DISCLAIMER : FUJIMAKI TADATOSHI SENSEI
WARNING : OC, OOC, TYPOS, CERITA GAJE, DSB, DST
HAPPY READING~
.
.
.
Yuki bergelung nyaman di balik selimutnya. Terbuai dalam alam mimpi yang indah dan menyenangkan. Di mana ia dan sahabat kecilnya, sedang berlari di padang bunga, bermain kejar-kejaran di sertai tawa bahagia.
Akan tetapi, semua mimpi indah itu lenyap seketika saat...
"Aomine-chii! Kembalikan sepatuku! Itu sepatu kesayanganku ssu!"
Sebuah teriakan dari salah satu kakaknya menyadarkan dirinya dari alam mimpi.
'Berisik!' Umpat Yuki dalam hati.
Yuki menyibakkan selimut yang menutupinya kasar dan duduk di atas kasur empuknya.
'OH GOD! Aku baru tidur selama tiga jam! Dan malah di bangunkan dengan teriakan si berisik itu? Malang sekali nasibku.' Ujar Yuki dalam hati dan menghela nafas kesal.
Ia beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi di sisi lain kamarnya, dan bersiap menghadapi hari pertamanya di rumah baru.
"Aomine-chii! Hidoi ssu, kembalikan! Aku mau pakai sepatu itu!" Teriak Kise.
Saat ini Aomine sedang berlari menghindari Kise yang sejak tadi mengejarnya untuk mengambil kembali sepatunya.
"Ambil saja kalau kau bisa, dasar cengeng!" Ejek Aomine.
"Aomine-chii, kau jahat!" Teriak Kise masih mengejar Aomine mengelilingi rumah besar itu.
Aomine berlari menaiki tangga menuju lantai dua diikuti Kise yang mengejar di belakangnya. Aomine tertawa senang karena pagi ini lagi-lagi ia bisa mengerjai saudaranya yang paling cengeng itu, hal ini sudah menjadi rutinitas sehari-harinya. Hitung-hitung ia tidak perlu pergi ke gym hanya untuk berolahraga.
Aomine berlari melewati koridor lantai dua diiringi dengan teriakan berisik Kise di belakangnya. Ia berlari melewati kamar milik saudaranya yang lain. Dimulai dari kamar Kuroko yang berada dekat tangga, lalu kamarnya sendiri di sebelahnya, Murasakibara dengan pintu warna ungu dan terakhir kamar...
DHUAK!
...Yuki, yang baru saja membuka pintu kamarnya dan membuat Aomine mendapat morning kiss dari serat kayu itu.
"Eh? Daiki-nii?"
"Aomine-chii!" Teriak Kise horor.
BRUKH
Dan Aomine ambruk dengan darah mengalir di hidungnya.
(/^0^)/\(^0^)/\(^0^\)
Rambut yang terkepang, check. Poni menutupi mata, check. Kacamata bulat besar, check. Baju dengan rok melewati lutut, check.
'OK! Aku sudah siap.' pikir Yuki.
Hari ini ia akan memulai kehidupan barunya di sekolah swasta Teiko, tempat keenam kakaknya bersekolah.
Teiko merupakan sekolah swasta elit yang hanya menerima murid-murid berprestasi dan kaya tentunya. Untuk mereka yang hanya kaya tapi berotak kosong jangan harap bisa masuk ke sekolah ini.
BRAK!
"Yukichii! Ayo berangkat denganku-ssu!" teriak Kise.
DHUAK
Dan sebuah buku mendarat tepat di wajahnya.
"Ketuk pintu dulu sebelum kau masuk Ryou-nii." kata Yuki dengan aura hitam menguar di sekelilingnya.
"Hidoi-ssu~Yuki, kau jahat sekali. Kalau sampai berbekas di wajahku bagaimana-ssu, hiks." kata Kise sambil terisak.
"Memang apa peduliku?" jawab Yuki ketus, sepertinya dia masih kesal karena tidurnya terganggu.
Mereka menuruni tangga dengan diiringi celotehan Kise di belakang Yuki. Sesampainya di lantai satu, di sana sudah menunggu kelima kakaknya yang lain.
"Sedang apa kalian?" tanya Yuki yang melihat kelima kakaknya belum berangkat kesekolah
"Oh, Yukichin, ayo berangkat sama-sama." Kata Murasakibara dan menghampiri Yuki.
"Oi Atsushi, jangan main serobot. Yuki, kau berangkat denganku." Kata Aomine.
"Kalian berdua, kekanakan sekali-nodayo." Kata Midorima, dan berdiri di samping Yuki. " daripada pergi dengan mereka lebih baik denganku. Bukannya aku mengkhawatirkanmu atau apa, tapi mereka itu berbahaya-nodayo." Bisik Midorima.
"Oi, apa yang barusan kau katakan Kuso megane!" teriak Aomine dan menunjuk Midorima kesal.
"Aku tidak mengatakan apa-apa nodayo." Jawab Midorima sambil membenarkan letak kacamatanya yang tidak bergeser sesenti pun.
"Berisik." Desis Akashi dan semua yang ada di ruangan itu mematung.
Akashi menatap tajam ke arah Yuki. "Apa-apaan penampilanmu itu?" tanya Akashi.
Yuki menaikkan sebelah alisnya, "Ada yang salah?" tanya Yuki balik, "aku berpenampilan sesuai dengan yang ada di buku pegangan siswi. Rok panjang di bawah lutut, rambut diikat rapih, dan aku juga tidak memakai aksesori berlebihan." Kata Yuki dan menunjukkan buku pegangan siswi miliknya.
Semua yang ada di ruangan itu hening seketika dengan aura gelap memenuhi kepala pelangi itu.
"Tapi bukan berarti kau harus berpenampilan seperti kutubuku begini, kau bisa-bisa di bully-ssu." Kata Kise.
"Itu benar, dan lagi peraturan itu ada untuk di langgar. Kau harusnya tidak perlu mengikuti buku peraturan konyol itu." Kata Aomine-yang di amini Atsushi-dan mengambil buku pegangan Yuki dan membuangnya ke tempat sampah.
"Oi, dakian! Jangan seenaknya membuang barangku!" teriak Yuki. "Dan lagi, aku nyaman dengan penampilan seperti ini. Kalian tidak perlu ikut campur." Lanjutnya.
"Mana bisa begitu, mau bagaimanapun kami ini nii-san mu-nodayo. Bukannya aku peduli atau apa, tapi tugas seorang nii-san adalah melindungi adiknya." Kata Midorima.
"Terserah kalian mau bilang apa, yang pasti aku nyaman dengan penampilanku yang sekarang."kata Yuki.
"Dan lagi, berhenti peduli padaku. Aku bukan adik kandung kalian, lebih baik jangan terlalu dekat denganku jika tidak ingin terluka." Kata Yuki dingin dan meninggalkan ke lima kakaknya.
Hening selama beberapa saat, kelima remaja itu masih menatap ke arah pintu yang tadi di lewati oleh Yuki.
"Apa-apaan itu." Gumam Aomine, wajahnya terlihat sangat kesal.
"Dia tidak menganggap kita sama sekali-nodayo." Kata Midorima.
"Entah kenapa saat Yuki-chin mengatakan dia bukan adik kita aku jadi ingin menghancurkannya." Kata Murasakibara dengan wajah kesal.
"Mu..mungkin ia hanya kesal karena Aominechii membuang bukunya. Kalian jangan begitu-ssu." Kata Kise.
"Sejak pertama bertemu dengannya aku tidak menyukai anak itu." Kata Akashi yang masih menatap tajam ke arah pintu.
"Le..lebih baik sekarang kita berangkat-ssu. Kalau tidak berangkat sekarang kita akan telat sampai di sekolah." Kata Kise mencoba mencairkan suasana.
"Baiklah, kita berangkat sekarang." Kata Akashi.
( =v=)
Yuki sedang berjalan santai saat mobil yang mengangkut kelima kakaknya melewati dirinya.
'Apa aku sudah keterlaluan tadi?' pikir Yuki.
'Tidak, begini lebih baik. Mereka bukan keluargaku, dan lagi aku masih meragukan wanita bernama Alex itu. Apa dia benar ibuku? Dia terlalu muda untuk menjadi ibuku, dan lagi tidak ada satupun hal yang bisa membuktikan bahwa kami ibu-anak kecuali dengan tes DNA. Tapi walupun menggunakan tes DNA, aku ragu kalau itu adalah hasil yang sebenarnya. Bisa saja wanita itu menukar hasil tes. Dengan kekayaan yang dimiliki wanita itu dia bisa melakukan apapun.' Pikran-pikiran negatif tentang keluarga barunya terus menghantui benak Yuki.
'Aaargh, hal ini benar-benar membuatku pusing. Sepertinya aku harus menyelidiki siapa dan apa mau wanita itu.' pikir Yuki.
Sampai di stasiun kereta, ia menunggu di peron. Di sana ia dapat melihat banyak siswa-siswi dengan seragam sekolah yang berbeda dengannya. Sepertinya hanya dia yang mengenakan seragam Teiko.
"Mau sampai kapan kau mengikutiku, Tetsu-nii." Kata Yuki.
Kuroko sedikit kaget saat Yuki memanggil namanya. Yuki melirik ke arah Kuroko yang bediri sedikit di belakangnya.
"Kenapa kaget begitu?" tanya Yuki.
Kuroko menatap Yuki dengan wajah datarnya. "Tidak, tidak ada." Jawab Kuroko.
"Aku hanya khawatir denganmu, kau tidak terlalu mengenal daerah sini kan?" lanjut Kuroko.
"Aku bukan anak kecil Tetsu-nii." Protes Yuki dengan nada datar.
Tidak berapa lama, kereta yang mereka tunggu akhirnya datang. Mereka memasuki kereta yang penuh sesak dan berdiri di tengah lautan orang di dalam kereta itu.
"Tetsu-nii, kau tidak apa-apa?" tanya Yuki yang melihat kakaknya terhimpit di antara orang-orang yang berdesakan.
"Hai', aku tidak apa-apa. Ukh." Jawab Kuroko. Ia berusaha untuk keluar dari himpitan orang-orang di sekelilingnya.
Yuki menghela nafasnya, karena tidak tega melihat kakaknya tersiksa, akhirnya ia menggapai tangan Kuroko dan menarik Kuroko ke arahnya. Ia menarik Kuroko untuk mengikutinya ke pintu penghubung kereta. Yuki membuka pintu itu dan masuk ke sana. Di jalan penghubung gerbong itu ia melepaskan tangan Kuroko dan bersandar di sisi kereta.
"Tetsu-nii, kau tidak pernah naik kereta sebelumnya?" tanya Yuki.
Kuroko memalingkan wajahnya. Yuki kembali menghela nafas, "Harusnya Tetsu-nii tidak perlu memaksakan diri mengikutiku tadi. Bukankah lebih enak pergi ke sekolah menggunakan mobil bersama aniki yang lain?" ujarnya.
Kuroko tetap diam dan enggan menatap Yuki. Yuki yang didiamkan seperti itu memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan.
(-_-)
Sampai di sekolah, Yuki berpisah jalan dengan Kuroko, ia langsung berjalan menuju ke ruang guru untuk menemui guru yang akan menjadi wali kelasnya. Sampai di depan ruangan yang di tuju, ia mengetuk pintu sopan dan membuka pintu. Saat dia melihat siapa yang ada di sana saat itu, ia membeku. Orang yang menjadi objek tatapannya saat ini juga menampakkan ekspresi terkejut yang luar biasa.
"Fudotoki-san? Kau...Fudotoki-san bukan?" kata orang itu dan bangkit dari duduknya.
"Sensei...bagaimana..." Yuki terbata.
"Syukurlah, kupikir aku tidak bisa bertemu denganmu lagi sejak kejadian dua tahun lalu. Bagaimana keadaanmu?" kata orang itu dan sekarang ia sudah berdiri tepat di hadapan Yuki.
Yuki masih mematung di tempatnya dan tidak menjawab pertanyaan orang di depannya. Suasana tiba-tiba menjadi hening sampai seorang guru datang
"Imayoshi sensei, disini kau rupanya."
"Kiyoshi sensei, ada apa?" tanya orang itu-Imayoshi Shoichi-
"Kata kepala sekolah kelasmu akan kedatangan murid baru, namanya Yuki Garcia." Kata Kiyoshi sensei.
"Yuki Garcia?" gumam Imayoshi. Ia mengalihkan pandangannya pada Yuki.
"Yuki Garcia desu, yoroshiku onegaishimasu." Kata Yuki akhirnya dan membungkukkan badan.
(=w=)
"Aku tidak menyangka, kau mengubah margamu. Aku tidak pernah tahu kalau kau memiliki darah Amerika, jujur saja aku terkejut." Kata Imayoshi saat mereka berjalan melewati koridor menuju kelas mereka.
"Aku pun terkejut, bagaimana caranya kau bisa berada di sekolah ini, sensei." kata Yuki.
"Hmm? Bagaimana ya? Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku ditawari bekerja disini oleh Kiyoshi. Aku awalnya terkejut saat dia menawariku. Tapi, setelah kupikir-pikir lagi, tidak buruk juga menjadi seorang guru." Kata Imayoshi.
"Lalu, sensei. Ada yang ingin kutanyakan padamu." Kata Yuki.
"Apa?"
"Apa kau memiliki lisensi mengajar resmi?"
JLEB
Imayoshi terdiam. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"E..eto...it..itu tidak terlalu penting." Jawab Imayoshi terbata dengan senyum aneh-kikuk-.
"Tapi, setahuku untuk bekerja di sini itu..."
"A..AH! Kita sudah sampai di kelas. Ayo masuk." Potong Imayoshi dan langsung membuka pintu kelas.
'Mencurigakan.' Pikir Yuki dan akhirnya memasuki kelas barunya.
(/^v^)/
Bel pertanda istirahat siang terdengar, para murid di setiap kelas mulai berhamburan keluar. Begitupun Yuki, ia berjalan santai keluar dari kelasnya akan menuju ke kantin untuk membeli beberapa roti untuk makan siang. Akan tetapi, tepat saat ia menapakkan kaki kanannya di luar kelas. Kise datang dengan semangat empat lima(?) menuju arah Yuki.
"Yukichii! Ayo makan bersamaku-ssu!" teriak Kise hendak memberikan pelukan mautnya.
Akan tetapi, sebelum Kise sempat memeluk Yuki, Imayoshi berdiri di hadapan Yuki dan memberikan aura menusuk kepada Kise. Kise langsung membeku di tempat.
"Kise-san, tolong jangan buat keributan walaupun ini waktu istirahat." Kata Imayoshi.
"Dan lagi, darimana kau mengenal Garcia-san..."
"Panggil saja saya Yuki, sensei." Potong Yuki.
"Baiklah, Yuki-san." Kata Imayoshi dengan senyum dan suara lembut. Kemudian ia kembali kepada Kise.
"Darimana kau mengenal Yuki-san, Kise Ryouta?" tanya Imayoshi dengan aura yang membuat Kise merinding disko.
"Te..tentu saja aku mengenalnya-ssu! Dia itu imoutoku, Imayoshi sensei!" Jawab Kise dengan bangga.
Imayoshi terdiam. Ia mengalihkan pandangannya pada Yuki dan mendapat tatapan datar Yuki seperti biasa.
"Ne, Yuki-chii. Ayo makan siang denganku sekarang-ssu." Kata Kise menarik lengan Yuki dan pergi ke kantin. Meninggalkan Imayoshi di depan kelas seorang diri.
(TvT)
"Nee, Yukichii..aaa..." kata Kise sambil memegang sendoknya, bermaksud menyuapi Yuki.
"Aku bisa makan sendiri Ryou-nii." kata Yuki dan memakan omelet miliknya sendiri.
"Hidoi-ssu. Ayolah, aku kan hanya ingin menyuapi adikku-ssu." protes Kise dengan air mata buayanya.
Yuki hanya memandang datar Kise dan kembali memakan omeletnya, tidak memperdulikan ocehan Kise.
'Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak' pikir Yuki.
Sementara itu, disisi lain kantin berdiri segerombolan anak perempuan-fans Kise-. Mereka menatap tajam ke arah Yuki dan Kise dengan aura gelap di sekelilingnya.
"Apa-apaan anak baru itu."
"Berani sekali dia mendekati pangeran kita, dia pikir dia siapa."
"Dasar culun, berani sekali dia mendekati Kise-san."
"Tidaaakkk, Kise-san mengapa kau bersikap lembut kepada gadis itu!"
Dan gumamam jengkel lain terdengar dari arah gerombolan itu.
"Sepertinya kita harus memberikan pelajaran ke anak baru itu." gumam salah satu dari mereka.
(0_0)
Yuki berjalan menyusuri sekolah yang tidak bisa di bilang kecil itu. Sekolah sudah di bubarkan sejak seperempat jam yang lalu, membuat suasana sekolah yang tadinya ramai menjadi sepi di karenakan para murid telah pulang ke rumah masing-masing.
Yuki berjalan menuju gym tempat keenam kakaknya berlatih basket. Saat makan siang tadi Kise memberitahukan padanya kalau mereka berenam merupakan tim basket andalan Teiko dan Kise ingin Yuki melihat latihan mereka. Mau tidak mau Yuki menganggukkan kepala karena Kise terus mengikutinya seharian ini memintanya untuk datang ke gym melihat latihan mereka.
Karena hari ini merupakan hari pertamanya di sekolah, Yuki tidak tahu dimana gym berada. Salahkan Kise yang tadi langsung pergi setelah Yuki menyetujui untuk melihat latihan mereka tanpa memberitahu dimana letak gym.
Menghela nafas lelah-yang entah sudah berapa kali ia lakukan sejak pagi tadi- Yuki akhirnya menyerah dan memutuskan untuk langsung pulang. Ia tidak mau menghabiskan sorenya di sekolah yang luas ini hanya untuk mencari gym yang terletak entah dimana.
Ia hanya perlu mengatakan maaf kepada kakaknya itu nanti saat ditanya kenapa tidak berada di gym sepulang sekolah seperti janjinya. Ia hanya harus menjawab dia tidak tahu dimana letak gym dan dia memutuskan untuk pulang karena ia harus mengerjakan pekerjaan rumah yang cukup-sangat- banyak karena ia pindah pada saat pertengahan semester dan ia harus mengejar ketertinggalannya itu dengan mengerjakan pekerjaan rumah yang di berikan.
Oke, sepertinya itu alasan yang cukup bagus untuk membungkam mulut besar kakak berambut pirangnya itu.
Yuki membalikkan tubuhnya dan langkahnya terhenti saat ia melihat tiga orang siswi berdiri di hadapannya dan menatap sinis kepadanya.
'Sepertinya aku dalam masalah sekarang.' Pikir Yuki.
Ketiga siswi itu berjalan mendekatinya. Salah satu dari mereka yang berdiri di sebelah kiri memiliki rambut pendek sebahu berwarna hitam. Ia berjalan mendekati Yuki dengan geram dan langsung menjambak rambut panjang Yuki. Membuat Yuki sedikit meringis.
"Dasar culun, apa sih yang Kise-san lihat darimu?" Ujarnya dengan nada geram.
"Huh, kau jangan sombong hanya karena Kise-san baik padamu. Dia itu baik kepada semua orang, jadi kau jangan seenaknya memonopoli Kise-san." Kata siswi yang berdiri di sebelah kanan yang memiliki rambut model ponytail.
'Oh, fansclub rupanya.'
"A..aku tidak mengerti maksud kalian. To..tolong lepaskan...AKH!" teriak Yuki saat siswi tadi semakin mengeratkan cengkeraman di rambutnya.
"Jangan pura-pura bodoh! Seharian ini kami melihatmu menempel terus dengan Kise-san. Hal itu benar-benar menjengkelkan." Kata siswi yang di tengah yang berambut lurus panjang sepinggang yang sepertinya pemimpin mereka.
'Si berisik itu yang terus menempel padaku! Bukan aku yang menempel padanya brengsek!' umpat Yuki dalam hati.
"Su..sungguh..aku..aku tidak mendekati Kise-san. Tapi Kise-san yang..."
"Aaargh, kami tidak butuh penjelasanmu! Kau harus mendapat ganjaran karena berani mendekati Kise-san! Ikut kami!" Kata si pemimpin dan mereka menyeret Yuki mengikuti mereka.
(-_-*)
Mereka berhenti di gudang yang terletak di belakang sekolah, tempat alat-alat olahraga yang telah tidak layak di pakai di simpan. Para siswi itu melempar Yuki ke dalamnya dan mengunci pintu itu dari luar.
Yuki memukul-mukul pintu itu meminta di bukakan. Akan tetapi ketiga siswi itu hanya tertawa dan berkata..
"Renungkan semua kesalahanmu di sana, dan jangan coba-coba mendekati Kise-san lagi. Dasar culun."
Dan mereka meninggalkan Yuki yang masih terkunci di dalam gudang itu.
.
.
TBC
A/N:
Alohay~ jumpa lagi dengan author gaje XD
Untuk yang sudah mem-fave dan review fict ini ryu ucapin Arigatou Gozaimasu (^0^)/
