XingBubble Present:

Monster; (1) Those Nightmares

Main Cast: Sehun, Luhan.

Genre: Romance, Fantasy, Drama.

Other Cast: EXO's member and Cameo(s).

Warning! Yaoi | BL | AU | Typo(s) | Trigger Warning! | Contain Violence.

ENJOY!


"Ibu mengapa manusia saling menyakiti satu sama lain?" Tanya Luhan.

"Karena..."

"Ibu juga tidak tahu." Sang Ibu justru tertawa begitu mengakhiri ucapannya.

.

.

.

Pagi itu, Sehun terbangun tepat jam tujuh ketika matahari mulai menampakkan diri. Dia hanya terduduk sebentar di tempat tidur sambil menatap ke sampingnya. Seorang lelaki dengan wajah yang sangat manis tengah tertidur lelap.

Dengan perlahan-lahan, Sehun mengarahkan jari telunjuknya ke pipi lelaki tersebut. Dia memainkan jari lentiknya diatas pipi milik lelaki tersebut. Sudut bibir Sehun sedikit naik sehingga membuat lengkungan.

"Aku mencintai dirinya, Sehun." Ucap lelaki itu.

Sehun mendongakkan kepalanya. Dia membalas tatapan lelaki tersebut. "Kau?"

"Tapi, dia lebih mencintai dirimu," Suara lelaki itu memberat, "Kumohon jaga dia untukku."

Sehun mengecup pipi lelaki itu dengan lembut. Lelaki itu membuka matanya perlahan-lahan ketika merasakan sebuah benda lembut yang sedikit basah tepat jatuh diatas pipinya.

"Selamat pagi, Baekhyun!" Sehun menyapa lelaki manis itu terlebih dahulu.

Baekhyun mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menjawab sapaan Sehun. "Kau benar-benar mengejutkanku."

Sehun hanya terkikik. "Maafkan aku, sayang."

"Sayang?" Baekhyun menyeritkan dahinya.

"Ya, sayang."

Baekhyun tersenyum sambil memeluk tubuh Sehun. Dia membenamkan kepalanya tepat di atas dada bidang Sehun. Senyuman Baekhyun makin merekah ketika Sehun mengecup tepat di puncak kepalanya.

.

.

.

Kaki-kaki Sehun membawa dirinya berjalan ke ruang kerja dengan terburu-buru. Dia sedikit terkejut pagi ini dia mendapatkan tamu yang datang pagi-pagi sekali.

Tangan panjang Sehun meraih gagang pintu dihadapannya. Mata cokelat Sehun langsung fokus melihat seorang lelaki tengah duduk sambil membaca buku yang sangat tebal.

"Park Chanyeol!" Panggil Sehun kepada lekaki itu.

Yang dipanggil masih tetap membaca bukunya tanpa menghiraukan panggilan dari Sehun.

"Park Chanyeol!" Sehun mengulang panggilannya kepada lelaki itu.

Dengan terpaksa Chanyeol menoleh dan menutup buku tebalnya. Dia hanya menatap Sehun dengan datar.

"Apa?" Balas Chanyeol.

"Kenapa datang begitu mendadak?" Tanya Sehun sambil berjalan duduk di kursi kerjanya.

Chanyeol menjawab dengan enteng. "Hanya mengantarkan beberapa berkas."

Langkah Sehun terhenti saat dia hendak menarik kursinya. Dia langsung menatap Chanyeol. "Berkas yang mana?"

"Kau memintanya kemarin, Hun-ah."

Sehun mengidikkan bahunya. Dengan cepat dia menarik kursi kerjanya dan mendaratkan bokongnya diatas kursi empuk tersebut. Kedua tangan panjangnya mengambil berkas yang ditumpuk Chanyeol tepat dihadapannya. Dia membuka berkasnya satu per satu.

"Bagaimana kabar Baekhyun?" Tanya Chanyeol.

"Baik."

"Bagaimana dengan vas yang kukirim kemarin? Apa dia menyukainya?"

"Vasnya pecah. Tepat saat Baekhyun membukanya."

Chanyeol menyeritkan dahinya. "Apa maksudmu? Bagaimana bisa? Baekhyun sangat berhati-hati, Hun."

"Aku tidak tahu. Aku tidak ada disana saat Baekhyun membuka vasnya."

"Apa dia terluka?"

"Tidak."

"Apa dia menyukai vas itu? Aku akan membelinya—"

"Diam, Chanyeol!" Sehun memotong ucapan Chanyeol.

Mata Sehun menatapnya dengan tajam. "Aku adalah kekasihnya. Aku akan menjaganya, Chanyeol!"

"Jadi sekarang biarkan aku melanjutkan pekerjaanku yang tertunda, bagaimana?" Sehun bertanya.

Chanyeol hanya memilih diam. Dia tidak ingin beragumen lagi dengan adik kecilnya. Dia berbisik dengan suara yang sangat kecil.

"Kau tidak mengerti Hun-ah."

.

.

.

Mungkin sudah dua jam lamanya Luhan terbangun tanpa melakukan apapun, selain menatap tembok dihadapannya. Diam-diam, dia juga berharap pagi ini dia akan diberikan sarapan.

Sudah dua hari—atau lebih Luhan tidak diberikan makan. Memang Luhan memiliki metabolisme yang berbeda dengan manusia. Luhan bisa hidup tanpa makanan dan air hingga bertahun-tahun lamanya. Walaupun begitu, Luhan hanyalah makhluk Tuhan biasa yang membutuhkan nutrisi.

Tidak. Sehun mengejeknya makhluk dari neraka terdalam. Dia bahkan tak pantas untuk hidup dan dipuji-puji karena keanehannya tersebut.

"Yang benar adalah iblis yang jatuh dari neraka terbawah."

"Kau bahkan tak pantas untuk hidup."

"Memangnya ada yang menyayangi orang sinting sepertimu?"

Perkataan Sehun itu terdengar begitu nyaring di kepala Luhan. Lantas Luhan menjambak kedua rambutnya dengan kuat-kuat. Dia mendesis dengan kuat.

Dia tidak gila, dia tidak sinting, dan dia adalah makhluk biasa.

Ilusi itu kembali dan semakin nyata. Pandangan Luhan mengabur hingga dia tak mampu melihat apapun. Bibir Luhan terbuka dan dia mulai menjerit dengan kuat. Seketika itu pula dia merasakan sekujur tubuhnya memanas seperti dipanggang.

"ARGGH!" Luhan menjerit.

.

.

.

"Tuan Oh!" seorang Maid berlari ke ruangan Sehun dengan muka memucat.

Sehun yang sedang tertawa dengan Chanyeol itu langsung terkejut. Begitupula dengan Chanyeol yang langsung terdiam.

"Ada apa?" Tanya Sehun.

"Itu—" Maid itu terus bergetar hebat. Bahkan dia tidak mampu meneruskan kata-katanya.

Sehun langsung melemparkan tatapan pada Chanyeol, "Chanyeol, bisakah kau pulang sekarang?"

Chanyeol menggidikkan bahunya. "Baiklah."

.

.

.

Sehun berlari terburu-buru menuju ruangan bawah tanah. Mukanya berkeringat serta badannya menggigil hebat. Kakinya terhenti begitu saja ketika sampai didepan pintu hitam itu. Dengan kuat dia mendorong pintu tersebut.

"Luhan!" jerit Sehun.

Dengan mata kepalanya sendiri, Sehun melihat Luhan berubah menjadi api walau wujudnya masih seperti manusia biasa. Matanya berwarna oranye terang seakan hendak memancarkan api. Besi yang membelenggu tangannya bahkan sudah meleleh. Kaus yang dia kenakan bahkan sudah hancur—terbakar.

"Luhan! Apa yang terjadi?" Tanya Sehun.

Luhan menjawab dengan suara yang sangat berat. "Aku tidak gila, Hun!"

Sehun berlari menghampiri Luhan. Namun, Luhan mengepakkan sayap cahayanya sehingga Sehun terpelanting ke belakang. Mata Luhan menatap Sehun dengan tajam.

"Jangan dekati aku!" pekik Luhan.

Sehun memegang lengan kanannya yang terluka. "Luhan! Hentikan!"

"Aku tidak akan menghentikannya. Kau kira kau siapa?" Balas Luhan.

"Aku adalah Tuanmu." Jawab Sehun.

"Aku bukan milikmu. Kau hanya memungutku saat itu." Luhan mengangkat sudut bibir kanannya.

"Luhan! Hentikan semua ini!" Pekik Sehun.

"Kau tak berhak memerintah diriku, Oh Sehun." Suara Luhan makin memberat. Bahkan seperti sepuluh orang tengah berbicara menjadi satu.

"Cukup seribu tahun lalu aku menjadi budak. Aku hanya ingin bebas." Luhan berjalan menghampiri Sehun.

Mata mereka bertemu ketika Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun. Mereka saling menatap selama dua detik.

"Bagaimana jika kau merasakan penderitaanku selama ini?" Tanya Luhan.

Sehun menjawab dengan suara tak kalah seram. "Aku sudah pernah merasakannya."

"Seorang pembisnis kaya terlahir dari keluarga terpandang, bagaimana bisa kau merasakannya? Jangan pernah berbohong padaku, Sehun." Balas Luhan.

Sehun mengangkat tangan kanannya. Dia mengayunkan tangannya dengan kuat ke wajah Luhan.

"Hentikan omong kosongmu, Luhan!" Sehun menendang badan Luhan hingga dia terpelanting ke belakang dan menabrak tembok.

"Kau beruntung terlahir dengan kekuatan yang nyata, bukan dengan kekuatan yang semu." Sehun menghampiri Luhan.

"Jangan kau pikir aku takut denganmu hanya kau berubah menjadi monster seperti ini. Aku tidak pernah takut dengan apapun!"

"Aku memilikimu. Jika hari itu kau tidak kuseret dari sana, kau mungkin sudah mati akibat kebakaran itu atau jika kau selamat kau hanya menjadi gelandangan yang ditakuti semua orang. Bersyukurlah aku bisa menyelamatkan dirimu!" Suara Sehun kembali meninggi.

Luhan mengepalkan tangannya begitu Sehun berjongkok dihadapannya. Jiwanya mulai bergejolak. Antara ingin membunuh Sehun dengan ingin kembali menjadi Luhan yang lugu serta polos.

"Kenapa hanya menatapku? Tadi kau seperti orang kesetanan yang ingin membunuhku bahkan menuntut diriku atas semua yang terjadi padamu." Sehun tertawa.

"Jika terlahir sebagai budak mungkin memang sudah ditakdirkan menjadi budak selamanya."

.

.

.

Baekhyun membolak-balikan buku tebal yang baru saja dia ambil dari perpustakaan milik Sehun. Buku setebal ensiklopedia itu berhasil dia temukan setelah dua jam mencari. Sampul bukunya sudah usang bahkan sangat jelek. Yang jelas dulu, Sehun sangat mengagung-agungkan buku ini bagaikan setumpuk emas yang ia dapatkan secara cuma-cuma. Baekhyun mengidikkan bahunya sambil membuka halaman pertama.

"SCP-001. The Gate Guardian." Bisiknya.

"Sejenis Humanoid yang memiliki sayap dari cahaya yang sangat terang. Memiliki senjata yang dapat membunuh orang dengan sekali tebas." Bisik Baekhyun lagi.

Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa yang ada diotak anak itu sehingga dia mengambil Luhan?"

Baekhyun kembali berkutat pada kertas-kertas itu. Dia berusaha memahami tulisan itu yang ditulis dengan bahasa Latin.

Krieeek...

Baekhyun melempar pandangannya ke pintu perpustakaan yang terbuka lebar. "Oh kau rupanya."

Sehun berjalan masuk menghampiri Baekhyun. "Apa yang kau baca?"

"Buku tentang Luhan, kurasa."

Sehun hanya mengangguk. Dia mendudukkan badannya disamping Baekhyun.

"Darimana saja kau?" Tanya Baekhyun.

"Biasa." Jawab Sehun singkat.

Baekhyun hanya tersenyum. Dia melihat telapak tangan Sehun yang berlumuran darah itu. Seketika itu pula raut wajah Baekhyun berubah.

"Apa yang terjadi denganmu, Sehun?" Tanya Baekhyun khawatir.

Sehun hanya mengibaskan tangannya beberapa kali. "Aku baik-baik saja. Sudahlah."

Baekhyun menghela napasnya. "Selalu saja begini."

"Aku tidak ingin bertengkar denganmu lagi, Baek. Jadi sudahlah hentikan. Urusi saja dirimu dan aku akan mengurusi diriku." Jawab Sehun.

"Pernikahan kita akan berlangsung sebentar lagi. Jika kita terus-terusan seperti ini, apa yang akan dipikirkan orang tua kita? Apakah kita hanya bermain-main atau serius?"

"Urusi saja dirimu. Jangan menyeramahiku seperti ini!"

Baekhyun membuang wajahnya. "You won't understand it, Sehun-ah."

.

.

.

Luhan menatap dinding dihadapannya dengan kosong. Dia bisa merasakan badannya kembali seperti biasa. Kulit-kulit mulai menyusun dirinya serta suhu badannya mulai kembali normal.

Kaki-kakinya berjalan mendekati tumpukan pakaian di depan pintu ruangannya. Beberapa maid baru saja mengantarkan kaus untuk Luhan. Bahkan Luhan sempat mendengar para maid berlari ketakutan setelah mengantarkan pakaian itu.

Luhan memegang sebuah kaus berwarna hijau dengan corak tentara. Matanya memerhatikan kaus itu sebentar. Sampai ia sadar kaus itu terlalu kecil untuknya. Lelaki mungil itu memutuskan untuk menaruhnya kembali.

Luhan berlalu pada sebuah kemeja berwarna putih polos. Cukup besar, pikirnya. Jadilah pilihannya jatuh kemeja itu dengan celana pendek sedengkul. Setidaknya ada pakaian daripada tidak sama sekali. Dengan cepat Luhan mengenakan kemeja dan celana itu.

Kriek...

Pintu kamarnya terbuka dengan perlahan. Seseorang menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

"Luhan." Panggil orang itu.

Luhan tidak menoleh. Perhatiannya masih jatuh pakaiannya.

Orang itu malah masuk dan menubruk badan Luhan ke tembok. Mata mereka beradu pandang selama beberapa lama.

"Sehun-ah." Luhan memecahkan keheningan diantara mereka.

Orang itu—Sehun malah menatap Luhan dengan datar. Dia mendekatkan kepalanya ke kening Luhan.

"Tuan muda?" Panggil Luhan.

Sehun enggan menjawab panggilan Luhan. Ia malah mengecup bibir Luhan dengan pelan. Sehun mulai menggerakan bibirnya dengan perlahan-lahan. Luhan ikut membalas. Dia membuka mulutnya agar Sehun bisa menjelajahi mulutnya.

"Emhh.." Luhan mendesah tertahan.

"Tuan muda!"

Sontak Sehun langsung melepaskan ciumannya dengan Luhan.

"Ya?"

Maid itu membuka mulutnya. "Tuan Jongin dan Tuan Kyungsoo sudah sampai, Tuan muda."

"Apa lagi yang mereka lakukan?" Sehun menggerutu. Dia pergi meninggalkan Luhan tanpa mengunci pintu ruangan Luhan. Luhan hanya terdiam mematung disana—mencerna apa yang sudah terjadi.

Ada kalanya Sehun datang kepadanya tanpa meminta seks. Ada kalanya Sehun hanya datang dan mengecup bibir Luhan seperti tadi. Tidak ada nafsu, hanya ada keputusasaan dalam ciumannya kala itu. Seperti tadi, Luhan bisa merasakan Sehun sedang sedih dan kesepian.

"Pelampiasan, huh?"

.

.

.

"Sehun!" Lelaki yang tinggi menyapa Sehun yang tengah berjalan menghampiri mereka.

"Bagaimana kabarmu, Jongin?" Tanya Sehun sambil memeluk lelaki tinggi—Jongin.

"Baik."

"Bagaimana dengan Kyungsoo?" Tanya Sehun sambil melirik lelaki yang tengah duduk di sofa itu.

Kyungsoo memicingkan matanya dengan sinis. "Baik."

"Bagaimana dengan Honeymoon kalian di Jepang?" Tangan Sehun terangkat—menyuruh Jongin untuk duduk.

"Ya, seperti itu." Jawab Jongin sambil tertawa.

"Dan oh! Bagaimana penginapan yang sudah kurekomendasikan?"

"Biasa saja." Giliran Kyungsoo yang menjawab.

Jongin menepuk bahu istri manisnya—Kyungsoo. "Kyungsoo hanya malu mengakuinya, Sehun."

Sehun hanya tertawa. "Apa yang membawa kalian kemari?"

"Aku ingin mengantarkan beberapa berkas sebenarnya. Aku akan kembali bekerja dua hari lagi." Jelas Jongin.

"Kau bisa meminta yang lain untuk mengantarkan berkasnya, Jongin."

"Aku datang juga sekalian berterima kasih atas kemarin dan juga Kyungsoo sedang ada perlu denganmu, katanya."

"Benarkah itu? Tumben sekali, Kyungsoo."

Kyungsoo hanya mengidikkan bahunya. "Aku ingin meminjam beberapa buku tentang psikologi."

"Boleh, boleh sekali. Aku akan memanggilkan maid untuk mengantarkanmu ke sana." Tangan Sehun bergerak memanggil maid disekitar mereka.

"Tolong antarkan Kyungsoo ke perpustakaan." Perintahnya begitu maid sampai didekatnya.

"Perlu kutemani, Soo?" Tanya Kai.

"Tidak usah, selesaikan saja urusanmu dengan Sehun. Aku muak lama-lama berada disini." Jawab Kyungsoo dengan dingin.

"Dia masih sama." Balas Sehun ketika Kyungsoo meninggalkan mereka.

"Aku tau. Maafkan dia, Sehun-ah. Dia hanya kebingungan." Jongin menunduk beberapa kali.

.

.

.

Mata Kyungsoo membulat begitu dia membuka pintu perpustakaan milik Sehun. Benar-benar seperti surga, baginya. Besar, buku-buku tertata rapih, serta ruangannya tersebut sangat nyaman. Jongin tidak berbohong rupanya.

Kyungsoo berjalan masuk ke sana. "Dimana buku-buku tentang psikologi?"

Maid itu menjawab. "Disan—"

"Wah wah! Lihat siapa yang datang." Suara itu menginterupsi penjelasan Maid. Kyungsoo melemparkan padangannya. Dia menemukan Baekhyun yang tengah terduduk ditemani secangkir teh serta buku. Kyungsoo memincingkan matanya—membalas tatapan Baekhyun.

"Apa maumu?" Tanya Kyungsoo.

"Hanya ingin menyapa. Tidak boleh?" Baekhyun mengangkat kedua tangannya.

"Aku tidak ingin mendengar sepatah katapun darimu." Kyungsoo berjalan melewati Baekhyun.

"Kau kira kau siapa Kyungsoo? Aku lebih berkuasa disini ketimbang dirimu." Sahut Baekhyun.

Kyungsoo menutup mulutnya rapat. Dia hanya mengikuti maid yang berjalan didepannya. Meladeni Baekhyun mengoceh seperti itu hanya menguras waktunya saja, pikir Kyungsoo. Tangan Kyungsoo terangkat mengambil sebuah buku tebal.

"Aku baru saja mau membaca buku itu. Hanya saja aku tidak ingin sekarang. Karena bukunya sudah dipegang oleh seorang mantan pelacur." Baekhyun mengakhiri ucapannya dengan tawa.

Kyungsoo hanya mengepalkan tangannya. Dia masih mengunci mulutnya rapat-rapat.

"Yo! Aku pergi dulu!"

Setelahnya Kyungsoo mendengar pintu perpustakaan itu tertutup dengan kuat. Kyungsoo menggigit bibirnya dengan kuat.

Setetes air mata jatuh ke pipinya.

.

.

.

Luhan rasa hari ini adalah keempat kalinya dia keluar dari ruangan terkutuk itu dengan bebas setelah berbulan-bulan mendekap disana terus. Ini kedua kalinya dia harus merengek-rengek kepada penjaga pintu ruangannya. Dan mereka hanya berkata "Cepatlah! Ada tamu disekitar sini". Memang biasanya jika mereka sedang baik hati, mereka tidak akan mengadukannya kepada Sehun.

"Kau ingin pergi kemana?" Tanya maid yang menemani Luhan itu.

"Aku ingin pergi ke rumah kaca. Bolehkah?" Luhan mengedipkan matanya beberapa kali.

"Cepatlah. Aku hanya akan memberikanmu waktu satu menit disana." Jawab Maid itu.

Luhan mengangguk dan berlari menuju pintu belakang. Setau dirinya pintu belakang memiliki akses yang lebih cepat ke rumah kaca. Dia membuka pintu dengan cepat dan berlari ke rumah kaca.

Begitu dia membuka rumah kaca, matanya bertabrakan dengan seseorang disana. Wajah itu sangat familiar untuknya.

"Mau apa kau?" Lelaki itu membuka suaranya.

Luhan hanya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Aku hanya ingin mampir ke sini sebentar."

"Memang Sehun mengijinkan dirimu ke sini?" Lelaki itu menatap Luhan sinis.

"Cepat kembali ke ruanganmu!"

Luhan langsung berlari ketakutan meninggalkan lelaki itu.

.

.

.

"Biar saya bawakan, Tuan Kyungsoo." Ujar Maid itu hendak mengambil beberapa tumpuk buku dari Kyungsoo.

Kyungsoo malah menggeleng. "Tidak usah, ini tidak berat."

Mata Kyungsoo melihat ke arah jendela besar disampingnya. Dia mendekatkan kepalanya ke jendela tersebut.

"Aku tidak tahu mereka memiliki rumah kaca." Ucap Kyungsoo kepada dirinya sendiri. "Apa saja isinya?"

"Isinya hanya tanaman hiasan serta beberapa tanaman obat, Tuan." Jawab Maid itu.

Kyungsoo mengangguk. Tiba-tiba saja dia melihat seseorang dengan sayap berwarna seperti api berlari keluar dari rumah kaca itu.

"MAID!" Kyungsoo memekik.

"Siapa dia? Siapa lelaki bersayap itu? Apakah aku tidak salah melihat?" Tanya Kyungsoo.

Maid itu hanya terdiam membisu. Buku-buku yang sedari tadi Kyungsoo pegang, meluncur bebas ke tanah. Matanya masih membulat menatap lelaki itu.

"A-anda h-ha-hanya salah m-melihat, Tuan Kyungsoo." Maid itu tergagap.

Kyungsoo melihat ke arah maid itu. "Aku tidak salah melihat! Dia tadi—"

Ucapan Kyungsoo terpotong begitu dia melihat tidak ada siapapun disana. Hanya Baekhyun yang baru keluar dari rumah kaca.

"Baekhyun?" Kyungsoo bertanya—tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Iya, tuan Baekhyun memang sering kesana." Maid itu menjawab Kyungsoo.

"Tapi, aku tidak salah lihat kan?"

"Anda mungkin kelelahan, Tuan Kyungsoo. Biar saya bawakan buku-buku ini." Ucap Maid sambil menghampiri Kyungsoo.

Maid itu mengumpulkan buku-buku yang berserakan di lantai.

"Huh? Mungkin."

.

.

.

Baekhyun membawa kaki jenjangnya berjalan menuju ruang tengah. Matanya membulat begitu bertemu dengan Jongin. Dia memutuskan berdiri disamping kursi Sehun.

"Hai Nyonya Oh!" Sapa Jongin dengan lembut.

Baekhyun tertawa mendengar ucapan Jongin itu. Dia tidak bisa berbohong jika mukanya memerah dengan ucapan Jongin itu.

"Ada-ada saja kau ini." Ujar Baekhyun.

"Darimana saja kau, Baek?" Tanya Sehun.

"Aku baru saja dari perpustakaan dan rumah kaca." Jawab Baekhyun.

"Kau sudah bertemu dengan Kyungsoo?" Giliran Jongin yang bertanya.

"Sudah. Kami sempat mengobrol tadi." Mata Baekhyun menangkap Kyungsoo yang tengah berjalan menuju mereka. "Benarkan, Kyungsoo?"

Kyungsoo hanya mengangguk sekilas. Dia mendudukkan tubuhnya disamping Jongin.

"Anyway, Selamat atas pernikahan kalian! Maaf aku tidak sempat datang hari itu." Ucap Baekhyun.

"Tidak apa-apa. Sehun sudah menjelaskannya. Selamat atas pembukaan brand fashionmu. Kudengar kau berkolaborasi dengan Jessica Jung, bukan?" Jongin tersenyum. "Kyungsoo sangat mengidolakan Jessica Jung, bisa minta tanda tangannya?"

Kyungsoo menyikut perut Jongin dengan lembut. Ayolah ini bukan waktunya membicarakan hal seperti itu. Dia muak harus berbasa-basi dengan Baekhyun.

"Aku akan memintakannya." Jawab Baekhyun meng-iyakan permintaan Jongin.

"Terima kasih." Jongin kembali tersenyum.

"Aku akan pulang, Sehun. Aku akan kembali ke sini besok. Jangan merindukanku, eoh?" Baekhyun mengecup puncak kepala Sehun dengan cepat.

"Da! Kalian berdua!" Dia juga melambaikan tangannya pada Jongin dan Kyungsoo itu.

Baekhyun berjalan menuju pintu keluar. "Oh ya!" beserta dengan suara itu dia kembali menghampiri Sehun. Dia langsung membisikkan sesuatu ke telinga Sehun.

"Aku mengerti, Baekhyun-ah. Terima kasih." Jawab Sehun.

.

.

.

Sehun berjalan dengan cepat menuju ruang bawah tanah. Tangannya setia menggenggam tongkat baseball dengan kuat. Begitu sampai didepan ruangan itu, Sehun menendang pintu tersebut dengan kuat.

Matanya menajam begitu melihat Luhan dengan eskpresi terkejut disana. "Kau harus membayar semuanya, Luhan."

"Aku rasa kau harus membeli borgol yang lebih bagus lagi. Atau kau lupa memborgolnya lagi? Aku tadi bertemu anak itu di rumah kaca. Kurasa dia kabur dari ruangannya lagi." Bisik Baekhyun kepada Sehun.

"Aku mengerti, Baekhyun-ah. Terima kasih." Jawab Sehun.

Sehun masih bisa mengontrol emosinya. Setidaknya dia mungkin hanya akan menasihati Luhan.

Begitu Baekhyun melenggang dari rumahnya, Kyungsoo yang tidak pernah berbicara duluan kepada Sehun itu membuka suara duluan.

"Aku tadi melihat seseorang berjalan dari rumah kaca, Hun-ah. Dia memiliki sayap seperti api kurasa. Aku berharap aku salah lihat. Tapi, aku yakin melihat hal itu."

Sehun kesal bukan main begitu mendengar ucapan Kyungsoo. Alih-alih marah, dia tersenyum mendengar ucapan Kyungsoo itu. Dia harus berbohong lagi—mungkin.

"Jangan khawatir. Aku juga beberapa kali melihat hal itu. Aku pernah memanggil beberapa orang pintar ke sini. Mereka hanya bilang makhluk itu hanyalah penjaga rumah ini. Kau tahukan orang tuaku dulu tergila-gila pada hal gaib semacam ini?" Jelas Sehun.

"Ah begitu..."

"Jangan terlalu khawatir. Mungkin kau juga sedang kelelahan makanya seperti itu."

"Tuan muda?" Luhan membulatkan matanya.

"Cepat borgol, Luhan!" Pekik Sehun memberikan perintah kepada anak buahnya.

Anak buahnya itu langsung berlari menuju Luhan. Luhan hanya terdiam membeku. Muka Luhan berubah menjadi pucat begitu tangannya sudah terborgol rapih.

"Aku sudah pernah bilang jika ingin keluar dari sini setidaknya beritahu diriku, bukan? Lalu kenapa kau malah pergi seenaknya begitu saja?" Tanya Sehun sambil berjalan menghampiri Luhan.

"Ak-aku hanya ingin ke-kesana." Jawab Luhan dengan tergagap.

"Aku sih tidak terlalu masalah jika kau bertemu dengan Baekhyun. Tapi, apakah kau tahu?" Sehun berjongkok dihadapan Luhan. "Temanku tadi bertanya tentangmu. Kau sudah tahu bahwa kau dilindungi, mengapa bertindak ceroboh seperti itu? Bagaimana jika temanku melapor pada tentara perdamaian? Bagaimana jika tentara perdamaian menghampirimu dan langsung membunuhmu begitu saja?"

"Tuan muda..."

"Apa sebenarnya yang kau inginkan? Kau ingin semua orang mengetahui dirimu?"

"Kau ingin bebas? Kalau begitu aku akan membebaskanmu dan membiarkanmu pergi dari sini. Bukankah itu yang kau inginkan selama ini? Silahkan tinggalkan rumah ini jika kau mau! Hanya saja—" Sehun menarik dagu Luhan dengan kasar.

"—memang ada yang mau menerimamu?"

Air mata Luhan mengalir dari pelupuk matanya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Sehun. Seperti bibirnya telah terkunci rapat-rapat.

"Katakan padaku, memang ada yang mau menerimamu? Orang tuamu sudah mati, saudara-saudaramu telah menghilang! Siapa yang akan melindungimu? Kau hanya akan dicemooh oleh orang-orang yang melihatmu."

"Jawab aku, iblis bodoh!" Sehun membenturkan kepala Luhan ke tembok dibelakang Luhan. Sebuah sentakan keras cukup membuat kepala Luhan terasa pusing dan berat.

Sehun mengambil tongkat baseball miliknya. Dia mulai memukul kepala Luhan dengan kuat. Tidak peduli dengan fakta kepala Luhan mulai berdarah dan memar, Sehun terus memukulnya seperti kesetanan.

"Kenapa tidak dijawab, huh?" Sehun menghentikan kegiatannya sebentar.

"Ma-afkan ak-ku, Tuan muda. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Jawab Luhan.

"Salahnya kesabaranku sudah habis." Sehun menggeram. Dia langsung menendang perut Luhan.

Sehun mengambil tongkat baseballnya lagi. Dia mengangkatnya dan bersiap mengayunkannya kepada Luhan.

"Hentikan Oh Sehun!" Suara melengking itu mengintrupsi pekerjaan Sehun saat ini.

Sehun melirik ke belakang. Memastikan siapa yang berani menghalangi pekerjaannya sekarang. Lelaki berambut hitam itu menghela napasnya begitu melihat pemilik suara itu.

"Apa Tao?" Tanya Sehun dengan dingin.

"Jangan menyakitinya!" Pekik Tao. Dia langsung berlari menghampiri Luhan yang tergeletak di atas lantai.

"Aku sudah pernah memperingatkanmu! Jangan terlalu kasar padanya!" Suara Tao masih meninggi. Dia membawa Luhan ke pangkuannya.

"Kau hampir membunuhnya, Sehun bodoh!"

"Dia pantas mendapatkannya!"

"Atas dasar apa kau berhak berkata seperti itu?"

"Aku majikannya, Tao!"

Tao melempar tatapan dinginnya pada Sehun. "Kau tidak bisa menyakitinya seperti ini."

"Aku bisa. Karena aku yang memilikinya." Ujar Sehun. Dia berjalan meninggalkan mereka berdua.

"Asal kau tahu saja ya." Sehun berhenti sejenak. Dia menatap Tao dengan sinis sebelum melanjutkan ucapannya. "Kau menyakiti milikmu melebihi aku menyakiti dirinya."

.

.

.

"Kenapa kau tidak melawannya, huh? Kau ini kuat, bukan?" Tao mengambil obat merah dari kotak P3K milik Sehun.

Luhan hanya terdiam. Matanya masih setia memerhatikan Tao yang tengah meneteskan obat merah ke atas kain kasa.

"Kenapa diam? Kau bahkan bisa menghajarnya hingga habis-habisan." Suara Tao mengalihkan perhatian Luhan.

"Aku tidak tahu." Jawab Luhan dengan suara serak.

"Seharusnya kau melawan saja. Aku jadi sedih jika kau begini. Kau juga tidak salahkan? Aku dengar dari maid kalau penjaga juga tidak memberitahu Sehun. Itu bukan sepenuhnya salahmu, Luhan." Jelas Tao sambil menaruh kain kasa di kening Luhan.

"Tidak apa-apa, Tuan Tao. Biarkan saja Tuan Muda memarahiku seperti ini. Aku tidak ingin ada korban selain aku." Jawab Luhan.

Tao menghela napasnya dengan kuat. "Mengapa sepupu bodohku itu bisa menyakiti orang sepertimu?"

"Dia hanya bingung." Bela Luhan.

"Kau masih bisa membelanya disaat seperti ini?"

"Karena—" Luhan menghela napasnya.

"—dia mirip dengan seseorang yang pernah menjagaku."

"Eh?" Tao menghentikan pekerjaannya sejenak. "Siapa? Jika orang itu masih ada, aku akan mengantarkanmu kepadanya."

"Dia sudah mati. Aku yang membunuhnya." Jawab Luhan.

"Karena itu—"

"Kau tidak ingin menyakitinya atau membunuhnya?"

"Ya."

TBC


Halooooo~~~ kita ketemu lagi~~

Btw makasih banyak buat yang kemaren udah ngereview, ngefollow, sama ngefav cerita ini makasih banyaaak...

Jadi kemaren kalo misalnya bingung SCP Foundation itu apa? Aku bakalan jelasin nih

SCP-Foundation merupakan salah satu organisasi pemerintah yang melakukan sebuah pengujian terhadap salah satu eksperimen yang sengaja diciptakan maupun yang ditemukan oleh pihak SCP itu sendiri. Dalam perkembangannya organisasi ini diwajibkan untuk mengurus semua benda atau mahkluk hidup yang mereka ciptakan atau ditemukan demi mencegah kepanikan global. Hal-hal yang diciptakan diantaranya adalah mahkluk-mahkluk buatan yang telah dimanipulasi gen penyusunnya atau membuat sendiri gen untuk penyusun mahkluk hidup, membuat senjata baik senjata mati ataupun hidup namun dalam skala yang merusak kecil-besar, dan penelitian pada perkembangan E.T dan I.T seputar objek yang belum pernah ada dibumi. (thanks to kaskus btw XD)

Kenapa Luhan punya sayap? SCP-001 itu apaan sih?

Nah SCP-001 itu anggaplah sesuatu yang ditemuin sama SCP. SCP-001 itu kebetulan punya sayap gitu. Kalo mau lebih lengkap bisa baca disini - .

Tapi aku gak sepenuhnya nelen bulet-bulet tuh fakta. Udah aku ganti-gantilah untuk keperluan cerita XD, walopun aku terinspirasi dari tuh SCP untuk cerita ini... luhan dalam cerita ini bukan eksperimenlah kira-kira...

Terus ini real apa enggak scp foundation sama scpnya? Ya terserah sih mau percaya ato enggak. Kalo buat aku sih just for fun ajaaa XD

Romancenya bakalan ada gak? Tentu bakalan ada koook~

Kenapa Sehun jahat sama Luhan? Ibunya Luhan kemana? Ortunya udah meninggal ya? Yang nyulik Luhan siapa?

Kalo pertanyaan kaya itu aku belom bisa jawab hehehe nanti bakalan kejawab satu per satu kok pertanyaannya di cerita~

Btw makasih banyaaak, maaf kalo chapter kali ini kurang memuaskan dan pendek

Last but not least

Review plisss *bbuing bbuing bareng Hunhan*

!Balesan Review!

Guest 1: makasih yaaa udah mau ninggalin jejaknyaaa~ karena biar greget(?)

Guest 2: makasih yaaa udah ngereview ceritanyaaa~ pertanyaannya kalo aku jawab bakalan jadi gak seru ceritanyaaa:(

Mischa baby: makasih yaaa udah nyempetin buat ninggalin jejaknyaaa, udah diupdatekan ceritanyaaa?

RusAngin: makasih yaaaa udah mau ngereview aku juga kasian kok sama luhannya T.T