUR GAJE, SEX SCENE, PWP(Porn Without Plot), etc. Diharap bagi pembaca agar bijak, cerita ini canon/semi-canon yang author juga bingung bagaimana mendeskripsikannya/*mewek, Dan author tidak tanggung jawab kalau ada keluhan :'v/*dilemparpetasan
.
.
IF U DON'T LIKE HOMIN, U CAN GO AWAY FROM THIS PAGE. THANK'S.
.
.
. . oOHoMinOo. .
.
.
"Jadi.. kau tidak mabuk, Hyung?" Tanya Yunho datar.
"Tidak, aku tidak minum apapun, bahkan terakhir aku minum baru saja 2 hari yang lalu, Yun" sahut Achii polos.
Changmin dan Yunho baru saja mendengar jika handphone milik Achii dipakai oleh temannya yang kebetulan pergi minum dan ternyata mabuk.
Otomatis itu adalah ketidaksengajaan yang terjadi, dan Changmin harus menahan diri agar tidak menghajar lead dancenya itu sakingkan kesalnya ia.
"Ah iya, aku mendapat e-mail barusan, kalian ditinggal oleh Manager hyung dan Seulgi? Ada apa?" Tanya Achii memecah suasana.
"Tadinya Manager hyung mengajak kami pergi mencari sesuatu entah apa itu aku tak tahu, dan tiba-tiba mobil kami dihentikan oleh sahabat Manager hyung yang kebetulan searah dengan kami, jadi ia langsung saja pergi, bersama Seulgi tentunya" jelas Yunho.
"Aaoo begitu" Achii bangkit menuju dapur. Sesampainya didapur, ia membuka kulkas, membuka sekaleng bir lalu meneguk isinya. Matanya kemudian jatuh pada sebuah botol yang tersimpan dibalik jajaraan minuman kaleng yang tersusun rapi didalam kulkasnya. Seketika Achii teringat rencanya liciknya. 'Lebih baik sekarang daripada menunda' fikir Achii sambil tersenyum miring.
.
"Kalian mau kemana?" Tanya Achii saat kembali keruang tamu menemukan Yunho dan Changmin yang sudah memakai sepatu.
"Sepertinya kami harus kembali, sudah larut malam, dan kami juga belum makan malam, hyung" Changmin berbicara sambil menatap Achii.
"Aku baru saja akan menawarkan kalian makan, ayo makan dulu baru pulang, dari pada kalian makan diluar lebih baik makan disini saja" tawar Achii menatap dua orang dihadapannya. Yunho tampak berfikir sejenak, lalu mengangguk, "Baiklah" lalu melepaskan kembali sepatunya dan berjalan keruang makan dengan Changmin menyusul dibelakang. Tanpa mereka sadari jika dibalik tawaran Achii ada sesuatu yang akan menjebak mereka.
'It's time to play Yunho-ah, Changmin-ah, khehehe'
.
.
.
. .oOHoMinOo. .
.
.
.
'Badanku kenapa panas sekali?' Batin Changmin gelisah. Setelah meminum air putih tadi badannya terasa panas, dan matanya tak bisa lepas menatap Yunho, 'sial! Achii hyung pasti memasukkan sesuatu!' Batin Changmin menjerit.
"Kau kenapa Min-ah?" Changmin hanya menggeleng saja sebagai balasan pertanyaan Achii.
'Rasakan itu, evil!' batin Achii tergelak menatap Changmin yang semakin gelisah dibangkunya.
.
.
"Haaahh akh! Panas! Ughhh… ahhhn~"
Yunho baru saja akan masuk ke kamarnya setelah mematikan lampu tengah ruangan, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara desahan seseorang.
Itu bukan Changmin'kan? Yunho mengabaikan suara aneh itu, namun tiba-tiba handphonenya berbunyi dan segera ia angkat.
"Yeoboseyo?"
'...' tidak ada sahutan dari sebrang, suara aneh itu juga tidak ada lagi. Yunho menyeritkan dahinya, 'siapa ini?'
"Yunhh.. hyungghh.. sakit.." suara ini persis sama seperti suara yang barusan.. atau.. Yunhopun melihat ID Caller dilayar handphonenya, matanya membelalak seketika.
"Changmin!"
Gelap.
Kamar Changmin gelap. Namun Yunho bisa melihat siulet Changmin yang terpantul cahaya bulan, Yunho menutup pintu dibelakangnya lalu mencari saklar lampu. Setelah itu ia berjalan kearah Changmin yang meringkuk diatas kasur. Saat sudah dekat, Yunho bisa mendengar rintihan Changmin. Apa ia sakit?
"Minnie, hei ada apa?" Tanya Yunho pelan sambil mengusap punggung Changmin.
"Panas Hyung.. hiks.." isakan lirih keluar dari bibir Changmin, tubuhnya sangat panas seolah akan terbakar, dan ia tidak bisa bergerak sama sekali. Yunho duduk ditepi ranjang lalu menarik pinggang Changmin agar mendekat dengannya. Changmin beringsut mendekat, memeluk Yunho denagn posisi setengah duduk dengan erat seakan ingin Hyung tercintanya juga merasakan sakitnya itu.
Yunho mengusap kepala Changmin, mencium puncaknya pelan dan menarik dagu Changmin agar mendongak, lalu diusapnya sayang kening sang Magnae. Mata Changmin terpejam menikmati dinginnya tangan Yunho yang mengusap keningnya, saat Yunho menghentikan usapannya Changmin langsung membuka mata dan langsung menatap mata musang Yunho yang juga menatapnya intens.
Baik Yunho maupun Changmin sadar apa yang terjadi, mereka masih punya kesadaran untuk menghindar namun mereka tidak melakukannya. Dan mereka juga sadar jika jarak wajah mereka sangat dekat, bahkan terpaan nafas dari masing-masing bisa dirasakan oleh mereka, namun mereka tetap diam dan menatap pasangan dihadapan masing-masing.
Telapak tangan kanan Yunho bergerak ke arah pipi kiri Changmin, mengusapnya lembut. Mata musangnya tak lepas menatap mata Bambi dihadapannya. Oh Tuhan, ia sangat mencintai Changmin, tapi jika ia ungkapkan sekarang apa Changmin akan menerimanya?
"Min-ah.." panggil Yunho pelan.
Changmin menunduk. Melepaskan kontak mata mereka. "Apa?" Balasnya singkat.
"Apa kau masih marah soal koreo itu? Bisa jelaskan apa alasanmu Minnie?" Tanya Yunho hati-hati. Seketika wajah Changmin menggelap. Tiba –tiba saja ditariknya baju kaus depan Yunho. Amarah mulai memercik setelah ia ingat kembali tentang koreo itu, tangan Changmin terkepal kuat, wajahnya memerah sempurna menahan amarahnya. Yunho yang melihat itu langsung pucat, pasalnya lebam yang didapatnya dari Changmin siang tadi belum hilang, dan sekarang ia akan dapat lagi? 'Oh Tuhan selamatkan aku' batin Yunho nelangsa.
"Apa kau sadar akan kesalahanmu, Jung?" Tanya Changmin dingin. "Kau itu brengsek, tidak tahu bagaimana perasaan orang lain" sambungnya lagi. Yunho mulai tak mengerti maksud Changmin, 'tidak tahu?' Tanya batin Yunho.
"Apa maksudmu?" Tanya Yunho tak mengerti. Changmin yang mendengar itu semakin mengeratkan cengkraman di kaus Yunho. Matanya mulai berkabut, dan tubuhnya bergetar 'demi Tuhan! Ada apa denganku?' Changmin heran sendiri dengan keadaannya yang tidak stabil.
"Changmin? Kenapa menangis?" Yunho meraih tangan Changmin yang mencengkram kausnya, menggenggamnya, lalu mengusap air mata Changmin yang meleleh tiba-tiba, matanya terpejam dan bibirnya bergetar menahan isakannya. Oh tidak Yunho ingin menciumnya! tapi ia tahan sekuat mungkin. Masalahnya belum selesai dan ia harus mengatakannya sekarang juga, harus bisa!
"Kau itu.. kau.. tak pernah mengerti bagaimana perasaanku hyung.. apa kau tahu betapa sakitnya hatiku?" Changmin membuka matanya perlahan. Membiarkan air mata membasahi pipinya, "kau tak pernah peka padaku, selalu saja menganggap aku sebagai adik dimanapun, kau tak pernah tau betapa sakitnya jadi diriku hyung.." pertahanan Changmin runtuh, ia tak bisa lagi membendung air matanya, hatinya sangat sakit.
10 tahun sudah ia menyimpan cintanya untuk Yunho, dan sekarang ia sudah tidak sanggup lagi menahannya. Hei, seseorang pasti punya batas, bukan? Begitu juga dengan Changmin. Malah, Changmin sudah kelewatan batas menyimpan perasaannya sendiri selama itu.
Dan inilah saatnya untuk mengakui pada Yunho. Changmin tak perduli jika Yunho akan benci dan tak suka padanya. Jika itu memang terjadi, hal terakhir hanyalah menyerah, benar kan?
"Minnie.. aku.." ucapan Yunho terputus—
"AKU MEMBENCIMU JUNG YUNHO SIALAN! AKU MEMBENCIMU KARENA AKU MENCINTAIMU!"—Changmin mengeluarkan semuanya.
.
.
.
Hening.
Ruangan itu hening setelah Changmin berteriak.
Yunho yakin.. ia salah dengar kan?
Yang di katakan Changmin barusan itu 'Tidak mencintaimu' kan?
Dan hei, kenapa jantungnya berdetak cepat?
"Chang..min—" perkataan Yunho terputus lagi saat Changmin bangkit dan berdiri membelakanginya.
"Cukup. Kau sudah mendengarnya, dan aku minta keluar dari kamarku sekarang." Changmin berucap sangat pelan.
Ia sudah mengatakan segalanya, dan inilah saatnya ia harus melepaskan Yunho juga. Ia sadar jika cintanya selama ini hanya bertepuk sebelah tangan. Dan hasil akhirnya itu adalah kehancuran dirinya sendiri 'bukan? Dari awal Changmin sudah tahu itu, dan tak perduli dengan itu. Karena bagi Changmin, dapat mencintai seseorang dengan sepenuh hati hanya bisa terjadi satu kali dihidupnya. Ia tidak pernah merasakan jatuh cinta sedalam ini pada seseorang selama hidupnya. Jadi jikapun Yunho membencinya, Changmin tetap akan selalu mencintai Hyung satu-satunya itu, haha terlihat bodoh bukan? Hanya karna seseorang, Changmin bisa seperti ini.
"Pergilah Yunho!" Changmin mengulang perintahnya, ia sudah tidak sanggup berdiri, tapi ia tak ingin terlihat lemah di mata Yunho. Walaupun kakinya sudah tidak sanggup lagi, Changmin tetap saja berdiri.
Yunho hanya diam memperhatikan punggung orang yang sangat dicintainya sekarang. Ia masih seperti bermimpi mendengarkan apa yang dikatakan Changmin baru saja. Ini bukan mimpi kan? Ini nyata kan? Pertanyaan itu masih bergelantungan di kepala Yunho. "Pergilah, hyung"Changmin mengulang lagi kata-katanya. 'Kenapa aku diusir? Apa setelah mengatakan itu Changmin akan menyerah? Tidak akan kubiarkan!'
"Kenapa kau sangat ingin aku keluar? Bukankah kau mencintaiku Minnie?" Tanya Yunho seraya bangkit dari duduknya lalu menghampiri Changmin, "Bahkan kau belum mendengarkan apa yang akan ku katakan tadi." Tekan Yunho dibelakang punggung Changmin.
"Aku tidak perlu mendengar apapun lagi! Aku yakin jika hyung akan mengata—hmmphh!"
Ucapan Changmin terputus saat Yunho tiba-tiba menarik pinggangnya lalu mencium bibirnya, lidah Yunho langsung melesat kedalam mulut Changmin yang terbuka saat berbicara tadi.
"Eengghh..mmhhh.." desahan lirih meluncur dari mulut Changmin. Yunho yang merasakan Changmin melemah dipelukannya langsung merengkuh pinggang Changmin dengan sebelah tangan, lalu tangan sebelahnya menahan pipi Changmin agar ia bisa mencari posisi yang pas untuk menciumnya.
Changmin serasa melayang, dan jantungnya berdetak dengan cepat. Sensasi menyenangkan datang dari arah perutnya yang bergejolak. Tangan Changmin terulur kearah leher Yunho lalu mengalungkan lengannya disana dan menarik tengkuk Yunho agar semakin mendekat dengannya. Badan mereka saling menempel satu sama lain. Changmin seperti merasakan jantungnya akan copot saat Yunho semakin beringas menciumnya, tapi tiba-tiba ia melepaskan ciuman mereka..
"Haaah.. haaahhh.." Changmin berusaha mengambil nafas sebanyak mungkin, mulutnya membuka dan menutup seperti ikan koi, dan Yunho langsung saja memeluknya erat.
"Changmin.. I Love You.. I Love You Changdollie.." bisik Yunho diceruk leher Changmin lembut lalu mengecupnya.
DEG!
"Ja—jangan bercanda denganku.. hyung.." Changmin mendorong tubuh Yunho kebelakang lalu membalikkan badannya sendiri. Tangan Changmin terkepal lagi, ia semakin tak mengerti dengan tubuhnya sekarang. Apa ini memang efek obat dari Achii? Tapi kenapa tubuhnya tak bisa bergerak? Changmin bergetar menahan kepalan tangannya, emosinya serasa ingin meledak lagi. Seperti bukan dirinya saja.
Yunho memeluk Changmin dari belakang, menghirup wangi Changmin diceruk lehernya yang sudah seperti candunya. Ia sangat mencintai Changmin tapi kenapa Changmin menolaknya? Apa lagi yang salah? Bukannya semua sudah jelas?
"Aku mencintaimu Changmin.." ulang Yunho lagi. Kali ini lebih intens.
BRUAK!
Punggung Yunho sangat sakit, apa Changmin ingin membunuhnya? Perlahan dibukanya mata, lalu menatap horror Changmin yang sudah siap dengan kepalan tangannya. Mata Changmin terlihat memerah dengan tubuhnya yang bergetar hebat. 'Ja-jangan bilang kalau ini rencana… Gawat!'
"Jangan pernah mengatakan itu Hyung! Jangan menghiburku dengan mengatakan jika kau mencintaiku!" Changmin menahan tangannya diudara, nafasnya tersenggal.
"Aku tidak pernah bercanda Min-ah! jika kau memang ingin memukulku silahkan. Asalkan kau percaya jika aku memang benar-benar mencintaimu!" Yunho memejamkan matanya sambil tersenyum. Ia sudah tak perduli jika tubuhnya akan sakit setelah ini. Yang terpenting Changmin sudah tahu betapa ia sangat mencintainya.
.
.
.
'Kenapa belum juga?' Batin Yunho. 5 menit sudah berlalu dan Yunho tak kunjung merasakan sakit dimanapun. Yunho membuka kelopak matanya, seketika hatinya mencolos melihat Changmin yang jatuh berlutut dihadapannya. Yunho langsung berlutut dihadapan Changmin, menariknya dan mendekap Changmin sangat erat. Changmin menangis terisak-isak didalam dekapan Yunho, ia memeluk Yunho tak kalah erat seakan takut jika Yunho hanya ilusinya belaka saat ini.
"Kau.. hiks.. kau.. memang breng..hiks.. sek.. Hyung, hiks.." Changmin berbisik lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Yunho. Isakannya tak berhenti.
"Mianhae Baby.. Hyung memang brengsek.. maafkan hyung selama ini.." balas Yunho lembut.
10 menit berlalu, namun Changmin masih belum menghentikan tangisannya. Yunho mengusap pelan punggung Changmin yang masih bergetar.
"Changminnie.. uljima.. kumohon berhenti menangis sayang.."
Changmin masih saja menangis, ia meremas kaus belakang Yunho. Kaus Yunho sudah basah akibat air matanya, tapi ia masih belum puas menangis.
"Uljima Baby.. Changdollie.. Saranghae.." Yunho melepaskan pelukan mereka dan menghapus air mata Changmin. Mereka saling menatap untuk menyampaikan berapa besar rasa cinta satu sama lain.
Yunho mencium kening Changmin lama. "Saranghae.." ia menangkup wajah Changmin. Ciumannya mulai turun ke kedua kelopak mata Changmin yang memerah karena tak kunjung berhenti menangis,"Saranghae, Changmin.." Lalu bibirnya menyusuri pipi tembam Changmin yang basah dan memerah, "Saranghae.. Saranghae Baby Changdol.." ucap Yunho lirih tepat didepan bibir Changmin lalu menciumnya dengan lembut.
Changmin terkesiap saat Yunho tiba-tiba mencium bibirnya lagi. Kali ini lebih lembut dan penuh perasaan. Air matanya yang sedari tadi mengalir tiba-tiba terhenti begitu saja. Changmin memejamkan matanya kemudian, dan tanpa ia sadari tangannya sudah ada di belakang kepala Yunho, meremas lembut rambut Yunho seolah ingin Yunho melakukan lebih padanya.
Yunho meletakkan tangannya dibelakang kepala Changmin dengan perlahan, menekan lembut kepalanya agar ciuman mereka semakin dalam. Yunho tersenyum samar dibalik ciuman mereka, ia sangat bahagia kali ini Changmin menyerahkan dirinya seutuhnya pada dirinya. Dan jika hati Changmin sudah dimilikinya seutuhnya, tentu saja tubuh Changmin juga miliknya 'kan?
"A-ahhh..mnhhh..h-hyuunghh.." Desahan lirih Changmin mulai keluar di sela-sela ciuman mereka. Yunho semakin bersemangat mencumbu Changmin. Lidah Yunho mulai menjilat permukaan bibir lalu menggigit perlahan bibir Changmin yang sudah basah karena saliva mereka. Changmin merasakan ada ketukan dibelahan bibirnya, dan seolah paham akan maksud Yunho, ia membuka sedikit celah bibirnya dan lidah Yunho langsung saja melesak masuk kedalam mulut Changmin. Membelai setiap bagian dalam mulut Changmin lalu gigi-giginya yang rapi. Setelah itu mencari lidah sang empu untuk diajak berdansa.
"Aaghhh.. eemmhh.. aahhh~" desahan mulai berlompatan dari bibir sintal Changmin, saliva yang entah milik siapa menetes dari ujung bibir Changmin. Tubuhnya mulai memanas seiring intensnya ciuman yang diberikan oleh Yunho. Changmin sangat suka ciuman Yunho, hanya Yunho dan akan selalu Yunho. Sementara Yunho? Oh ayolah, 'adik' kecil Yunho sudah mulai terbangun saat melihat Changmin mendesah dengan sangat menggairahkan.
.
.
.
Yunho mengangkat tubuh Changmin ke atas kasurnya tanpa melepaskan ciuman mereka, ia menindih Changmin, menarik belakang kepala Changmin sedikit kuat untuk semakin beringas menciumnya. Nafas Changmin memendek akibat ulah Yunho, tangannya yang tak pernah pindah dari kepala Yunho semakin kuat menjambak rambut Yunho menyuruhnya agar menghentikan cumbuannya dan Yunho segera melepaskan ciuman mereka. Dan sesaat Yunho membuka matanya, pemandangan bibir Changmin yang bengkak dan memerah serta basah dihadapan matanya membuat Yunho semakin merasakan jika birahinya semaki terbakar, tak sampai beberapa detik Yunho mencumbu kembali Changmin, menggigiti pelan bibir bawahnya lalu bergantian dengan bibir atasnya. Menghisap kuat tonjolan ditengah bibir atas Changmin, lalu menyesapnya sedikit kuat.
Sebelah tangan Yunho yang menahan pinggang Changmin mulai turun perlahan kearah pantat bulat Changmin. Meremasnya pelan—membuat Changmin menjerit pelan dalam ciuman mereka.
"A-aahh! ..ukhh.. ooohhh—hyuung!"
Tangan Yunho yang nakal mulai meremas pelan gundukan yang sedari tadi menyembul di selangkangan Changmin, menekannya, lalu mengelusnya hingga membuat kejantanan Changmin yang terkurung dicelananya semakin membengkak dan membuatnya sedikit kesakitan karena celananya kian menyempit. Changmin mengerang menahan kejantanannya yang berkedut-kedut ingin dilepaskan. Tangan Changmin menahan tangan Yunho yang masih berada diselangkangannya, namun Yunho menyeringai dan menyentakkan tangan Changmin yang menahannya.
"Be patient, baby~" bisik Yunho seduktiv ditelinga Changmin, lalu menggigitinya perlahan.
Desahan Changmin semakin menggila saat bibir Yunho beralih ke lehernya. Mencium, jilat, dan kemudian menghisap kuat daerah sekitar leher Changmin hingga meninggalkan bercak merah, sementara tangannya mulai membuka perlahan kaitan celananya. Itu semakin membuat Changmin menggila. Changmin yang kewalahan dengan sensasi itu meremas bahu Yunho dengan gemas. Tak tahan karena Yunho kian mempermainkan nafsunya.
Tangan Yunho yang lain tak ketinggalan ikut andil memberikan kenikmatan pada tubuh yang ditindihnya saat ini. Saat tangan kanannya sibuk membuka celana Changmin, tangan kiri Yunho mulai merambat kedalam kaus yang dipakai Changmin. Menariknya perlahan keatas, lalu membukannya dengan paksa—membuat ciuman mereka terlepas sementara—kemudian mulai mengelus pelan perut rata milik Changmin yang disambut dengan desahan dan erangan erotis milik empu tubuh.
"Aaaghh mmhhh.." tubuh Changmin mulai berkeringat begitu juga dengan Yunho.
Saat kaus Changmin sudah terlepas, Yunho melepaskan ciumannya dileher Changmin dan langsung menghisap kuat nipple Changmin yang sudah menegang.
"AAAHH! Yu-ngghh aahhnhh!" Jeritan kenikmatan keluar dari mulut Changmin. Dengan lihai lidah Yunho memainkan nipple Changmin bergantian dengan kedua tangannya lalu menghisapnya kuat, desahan terus berhamburan dari mulut Changmin. Tubuhnya terasa lemas. Semua sensasi yang diterimanya saat ini sangat jauh diluar akal sehatnya. Yunho semakin bersemangat membuat Changmin mendesah.
Ciuman Yunho mulai turun kebawah. Ia menjilat otot perut yang terbentuk ditubuh kurus milik Changmin, sangat seksi menurutnya, menggigitnya lalu menghisapnya hingga meninggalkan bercak kemerahan yang semakin lama semakin menyebar rata ditubuh Changmin, dan Changmin semakin tak bisa mengendalikan dirinya.
Changmin merasakan dingin dibagian selatan tubuhnya. Tu-tunggu! Sejak kapan celananya terlepas? Changmin membuka matanya dan—"OOOHHH~!... nngghh.. aaaaahhhh.. Yun-hoohhh yeesshh" – tubuhnya langsung melesak keatas kasur, desahannya langsung keluar saat Yunho memasukkan kejantannya kedalam mulutnya, menghisap kuat kejantanannya tepat didepan matanya. Mengulum dan menghisap lagi, lalu mengocoknya dengan tempo yang sangat kencang.
"Ahhh.. yyeesshh.. o-ooohh Hyunghh…"
Yunho bergumam pelan didalam hisapannya, membuat kejantanan Changmin bergetar lalu berkedut merasakan sensasi nikmat lidah Yunho yang menjilat-jilat penisnya yang semakin tegang.
"A—aakhh H-hyuung! Akuuh.. Mo-more~! " Yunho yang sadar jika kejantanan Changmin berkedut semakin menguatkan hisapan dan kocokannya pada penis Changmin. Hingga..
"Aaann-aa... ooohhhhhh… aaaahhhhhh haaaaahhhhh—YUNHOOO!"
Punggung Changmin melengkung bagai busur yang indah, matanya membuka lebar kala itu. Ia seperti terbang ke awang-awang saat klimaks menghampirinya. Pandangannya sempat memutih seketika dengan penisnya yang meledakkan isinya kuat didalam mulut Yunho yang dengan senang hati menelan seluruhnya.
Tubuh Changmin jatuh lemas diatas kasur, nafasnya terengah-engah. Matanya terpejam erat, "Cepat dan sangat nikmat sekali Baby.." Yunho mengerlingkan matanya menatap Changmin yang masih terengah pasca klimaksnya. Lalu menjilat leher Changmin yang penuh dengan bekas gigitannya juga keringat.
Yunho melirik dirinya sendiri yang masih mengenakan pakaian lengkap. Changmin membuka matanya, menatap Yunho sambil menetralkan nafasnya, saat Yunho kembali menindihnya dan akan menciumnya kembali, ia menjauhkan wajahnya dari Yunho.
"Heiii, ada apa Baby?" Tanya Yunho heran.
"Kau curang, hyung!" Kesal Changmin sambil mempoutkan bibirnya. "Bajumu masih lengkap" sambungnya lagi.
Yunho yang mendengar itu langsung tertawa pelan, kemudian Yunho beringsut ke arah ranjang yang masih kosong disebelah Changmin. Gerakannya terus diikuti oleh mata Changmin.
"Mau mencobanya Baby?" Tawar Yunho dengan sedikit desahan sambil menyingkap sedikit kausnya. Changmin yang mendengar itu langsung menegakkan badannya dan merangkak ke arah Yunho. Ia duduk dipangkuan Yunho lalu dengan cepat melucuti pakaian Yunho.
Saat ia masih sibuk melepaskan baju Yunho, tangan Yunho dengan sengaja meremas pantat Changmin hingga membuat Changmin mendesah keras. Mendengar Changmin yang mendesah seperti itu, kejantanan Yunho semakin membengkak. Sebisa mungkin Yunho menahan erangannya.
Baju Yunho terlepas, terlihatlah kulit tan yang menggoda dimata Changmin. Jemarinya perlahan menelusuri tubuh depan Yunho yang liat itu.
"Suka dengan apa yang kau lihat sayang?" Tanya Yunho dengan suara seraknya. Changmin yang melihat Yunho begitu bernafsu langsung bergetar, bulu romanya berdiri saat ia menatap wajah tampan Yunho dihadapannya. Jantungan berdetak cepat saat Yunho meraih tangannya lalu mengecupnya dan menjilat jari-jarinya. Tubuh Changmin memanas dan wajahnya memerah sempurna, tak disadarinya jika sebelah tangan Yunho merambat kepinggang seksinya dan membalikkan tubuhnya hingga telungkup. Changmin memekik kaget saat wajahnya menghantam bantal lembut tiba-tiba.
"Sanggah tubuhmu dengan kedua lutut dan sikumu baby." Perintah Yunho dengan suara serak basahnya, membuat jantung Changmin semakin tak karuan. Changmin mengikuti perintah Yunho hingga kini posisinya menungging dengan pantat tepat dihadapan wajah Yunho.
Yunho menelan salivanya kesusahan. Lubang pink yang berkedut dihadapannya ini sangat menggoda dan Yunho ingin segera memasukkan penisnya kedalam sana, menikmati ketatnya otot rektum Changmin yang melingkupinya, membuat Changmin mendesah-desah dan meraung akibat penetrasinya—
—PLAAKK!
"AAAHHH!" Changmin menjerit nikmat saat tangan Yunho menampar pantatnya dengan keras. Rasanya perih, namun panas. Membuat ia semakin tegang dibawah sana.
"Kau menyukainya baby?" Tanya Yunho dengan suara semakin serak, matanya tak lepas dari pemandangan lubang Changmin yang semakin berkedut liar. Changmin yang tak sanggup menjawab hanya bisa mendesah dan mengerang saja.
Tangan Yunho meremas kedua belah pantat bulat Changmin, lalu merenggangkannya hingga terlihat jelas lubang pink yang sangat menggoda untuk mata musangnya. Changmin yang merasakan jika Hyungnya hanya diam saja langsung membalikkan kepalanya menatap Yunho. Ternyata pilihannya salah. Karna saat ini ia tengah melihat Yunho yang menatap napsu dirinya. Dan seolah sudah menarik kesabaran Yunho, Changmin bisa merasakan jika hawa disekitarnya mulai memanas. Changmin menengguk ludah, saat ia melihat Yunho memasukkan jemarinya kedalam mulutnya dengan tatapan panas yang tak beralih menatap wajahnya 'a-andwaee..'
.
.
.
Yunho membasahi tiga jari tangan sebelah kirinya, lalu mulai memasukkan satu per persatu ke dalam lubang belakang Changmin.
"Ngghhh.. A-akkhh! Yun..ohh.. hen-hentikan.. berhenti..mmmhhhh..hyuuung~~!" Changmin menggeliat tidak nyaman saat ada sesuatu yang berusaha memasuki lubang analnya. Sebisa mungkin ia menghentikan gerakan jari Yunho yang mulai keluar masuk menggoda lubangnya. Kepalanya tertunduk. Dan saat ia akan menoleh lagi ke belakang tiba-tiba Yunho meremas penisnya dan kepala Changmin langsung melemas.
"Rileks baby, renggangkan ototmu dan semua akan baik-baik saja" ucap Yunho sedikit tercekat sambil tetap meremas penis Changmin dan memasukkan jari keduanya kedalam anus Changmin.
Changmin semakin menggeliat tidak nyaman ketika jari ketiga Yunho masuk ke dalam rektumnya, gerakannya memutar, menggaruk, mengaduk isi didalamnya seakan sedang mencari sesuatu—
"AHH!"
Changmin tersentak kuat dan pandangannya mem-blur seketika saat jari Yunho mengenai sesuatu didalam sana. Yunho menyeringai mendengar desahan Changmin,'disana kah?' Lalu ia mengenai titik itu sekali lagi.
"Aahhh! Yunho~ mmmhhh..Mo-more..haahhhh…"
Tubuh Changmin menggelinjang kuat saat benda didalam rektumnya mengenai sebuah titik yang membuatnya mendesah keenakan. Mulutnya menganga lebar dan meneteskan salivanya. Yunho yang melihat itu semakin tidak tahan dan langsung mengeluarkan ketiga jarinya yang dihadiahi protesan oleh Changmin, lalu membuka cepat celananya, dan dengan satu sentakan dibalikkannya badan Changmin hingga terlentang lalu dibukanya lebar kaki Changmin dan—
"AAAKHHHH! APPOOO! Keluarkan! Keluarkan! HYUUUNG!"—Menghujam lubang Changmin dengan kejantanannya yang sudah sangat membengkak tanpa persiapan apapun. Changmin memekik kuat merasakan lubangnya sangat penuh dan sakit, tangannya meremas kuat seprai dibawahnya. Nafasnya tercekat dan kepalanya melesak kedalam bantal menahan sakit.
'Ahhh so- tight..' batin Yunho sambil memejamkan matanya nikmat. Yunho berhenti sejenak membiarkan lubang Changmin terbiasa dengan kehadirannya.
.
.
.
"Hikss sa-sakit Hyung.." air mata Changmin luruh, tubuhnya serasa terbelah menjadi dua. Yunho yang merasakan jika Changmin kesakitan langsung membuka mata lalu mencium bibir Changmin untuk mengurangi sakit yang dirasakan Changmin.
"Sshhh.. mianhae baby.. uljima.." bisik Yunho sambil menghapus air mata Changmin. "Apa hyung keluarkan saja?" Tanya yunho. Changmin langsung menggelengkan kepalanya kuat. Ia meraih tengkuk Yunho lalu mencium Yunho untuk mengurangi sensasi perih itu. Yunho memeluk Changmin setelah melepaskan ciuman mereka, memberikan kecupan-kecupan ringan di sekitar wajah Changmin yang basah akibat keringat dan air mata. Lalu ia mengusap pipi Changmin yang memerah dengan imutnya. Setelah Changmin merasakan sakitnya berkurang ia membuka matanya dan menatap langsung mata musang Yunho yang menatapnya penuh cinta.
Hatinya Changmin terasa penuh saat ia malihat langsung mata Yunho yang menampung seluruh wajahnya. Yunho benar-benar mencintainya. Selama ini, Changmin mengira jika Yunho tak merasakan apa yang ia rasakan, namun ternyata ia salah. Yunho juga mencintainya sebagaimana ia juga mencintai Yunho.
Air mata Changmin meleleh seketika, membuat Yunho panic melihatnya.
"Cha-changmin.. baby.. kenapa menangis? Apa sesakit itu? Hyung keluarkan saja kalau begitu, ne?"
Changmin tersenyum lebar melihat ekspresi Yunho yang menurutnya sangat aneh. Yunho menatapnya heran, "Aku tak apa, Hyung.. Saranghae.."
Yunho tersenyum tipis. Senyum yang sangat menawan dan sarat akan cintanya yang tulus. Ia mencium kening Changmin yang basah karena keringat, "Nado.. nado saranghae nae Jung Changmin.." ucap Yunho sambil menatap Changmin. Changmin hanya tertawa saat ia mendengar Yunho memanggilnya Jung Changmin, bukan Shim Changmin.
"Yaah, kenapa tertawa? Akukan tidak salah" Yunho cemberut saat ia melihat Changmin semakin tertawa. "Baby!" rengeknya membuat Changmin menghentikan tawanya.
"Kenapa kau memanggilku seperti itu, hyung? Kau saja belum melamarku" ejek Changmin.
"Tanpa aku lamar, aku yakin kau sudah pasti akan menikah denganku baby" sindir Yunho balik. Yunho tertawa saat ia melihat mata Changmin yang membulat.
"Mimpi saja sana" ucap Changmin lalu membuang muka kearah lain.
Yunho tertawa lebar, ia sangat bahagia saat ini. Ia memeluk Changmin erat, mengusap punggung Changmin untuk mengurangi sakitnya.
"Umh.. baby.."
"Hm? Apa?" Tanya Changmin heran saat melihat ekspresi Yunho yang tengah menahan sesuatu.
Yunho tersedak ludahnya sendiri saat melihat Changmin menatapnya imut, "A-apa aku bisa bergerak?"
Changmin langsung tersadar akan keadaan mereka, wajahnya memerah sempurna menahan malu, "Bergeraklah Hyung.. tapi pelan saja" ucap Changmin lirih.
"As you wish my Bambi" Yunho lalu mengecup sekilas bibir Changmin dan tersenyum tampan membuat Changmin tersipu malu.
Yunho yang sudah diberi izin mulai menggerakkan tubuhnya. Ia mengeluarkan kejantanannya dan menyisakan kepalanya saja lalu mendorong perlahan tubuhnya kembali karena tak ingin membuat Changmin kesakitan lagi.
"Ah.. nikmat.. Baby.." Yunho mendesah pelan saat merasakan otot lubang Changmin mencengkram kuat penisnya. Rasanya sangat ketat dan nikmat
"Aahhh..mmhh.. ngghhh..hahh aahhhh…"
Changmin yang mulanya kesakitan perlahan-lahan mulai mengeluarkan desahannya saat kejantanan Yunho menggesek dinding lubangnya. Fikirannya mengawang saat Yunho semakin menaikkan tempo genjotannya di rektum Changmin.
"Aaaa.. AAHH~~ Fasterhh.. Deep-depperh.. aaaahhh Yunhooo!" Yunho semakin menaikkan kecepatannya saat mendengar Changmin meminta lebih cepat. Genjotannya semakin kuat membuat mereka berdua mendesah karena kenikmatan yang melanda.
"AAAHHHHH~ O-OOHHH Hyungghh.. mmhhhh.. Ah! Ah! Aah~!" Desahan Changmin makin mengeras saat Yunho menabrak sesuatu didalam sana. Kepala Changmin berkunang-kunang merasakan sensasi luar biasa memabukkan itu, ia terus mendesah dan menjerit saat Yunho menumbuk titik itu terus menerus. Changmin meremas punggung Yunho untuk menyalurkan apa yang dirasakannya.
Yunho menggeram pelan saat merasakan penisnya melesak dalam dan mengenai tepat sweet spot Changmin. Penisnya mulai membengkak akibat hisapan kuat lubang Changmin. Changmin bagaikan melihat bintang didepan matanya. Mulutnya tak berhenti menyebut nama Yunho bagai mantra, dan itu membuat Yunho semakin beringas menggenjot lubang Changmin.
Yunho menaikkan kedua tungkai panjang Changmin ke pinggangnya, memudahkannya untuk menginvasi lubang ketat nan hangat milik Changmin semakin cepat dan dalam. Lalu tangannya meraih kejantanan Changmin yang sedari tadi terabaikan, mengocoknya perlahan.
"So- so tight Baby!" erang Yunho keenakan.
"Aakhhh hyuung.. aahh! Aahh!" Changmin semakin merasakan kejantannya membengkak ditangan Yunho, bibirnya kembali dibungkam dengan bibir hati Yunho, membuat desahannya tertahan didalam ciuman mereka. Tangan Changmin menjambak rambut Yunho kuat. Pinggangnya mulai bergerak berlawanan dengan pergerakan Yunho yang semakin liar mengejar kenikmatan.
"Hyuungghh akuhh inginhhhh.. C-cum.. Anhh! Can't.. " racau Changmin setelah melepaskan ciumannya dari Yunho. Kejantanannya semakin mengeras dan membengkak.
Yunho menggeram menahan nikmat saat merasakan penisnya semakin terjepit didalam lubang Changmin, "Bersamah.. ngghhh.. Baby.."
Yunho semakin mengencangkan genjotannya, membuat tubuh Changmin tersentak-sentak dibawahnya, tangannya juga tak lupa terus meremas kejantanan Changmin. Hingga tiga hujaman berikutnya..
"AAAAAAAHHHHHH! YUNHOOOOOOOOO~~!" Changmin berteriak sekuat mungkin saat klimaks melandanya, tubuhnya melengkung tinggi dan bergetar kuat. Dirinya seolah dilempar ke langit tinggi, ia menumpahkan seluruh spermanya dibadannya dan badan Yunho.
"Nghh CHANGMIIIINNN~~!" erang Yunho. Bersamaan dengan itu cairan hangat Yunho memenuhi lubang Changmin.
Tubuh Yunho ambruk diatas tubuh Changmin. Nafas keduanya terengah hebat. Yunho memeluk Changmin yang masih kesusahan bernafas. Dengan sisa kekuatannya ia merebahkan tubuhnya kesamping tanpa melepaskan pelukan mereka.
"Saranghae baby.. Jeongmal saranghae.." ucap Yunho setelah nafasnya kembali netral, lalu mencium lembut bibir Changmin yang bengkak dan merah.
"Nado.. mmhh.. saranghae.. hyungh.." balas Changmin lirih ditengah ciuman lembut Yunho. Yunho memeluk Changmin erat tanpa melepaskan juniornya dari lubang Changmin. Dan Changmin membenamkan wajahnya didada bidang Yunho yang berkeringat.
"Terima kasih sudah mencintaiku baby.." ucap Yunho sembari mencium puncak kepala Changmin yang berkeringat. Changmin hanya mengangguk sebagai jawaban lalu jatuh tertidur karena kelelahan. Yunho hanya tersenyum melihat kelakuan Bambinya, ia lalu menarik selimut menutupi tubuhnya dan tubuh kekasihnya. Kemudian Yunho menyusul Changmin ke alam mimpi. Namun sesaat Yunho akan menutup matanya ia menatap wajah Changmin yang sangat damai didalam pelukannya.
Yunho tersenyum lembut, matanya berair dan cairan bening meluncur dari sudut matanya. Hati Yunho sangat penuh dengan kebahagiaan dan cinta saat ini.
"nan jeongmal saranghae, Shim—ah ani—Jung Changmin.. Changminnie.."
Setelahnya, Yunho tertidur pulas.
T
H
E
E
N
D
Epilog
"Achii Hyung.."
Achii yang tengah meminum air mineralnya tersedak saat ia mendengar Changmin memanggilnya dengan nada mengerikan. Achii membalikkan badannya dengan gerakan patah-patah menatap Changmin yang matanya membulat lebar seakan ingin menelannya.
"N-ne.. Ada apa Min-ah?" gagapnya karna takut.
Changmin menaikkan sebelah alisnya, kemudian ia mendekati Achii yang mundur perlahan saat ia mulai mendekat.
"Ke-kenapa kau melihatku seperti itu?!" Protes Achii yang semakin merinding.
"Aku hanya ingin memberitahu sesuatu.."
Achii meneguk ludahnya saat ia Changmin berdiri tepat dihadapannya lalu menyilangkan tangannya didepan dada, sementara ia sudah terjepit antara dinding dan Changmin.
Changmin mencondongkan wajahnya kedepan, ia ingin tertawa melihat ekspresi ketakutan Achii. Tapi ini lebih penting karena Achii sudah berani-beraninya membuat dirinya terlihat memalukan didepan Yunho.
"Hyung.. aku hanya ingin memberi ini.."
"AAAAAKKHH CHANGMIIIINNNN!"
Achii berteriak kesakitan dan langsung jatuh berguling-guling dilantai saat Changmin menendang kemaluannya dengan lututnya.
"Itu hadiah untukmu karna sudah memasukkan obat kedalam minumku saat pesta kemarin! Kau membuatku terlihat memalukan dihadapan suamiku!" pekik Changmin dengan wajah memerah menahan malu dan amarah, "Rasakan itu!" Changmin meninggalkan Achii yang seperti akan menangis dilantai.
Achii tak bisa berkata apa-apa, badannya berguling-guling dan tangannya mengelus bagian depan celanya yang terasa sangat sakit 'masa depanku ditendang.. huhuhu sakitnyaaaa! Lihat saja kau Yunho! Aku akan membalas perlakuan istrimu nanti padamu!" batin Achii nelangsa menahan sakit dengan wajah meringisnya yang sangat jelek.
- CHANGMIN, I LOVE YOU, END-
.
.
.
.
.
Author's cuap-cuap
Akhirnya bisa up juga, gyahahahaha:v
No koment dah sama perbaikannya, ancur-ancuran/*gulingguling
Thanks To:
PrincessDoYoung(rencananya yah begitulah hahaha, lanjutannya sudah up ya^^)
Lio'gyu(hahaha gakuku gananaxD, ini sudah lanjut^^)
Soyu567(haha emg udah masuk perangkap tuh bambimin kekeke~ lanjutan sudah up~)
Hyena lee(sudah dilanjut~)
Shin Min Hyo(ini sudah dilanjut, thankyou~)
Thank You Minna-san! Selamat membaca^^
- JiJoonie-
Eh, ada sesuatu dibawah:D
Dibuang Sayang a.k.a Epilog Nyasar :v
#1
"Jadi, apa rencanamu, Achii-ssi?"
Manager hyung mentatap kearah pintu yang baru saja ditutup oleh Yunho, matanya kemudian menatap kesamping melihat lawan bicaranya yang terlihat tengah berpikir serius.
Achii menggeleng pelan ketika tak mendapati rencana yang bagus.
"Menurutmu apa yang kira-kira bisa kita lakukan?" tanya Achii balik pada Manager hyung.
Manager hyung terdiam, sesaat kemudian ia tersenyum kecil, "hei, aku baru ingat, bukankah minggu kemarin kau baru saja membeli obat perangsang?" Achii menaikkan alisnya, "maksud, hyung?", manager hyung menepuk bahu Achii, "ah, aku rasa kau lupa, Chii, minggu yang lalu kau mengajakku membeli obat perangsang karna Rui selalu mengeluh saat latihan..." Achii membolakan matanya saat teringat hal itu, kekehan nista meluncur dari mulutnya dan disusul tepukan tangan kecil dari Manager hyung.
"Aku yakin ini akan menarik~"
#2
3 hari setelah pengakuan Yunho-Changmin
"Changmin~"
Changmin menolehkan kepalanya menatap Rika dan Lina yang sudah berpakaian rapi—ah mereka ada di studio ngomong-ngomong—bersiap untuk pulang.
"Kalian mau kemana, noona?," tanya Changmin, Rika tersenyum, "kami akan pulang. Tour kali ini kami tidak ikut, dan dancer wanita yang lain juga tidak ikut," ucapnya dengan nada senang. Changmin melongo, membuat Lina dan Rika tertawa.
"Ta-tapi.." Lina memotong ucapan Changmin, "Sebaiknya gunakan kesempatan ini Changmin, Achii sudah memutuskan membatalkan koreo yang kemarin, untuk Tour selanjutnya hanya ada para dancer pria saja, jadi.. Fighting!~" setelahnya ia bersama Rika berlalu, namun sebelum sampai pintu, Rika kembali kebelakang menuju tempat Changmin yang masih terperangah lalu membisikkan sesuatu, setelahnya terdengar pekikan histeris milik Changmin menggelegar didalam studio.
"hei, jangan lupa buat anak yang banyak dengan Yunho, ne! aku tak sabar menggendong keponakan hihi"
END:v
