Standard Disclaimer Apllied

.

.

.

.

Cobaan datang silih berganti...

Karena itu, aku tidak akan lari...

.

.

.

.

YOU AND I

NORMAL POV

"Jadi ini formulir yang harus diisi. Pilih ekstrakulikuler apa yang kalian minati lalu setelah bel istirahat berbunyi segera kumpulkan kepada salah seorang perwakilan kelas." Ucap salah seorang pengurus osis yang dijawab dengan anggukan seluruh siswa. Setelah itu, merekapun pergi meninggalkan kelas yang sekarang mulai ribut.

"Jadi teme apa yang kau pilih?" Tanya seorang pria berkepala durian disampingnya.

"Hn." Jawabnya malas. Tatapannya masih tertuju pada kertas formulir yang dipegangnya, lalu ia meraih sebuah pulpen hitam yang berada tidak jauh darinya. Tanpa menghiraukan ocehan pria disampingnya, ia menulis dengan santai. Tak lama berselang, ia bangkit dari tempat duduknya dan mengambil sesuatu dari tasnya, lalu beranjak pergi meninggalkan kelas.

Atap sekolah. Itulah tujuannya saat ini. Ia hanya ingin merilekskan tubuhnya dan mengamati pemandangan seantero sekolah dari ketinggian.

SAKURA POV

Tubuhku masih menegang, keringat dingin tak henti-hentinya mengucur dari tengkukku, suara ketukkan tercipta dari kedua jemariku yang sedari tadi mengetuk-ngetuk tak sabaran di atas meja. Hanya satu hal yang aku inginkan sekarang: tiga deringan berturut-turut bel sekolah baruku ini dan setelah itu aku akan melesat pergi menuju stasiun untuk mencari buku catatanku yang hilang.

Aku mendesah pelan, lalu bangkit dari tempat dudukku dengan tampang lesu. Sayup-sayup kudengar Ino memanggilku, kuhiraukan saja. Aku sedang malas, hilang semua moodku hari ini. Kucoba menenangkan pikiranku. Jadi kuputuskan untuk pergi menuju atap sekolah.

Aku berjalan dengan langkah gontai, sesekali aku menghela napas berat. Sampai pada akhirnya, aku melihat sebuah tangga yang mengarahkanku ke atap sekolah. Kupercepat langkah kakiku, kutapaki setiap anak tangga yang ada sampai pada akhirnya aku mencapai tempat angin menerpa lembut wajahku, kusisipkan anak rambut yang menghalangi penglihatanku. Beberapa detik kemudian aku baru menyadari ternyata ada orang lain disini. Sayup-sayup aku mendengar dia bersenandung lagu kanak-kanak yang sangat ku kenal. Aku terkikik geli saat menyadari bahwa ternyata masih ada yang mau menyanyikan lagu itu—lagu yang sering ibu kandungku nyanyikan sebelum tidur—kulangkahkan kakiku mendekati suara itu.

Dan aku mendapati seorang pria berambut raven tengah memandang pemandangan yang terhampar dihadapannya seraya bersenandung kecil. Kulihat tangan kanannya menggenggam sebuah catatan yang tak asing lagi bagiku, tunggu- ITU CATATANKU! Aku berjalan mendekatinya, lalu mengambil paksa catatan itu. Sontak pria yang tidak kuketahui namanya tersebut membalikkan badannya kearahku. Pandangannya tajam menusuk seperti elang, maatanya hitam sekelam malam, tubuhnya tegap atletis, tingginya hanya beberapa sentimeter lebih tinggi dariku, dan satu lagi wajahnya sangat errr- tampan.

"Hn?" Ucapnya dengan ambigu. Wajahnya terlihat lucu saat ini. Akupun mengambil ballpoint yang kusimpan didalam saku celanku lalu mulai menulis diatas catatanku.

"Hn? Apa? Siapa kau? Pria-tanpa-nama, kau menemukan catatanku dimana?" Tulisku. Raut wajahnya berubah, sepertinya ia bingung. Lalu ia mengambil sebuah handphone dari dalam saku celananya dan mulai mengetik sesuatu. Tak lama kemudian ia menunjukkan layar handphonenya kepadaku.

"Dasar merah muda menyebalkan. Tadi pagi kau menjatuhkannya di stasiun. Dasar bodoh! Kau membuatku repot saja." Aku mengerutkan keningku. Kenapa dia jadi menyalahkan aku? Dasar pria bodoh. Aku mulai menulis lagi, pokoknya aku tidak terima dikatai bodoh oleh pria-tanpa-nama itu! Kau pikir kau siapa hn? Dasar sok cool!

"Bodoh? Repot? Kalau kau tau mengambil catatanku itu merepotkanmu, lalu kenapa kau memilih untuk mengambilnya? Seharusnya kau membiarkannya saja. Kupikir kau lebih pintar dariku. Dasar pria-tanpa-nama!" Wajahku merengut kesal, sedamgkan pria-tanpa-nama itu hanya mengangkat bahunya tak peduli, serta bergumam 'hn' yang entah apa itu artinya lalu melenggang pergi.

"Dasar bodoh!" Ucapnya cukup keras.

"Kau yang bodoh pria-tanpa-nama!" bisikku pelan. Kuhentakkan kakiku kesal lalu berlari menuju kelas.

05.00 PM

Hari yang melelahkan. Kehilangan buku catatanku dan bertemu dengan pria aneh sok cool tak bernama. Kedua hal itu cukup membuatku lelah, ingin sekali rasanya aku berendam dalam air hangat dan meregangkan semua ototku. Aku menghela napas berat seraya memandang langit sore yang membentang luas dihadapanku. Aku merindukan ibu, sangat merindukannya. Sempat terlintas dalam benakku untuk menyusul ibu, tapi aku menepisnya. Tuhan sayang ibuku, sama seperti aku menyayanginya. Tuhan tidak mau melihat ibuku kesakitan karena itu Dia mengambilnya dariku. Mati itu adalah kewajiban. Setiap yang bernyawa pasti akan mati iya kan ?

"Tadaima" ucapku pelan. Tak terasa ternyata sedari tadi aku hanyut dalam semua imajinasiku. Kulangkahnkan kakiku pelan menuju kamarku yang berada di lantai dua. Kulemparkan tasku asal lalu kurebahkan tubuhku, kututup mataku perlahan dan akupun terlelap masuk kedalam dunia mimpi.

.

.

.

.

"Sakura..."

"Sakura...Bangun nak"

"Ngghh..Ada apa bu?" jawabku setengah tertidur

"Ayo kita pergi ke pasar." Ibu mengguncang lenganku lembut.

"Aku mengantuk bu sebentar lagi ya..." jawabku menarik selimut hingga menutupi seluruh badanku. Kudengar derap langkah ibuku menjauh disertai dengan suara pintu tertututp. Kubuka selimut yang membungkusku, kuhirup oksigen perlahan. Entah sihir apa yang menyihirku, tubuhku bangkit dan kakiku berjalan menapaki dinginnya lantai kamarku. Terdengar suara berderit lembut saat aku membuka pintu, kini mataku terfokus pada sesosok wanita yang perlahan menjauh. Semakin lama langkahku semakin lebar, tak kuhiraukan dinginnya lantai yang kutapaki.

"Ibu..."ucapku pelan. Kupercepat langkahku.

"Ibu.." teriakku, tapi ia tak menghiraukanku. Sekarang aku berlari mengejarnya, mencoba mempersempit jarak yang terbentang diantara kami.

"Ibu..Ibu..." teriakku lebih kencang. Angin menerpa wajahku, otot kakiku berontak. Ia berhenti, senyum indah terpatri di paras cantiknya. Semakin lama semakin dekat...Aku berhenti di hadapannya, kuatur napasku. Ia berhenti dalam keheningan mentari surya yang enggan lepas mengiringi langkah sucinya.

"Ibu..." Ucapku pelan hendak menyentuh pipi ranumnya, halus wajahnya serasa membuatku melayang dalam ketenangan yang kurasa hilang.

"Temukan kebahagiaanmu ,nak." Ucapnya pelan. Saat kusentuh pipinya seluruh tubuhnya berubah menjadi jutaan kelopak sakura yang indah.

Mataku terbuka. Kurasakan air mataku meleleh. Aku terisak semakin lama semakin keras. Dadaku sesak, aku merindukan ibu. Benar-benar merindukannya.

Kebahagiaanku adalah ibu.

Kenapa ibu meninggalkanku sendirian?

Kenapa harus ibuku yang menderita penyakit itu?

Kenapa harus ibuku?

Kenapa harus keluargaku yang merasakan ini semua?

Aku juga ingin hidup normal seperti yang lainnya.

Dadaku sangat sesak, aku ingin berteriak akan tetapi mulutku seakan tersumpal. Aku butuh seseorang untuk berbagi, akan tetapi mereka bersembunyi entah dimana. Aku tidak mampu menanggung ini sendirian. Kucoba menutup wajahku dengan bantal, mencoba meredam suara tangisku yang semakin lama-semakin kencang.

Keesokan harinya aku terbangun dengan kantung mata yang menggelayut layaknya panda. Rasa sesak itu masih menggumpal di dadaku, akan tetapi kuabaikan saja. Akupun segera melangkah ke kamar mandi yang berada di kamarku untuk membersihkan diri. Setelahnya, akupun mempersiapkan semua keperluanku untuk belajar. Lalu setelah memastikan semua lengkap, akupun segera bergegas untuk berangkat.

Cahaya keemasan mulai terlihat di ufuk timur, udara pagi ini cukup segar. Kuhirup oksigen sebanyak mungkin dan kuhembuskan perlahan. Banyak orang berlalu lalang dihadapanku. Kupercepat langkahku untuk menuju stasiun kereta. Dan entah ulah takdir atau memang ini adalah kesialanku hari ini aku bertemu dengannya lagi. Pria-tanpa-nama. Dia hanya menatapku sekilas lalu segera masuk kedalam kereta. Akupun ikut masuk ke dalam kereta, lalu mencari tempat duduk kosong disekitarku. Dan sepertinya ini kesialanku, semua kursi penuh terduduki dan hanya menyisakan satu tempat kosong di sebelah pria-tanpa-nama yang kini tengah sibuk dengan mp3 playernya. Mau tak mau aku mendudukkan tubuhku disebelahnya.

Sepanjang perjalanan atmosfir kesunyian melingkupi kami berdua. Hanya suara mesin kereta api serta beberapa gumaman para pekerja kantor yang tengah mengobrol tak jarang aku mendengarkan suara lembaran kertas dibuka. Tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan headset padaku, kulirik pria-tanpa-nama itu. Dia hanya menatapku bosan. Kuambil headset itu lalu kuselipkan di lubang telingaku, kulihat dari sudut mataku iapun melakukan hal yang sama. Semua mata memandang kami berdua, bahkan ada yang berkata "romantisnya..." atau "pasangan yang serasi.". Sampai pada akhirnya lagu itu menggema di gendang telingaku, aku memandangnya penuh tanya.

"apa?" ketiknya.

Akupun mengeluarkan catatanku.

"kau suka lagu ini?" aku balik bertanya.

"ini lagu favoritku semasa kecil."

"tak disangka orang sepertimu menyukai lagu seperti ini." Kulemparkan pandangan mengejek padanya. Dia hanya mendengus.

"seperti kau tidak suka saja." Ia menyeringai sambil menunjukkan layar ponselnya padaku.

"kau pikir aku suka lagu seperti ini,huh?Sangat kekanak-kanakan"dustaku lancar.

"Dasar munafik..seperti kau tidak kekanak-kanakan saja." Jawabnya tak mau kalah. Aku mendengus, dia mulai mengetik kembali. Akan tetapi, kegiatan itu terhenti saat kami menyadari bahwa kami telah sampai di tujuan. Dia bangkit dari tempat duduknya, begitupun aku. Kami berjalan beriringan sepanjang jalan,atmosfir kebisuan melingkupi kami.

Kulangkahkan kakiku menuju atap sekolah sembari menenteng bekal yang telah disiapkan ibu tadi pagi. Sesampainya di depan pintu atap sekolah, kupegang kenop pintu yang sudah sedikit berkarat, kudorong pelan pintu tersebut menimbulkan suara berdecit yang khas. Seseorang berambut raven menoleh kepadaku.

"Apa yang kau lakukan disini pria-tanpa-nama?" tulisku, sembari mendekatinya.

"Menghirup udara segar '' jawabnya pelan. Aku hanya mendengus, lalu duduk disampingnya dan mulai memakan bekalku.

''kau mau ?'' tawarku secara non verbal. Ia melirik sekilas lalu mengambil sumpit dan memakan bekalku.

Hanya desah angin yang menyelimuti aku dan pria-tanpa-nama disebelahku saat ini. Aku tak berminat untuk membuka sebuah percakapan kecil dengannya. Kulirik sekilas lewat sudut mataku wajah errr- tampannya, yang entah mengapa akhir-akhir ini selalu membuat sesuatu di hati kecilku bersorak kegirangan. Kuhirup udara perlahan, lalu mulai bersenandung kecil.

"Kau tak bosan dengan lagu itu ? " onyxnya menatapku.

"Tentu saja tidak " aku mendengus pelan.

"Kau tau, terkadang aku bosan dengan lagu itu. Walaupun itu lagu favoritku." Ucapnya pelan, aku menatapnya. Raut wajahnya berubah menjadi sendu untuk sepersekian detik dan untuk detik berikutnya wajahnya telah berubah kembali menjadi datar. Cih, mirip bunglon saja dia.

"Untukku, tak ada kata bosan untuk sesuatu yang kusukai." Bunglon itu hanya terkekeh pelan dan aku mendengus sebal.

"Sebagaimanapun aku menyukai lagu itu dimasa lalu, aku tidak akan pernah bisa kembali ke masa itu. Masa lalu hanya ada untuk dikenang, jika kau terus memikirkan masa lalu tak akan pernah ada masa depan." Ujarnya tenang, sungguh aku ingin sekali menendangnya sekarang.

"Aku mendengar lagu itu bukan karena aku tenggelam dalam masa lalu, aku hanya ingin tetap mengingatnya." Tambahnya melirik padaku. Kutepuk punggungnya sok akrab, dia hanya mendengus.

"Jadi, tak apa kan kalau aku pulang duluan?" tersirat sedikit nada penyesalan dalam kalimatnya, kujawab dengan anggukan mantap seraya tersenyum padanya.

"Kau memang keras kepala Sakura." Ujarnya kesal, aku hanya terkekeh pelan.

"Yasudah, aku pulang duluan ya. Jaa.." Ino melambaikan tangannya padaku, dan mulai berjalan menjauhiku.

Kuhirup oksigen sebanyak mungkin, lalu kulangkahkan kakiku menuju laboratorium biologi yang terletak di sebelah timur gedung utama. Tak perlu waktu lama untuk mencapai gedung tersebut, pintu ganda berbahan kayu jati itu sudah terlihat dari tempatku berdiri sekarang. Kuputar kenop pintu itu dan mendorongnya pelan. Semua mata menatapku, lalu mereka kembali mengerjakan aktivitas masing-masing. Kuarahkan pandanganku kesekeliling ruangan ini guna mencari tempat duduk (nyaman & terpencil) kosong, dan pandanganku tertumbuk pada kursi kosong di belakang kelas. Kulangkahkan kakiku menuju kursi itu.

Kulemparkan pandanganku keseliling kelas ini , seorang gadis berkacamata, gadis yang membawa buku tebal (sangat khas klub Biologi) , gadis pemalu(khas orang-orang yang kurang bersosialisasi) dan dua orang gadis yang sepertinya sedang menggossip. Kulirik bangku sebelah yang ternyata ditempati oleh seseorang yang tidak asing lagi bagiku. Bunglon. Tsk, dunia ini sempit ternyata.

Pintu kelas terbuka pelan menampilkan tiga orang yang sepertinya adalah senpai kami. Dua pria dan satu gadis. Pria berambut nanas yang sering menguap, pria berambut merah, serta seorang gadis berkucir empat yang cantik dan sepertinya cerewet.

"Oke, selamat datang di klub biologi." Sambut seorang senpai berkucir empat dengan senyum yang sepertinya dibuat-buat. Bunglon di sebelahku mendengus malas.

"Namaku Sabaku no Temari, dia yang menguap terus Shikamaru Nara, dan yang berambut merah itu Sabaku no Gaara." jelasnya

"Dikarenakan Ukiyo-sensei tidak bisa hadir hari ini. Maka kami yang akan membagikan kelompok." Kulihat Gaara-senpai mengeluarkan sebuah toples kecil berisikan beberapa gulungan kertas yang sepertinya berisikan nama kami.

"Yang merasa namanya terpanggil maju kedepan, dan ambil salah satu gulungan ini." Jelas Temari-senpai.

"Nama yang tertulis didalamnya itu adalah partnermu." Lanjutnya.

"Naoki Kobayashi." Panggilnya, pria setinggi kurang lebih 162 cm melangkah santai kedepan kelas, mengambil salah satu gulungan dan mendapatkan Kyou Inoue sebagai partnernya.

"Shion Kawamura." Gadis berkacamata dengan rambut pirang sepinggang itu memiliki Matsuri sebagai teman setimnya.

"Sasuke Uchiha." Hening sebentar, dan beberapa pasang mata tertuju kepada bunglon itu. Dia melirikku sebentar lalu berjalan santai kedepan kelas. Oh jadi namanya Sasuke Uchiha ya? Hmmm..

"Sakura Haruno…" Temari-senpai memanggilku, kutegakkan tubuhku. Bunglon manatapku dari depan kelas.

"Partnermu adalah Sasuke Uchiha." Yaah mungkin dewi fortuna tidak memihakku pada hari ini. Kuanggukkan kepalaku pelan, lalu kembali ke posisi semula. Setelah scene pembagian partner tadi aku tidak terlalu menyimak apa yang selanjutnya mereka lakukan. Pikiranku melayang membayangkan betapa tidak beruntungnya aku menjadi partner seorang Sasuke Uchiha yang kupanggil Bunglon selama ini.

"Tugas kalian hari ini adalah pergi ke taman kota, carilah beberapa species burung yang ada disana lalu klasifikasikan. Jangka waktunya dua minggu." Baiklah kesialanku hari ini bertambah, sepertinya aku akan terjebak bersama bunglon ini selama empat belas hari kedepan.

"Sekarang kalian boleh pulang." Kuhirup napas panjang, lalu akupun meninggalkan kelas ini.

TBC

RnR please