Rindu. Bagimu sebuah kata itu sangat ambigu―dulu sebelum kau mengenalnya. Dia, wanita itu ... Wanita berambut merah muda dan tak ada orang lain yang memiliki rambut seindah itu. wangi cherry yang begitu menggodamu, manik hijau yang membuatmu tenggelam di dalamnya. Ah, sungguh ... Kini kau merasakan apa arti dari sebuah kata 'rindu', Uchiha Sasuke.
Naruto Masashi Kishimoto
OOC, Typo (s), Semi-Canon, Second POV, etc.
A Collaboration Fiction by. Voila Sophie and Air Mata Bebek
~oOo~
Angin malam yang begitu menusuk kulit tak kau hiraukan. Kaki jenjang dan kekarmu terus melompat-lompat pada atap-atap rumah. Wajah dengan rahang tegas mu itu semakin menegas―pertanda kau mencemaskan sesuatu. Rasa rindu yang selalu menghinggapi jiwamu akan segera meledak ketika kau sampai di depan gerbang Konoha. Namun, matamu menyayu. Rasa rindu mu masih tertahan ketika tidak ada siapapun di sana. Pukul sembilan malam―kau memperkirakannya. Lalu kenapa rasa rindumu masih tertahan eh, Uchiha Sasuke?
.
.
.
"Argh ... Kau dimana, Sakura? Kenapa sampai selarut ini belum pulang juga?" Sederet kalimat itu meluncur dari bibir tipismu. Raut wajahmu berusaha menunjukan garis-garis tegas yang tenang namun tetap saja terlihat cemas. Begitupun dengan gerak-gerik tubuhmu yang terus saja bergerak ke sana kemari―sungguh ... Ini bukan kau, Sasuke.
"Menunggu seseorang, tampan?"
Kau terdiam sejenak. Meresapi nada-nada yang dibuat oleh seseorang di belakangmu. Kau mengenali nada itu. Sangat kau mengenali ...
Kau membalikan tubuhmu dan mendapati sesosok orang yang kau sayangi―ah, bukan 'hanya sayang', tapi yang sangat kau sayangi dan sangat kau cintai.
"Sakura, sejak kapan kau berada di sana?" Kau bertanya dengan kalem dan datar. Menutupi habis-habisan rasa rindu yang sudah bocor dalam jiwamu. Kau bisa melihat wanita bermanik hijau itu terkekeh kecil dan mendekatimu. Aa ... Sepertinya Uchiha mu sudah tahu bagaimana ekspresimu tadi.
"Um ..." Sakura memutari dirimu hingga berhenti di depanmu dengan jarak dua jengkal. "Belum lama ini, Sasuke-kun."
Kau mendecih kecil lalu berucap, "baka." Tanganmu bergerak dan menyentil pelan dengan kedua jarimu. Sama seperti yang dilakukan Kakakmu terdahulu ketika kau melakukan hal yang seperti anak kecil.
"Hei ... hei ..." Nadanya tersirat tak suka. "Kau yang baka, Sasu ... Suami macam apa kau? Tidak menjemput istri cantik sepertiku di kantor Hokage dan kau malah bersikap aneh seperti tadi. Mondar-mandir di depan gerbang sangat bukan kau, tahu?"
Rona tipis di wajahmu muncul akibat celotehan istrimu. Semenjak kehamilan anak pertamamu, Sakura lebih sering sensitif dengan apa yang kau lakukan tiap detik.
"Itu gara-gara kau, tahu ..." Kau bergumam kecil.
"Sudahlah, aku merindukanmu," tanpa ijin Sakura, kau merebut kecupan di bibirnya. Lalu tanganmu mengelus perut Sakura di balik bajunya. "Dan juga si kecil."
"Aa ..." Kali ini kau berhasil membuat Uchiha barumu itu merona. "Hahaha ... Gomen, aku―err ... Juga."
"Kalau begitu kita pulang." Kau menarik tangan Sakura cukup kencang. Rasa rindu dalam jiwamu benar-benar akan meledak di tempat yang umum seperti itu. Kau hanya ingin membuka lebar rasa rindumu itu di rumah, tanpa ada siapapun tahu apa yang ingin kau lakukan pada istrimu itu.
Namun ...
"Ah! Jangan cepat-cepat, Sasuke-kun!"
Suara itu ... Intonasi itu ... Dan Kalimat itu membuat Sasuke berhenti mendadak. Pikiranmu melayang pada sosok yang berada di sampingmu itu. Lagi-lagi rahang tegasmu itu keluar―bukan marah. Tapi khawatir.
"Kau tak apa?" Hanya itu yang kamu ucapkan. Padahal hati ingin mengucap kata yang lebih spesifik dan mendetil.
"Aa ..." Sakura mengusap tengkuk belakangnya. Sakura merasa kalau kau menjadi sangat aneh―itu firasatnya. Dan Sakura berpikir sejenak mengapa kau begitu berubah semenjak istri mu mengandung benih cinta dalam rahimnya.
"Aku baik-baik saja," lanjut Sakura. "Tapi ..."
"Hn?"
"A ... Ano, aku lebih suka kau menggenggam tanganku dari pada menarikku, hehe ..." Kau bisa merasa kalau reaksimu agaknya berlebihan. Dalam hati kau menyesali perbuatanmu.
Kau menarik pelan tubuh Sakura ke dalam pelukanmu. Tangan yang melingkari tubuhnya membuat kau semakin ingin mengeratkan namun terurung―mengingat ada calon anakmu yang masih rapuh dalam rahim Sakura.
"Gomen. Aku hanya ..." Suara baritonmu keluar.
Sakura cukup terkejut dengan sikapmu yang semakin membuatnya bingung. "Kau kenapa?"
"Aku ... Takut kau akan hilang." Kau mengungkapkan perasaan yang terpendam selama seminggu semenjak Sakura tidak ada di sampingmu.
"Kehilangan itu perih. Sakit," jujurmu. Berbagai kisah dalam hidupmu membuat banyak perasaan yang kau alami. Senang, sedih, kecewa, marah―ah! Terlalu sulit kau ucapkan dengan kata-kata. Kau merasa dua buah tangan ikut melingkari dirimu. Dalam pelukmu, Sakura tersenyum tulus kepadamu.
"Sasuke-kun, aku di sini ... Akan selalu di sini. Juga bayimu. Seperti janji kita dahulu, kita akan membangun kembali kaln Uchiha. Iya, 'kan?" Suara Sakura kala itu kau rasa bagai panah dari dewi fortuna yang berhasil merobek kain pembungkus rindumu. Dan bahkan bukan hanya rindumu saja, tapi ketentraman hatimu, kelegaan jiwamu, dan ketulusan hatimu yang keluar perlahan-lahan dari kebocoran tempat mereka.
"Hn. Bukan hanya bayiku, tapi bayi kita. Aku ... dan kamu," jawabmu. Tangan kekar itu mengelus helaian rambut merah muda milik Sakura. Sakura mengeratkan pelukan tanpa kau minta. Dia memberikan senyuman bahagia dengan rona wajah yang berusaha ia tutup.
"Ya ... Bayi kita."
"Kalau begitu, kita pulang." Kali ini bukan tarikan yang kau lakukan. Namun sebuah gendongan bridal style agar mempermudah kau untuk meloncat dari atap ke atap yang lain. Atau kau memiliki maksud lain eh, Uchiha Sasuke?
End, or to be continued?
Author's Note : Holla hallo Duck is here ^3^ Bingung mau ngomong apa hehehe. Cuma komentar aja deh, ada kata kebocoran yah? Itu karena saya lagi mikirin UN fisika 8'D #plak
Lagi-lagi dibikinnya pas hari UN. Pasti pada ngira kita gak belajar lagi ya? Belajar ko! Belajar hatimu~ #dibakar
Euh... Masalah diksi yang kedua. Maapkan saya yang gak bisa membuat diksi sebagus empoi (Voila) dan serapih dirinyaaaa #nangisdipojokan
Okelah~ Duck dan empoi mengakhiri edisi kedua kali ini. Review and Concrete, please? *puppy eyes*
PS: Chapta tiga masih saya yang bikin. Tapi gak tau kapan #salah
So, tetap baca yaaa :)
Hatur nuhun tos ngabaca ieu carita. ^3^
