Teman itu melindungi kita. Teman itu ada saat kita membutuhkannya. Teman itu tempat kita mencurahkan hati. Tapi, mengapa artian teman bagi seorang Uchiha Sasuke tidak seperti itu?

Baginya, teman itu sampah. Teman itu pengganggu. Teman itu tidak berguna. Sehingga, ia lebih memilih hidup seorang diri dikegelapan dan menjadikan kesepian sebagai temannya daripada bersama orang-orang yang hangat dan rindu padanya.

Tapi percaya atau tidak, hidupnya berubah setelah ia mengenal orang yang sama sepertinya. Kesepian.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto (kalau punya saya, Hinata ga akan saya buat menderita)

Pairing : Sasuhina (mungkin akan ada Naruhina dibeberapa chapter)

Genre : Romance, Angst(bingung mau kasih genre apa)

Rated : T

Warning : Canon verse, OOC, Typo(s), abal, dan kekurangan lainnya.

Hai Minna-san! Maaf atas keterlambatan apdet yang sangat sangat sangat terlambat. Ini chapter 2 nya semoga suka^^

Mizukichan Aino Yuki present :

The Destiny

Chapter 2

"Aku. . .aku. . ." Naruto menatap sendu kearah Hinata. Hanya anggukan yang diberikan Hinata kepada Naruto. "Maafkan aku, Hinata."

"Naruto!" Sakura dan Kakashi tak menyangka Naruto akan berbuat seperti ini. Apa ambisinya untuk membawa pulang Sasuke menyebabkannya untuk mengorbankan orang lain? Tidak. Bukan orang lain. Tapi. . . teman?

Tak apa, Naruto-kun

"Keputusan yang tepat. . . Dobe."

Selanjutnya, Sasuke dengan cepat sudah berada di belakang Hinata. Hal terakhir yang Hinata lihat adalah Naruto yang berdiri tak jauh darinya dan Sakura yang menangis. Selanjutnya, ia merasakan rasa yang sedikit linu di tengkuknya dan akhirnya semua gelap.

Naruto-kun. . .

.

.

.

.

Secercah cahaya memasukki penglihatan Hinata. Ketika membuka mata, ia merasakan rasa sakit di tengkuknya. Sedikit linu. Seakan déjà vu, bayangan-bayangan kenapa ia bisa berada di tempatnya sekarang kembali melintas di otaknya.

Apalagi dengan keadaannya sekarang, ia benar-benar merasa dirinya seorang sandera. Didudukan di kursi kayu dengan tangan dan kaki yang diikat. Bukan ikatan biasa, melainkan benang cakra yang mengikatnya. Diruangan itu tak ada apa-apa pun selain dirinya dan jendela besar di sebelahnya yang ditutup teralis. Benar-benar cocok untuk ruang seorang sandera.

Hinata terus menunduk mengingat kejadiannya tadi. Mungkin ia memang pantas menjadi sandera karena ia lemah. Tapi, kenapa harus di depan Naruto?

"Sudah sadar rupanya." Sebuah suara mengagetkan Hinata. Hinata tidak langsung mengangkat kepalanya. Ia masih bisa mendeteksi cakra yang masuk ke ruangan itu meski cakranya terikat di benang cakra tersebut.

Cakranya di-dingin sekali, batin Hinata

"Tak usah kaget dengan cakraku," suara yang tadi pun terdengar lebih dingin dari sebelumnya.

Dia ta-tau kalau aku mendeteksi cakranya!

Seseorang tersebut berhenti tepat di depan Hinata yang masih menunduk. Memandang Hinata dengan tajam. Tatapan kasian dan meremehkan.

Perlahan Hinata mengangkat kepalanya. Ia melihatnya. Sasuke Uchiha dengan pedang kusanagi-nya yang ia selipkan di ikat pinggang tambangnya.

"Jadi, kau pewaris Hyuuga itu, eh?" katanya dengan pandangan menilik Hinata, "kau bahkan lebih lemah dari anak kelinci." Lanjutnya.

"A-apa maumu, Uchiha-san?" Tanya Hinata. Ia berusaha tidak terdengar takut. Tapi, nada suaranya terdengar jelas bahwa ia merasa dalam keadaan bahaya.

"Haruskah aku berkata rencanaku yang sebenarnya kepada sanderaku sendiri, hm?"

"A-aku sudah jadi sanderamu kan. Ja-jadi tak ada celah untukku ka-kalau maksudmu aku a-akan melaporkan ini ke Konoha," jawab Hinata.

Hening sebentar.

"Kau memang licik seperti anggota klanmu yang lain, Hyuuga," Hinata menatap tajam Sasuke, "tapi mungkin tak ada salahnya kalau aku ceritakan ini,"

.

.

.

.

.

"APA!" wanita itu menggebrak meja di hadapannya sampai benda tersebut terlihat bukan lagi seperti meja, "kalian membiarkan pewaris Hyuuga di tawan oleh Sasuke!"

Di depannya kini terlihat tiga orang yang baru saja berkata apa yang terjadi. Naruto, Kakashi dan Sakura. "Ma-maaf, Tsunade-sama," ucap Sakura.

"Ini tidak semudah itu, Sakura," katanya sembari terduduk kembali di kursinya dan memijat keningnya, "dia pewaris Hyuuga. Aku tidak tau harus berkata seperti apa pada klannya nanti."

"Aku akan membawanya pulang, Baa-chan." Kata Naruto. Pemuda itu sedari tadi terus memikirkan sesuatu dan baru bersuara sekarang.

Yang lainnya hanya membulatkan mata. Apa maksudnya? Membawanya? Bukankah tadi ia sendiri yang mengijinkan Sasuke untuk membawa Hinata? Jalan pikirannya sekarang memang benar-benar susah ditebak.

"Heh, Bocah!Jangan berkata yang ti-"

"Aku yang bertanggung jawab. Aku mohon kau mengijinkan." Balas Naruto. Pancaran matanya berkata kalau ia tak main-main, "sekaligus membawa Sasuke pulang." Tambahnya dengan tatapan tajam kearah Tsunade.

Tsunade menghela nafas, "Baiklah, urusan Hyuuga biar aku yang urus. Kurasa aku harus sedikit mengeluarkan tenaga,"

.

.

.

.

"A-apa?" Hinata sangat kaget ketika dengan santainya Sasuke menceritakan rencananya, "ta-tapi itu ke-kejam, Uchiha-san,"

"Aku tidak peduli."

"Ta-tapi bagaimana kalau banyak anak-anak yang tidak ber-bersalah menjadi korban?" Hinata benar-benar tidak peduli sekarang dengan rasa sakit akibat lilitan tali cakranya yang terus mengencang.

Sasuke memang mengendalikan benang cakra itu dengan matanya sejak ia masuk ke dalam ruangan.

"Ketika aku berumur tujuh tahun, aku bahkan kehilangan seluruh anggota klan-ku." katanya sembari berjalan mendekat ke arah Hinata, "melihat secara langsung bagaimana mereka terbunuh." nada suaranya sedingin angin malam, "dan tau bahwa orang yang paling kau kagumi adalah orang yang membunuh mereka." Sasuke membungkuk untuk menyamakan tingginya dengan Hinata sekarang, "bukankah itu sangat kejam bagi anak kecil berumur tujuh tahun." katanya di dekat telinga Hinata.

Hinata menggigit bibir bawahnya. Sasuke sudah menjauhkan kembali dirinya dari Hinata tapi nada suaranya yang dingin masih tersimpan di dalam memori otak Hinata.

Sangat dingin.

Berniat pergi, Sasuke membalikkan badannya dan menuju pintu geser sebagai jalan keluar satu-satunya. Ketika sampai di ambang pintu, Sasuke melirik belakang sambil menatap tajam Hinata, "Tepati janjimu untuk tidak katakan ini pada siapapun." dan melanjutkan kembali untuk keluar dari ruang tersebut.

Hening setelah Sasuke keluar. Hinata masih menundukkan kepala sembari menahan isakkannya. Untuk kali ini ia benar-benar merasa tidak berguna. Sangat tidak berguna.

.

.

.

.

"Jadi, dia pewaris Hyuuga itu, Sasuke?" sebuah suara dari arah belakang menghentikan langkah kaki Sasuke, "kau yakin dia berguna, eh?" tambahnya.

"Apa maksudmu?"

"Yah, dia tidak terlihat seperti para Hyuuga lainnya," kata orang itu-Madara-dengan menekankan kata Hyuuga, "kau tau maksudku, kan,"

Tanpa berbalik, Sasuke menjawab, "Kuyakinkan kau kalau dia sangat berguna," jawabnya setelah itu meninggalkan Madara yang masih melihat Sasuke. Anak itu seperti punya rencana sendiri. Tapi, Madara merasa ada sesuatu yang spesial di Hyuuga itu. Entah apa, tapi ia yakin ada sesuatu yang sangat berharga namun tak terlihat oleh siapapun. Ah! bahkan dirinya yang bisa dengan mudah melihat kekuatan seseorang tak bisa dengan mudah melihat apapun di dalam Hyuuga itu.

.

.

.

.

"Biar kutebak, jadi ini misi untuk menyelidiki desa kita sendiri?" Tanya Ino pada Shikamaru yang sedari tadi menguap di depannya. Gadis itu bahkan sudah menanyakan ini sejak mereka keluar dari kantor Hokage beberapa belas menit yang lalu.

Ino hanya di balas anggukan oleh Shikamaru yang mulai menyundut rokok untuknya.

"Untuk apa? Tak ada yang aneh di Konoha, kecuali, penyusup yang datang beberapa hari lalu. Itu pun sudah kita bereskan."

Tak ada jawaban

"Shika, jawab aku!"

"Untuk menyelidiki kembali sejarah Klan Uchiha sebelum pembantaian."

Yang itu jelas bukan suara Shikamaru. Ino berbalik untuk melihat siapa yang barusan menjawab dan ia mendapati Sai dengan senyuman khasnya sedang menatap mereka bertiga-dengan Chouji- yang sedari tadi diam.

"Apa maksudmu? Kau tahu tentang misi ini? Kupikir hanya kami bertiga yang diberi misi ini," jawab Ino.

"Semua ninja rookie 9 diberi misi serupa kecuali Neji, dan Naruto. " jawab Sai masih dengan senyuman yang bertengger di bibirnya.

"Lebih tepatnya untuk menyelidiki sejarah Klan Uchiha yang berkaitan dengan Klan Hyuuga," akhirnya Shikamaru bersuara sambil sesekali menghisap rokok yang ada di tangannya.

"Tsunade-san yakin kalau kedua klan tersebut memiliki hubungan yang erat sebelum terjadinya pembantaian Klan Uchiha. Maka dari itu, dia menugaskan kita untuk mencari tahu apa saja yang terjadi dengan kedua Klan tersebut sebelum terjadinya pembantaian." kata Sai dengan-masih-senyum diwajahnya.

"Tapi, kenapa ia tiba-tiba memberi kita misi seperti ini? Melibatkan satu angkatan tidak akan terjadi jika hanya sebatas menyelidiki sebuah sejarah." kata Chouji yang untuk pertama kalinya dia berbicara.

"Pernah dengar istilah 'Gologan Putih' dan 'Mata Setan' ?" Tanya Shikamaru sembari menghisap rokoknya.

Ino dan Chouji hanya saling berpandangan dan mengangkat bahu. Sementara Sai dan Shikamaru hanya tersenyum, "Kalau begitu kalian akan tahu setelah menjalankan misi ini." Shikamaru membuang puntung rokoknya lalu menginjaknya, "Sai, beritahu pada anggota rookie yang terlibat, besok kita berkumpul di ruang diskusi akademi." tambahnya sembari melangkah pergi meninggalkan tiga manusia yang lain.

"Dengan senang hati," kata Sai dengan senyumannya.

.

.

.

.

Hinata akhirnya bisa melepas ikatan benag chakra yang melilita tangan dan kakinya tadi. Sedari tadi ia memang berusaha untuk melepas ikatan tersebut. Tapi, apa boleh buat jika benang chakra tersebut dibuat oleh Uchiha Sasuke? Akan sangat sulit tentunya.

Sekarang yang harus ia lakukan adalah secepat mungkin untuk lolos dari tempat ini tanpa diketahui oleh Sasuke dan melaporkan kepada Hokage apa rencananya barusan. Adalah sebuah alibi dari janji Hinata untuk tidak memberitahu rencana Sasuke pada siapapun. Tentu Hyuuga memang licik dalam beberapa hal.

Hinata berjalan menuju jendela yang bertralis tersebut. Akan lebih mudah bila melarikan diri lewat jendela. Hanya dengan membuka tralis ini ia bisa dengan mudah melarikan diri dari sini.

Ketika Hinata bersentuhan dengan tralis tersebut, rasa aliran listrik terasa sangat kuat sehingga membuatnya langsung terpental mundur ke belakang.

Ini bukan tralis biasa. Pasti Sasuke sengaja membentengnya.

Hanya ada satu jalan. Hinata melirik kearah pintu disebelahnya. Tanpa pikir panjang ia langsung membuka pintu tersebut dan keluar dari ruangan tersebut.

Tak perduli akan bertemu dengan apa, Hinata terus berlari mencari jalan keluar.

Aku harus bisa menyelamatkan penduduk Konoha secepat mungkin, batin Hinata

TBC

Hai minna! ^^

Minna: apasih! udah apdet ngaret sok kenal lagi!

Ehehheheh maaf banget atas keterlambatan apdetnya sampai setaun. Yah Kichan udah pernah bilang di fic Kichan yang TFAFKD alasan Kichan telat. Gomenne.. :(

Nah, sekarang udah apdet nih!^^#bukaconfeti… Moga2 ga mengecewakan..^^ Ini chapter 2 ^^

Review?