"Library Is Love"

By : Amanda Lactis

Warning : Sho-ai (Ada pair ItaKyuu^^), OOC, bash chara

Chapter 2 : Sesuatu yang tidak terduga.


Uchiha Corp disinyalir dipimpin oleh Uchiha Sasuke diusia nya yang masih dua puluh dua tahun, telah berkembang dan membuka banyak cabang, termasuk di Konoha. Fugaku mengaku ingin menikmati masa tua, ia ingin meluangkan waktu bersama istri tercinta, tak lupa mengawasi kinerja kedua putranya. Sejujurnya Fugaku tak mempermasalahkan perjodohan yang diusulkan Jiraiya, namun baginya terlalu cepat terlebih untuk Sasuke yang sangat tertutup. Itachi? Jangan mengharapkan anak sulungnya, orientasi sexual Itachi sudah menyimpang sejak jaman SMA. Untungnya lelaki dengan tanda lahir seperti keriput itu mau membantunya menjalankan perusahaan. Tapi, tidak ada yang tahu alasan mengapa Sasuke meninggalkan Suna dan memilih mengunjungi perpustakaan kota yang beberapa hari lalu diresmkian.

"Apa jatuh cinta pada pandangan pertama itu ada?" tanya Sasuke memainkan cangkir porselen berisikan cairan hitam berkafein. Suigetsu selaku tangan kanannya, orang kepercayaan Uchiha Sasuke, mengorek dalam-dalam telinganya mendengar penuturan tidak masuk akal terlontar begitu saja dari bibir bossnya.

"Sasuke, apa kau baik-baik saja? Kau bertemu dengan orang aneh tadi?" Suigetsu bertanya balik, raut wajahnya mendadak khawatir. Ini Uchiha Sasuke, orang yang dikenal berhati baja, dingin dan memiliki banyak julukan seperti 'Kulkas Berjalan' dulu. Sedangkan Sasuke tak berhenti mengulas senyum tolol, seperti bukan dirinya saja.

"Orang aneh? Bukan, bukan. Lebih tepatnya, gadis aneh" jawab Sasuke sedikit menyeringai. Ia melepaskan cincin perak yang sedari tadi melingkar di jari manis kirinya. Suigetsu menghela nafas panjang.

"Ide mu sangat membantu. Terima kasih." lanjutnya memainkan cincin tersebut, dan memberikan nya pada Suigetsu. Taktik lama untuk menghindari tatapan genit dari para wanita, sialnya, itu juga berpengaruh pada Naruto, ingat chapter lalu? Suigetsu menggeleng pasrah, boss nya memang unik, bisa-bisanya berakting selayaknya pria yang telah bertunangan. Lagipula cincin itu miliknya. Milik mantan kekasihnya, sebagai tambahan info tragis.

"Dasar, bagaimana bila orang yang kau suka salah paham dan mengira kau sudah bertunangan, Sas?" tak mendapat respon berarti dari yang bersangkutan, Suigetsu memilih menyibukkan diri mengurusi laporan yang harus diserahkan lusa. Sasuke, pria mapan nan tampan, kaya dengan seluruh aset perusahaan, kini tidak berbeda jauh dengan remaja labil yang tengah memikirkan pujaan hati.

'Kita akan bertemu lagi, dobe. Tidak. Kita harus bertemu secepatnya' batin Sasuke senang.

.

.

.

"Sudah ku bilang jangan berlagak, Namikaze!" Naruto menjalani hari-hari seperti biasanya, geng Karin akan menghadangnya di gerbang depan, lalu menggiringnya menuju halaman belakang sekolah dan mungkin memberi pelajaran untuknya. Ya, pelajaran fisik berupa kekerasan dan sedikit (catat : banyak) caci maki tertuju untuknya. Naruto bosan? Yup, dengan garis bawah dan font bercetak tebal, ia sangat muak mendengar cemoohan sama tiap harinya. Apa Karin tidak memiliki kamus untuk menggunakan umpatan secara bervariasi?.

"Jangan mentang-mentang Uchiha memberi mu beasiswa kau jadi sombong! Cuih! Pecundang!" seru Yugito meludahi wajah Naruto, tentu saja di elak dengan baik. Karin menatap Naruto penuh kebencian, bukannya apa, seolah wajah gadis itu mengingatkannya akan sosok familiar. Ayahnya pernah menceritakan kisah lama tentang gadis bodoh yang rela meninggalkan rumah dan harta demi seorang lelaki, dan lelaki itu memiliki ciri khas hampir sama dengan Naruto. Karin tahu, ayahnya sangat membenci sosok lelaki tersebut, itulah mengapa ia ikut membenci Naruto yang mempunyai paras nyaris sama.

"Ayolah, Karin. Bisa dipercepat? Sebentar lagi masuk, kau tidak mau reputasi mu sebagai keturunan Uzumaki tercoreng karena terlambat, bukan?" sahut Naruto santai, dia melepaskan cengkraman Yugito dan mengarahkan pandangan nya pada Ino yang asik menyumpal kedua telinganya dengan headset. Naruto tak pernah memprotes sahabat baiknya masuk ke dalam kelompok Karin, ia tahu ada alasan dibalik itu.

Karin tersulut emosi dan menjambak rambut pirang Naruto, di tangannya terdapat sebuah gunting besi, tajam dan berkilat. "Oh? Mau memotong rambutku? Baik sekali. Kebetulan ini waktunya aku memotong rambut di akhir bulan." Naruto menyunggingkan senyum polos. Jutru membuat Karin gemas, dan secara ganas memotong rambut panjang Naruto, yang semula mencapai pinggang kini hanya sebahu. Itu saja tidak rata, alias asal-asalan.

"Kita pergi, ayo! Tidak usah mengurusi gadis cupu sepertinya." ajak Karin mengibaskan rambut nya. Ino mengangkat satu tangannya. "Kalian duluan saja, aku masih ada urusan dengannya." Ia menunjuk Naruto yang sibuk merapikan diri, sembari tertawa lucu. Manik ruby Karin menyipit curiga, namun ia abaikan.

"Huh, terserah. Kalau kau mau menyiksanya lebih lama, Yamanaka." Karin dan Yugito melenggang pergi, tak lupa melayangkan deathglare mematikan untuk Naruto, gadis itu malah melambaikan tangannya ceria, seperti menyapa teman dekat. Ino mendesah panjang, menghampiri Naruto dan ikut merapikan rambut sahabatnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya nya lembut, mendapat respon berupa cengiran lebar dari Naruto. Bukan maunya menjadi anggota Karin, dia hanya tak mau berurusan dengan gadis bersurai merah tersebut. Apalagi Naruto berkata itu peluang untuk mendapatkan informasi dari Karin. Yah, tidak ada salahnya bersikap jahat.

"Ya begitulah, aku sangat baik, sampai bibirku bosan mengatakannya." jawab Naruto setengah bercanda. Ino menatap sedih ke arah potongan rambut Naruto, terkesan berantakan. "Pertama-tama, kita harus merapikan rambutmu terlebih dahulu." Ino menarik pergelangan tangan Naruto, menuju UKS, tempat paling pas untuk beristirahat.

.

.

.

"Ini laporan yang anda minta, Uchiha-sama." ujar Kurama sopan, menyerahkan sebuah map tidak lupa menundukkan kepalanya.

"Santai saja, Kitsune-chan. Jangan tegang begitu, dong." suara jenaka yang membuat Kurama sekalipun naik darah, di depannya, duduk seorang pria dengan keriput di wajahnya, Uchiha Itachi.

Kurama memejamkan mata menahan gejolak emosi,"Saya permisi, Uchiha-sama."

"Ah, bagaimana kalau kita berkencan di akhir pekan?" Itachi mulai berani membelai tangan putih Kurama, dibalas delikan tajam dari pria bersurai oranye tersebut. Itachi tertawa kencang. "Ayolah, Ku. Jangan formal begitu, kita sudah berteman lama sekali. Perlu di catat, kau itu kan pacarku." Kurama melotot dan melenggang pergi, pintu di banting keras, mengundang banyak tanda tanya dari beberapa pegawai di sekitar sana.

"Ya ampun, masih belum mau mengakuinya. Dasar, Ku-chan." Itachi menggeleng maklum, sifat pacarnya itu memang pemalu, ia bahkan yakin Naruto selaku adiknya belum mengetahui perihal hubungannya dengan Kurama.

KRINGGG!

KRINGGG!

"Oh, ada laporan apa, Shi? Eh? Perjodohan Uzumaki dengan Uciha? Baiklah, terima kasih." sambungan terputus, namun senyum Itachi tak luntur barang sedikit. Sebuah rencana terbentuk di kepalanya.

'Ini akan semakin menarik.' batin nya.

.

.

.

Ingin hati kembali ke pantai dan menemui gadis itu secara pribadi, tapi Tsunade tak menemukan sosoknya sepulang dari Kuil kemarin, dan itu membuat keresahan dalam hatinya bertambah. Ia ingin mengenal gadis itu lebih dekat, entah sejak kapan ada perasaan asing kala melihat gadis pirang yang entah siapa namanya. Tsunade mengerahkan beberapa orang kepercayaan nya, mencari tahu identitas sebenarnya dari gadis yang sudah menarik perhatiannya. Sampai dia tidak mendapatkah jatah tidur yang cukup. Tsunade memijit kepalanya pelan, matanya mendadak menyorot tajam kala mendengar laporan dari Anko bila Karin mulai berulah.

'Ck, satu cucu perempuan, berjuta masalah. Ya, itulah hidupku saat ini' batin Tsunade mencemooh hidup nya sendiri. Mengurusi Karin memang menyusahkan, seakan tidak ada habisnya. Tabiatnya persis ayahnya, yang hobby membuat onar dan membawa beberapa wanita ke Mansion Uzumaki. Ibu Karin resmi menceraikan ayahnya dua tahun selepas kelahiran Karin. Alasan nya? Nagato tertangkap basah bercumbu dengan orang lain. Tsunade seperti biasa, terlihat acuh tak acuh tapi diam-diam senang akan keputusan Konan, anak bungsunya, adik dari Kushina.

"Tsunade-sama, kami berhasil menemukan identitas gadis berambut pirang yang anda ceritakan kemarin." suara Shi memecah lamunan Tsunade, dengan sumringah wanita usia lima puluh tahun tersebut mendengarkan dengan khidmat.

"Nama lengkapnya adalah..."

Usai mendengar kalimat itu, Tsunade merasakan sesuatu menghantam hatinya, matanya membelalak kaget.

"A-apa?" ia bertanya lirih, mengalihkan pandangannya dan merasakan sesuatu mengalir dari sudut matanya.

.

.

.

"Souka? Kakashi-sensei izin menghadiri pertemuan penting? Wow, tumben sekali. Dia tidak terlihat seperti orang sibuk." komen Naruto mengendikkan bahu acuh, rambutnya berhasil dirapikan dengan benar oleh Ino, menghabiskan waktu lima belas menit dengan kikikan geli Shizune selaku guru piket UKS. Dan tampilan Naruto yang biasanya culun, kini mulai membuka era baru, beberapa siswa bahkan melirik dengan tatapan mesum! Bagus, kaca matanya hilang dan terpaksa Naruto memakai lensa kontak hasil hutang, uhuk.

"Omo, kau cantik, Naru-chan. Lihat, penampilan mu sungguh berbeda. Aku sampai pangling." ujar Shizune tulus, biasanya Naruto mengepang dua rambut pirangnya, memacai kaca mata setebal galon dan menundukkan kepalanya. Seragamnya pun diatur serapi dan sebersih mungkin, tapi berkat bantuan Ino, Naruto berubah sedemikian besar. Perubahan yang positif.

"Arigatou, Shizune-san." sahut Naruto sedikit tersipu malu.

Pelajaran yang biasa diisi Kakashi menjadi sedikit membosankan, seorang guru pria menggantikan nya dan menyuruh para murid mengerjakan tugas sebanyak, ya lima halaman dengan masing-masing dua puluh nomor, parahnya soal Matematika. Naruto bisa melihat Kiba berkali-kali membenturkan kepalanya pada meja, Chouji bahkan sudah memasang wajah stress, dan Shikamaru? Dia tertidur, pemirsa!

"Huh, dasar nanas jelek. Bisanya tidur saja, Padahal kan banyak tugas." gerutu Ino sebal, ia memainkan pensil mekanik sewarna pastel di tangannya, Naruto sebagai teman sebangku hanya bisa mengulas senyum. Dia masih bingung dengan kejelasan hubungan antara Shikamaru dan Ino. Percaya atau tidak, Naruto sering mendapati mereka berdua pulang bersama, atau makan siang berdua. Mungkin istilah keren nya, teman serasa pacar.

"Ya sudah kenapa kau tidak membangunkan nya saja? Lihat, Asuma-sensei melihatinya terus." bisik Naruto mulai kesal. Dengan hati-hati Ino menjulurkan tangannya, mencubit pinggang Shikamaru, dan yang mengejutkan mendapat respon tak terduga.

"Akh! Hei jangan mencubitku Ino! Apa kau secinta itu padaku sampai tak rela aku meninggalkanmu tidur?" seisi kelas tertawa, mendengar kalimat yang terlontar tanpa dosa dari bibir Shikamaru, termasuk Ino, sekarang dia sibuk menyembunyikan rona merah pada kedua pipinya. Naruto tergelak, meringis lirih mendapat cubitan serupa dari Ino. Oh, mereka lucu sekali, bukan?

Kelas kembali hening, bel tanda pulang berdering beberapa menit lalu, para murid membereskan perlengkapan mereka dan mulai meninggalkan kelas.

"Aku kelaparan~ Hueeee~" Naruto merengek layaknya anak kecil, ia lupa bila uang bulanan yang dikirim kakaknya dia gunakan untuk membeli kepentingan sekolah, dan membuatnya puasa selama tiga hari, untung saja masih ada sisa ramen tadi malam, tapi itu persediaan terakhir. Jadi selama seharian ini sampai lusa dia harus menahan lapar dengan meminum air putih. Ino menatap sahabatnya prihatin, tapi uang jajan nya pun terpotong akibat ia diam-diam membeli sebuah tas bermerk nan mahal.

"Huks, semoga saja ada malaikat penolong, memberi ku makanan yang banyak." Shikamaru sweatdropp seketika, mendengar ucapan Naruto yang mungkin melenceng, otaknya bergeser karena kelaparan. Mereka bertiga berpisah di terminal, Naruto menanti bus tujuan rumahnya dan Shikamaru serta Ino yang masih terus berjalan, berdua.


Rumah Naruto terlihat sederhana, nyaris kecil, tapi di dalam lebih rapi dan terawat. Ini berkat didikan Kurama sejak kecil, pria itu mewanti-wanti adik kecilnya untuk hidup dengan baik dan benar. Pintu ia buka perlahan, kegelapan menyapa penglihatannya, saklar ditekan dan suasana rumah terlihat normal. Tapi tunggu, ada sebuah bingkisan. Di atas meja ruang tamu.

"Apa ini? Hei, apa doaku terkabul? Ada yang mau memberiku makan? Waiiii!" Naruto merentangkan tangannya meloncat-loncat seperti bocah yang mendapat mainan baru. Bingkisan yang dibungkus dengan indah, sebuah kartu ucapan terselip di sana, kertas laminasi bercetak miring dengan sebuah inisial nama asing.

To : Namikaze Naruto-chan

Hai, ini hadiah dariku, kamu pasti kelaparan kan? Makan yang banyak, ya.

Naruto tidak tahu siapa pengirimnya, hanya ada sebuah tulisan kanji bermakna 'Crows' yang artinya 'Burung Gagak'.

"Aneh, tapi ya sudahlah, terima kasih ya! Siapapun itu!" Naruto membuka bingkisan tersebut dan dengan senang mulai menatap makanan di dalamnya. Alangkah senang ia mendapati lima ramen instant ada dibagian paling bawah. Dan, bagi Naruto sendiri, persediaan makan nya kini bisa bertahan untuk seminggu ke depan. Tapi akhirnya Naruto menyadari sesuatu yang aneh.

"Kunci nya ada padaku, lalu, bagaimana orang ini masuk? Ja-jangan-jangan...pe-pencuri? Perampok?Oh tidak Barangkuuu!" secepat kilat Naruto melesat menuju kamarnya, dan untung saja tidak ada barang hilang, semua komplit. Seolah sang pngirim murni ingin memberinya makanan, tidak ada niatan jahat. Justru itu yang membuat Naruto semakin ketakutan!

Tapi yang namanya rejeki tidak boleh ditolak, benar kan? Naruto mengumbar cengiran seperti orang bodoh, membersihkan diri dan membawa dirinya ke kamar. Ia tertidur sepuluh menit kemudian.

.

.

.

"Dia sudah menerima kiriman dariku?"

"Ah, iya, dia telihat sangat senang."

Suara tawa menyahuti.

"Haha, yokatta. Sampaikan terima kasih ku pada 'mereka'. Akan ku beri mereka hadiah nanti."

"Hai, saya mengerti."

'Well, untung kau menyukai nya, Naru-chan. Informasi dari kakakmu sungguh berguna' batin orang itu, yang bisa dipastikan berjenis kelamin laki-laki.


Hari berlalu begitu cepat, Naruto masih bekerja di Cafe dan mengambil cuti sesekali, tak lupa lembur untuk menghilangkan kesepiannya di rumah. Terkadang Gaara akan terjaga sampai tengah malam di cafe bila gadis pirang yang berperan sebagai kasir di cafe nya itu memilih shift malam. Yah memang canggung di awal, Naruto berkali-kali mengusap lehernya kaku, melirik bossnya diam-diam atau sebaliknya. Gaara betah memandang wajah mengantuk Naruto, pria kisaran usia dua puluh satu tahun tersebut itu berpikir jika wajah Naruto sangat manis. Ingatkan dia, bila gadis itu adalah anak buahnya, tidak boleh melebihi batas itu.

"Kerja bagus, sudah jam dua belas siang, Naruto bukannya kau ada kegiatan setelah ini?" tanya Gaara di hari Minggu, pergantian shift memang menguntungkan Naruto, dia sering menggantikan beberapa pegawai yang kebetulan sedang sibuk dan bisa berlibur atau mengambil cuti di saat pegawai tersebut masuk. Gaara tidak mempermasalahkan hal tersebut selama kinerja Naruto tidak memburuk.

"Oh iya benar, aku pergi dulu ya, boss. Haku-san, Matsuri-san aku duluan." yang disapa mengulas senyum sembari melambaikan tangannya.

"Ah Naru-chan memang manis, aku yakin dia pasti hendak berkencan, lihat dandan nya." gurau Matsuri mendapat kikikan setuju dari Haku, mereka terlihat menikmati acara gosip dadakan yang sukses membuat Gaara menggeleng. Tapi benarkah Naruto berkencan? Bagaimana jika ada orang asing nanti? Nyawa Naruto bisa terancam! Oh tidak, dia bisa memikirkan ini seharian penuh.

'Oke tenang Gaara, mungkin dia memang ingin berkencan dan semoga pria yang dia pilih baik, sepertimu misalnya' Gaara terbatuk keras mendapat pemikiran aneh di pikirannya. Pria baik sepertinya? Lucu sekali, Sabaku, dan sekarang Naruto akan berpikir kau pedofil, ia menambahkan dalam hati penuh prasangka buruk.

"Aku akan menyusulnya, aku serahkan padamu, Haku."

Keduanya terbengong, lalu tertawa tak lama setelah kepergian sang boss.

"Boss lucu bila sedang malu, bukankah begitu?"

.

.

.

Gaara berhasil menguntit Naruto tanpa mengundang kecurigaan, pria itu stand by di belakang Naruto dengan jarak beberapa meter, juga berkali-kali nyaris ketahuan. Untung saja ia memiliki kemampuan menyamar yang baik, walaupun itu terlihat mencolok. Siapa yang menyangka tujuan awal Naruto ialah perpustakaan kota yang baru-baru ini cukup terkenal di kalangan masyarakat. Gaara menelan saliva, saat mendapati para gadis melayangkan tatapan kagum dengan berlebihan tertuju padanya. Ia merinding, dan begitu ketakukan.

'Oh itu dia!' manik jade Gaara melihat sosok Naruto berdiri di rak tempat novel fiksi berbaris. Tunggu ada seseorang yang datang, dan pria?! Tunggu, kenapa ada perasaan aneh menyelimuti hatinya? Kenapa ada perasaan tidak rela apalagi saat Naruto dengan bebas tertawa pada pria tersebut? Ia bahkan berani bertaruh mereka seumuran! Dan lagi, untuk apa setelan jas mahal itu terlebih hanya ingin mengunjungi perpustakaan kota?

.

.

.

FLASHBACK On

"Aku ingin ke perpustakaan kota lagi, Sui gantikan aku rapat nanti." Suigetsu ingin melawan, tapi Sasuke sudah berpakaian rapi dengan wajah tampan seperti biasa. Demi kolor pink Orochimaru, tak bisakah boss nya ini tidak bersikap seenaknya dan menelantarkan pekerjaan nya demi menemui seorang gadis? Suigetsu garis bawahi, gadis yang baru dikenal selama dua jam, ya Sasuke memang gila.

"Tunggu, bagaimana jika kakakmu menelepon? Apa yang harus ku lakukan? Hei, jangan abaikan aku!" Sasuke seolah tuli, mengambil kunci mobil dan melambaikan tangannya acuh, meninggalkan Suigetsu dengan perasaan campur aduk, sedih, galau dan resah? Yang jelas lelaki berggigi tajam tersebut ingin membalas perbuatan Sasuke suatu saat nanti.

FLASHBACK Off

.

.

.

Naruto memang bukan seperti gadis kebanyakan yang hobby membaca novel percintaan, patah hati atau cinta bertepuk sebelah tangan, ya dia sudah mengalami yang jauh lebih buruk dari itu semua. Kehidupannya, mungkin? Terbersit rasa iri, melihat beberapa kali orang tua temannya menjemput ke sekolah, memayungi mereka bila hujan dan memberi kasih sayang yang tak mungkin Naruto dapatkan. Hahh, ia menghembuskan nafas perlahan, tidak ada gunanya mengasihani diri sendiri, lebih baik terus bertahan dan maju. Tangan nya meraih sebuah komik yang sudah lama ia incar, kebetulan ada yang salah menaruhnya di sana. Saking fokusnya dia tak menyadari sosok Sasuke sudah berdiri di sampingnya.

"Hei, gadis jelek. Memangnya kau bocah membaca komik? Dan lagi, kenapa covernya aneh sekali?"

"Aku memang bocah, lalu apa masalahmu? Aku ingin membaca komik ini sejak dulu-" Naruto menghentikan ucapannya, terdengar suara familiar yang memaksa memori nya mengingat-ingat siapa pemiliki suara tersebut. Dengan gerakan lambat ia menolehkan kepala dan terkejut mendapati Sasuke sudah berdiri dengan tegap tepat di sampingnya. Naruto menelan salivanya, tersenyum canggung dan menjauh beberapa meter.

Sasuke menaikkan alis nya heran,"Hei ada apa dengan mu? Tak biasanya begini. Kemarin saja kau mengatai ku paman. Kau sakit?" ia bertanya datar namun siapa saja tahu ada nada khawatir terselip pada nadanya. Naruto menggeleng, ia hanya takut berdekatan dengan Big boss macam Uchiha Sasuke, perkara trauma tempo hari.

"Hoi, jawab aku, dobe."

"Ja-jangan memanggilku dobe, U-Uchiha-sama!"

Sasuke terdiam.

Naruto ikut membisu. Dia kembali menatap Sasuke, takutnya lelaki itu tersinggung akibat ucapannya.

"Pft! Apa yang kau katakan barusan? Uchiha-sama? Lucu sekali." balasan dari Sasuke memang tak terduga, pria itu sibuk menahan tawa demi menjaga image nya.

"Ternyata kau sudah menyadari nya. Ya, aku memang Uchiha Sasuke. Tapi, aku belum melupakan ucapan mu tempo hari. Kau mengatai ku brengsek, memanggiku paman dan seenaknya menyentuh tubuhku. Apa kau tahu apa akibatnya, nona?" Naruto menggigil ketakutan, dia sudah merapalkan doa untuk keselamatan jiwa dan raganya. Ia siap bila semisal Sasuke menghukum nya. Tapi selama semenit ia memejamkan mata, menunggu balasan dari Sasuke, tak terjadi apa-apa.

"A-ano, kau tidak jadi menghukum ku? A-aku minta maaf, aku tidak tahu bila kau itu Uchiha Sasuke, kan nama Sasuke juga pasaran." Naruto langsung menutup mulutnya, memaki betapa ia tak bisa menjaga omongan nya. Lihat, Sasuke jadi menatapnya angker. Well, sebenarnya Sasuke hanya menatap Naruto untuk meminta penjelasan mengenai namanya yang pasaran, bukan se angker itu.

"Lupakan saja, aku tidak keberatan. Asal kau tidak bersikap seperti gadis lainnya yang minta di perhatikan."

Naruto sedikitnya bisa menghela nafas lega, ketakutannya memang tidak berarti. Manik saphirenya menilik ada yang kurang dari Sasuke hari ini, benda berkilat yang biasa melingkar pada jari manis nya tidak ada.

"Bukannya kemarin masih ada?" bisik Naruto sepelan mungkin. Ternyata Sasuke memiliki pendengaran yang tajam. "Kau bilang apa, dobe?."

Naruto mengibaskan tangannya, "Tidak. Aku tidak bilang apa-apa, hehe." Sasuke tidak percaya begitu saja, gadis di depannya tidak berbakat berbohong, lihat saja matanya sebisa mungkin menghindari kontak dengan mata hitam miliknya. "Jadi?" ia kembali bertanya.

"Err... ku kira kau sudah-"

"-Bertunangan maksudmu? Tentu saja belum, itu hanya akal-akalan untuk menghindari tatapan memuja dari gadis lainnya. Yah inilah nasibku sebagai pria tampan." Naruto mengerutkan dahinya, agaknya merasa terganggu dengan sifat narsis Sasuke. Siapa yang menyangka pria dingin macam Sasuke bisa bersikap seperti ini? Bagaimana jika di rekam? Lalu berikan pada wartawan, dan dia akan mendapatkan uang.

'Oh ya itu ide bagus, sebulan kemudian, tidak, sehari kemudian rumah kami hancur' batin Naruto tersenyum miris.

Hening.

Sasuke yang mulanya fokus pada novel di tangannya, bukan, itu bukan novel romance. Dia lebih suka novel bertema horror dan crime. Suara isak tangis terdengar lirih, yang ternyata berasal dari Naruto. "Kau kenapa? Membaca komik sampai menangis begitu, aneh." komen Sasuke pedas.

Naruto terlalu terlarut dalam nuansa sedih dalam komik, melihat para murid dalam komik tersebut harus terpaksa membunuh guru mereka, yang sudah menghabiskan watu setahun bersama. "Kenapa harus mati? Huweeee!"

"H-hei ada apa dengamu? Sini mana komiknya, hentikan tangisanmu, kau bisa mengundang perhatian orang lain." Sasuke dengan cepat meraih komik di tangan Naruto, namun gadis itu tidak melawan, dan terus melampiaskan emosi sedihnya.

Sasuke dengan sabar menunggu hingga tangisan Naruto benar-benar berhenti, kira-kira selama sepuluh menit lamanya.

"Maafkan aku, tadi aku terbawa suasana." ucap Naruto merasa bersalah.

"Hn, memang nya kenapa kau sampai menangis begitu? Apa ceritanya se sedih itu?" tanya Sasuke, to the point.

Naruto mengangguk pelan. Matanya masih sembab.

"Apa yang terjadi dengan tokoh utamanya?"

"Mati. Dengan senyuman di wajahnya, dia senang dengan kenangan manis bersama muridnya selama setahun."

Sasuke terdiam.

"Lalu? Bagian mana sedihnya?" ia bertanya. Dasar lelaki tidak peka, dia masih belum menyadari perasaan wanita itu jauh lebih sensitif keitmbang laki-laki. Itu juga bukan salah nya, semenjak kecil Sasuke hanya mempelajari tentang perusahaan, cara bagaimana menang tender, dan lain nya. Ia tak pernah di ajari untuk mengerti isi hati seseorang, terlebih seorang wanita-coret- bocah di sampingnya.

"Perpisahan itu menyakitkan. Apalagi kau sudah menghabiskan waktu bersamanya meski hanya setahun."

"Aku bisa meminta creator komik itu mengubah alurnya, aku orang penting, tidak ada yang tidak bisa ku lakukan. Bagaimana?" tawar Sasuke, berusaha menghibur Naruto. Tapi sayangnya gadis yang ia sebut bocah, kini malah mengumbar senyum tipis.

"Tidak perlu sejauh itu, kita ambil hikmah nya saja. Perpisahan mengajarkan banyak hal, perpisahan bisa mengajarkanmu betapa penting orang yang telah pergi. Se simple itu."

'Tou-san, Kaa-san, aku sudah menemukan cintaku sendiri. Jadi, jangan menjodohkanku dengan siapapun' batin Sasuke, masih mendengarkan celotehan Naruto, mereka tertawa sesekali. Ralat, hanya Naruto yang tertawa, karena Sasuke pasti memalingkan wajahnya karena takut ada yang melihat nya tertawa lepas, ingat dia orang berpengaruh di Konoha.

KRINGGG!

KRINGGG!

"Ada apa, Sui? Sebaiknya ini penting."

"Kau sudah mendengar kabar, Sas?"

"Kabar apa?"

"Rencana nya, Uzumaki menggelar perjodohan dengan clan Uchiha, demi menjalin kerja sama!"

Sasuke nyaris berteriak, dia berjalan menjauh dari Naruto.

"Bagaimana bisa? Aku tidak tahu mengenai hal ini."

"Buruknya, Sas. Kau tahu sendiri siapa pewaris tunggal clan Uzumaki? Gadis berambut merah yang pernah ku ceritakan?"

"Jangan bilang-"

"-Ya dia calon tunangan mu, Sas. Lebih baik kau ke Suna secepatnya, ayah mu akan memutuskan nya."

"Terima kasih, atas informasimu, Sui."

Sambungan terputus sepihak. Sasuke meredam emosinya, dia mengepalkan tangannya erat-erat, dia tahu siapa dalang dibalik ini semua.

"Uzumaki Nagato, jangan harap kau bisa melakukan sesukamu." desisnya tajam, manik hitamnya menyorot begitu tajam, diikuti aura yang dipancarkan sangat tidak bersahabat.

To Be Continued


Note : Jadi saya berniat memasukkan beberapa karakter misterius! Jadi, apakah ada yang bisa menebak siapa yang mengirimkan makanan ke rumah Naruto?

Yang belum log in saya bales di sini ya.

Untuk Vryheid : Ini udah di lanjut ya, makasih udah review ^^

Julia Nita Sifa : Untuk ngenesnya akan saya usahakan, makasih udah review ya :))

365 : Ini udah dilanjut, makasih udah review :))

naginagi : Makasih, iya ini udah dilanjut kok :)) makasih udah review ^^

CacuNaluPolepel : Ini sudah dilanjut, haha ekspresinya bisa dibayangkan sendiri. Happy enggak nya ikutin alurnya dulu ya :)) makasih udah review

Special thanks to : Yasu Mari, 365, Arum Junnie, shin. sakura .11, aiko4848, naginagi, CacuNaruPolepel, Hoiling585, Deera Dragoneella, Aoi Latte, choikim1310, Moku-chan, Phachan, Stlvyesung, Aoi423, Vryheid, Julia Nita Sifa, akane. uzumaki .faris.

Makasih buat dukungannya, saya jadi semangat nulis ^^ jangan sungkan mampir ke fic saya.

At least,

Mind to Review?