A/N: This chapter contains some adult scenes and extreme language. Thank you:)
I own nothing unless characters you didn't know
Chapter Two
"Kau belum tidur?"
Suara Viktor seketika mengejutkanku. Aku menoleh kepadanya lalu menggeleng. "Apa yang kau pikirkan?" ucapnya lalu memeluk tubuhku dari belakang sementara aku masih duduk di bar stool.
Aku tersenyum dan membiarkan ia mencium leherku kemudian menggeleng. "Tak ada. Hanya belum mengantuk."
"Eehhm."
Hanya itu jawaban darinya. "Kembalilah ke kamar, aku akan segera menyusulmu."
Ia mengangguk lalu menunduk untuk menciumku cepat kemudian pergi meninggalkanku sendiri. Angin malam menyusup dari jendela yang sengaja kubiarkan terbuka. Kusesap kembali wine yang berada di hadapanku. Seharusnya aku membuat susu hangat bukannya menyesap bergelas-gelas wine saat kantuk tak kunjung menghampiriku. Aku sadar sekarang sudah lebih dari tengah malam, tapi otakku seakan tak dapat berhenti berpikir. Berpikir dan terus berpikir sampai rasanya akan meledak pada waktunya. Hembusan angin kembali terasa di kulit dan segera kurapatkan jubah tidurku. Kuseka sedikit wine yang tersisa di bibir dan kejadian itu kembali terputar seperti adegan-adegan film di kepalaku. Draco Malfoy menyerigai kemudian kembali melumat lembut bibirku. Senyumnya. Harum tubuhnya. Segala sesuatu dari dirinya berhasil membuatku gila. Hari itu, setelah kejadian gila di kantornya, aku bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dadaku seakan ingin meledak. Jantungku berdetak di atas rata-rata. Aku tak tahu apa yang dipikirkan oleh para staffnya saat melihat pipiku yang bersemu merah. Aku yakin pipiku pasti semerah udang rebus karena terasa sangat panas. Keesokan harinya, aku mendapatkan kabar bahwa ia ditugaskan ke luar negeri untuk menghadiri salah satu pertemuan dengan Kementerian Russia. Dan sampai hari ini, aku belum lagi bertemu pandang dengannya.
Apa yang kau lakukan, Hermione! Kekasihmu tengah bersamamu dan kau justru memikirkan pria lain. Dan hal yang lebih penting adalah pria itu telah beristri! Kuhela napas panjang. Berusaha untuk menetralkan pikiranku. Kusesap kembali wine ini dan berjalan meninggalkan dapur.
Viktor tampak serius dengan buku di hadapannya. Hanya pencahayaan temaram yang menemaninya saat ini. "Hey," sapaku saat memasuki kamar dan melepaskan jubahku.
Dia meletakkan buku yang sedang di bacanya ke nakas lalu tersenyum padaku. "Sudah selesai berpikir?" tanyanya.
Aku tertawa kemudian masuk ke dalam selimut bersamanya. Ia memelukku. Sampai akhir pekan lalu, pelukan pria ini adalah tempat ternyamanku, tapi tidak kali ini. Rasa bersalah menghantuiku. "Apa yang kau pikirkan?" bisiknya di telingaku kemudian mendaratkan bibirnya di sana.
Malfoy. Aku memikirkan Malfoy. Namun, alih-alih menjawab apa yang sedang kupikirkan, aku mengalihkan perhatiannya dengan mengambil alih tempat tidur ini. Dengan cepat aku duduk di atas perutnya sambil tersenyum. "Kau," bohongku dengan cepat.
"Aku memikirkan kau," lalu menunduk untuk menciumnya.
Dia tersenyum di balik ciuman kami. "That's my girl."
000
Inggris tanpa hujan mungkin bagai ungkapan bagaikan sayur tanpa garam, terasa tidak pas. Pagi ini hujan mengguyur hampir seluruh Inggris. Hawa dingin menusuk sampai ke tulang. Viktor sedari tadi telah meninggalkan ranjang dan suara gemericik air sudah terdengar dari kamar mandiku. Kuambil jubahku dan berjalan ke dapur. Sangat jarang aku menggunakan peralatan dapur di pagi hari, tapi aku tahu Viktor sangat menyukai sarapan bersamaku sebelum ia kembali ke Bulgaria. Roti panggang, bacon, dan sosis serta segelas jus jeruk sudah berada di kitchen island-ku dalam sebentar saja. Saat aku hendak menuangkan teh ke gelas dari tekonya, Viktor datang dengan overnight bag di tangannya. Ia mencium pipiku sejenak lalu mengambil posisi duduk tepat di depanku.
"Aku harus membawamu ke Bulgaria setiap hari," ujarnya saat mulai meminum tehnya dan langsung memakan sepotong sosis yang kumasak dengan butter tadi.
Aku tersenyum. "Atau kau harus lebih sering mengunjungiku saat ini."
Ia tersenyum lalu kembali menghabiskan makanannya. Setelah selesai ia berjalan menuju ruang depan untuk mengambil mantelnya dan kembali berjalan ke arahku. Aku berdiri di hadapannya. "Aku akan merindukanmu," ucapnya.
"Aku juga," balasku.
Ia tesenyum sambil menyelipkan rambutku yang keluar dari ikatannya. "Jangan berlari ke pelukan pria lain saat aku tak di sampingmu," kata-katanya bagai duri yang tesangkut di tenggorakanku, rasanya membuatku ingin tersedak.
Dia kembali tersenyum kemudian mengecup puncak kepalaku. "Aku bercanda."
Aku bernapas lega mendengarnya. Dia menciumku dan pergi menggunakan Portkey yang telah diaturnya.
000
Setelah sarapan pagi bersama dan Viktor kembali ke Bulagaria untuk menjalani latihan rutinnya, aku langsung bergegas mandi dan mematut diri di depan cermin. Terlambat bukanlah sebuah kata yang dapat diasosiasikan denganku. Satu jam kemudian, aku telah siap dan langsung menggunakan Jaringan Floo menuju Kementerian. Saat keluar dari perapian dan sedikit membersihkan debu yang menempel di jubahku seorang wanita menyapaku. "Selamat pagi, Miss Granger."
Aku menatapnya. "Selamat pagi, Loise."
"Kau tak jadi dipecat Malfoy?" godaku.
Dia tersenyum malu. Ketakutan yang waktu itu terpancar dari wajahnya tak lagi terlihat. Kami berjalan dalam diam menuju lift untuk mengantar ke level dua Kementerian ini. Lift tampak penuh sesak oleh pegawai dan orang-orang yang memiliki keperluan di sini. Memo-memo berbentuk pesawat juga berterbangan di atas kepala. Tepat saat pintu lift ini akan tertutup, sosok yang ingin sekali kuhindari pagi ini dan pagi, pagi selanjutnya muncul sambil sedikit berlari dan menahannya. Ia masuk dan berdiri tepat di hadapanku. "Pagi, Granger," ucapnya santai dengan menatapku.
"Pagi, Malfoy," jawabku cepat.
Saat lift ini mulai bergerak mundur dengan berlebihan seperti biasa, tubuh Malfoy ikut menekanku ke dinding. "Maaf, Mr. Malfoy," ucap salah satu pegawai karena tubuhnya ikut terhantam ke arahnya.
"Tak masalah, lift ini memang sedang penuh sesak. Bukan begitu, Granger?" tanyanya padaku dengan seringaian yang tak pernah hilang dari hidupnya.
Lift berjalan terasa sangat lama. Helaian demi helaian napas membuatku ingin mendorongnya ke dinding dan menciuminya sampai kami kehabisan oksigen. Kami semakin kehilangan jarak saat beberapa orang masuk dan semakin mendorong Malfoy ke arahku. Aku tak tahu apakah ia dapat mendengar detak jantungku atau tidak, tapi yang aku tahu adalah bahwa ia menikmati situasi ini. Aku menunduk sambil memaki dalam hati kenapa lift ini berjalan lama sekali. Ia sedikit menuduk lalu berbisik sangat pelan. "Kau tak mau melihatku lagi?"
"Shut up, Malfoy," suaraku ikut berbisik sepelan mungkin seperti dirinya.
Suaran 'ding' dan rekaman yang mengatakan bahwa kami telah mencapai lantai yang kami tuju membuat ia sedikit bergeser untuk keluar. "Breath, Granger," lalu ia jalan keluar mendahuluiku.
Kakiku serasa berubah menjadi jelly.
000
Keadaan seperti itu terus berlanjut di hidupku. Berhari-hari aku berusaha menghindarinya, berhari-hari pula aku bertemu dengannya. Lorong, lobi, kantin, bahkan terkadang aku pulang di waktu yang sama dengannya. Namun, tak ada sekalipun ia membahas apa yang terjadi di antara kami saat aku berada di kantornya. Aku berusaha setengah mati untuk mengenyahkan dirinya dari pikiranku. Draco Malfoy tak pantas untuk berada di pikiranku. Pertama, aku tak menyukainya. Kedua, dia adalah orang yang sama yang memanggilku Mudblood dan membuat hidupku menderita selama di Hogwarts dulu. Ketiga, aku telah memiliki Viktor Krum. Keempat, dia sudah menikah. Aku kadang memang sedikit gila, tapi merebut suami orang tak pernah sama sekali terlintas di benakku.
Aku menyandarkan diri di kursi. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tehku sudah mendingin sedari tadi dan hampir semua staffku sudah meninggalkan kantor, hanya tersisa Nicholas yang aku yakin sebentar lagi juga akan berpamitan padaku. Tak ada kasus yang menahanku untuk lembur malam ini, hanya saja aku ingin menghabiskan separuh hariku esok bersama Ginny dan Little James. Jadi, paling tidak aku harus menyelesaikan pekerjaanku hari ini. Kembali kulihat perkamen yang berada di hadapanku. Perkamen itu berisi tentang hasil autopsi korban pembunuhan yang di temukan di salah satu lorong daerah sihir di London.
Tok..tok..
"Miss Granger," suara Nicholas menyembul dari balik pintu ruanganku.
Aku menengadah dan melihat ia berhenti di ambang pintu. "Apa masih ada yang perlu kukerjakan malam ini?"
Aku menggeleng. "Pulanglah," jawabku.
"Selamat malam, boss," ujarnya.
"Selamat malam."
Pintu kembali tertutup dan aku kembali membaca beberapa perkamen di hadapanku. Badanku terasa sangat lelah dan kuputuskan untuk pulang saja. Baru saja aku akan bangkit dari kursiku ketukan kembali terdengar dari balik pintu. Mau apalagi Nicholas pikirku. Baru saja aku ingin membuka suara, pintu itu terlebih dahulu terbuka dan sosok itu berdiri di ambangnya.
"Granger."
"Malfoy. What a surprise," ucapku berusaha setenang mungkin.
Ia berjalan masuk setelah menutup pintuku dengan senyum tipis khasnya. "Kau menggunakan kata-kataku."
Aku mengedikkan bahu. "Setahuku itu adalah kata-kata yang lazim digunakan saat seseorang mendapatkan kejutan," jawabku.
Kali ini seringaian kembali menghias wajahnya. Ia berdiri santai seperti yang sering ia lakukan. Setelan abu-abu tua dengan dasi yang bewarna senada membuat dirinya semakin terlihat mempesona. Aku tahu ini gila, tapi setelah kejadian itu aku baru menyadari mengapa banyak sekali yang menyukai si pirang ini. Dia mempesona. Itu saja.
"Jadi, apa yang kau lakukan sehingga masih berada disini semalam ini?" tanyanya tanpa bergerak dari tempatnya.
Aku berdiri dan merapihkan perkamen-perkamen yang berserakan di meja. "Dan apa yang kau lakukan di kantorku semalam ini?" aku berbalik tanya padanya.
"I like your smart mouth."
Aku berhenti dari kegiatanku dan menatapnya. "Dan aku juga menyukai mulutmu saat berada di tubuhku," tambahnya lagi.
Kali ini aku membelalak menatapnya. Apakah aku tak salah dengar? Bukan hanya diriku yang gila ternyata. Seharusnya aku dan Malfoy sekarang berada di St. Mungo dengan diagnosa ketidakstabilan mental dan delusional akut.
"Kau terlalu lelah, Malfoy. Pulanglah," jawabku yang berusaha tak terpancing olehnya.
Dia tersenyum. "Tadinya aku juga akan pulang, tapi aku mendapatkan ini," dia menunjukkan sebuah perkamen padaku.
Aku menatap perkamen itu. Ia berjalan mendekatiku. "Ini adalah foto terbaru mengenai perkembangan kasus pembunuhan yang tengah kau tangani."
"Oh."
"Tunggu. Mengapa berkas itu ada bersamamu? Kau berusaha untuk mencuri kasusku lagi?" tanyaku tak percaya.
Kali ini ia tertawa. "Sudah berapa kali kukatakan bahwa aku tak mencuri kasusmu," dia berjalan semakin dekat ke arahku. "Aku mendapatkan ini saat berkunjung ke bagian forensik sore tadi untuk kasus yang tengah kutangani dan mereka menitipkannya padaku karena mereka tahu bahwa kita berada di divisi yang sama," jelasnya padaku.
Aku hanya bisa menelan ludah saat ia telah berdiri tepat di sampingku. "Kau sakit? Kau terlihat pucat, Granger?" ujarnya yang terdengar seperti berbisik padaku.
"Aku harus pulang," jawabku yang berusaha menghindarinya.
"Kau ingin menghindariku?"
"Untuk apa aku ingin menghindarimu?"
"Kau takut tak dapat menolakku."
Aku tertawa saat mendengarnya. "Percaya diri yang berlebihan adalah gen yang tumbuh sejak kau dilahirkan, bukan begitu Malfoy?"
Dia ikut tertawa dan menyandarkan bokongnya di mejaku. Dengan bersedekap ia kembali berujar. "Anggap saja begitu. Kau belum menjawab pertanyaanku."
Aku menaikkan sebelah alisku. "Aku tak perlu menjawab pertanyaan konyolmu."
Sebelum ia membuka suara lagi aku berjalan menuju tiang dimana jubahku biasanya tergantung dan di saat yang bersamaan tangannya kembali menarik pergelanganku dan aku tertarik ke arahnya. "Lepaskan aku, Malfoy."
Ia masih bersandar di mejaku dengan aku yang kini berada di hadapannya. "Aku pernah mengatakan ini sekali padamu dan kini aku akan mengatakannya kembali. Kau tak dapat pergi begitu saja dariku," ucapnya berbisik di telingaku dengan masih memegang pergelanganku.
Jantungku kembali berdegup kencang dan aku yakin sekali wajahku semerah tomat sekarang. "Apa yang kau inginkan?"
Dia tersenyum. "Kau."
Ia menyentuh leherku dengan jari-jari panjanganya. Tubuhku seketika menengang. Seluruh bulu kudukku meremang. "Hentikan, Malfoy," ucapku dengan suara yang sedikit bergetar.
Bukannya berhenti ia menarikku semakin dekat dan mendaratkan bibirnya di leherku. Ia menciumnya pelan dan sangat lembut. Kulitku seperti terbakar dengan tingkahnya. "Kenapa harus dihentikan?" tanyanya dengan masih memegang pergelangan tanganku dan bibir lembut di kulitku.
"Ini tidak benar. Kau dan aku, kita sudah memiliki pasangan. Hmm," ujarku yang diselingi dengan lenguhan saat ia sedikit menggigit bagian belakang leherku.
"Lalu?" ia bangkit dari sandarannya untuk berdiri dan aku merasakan ada sesuatu yang mengeras di balik celananya.
Aku tak dapat berkata-kata saat ia menangkup wajahku dan membenamkan bibirnya di bibirku. Satu minggu. Satu minggu aku memikirkan serta memimpikan bibir ini. Dan kini bibir ini kembali melumat lembut bibirku. Dia melepaskan bibirnya sejenak. "Larilah, Granger," ujarnya sementara aku hanya dapat menghela napas.
"Jika kau berpikir ini tidak benar, larilah sekarang. Atau kau tak bisa lari dariku selamanya," tambahnya dengan bibir dan lidah yang menggelitik telingaku.
Tak hanya wajah, namun semua tubuhku memanas. Kutarik napas panjang dan aku mendorong Malfoy ke mejaku. "Sekali saja," ujarku lalu melumat ganas bibirnya yang sedari tadi menggodaku.
Aku tahu ia menyeringai di dalam ciumana kami. Tangannya langsung memegang bokongku dan sedikit mengangkatnya. Dengan tak sabar aku melepaskan beberapa kancing dari kemejanya. "No, no, Granger. I take control," ucapnya sambil memegang tanganku.
Dengan mudah ia memutar keadaan kami. Kini akulah yang bersandar pada meja sementara tangannya mulai menyelusup ke balik rokku. Saat tangannya menyentuh apa yang ia cari aku mendesah. "Ini tidak adil," ujarku di sela kegiatan tangannya.
Mulutnya terus menginvasi setiap jengkal leherku. "Aku seharusnya yang memegang kendali."
Dia tertawa mendengarku. "Bermimpilah," dia kembali memasukan dua jarinya ke dalamku.
"Malfoy!"
Lagi-lagi aku merasakan ia tersenyum di balik bibirnya yang kini telah terbenam di dadaku. Bahkan aku tak tahu bagaimana blouse-ku kini telah telah tak berbentuk dan terserak di lantai. "Kau menyukainya?" tanyanya dengan desahan di telingaku.
Aku berusaha menyeimbangkan tubuh agar tak terjatuh menahan tubuhnya yang kini benar-benar menekanku ke meja. "Stop teasing me. Do it now!"
"Beg me, Granger."
Saat ia menambah jarinya lagi, aku benar-benar putus asa. "Malfoy!"
"Apa?"
Aku tahu ia menggodaku sekarang, tapi aku sudah tak lagi di dalam tahap sanggup menahan godaannya. "Take me!"
"Aku tak dapat mendapat mendengarmu," ujarnya.
"Please!"
"Please what?"
"Bloody hell, Malfoy! Just fuck me, now!"
Aku tahu ia tertawa. "I love your filthy mouth. You want me to fuck you?" kembali ia menggodaku.
"Yaa!"
Kemudian ia mengangkat tubuhku ke atas meja dan aku merasakan perkamen-perkamen itu ikut jatuh dan bergabung dengan blouse dan rokku. Malfoy membuka kemejanya setelah menidurkanku di atas meja. Tanpa aba-aba lagi dia memasukiku. "Oh God!"
"Aku tak tahu bahwa kau orang yang religius, Granger," ucapnya dengan suara renyah.
Aku menariknya agar lebih dekat dengan wajahku. "Kau tak mengenalku, Malfoy," ujarku dan menarik bibirnya kepadaku.
"Kau sangat cantik."
Aku hanya tersenyum mendengarnya. "God!" teriakku saat aku hampir berada di puncak.
"Come with me, Granger."
Ketika aku dan dia mencapai puncaknya, Malfoy berdiri dan menarikku untuk duduk di tepi meja ini. Dia menatapku kemudian tersenyum. Saat aku masih mencoba mengatur napasku, ia memegang daguku dan kembali tersenyum. "Kau tak akan bisa lari dariku, Granger."
Saat kalimatnya berakhir dia menarikku ke dalam ciumannya. Bibirnya kembali menciumiku. Leher. Pundak. Dan dadaku. Perlahan ia melepaskanku dan mengambil kemejanya. Dengan sigap aku bangkit dan mengambil blouse serta sedikit menyihirnya agar kembali utuh lalu kembali menggunakannya. Saat Malfoy telah kembali rapih seperti sedia kala begitu pula denganku kecuali rambutku yang terlihat benar-benar kacau, ia berjalan menghampiriku. "Selamat malam, Hermione Granger."
Lalu ia berpaling dan pergi meninggalkanku yang masih mencoba mencari logika terbaik atas kejadian tadi. Damn it!
000
Gaun merah itu tergantung tepat di samping meja riasku. Aku melihat jam yang tergantung di dinding tepat di depan ranjangku. Pukul 6 sore. Aku sudah selesai mandi sedari tadi namun masih setia menggunakan jubah handuk hitamku. Rambutku masih sedikit basah dan aku sama sekali belum mematut diri. Tetiba saja perapiankun berderak dan wajah Ginny terpampang disana. "Apa yang kau lakukan, Hermione!"
"Santai, Ginny," ujarku malas padanya.
Aku berjalan menuju perapian itu dan duduk di sofa yang berada tepat di hadapannya. "Acaranya akan mulai satu jam lagi, sementara kau masih mengenakan jubah handuk itu. Demi Merlin! Kau membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk berdandan."
Aku masih menatap malas pada sahabatku yang satu ini. "Aku tak tahu akan datang atau tidak."
"Ayolah, 'Mione. Kita sudah membahas ini kemarin. Jangan karena Viktor tak dapat menemani membuatmu tak datang ke acara besar Kementerian," cecarnya panjang.
"Bukan karena itu," jawabku cepat.
"Lalu?"
Aku terdiam. Aku juga tak tahu mengapa aku tetiba menjadi malas untuk datang ke acara Kementerian seperti malam ini. Bukan karena Viktor yang tak dapat menemani karena ia masih sibuk dengan semua jadwal latihannya yang padat bahkan di akhir pekan seperti ini, tapi entahlah.
"Hey!"
Suara Ginny membawaku kembali. "Jangan suka berteriak, Gin."
"Kau harus datang. Mungkin saja kau akan bertemu dengan dewan Kementerian dan menawarkan promosi jabatan padamu," kembali Ginny membuka suaranya.
Aku bangkit dari sofa itu. "Kau mau kemana?" lagi-lagi Ginny bersuara.
"Berdandan dan sampai bertemu di Kementerian, Mrs. Potter."
Ginny tertawa. "Sampai bertemu." Dan ia menghilang dari perapian itu.
Ginny dan segala kehebohan di hidupnya.
Setelah berhasil mematut diri dan menata rambut dengan tatanan messy bun karena aku tak punya waktu banyak untuk membuatnya menjadi lurus bak rambut Ginny, aku mengenakan gaun merah yang sudah kupesan. Pukul 8. Satu jam terlambat dari seharusnya. Aku tak peduli. Kuambil mantelku dan aku siap untuk pesta ini.
000
Aula besar Kementerian disihir sedemikian rupa. Lilin dan lampu kristal menjadi bagian dari hiasannya. Langit malam dibawa menjadi bagian dari pesta ini juga. Aku dapat melihat Kingsley dikerumuni beberapa anggota dewan Kementerian. Harry dan Ginny tampak berdiri tak jauh dari sana sementara Ron dengan gadis barunya sedang asyik berbincang dengan rekan sesama Auror. Aku berjalan menghampiri Kingsley untuk mengucapkan bahwa pesta ini sangat cantik.
"Miss Granger," sapa Nicholas.
Aku tersenyum padanya. "Nicholas," sapaku lalu beralih pada gadis yang berada di sampingnya. "Loise."
"Miss Granger, kau tampak cantik sekali malam ini," ujarnya.
Aku tertawa mendengarnya. "Kalian datang bersama?"
Nicholas dan Loise tampak canggung saat aku melontarkan pertanyaan itu. "Tak perlu dijawab," ucapku sambil menggoda mereka. "Aku permisi untuk menyapa Menteri kita terlebih dahulu."
"Tentu, Miss Granger," ujar Nicholas.
Kingsley langsung menyadari keberadaanku dan membuka lebar tangannya. "Kau terlambat, Hermione," ujarnya memamerkan senyum gigi putihnya.
"Aku minta maaf. Ada sedikit masalah tadi," jawabku.
"Pesta ini benar-benar cantik, Minister. Arwah para pendiri Kementerian pasti bangga padamu karena merayakan hari jadi Kementerian dengan seindah ini," tambahku.
Kingsley dan para dewan tertawa mendengar perkataanku. "Kalau begitu aku tak mau mengganggu perbincangan kalian. Aku permisi, Sir," pamitku pada Kingsley. "Gentlemen," pamitku lagi pada para dewan.
Aku berjalan menghampiri Ginny dan Harry yang tengah menikmati champagne yang disediakan oleh para pelayan. "Kau tampak menakjubkan dengan gaun merah itu, 'Mione," ungkap Ginny setelah mencium pipi kiri dan kananku.
"Kau juga tampak seperti gadis muda yang belum pernah melahirkan, Gin."
Harry langsung tertawa sementara Ginny langsung menyikutku kesal. "Siapa wanita yang bersama Ron hari ini?" tanyaku yang ikut menikmati champagne di pesta ini.
Ginny berdeham. "Annie Bruhl, salah satu wartawan di Daily Prophet. Dua tahun di bawahku saat di Hogwarts, berarti tiga tahun di bawah kalian."
Aku tersenyum mendengar penjelasan wanita gila ini. "Jadi, kapan kau akan kembali ke Witch Weekly, naluri penggosipmu tak dapat terbendung, Gin."
Ginny langsung memandang suaminya, sementara Harry menunjukkan wajah polos. "Jadi, kapan kau akan mengizinkan aku kembali bekerja, Mr. Potter?" tanyanya.
Harry menggeleng. "Gajiku sudah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupanmu, James, dan calon-calon anak kita nanti," ucap Harry mudah.
Ginny mencebik. "Kau dengar sendiri sekarang?"
Aku tertawa mendengar pasangan ini sampai ujung mataku menangkap sosok Malfoy dengan Astoria yang menggandengnya. Champagne yang tadi sudah berada di lambungku seakan ingin keluar dari mulutku kembali. "Kau baik-baik saja, 'Mione?" tanya Harry khawatir melihat perubahan raut wajahku.
"Sedikit pusing," bohongku cepat.
"Kau ingin pulang?" tanyanya lagi.
"Aku baru saja sampai, hanya sedikit pusing. Tak perlu khawatir," ujarku menenangkan.
Dan kini pusing itu menjadi nyata saat Malfoy dan istrinya menghampiri kami. "Potter," sapanya pada Harry lalu tersenyum pada Ginny.
Harry tersenyum dan membalasnya. "Malfoy."
"Granger, kau tampak berbeda."
Aku hanya sanggup memaksakan senyum padanya. Apa yang ada di otaknya dengan membawa istrinya ke hadapanku setelah apa yang kami lakukan?
"Apa kabar Hermione, Ginny? Senang bertemu dengan kalian kembali," sapanya.
Buruk. Buruk sekali. Aku ingin berteriak seperti itu.
"Baik, Mrs. Malfoy," balasku
Dia menggeleng. "Astoria saja, tolong. Mrs. Malfoy membuatku terdengar tua, benar begitu Draco?" tanyanya pada Malfoy yang masih memerhatikanku.
"Apapun yang kau mau, As," jawab Malfoy.
Aku benar-benar tak dapat berada satu ruangan dengan Astoria untuk saat ini. "Aku harus ke toilet, permisi semuanya."
"Kau mau aku ikut?" tanya Ginny.
Aku menggeleng. Lalu aku melenggang pergi menuju toilet.
Toilet ini tampak sangat sepi. Semua orang terfokus pada pesta. Musik, dekorasi, dan makanan yang lezat membuatnya segalanya menjadi sempurna. Aku menatap diriku di cermin. Helaan napas panjang menjadi teman setiaku saat ini. Apa yang aku lakukan? Aku tak pernah terpikir akan berada di posisi seperti ini. Tetapi, Malfoy bagaikan morfin yang semakin ditolak semakin menggoda dan semakin digunakan semakin tak tahu bagaimana cara menghentikannya.
"Kau melarikan diri, Granger?"
"Shit!" umpatku pada Malfoy yang tetiba berdiri di ambang pintu toilet ini.
Aku langsung berdiri tegak saat menyadari keberadaanya. "Apa yang kau pikirkan untuk datang kesini?"
Dia berjalan dan mengunci pintu di belakangnya. "Kau takut tertangkap basah?"
Aku tak menjawabnya. "Keluarlah sebelum Astoria mencarimu," jawabku yang kembali menatap cermin.
Malfoy menghampiriku dan kini berada tepat di belakangku. "Kau cemburu."
"It's just sex. Tak ada yang perlu dipermasalahkan," jawabku.
"Benarkah?" tanyanya dengan berbisik di telingaku.
Seperti biasa, bulu kudukku meremang saat ia berada di dekatku. Tangannya memegang bahuku dan mencium pundakku yang terbuka. "Kau cemburu, Granger."
Aku menahan napas saat bibirnya berada di kulitku. "Sampai bertemu di luar kalau begitu."
Saat ia keluar aku menghela napas panjang. Malfoy gila. Ini benar-benar sinting.
Setelah menggunkan toilet aku langsung pamit pada Ginny dan Harry serta Ron yang kini telah bergabung dengan mereka."Kau benar-benar sakit?" Ginny bertanya dan kini ia benar-benar khawatir.
"Hanya pusing," jawabku.
"Mau kutemani?" tanyanya lagi
Aku menggelang. "Nikmati pesta, Gin. Selagi kau bisa menitipkan James di The Burrow," candaku.
Dia ikut tertawa. "Kau yakin, 'Mione?" kini Ron yang ikut mengkhawatirkanku.
"Tentu, nikmati malam kalian. Aku akan minum aspirin lalu tidur."
Setelah berpamitan dengan mereka dan tak menemukan sosok Malfoy serta istrinya, aku menggunakan jaringan Floo untuk kembali ke rumah.
000
Kuputar musik dan menuangkan wine ke gelas setelah mengganti pakaian dan menghapus riasan di wajahku. Kupejamkan mataku sembari mendengarkan musik dan sesekali menyesap wine dengan ditemani suara gemericik hujan.
Tok..tok..
Kubuka mataku dan mencoba mendengar suara ketukan itu lagi.
Tok..tok..
Aku bangkit dari sofa ruang tengahku dan berjalan menuju pintu depan. Ginny pasti ingin memastikan keadaanku sebelum ia pulang.
"Kau cepat sekali menghilang dari pesta, Granger."
Aku membeku di tempat. Malfoy berdiri di depan pintu rumahku dengan tuxedo yang tadi ia kenakan minus dasi kupu-kupu yang sudah terlepas ikatannya. Di tangannya ada sebotol wine dan dua gelas bertangkai. "Le Pin, 1974. Kau menyukainya?" tanyanya padaku lalu masuk tanpa menunggu persetujuanku.
"Breath, Granger," ujarnya kembali lalu mencium pipiku dan kembali masuk ke dalam rumahku.
Holy shit!
000
to be continued
How's this chap? I hope you like it. And for the inconsistency language, I just wanna say I'm sorry. Some sentences didn't feel match with Indonesian, so once again I'm sorry. Leave your review guys. Thank you:)
