[CHANBAEK FANFICTION]
Title : We're coming for Jiwon!
Main Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Park Jackson
Park Jesper
Park Jiwon
Other Cast: Find it!
Genre: Romance, Family, Nano-nano(?)
Rating: T
Warning: Boys Love! M-Preg! YAOI! FF Suka-suka! Bahasa tak baku! EYD payah! Typo(s) ! Anak-anak kecil yang pintar berbicara!Jika tidak suka tidak perlu membaca. FF ini diperuntukan bagi Chanbaek Shipper dan Noona² pecinta Jackson dan Jesper
Happy reading guys!
.
.
.
Suatu hari tepat pukul sembilan pagi di sebuah kediaman keluarga Park.
Pagi ini rasanya cukup tenang. Tepat di salah satu ruang santai Chanyeol bak seorang ayah yang profesional terlihat duduk sedikit membungkuk sebari memakaikan Jiwon pakaian hangat berbahan katun, bayi itu terlihat bergerak kecil dan kedua iris mata hitamnya membulat menatap sang ayah disertai kedua tangan mungilnya terjulur seakan ingin menyentuh wajah ayahnya yang tampan. Chanyeol terkekeh pelan dan bergerak cepat agar anaknya tidak kedinginan dan sesekali ia bersenandung tanpa takut jika Jiwon akan terganggu.
Arah mata Chanyeol melirik kamar Jackson dan Jesper mengingat jika Baekhyun sedang menemani kedua jagoannya mandi. Chanyeol kemudian mengambil satu pasang sarung tangan sekaligus sarung kaki Jiwon lalu memasangkannya. Bayi itu menggeliat dan bergumam seperti 'Hmm..mmm..'
"Chaa~ selesai." seru Chanyeol lalu wajahnya ia dekatkan ke perut kecil Jiwon lalu mengecup-ngecupnya, membuat kepalan tangan bayi itu menepuk-nepuk pucuk kepala ayahnya.
Chanyeol menatap Jiwon seraya mengajak anaknya 'bicara' "Apa sayang? Ah, anak papih sudah wangi dan segar sekarang."
Chanyeol kembali tegak dan menjulurkan telunjuknya untuk menyentuhkannya pada bibir Jiwon, otomatis mulut mungil itu mengikuti pergerakan telunjuk Chanyeol yang merupakan sebuah tanda jika waktunya Jiwon untuk menerima asupan nutrisinya. Chanyeol mengangguk pelan seraya tersenyum pada anak bungsunya. "Arrata, Jiwonnie papih lapar ternyata. Sebentar ya? Kita tunggu mamihmu."
Sementara itu Baekhyun berjalan ke arah suami dan anak bungsunya dengan membawa sebuah botol penyimpan ASIP juga tak lupa botol dot mungil bermotif strawberry, jalannya terlihat pelan dan sesekali Baekhyun meringis seraya memegangi perutnya. Sesampainya Ia mengelus bahu kokoh Chanyeol dan membungkuk untuk mencium pipi suaminya. "Sudah selesai?"
Chanyeol menoleh lalu mencuri satu ciuman di bibir Baekhyun dan tersenyum singkat. "Sudah, Jiwon juga sudah lapar, sayang." Kemudian Chanyeol menuntun Baekhyun untuk duduk disamping bayi mereka.
Baekhyun mengangguk. Dengan itu ia menuangkan isian hangat dari botol ASIP kedalam botol dot yang telah didesain khusus untuk bayi baru lahir. Setelahnya, Baekhyun membuka sebagian kancing piyamanya dan membawa tubuh Jiwon untuk ia dekap di dadanya, salah satu metode untuk saling membaluri suhu hangat dan aroma tubuh antara si ibu dan bayinya. Hangat, wangi dan empuknya dada mamihnya membuat Jiwon meringkuk nyaman.
Dan jangan lupakan ada Park Chanyeol yang terlihat menelan ludahnya saat ini. Jiwon seakan menjahili ayahnya dengan menjulurkan sebelah tangannya sampai tulang selangka Baekhyun seolah memberitahu jika itu adalah daerah miliknya. Jiwon sesekali bergumam seperti 'Hmm..mmmm..'
Menyadari hal itu Baekhyun menatap Chanyeol dengan alis yang terangkat sebelah. Entahlah, wajah suaminya terlihat memelas memandangi err- dadanya yang tereskpose.
"Apa lagi yang kau lakukan disini, Chanyeol? Segeralah mandi dan sarapan dengan anak-anak." Ujarnya sebari menepuk-nepuk pelan bokong Jiwon.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan setengah horny, pria itu mendekat dan berbisik di telinga kanan Baekhyun dengan Deep Voice-nya. "Baek-ah, aku juga butuh kau baluri dengan dadamu."
Mendengar bisikan mesum suaminya, Baekhyun sontak saja menjauhkan telinganya dan matanya menyipit tajam. "Chanyeol, jangan bilang kau iri?Oh please! Dia anakmu. Ok?"
Mendengarnya, pria itu menghela nafasnya kecewa. Omong-omong, sudah lima hari sejak kepulangan istri dan bayi barunya Chanyeol belum diberi kesempatan untuk sekedar berduaan dengan Baekhyun. Ditambah sejak ia mengetahui bahwa Jiwon kerap kali menangis jika Chanyeol meletakan putra bungsu mereka ke dalam box bayi, tangis Jiwon tidak kunjung mereda walaupun sudah Chanyeol sodorkan susu juga saat pria itu memeriksa popoknya pun masih terasa kering. Tangisan Jiwon baru berhenti saat Baekhyun menawarkan diri untuk mencoba mendekap Jiwon di ranjang mereka dan seketika Chanyeol merasa diguyur air es. Bahkan setelah Jiwon terlelap, dengan rawut wajah lelah Chanyeol mencoba memindakan Jiwon kembali ke dalam box bayi namun bayi mereka kembali menangis. Dengan wajah ingin menangis Chanyeol kembali meletakan Jiwon disamping Baekhyun dan bayi itu kembali tenang.
Chanyeol menangis dalam hati karena kesempatan untuk berdua dan mencumbui namja mungilnya seperti biasa di ranjang mereka terenggut seketika. Dan Chanyeol pun heran, perasaannya saat Jackson maupun Jesper masih bayi mereka tidak pernah berlaku seperti ini. Entah, Chanyeol merasakan jika Jiwon seperti akan memonopoli Baekhyun untuk kedepannya.
Duh! Pikiranmu itu Park! Kau pikir siapa yang menuruni sifat itu pada Jiwon, huh?
Baekhyun saat itu hanya tersenyum lembut yang padahal di hatinya tersenyum setan -mengelus rambut suaminya dan hanya berujar. "Dia anakmu, Chanyeol, bersabarlah."
Chanyeol mendesis dalam hati. 'Mudah sekali mengatakannya, Byun Baekhyun!'
Kembali ke saat sekarang dimana Chanyeol dibuat iri sedemikian rupa. Dengan sigap ia menarik tengkuk Baekhyun ke samping dan mengecup bibirnya sebentar lalu melepaskannya. "Jika begitu, jangan halangi aku berbuat ini." Ujarnya lalu kembali menempelkan bibir mereka.
Baekhyun tersenyum dalam ciuman mereka, ia mengerti karna Chanyeol mungkin sudah lama merindukannya lantas membalas ciuman Chanyeol dengan sama dalamnya dan seakan lupa pada Jiwon yang berada digendongannya. Chanyeol memagut kedua bela bibir Baekhyun lalu melumatnya, pria itu menciumnya dengan 'lapar'
Lama berpagutan Chanyeol melepaskan ciuman mereka dan mulai memindahkan ciumannya pada leher putih Baekhyun namun tiba-tiba saja...
..."PAPIIIIIIH! DIMANAAA!? KAMI LAPAAAAR!"
Chanyeol memejamkan matanya. 'Shit.'
Ditambah juga...
..."Emmm...maaa...mmmm." Jiwon yang sudah bergerak pelan merengek meminta nutrisinya dengan segera.
'Double Shit!'
Baekhyun tertawa pelan.
"Segeralah hampiri mereka, semangat papih Chanyeol!"
Setelah itu namja kecilnya mengambil dot mungil disampingnya dan fokus untuk 'menyusui' Jiwon.
Chanyeol menghela nafasnya untuk kesekian kali. Dengan lemas ia kembali mengecup bibir Baekhyun sekilas, pria tiga anak itu bangkit dan menuju dua jagoan mereka.
.
.
.
Pukul lima sore. Di sebuah ruang keluarga terlihat Chanyeol tengah duduk bersandar di sebuah sofa panjang dengan pandangan yang fokus menatap televisi.
Sementara itu di sebuah karpet tebal tepat di depan sofa. Baekhyun menidurkan Jiwon di sleeping-bed for baby tepat di sebelahnya kemudian ia melirik kearah Chanyeol. "Chanyeol, ibuku bilang di telepon mereka akan tiba besok siang."
Chanyeol balas menatap Baekhyun lalu mengangguk. "Baiklah. Apa aku harus menjemput Ayah dan Ibu?"
Baekhyun menggeleng seraya membenahi baju Jiwon. "Tidak perlu, Ayah selalu memakai supir pribadi. Mereka pun akan berbelanja terlebih dahulu sebelum kesini. Kau tahu betapa antusiasnya Ibu saat kita menunjukan foto Jiwon?"
Chanyeol pun ikut duduk di karpet kemudian tangannya membawa kepala Baekhyun untuk bersandar di dadanya. "Kau benar, apalagi Ibuku yang sempat memekik heboh saat melihat telinga Jiwon."
"Lagi-lagi telinga. Huft!"
Chanyeol hanya tertawa dan Baekhyun memejamkan matanya sebentar kemudian kembali terbuka. "Ah ya, dimana kedua malaikatku?"
"Mereka baru selesai mandi dan saat ini sedang memakai baju sepertinya." Chanyeol merasakan Baekhyun sedikit tersentak dan mendongkak.
"Mereka tidak meminta dipakaikan baju!?" Ujar Baekhyun sedikit terkejut.
Chanyeol menggeleng dan mengecupi rambut Baekhyun. "Saat aku akan membantu mereka, tiba-tiba saja Jackson meminta agar aku berhenti dan mengatakan jika ia bisa melakukannya sendiri, begitu pula dengan Jesper, ya walaupun anak imut kita itu cukup merepotkan Hyungnya meminta bantuan ini itu. Mereka ingin belajar mandiri demi mamihnya. Kata mereka."
Mendengar semua itu, Baekhyun langsung memeluk leher Chanyeol dan terisak terharu disana, membuat Chanyeol terkejut bukan main namun ia tetap membiarkannya dengan mengelus punggung sempit istrinya.
Hati Baekhyun menghangat, bagaimana pun Baekhyun yang paling mengerti betapa manjanya anak mereka sebelum ini. "Kau berhasil mendidik mereka, Chanyeol." Ucapnya
Chanyeol tersenyum lembut seraya menggeleng. "Bukan aku, tapi kita berdua." Ia melepaskan pelukan istrinya dan menatap dalam kedua mata indah Baekhyun seraya berkata.
"Terutama dirimu, terima kasih telah berjuang sejauh ini, melahirkan mereka dan menjadi pelengkap kebahagiaanku. Tetaplah bersamaku sampai kapanpun, kita harus bersama-sama melihat mereka tumbuh besar dan mendampingi mereka dipernikahannya kelak lalu rambut kita akan memutih sampai dimana kita meninggal bersama di sebuah kasur yang hangat."
Hati Baekhyun membuncah saking bahagianya. Benarkah ini suaminya Chanyeol? Baekhyun mengerjap beberapa kali lalu dengan kedua mata yang berkaca-kaca menangkup kedua pipi suaminya dan mengecup sekilas namun dalam bibir penuh Chanyeol.
"Dari mana kau belajar kata-kata chessy seperti itu, Yeol?" Baekhyun tertawa saat Chanyeol mencibir kearahnya.
Chanyeol balas dengan memeluk pinggul ramping Baekhyun. "Kau merusak suasana."
Namun Chanyeol merendahkan kepalanya sampai telinga Baekhyun dan menyanyikan beberapa bait lagu.
" 'Cause all of me...
...Loves all of you...
...Love your curves and all your edges...
...All your perfect imperfections."
Keduanya tertawa pelan dan saling menempelkan dahi mereka. Baekhyun bersyukur memiliki Chanyeol di hidupnya. Pria yang bersedia memahaminya, menerima kekurangan yang prianya anggap sempurna, juga berhasil menjadi seorang suami sekaligus ayah yang hebat. Chanyeol dan Baekhyun terhanyut dalam kesunyian mereka lalu tersenyum hangat seraya mendekatkan wajah mereka.
"I'm so proud when i remembered that i have you." Ujar lirih Chanyeol
Setelah bibir mereka menempel satu sama lain Chanyeol berinisiatif membuka sedikit bibirnya untuk melum...
..."Errr, Pih? Mih?"
Sepasang suami istri itu terkejut bukan main. Baekhyun buru-buru menegakkan tubuhnya disisi Chanyeol juga nafas mereka yang terengah. Baekhyun berusaha bersikap wajar dan tersenyum menatap kedua anaknya. "Sudah selesai, boys?"
Jackson dan Jesper mengangguk kemudian si sulung duduk dihadapan Baekhyun, refleks mamihnya itu menyisir rambut hitam Jackson dengan jemari lentiknya.
Jesper duduk disamping baby Jiwon dan mengecup pipi gembil adiknya. "Soreee, adiknya Jesper Hyung. Jiwonnie wangi sekali seperti bayi!"
Jackson menatap kedua adiknya datar. "Jiwon memang bayi, Jes!"
Namun Jesper mengabaikannya. "Jiwonnie sudah makan?" Ia menoleh kearah mamihnya. "Mamih, cha! Berikan dotnya pada Jesper!"
Chanyeol mendekat dan mendekap Jesper dari belakang seraya mengecup pelipis anaknya. "Adikmu sudah makan." Jawaban Chanyeol membuat bibir Jesper mengerucut sebal.
"Jika begitu, besok giliran Jesper yang kasih dot! Akan Jesper sembunyikan dotnya dari Papih!" ujar Jesper dengan polosnya.
Sontak saja itu membuat Chanyeol dan Baekhyun terbahak dibuatnya. Yah, kecuali Jackson yang hanya memilih berbaring disebelah Jiwon dan mengelus perut adiknya.
Tak lama dari itu terdengar suara nyaring bel berdering beberapa kali. Saat Chanyeol akan bangkit, Jackson sudah terlebih dahulu berjalan kearah pintu.
Sementara itu, mata Jackson membulat saat melihat ke layar intercom. Disana terdapat beberapa orang dewasa berpakaian kantor dan sisanya berpakaian casual, juga beberapa anak yang dimana mereka semua sudah ia anggap sebagai keluarga keduanya. Dengan semangat, Jackson membuka pintu rumahnya dan memekik kencang saat Kris menggendong tubuhnya. "Hello boy!" Ucap pria pirang itu.
"Daddy?!" teriak Jackson
"Hey, jagoan!" Terlihat Kim Jongin berseru lalu ia maju dan mengepalkan tangan kearah Jackson. Seolah mengerti, putra sulung Park itu melakukan hal yang sama dan mereka saling menabrakan kepalan tangan mereka satu sama lain.
Baiklah, kita absen siapa saja yang datang saat ini.
Terdapat keluarga Oh Sehun, Luhan, Haowen serta si imut Ziyu. Juga Joonmyeon, Yixing dan anak tunggal mereka Anson. Tak lupa keluarga penuh harmonis Jongdae, Minseok dan Daeul. Keluarga penuh kharisma Kris, Tao dan Yuzi dan terakhir keluarga Jongin, Kyungsoo, Taeoh dan Hyanggi.
Gadis bermata doe itu melambai kearah Jackson seraya tersenyum manis. "Hai, Jacksonnie!"
Oh, jangan! Jangan bersemu Jackson! Dengan gugup bocah perawakan seperti Chanyeol itu meronta ingin diturunkan karena tak ingin terlihat seperti anak kecil dihadapan Hyanggi, pujaan hatinya. "H-hai, Hyanggi Noona!"
"Hey! Jackson!" Taeoh, Daeul, Anson dan Haowen menghampiri Jackson lalu saling melakukan high-five bergantian.
"Baiklah! Ayo masuk dan temui adik bayi!" Ujar Jackson dengan semangat dan berjalan masuk diikuti lima pasang keluarga itu.
.
.
.
.
"Chanyeol-ah!"
"Baekhyun-ah!"
Suara berisik itu menggema di ruangan mereka sontak menoleh ke arah sumber suara. Chanyeol segera bangkit berjalan kearah sahabat-sahabatnya untuk menerima banyak 'sambutan hangat' yang berupa pelukan yang mencekik.
Para 'ibu' disana meletakan seluruh hadiah yang mereka bawa untuk Jiwon disudut ruangan. Jika kita lihat hadiahnya, disana terdapat sebuah Bouncer hadiah dari keluarga Jongdae, juga sebuah Feeding Set dari keluarga Jongin, tak lupa sebuah Playmate dari Kris, juga satu set lengkap bantal guling dari Sehun dan Luhan, dan yang paling besar adalah sebuah Stroller yang Baekhyun sanksi hadiah dari Joonmyeon dan Yixing. Lalu mereka duduk disekitar Baekhyun dan bercengkraman satu sama lain. Pada anak duduk di dekat Jesper juga Jiwon.
Hyanggi membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Jiwon, mata besar indahnya menatap Jiwon dengan mata berbinar. "Waaah, Jiwon sangat imut." Pekik gadis itu.
Jesper menyenggol lengan Jackson, namun Hyungnya itu mengabaikannya dan malah terus menerus memerhatikan Hyanggi.
"Cih!" Cibir Jesper
"Hem, Jiwon sangat manis! Jadi ingin punya adik." Kali ini Daeul bersuara.
Anson menatap Daeul dan berujar. "Kenapa kau tidak minta saja pada eomma dan appa mu?"
Taeoh yang mendengarnya hanya mendengus. "Bukankah katamu adik itu sangat merepotkan? Kau bilang tak ingin perhatian eomma mu terbagi."
Mata Daeul menyipit. "Ya, Kimtae! Apa iya aku pernah mengatakan hal itu?"
"Pura-pura lupa atau apa?" Ujar Yuzi
"Sekarang aku semakin yakin jika kau duplikat appa Jongdae." Haowen yang bersuara kali ini
Daeul berlaga seperti akan memukul Haowen. "Apa maksudmu? Aku sih, tidak masalah jika mendapat adik secantik Jiwon. Jackson-ah, jika besar nanti boleh kan jika aku menjadikan Jiwon sebagai istriku, bagaimana?"
Jesper langsung mendelik tajam kearah Daeul. "Dalam mimpimu!" Ujarnya dingin
Namun Jackson memilih terkekeh lalu tangannya terjulur untuk menjabat Daeul. "Salam, adik ipar."
Sontak Jesper memekik melihatnya. "Apa-apaan kau Hyung! Kau akan memberikan Jiwon kita pada muka kotak sepertinya?"
Ziyu meringis. "Jahat sekali, Jesper." Namun Jesper hanya bergidik tak peduli dan itu membuat Daeul menggerutu sebal.
Mata puppy Jesper menatap anak-anak yang lain. "Ya! Kalian mau makan sebatang coklat dingin?"
Daeul yang mendengar itu mengangguk cepat dan langsung menarik lengan Anson dan Yuzi. "Kajja! Kita habisi kulkasnya sekarang."
Dan kedua bocah itu berseru. "YAY!"
"Haowen ge, yuk kita makan sama-sama!" Jesper menarik lengan Haowen, namun lelaki pujaannya itu tidak bergerak melainkan menoleh kearah Ziyu. "Ziyu, mau ikut tidak?"
Ziyu menoleh seraya menggeleng, lengan kecilnya bermain dengan kepalan tangan Jiwon. "Aku akan tetap disini dengan Jiwon."
Haowen mengangguk lalu matanya melirik Taeoh. "Kalau kau?"
Taeoh pun menolak. "Tidak, kakak ipar, aku akan tetap bersama Ziyu disini, iya kan babe?" Tangannya merangkul Ziyu.
Bocah kecil perawakan seperti Luhan itu melepaskan rangkulan Taeoh dan menggerutu. "Apa sih!"
"Jangan jutek begitu dong, nanti cantiknya hilang." Taeoh terkekeh.
Baekhyun dan yang lainnya yang sedari tadi memperhatikan mereka tak mampu menahan tawanya. Astaga, anak-anak mereka lucu sekali sih!
Luhan mengusap air disudut matanya. "Entahlah namun cara Taeoh menggoda Ziyu mengingatkanku pada Jongin yang dulu sering menggoda Kyungsoo." Ujarnya.
Minseok mengangguk lalu menatap Kyungsoo. "Aigoo Kyungsoo-ya, beruntung Hyanggi memiliki sifat yang dominan padamu."
Kyungsoo hanya bersemu dan menarik Taeoh kepangkuannya.
Sementara itu para Ayah duduk memenuhi sofa dan Chanyeol berada ditengah mereka. Jongin meninju bahu Chanyeol dengan lumayan keras. "Oh man! Selamat untuk kelahiran anakmu yang ketiga!"
Kris mengangguk dan menyeringai. "Sialan, kau 'Cepat sekali' Yeol."
Chanyeol hanya tersenyum miring kearah mereka sementara Jongin tersenyum setan menatapnya. "Gila si giant ini! Kalian tau? Jesper masih sekecil itu ia malah sudah tambah anak lagi."
Joonmyeon mengambil jeruk di meja nakas pinggir sofa dan memakannya. "Kecil apanya? Lagipula Jesper sudah enam. Cukup produktif untuk menjadi seorang kakak. Lagipula, menurut penelitian-"
"Ha, ha!" Jongdae mendengus sebal sebari mengibas-ngibaskan tangannya kearah Joonmyeon karena teori anehnya itu. "Harusnya kita tidak membawa dokter ini kemari."
"Ya!" Joonmyeon memukul kepala Jongdae.
Sehun terkekeh lalu ia sedikit berdeham. "Sejujurnya aku ingin sekali membuat 'satu' dengan Luhan tetapi Ziyu tak menghendakinya." Ia mendengus pasrah.
Jongdae menepuk bahu Sehun tiga kali dan menatap temannya ini maklum. "Bukan hanya kau, Daeul pun begitu."
"Kalian pasti tersiksa dengan sebuah 'karet'" celetuk Chanyeol yang diangguki Sehun dan Jongdae
"Oi." Kris menyahut lumayan keras, sontak kelima pria itu menoleh kearahnya.
Kris berkata. "Chanyeol-ah, Baekhyun yang selalu dalam masa subur atau kau yang memiliki trik membuat uke cepat hamil?"
"Kau ingin memberi adik untuk Yuzi?" Ujar Joonmyeon
"Mungki saja." Wajah mesum Kris ia arahkan kearah Tao yang sedang bermain dengan Jiwon.
Chanyeol menyeringai dan sedikit berdeham. "Bukan karena Baekhyun sedang subur atau aku memiliki trik khusus. Sperma-ku saja yang lebih manjur dari milik kalian."
Para seme berseru tak terima. Sementara Chanyeol hanya melipat kedua tangannya di dada dan menatap sombong ke semua teman-temannya.
Jongin melempar bantal sofa kearah Chanyeol. "Apa-apaan dengan mukamu itu! Dan lagi, apa kau ingat ketika semasa SMA kita dulu dimana aku, kau dan Sehun melakukan onani bersama-sama di kamar asrama? Siapa yang 'keluar' paling banyak ho?"
Sontak saja para pria itu terkejut dan langsung menempuk bibir Jongin berkali. Aish! Si dungu ini!
"Ya! Apa-apaan kalian!?" Ujar Jongin seraya memberontak.
Sehun menendang keras tulang kering Jongin dengan kakinya. "Bahasamu Jongin! Aigoo yaa bodoh ini, umurmu sudah tigapuluhtiga tapi sikapmu tetap tak berubah."
Joonmyeon terkekeh menatap keduanya. "Ah~ aku baru ingat jika sebutan kalian semasa sekolah dulu itu adalah trio-trio, trio apa ya?"
"Trio bangsat!" ucap Jongdae dan Kris bersamaan.
Para Ayah tertawa bersama. Sementara Baekhyun sedari tadi memperhatikan mereka dan menyipitkan matanya curiga. 'Pasti obrolannya tak jauh dari hal-hal mesum!' Pikirnya.
Kyungsoo maju perlahan untuk duduk disamping Baekhyun. "Baekhyun-ah, kau sudah baikan? Bekas cesarnya masih terasa?" Ucapnya
Baekhyun meletakan bahunya di bahu Kyungsoo bersandar disana. "Tidak begitu terasa karna kali ini jahitannya tidak begitu besar. Kau lihat tubuh kecil Jiwon itu?"
Kyungsoo mengangguk dan mengelus perut sahabatnya. Merasakan keprihatinan Baekhyun, lagi pula tentu ia mengerti seperih apa rasa efek operasi pasca cesar. "Kuat sekali perut sekecil ini sampai bisa melahirkan tiga anak. Aku saja kewalahan saat mengandung Taeoh." Ujar Kyungsoo namu Baekhyun hanya terkekeh.
Dihadapannya Luhan mencoba menggendong Jiwon lalu mengayunkannya pelan, bayi itu mengerang karena ada aroma asing yang masuk penciumannya, Jiwon seperti akan menangis. "Cup, cup, sayaaang ini bunda Luhan Cup~ Cup~"
Disisi kanan Luhan terdapat Minseok dan disisi kirinya Tao yang memekik seperti gadis ketika melihat wajah Jiwon. "Jiwon sangat mirip dengan Baekhyun, bukankah begitu?" Tanya namja panda itu
Minseok menggeleng. "Tidak, justru wajahnya cenderung mirip Chanyeol, juga lihat telinga imut itu!"
"Kalian berdua salah, justru wajah Jiwon adalah perpaduan pas dari Chanyeol juga Baekhyun, lihat tahi lalat di sisi kiri dekat bibirnya? Persis seperti milik Baekhyun. Kau ini ya, Baek!"
Baekhyun hanya tertawa pelan melihat sahabat-sahabatnya yang sibuk berkomentar tentang Jiwon
Ziyu yang melihat bundanya menggendong Jiwon dengan sayang langsung memberi bundanya dengan tatapan cemburu, ia menghampiri Luhan dan merentangkan kedua tangannya minta dipeluk. "Bundaaaaa!"
Luhan yang melihatnya kemudian menyerahkan Jiwon pada Minseok yang langsung diterimanya. Minseok tersenyum lembut dan mencium dahi Jiwon. "Annyeong baby, ini eomma."
Hal ini membuat Jongdae yang melihatnya dari sofa memunculkan rawut wajah penuh rencana ditambah seringai Jahat.
"Uh! Sayang bundaaa...kemari." Luhan membawa Ziyu ke dekapannya. "Tidak boleh bunda gendong adik bayi kah?"
Ziyu menggeleng dan memeluk leher bundanya posesif. Baekhyun terkekeh dan mengusap rambut Ziyu. "Cara cemburu Ziyu mengingatkanku pada Sehun saat dulu."
Luhan terkekeh menatap Baekhyu. "Kau benar. Ziyu seringkali memonopoliku hingga membuat Sehun kesal."
Sementara Taeoh sudah dari tadi menyusul teman-temannya yang lain karena lelah terus diabaikan Si cantik Ziyu.
Baekhyun baru menyadari jika Yixing sedari tadi diam saja, lantas ia menggenggam lengan namja berpipi dimple itu. "Kau sakit Xing?"
Sontak saja Yixing menggeleng lalu mengelus perutnya yang agak membuncit. "Aku tidak apa-apa, Baek-ah, hehehe. Perutku tidak enak, besar sekali, Joonmyeon bilang jika aku tengah mengandung anak kembar."
Mata Baekhyun membulat menatap Yixing. "Astaga, Joonmyeon Hyung itu tidak kira-kira ya? Tapi jika kau kesulitan, mintalah saran dariku, ya?"
"Kurasa tak perlu, Baekhyun-ge ingat jika suami Yixing-ge seorang dokter kan? Pasti Yixing-ge dapat melaluinya dengan mudah." Ujar Tao
Mereka semua terlarut dalam obrolan yang mengasyikan. Baekhyun bersyukur dalam hati memiliki keluarga kedua seperti mereka. Orang-orang ini adalah mereka yang dimana telah melalui banyak hal-hal pahit bersamanya sejak dulu, saling melindungi dan membela satu sama lain sampai mereka semua mendapat kebahagiaan mereka masing-masing. Persahabatan dan percintaan SMA yang indah dan penuh air mata.
.
.
.
Hari menjelang malam, tampak beberapa anak terlelap dalam gendongan ayah mereka dan berjalan menuju mobil milik mereka, sebelum itu mereka semua melambai kearah Chanyeol dan Baekhyun dari masing-masing jendela mobil. "Sampai jumpa! Chanyeol! Baekhyun! Selamat untuk anak ketiga kalian!"
Baekhyun mengangguk dan balas melambai. "Terima kasih untuk hadiahnya!" Teriaknya
Dan keluarga terakhir yang berpamitan adalah keluarga Sehun, tubuh Ziyu yang tengah berada digendongan ayahnya maju untuk mencium pipi Baekhyun. "Selamat yaaaa, mamih."
Baekhyun balas dengan mengecup dahi anak imut itu. "Iya sayang, Ziyu hati-hati dijalan ne?"
Sehun mengangguk. "Chan, Baek, aku duluan oke?"
Setelah mereka semua berlalu Baekhyun berbalik untuk menutup pintu dan menyusul Chanyeol yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah, namun seorang pegawai kantor pos menghampiri Baekhyun dengan membawa sebuah bingkisan di tangannya.
"Selamat malam. Ada kiriman paket untuk Byun Baekhyun."
Baekhyun berbalik menatap orang dihadapannya dan segera saja menjawab. "Oh, ne, saya sendiri."
Pegawai kantor pos itu tersenyum ramah lalu memberi Baekhyun nota tanda terima dan sebuah bulpoin. "Tolong tanda tangan disini."
Baekhyun segera melakukannya lalu kedua orang itu saling membungkuk dan mengucapkan terima kasih, setelah itu Baekhyun mengambil bingkisan paketnya yang cukup besar dan lumayan berat kedalam rumah. Setelah meletakannya di atas meja, mata Baekhyun menelisik dengan penuh penasaran dan menebak-nebak siapa yang memberinya kiriman paket ini. Maka dari itu, Baekhyun segera saja membukanya.
Rasa penasarannya terbayar tatkala Baekhyun menemukan sebuah kartu ucapan yang tertempel dipinggir kotak isian paketnya, lantas ia mengambilnya dan membaca isi surat itu.
Dan seketika Baekhyun terkejut mengetahui siapa si pengirim ini. Surat itu berisikan:
'Selamat untuk kelahiran anak ketigamu, Baekhyun-ah. Maaf aku tidak bisa datang, selain karena pekerjaanku yang menyita waktu, aku juga tidak ingin terbawa perasaan saat melihatmu sudah sebahagia ini sekarang. Titip salam ku untuk mantan sainganku Park Chanyeol juga katakan pada Jackson dan Jesper bahwa paman tampannya merindukan mereka.
Semoga kau selalu bahagia, aku selalu berdo'a untuk itu.
With love, mantan terindahmu Jung Daehyun'
Segera saja Baekhyun membuka tutup kotak paket dari Daehyun dan ia terkejut ketika melihat sebuah mesin Sterillzer di dalam kotak itu, sebuah alat yang berfungsi untuk mensterilkan alat-alat makan untuk bayi dan Baekhyun tahu pasti jika harganya sangatlah mahal. Wah jika begini, Baekhyun harus cepat-cepat mengucapkan terima kasih pada Daehyun.
"Bingkisan dari siapa?"
Baekhyun terkejut menyadari Chanyeol berada di belakangnya, namja mungil itu mengelus dadanya. "Kau mengejutkanku!"
Namun Chanyeol tidak mengindahkan reaksi istrinya itu dan malah menarik kartu ucapan dari tangan Baekhyun. Dan seketika Baekhyun merasakan situasi yang mulai tak mengenakan.
"Jung Daehyun?!" Pekik Chanyeol
Baekhyun mengangguk dan menatap datar Chanyeol. "Kita tidak boleh menolak kebaikan orang lain, Chanyeol."
Suaminya itu mendengus kesal menatap mesin itu seolah ia adalah musuh. "Siapapun asal jangan Daehyun itu, aku tidak suka. Dan apa-apaan dengan bunyi isi surat menggelikannya ini?" Balasnya kekanakan.
Baekhyun memejamkan matanya lelah. "Yang benar saja, kita sudah memiliki tiga anak namun kau tetap saja sering cemburu pada Daehyun yang jelas sudah memiliki tunangan."
Chanyeol mengabaikannya lalu mendekat dan memeluk Baekhyun dari belakang dilanjut mengecup tengkuk istrinya beberapa kali. "Aku akan selalu cemburu padanya dan pada siapapun yang memiliki masa lalu denganmu karena aku tahu betapa sulitnya mendapatkanmu dari orang-orang yang sama denganku yang sangat menginginkanmu."
Baekhyun bersemu malu dan mendongkak saat Chanyeol mengecupi sisi lehernya, dengan susah payah ia berujar. "Kau kira aku memiliki berapa mantan?Mantanku hanya Daehyun dan ia akan selalu jadi mantanku, kau tidak perlu takut!"
Chanyeol tersenyum lega mendengarnya dengan itu ia membalikkan tubuh Baekhyun dan saat tangan Chanyeol menangkup kedua bongkahan kenyalnya, meremasnya, sontak Baekhyun mundur perlahan menghindari Chanyeol. "Baiklah sepertinya aku harus menidurkan Jiwon."
Chanyeol hanya menyeringai melihat Baekhyun yang berusaha kabur darinya. "Dan sepertinya kau harus terlebih dulu menidurkan Chanyeol junior di bawah sana."
"Eh! Hanya dengan begini saja kau tegang!?"
.
.
.
END! Atau AND? /PLAK\
[P.S : Waaaaah! Ga ngangka kalau ff Park Family ini cukup banyak yang mengapresiasi! Terimakasih buat temen-temen EXOLs apalagi Chanbaek Shippers yang sudah bersedia memberikan review! Itu sangat membantu untuk melahirkan series kedua dari cerita Park family, Komen" unyu kalian Aku sudah baca semua dan Aku mengucapkan banyaaaak Terima kasih ^^]
[P.S.S Jika berminat ini lanjut, diharapkan review lagi yaaa! ^^ ]
[P.S.S.S Mphi Hyung gak Aku tambahin karna jika iya, Chanbaek Udah tua bingit atuh ya? Lagian bingung juga akunya kalo kebanyakan anak hahaha.]
[P.S.S.S.S Mau ff konflik chanbaek karena kiss scene sialannya papih gaa? Hahaha sok atuh review yah ^^ ]
