Comeback to Me

[A Little Piece of Your Love sequel]

Cast:

Min Yoongi

Park Jimin

Kim Namjoon, Jeon Jungkook

Rated: T

Romance / Hurt, Comfort / Min!top, Park!bottom

.

.

Cerita ini hanyalah fiksi belaka

.

Enjoy


"eomma, Hoseok -hyung mengambil Bunny..

Eomma…

EOMMA!"

Jimin mengerjap kaget dari lamunannya, dia mengedarkan pandangan dan langsung menemukan Jungkook sedang mengerucutkan bibirnya marah sambil berkacak pinggang, sedangkan Hoseok –anak tetangga, teman bermain Jungkook- sedang menenggelamkan diri dalam pelukan Bunny, sebuah boneka kelinci yang ukurannya lebih besar dari pada tubuh kecilnya sambil tertawa-tawa.

Jimin yang sedang melipat pakaian tersenyum melihat anak tunggalnya, "berbagilah sayang, Hoseok hyung juga ingin bermain."

"ish, bukan begitu, eomma.. Hoseok hyung sudah kukasih Sunny tapi dia tetap mengambil Bunny. Kan kasihan Sunny ditelantarkan, nanti Sunny sedih karna tidak punya teman. Aku tidak suka Hoseok-hyung pilih kasih begitu"

Jimin menahan tawa melihat Jungkook merengut seraya menatap jengkel Hoseok yang berusia satu tahun lebih tua darinya. Jimin memasang mode pura-pura berpikir, "bagaimana kalau Kookie yang menemani Sunny main? Supaya dia tidak sedih lagi"

"tapi aku suka Bunny karna dia kelinci"

"Sunny juga kelinci, Kookie.." Jimin mengingatkan

"eh?" Jungkook segera melempar pandangannya pada boneka kelinci yang tergeletak di atas karpet, diabaikan. boneka itu persis sama dengan Bunny, bedanya hanyalah Bunny memakai pita biru dilehernya dan Sunny memakai pita merah dikepalanya. Menyadari itu, Jungkook membuang wajah cemberutnya dan memekik senang. Dia berlari kearah Sunny dan segera menjatuhkan diri dalam pelukan hangat bulu boneka itu sambil sesekali berteriak kagum pada dirinya sendiri, "wah, eomma benar. Sunny itu kelinci. Hahaha" dan juga "Hoseok hyung lihat, Sunny dan Bunny kembar. hahaha"

Jimin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakukan anaknya. Boneka kembar itu sudah menjadi teman main Jungkook sejak 2 minggu yang lalu dan dia masih tidak sadar bahwa 2 boneka itu mirip satu sama lain.

Dasar otak lamban, seperti seseorang.

Jimin kembali melanjutkan kesibukannya. Masih ada setumpuk pakaian untuk dilipat dan dirapikan tapi Jimin malah sempat-sempatnya melamun. Memang, sejak pertemuannya dengan Min Yoongi kemarin, Jimin sering menghabiskan harinya untuk melamun. Dia memikirkan Yoongi yang tidak pernah berubah sejak 6 tahun mereka berpisah, namja itu masih sama; dingin dan hangat sekaligus dalam satu tubuh, Jimin hanya bisa tersenyum memikirkannya.

Jimin menggelengkan kepala untuk mengusir jauh-jauh Min Yoongi dari pikirannya. Jimin masih banyak kerjaan; setelah pakaian yang setumpuk ini, masih ada piring sisa makan malam yang harus dicuci, juga bahan ajar yang harus disiapkan untuknya mengajar besok.

Hampir setengah jam Jimin berkutat dengan pakaian-pakaiannya, membiarkan Jungkook memarahi Hoseok (lagi) karna tidak memberi Bunny makan yang benar ("kenapa Hoseok hyung memberi Bunny wortel? Bunny itu suka kue"), dan saat itu bel apartemen berbunyi. Jimin mengantar tumpukan pakaian yang sudah terlipat rapi kedalam kamar sebelum membukakan pintu.

Namjoon

Jimin terkejut setengah mati saat mendapati Namjoon di depan pintu apartemen mereka, dengan cengiran bodoh khas-nya dan sebuah tas karton warna coklat dalam pegangannya.

"yatuhan, Monny hyung" Jimin segera memberikan sebuah pelukan hangat untuk Namjoon yang disambut kekehan geli.

"tolong jangan panggil aku begitu lagi, Jim. Aku sudah cukup tua" ujar Namjoon masih tertawa mengenang masa lalu. Jimin memang sering memanggilnya Monny karna Namjoon dulu tergila-gila pada musik Rap dan meminta semua orang memanggilnya RapMonster.

Jimin ikut tertawa sambil membiarkan Namjoon masuk ke dalam apartemennya. Namjoon bersikeras tidak mau duduk di ruang tamu, jadi Jimin mengajaknya ke dapur, duduk diruang makan, sedangkan Jimin melangkah ke benches membuatkan Namjoon kopi. Tas karton tadi berisi beberapa short-cake yang langsung diserbu Jungkook dan Hoseok setelah mereka berkenalan

"apa kabar Jim?"

"aku baik, kalau itu yang ingin kau dengar" Jimin membawakan secangkir kopi untuk Namjoon dan segelas air putih untuk dirinya sendiri, "bagaimana denganmu, hyung? Kabarmu baik? Jinnie hyung bagaimana?"

"seperti yang kau lihat, aku selalu menjaga tubuhku tetap fit supaya bisa menjaga Yoongi, anak itu benar-benar susah menjaga kesehatannya" Jimin berdehem salah tingkah seraya meneguk air putih, "dan yaah, Jinnie baik. Kami menikah, kau tau"

"heol. Jinjja?"

Namjoon terkekeh melihat respon Jimin yang berlebihan, harusnya dia sudah tau Namjoon pasti akan menikahi kekasihnya, Seokjin. Tapi Namjoon tetap mengangguk sambil menyeruput kopinya. Perhatiannya teralihkan pada suara cempreng Jungkook yang sedang menertawakan Hoseok yang kini sedang menari dengan sangat payah meniru tarian sebuah boygrup yang sedang tampil di tv.

"dari mana kau tau rumahku, hyung?"

"hei ayolah. Busan itu kecil" Namjoon menjentikkan kuku jari tengahnya, membuat Jimin memutar bola mata malas bercampur geli, "aku punya banyak, kau tau, 'jaringan' untuk mencari tau hal-hal seperti ini"

"cih. Kenapa juga kau mencariku?"

"jangan pura-pura bodoh, Jim. Kau tau untuk siapa aku bekerja" Jimin kembali berdehem dan meneguk air putihnya sampai habis, "dia menyuruhku membawamu padanya. Kau dan anak laki-lakinya, Min Jungkook"

Tersedak, Jimin dengan segera melempar pandangannya pada Jungkook. Anak itu kini sedang berbaring pada Sunny dengan Hoseok yang kelelahan dalam pelukannya, "J-Jungkook bukan anaknya" seru Jimin dengan kurang yakin.

Namjoon menghela nafas berat, kemudian menyeruput kopinya sedikit "bohongmu kali ini benar-benar payah, Jim. Dilihat dari sudut manapun anak itu mirip sekali Yoongi –dia Min Yoongi dalam versi anak kecil. Kalau Yoongi bukan ayahnya, lalu siapa lagi? Ini tujuanku datang kemari, Yoongi ingin kau kembali"

Jimin menyipitkan matanya, hatinya tidak tenang bercampur kesal dan sedikit harapan "dia menyuruhmu mengatakan itu padaku? Dia mau KAU yang mengatakan itu?"

"jangan berprasangka buruk, Jim" Namjoon menggeleng lemah mengingat apa yang dilakukannya sebelum datang kesini "dia sering tidak sehat. aku memaksanya untuk tetap dihotel dan beristirahat. Kau tau betapa keras kepalanya Yoongi itu, jadi aku terpaksa meminta kunci lain pada staff hotel dan mengunci pintu kamar Yoongi dari luar"

Jimin mematai sebuah kartu yang diyakininya adalah kunci pintu hotel ditangan Namjoon, dia menghembuskan nafas berat, "kau tau alasan aku pergi, Hyung –"

"kembalilah" potong Namjoon, "dunia tidak sekejam dulu. Mereka mulai menerima hubungan semacam ini sekarang. Kau tau bagaimana tersiksanya Yoongi setelah kau pergi?"

"dan kau lihat bagaimana suksesnya Min Yoongi setelah aku pergi?"

"demi tuhan, Park Jimin, jangan ikut-ikutan keras kepala" suara Namjoon meninggi, dia memijit pelipisnya, "dia terlihat baik dari luar, tapi cobalah tengok ke dalam. Dia hancur Jim. aku bahkan sudah bosan menyuruhnya berhenti bekerja terlalu keras untuk melupakanmu, aku sudah bosan menerima panggilan dari rumah sakit sebulan sekali hanya untuk mendengar bahwa Yoongi colaps lagi, dan aku sudah terlalu jengah melihatnya menangisimu, Jim. Jangan egois, kembalilah"

Jimin terperangah mendengar itu, dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi akhirnya menutupnya kembali dan membuang pandangan pada pot bunga dekat kulkas.

"dengar Jimin, aku tau kalian masih saling mencintai. Dan walaupun yang kau khawatirkan tetap terjadi, kau tau perusahaan kami sudah cukup kuat untuk jatuh begitu saja hanya karna hubungan kalian. Sekali lagi jangan egois, Jim, pikirkan perasaan Yoongi, juga perasaanmu sendiri. Pikirkan juga Jungkook, dia bahkan tidak tau siapa ayahnya" Namjoon menatap Jungkook lagi, kedua anak kecil itu sudah tertidur di depan tv dengan saling berpelukan,

"kembalilah"

Jimin menggigit bibir bawahnya. Namjoon benar, Jimin masih mencintai Yoongi-nya, dan dari pelukan yang diterimanya kemarin, dia tau Yoongi juga masih menunggunya. Namun, dia sudah pergi selama 6 tahun, dan tidak mungkin kembali hanya karna mereka bertemu lagi. Selama 6 tahun Jimin membangun hidupnya di Busan; dia sekarang seorang dosen musik di salah satu universitas, dia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Dan Jungkook juga punya dunianya sendiri disini, sehingga sulit membawanya pada dunia baru yang tidak dikenalnya. Semua hal itu membuatnya dilema

Jimin menggeleng pelan, "aku… tidak tau, Hyung"

"kami seharusnya pulang hari ini" kata Namjoon, dia menghela nafas berat kemudian mulai bergerak mengambil jasnya yang tersampir di punggung kursi, "tapi karna Yoongi menginginkanmu, kami akan menunda keberangkatan sampai lusa. Tolong pikirkan baik-baik, kalau kau tidak kembali, aku yakin kau akan mendengar berita kematian Yoongi sebulan kemu–"

Jimin melebarkan matanya "Hyung, bicara apa kau ini"

Namjoon tertawa, "dia melewatkan 6 tahun tanpamu dengan keluar masuk rumah sakit, Jim, tidak ada yang tau kalau bulan depan ternyata bulan terak–"

"demi tuhan, Hyung, kau ini"

Kali ini Namjoon terbahak, sangat keras hingga membuat Hoseok menggeliat tidak senang karna terganggu (Jungkook bergerak menepuk-nepuk bahunya supaya tidak terbangun) "ayolah Jim, aku juga punya keluarga yang harus kuurus dan aku malah sibuk mengurusi kehidupan cinta kalian." Namjoon menyodorkan kartu namanya pada Jimin, "Ingat, kami pergi lusa. Pikirkan baik-baik, telpon aku kalau kau ingin menyampaikan jawabanmu. Kau tau Yoongi akan sangat menanti jawaban iya darimu."

Jimin diam saja, tapi dia tetap mengambil kartu nama Namjoon, menyelipkannya di bawah vas bunga di atas meja.

"Baiklah. Aku pulang dulu"

"akan kuantar"

"dengan senang hati"

Jimin mengantar Namjoon hingga ke halaman depan gedung apartemennya. Namjoon mengelus bahunya sekali, berbisik untuk meyakinkan Jimin kemudian masuk kedalam audi hitamnya yang langsung pergi dari sana..

.

Di sebrang jalan, dua orang pria mengamati Jimin dari dalam mobil mereka. Jimin sudah masuk kedalam gedung apartemennya saat salah seorang dari dua pria itu memasang rokoknya,

"menurutmu dia kenal Min Yoongi?"

Temannya yang duduk di belakang kemudi menggaruk beanie-nya, "sepertinya begitu, Kim Namjoon mendatanginya berarti dia cukup penting untuk Min Yoongi"

"apa dia bisa jadi umpan yang bagus?"

"bisa saja," jawab si pengemudi, "aku mengawasinya kemarin, mereka berpelukan di pantai. Sepertinya cukup kuat untuk dijadikan umpan. Bos akan senang"


TBC


A/N:

Halo, nae sarangdeul

Fic ini dipersembahkan untuk readers yang minta sequel ALPOYL. Sequelnya twoshot yaa. Saya rencana mau buat oneshot sih, tapi saya lagi dalam masa krisis (?)
saya mengalami writer block, you know, itu semacam penyakit para penulis ketika mereka tiba-tiba gak pengen ngelanjutin tulisan mereka dan malah berniat membuat tulisan baru. Penyebabnya (untuk saya) mungkin stress, karna akhir-akhir ini saya lagi banyak pikiran, cepet sakit kepala dan akhirnya jadi banyak tidur. Yaampun jadi curhat. Haha.

Dan penyakit ini berbahaya, buat reader, hehe, karna TTAI baru chapter 4 dan TR baru chap 3 dan kemungkinan theend-nya masih lama. Saya akan mencoba kembali fokus pada dua fic itu tapi mungkin saya jadi lama update. Maaf ya.

Dan soal CTM (bukan obat) ini, saya mengambil ide dari seorang Malaysian reader dengan nama ParkJimin4Ever yang me-review ALPOYL. Walaupun saya ga ngerti-ngerti amat maksudnya "rumah Yoongi kat Busan" itu apa, hehe, tapi saya tertarik dengan idenya (sebenernya itu karna saya gapunya ide sequelnya bakal jadi gimana) dan jadilah Comeback To Me.

JHope y'guys like it. Enjoy my another work, baes :*

thank you for reading, reviewing, faving and even following this Fic. you guys always be my happiness. la la la la la la la la la la happiness...

Ah, ada yang mau invite saya di BBM? 5E1103ED
tapi itu bukan personal BBM. Saya memakai konsep Hantu dan saya bersikeras tidak membawa real life di dalam dunia kita ini, hanya yaah siapa tau aja reader sekalian pengen dekat sama saya. Hahaha. let's be friend.
atau reader-deul pada pake apk? Kayaknya PM-PM-an disitu asik deh. Kayaknya sih. Tapi ada yang tau kenapa PM di pc gabisa masuk di PM apk?

Yaudahlah.. bye~

Deep Bow, Red Casper