Previous chapter~
"KAU MONSTER ! L-LEPASKAN AKU !,"
Oh Tuhan, selamatkanlah aku!—jerit batin Baekhyun.
Pria tinggi itu masih terdiam, dan perlahan bibirnya menyeringai kembali. Pria mungil ini sungguh membuatnya gemas. Lihat saja wajah cantiknya yang ketakutan itu, membuat seseorang akan tergoda dan segera ingin melahapnya hidup-hidup.
"kalau aku monster, lalu kenapa hm?,"
"MONSTER SIALAN ! ENYAH KAU, BAJINGAN KEPARAT ! APA YANG KAU—mmppphhh"
Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa. Waktu seakan-akan berhenti ketika benda kenyal dan
hangat menempel di bibir manisnya. Ya, pria tinggi itu menciumnya tanpa izin.
Baekhyun memberontak, ia kerahkan semua tenaganya untuk mendorong pria gila ini. Namun, tangan besar yang melingkar di pinggang rampingnya begitu kuat. Membuat baekhyun kualahan sendiri.
Pria gila ini melumat pelan bibir manis Baekhyun. Benar-benar terasa manis dan sangat memabukkan. Ia ingin bermain-main dengan mangsanya sebentar. Bibir tipis ini benar-benar menggoda.
Seperti halnya pria ini, baekhyun pun ikut larut dalam permainan yang pria itu buat. Bibir hangat milik pria itu sangat hangat dan menenangkan, membuat ia kehilangan akal sehat dan dengan percuma ia membuka sedikit bibirnya, agar pria ini bisa menjelajahi seluruh isi mulutnya.
Pria tinggi itu tidak ingin berlama-lama lagi. Akhirnya, ia menghisap seluruh tenaga Baekhyun agar Baekhyun lemas dan berdaya untuk beberapa saat.
"Cpkh !"
Saat ciuman itu terlepas, baekhyun merasa tenaganya habis dan matanya terasa berat. Dengan sangat terpaksa, ia memejamkan matanya dan tubuh mungil nya limbung di dada pria aneh ini.
"dia menarik, lebih baik aku membawanya pulang,"
Bersama angin malam yang berhembus, mereka menghilang tanpa meninggalkan bekas atau jejak.
。。。。。。。
Chapter 2
Happy reading~
"turunlah ke bumi. Ini perintah ! Aku mengizinkanmu karena demi mendapatkan anak keparat itu. Cari tau dimana dia berada, kalau bisa bawa dia kehadapanku hidup-hidup ! Aku akan mencabik-cabik tubuh menjijikkan nya dihadapan semua penghuni surga. CEPAT !,"
"T-tapi, apakah hamba harus menyamar menjadi manusia di bumi, Yang Mulia ? Tanpa seizin yang mulia, aku tidak akan merubah wujudku."
"kau tenang saja, tidak hanya menjadi manusia. Aku memberimu tugas spesial untukmu. Menyamarlah menjadi seorang murid biasa di sekolah itu, dan temukan dia. Kau tunggu saja, Junmyeon memberitahuku kalau Chanyeol akan muncul pada waktunya nanti."
"b-baiklah yang mulia, hamba laksanakan perintah Yang Mulia."
。。。。。。。
"kenapa kau memberitahu dia, Suho ? Kau melibatkan banyak korban,"
Yixing membereskan kekacauan yang dibuat oleh Pimpinan Samjok-o dan semua anak buahnya. Beberapa saat yang lalu, tiba-tiba saja semua kawanan Samjok-o datang dan menanyai dimana Chanyeol berada.
"setidaknya, nyawa Chanyeol tidak hilang hari ini."jawab Junmyeon dengan santai.
"tapi, bagaimana jika mereka menemukan Chanyeol ? Bagaimana jika mereka juga menemukan takdir Chanyeol ? Apa yang harus kita katakan pada dewi Xien, kalau cucunya meninggal ?,"
"hei, tenanglah, sayang. Kenapa kau panik seperti itu, hm ? Lebih baik sekarang, kita cari dimana keberadaan takdir chanyeol juga chanyeol. Kau tenang saja, hm? Tidak usah panik begitu,"
Junmyeon mendekat pada Yixing, memeluk Yixing dari belakang dan mencoba menenangkan 'istri'nya yang kalap akan emosi. Sebesar apapun emosi Yixing, jika sudah di peluk Junmyeon seperti ini, pasti dia akan luluh dan merasa tenang.
"baiklah, kita akan mencari tau keberadaan mereka,"
Yixing mengenggam tangan erat Junmyeon, dan mereka berjalan masuk ke ruangan pribadi mereka. Khusus di buat dewi Xien hanya untuk mereka berdua, tidak ada seorangpun yang tau bagaimana cara membuka ruangan ini. Karena dewi Xien sudah menyuruh mereka untuk menjaga Chanyeol sejak kecil. Tapi, karena semenjak kejadian itu, Chanyeol tidak betah tinggal di surga dan lebih memilih tinggal di bumi. Ia juga bagian dari manusia, kan?
Tong besar berwarna putih di ruangan tersebut, mengeluarkan asap putih yang terua tumpah dari tempatnya. Yixing dan Junyeon membelah asap putih itu, dan air bening itu menampilkan seorang pemuda tampan dan mengerikan sedang bermalas-malasan di Mansion besarnya.
"sampai kapan dia akan menjadi orang yang kesepian seperti itu?,"
Yixing nampak berfikir, kemudian muncul ide cemerlang di otak kecilnya.
"bagaimana kalau kita pertemukan chanyeol dengan takdirnya?,"
"Caranya?,"
Yixing membisikkan sesuatu pada Junmyeon. Beberapa detik setelah itu, Junmyeon tersenyum tipis dan menyetujui usulan 'istri'nya.
"kau pandai sekali, hm"
Wajah Yixing nampak kemerahan saat Junmyeon mengusak kepalanya dengan sayang.
"m-mari kita lihat takdir chanyeol,"
Junmyeon tau, Yixing sedang mengalihkan pembicaraan. 'Istri' nya itu memang susah ditebak, kadang ia menjadi seseorang yang lembut dan pemalu, kadang juga ia menjadi seseorang yang egois dan keras kepala.
Tapi, Junmyeon menyayangi Yixing apa adanya. Segala kekurangan Yixing, ia terima. Dengan sikapnya yang baik dan bijaksana, mampu untuk menyeimbangi sikap Yixing yang terbilang labil.
Air jernih itu menampakkan wajah seorang pemuda bertubuh mungil dan berwajah cantik. Ya, dia yang di sebut sebut sebagai takdir Park Chanyeol. Lihatlah, dia begitu cantik dan manis. Wajahnya yang tipis, mata sipit itu mengerjap lucu. Bibirnya yang tipis dan kemerahan, membuat siapa saja akan tergoda dan segera ingin mencicipinya.
"apakah wajah Hyoui dulu seperti itu ? Kalau iya, dia pasti sangat cantik."
Yixing tidak suka maksud pembicaraan Junmyeon. Oh, habislah kau, Junmyeon. Kau baru saja membangunkan singa dari tidur nyenyaknya.
Karena tak mendapat respon dari Yixing, Junmyeon menoleh ke Yixing dan mendapati wajah Yixing agak kemerahan. Kali ini bukan karena malu, tapi nampaknya Yixing tengah memendam emosinya.
"sayang, kau cemburu ? Oh ayolah, aku hanya memuji. Kenapa sensitif sekali?,"
Wajah Yixing tidak berubah walaupun tangan Junmyeon sudah melingkar sempurna di pinggang rampingnya. Yixing tetap mengerucutkan bibirnya. Junmyeon terkekeh, melihat sikap 'istri'nya yang kekanak-kanakan. Dengah gemas, ia mencium bibir Yixing yang mengkerucut itu dan membuat Yixing membolakan matanya.
"a-apa—"
"aku tau kau cemburu. Sudahlah, jangan marah lagi hm. Oh, ini sudah siang. Kita makan, ya? Kali ini, biarkan aku yang memasak untukmu,"
。。。。。。
Chanyeol tidak tau, apa yang merasukinya. Dengan seenaknya, dia membawa Baekhyun ke mansion miliknya. Itu akan sangat berbahaya, Chanyeol tau itu. Bisa jadi, Baekhyun adalah orang suruhan pemimpin Samjok-o yang mengincar dirinya selama beratus-ratus tahun lamanya.
Tapi, hati Chanyeol menepis keras semua fikiran itu. Saat ia melihat seluruh wajah Baekhyun, ia merasa tenang dan nyaman. Wajah ini, sama persis dengan ibunya. Bisa dibilang, Baekhyun adalah ibunya versi laki-laki.
Chanyeol merindukan ibu juga ayahnya. Yang menghujaninya dengan kasih sayang, yang mendidik dan merawatnya dengan baik, yang selalu membuat nya tersenyum dan penuh keceriaan di setiap harinya.
Semenjak kejadian ayah dan ibunya di tangkap, ia menjadi laki-laki dengan aura kebencian dan pembangkang. Junmyeon dan Yixing saja kualahan mengurusi dirinya. Hanya dirinya.
Chanyeol memang tidak betah di surga. Ia terus saja di bully, di caci, dan di maki oleh penduduk di surga dulu. Ada yang menyebutnya monster, ada yang menyebutnya penghuni neraka, dan kata-kata menyakitkan yang lain.
Maka dari itu, dia lebih memilih untuk tinggal di bumi dan menyuruh Junmyeon untuk membuatkannya mansion besar khusus untuk dirinya. Chanyeol berjanji pada Junmyeon, bahwa dia akan menjadi layaknya manusia biasa dan tidak akan memakan manusia disana.
Sebut saja Chanyeol munafik. Nyatanya, saat ia kelaparan, ia terus saja meneror manusia yang berjalan sendirian pada malam hari kemudian memakan mereka, tanpa meninggalkan bekas sama sekali.
Chanyeol tau, ia tidak seharusnya begini. Semua ini karena pemimpin Samjok-o yang keparat itu. Kalau saja dia tidak menangkap dan membunuh orang tuanya, maka dia bisa menjadi laki-laki yang tidak memiliki rasa benci dan dengki seperti sekarang.
"Chanyeol ! Sudah ibu bilang, jangan terlalu senang saat bermain. Kalau kau jatuh, nanti lutut mu terluka dan berdarah. Naa, ibu akan menghukummu sekarang. Kyaaa~"
Masa lalu yang bahagia itu terngiang kembali dalam bayangannya. Terlihat, chanyeol kecil sedang berlarian bersama temannya yang lain. Mereka tengah asik bermain kejar-kejaran, dan Chanyeol kecil tengah susah payah mengejar temannya agar bukan dia lagi yang menjadi pengejar, dan ibunya menghukum dirinya dengan cara menggelitik tubuh kecilnya. Sungguh masa lalu yang indah.
"ugh!"
Tangan Baekhyun bergerak, disusul oleh pada sipit nya yang perlahan terbuka. Chanyeol terkesiap, ia segera bangun dan melipat tangannya dengan angkuh.
Yang Baekhyun lihat pertama kali adalah buram dan putih. Matanya kembali mengerjap beberapa kali, tak lama setelah itu pengliatannya normal. Bola matanya bergerak berputar, melihat seisi ruangan putih dan megah.
Ruangan ?
"siapa kau?,"
Baekhyun menoleh, dan mendapati Chanyeol menatapnya dengan intens. Uhh, mata biru itu, selalu membuat Baekhyun terhipnotis. Baekhyun selalu terhanyut dalam mata yang menenangkan milik Chanyeol.
Apa yang kau fikirakan, Baekhyun ?—batin Baekhyun.
Tidak, ia segera memposisikan dirinya terduduk. Kepalanya terasa pusing, dan tenaganya seolah-oleh habis dan hilang entah kemana.
Tangan lentik Baekhyun memijat pelipisnya dengan pelan. Berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.
Bagai film kuno yang terputar, ingatannya ia tajamkan. Ia berjalan keluar dari supermarket, berjalan sendirian, bertemu dengan pria gila bermata biru, dan pria itu menciumnya.
Oh tidak, lihatlah wajah Baekhyun sekarang. Persis seperti tomat matang, sangat memerah. Ia mengingat semua, terlebih lagi kejadian pria gila ini mencuri ciuman pertamanya.
Kepalanya terus menggeleng. Ia ingin menyangkal semua yang terjadi kemarin. Dimana ia ikut terhanyut oleh ciuman Chanyeol, merasakan betapa hangatnya bibir tebal itu ketika menyesap miliknya yang tipis.
"kau kenapa ? Jangan bertingkah seperti orang idiot dan jawab pertanyaanku."
Apa ? Idiot ?
Baekhyun menatap Chanyeol dengan nyalang. Tangannya menggenggam sprei kasur Chanyeol dengan erat. Dia tidak mau dikatai idiot, bodoh, atau semacamnya. Kecuali ibunya.
Ibunya ?
Mata Baekhyun membola ketika otaknya terngiyang wajah ibunya yang marah besar. Sudah berapa lama dia berada di kamar ini ? Fikirannya berkecamuk, ia hanya takut satu hal. Kemarahan ibunya.
"Minggir ! Aku harus pulang !,"
Baekhyun berdiri dan bermaksud meninggalkan Chanyeol. Baru selangkah, tangan Baekhyun di cekal oleh Chanyeol, dan dengan gampangnya Chanyeol membanting tubuh mungilnya.
"Akh ! Apa yang kau—"
"Hussttt~ bisakan kau tidak berisik ? Kau belum menjawab pertanyaanku, sayang."
GLEK !
Baekhyun menelan ludahnya dengan susah payah. Kalian tau posisi mereka saat ini bagaimana ? Chanyeol menindih tubuh mungil Baekhyun, kedua tangannya mencengkeram erat kedua tangan Baekhyun, mengunci pergerakan Baekhyun agar Baekhyun tidak bisa pulang.
"a-aku Baekhyun, Byun Baekhyun. Sudah kan ? Sekarang lepaskan aku ! Lepaskan !"
Baekhyun memberontak dalam kungkungan Chanyeol. Tangannya terasa sakit saat tangam besar Chanyeol mencengkeram kuat tangannya. Tenaganya belum sepenuhnya pulih, dan mau tidak mau, Baekhyun pasrah karena terlalu lelah untuk melepaskan diri.
"kenapa berhenti ? Kau lelah,hm?,"
Baekhyun tidak menjawab. Ia terus memikirkan ibunya. Semenyeramkan apapun Chanyeol, lebih menyeramkan ibunya yang sedang marah. Baekhyun saja takut kalau membayangkannya.
Chanyeol menyeringai, Baekhyun bisa melihat itu. Perlahan, Chanyeol mendekatkan wajahnya lagi. Oh tidak, jantung Baekhyun berdebar begitu kencang. Chanyeol akan melumat habis bibirnya lagi. Tidak ! Kali ini, dia tidak akan terbuai oleh bibir sialan itu. Tidak-akan-pernah.
Baekhyun memejamkan matanya begitu erat, membuat Chanyeol terkekeh pelan, sangat pelan. Perlahan, wajahnya mendekat pada wajah Baekhyun, dan bibirnya membisikkan sesuatu di telinga Baekhyun.
"kau milikku, jadi jangan harap kau bisamlari dari sini, My Slave."
Mata sipit Baekhyun langsung terbuka lebar. Ia tidak salah dengar kan ? Dia, pembantu Chanyeol ? Bagaimana bisa ?
Chanyeol melepaskan cengkramannya dan kembali berdiri dengan tegap. Ia memandang Baekhyun dari atas sampai bawah, tidak perduli kalau Baekhyun melihatnya penuh dengan amarah.
"KENAPA KAU MEMANGGILKU PEMBANTU HAH ? AKU BUKAN PEMBANTUMU ! AKU HANYA INGIN PULANG, BAJINGAN KEPARAT ! "
"ughh ! Mulutmu pedas juga ya, tapi 3 hari yang lalu saat aku mencicipinya kenapa terasa manis? "
"a-apa ? 3 hari kau bilang ?,"
"Terserahlah, mulai hari ini kau tinggal disini. Kau milikku, dan jangan harap kau bisa lari dari sini."
Chanyeol mengabaikan pertanyaan Baekhyun. Dengan cepat, ia berjalan ke arah pintu kemudian menutup nya dengan kasar dan menguncinya.
"HEYY ! BUKA PINTUNYA ! KAUUU ! BUKA PINTUNYA CEPAT ! AKU INGIN PULANG ! BUKA PINTUNYAAAAA ! "
Baekhyun tak tau harus berbuat apa lagi. Matanya mulai mengeluarkan cairan bening. Ya, dia menangis. Berteriak sampai pita suaranya putus pun, Chanyeol tidak akan mendengarkannya.
Tubuhnya merosot ke bawah, ia putus asa. Sampai kapan dia berada disini ? Fikirannya hanya ada ibunya dan sekolahnya. Ya, hanya itu.
"ibu…"
。。。。。。。
"bibi, baekhyun belum pulang sampai sekarang?,"
Ibu Baekhyun hanya menggeleng. Dia terlihat kacau, putra semata wayangnya hilang entah kemana. Dia juga sudah menghubungi polisi, tapi laporan yang diterimanya tetap sama. Byun Baekhyun sampai saat ini belum bisa di temukan.
Luhan dan Kyungsoo juga ikut khawatir, mendengar sahabat mereka hilang bagai di telan bumi. Melihat kondisi ibu Baekhyun seperti ini, tambah lah rasa iba mereka. Mereka tidak tau harus berbuat apa. Ponsel Baekhyun tertinggal di kamarnya, membuat semua orang benar-benar putus asa mencari keberadaan Baekhyun.
"bibi jangan seperti ini, ku mohon. Aku tau, bibi sangat mencemaskan Baekhyun. Tapi, bibi juga harus menjaga kesehatan. Bibi, makanlah. Agar bibi tidak—"
"aku ingin makan bersama anakku,"
Kyungsoo frustasi sekarang. Anak dan ibu sama saja. Sifat mereka sama-sama keras kepala.
Luhan lebih memilih untuk menghubungi Sehun. Ia ingin meminta bantuan Sehun dalam kasus hilangnya Baekhyun saat ini. Ya, mungkin Sehun bisa membantu.
"halo, Sehun ? I-ini Luhan,"
"B-benarkah ? Kau menelfonku dulu ? Aku—"
"tidak ada waktu untuk membicarakan hal itu ! Aku butuh bantuan,"
"apapun ku lakukan untukmu, sayang,"
Luhan sempat memutar bola matanya dengan malas.
"bisakah kau mencari keberadaan Baekhyun ? Kau bisa mengajak Jongin juga,"
"Baekhyun belum ketemu ? Ah, baiklah. Aku akan mencarinya bersama Jongin. Kau tenang saja,"
"baiklah, terima kasih, sehun-ah,"
"aku mencintai—"
Pip.
Luhan segera mematikan ponselnya sebelum mendengar kata-kata laknat yang keluar dari mulut Sehun. Bukannya Luhan tidak suka, sebenarnya dia juga sangat menyukai Sehun. Tapi dia tidak tau, harus menyikapi Sehun bagaimana. Dia bukan orang yang romantis.
Lupakan tentang Sehun. Kini, Luhan beralih pada Kyungsoo yang sedang membujuk ibu Baekhyun agar Ibu Baekhyun segera makan.
"bibi, aku sudah menghubungi Sehun untuk membantu mencarikan Baekhyun. Bibi tenang saja, dia pasti akan menemukan Baekhyun."
"b-benarkah ?,"
"iya bi. Dia juga membawa temannya, jadi tenang saja. Banyak yang membantu bibi untuk mencari anak bibi. Lebih baik, bibi makan dulu. Ya?,"kini Luhan yang berusaha membujuk ibu Baekhyun. Terlihat, ibu Baekhyun mengangguk pelan. Membuat Luhan dan Kyungsoo tersenyum cerah.
Saat sedang menyuapi ibu Baekhyun, Kyungsoo berbisik pada Luhan.
"siapa teman sehun yang mencari Baekhyun, Lu ?,"
。。。。。。
"Kenapa harus aku yang mengerjakan semua ini ?,"
"kau mau ku makan sekarang juga ? Kau lupa kalau aku monster, hah ?,"
"kau tidak akan tega !"
"kenapa tidak ? Tanyakan saja pada seluruh maid yang ada disini. Siapa yang berani membantah perintahku, akan langsung ku makan saat itu juga."
Baekhyun menghela nafas dengan kasar. Mansion sebesar ini, kenapa harus dia yang membersihkan semuanya ? Menyapu, mengepel, dan membersihkan dinding kaca. Itu semua pekerjaan pembantu.
Baekhyun sampai saat ini tidak mau mengakui bahwa dirinya hanyalah seorang pembantu.
"kalian semua, bisa berhenti bekerja saat ini. Biarkan si kecil ini yang bekerja,"
Semua maid yang ada di hadapan Chanyeol mengangguk, kemudian mereka pergi entah kemana. Mungkin mereka tidur, beristirahat.
Baekhyun tidak habis fikir. Apa motivasi Chanyeol menyuruh nya untuk menjadi pembantunya ? Bukankah dia memiliki maid yang banyak ? Baekhyun saja tadi menghitung ada sekitar 20 maid di mansion sebesar ini.
"kenapa diam saja ? Cepat kerjakan ! Atau kau—"
"ya ya ya~ kau akan memakanku, aku akan menghafalnya. Silahkan nikmati hari indahmu, tuan."
Baekhyun berkata semanis mungkin, tapi ada unsur mengejek di dalamnya. Ia membalikkan badan dengan jengkel, kemudian ia mulai membersihkan satu persatu ruangan yang ada di sini.
Nafas Baekhyun terengah-engah. Pantas saja disini menampung banyak sekali maid. Baekhyun baru saja membersihkan 3 ruangan, dan jika boleh membandingkan, ini sama saja dengan berlari dengan jarak 1 km. Mansion ini begitu luas, bisa di bilang 5 kali luas rumahnya.
Baekhyun sudah tidak sanggup. Ia memilih berhenti berkerja daripada kehilangan nafasnya saat itu juga. Ia duduk di kursi kayu yang di sediakan di perpustakaan. Ya, mansion ini memiliki perpustakaan khusus. Para maid sebenarnya tidak di bolehkan masuk disini. Tapi, baekhyun masa bodoh dan tetap membersihkannya.
Ia melihat buku-buku yang berjajar rapi di rak kayu bergaya klasik itu. Matanya berpendar melihat buku-buku sebanyak itu. Dan kemudian, ia tertarik dengan satu buku bersampul hitam mengkilat, terkena cahaya matahari dari jendela.
Karena letak buku itu ada di bawah, jadi Baekhyun mudah untuk mengambilnya. Baekhyun berjalan mendekat ke buku itu dan bermaksud untuk membacanya.
Baru halaman pertama ia buka, ia sudah di kagetkan oleh tetesan darah yang mengering di buku tersebut. Kertas dari buku itu sudah sangat lama sehingga menjadi kuning kecoklatan. Baekhyun meraba darah kering itu, dan ternyata itu darah asli, bukan di edit.
Baekhyun melihat tulisan aneh di buku tersebut. Tulisan itu tidak bisa ia baca. Menurut baekhyun, itu adalah tulisan kuno dan kelihatannya tidak penting.
Baekhyun berniat untuk menutup buku itu. Tapi, hatinya berkata lain. Tangannya kembali membuka buku itu dan melihat halaman berikutnya. Betapa kagetnya, ada gambar burung gagak besar berwajah mengerikan di halaman itu. Ia memiliki 3 kaki, dan kedua sayapnya terbentang lebar. Sepertinya, ia pernah mendengar mitos burung gagak berkaki tiga.
Baekhyun melihatnya dengan lekat. Mata burung itu, berwarna biru. Mirip seperti milik—
BRAK !
"apa yang kau lakukan disini ?,"
—Chanyeol.
Baekhyun gelagapan. Buru-buru ia mengembalikan buku itu ketempatnya—walau tidak rapi seperti tadi—sambil tersenyum idiot kepada Chanyeol yang terlihat marah disana. Kali ini, apa salahnya ?
Langkah Chanyeol begitu lebar dimatanya, sehingga dalam sekejap, tubuh tinggi menjulang itu sudah ada di hadapannya. Mata biru Chanyeol tetap terlihat tenang, tapi tatapannya menunjukkan amarah di dalamnya.
"bisa kau jelaskan ? Kenapa kau masuk kesini ?,"
"k-kau bilang, aku harus membersihkan semua ruangan di tempat—"
"TAPI BUKAN DISINI, BODOH ! KAU MAU MATI, HAH ?,"
Cukup sudah, Baekhyun tidak tahan lagi. Kesabaran manusia ada batasnya. Dan milik Baekhyun sudah habis saat ini.
"KAU FIKIR AKU PEMBANTUMU, HAH ? Kalau kau mau membunuhku, bunuh saja aku ! Makan aku, monster sialan ! Kalau itu membuatmu senang, lakukanlah ! Tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk pergi dari sini. Kau pikir aku takut denganmu ? Makan aku ! Ayo cepat !,"
Chanyeol melihat mata Baekhyun berkaca-kaca lagi. Oh tidak, sedikit tidak tega melihat Baekhyun menangis. Wajah Baekhyun benar-benar mirip dengan ibunya. Jadi, jika Baekhyun menangis, maka ia akan melihat ibunya ikut menangis.
"bersihkan ruangan lain. Selesaikan tepat pukul 11, lalu kita akan makan siang."
Sangat datar dan dingin. Setelah mengatakan itu, Chanyeol keluar dari perpustakaan dan meninggalkan Baekhyun yang menangis sendirian di perpustakaan.
。。。。。。
Malam semakin larut, tapi tidak melarutkan semangat kedua pria yang sedang menaiki mobil berwarna hitam. Mereka terus mencari Baekhyun, melihat kondisi ibu Baekhyun yang mengerikan cukup membuat mereka kasihan dan berniat tulus membantu bibi Byun.
"Jongin, kita mencarinya kemana lagi ? Aku pusing karena jalan ini saja yang aku lalui,"
Jongin nampak berfikir.
"Bagaimana kalau ke gang kecil yang biasa Baekhyun lewati ? Bukankah bibi Byun bilang, Baekhyun selalu melewati gang kecil itu?,"
"baiklah, semoga saja kita bisa menemukan petunjuk untuk menemukan Baekhyun."
Kaki Sehun menginjak gas mobil dan menambah laju kecepatannya. Tidak peduli sampai dini hari, ia harus mencari petunjuk mengapa Baekhyun bisa hilang mendadak seperti ini.
Sampai di depan gang tersebut, Sehun dan Jongin segera turun dari mobil dan masuk ke dalam gang. Mereka mencari-cari petunjuk, berusaha mendapatkan jejak atau bekas dari sang pencuri yang menculik Baekhyun.
Hampir 15 menit lamanya, akhirnya Sehun menyerah dan terus merengek ke Jongin untuk pulang. Sempat Jongin mengangguk, tapi matanya terfokus pada tembok besar yang menghadang jalan di gang itu.
Jongin mendekati tembok penghalang tersebut, mengabaikan Sehun yang berjalan ke mobil. Sampai didepan tembok itu, dia menatap dari atas sampai bawah. Tembok ini, terasa berbeda dari tembok yang lain. Lagipula, sebuah gang tidak mungkin di halang oleh tembok sebesar itu, kan ? Kalau ada tembok penghalang seperti itu, mana mungkin Baekhyun melewati jalan ini.
Tangan Jongin menempel di tembok tersebut. Sensasi aneh menjalar di tubuhnya. Benar, tembok ini sangat berbeda.
TINNN TINNN !
Terlihat Sehun melambaikan tangan ke Jongin. Jongin menoleh kemudian mengangguk. Ia kembali menatap tembok tersebut, setelah itu ia berlari kembali ke mobil Sehun.
"tembok itu... sangat aneh."
To Be Continued...
Haloooo saya kembali dengan ff abal-abal saya
Wkwk pada kecewa ya?
Sebenernya engga end kok chapter 1 kemarin wkwk
Ini udah panjang kan ?
Udahlahhh /puppyeyes /muntahpelangi
Yang mau tanya-tanya atau deket sama author
Add aja Dinnda Byun II :v
Last, Review plissss :"
Hargai author yang nulis yaaaa^^
Thankyou~
