Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, dll~
Annyong, reader-deul! Di sini ada Cheonggye!
Itu apa? Itu adalah anak sungai yang jadi tempat istirahat sepanjang delapan kilometer. Itu kayaknya yang ada di MV Suju ft. SNSD yang Seoul Song, pas bagiannya Shindong lari. Hehe. Atau nggak cari aja di google, oke?~
N.B : Kai is a property of Kyungsoo, dan sebaliknya, kkk. But the plot is mine! I swear I never be a plagiator, or someone who co-pas fanfic, and etc who do something like that.
NB lainnya : Ceritanya si Kyungsoo udah beberapa bulan di sekolah ini ya, pas Kai ngintip dia di ruang musik, mulai part ini sama akhirannya part 1 kemaren, oke?
.
.
"Suaramu indah sekali Kyungsoo, aku tertarik."
Dan Kyungsoo terkejut mendengar suara parau itu di dalam kesendiriannya. Namja itu membalikkan tubuhnya secara sempurna. Mata bulatnya makin melebar saat berhadapan langsung dengan onyx kecoklatan milik Kai. Beberapa bulan berada di sekolah ini, Kyungsoo makin menyadari namja satu itu sangat mudah menarik perhatian. Kali ini hanya dengan kaus hitam tanpa lengan dan celana training, Kai mengambil perhatian Kyungsoo tanpa sisa.
"Kai?"
"Hmm? Kau dipanggil untuk memberi nyanyian sambutan pada pesta ulang tahun sekolah, ya?" tanya Kai seraya mendekati Kyungsoo.
"Enng… Soal itu…"
Kyungsoo memainkan jemarinya gugup, menghindari tatapan Kai yang mengarah padanya. Kai menghela nafas, lalu hanya tersenyum kecil seraya mengambil partitur polos yang terpegang erat di tangan kiri Kyungsoo yang berkeringat.
Partitur itu masih berupa coretan pensil. Hanya terisi not balok dan lirik dengan bahasa inggris di bawahnya. Tapi Kai paham. Dari kecil Kai sudah diajari tentang not balok. Dan Kai pernah tinggal di California selama beberapa bulan saat sekolah dasar. Kai menghela nafas lagi, lebih pelan dari sebelumnya.
"Hem? Jadi ini lagu buatanmu?" tanyanya seraya mengangkat partitur itu.
"Ti-tidak, itu buatan Junmyeon-hyung…" jawab Kyungsoo langsung. Kai mengernyit, Junmyeon siapa? Satu-satunya Junmyeon yang suka menulis nada lagu… bukankah ketua organisasi sekolah mereka; Junmyeon yang itu?
"Junmyeon siapa? Kim Junmyeon?"
"I-iya… Judulnya Into Your World… Lagunya bagus, ya?" ujar Kyungsoo pelan, seraya mendapat tawa kecil dari Kai. Sesungguhnya Kai tidak membutuhkan jawaban itu, dia hanya ingin tahu kenapa Kyungsoo bisa cepat akrab dengan ketua organisasi sekolah mereka yang diyakini galak itu—yang sampai sekarang saja Kai masih memanggilnya dengan embel-embel 'sunbae'.
Mereka berdua terpancar cahaya matahari sore yang menyelip lewat celah jendela. Kai menyukai bagaimana Kyungsoo terlihat indah dengan cahaya matahari yang menerangi sisi wajahnya itu. Kai menyukai tatapan Kyungsoo yang diarahkan padanya. Kyungsoo menyukai ekspresi wajah itu. Dan semua itu membuat Kai menaruh partitur itu di atas piano putih yang terbuka, dan sejenak diam.
Senyuman tipis muncul menghiasi wajah tampannya dan jemarinya bertahan dalam beberapa tuts tangga nada…
…dan dentingan menyejukkan itu berbunyi.
Awalnya Kyungsoo terkejut. Sejujurnya dia tidak tahu Kai memiliki bakat di semua alat musik. Tapi Kyungsoo bersumpah, nilai kesenian Kai selalu bagus. Dan itu dilakukannya dengan caranya sendiri. Cara Kai sendiri, yang selalu istimewa dan berbeda di mata Kyungsoo.
Lama-lama Kyungsoo merasakan semua ini terlalu asyik untuk dilewatkan begitu saja. Dentingan piano itu membuat lutut Kyungsoo terasa lemas dan ingin jatuh menikmatinya. Lagi-lagi, semua itu karena Kai yang memainkannya; berarti dengan cara namja itu sendiri.
Cahaya matahari senja itu membias di sisi kanan tubuh Kai, seolah namja itu adalah subjek di atas panggung yang memainkan suatu alat nostalgia dengan pilihan lagu yang sangat tidak bisa dibilang jelek. Lagu itu sebuah genre ballad tapi tidak cengeng, suatu genre yang difavoritkan oleh Kyungsoo. Namja itu harus menahan keinginan kuat untuk mengikuti irama lagu dengan nyanyian lembutnya.
Tapi suara rendah Kai mengagetkannya. "Tolong nyanyikan ini. Untukku."
Maka setelah lagu yang dimainkan Kai mencapai refrain, suara Kyungsoo mengiringi dengan lembutnya. Tentu saja Kyungsoo melepaskan sebuah rasa yang ada di hatinya sejak tadi. Rasa dalam dirinya yang menunjukkan bahwa dia adalah namja yang beruntung; dapat mendengar belaian simfoni lembut yang dimainkan Kai, hanya untuknya.
Kyungsoo merasakan sebuah desiran aneh dalam dadanya. Desiran yang tidak Kyungsoo mengerti; tapi membuatnya melangkah mendekati Kai.
Perlahan Kyungsoo meletakkan lengannya melingkari pundak Kai dari belakang namja itu, dan dua tangannya saling menggenggam di depan leher Kai; sekaligus mengagumi bahu lebar nan tenggap milik Kai, serta aroma green tea yang menguar dari tubuh Kai. Juga rambut namja itu yang wanginya terasa memabukkan.
Sambil bernyanyi, Kyungsoo menghirup aroma green tea itu, berharap dia tidak melupakannya dalam sejenak saja. Kyungsoo tidak tahu apa yang dilakukannya, saat ini hanya nalurinya yang bekerja.
Kai menghela nafas pelan, berusaha untuk tetap menyatukan fokusnya terhadap dentingan—tapi dia tersenyum lembut. Kai merasa sejenak lagi dia pasti mendapatkan Kyungsoo. Semuanya yang tertarik pada Kyungsoo sudah kalah darinya, Kai yakin.
Dan mereka berada dalam kebersamaan itu dalam waktu yang cukup untuk membuat keduanya saling merasakan debaran jantung masing-masing.
.
.
Sungguh sebuah pagi hari yang hangat di rumah Kyungsoo, dan setidaknya Kyungsoo pikir hari ini akan jadi hari yang baik.
Tapi yang merupakan sebuah ide gila adalah; mengajak Xi Luhan menginap di rumah namja bermata doe itu. Namja yang lebih tua tiga tahun dari Kyungsoo itu akan mengacak-acak kamarnya, bernyanyi sambil bermain ke sana kemari, dan mengagumi pantulan dirinya sendiri yang terlihat cantik di cermin besar milik Kyungsoo.
"KYUNGSOO, IREONAYOOOOO~~~!"
Xi Luhan adalah anak dari kakak Appa-nya Kyungsoo. Jadi hubungan Luhan-Kyungsoo adalah sepupu. Namja cantik itu mengambil pendidikan di Genie Art School jurusan seni vokal. Orang tuanya sedang pulang ke China, jadi Luhan dititipkan di sini—pengalaman buruk bagi Kyungsoo tentu saja.
"Kyungsoo~ Ireona~ Jadi tidak kita lari pagi?" tanya Luhan—yang Kyungsoo yakini—dengan nada sengaja dikeraskan. Kali ini Kyungsoo merasakan ranjangnya yang bergerak dengan 'liar' dan membuat kepalanya agak pening—Luhan pasti telah mengelilingi tubuh Kyungsoo dengan melompat-lompat.
"Sikkeuro, hyung!"
Kyungsoo menutup kepalanya dengan bantal putih bergambar hello kitty yang Kyungsoo tidak sadar itu milik Luhan. Diam sejenak, lalu rengekan terdengar.
"Huweee, Kyungsoo~ Kau janji kan mau menemaniku untuk melihat lagi namja itu? Dia tampan sekali~~ Ayolah, Kyungsoo~ Akan kutraktir bubble tea nanti~"
"Aku bukan penggila bubble tea, kalau kau mau, belikan aku konsol paling baru, lalu photobook Super Junior yang disebut-sebut orang sebagai photobook paling eksklusif sepanjang tahun ini." gumam Kyungsoo tidak jelas.
"Oke, aku akan belikan! Ayolah, Kyungsoo~~~~"
Keinginan Luhan pasti begitu kuat untuk bertemu namja-yang-sedang-berolahraga-di-taman- kemarin-itu—karena dari dulu Luhan selalu menertawai Kyungsoo ketika dia membicarakan tentang Super Junior. Bukan salah Kyungsoo juga kalau dia mengidolakan boyband itu—toh Luhan juga mengidolakan Manchester United.
Sedikit tidak nyambung memang.
"Oke, aku menyerah. Belikan aku bubble tea yang paling mahal nanti, oke?" kata Kyungsoo keras, lalu berdiri dari kasurnya, seraya menarik selimut untuk merapikannya. Luhan mengangguk kuat-kuat, dan Kyungsoo berjalan malas ke kamar mandi—hendak berganti baju dan menggosok gigi, juga cuci muka.
Setelah keluar, dia melihat Luhan sudah rapi dan manis sekali, dengan rambut blonde agak ikalnya, dia tampak seperti putri cantik yang memiliki kelainan gender. Kyungsoo berkali-kali berpikir bahwa Luhan sebenarnya adalah yeoja, dan hampir memercayai pikiran gilanya itu sebelum dia ingat dulu saat umur lima tahun dia sering mandi bersama Luhan.
"Ahjumma~ Kami berangkat dulu, ya!" teriak Luhan pada Eomma Kyungsoo yang sedang membersihkan dapur.
"Ne! Hati-hati ya! Kyungsoo, kau juga hati-hati!"
"Ne, ahjumma~!"
"Ne, eomma…"
Lihat saja gaya bicaranya itu, ramai dan penuh topik—jika Kyungsoo baru pertama kali bertemu dengannya saat ini, tanpa ragu-ragu Kyungsoo akan memanggilnya 'noona'. 'Luhan Noona'—sepertinya cocok-cocok saja. Lagipula Luhan tidak pernah mengeluh jika dipanggil 'cantik'.
Mereka sedang berjalan menyusuri jalanan kecil yang akan tembus di jalan besar nantinya, ketika Kyungsoo menyahut. "Hyung."
"Hm~?"
"Ciri-ciri namja itu bagaimana sih?" tanya Kyungsoo, dari tadi namja itu sudah penasaran karena kemarin Luhan terus berkata 'uyubitkal, uyubitkal~!' dengan keras saat menceritakannya pada Kyungsoo. Karena kemarin Kyungsoo pulang sore untuk latihan, saat itu Luhan memutuskan jogging.
"Rambutnya warna coklat karamel tua, lurus tapi diponi samping, lalu matanya sipit, tapi bukan sipit benar-benar sipit, tapi sipit karena dia kelihatan malas dan mengantuk. Lalu hidungnya mancung, tulang pipinya agak tajam, jadi pipinya kelihatan lurusbegitu, aku juga tidak begitu bisa mendeskripsikannya, hehe~"
Kyungsoo jelas melihat semu kemerahan membias di pipi Luhan yang bersih. "Lalu, apalagi?" tanya Kyungsoo, tidak dipungkiri dia suka melihat Luhan tersenyum senang seperti ini.
"Philtrumnya sangat kelihatan, lalu bibirnya tipis. Dia punya semacam tahi lalat di leher atasnya. Bahunya tegap, tingginya sekitar 180 senti, dan—seperti yang kubilang kemarin, kulitnya uyubitkal!~~ Uwah~ Nan michineyo, Kyungsoo-ya!"
Lihat lagi gaya Luhan yang persis seperti yeoja jatuh cinta—memerhatikan setiap detail wajah sang 'hwangja' yang merebut seluruh perhatiannya.
"Hyung, kau tahu, kau seperti yeoja yang sedang jatuh cinta!" ledek Kyungsoo, tapi Luhan hanya menjulurkan lidahnya.
"Biarkan saja, toh aku juga tidak pernah jatuh cinta selama ini…" Luhan mengerucutkan bibirnya, sementara Kyungsoo memutar bola mata.
"Bukan begitu maksud—"
"KYUNGSOO! Itu dia orangnya!" jerit Luhan. Kyungsoo hampir saja jatuh saat Luhan melompat ke balik punggung kecilnya, mencoba menyembunyikan diri mungkin.
"Mana?" tanya Kyungsoo datar—yang dari tadi sebenarnya memikirkan kemungkinannya sangat kecil akan bertemu lagi dengan namja itu.
"Arah jam satu, Kyungie~" bisik Luhan, lupa kalau Kyungsoo tidak bisa menemukan arah lewat jarum jam. "Memakai jersey warna putih. Huwaa, neomu meotchyeoooo~"
Pandangan Kyungsoo akhirnya memutari tempat itu—sepanjang anak sungai Cheonggye. Dan begitu dia melihat 'hwangja'nya Luhan, matanya benar-benar membulat sempurna selama—kurang lebih—lima detik.
"H-hyung, aku jelas tidak mau merusak kebahagiaanmu-tapi, dia—"
"Iya, dia tampan. Tidak apa-apa, aku sudah menduga kau akan bilang begitu. Gwenchana, Soo-ie."
Luhan pabbo.
"Bukan begitu, hyung! Dia itu temanku!" Kyungsoo mengeraskan suaranya dan Luhan mendengar ucapan itu dengan sangat jelas.
"Mwoyaa?! Teman?!" teriak Luhan tertahan. Kyungsoo hanya tertawa kecil dan segera menarik tangan Luhan untuk mendekati Sehun.
"Ayo, hyung!"
"Apa-apaan?! Kyungsoo, aku malu!" bisik Luhan.
Kyungsoo tidak peduli. Tiga meter lagi mereka akan berhadapan langsung dengan Sehun dan Kyungsoo yakin Sehun sudah melihatnya bersama namja 'jadi-jadian' di sebelahnya ini. Kyungsoo melambai di hadapan Sehun.
"Oh, Kyungsoo-ya, annyong!"
Hahaha. Sehun benar-benar sudah melihat Kyungsoo dan Luhan. "Annyong, Sehuna! Sedang apa kau pagi-pagi begini? Tidakkah kau latihan bersama Kai untuk penutupan pesta ulang tahun sekolah kita?" sapa Kyungsoo, sementara Luhan menunduk, sedikit ke belakang Kyungsoo.
"Aniyo, aku sedang lari pagi. Jam delapan aku baru latihan dance dengannya. Eh—nugundae?" tanya Sehun sambil melongokkan kepalanya ke arah Luhan. "Annyonghaseo, Oh Sehun imnida, nugundae?"
GASP! Ternyata Sehun duluan yang memperkenalkan diri padanya.
"A-annyong, X-xi Luhan imnida…" jawab Luhan, sedikit mendongakkan kepala untuk melihat sang namja yang sudah membuatnya gila 12 jam terakhir ini, dan brightly-eyenya yang malu-malu menatap ke arah hazel coklat muda milik Sehun yang ramah.
"Wah, kau pemalu, ya? Lucu sekali~" komentar Sehun, dan senyum mengembang di bibirnya. Kyungsoo hanya tertawa kecil melihat kepala Luhan yang menunduk lagi, mungkin untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas sekarang.
"Mian, hyung-ku ini sedikit pemalu. Tapi setelah kau berkenalan dengannya, kau akan menemukan banyak hal yang menyenangkan dalam dirinya." kata Kyungsoo, lalu sedikit menyadari bahwa mata Sehun masih tertancap di sisi wajah Luhan yang kelihatan. Kyungsoo tahu Sehun tertarik pada Luhan.
"Tunggu—hyungmu? Namja cantik ini hyung-mu? Baru saja aku berpikir kalau kau ke sini dengan pacarmu. 'Hyung' ya? Umurnya? Aku baru tahu kau punya seorang hyung." kata Sehun, blak-blakan.
Kalau tidak dalam kondisi frostbite karena sangat malu, pasti Luhan sudah melompat-lompat menuju Seoul Tower dan berteriak-teriak di sana—dan mungkin menggigiti semua gembok yang tertempel sampai lepas. Atau bisa juga Luhan tiba-tiba bersumpah akan membenci hello kitty selamanya—dan itu sangat tidak mungkin.
"Dia beda empat tahun denganmu. Dia sepupuku, bukan hyung-ku. Aku kan anak tunggal, Hun-ah."
"Ah… Wait—empat tahun?!"
"Kenapa sih?" Kyungsoo mengernyitkan dahinya, dan Sehun mendekatkan mulutnya pada telinga Kyungsoo, sementara Luhan mengernyit bingung dalam rasa malu yang masih menyelimuti dirinya.
"Dia cantik sekali."
.
.
Luhan masih terkena frostbite saat mereka berjalan pulang. Frostbite ini hanya di wajahnya, karena dari tadi Luhan terus tersenyum. Dan penyakit dadakan itu membuat Kyungsoo agak takut.
"Hyung, yang benar saja. Kau ini berlebihan sekali." kata Kyungsoo, mencoba menghancurkan hening yang dari tadi terus menjalar kemana-mana.
"Oh Sehun…"
Petir menyambar di kepala Kyungsoo—dahi namja itu mengerut kesal. Seharusnya tadi Sehun tidak usah memberi nomor ponselnya pada Luhan, karena itu Luhan jadi memegang ponselnya terus-terusan. Apalagi dengan pesan Sehun, 'saat kesepian nanti kau tahu harus menghubungi siapa', itu membuat Luhan seperti autis dengan ponselnya sendiri.
Dan Kyungsoo mencibir sinis, kalau kesepian, dia akan menelepon kebun binatang agar mengirimkan beberapa hewan untuk meramaikan rumahnya—mungkin sekaligus menghancurkan rumahnya.
"Oh Seh—"
"DEMI TUHAN—hyung! Jangan berlebihan! Begini saja kau sudah seperti kena sihir—lalu bagaimana kalau nanti dia me'nembak'mu?!" bentak Kyungsoo, dan Luhan terdiam.
"Me… 'nembak'ku? A-aku tidak tahu, Kyungsoo… Mu-mungkin aku akan m-mati…"
Kyungsoo sweatdrop pangkat dua mendengarnya. Langkahnya terhenti, lalu tangannya memegang bahu Luhan.
"Hyung, begini. Aku tahu kau itu cantik dan aku itu manis, tapi aku yakin tadi saat aku membeli bubble tea, ada yang kau dan Sehun bicarakan berdua. Aku tidak tahu apa itu, tapi—"
"Lho, Kyungsoo?" sebuah suara bariton menginterupsi dunia Luhan-Kyungsoo yang sedang berkompromi. Merasakan ada yang aneh, Kyungsoo segera menghadap ke belakang.
Seorang namja memakai jaket biru dan celana jersey menghadap ke arahnya. Rambut hitamnya tertiup angin, tapi dia kelihatan tampan luar biasa karena hal itu. Dan tiba-tiba virus frostbite Luhan berpindah ke Kyungsoo selama lima detik.
"K-kai? Oh, a-annyong! Kau sedang apa, eum, di sini?" sapa Kyungsoo. Kai mengernyitkan dahinya.
"Aku yang ingin tanya begitu. Tapi melihat pakaianmu, aku jadi yakin kau sedang lari pagi. Aku juga lari pagi. Oh, siapa itu? Kim Jongin imnida, bangapseumnida!" Kai menyapa Luhan yang wajahnya masih 'blank'.
"Ah, annyong, Xi Luhan imnida!" balas Luhan, sedikit menunduk, lalu menatap Kyungsoo yang mulutnya terbuka.
"Ah, ya, ini Kai. Kai, ini Luhan, dia hyungku. Maksudku, dia hyung sepupuku—eh, sepupu—eh tidak, dia sepupunya, eh ani! Dia sepupuku—"
"Sudahlah, Kyungsoo-ie. Mianhamnida, aku sebentar lagi ada latihan dance. Jomidabwa /see you later/, Kyungie, Luhan-ssi." kata Kai, lalu dia melakukan hal yang sama sekali tidak diduga Kyungsoo sebelumnya—
—mengecup sekilas pipi Kyungsoo yang agak tembam, dan berlalu begitu saja.
Frostbite menjalari tubuh Kyungsoo. Mulutnya hendak protes, tapi otot-otonya terasa kaku. Luhan menatapnya dengan pandangan membunuh.
"Kyungsoooooo~! Kenapa kau tidak bilang jika sudah punya namjachinguuuuuuu~?!"
.
.
Sesuatu yang menerpa pikiran Kyungsoo selama empat jam terakhir ini adalah kejadian di pagi hari tadi yang membuat Luhan jadi bertambah cerewet dua kali lipat dari biasanya—adalah kejadian Kai-mencium-pipi-Kyungsoo-dan-berlalu-begitu-saja.
Untunglah Luhan sudah dijemput oleh orangtua-nya tadi, dan Kyungsoo bersyukur berkali-kali ada sebuah kecelakaan kecil yang membuat mereka pulang lebih cepat. Sesungguhnya tidak etis sekali Kyungsoo mensyukuri kejadian buruk, tapi yah—mau bagaimana lagi? Daripada Luhan terus mencecokinya dengan berbagai pertanyaan tidak penting, lebih baik begini.
Tiba-tiba pensilnya terjatuh dan Kyungsoo sadar dia belum menulis apapun dalam buku pekerjaan rumah ekonominya. Dua pelajaran yang Kyungsoo tidak suka adalah fisika dan ekonomi, terutama akutansi-nya—aish, otak Kyungsoo hampir saja mengeluarkan asap jika dia tidak 'sedikit melirik' tumpukan komik di sebelah tempat tidur.
Mister Bang menyebalkan, karena selalu memberi tugas rumah untuk pelajaran ini. Luhan menyebalkan—dia yang memaksa Kyungsoo untuk menemui Sehun, jadi Sehun juga menyebalkan, karena ada dia Luhan jadi menyukainya. Dan karena mereka berdua, Kyungsoo bertemu Kai, jadi Kai menyebalkan juga, dia mencium pipi Kyungsoo tiba-tiba.
Dan yang paling menyebalkan adalah otaknya sendiri yang tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi pagi.
Dan besok ada pelajaran ekonomi! Kyungsoo meremas rambutnya sendiri lalu tidak sengaja melihat coretan kecil di bukunya. Matanya menyipit dan dia melihat tulisan itu—'Kai'.
Asdfghjkl, siapa sih yang menulis itu?
Batinnya, melupakan dulu saat pelajaran ekonomi Kyungsoo pernah merasakan bosan luar biasa, dan akhirnya membuat beberapa grafiti dengan nama Kai menjadi dasar grafitinya.
Masa bodoh.
Kyungsoo menutup bukunya dan menjatuhkan diri di tempat tidur, meninggalkan segala pikiran khawatir tentang hari esok.
.
.
TBC
Wanna review? Hehe.
