↗ Anne Garbo
→Tetangga←
Disclaimer : Haikyuu milik Furudate Haruichi
Warning : peringatan warna warni ada disini. Tapi yang paling saya ingatkan adalah
Saat anda menemukan ranjau typo, dimohon agar jangan diinjak
Hai~
Selamat datang di kumpulan drabble ini dan selamat menikmati ceritanya!
Anne juga ingin sekalian promosi page TsukkiYama Indonesia, yaitu SALTY (Share All the Love : Tsukishima & Yamaguchi). Ayo ketemuan disana ~ kita berbagi asinan dan manisan bersama 3
www . facebook .kom /groups / 609918412501460 /
(hapus spasi dan com, itu maksudnya)
→Tetangga←
Dia tahu bahwa ini adalah pukul dua siang. Matahari masih panas terik menyirami permukaan bumi dengan sinarnya. Namun bukan karena itu yang membuat Tsukishima Kei terpeluh-peluh meski masih dalam lidungan AC di dalam apartemen miliknya.
Tak dia sadari bahwa sudah lima menit dia masih berdiri di tempatnya semula. Berada di dalam kamarnya, menatap ke luar jendela dalam apartemen lantai sebelas. Tak dia sadari juga bahwa celananya terasa semakin sempit. Tangannya tertutup dan terbuka seolah ingin meraih.
Bagaimana reaksi tubuhnya tidak seperti itu jika di siang hari bolong ini, saat Tsukishima hendak menutup jendela kamarnya, matanya menangkap sebuah pemandangan di gedung apartemen seberangnya. Posisinya satu lantai di bawah, jendela yang juga sama-sama terbuka lebar terdapat seorang pemuda yang berdiri membelakanginya dengan tubuh yang tak dilapisi kain satupun.
Biasanya Tsukishima tidak peduli pada hal porno ataupun kebiasaan aneh orang orang, namun anehnya kali ini – entah setan apa yang merasukinya – Tsukishima berhenti di posisinya. Matanya menatap punggung coklat sawo matang, pinggang yang ramping dan bokong yang membusung. Rambutnya pendek berantakan dan berwarna gelap.
Dia terlihat seperti sedang bermain dengan dirinya sendiri. Tsukishima dalam benaknya sampai memastikan bahwa tidak ada orang lain di kamar itu. Kedua tangannya yang tadi hanya berada di sisi tubuhnya kini naik dari mengelus paha hingga menangkap bokongnya sendiri. Meremas-remas kemudian ditarik ke kanan dan ke kiri untuk memperlihatkan –entah pada siapa- lubang anusnya. Pemuda pirang ini sampai membenarkan letak kacamatanya untuk melihat ada berapa jari yang masuk saat itu. Namun kedua tangannya sama-sama sibuk untuk saling menginvasi satu lubang yang sama.
Tsukishima bisa merasakan sebutir keringat menetes dari dahinya dan turun hingga dagu. Ia menyeka keringat itu dengan bahunya. Matanya sibuk tak ingin teralihkan. Kedua tangannya sibuk untuk menurunkan resleting celana.
Sosok itu mengeluarkan jari dari anusnya saat Tsukishima berhasil membebaskan kejantanannya yang menegang. Sosok itu membungkuk seolah sedang meriah sesuatu di bawah kakinya yang semakin menunjukkan bongkahan miliknya dan lubang anusnya – yang meski terlihat sedikit oleh Tsukishima – menganga.
Sekilas Tsukishima melihat sesuatu yang lain diantara paha jenjang sosok itu. Buah zakar. Tsukishima mengangkat sebelah alisnya. Dia baru menyadari bahwa sosok yang hendak membawanya ke dunia mastrubasi adalah seorang pria?
Namun begitu punggung pemuda tersebut kembali menegak dan tangannya kembali di bawa ke sisi tubuhnya dengan sebuah 'mainan' berwana merah muda membuat Tsukishima kembali berubah pikiran. 'Ah peduli setan!' gumamnya sambil kembali menggenggam kejantanannya.
Matanya kembali fokus kepada sosok tersebut. Kepalanya menengok ke samping, yang membuat wajahnya sedikit terlihat oleh Tsukishima. Wajah yang membuatnya tak menyesal untuk mengeluarkan kemaluannya dan hendak bermastrubasi dengan melihat bokongnya. Wajah yang Tsukishima pikir akan lebih erotis jika berada di bawahnya dan menjeritkan namanya.
Wajah pemuda itu terlihat berkonsentrasi dengan mainan di tangannya. Ibu jarinya menekan sebuah tombol yang membuat mainan tersebut bergerak gila di genggamannya. Pemuda tersebut tersenyum puas – senyum polos namun erotis. Senyum yang tahu-tahu membuat kejantanan Tsukishima semakin berdiri tegak.
Tangan itu kembali ke belakang bersamaan dengan mainan barunya. Sebelah tangan lagi mulai menyibukkan diri untuk memeras sebelah bongkahan bokongnya. Kemudian ditarik bokong tersebut unuk membuka akses lebih mudah menuju anusnya. Jari dimasukan untuk membuka lebih lebar lubang itu dan yang terakhir, saat mainan itu sedikit demi sedikit tersedot masuk ke dalam.
Tsukishima mengocok kemaluannya semakin cepat begitu mainan yang barsarang di bokong pemuda tersebut ditekan tombolnya yang mengakibatkan mainan tersebut bergerak liar. Tsukishima dapat melihat bagian luar dari mainan itu bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tempo yang cepat. Tsukishima juga dapat melihat bagaimana pemuda tersebut dengan frustasi menggapai benda apapun yang terdekat sambil tetap mempertahankan posisinya. Kakinya gemetar. Sesekali nyaris terantuk namun tegap kembali sambil melebarkan kakinya.
Nafas Tsukishima semakin tercekat begitu melihat sosok itu kembali menyibukkan kedua tangannya dengan meraih mainan tersebut dan ditarik keluar kemudian dimasukkan lagi. Terus begitu yang lama kelamaan semakin cepat dan Tsukishima tahu bahwa dia semakin dekat.
Tsukishima tahu bahwa dia juga sama. Karena begitu satu hentakan terakhir, tubuh itu bergetar hebat. Pemuda tersebut jatuh ke lantai dan tubuhnya menghilang di balik tembok. Tak terlihat dari jendela. Tsukishima melihat tangannya sendiri yang kini dibasahi oleh cairan berwarna putih. Pikiranya yang berkabut mulai terpanggil sadar kembali.
Saat hendak meraih tissue ujung mata Tsukishima kembali menangkap sosok itu yang rupanya telah berdiri kembali. bedanya kini bukan memunggunginya, malah menghadapnya, Melihatnya. Kepalanya mengadah untuk melihat Tsukishima yang berada di seberang satu lantai lebih tinggi dari kamar apartemennya.
Wajahnya memerah. Bibirnya tergulung senyum malu dan tangannya..
Tangannya yang masih basah bekas dia pakai untuk mengobok-obok lubangnya ditunjuk kea rah Tsukishima yang melongo di depan jendela. Tangan itu bergerak, memanggilnya dua kali. Bibirnya oh yang entah sejak kapan bergerak secara sensual seolah berkata "Se-ka-rang," mencuri pasokan oksigen di setiap sudut rongga pernapasan milik Tsukishima. Mata mungil itu mengedip nakal sekali sebelum akhirnya menghilang bersamaan dengan jendela yang tertutup tirai.
Tsukishima masih terpaku satu menit kemudian. Otaknya yang biasanya jenius mencerna sedikit lebih lama untuk mengartikan sandi-sandi yang dikirimkan oleh pemuda tersebut. Begitu lampu imajiner di atas kepalanya menyala bersamaan dengan bagian selatan tubuhnya kembali menegak, Tsukishima langsung balik kanan. Sampai lupa membawa kunci ataupun dompet, dia berlari menembus panas matahari di siang bolong untuk menyebrang ke gedung apartemen tetangga. Kemana lagi kalau bukan untuk mengganti posisi mainan merah muda tadi dengan miliknya.
Masa bodo dengan tengah hari bolong dan panas-panasan.
→FIN←
