Minna-chan… *lambai-lambai*

Maaf apdetnya lama banget yak? Satu bulan X"D

Maaf sekali… mohon dimaafkan! m(_ _)m

Oh iya aku ganti penname loh! #gakadayangnanya #pundungdipojokan

Oke, check this out!

Yoroshiku Onegaishimasu!

Warning : AU, Typo(s), OOC, rate T++(?) (maybe in soon chapter)

Naruto © Masashi Kishimoto

Story Idea © elfazen

Typesetter © Day-chan Dragneel


.

.

.

Day-chan Dragneel presents

.

Taklukan!

Chapter 2 : Siaaal!

.

.

.


(Third Person's POV)

Matahari pagi telah bersinar kembali untuk sekian juta—milyaran kalinya. Dengan suara kicau-kicau burung yang saling bersahutan menambah kesan damai dan segar untuk mengawali pagi ini. Di mana semua orang akan memulai aktifitasnya.

Seorang gadis berambut pirang dengan santai memandangi bangunan-bangunan di luar jendela mobil sportnya di kursi penumpang belakang. Sekilas dia tersenyum tipis melihat orang-orang yang memulai aktifitas mereka masing-masing.

Beberapa menit kemudian mobil sport Jaguar berwarna hitam mengkilat itu berhenti dengan anggunnya di depan sebuah sekolah yang cukup elit dan terfavorit. Dengan sangat sopan supir pribadinya keluar dari mobil dan membukakan pintu tuan mudanya.

Kaki putih yang jenjang itu mulai melangkah keluar mobilnya dan masuk ke dalam sekolahan. Dengan membawa tas jinjing berwarna hitam, sang blondie itu berjalan melewati kelas-kelas yang masih sangat sepi.

Sepi? Ya. Ino mempunyai kebiasaan untuk datang ke sekolah pagi-pagi sekali hanya untuk merias dirinya. Dia sedikit bosan dengan suasana salon atau kamarnya sendiri yang sudah sangat lengkap itu. Kadang juga dia ditemani oleh sahabat karibnya yang bercepol dua itu untuk sarapan—Tenten lebih suka suasana makan yang sepi di sekolahan daripada di rumahnya sendiri yang seperti pasar.

Sesampainya di depan kelas, Ino membuka pintu kelas itu dengan pelan. Biasanya di situ tidak akan ada siapa-siapa dan Ino dengan santainya merias dirinya dengan tenang. Tapi kali ini ada yang berbeda dengan pandangannya. Tangannya mengucek-ucek pelan mata aquamarinenya, kali-kali pandangannya salah. Tapi ternyata benar.

Sesosok pemuda berkulit putih dan berseragam sama dengannya sedang duduk di bangkunya sendiri dan membaca sebuah buku—yang kelihatannya buku yang rumit. Terlihat dari tebalnya buku itu dan sampulnya yang hitam kelam.

Ino terdiam di tempatnya dan memandang pemuda itu dengan tatapan agak kaget. Sepertinya mulai hari ini dia tidak akan bisa mendapati dirinya duduk sendiri di kelas ini. Beberapa saat kemudian Ino tersenyum misterius. Dia masuk ke kelas dan menutup pintunya kembali dengan sangat pelan.

Pemuda raven itu sepertinya belum mengetahui keberadaan gadis yang ada di depannya—semenjak Ino tidak mengeluarkan suara apapun dan dia sendiri pun sedang sangat berkonsentrasi pada novel pembunuhannya. Dengan pelan Ino duduk di depan bangku pemuda itu.

Merasa masih belum diakui keberadaannya, dengan pelan Ino menarik buku—novel pembunuhan itu hingga buku itu tergeletak di meja. Kemudian dengan segera Ino menampilkan senyuman yang paling manis yang ia pernah buat dan pasti bisa membuat semua pemuda normal blushing setengah mati.

Nyatanya tidak. Satu pemuda di depannya ini tidak memerah berat. Dia hanya memandang gadis pirang itu sebentar, tapi kemudian dia tidak melakukan apa-apa selain memandang wajah gadis di depannya itu.

"O-ha-you, Sasuke-kun," ucap Ino dengan nada centil dan menggoda. Satu matanya berkedip dan mencoba untuk menunjukkan kecentilan diri seorang Yamanaka Ino.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Sasuke datar dan dingin.

"Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi?" ucap Ino mengabaikan pertanyaan Sasuke dengan nada biasa—tidak secentil tadi. Sasuke hanya mendengus pelan.

"Tidak ada urusannya denganmu. Kau berniat untuk mengikutiku, hah? Bahkan sampai datang pagi-pagi segala," ucap Sasuke sinis dengan nada mengejek. Mata onyxnya menatap mata aquamarine itu dengan sangat remeh. Tanpa diduga, Ino membalas dengan senyuman remeh juga.

"Aku bahkan tidak tahu kalau kau mempunyai kebiasaan datang pagi-pagi hanya untuk sekedar berkutat dengan buku tidak pentingmu itu. Yang kutahu adalah aku memang biasa kesini pagi-pagi," ucap Ino melipat kedua tangannya.

"Untuk apa?" tanya Sasuke datar.

"Untuk merias diriku!" ucap Ino dengan nada sumringah dan centil.

Matanya berbunga-bunga kala ia menceritakan bagaimana damainya suasana sekolah yang sedang sepi, cocok untuk menenangkan jiwanya saat dia merias diri. Sasuke hanya melihat wajah gadis blondie itu dengan intens, seperti mencari-cari sesuatu di dalam wajahnya.

"…begitulah," ucap Ino menyelesaikan cerita tidak pentingnya. Sasuke hanya tersenyum sinis.

"Hmph. Tidak dapat dipercaya kalau aku harus berbagi suasana denganmu," ucap Sasuke dengan menatap iris biru itu sinis.

"Aku menerimanya dengan senang hati," ucap Ino tersenyum lembut.

"Hn," ucap Sasuke mulai mengambil novelnya tadi dan mulai membaca. Hampir, karena sebuah tangan menghentikannya. Bukunya kini sudah terlempar jauh akibat lemparan gadis di depannya ini.

"Apa yang kau lakukan, gadis bodoh?" ucap Sasuke dingin. Ino hanya berganti posisi dan sekarang dia sudah berada di sebelah Sasuke. Tangannya menggelayut manja di lengan kanan pemuda Uchiha itu.

"Aku ingin mengenalmu lebih dekat, Sasuke-kun," ucap Ino dengan manja. Sasuke hanya menatap Ino dengan muka datar. Sesaat kemudian Sasuke menutup kedua matanya sebentar, kemudian terbuka lagi.

Sasuke menarik lengannya keras dari pelukan Ino dan menatap gadis pirang itu dengan sangat dingin. Membuat Ino memandangnya dengan dahi berkerut.

"Ambil bukuku dan menjauhlah dariku," ucap Sasuke dengan nada memerintah dan sangat dingin.

"Sasuke-kun…" ucap Ino dengan nada seduktif. Sasuke menatap tajam Ino, seakan tidak terpengaruh oleh suara gadis itu yang menggoda.

"Ambilkan sekarang juga."

"Tidak mau, wee," ucap Ino menjulurkan lidahnya.

"Ambilkan."

"Tidak—"

*SREET*

*PLAK*

"Beraninya kau mendekati Sasuke-sama!" ucap salah seorang gadis berambut merah marun dan berkacamata. Dia tiba-tiba menarik kerah baju Ino dan menampar pipinya keras-keras.

"A-ap—"

"Siapa gadis jalang ini yang telah mengganggumu ini, Sasuke-sama?" tanya salah seorang gadis yang berada di sebelah gadis tadi.

"Ambilkan bukuku, hei kau," ucap Sasuke tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. Dengan segera dia mengiyakan dan mengambilkan buku yang tergeletak agak jauh darinya.

"Apa maumu mendekati Sasuke-sama?" ucap gadis tadi semakin mencekik leher Ino. Pipinya yang telah ditampar berkali-kali ini tampak merah kebiruan karena memar.

"Sudahlah, Karin. Percuma kau menanyainya, kau sudah membuatnya babak belur hingga kesadarannya setengah seperti itu," ucap gadis di sebelahnya dengan nada remeh.

"Kau benar, Tayuya. Sudahlah cepat serahkan bento yang sudah FC siapkan pada Sasuke-sama," ucap Karin kemudian dia melepaskan Ino dan menjatuhkannya di lantai. Kemudian kedua gadis itu menyerahkan sebuah bungkusan kepada pemuda raven yang sedari tadi memandangnya dengan wajah datar.

"Ini ada sedikit hadiah dari kami. Kami sudah membuatnya pagi-pagi, lho. Dan ternyata Sasuke-sama sudah ada di sekolahan duluan. Ini, kami harap Sasuke-sama mau memakannya," ucap Tayuya dengan nada yang sangat centil dan menggoda. Karin yang ada di sampingnya pun tersenyum senang.

"Hn," ucap Sasuke dengan nada datar. Walaupun hanya ditanggapi seperti itu, kedua gadis itu sudah sangat senang—bahkan sampai berpelukan dan berteriak tidak jelas.

Setelah beberapa saat kedua gadis itu pun berpamitan untuk kembali ke kelas mereka masing-masing. Tapi sebelum keluar, Karin menyempatkan diri untuk mengangkat kerah baju gadis blondie yang baru saja bisa berdiri—walaupun dengan tertatih-tatih.

"Hei, kau. Kalau kau mendekati Sasuke-sama lagi, kau tidak akan selamat," ucap Karin dengan tawa sinis dan kemudian dia mendorong Ino sampai Ino terjembab di lantai, lagi.

Sasuke hanya memandang adegan itu dengan muka datar seperti biasa. Dia menolehkan lagi kepada buku misterinya itu—tanpa menolong Ino sama sekali. Dia hanya tetap bergeming.

Ino yang akhirnya bisa berdiri lagi hanya bisa mengerutkan keningnya, tanda tidak mengerti dan tidak terima. Dengan sekuat tenaga ia menggebrak meja Sasuke sehingga Sasuke memandang gadis pirang itu lagi.

"Apa itu salah satu anggota FC-mu?" tanya Ino dengan muka geram.

"Seperti aku peduli saja," ucap Sasuke dengan datar dan senyum sinis. Sebelum Ino membalas perkataannya buru-buru Sasuke menambahkan kata-kata yang mampu membuat Ino terdiam selama beberapa saat.

"Kau tidak akan dipukuli seperti itu jika kau ikut bergabung dengan grup aneh mereka itu, khukhukhu," ucap Sasuke tertawa sinis dan licik.

"Kau… Teme…" ucap Ino dengan nada marah dan penuh dengan emosi.

Sasuke tidak menganggapnya dan melanjutkan membaca bukunya. Di belakang Ino, mulai terdengar suara-suara siswa-siswi yang mulai masuk ke kelas—semenjak hari sudah akan semakin siang. Ino mendecih kesal dan dengan segera dia memakaikan tudung jaketnya—agar luka lebam itu tidak terlihat. Dia segera beranjak dari kelas.

Di tengah perjalanan menuju gerbang sekolah dia bertemu dengan seorang gadis bercepol dua yang sedang bersenandung ceria. Ino segera menarik gadis itu mendekat padanya. Kaget, Tenten agak sedikit berteriak kecil. Tapi begitu mengetahui siapa yang menariknya, dia tidak merasa kaget lagi.

"Tenten, ini aku," ucap Ino yang masih menunduk. Tenten melepaskan tangan Ino yang bertengger di lengan kanan gadis berambut coklat itu.

"Iya, aku tahu. Kenapa tiba-tiba begini kau? Ada apa?" tanya Tenten bertubi-tubi.

"Tolong sampaikan pada sensei kalau aku sedang sakit, oke? Aku akan menceritakan kejadiannya nanti padamu. Jaa ne," ucap Ino dengan cepat kemudian dia berlari kecil keluar dari sekolah.

Tenten yang masih loading beberapa persen lagi itu hanya bisa menatap kepergian sahabat blondienya itu dengan muka melongo. Sesaat kemudian dahinya berkerut—tanda kurang jelas dengan perintah Ino tadi. Tapi kemudian Tenten mengedikkan kedua bahunya dan kembali berjalan menuju kelasnya.


~ Sasuke Ino ~


Ino meringis kesakitan waktu salah satu asistennya—anggap saja pembantu pribadinya itu sedang mengobati luka-luka memar di pipi—tulang pipinya. Warna merah kehitaman karena tamparan kini menjadi biru kehitaman ketika dia bertemu dengan anggota lain—yang lebih banyak FC Sasuke dan diberi sebuah 'hadiah'. Sepertinya Karin dan Tayuya menyebarkan dengan baik ciri-ciri gadis blondie itu.

"Argh! Kau tidak bisa lebih pelan apa Dei? Dasar sial," umpat Ino dengan geram. Pembantunya itu hanya mendengus kesal.

"Kau diam saja!" ucap Deidara sedikit terdengar tegas, "Lagipula siapa yang beraninya menghajarmu seperti ini? Ini baru pertama kalinya kau seperti ini. Untung saja Tuan Besar masih ada di Indonesia," ucapnya lagi. Ino melirik ke arah lain dan tidak menjawabnya.

Beberapa saat kemudian Deidara yang sudah selesai mengobati luka Ino, undur diri dari hadapan Ino dan mengatakan untuk kembali bekerja. Setelah pemuda yang hanya berjarak 6 tahun darinya itu benar-benar keluar dari kamarnya, Ino berbaring terlentang di atas kasurnya.

Dia kembali mengingat kejadian tadi. Menyakitkan? Tentu saja. Bagi seorang Yamanaka Ino, ini baru pertama kali dia dikatai gadis jalang, ditampar, bahkan dihajar habis-habisan sampai mukanya biru lebam seperti ini.

Dan ini semua hanya gara-gara seorang pemuda.

Pemuda yang biasanya dengan mudah dia dapatkan, kini seperti menghadapi jalan yang benar-benar buntu. Terbuntu oleh sikap-sikap dingin yang dilontarkan targetnya itu sendiri, apalagi sekarang ada semacam benteng yang sangat kuat—FC-nya.

Ino bisa saja mengikuti saran Sasuke untuk masuk ke dalam club aneh itu. Dengan begitu Ino tidak akan dianggap lawan—yaitu kawan. Tapi itu sama saja dengan menjual harga dirinya. Dia akan lebih diremehkan ketika dia benar-benar masuk ke dalam group itu.

Perlahan bibir tipisnya mengulum senyuman. Sebuah senyuman seringaian yang sangat licik. Baru kali ini dia merasa sangat tertantang untuk mendapatkan sebuah—seorang pemuda. Biasanya ketika ia tersenyum, 10 pemuda telah kecantol olehnya.

"Well, aku harus berjuang sedikit keras agar orang spesial ini bisa jatuh ke pelukanku," ucap Ino dengan seringaiannya.

Dia akan berusaha sendiri—tanpa bantuan siapapun. Karena itu sudah menjadi prinsipnya dalam soal mengejar seorang laki-laki.


The next day, time to go home…

Bel pulang yang telah berdering sekitar beberapa menit yang lalu itu mulai membuat sekolah favorit ini menjadi agak sepi. Hanya tinggal beberapa siswa-siswi yang tersisa. Siswa yang tergolong santai, tidak peduli dan malas.

Seperti halnya pemuda raven satu ini. Dengan langkah yang angkuh dia menggerakkan kaki-kakinya semakin menjauh dari kelas. Melewati lorong-lorong yang sudah semakin sepi oleh siswa-siswi.

Tidak jauh di belakangnya, terlihatlah seorang gadis yang menutupi dirinya dengan jaket tebalnya. Tidak lupa tudung dan kacamata hitam besar menghiasi wajahnya. Dia berjalan mengendap-endap dan sedikit bersembunyi. Sepertinya gadis itu mengikuti arah langkah pemuda Uchiha itu.

Setelah keluar dari gerbang sekolah, ternyata Sasuke masih berjalan. Dan gadis itu pun masih tetap setia mengikutinya. Pemuda itu menghentikan kakinya di sebuah mobil yang terparkir agak jauh dari sekolah. Sontak gadis itu pun menghentikan langkahnya juga dan bersembunyi.

Sebuah mobil sport berwarna putih mengkilat dan berhiaskan tato tato mobil yang keren. Dengan segera Sasuke masuk ke dalamnya dan mengendarai mobil itu dengan kecepatan lambat.

Gadis yang bersembunyi tadi hanya bisa mendecih kesal, "Harusnya aku bawa mobilku juga tadi. Sial," gerutunya kesal.

Gadis itu berusaha mencari cara untuk bisa mengejar mobil itu. Itu hanya perasaan dia saja atau mobil itu berjalan dengan lambat—sama seperti sedang menaiki sepeda motor dengna kecepatan 40.

Kalau dengan berlari, itu hanya akan membuka penyamarannya walaupun dia pasti bisa mengikutinya dengan cara itu. Memanggil taksi? Yang ada malah dia akan ketinggalan semakin jauh karena menunggu taksi yang lama datangnya.

Sesaat kemudian dia melihat sebuah sepeda yang sedang menganggur tergeletak di jalanan—pinggir jalan. Di sebelahnya ada dua orang berlainan jenis yang berbincang dengan hangat. Sepertinya mereka sepasang kekasih. Gadis itu menemukan ide dan mendekati mereka berdua.

"Hei, kalian. Kalian yang mempunyai sepeda ini?" tanya gadis itu sambil tetap mengerudungi mukanya. Kacamata hitamnya mengkilat terkena sinar matahari yang akan segera tenggelam.

"Iya, aku yang punya. Memang kenapa, Nona?" ucap seorang laki-laki yang mengernyitkan dahinya. Gadis itu hanya tersenyum dan memberikan sejumlah uang—yang tidak sedikit.

"Aku beli. Jaa ne," ucapnya menyerahkan banyak lembar uang kertas dan segera menyambar sepeda itu kemudian memakainya.

Sedangkan dua orang yang ditinggal itu hanya bisa melongo. "Hei, Nona! Ini terlalu banyak!" ucap pria yang masih kebingungan. Gadis itu tidak menoleh dan hanya melambaikan tangannya.

"Ada apa ya dengannya, Pein? Sepertinya dia berusaha mengejar mobil sport putih yang baru saja lewat tadi," ucap gadis di sebelahnya.

"Entahlah, Konan. Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, dengan uang ini aku bisa membeli sebuah sepeda motor dan jalan-jalan denganmu," ucap pria di sebelahnya sambil nyengir. Konan yang mendengar itu langsung menyenggol dadanya pelan.

"Kau ini tidak berubah, sayang," ucap Konan merasa kesal, "Ayolah sekarang saja kita cari Marushi. Kasihan kan dia," lanjutnya.

"Konan sayang, dia itu anjing. Penciumannya kan tajam. Lagipula dia yang akan menemukanku," ucap Pein memutar bola matanya. Konan hanya mengernyit.

"Menemukanmu? Bagaimana caranya?"

"Dia suka sekali dengan sepedaku. Dia selalu menciuminya setiap hari—aku pun tidak tahu kenapa. Kalau sepeda itu jatuh sedikit saja, aku sudah digonggonginya. Sheesh. Maka dari itu aku yakin dia pasti akan kembali padaku karena aku membawa sepedanya," ucap Pein dengan bangga. Tapi beberapa saat keduanya hening dan menatap satu sama lain.

"SEPEDANYAAAA!"


~ Sasuke Ino ~


Sementara itu, gadis yang mengendarai 'sepeda baru'nya itu akhirnya bisa berada di jarak yang bagus untuk sebuah pengintaian mobil sport itu. Dia tersenyum senang karena mobil itu tampaknya berjalan pelan-pelan saja. Itu merupakan sebuah keuntungan baginya.

"…?" Tiba-tiba gadis itu berhenti mengayuh sepedanya. Dia mengerem—berhenti sebentar. Dia mencoba mencerna dengan fakta yang sudah tersedia.

"Orangnya begitu angkuh. Mobilnya sport yang kuyakin itu pasti model untuk seorang pembalap. Tapi kenapa dia berjalan pelan—jangan-jangan…" gumam gadis itu memandang mobil putih yang masih berjalan dengan kecepatan lambatnya itu.

Matanya terbelalak kaget waktu dia menyadari sesuatu. Selama beberapa saat buffering akhirnya koneksi otaknya berjalan juga. Dengan penuh kesal dia mendecih keras dan meminggirkan dirinya di trotoar—semenjak dia berhenti di tepi jalan.

Dia turun dari sepeda. Melihat ada tempat duduk kosong—tempat duduk yang sama seperti kedua orang tadi, dia pun menghempaskan tubuhnya dengan kesal.

"Cih. Sial!" umpat gadis itu dengan kesal.

Dengan geram dia pun menendang sepeda itu dengan keras sampai sepeda itu terpelanting beberapa meter di depannya. Untung saja jalanan ini sepi, dan dia sudah jauh dari dua sejoli tadi—mereka benar-benar pintar dalam mencari daerah yang sepi.

Tiba-tiba terdengar suara raungan anjing di belakangnya. Dengan horror dia menatap belakang. Dan terlihatlah seekor anjing bulldog hitam dan besar yang menggonggong geram ke arah gadis itu. Matanya berkilat-kilat.

Gadis itu tidak tahu apa-apa dan tidak tahu kenapa anjing itu bisa ada di sini dan menerkamnya. Dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin menetes di seluruh tubuhnya, dia berusaha mengusir anjing itu.

"Hu-huss… a-anjing baik… ja-jangan nakal ya… huss…" ucap gadis itu. Tangannya mengibas-ngibas kecil.

Anjing itu sepertinya tidak mau menurut. Dia tetap mendekati gadis itu dengan menggeram marah.

Dia semakin tidak berkutik. Dia mundur pelan-pelan. Tapi tiba-tiba anjing itu meraung keras dan berlari ke arahnya. Dia pun kaget.

"KYAAA!" teriak gadis itu kaget dan reflek dia langsung berbalik dan berlari sekencang-kencangnya.

"SIAL, SIAL, SIAAAAL!" teriaknya lagi merasa frustasi.

Dia berlari sangat kencang sehingga angin mengibaskan tudungnya lepas dari kepalanya. Dan terlihatlah rambut pirang yang tergerai dengan bebasnya di punggung gadis itu.

"SHIIIIT!" umpatnya lagi.

Saking kencangnya, tanpa sadar gadis blondie itu telah melewati mobil sport putih yang sejak tadi berhenti itu. Pengendara mobil itu melihat adegan kejar-kejaran antara anjingn dan manusia, serta teriakan-teriakan yang melengking tinggi itu. Seketika pemuda itu tertawa geli melihatnya.

"Yamanaka Ino…" ucap Sasuke menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum. Sesaat terlihat guratan kesedihan di wajah tampan itu. Tapi itu semua segera ditepisnya sehingga yang tersisa hanyalah sebuah senyum geli.

.

.

.

~ To Be Continued ~


Huahahahha XD ngakak liat Ino kek gitu XD

Yasudahlah biarkan! Sekarang waktunya aku bales repiu~

Chika Chyntia : Yaa gitulah. Terserah Chika-san mau nganggep ini apa vs apa. XD penasaran? Mangkanya stay tune di fic ini dan tetep ngereview yak! XD makasih udah review.

Evil Smirk of the Black Swan : Yoosh, salam kenal juga ^^/ panggilnya apa nih? Panjang bener penname kamu XD. Makasih udah review.

rizta : Iyaa XD. Makasih udah review.

elfazen : Iyaa masama nee *hug balik ini aku kembali dari hiatus ! XD makasih udah review.

nona fergie : Yaa begitulah kelihatannya, terserah apa vs apa XD. Oh, iya bener juga. Di fic ini aku udah benerin kok! Makasih ya udah ngingetin :D makasih udah ngefave! Makasih juga udah review.

Yamanaka Thata : Maap yak nggak apdet kilat ini. XD makasih udah review.

xx : Tapi juga tidak bagus XD. Makasih udah review.

Yosh! terima kasih banyak sudah repot-repot baca fic ini X"D

Kalo udah mau repot-repot baca, boleh dong sedikit repot untuk tinggalkan kesan dan pesan di kotak pemilu(?) maksudnya repiu. XD

RnR ya! ^^/

V

V

V

V

V