Help us?!
Disc Animonsta
Author:Minamiya -Ryu
mohon maaf bila jumlah word tidak sesuai janji,mungkin hanya ada 1k atau 2k saja
ini terjadi karena ide datang pas kerja; selesai kerja langsung capek ide pun hilang ~
bagian pertama hanyalah prolog yg membingungkan (?) dan alur dirombak juga di chapter pertama ini. buat yg review terima kasih banyak dan maaf belum bisa balas~
okay enjoy it guys~~
.
.
.
.
.
.
Chapter 1: book one
Mungkin...
yahh mungkin kalau Api tahu bahwa ini adalah hari tersialnya seumur hidupnya. " KAK BLAZE BANGUN!" ingatkan dirinya untuk memisahkan kepala ketiga adiknya saat ini. ini masih jam dua dan...
"BIARKAN KAKAK TIDUR!" siapa yang tidak stress saat kau harus belajar dengan rumus yang amit-amit bikin sakit kepala dan baru bisa menikmati indahnya dunia satu jam lalu?. Thorn menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca, begitu juga dengan Solar. hati Blaze berasa dilindes truk dan saat melirik kembarannya dia mencelos. "kak... kakak marah sama Ice..." suara lemah gemulai seperti adik kurang kasih sayang menyapa indra pendengarannya.
ughh...
"Baiklah..." Blaze mengalah. "ini hari minggu dan aku rela bergadang... " menghela nafas sesaat dia dapat melihat senyum setan dari ketiga saudaranya. "lagi."
"YEAHHHHH!"
"JANGAN TERIAK !" Blaze kau juga teriak lo.
.
.
.
Sudah delapan tahun perpisahan kedua orang tua mereka. Ayahnya menikah dengan wanita yang menjadi dalang hancurnya pernikahan ayah dan ibunya. satu tahun setelah ayahnya menikah lagi mereka mendapatkan saudara baru. Solar dan Thorn. perpaduan sempurna yang membuat Ice dan Blaze berulang lagi melakukan facepalm . nama mereka juga berganti seiring dengan pernikahan ayah mereka. "kak Api..." ahh,hanya disaat berdualah mereka menggunakan nama asli mereka. "Air tidak mengerti kalkulus, ajarkan." rengeknya dengan wajah datar. well,nada suaranya sudah menunjukan kalau dia merajuk.
Api memang jenius, sudah berbagai macam piala dia sabet dan sudah berapa kali dia mengharumkan nama sekolahnya. well, mengingat siapa ibu tirinya. "Air kau harus fokus." berbeda dengan Api, Air lebih susah fokus dan hak itu menjadikan dirinya...
... "Kakak tidak mau kau dipukul ayah atau ibu lagi, cukup kakak saja ..." sifat kekanakan Api juga sudah dia buang, membuatnya lebih dewasa dari sebelumnya.
Air menggeleng dan memeluk kakaknya manja. "Kalau saja Air dapat bertemu kak Halilintar..." salah satu alis Api terangkat dan dia tersenyum miring. "bukannya kalian satu kelas?" Air berdecih sebal dan mengambil kacamata berframe biru miliknya. kemudian memakai topi dan menutupinya dengan topi ditambah kacamata sudah menghiasi wajahnya. "dia mengenaliku sebagai Ice, siswa sok akrab dengannya." Air mengembungkan kedua pipinya, ngambek.
Api mengelus kepala adiknya sebentar kemudian melepaskan kacamata Air, sukses mendapatkan geplakan dari sang pemilik. "kau tetap Air kok." Api tersenyum manis, "adik Halilintar si ketua karate..." mata Air berkaca-kaca. "juga Taufan ketua klub skateboard dan well." Api memutar kedua bola matanya bosan dan gelak tawa Air terdengar,menggantikan rasa sedih diwajahnya. "juga ketua osis Gempa." Gempa,kakak yang selalu memanjakan mereka dulu kini tidak dapat mereka gapai lagi.
"tapi kita juga memiliki Solar dan Thorn kecil kita..." ahh! kedua saudara beda ibu mereka itu sedang memasuki masa pubertas. mereka memiliki sifat yang unik. mereka anak kembar yang lebih muda tiga tahun dari Api dan Air. Thorn yang amat suka ketaman, membantu pembantu rumah tangga mengurus halaman dan Solar yang amat suka bermain membuat Api kelabakan. bayangkan kau dibangunkan jam dua pagi untuk bermain game.
"Nah Air." anak beriris biru itu memejamkan matanya saat merasakan usapan dikepalanya. hangat. dia amat menyukai usapan atau sentuhan fisik yang dilakukan Api kepadanya, seperti mencubit pipinya atau memeluknya. Api menggeliat kecil, merenggangkan otot tubuhnya yang kaku dan tanpa sengaja membuat kaus berwarna putihnya terangkat. ada warna merah yang berbekas disana, seperti keriput dan membentuk pola tertentu.
"Kak... apa ayah benar-benar akan dipenjara selamanya..." Air menatap lantai nanar. kedua tangannya terkepal erat dipangkuannya dan pertanyaanya tadi sukses membuat Api terdiam. diamnya mereka berdua membawa mereka pada memori yang ingin mereka kubur dalam-dalam. memori yang menjawab bagaimana adanya bekas aneh diperut Api dan bagaimana ibu tiri mereka meninggalkan mereka berempat selamanya.
flash back...
Saat itu malam yang cukup menegangkan bagi Api dan Air. mereka berdua mencoba menyibukan diri dengan bermain dengan adik tiri mereka. saat itu Thorn dan Solar masih enam tahun, berbeda tiga tahun dari Api dan Air.
Ayah mereka berteriak, memaki istrinya dengan ganas, diikuti suara pekikan kesakitab dari ibunya dan bentakan ayahnya lagi.
"kakak..." Air merapatkan tubuhnya pada kakak kembarnya, berusaha mencari kehangatan yang selalu ada.
Tapi...
... "tidurlah Air, temani Solar dan Thorn." Api melepaskan pelukan Air dan berjalan dengan pincang . kakinya masih nyeri karena ayahnya menendangnya dua hari lalu. berhenti didepan pinti dan menatap ketiga adiknya dengan sedih. "Air..." Api mengigit bibir bawahnya, menahan isak air matanya. "jaga Thorn dan Solar dengan baik ya..."
"jaga Air ya Api, kak Gempa yakin kamu pasti bisa."
"kalau ada apa-apa tekan nomor satu maka Kak Fang akan menjawab." Air hanya bisa mengangguk sebelum Api membuka pintunya dan menutupnya kembali.
"IBU!" teriakan Api membuat Air tersentak kaget. Thorn dan Solar otomatis menyembunyikan diri mereka dibawah selimut, ketakutan.
Air langsung melompat turun dari kasurnya dan melakukan hal yang sama seperti Api tadi. manik seperti es itu menatap kedua adiknya lembut. "kakak sayang kalian..."
Saat itu Thorn dan Solar yakin kalau sudah terjadi hal yang buruk pada keluarga mereka.
.
"IBU!" Api menjerit saat melihat ibunya tergeletak dilantai dengan pisau menancap didadanya serta kedua matanya yang menancap pecahan kaca. mulutnya terbuka kecil dan Api yakin, dia melihat lingkaran berwarna merah dileher ibunya. ayahnya tertawa bak orang gila.
"Api..." langkahnya terdengar berat dan Api yakin ayahnya bau alkohol. "ayo bermain dengam ayah..." Api menahan nafasnya. "hi..." wajahnya pucat pasi saat melihat besi batangan yang berwarna merah menyala dan ... berasap?
Terlambat, saat Api hendak melarikan diri tangan mungilnya sudah ditangkap ayahnya yang tersenyum seperti psikopat. "biarkan ayah mendengar suaramu anakku..."
"HENTIKAN AYAH! SAKIT!" teriak Api saat besi iti bersentuhan dengan kulitnya yang menghasilkan suara desisan . " PANASSS! KAK HALILINTAR TOLONG!"
'plakkk!
Tamparan keras mendarat dipipinya, raut wajah ayahnya mengeras. "jangan sebut nama dari anak itu paham..."
"hiks... kak ... kak hali... AYAH PANAS! AMPUN!" dan hal yang sama kembali terjadi berulang kali . disaat besi itu menyentuh pinggang dan perut, paha dan betis. meninggalkan luka bakar yang mengerikan.
'prakk!
Suara pecahan vas menghantam kepala ayahnya, membuatnya membuka matanya yang sedari tadi tertutup kesakitan.
Air berdiri dibelakang ayahnya, memegang setengah bagian dari vas tersebut . "KAU!" ayahnya menggeram sebelum mencengkram kerah baju Air. tapi Air terlalu gesit dan dia berlari keluar rumah diikuti ayahnya dibelakang.
bila diperhatikan hal ini seperti ayah yang mengajak anaknya bermain. coret hal indah itu dan perhatikan baik-baik. ayahnya menggenggam pisau dan mengejar anaknya.
"SIAPAPUN TOLONG!" teriak Air histeris. " KAK FANG! KAK KAIZO!" dan berharap kakak sepupu mereka akan mendengarnya.
"brukhh
Air memejamkan matanya erat saat menabrak seseorang. "Air?!" dan membuka matanya saat menyadari kalau dia menabrak Fang dan Kaizo dibelakangnya mendengus geli. " mengganggu kakakmu lagi? hmm?" bukanya tawa anak kecil yang didapat Kaizo tapi pelukan histeris Air . "Air?!" saat itulah Kaizo dan Fang menyadari sesuatu. paman mereka berdiri dibelakang dengan wajah pucat pasi dan tangan menggenggam pisau. "Fang jaga Air." Kaizo mengeluarkan pistolnya dan menembak pamanya tepat dikaki saat pria itu hendak melarikan diri.
Air langsung jatuh pingsan membuat Fang panik. " Fang kita kerumah Air. " raut wajah Kaizo mengeras, berbanding terbalik dengan wajah horor Fang. '"perasaanku tidak enak." dan dalam hati Fang sependapat dengan kakaknya.
Flashback off
Api menggeleng lemah sebelum merangkul Air kedalam pelukannya. aroma tubuh adiknya amat menyejukan hatinya. "kita hanya bisa berharap Air..." Air mencengkram baju kakaknya. "aku takut kak..."
"kakak ada disini..."
.
.
.
TBC!
Ryu: *digantung diatas pohon ama Minamiya*
Minamiya: maaf bila lambat dan pendek *bungkuk-bungkuk* si cicak kering ini. *nunjuk Ryu* seenak perutnya nentuin deathline tanpa tahu kerjaan kami bakalan meledak.. hontou ni gomenasai.
