Theme 2: Pride
Setting: Fate/extra CCC
Disclaimer: franchise Fate adalah milik Tuan Jamur dan Tipe-Bulan yang luarino biasarino!
Servant Juga Manusia
A Fate-verse fanfic
Fate Kinoko Nasu & TYPE-MOON
Chapter 2
Seven Sins: Pride
Ahh... Uruk.
Sebuah negeri ajaib di tengah tandusnya dataran Mesopotamia. Negeri yang agung, dengan bangunan tinggi terbuat dari pasir dan batu, dinding pelindung yang kokoh, pemandangan hijau, dan istana bergelimang emas permata. Rakyat hidup dengan sejahtera, pasukan kerajaannya tangguh, kondisi negara sungguh stabil. Mereka seolah tidak terpengaruh dengan kerasnya lingkungan di luar sana, di mana dataran kering tersebar.
Semua ini berkat kebijaksanaan sang raja. Konon, Ia adalah manusia 2/3 dewa, dari ayah manusia dan ibu dewa. Kekuatan dan kecakapannya tidak mengenal batas, dan sejak awal dia bertakhta rakyatnya sudah menuliskan berbagai kisah untuk menyanjungnya.
Seperti hari itu.
Pesta besar digelar di Uruk, pesta yang mungkin paling besar sepanjang sejarah kerajaan itu. Seluruh rakyat tumpah ruah di jalanan, tak peduli tua muda, pria wanita, kaya miskin, pria dan wanita, semua. Tidak mempedulikan matahari yang bersinar terik di atas kepala, mereka berpesta.
Karena cuaca itulah yang jadi sumber kegembiraan mereka.
Selama 7 tahun sebelumnya, langit ditutupi awan gelap. Tanpa cahaya matahari, panen gagal dan rakyat menderita kelaparan. Belum lagi air bah yang ditimbulkan waktu hujan deras mengguyur. Ini karena ulah Banteng Surga, seekor makhluk langit yang dilepaskan ke atas bumi oleh dewa yang marah.
Tapi hari ini, kuasa jahat makhluk itu telah berakhir.
Setelah pertarungan sengit 7 hari dan 7 malam, sang Banteng telah dikalahkan. Tadi pagi bangkainya yang luar biasa besar jatuh dari langit, berdebam menggetarkan tanah Uruk.
Di atas badannya berdirilah 2 pahlawan Uruk... sang raja, Gilgamesh dan sahabatnya, Enkidu.
Kerjasama mereka berhasil mengalahkan seekor makhluk surgawi, sebuah pencapaian yang dianggap mustahil oleh rakyat dan bahkan para dewa. Kedua pahlawan itu dielu-elukan di seluruh penjuru negeri, sorakan yang mereka terima menggelegar lebih dahsyat dari guruh yang bergulung-gulung di awan gelap yang menutupi mereka selama 7 tahun.
Tapi bagi Gilgamesh, itu bukanlah pencapaian yang luar biasa. Dia hanya melakukan apa yang seharusnya dia lakukan, sebagai seorang raja.
Di tengah keramaian pesta rakyat, sang raja emas duduk termenung di takhta berkilaunya, dengan segelas minuman madu di tangan kanan dan wajah bertopang di tangan kirinya. Tatapan matanya sinis seperti biasa, seolah dia tidak merasakan kegembiraan yang melanda seisi Uruk.
"Kamu bosan, rajaku?"
Terdengar suara feminim dari dekatnya. Tanpa Gilgamesh menoleh pun, dia tahu bahwa itu berasal dari Enkidu, sahabatnya. .
"Heh, tentu saja kau bisa membacaku," kata Gilgamesh sambil mengangkat wajahnya. Dia menenggak minumannya dan menoleh kepada Enkidu.
Enkitu tengah berdiri dengan santainya, kedua tangan dilipatnya di belakang badan. Wajah terlalu sempurnanya bercahaya bagaikan permukaan kolam yang disinari mentari, dan mulutnya menyunggingkan senyuman tipis. Itu ekspresi yang biasa dikenakan Enkidu, seolah dia hanya tahu perasaan gembira dan ketenangan.
"Tidakkah kamu merasa gembira atas pencapaian ini?" Enkidu berkata begitu sambil berjalan ke dekat takhta. Dia lalu membuka kedua lengannya ke arah aula istana di mana pesta juga diadakan. "Lihatlah, rakyat begitu gembira! Penuh sorak-sorai, penuh semangat! Melihat mereka, sepertinya tidak akan ada yang percaya bahwa beberapa hari lalu mereka hidup di bawah ancaman makhluk surgawi."
Sang raja memejamkan matanya, dan menyesap minumannya lagi.
"Gilgamesh, kamu sebagai seorang raja telah menjalankan tugasmu dengan teramat sempurna... kamu sudah melindungi negeri ini, kawan."
"Hah!" sepotong tawa sarkastik terlontar dari mulut Gilgamesh. "Kau salah. Aku tidak melakukannya untuk rakyat dan negeri ini. Aku hanya ingin membalas Ishtar sialan itu."
Itu hanyalah sebuah kilah, pikir Enkidu. Dalam hatinya dia tahu bahwa sang raja emas di depannya ini sangat menyayangi Uruk lebih dari siapapun, bahkan mungkin lebih dari dirinya sendiri.
Beberapa tahun lalu, itu adalah hal yang tidak mungkin terpikirkan oleh Gilgamesh dan juga Enkidu, bahwa sang raja mencintai negerinya. Ahh, Enkidu menghela napas. Rasanya upaya kerasnya mencapai hasil. Upaya membuat Gilgamesh kembali melaksanakan pemerintahan sebagai seorang raja.
-xXxXx-
Pada awalnya, Gilgamesh adalah seorang raja yang sempurna.
Kebijaksanaan, kesabaran, dan kekuatan, semua terkumpul dalam tubuh kecil itu. Putra dari raja terdahulu Uruk Lugalbanda dan dewi Rimat-Nimsun, dalam dirinya mengalir darah 2/3 dewa. Para dewa di langit menjadikannya sebagai Batu Kunci Surga untuk mempersiapkan manusia dl zaman yang mereka tinggalkan.
Pada awalnya, dia mencintai segala hal. Manusia, dewa, tumbuhan, hewan, Uruk, dan dunia. Tapi egonya terlalu besar untuk bisa dikontrol para dewa.
Semakin beranjak dewasa, dia semakin membenci para dewa yang berusaha mengendalikannya. Ia mulai berbuat seenaknya, menjadi raja yang tiran. Ia tidak mau lagi mendengar pendapat dan nasihat dari para menteri dan jenderalnya, bersikeras caranya adalah yang terbaik. Tapi ia lupa, bahwa rakyatnya adalah manusia biasa yang bukan manusia 2/3 dewa. Kebijakan-kebijakan yang ditentukan Gilgamesh terlalu keras buat mereka.
Akibatnya, rakyat Uruk menderita, dan mereka meminta pertolongan kepada para dewa. Mereka ingin para dewa memperingatkan Gilgamesh... tapi para dewa tidak mau turun tangan langsung. Karena kau tahu, kekuatan Gilgamesh sungguh dahsyat; kombinasi darah manusia dan dewi sangatlah poten. Para dewa tidak mau mengambil resiko berhadapan dengannya.
Jadi, para dewa menciptakan sebuah senjata, sebuah Noble Phantasm untuk menghukum Gilgamesh.
Dari tanah liat, bangkitlah "ia". Lama "ia" berdiam di pinggiran Uruk tanpa tahu apa-apa, yang ada dalam pikiran dangkalnya hanyalah satu kata, "Gilgamesh".
Suatu hari, seorang wanita panggilan bernama Shamhat menemukannya. Kemudian, dalam 7 hari 7 malam, "ia" mendapatkan segalanya. Pengetahuan, kemanusiaan, akal budi, dan... cinta.
"Ia" pun meniru wujud Shamhat. Wajah cantik jelitanya, rambut hijau panjang berombaknya, tutur katanya, sikapnya... dari tanah liat, "ia" mengambil wujud sebagai manusia, makhluk sempurna pertama yang "ia" temui.
"Aku tersanjung, Enkidu. Apa kau berpikir aku sedemikian cantiknya, sehingga kau mengambil wujudku?" tanya Shamhat padanya.
Begitulah "ia" mendapatkan namanya. Enkidu.
Enkidu meninggalkan Shamhat setelahnya, karena saat itu yang ada dalam pikiran barunya adalah kewajibannya untuk melaksanakan misi dari para dewa: menyadarkan Gilgamesh.
Ia bertemu dengan Gilgamesh di luar Kuil Utama Uruk dan tanpa basa-basi, ia menantangnya bertarung.
Yang terjadi kemudian adalah pertarungan dahsyat nan legendaris. Berhari-hari mereka habiskan untuk saling menyerang. Gilgamesh entah marah atau terkejut bisa menemukan seorang yang bisa mengimbanginya, apalagi lawannya itu hanyalah sebongkah tanah liat!
Gilgamesh terpaksa melemparkan harta benda dan koleksi senjata dari gudang ajaibnya, hal yang kemudian akan menjadi kebiasaan buruknya. Ia mengerahkan kekuatan penuh, dan tentu Enkidu tidak mau mengalah. Pada akhirnya, Gilgamesh mengosongkan seisi gudangnya, sedangkan dari Enkidu hanya tersisa 1/10 bagian tanah liat. Mereka masih juga imbang setelah itu!
Tapi bukannya marah atau dendam, Gilgamesh menjatuhkan dirinya ke atas tanah dan tertawa kencang. Enkidu mengikutinya, rebah kemudian.
"Kau kuat, Enkidu."
Mungkin itulah pujian pertama yang diucapkan sang raja setelah ia beranjak dewasa. Kata-kata itu sungguh menggetarkan hati Enkidu, sehingga ia hanya bisa bertanya singkat penuh rasa kagum.
"... apa kamu tidak menyesal, mengosongkan seisi hartamu untuk melawanku?"
Gilgamesh menjawabnya dengan suara girang, "Kau pantas menerimanya, kawan."
Di akhir pertarungan itu, sebuah hubungan persahabatan abadi, yang kelak akan diceritakan kepada anak cucu dari segala generasi pun tercipta.
...
Berkat berteman dengan Enkidu, perangai Gilgamesh perlahan berubah; ia jadi lebih memperhatikan negerinya. Ia kembali berurusan dengan keperluan-keperluan negeri yang lama ia tinggalkan untuk bersenang-senang. Keputusan-keputusannya menjadi lebih bijak. Pajak diturunkan, harta benda masyarakat dikembalikan, hukum dan keadilan ditegakkan.
Jangan salah, dia masih seorang raja yang tiran dan seenaknya. Tapi rakyat Uruk tidak lagi tersiksa di bawah kepemimpinannya yang baru. Mereka pun kembali mengelu-elukan sang raja.
Suatu hari, di tengah "liburannya" dari urusan kerajaan, Gilgamesh dan Enkidu bertualang untuk membunuh makhluk penjaga hutan, Humbaba.
Setelah kemenangan mereka, Enkidu bertanya,
"Apa maksudmu memburu makhluk ini, sahabat?"
"Aku hanya menyingkirkan sumber kejahatan yang mengancam rakyatku."
Walaupun Enkidu sudah memperkirakan bahwa kekerasan hati rajanya telah berkurang, ia tetap kaget mendengar jawaban itu.
"Kalau begitu, rajaku, apa kamu... mencintai manusia?"
Gilgamesh menyeringai, "Tentu saja, bodoh. Manusia yang kau katakan itu adalah propertiku, barang milikku. Seorang pemilik macam apa yang tidak mencintai kepunyaannya?"
Itu jawaban yang sangat arogan, tapi Enkidu merasa amat puas mendengarnya. Dia tidak berhak mempertanyakan ideologi Gilgamesh yang menganggap manusia selain dirinya adalah properti miliknya. Toh dia hanya sebongkah tanah liat.
Kemudian Enkidu bertanya lagi, pertanyaan kali ini sesuai dengan misinya untuk mengembalikan Gilgamesh ke pihak para dewa.
"Bagaimana dengan para dewa, apa kamu mencintai mereka juga?"
Pertanyaan itu membuat seringai Gilgamesh memudar, dan untuk beberapa saat Enkidu khawatir telah menyinggung sahabatnya itu. Tapi kemudian sang raja menjawab singkat.
"Kupikir... aku tidak terlalu membenci mereka."
Jawaban yang dinanti para dewa itu menyebar ke seluruh penjuru langit. Para dewa bersorak, mereka berpikir telah mendapatkan lagi Batu Kunci Surga mereka.
Seorang dewi kesuburan, Ishtar, juga mendengar jawaban Gilgamesh. Iapun menganggap Gilgamesh berniat melamarnya. Kebetulan, sejak lama ia memang menyukai sang raja.
Tapi kedatangannya ke Uruk berakhir dengan memalukan.
Gilgamesh mengetahui Ishtar sebagai seorang penyihir yang menyesatkan kaum pria, tidak setia, dan merusak mereka. Ia menolaknya mentah-mentah, di hadapan manusia biasa di sekitar takhtanya.
Enkidu tidak bisa berkata apa-apa saat itu, dia tidak mau terlibat dalam masalah para dewa karena dia hanyalah alat mereka.
Ishtar marah besar, ia merasa terhina dan dipermalukan. Dalam amukannya, ia memohon kepada raja para dewa - sekaligus ayahnya – Anu, menurunkan hukuman untuk Gilgamesh.
Banteng Surga adalah balasan dari Ishtar.
Makhluk itu menutupi langit, menyebabkan awan hitam menghalangi cahaya matahari. Uruk pun mengalami kelaparan dan berbagai bencana karenanya.
Sang raja dengan giat mencari cara untuk mengalahkan makhluk itu. Bertahun-tahun ia merencanakan segala sesuatu bersama para jenderalnya, tapi mereka gagal total. Kekuatan Banteng Surga sangatlah dahsyat, pasukan manusia tidak berkutik melawannya.
Akhirnya Gilgamesh hanya bisa mempercayai dirinya sendiri... dan sahabatnya. Dengan bantuan sang Rantai Surga, Enkidu, Gilgamesh bisa menghentikan gerakan Banteng dan menghujaninya dengan hartanya dari gudang ajaib. Menerima serangan dari berbagai senjata kuno dunia, bahkan makhluk surga sepertinya tidak berkutik. Sang Banteng jatuh, dan awan gelap yang menutupi Uruk berhasil disingkirkan.
Bunyi genderang menyadarkan Enkidu dari pemikirannya. Iapun kembali ke masa sekarang, di tengah pesta menyambut akhir kuasa jahat Banteng Surga. Gilgamesh masih tampak malas-malasan di dekatnya. Enkidu tersenyum.
"Kamu sudah melindungi negeri ini sekali lagi, rajaku, maka berbahagialah," katanya kemudian.
"Heh. Sudah kubilang, aku hanya melindungi propertiku," jawab Gilgamesh. Tapi seringai di wajahnya bukanlah seringai yang arogan, itu lebih tampak seperti sebuah senyuman.
Enkidu menyandarkan diri di dinding dekat takhta. Apapun itu, sahabatnya ini telah menjalankan tugasnya sebagai seorang raja sekali lagi. Sekarang dia akan menikmati pesta, dan kalau bisa menyeret sang raja ikut serta juga. Semua orang pasti akan semakin gembira ketika mengetahui pemimpin mereka iktu dalam hiburan rakyat seperti ini.
Sang raja emas dan gumpalan tanah liat, kombinasi yang aneh itu tidak menyadari, bahwa pembicaraan tadi adalah pembicaraan terakhir mereka.
...
Gilgamesh tidak mau mempercayai ini.
Tapi bagaimanapun dia berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini tidak benar dan semua ini adalah kesalahan... dia tidak bisa mengartikan lain apa yang ada di hadapannya ini.
Enkidu, sahabatnya, tengah terbaring di ranjang kematiannya.
"Sahabat, ini bukan salahmu," kata Enkidu, untuk yang kesekian kalinya, dengan lirih. Hilang sudah suara menggoda penuh semangatnya, ia sekarang terdengar seperti hembusan angin di padang pasir. Hilang sudah wujud cantik luar biasanya, kulit seputih kapas dan rambut sehijau padang rumput... wujudnya perlahan kembali ke asal, sebongkah tanah liat yang kotor dan buruk.
Gilgamesh tidak berkata apa-apa. Tapi, dalam hati dia menyangkal apa perkataan Enkidu. Sahabatnya itu jadi begini karena kesalahannya.
Ishtar, yang dipermalukan 2 kali – pertama karena ditolak Gilgamesh dan kedua karena hukumannya digagalkan – kembali memohon pada Dewa Anu untuk menjatuhkan hukuman. Gilgamesh dan Enkidu telah membunuh makhluk surga, alasannya.
Tapi para dewa tidak bisa menghukum Gilgamesh... karena dia adalah bagian dari mereka. Maka hukuman itupun jatuh kepada Enkidu. Ia yang hanya alat ciptaan dewa tidak bisa menolak hukuman mereka. Iapun menjadi lemah, kehilangan tenaga dan kehidupannya.
Semua karena kesombongan Gilgamesh yang menantang langit dan para dewa.
"Kau salah, Enkidu. Ini semua karena aku-"
Enkidu mengangkat tangannya untuk menghentikan perkataan itu. Tapi tak lama, tangan yang dulunya beradu dengan senjata-senjata terbaik sang raja dan tangan yang bahu-membahu dalam petualangan mereka, kembali juga jadi tanah liat; hancur berserakan.
"Kubilang, tidak apa-apa, sahabat," Enkidu terus tersenyum, seolah dialah yang tengah mendampingi Gilgamesh di ambang kematiannya. Dia tidak merasakan apapun, baik rasa sakit dan rasa takut, karena dia hanyalah tanah liat.
Walaupun begitu, cairan bening meleleh dari kedua lubang yang dulu menyimpan bola mata keemasannya, air mata terakhirnya.
Itu tidak luput dari perhatian Gilgamesh. Iapun bertanya, "Kenapa kau menangis?! Akulah yang seharusnya menangis. Apa kau... takut?"
"Ah... tidak. Rajaku, aku tidak takut," saat itu bahkan bibir Enkidu sudah mulai meleleh. "Aku hanya... tidak bisa membayangkan. Sahabatku, jika aku memikirkan engkau yang akan sendirian lagi setelah ini, aku tidak bisa menahan air mataku..."
Mendengar itu, Gilgamesh menampakkan ekspresinya yang paling manusiawi. Bulir-bulir air dari kedua mata merah darahnya menetes ke tubuh Enkidu yang semakin rusak.
"... kenapa kamu menangis, rajaku? Kenapa kamu menangisiku yang hanyalah alat?" tanya Enkidu. "Padahal, dalam gudang hartamu, kamu memiliki banyak sekali benda yang lebih berharga dariku, bahkan yang tidak ternilai harganya?"
"Bodoh. Kau amat bernilai, Enkidu. Tak ada harta milikku yang bisa melampauimu," kata Gilgamesh dengan suara tegar. Dia meletakkan kedua tangannya di badan Enkidu yang hampir seluruhnya sudah meleleh kembali jadi tanah liat, tidak peduli pakaiannya kotor. "Aku berikrar! Bahwa di dunia ini, di seluruh penjuru langit dan bumi, selama-lamanya, hanya engkaulah yang pantas jadi sahabatku. Enkidu! Hal ini takkan berubah sampai akhir zaman."
Enkidu kembali menjadi tanah liat setelahnya, meninggalkan Gilgamesh yang berteriak sendu bagaikan badai. Mungkin itulah air mata terakhir yang diteteskan Gilgamesh.
-xXxXx-
Moon Cell, SMU Tsukumihara.
"... kenapa kau, Hakuno? Ceritaku terlalu keras untukmu?" tanya seorang pria dengan baju zirah emas yang duduk dengan sombongnya di atas takhta.
Seorang gadis berambut coklat berombak yang duduk bersimpuh di depannya, sibuk mengusap air mata yang terus membasahi pipinya dengan lengan seragam sailor gelapnya. Dia adalah Master dari Gilgamesh pada Perang Cawan Suci versi Moon Cell ini, Hakuno Kishinami. Gadis yang tampak biasa dari berbagai sisi, tapi herannya dia bisa bekerjasama baik dengan Gilgamesh.
Saat itu adalah sesi "Ngobrol dengan Raja", menurut Gilgamesh. Hakuno iseng menanyakan soal kata kunci "sahabat" kepada Servant-nya yang sok itu, setelah membaca Epik Gilgamesh di perpustakaan sekolah. Dia heran, orang arogan seperti Gilgamesh bisa memiliki sahabat. Bagaimana si sahabat itu menghadapi sikap menyebalkan si emas?
Hakuno yang mengharapkan kisah petualangan sahabat yang seru dan membara, malah mendapat cerita yang terlalu menyedihkan buatnya. Dia tidak bisa berkomentar apa-apa.
"Yah, aku tidak bisa menyalahkan kau yang menangis dan mengeluarkan ingus setelah mendengar kisah menyebalkan seperti ini," Gilgamesh mengangkat bahunya. "Karena kisah ini adalah mahakarya umat manusia, mengingat karakter utamanya adalah aku!"
"Aku nggak mengeluarkan ingus!" Hakuno menyangkal.
Ukh, alisnya berkerut kemudian. Bisa-bisanya dia menggodanya! Kenapa Gilgamesh berkata seperti itu, seolah-olah itu cerita yang terjadi pada orang lain?!
Tanpa bisa dikontrol, mulutnya bertanya, "... apa kamu nggak merindukan sahabatmu itu?"
Tersadar atas kebodohannya, dia buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan... tapi terlambat, karena Gilgamesh sudah memandanginya dengan tajam. Hakuno menelan ludah. Aura pembunuh yang dipancarkan Servant-nya itu terlalu pekat! Padahal dia Master-nya!
Tapi secepat aura itu muncul, secepat itu pulalah pudar.
"Ha! Hahaha! Lihat wajahmu itu, anjing kampung! Sudah sepantasnya kau takut karena salah bicara!" si Servant menuding wajahnya sambil tertawa sadis. "Kalau kau bukan Master-ku, kau sudah kupotong jadi 8 bagian karena pertanyaan lancang itu! Tapi tidak apa-apa, sesekali kuabaikan kelancanganmu itu. Karena itu adalah sikap seorang raja."
Setelah itu, seringai senang menghilang dari wajahnya, berganti dengan senyuman melankolis. Senyuman penuh kesedihan, yang tidak pantas mewarnai wajah sang Raja Pahlawan. Melihat itu, dalam hatinya, Hakuno berjanji untuk tidak menyinggung tentang Enkidu lagi.
Walaupun Servant-nya ini benar-benar menyebalkan, tidak sepantasnya dia membuatnya sedih karena mengingat masa lalu 'kan?
Hakuno menghela napas panjang. Dia merasa cukup puas dengan sesi ngobrolnya dengan Gilgamesh kali ini. Tanpa berkata apa-apa karena takut salah bicara lagi, gadis itupun berangsek ke sofa di dalam ruangan untuk meletakkan tubuh capeknya dan mencoba tidur.
"Malam, Gilgamesh."
"Hmm."
Beberapa saat berlalu, dan samar-samar hanya terdengar suara tarikan nafas pelan Hakuno di dalam ruangan, sepertinya ia sudah tertidur. Gilgamesh memandang keluar jendela, di mana langit sore abadi mewarnainya. Di dalam Moon Cell, tidak ada aliran waktu dan pergantian hari. Tiap saat pemandangan yang bisa dinikmati Hakuno dan kawan-kawannya dari OSIS hanyalah suasana sore sepulang sekolah yang sepi. Tapi bagi Gilgamesh, itu bukan masalah. Dia lebih menyukai Moon Cell daripada bumi yang sudah rusak oleh ulah manusia.
Bumi... hah, zamannya di Uruk jauh lebih bagus. Manusia masih jarang, alam masih sehat dan indah, serta tidak ada benda-benda jelek yang dikatakan "modern" itu. Lalu, tentu saja... di zaman itu ada dia, ada Enkidu.
"Heh, tentu saja aku merindukannya. Dia itu satu-satunya sahabatku," Gilgamesh bergumam, mulutnya menyunggingkan senyuman sedih. "Hakuno, setelah berbagai hal yang terjadi di sini, kau juga kuanggap teman, bergembiralah. Tapi... jangan harap kau bisa melampaui Enkidu. Seperti dulu kukatakan, dialah satu-satunya sahabatku di bumi dan langit, sampai akhir zaman."
Komentar pendek Gilgamesh itu membuat Hakuno tidur dalam senyuman.
A/N
Gilgamesh dan Enkidu. The original best friend.
Next entry, Dilligence! Karakternya adalah seorang petani yang menguasai jurus memotong dimensi...
