Guys, this is too much omg I can't thank you enough T_T Thank you thank you so much, udah nyempetin diri baca cerita ini /bows/ I'm too happy odg

Mohon maaf bila ada salah2 kata di dalam cerita2 ini(?)

Mau kasih warning dikit aja(?), chapter ini ratingnya naik dan kemungkinan eneg bakal semakin banyak/? But, may you enjoy this

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Angin bertiup sekenanya, menyinggung ujung atap sebuah gudang tua usang yang terlihat tak layak hampir menerbangkan sekat-sekat di sekelilingnya. Sapuan udara memaksa debu-debu yang bertengger di ujung penyekat untuk ikut mengalun bersamanya.

Angin yang bertiup menyesak masuk melalui celah dan berayun menyibakkan surai hitam seorang pemuda yang tengah menutup mata. Tubuhnya bergidik sejenak, menikmati sensasi dingin dari angin yang menjalar di sekujur tubuhnya dan perlahan membuka matanya.

Hanya untuk menyadari bahwa ia tak bisa menggerakkan kedua tangannya.

Tubuh itu bergerak-gerak dan bibirnya hendak mengeluarkan suara, namun tak ada satu ucapan yang keluar dari dalamnya.

Manik indah itu menatap tangan yang terikat rapi pada kursi yang didudukinya dan tali pengikatnya hanya terasa semakin mengerat dan amat menyakitkan jika tubuh itu meronta-ronta. Serabut-serabut kasar dari tali membuat pergelangan tangannya memerah.

Ia hendak berteriak. Ruangan yang gelap dan pengap, dengan jendela besar di sebelah kanannya dan langit di luar semakin menghitam menambah rasa takut di dalam dirinya. Beberapa kali mencoba, nampaknya suaranya terlalu serak untuk itu.

Manik bulat yang terlihat menyipit dan sayu berkedip, menatap sekeliling ditemani lantunan irama lenguhan dari bibir pucat itu. Tak ada satu penjelasan apapun yang mampu menjawab keadaannya sekarang ini. Proses ingatan informasi dalam otaknya tak berjalan manis, orang-orang bilang keadaan panik akan mengacaukan sistem neurologimu.

Ia hanya ingat terakhir kali dirinya berada di taman dan duduk menatap orang-orang berlalu lalang setelah perdebatannya dengan Taehyung.

Oh, Taehyung.

Seharusnya mereka mengakhiri hari itu dengan ending yang bahagia, layaknya dalam film-film percintaan. Mereka akan berbagi ciuman perpisahan sebelum Taehyung pamit dan kembali ke kediamannya. Tapi tidak tanpa kata-kata manis yang akan keluar dari bibir pemuda itu untuknya. Dan sebuah ucapan 'goodnight'.

Namun, entah seberapa besar dirinya mengharapkannya hal itu tidak terjadi. Tak akan terjadi..lagi.

Sebab sesungguhnya ia hanya dihadapkan dengan Taehyung yang berbicara serius dengannya. Dengan Taehyung yang berkata bahwa nilainya melonjak turun. Taehyung yang berkata bahwa ia melupakan dirinya sendiri. Taehyung berkata bahwa ia melupakan masa depannya. Melupakan apa yang seharusnya ia lakukan. Melupakan keluarganya.

Karena Taehyung hanya sibuk bermain dengan dirinya.

.

.

.

.

.

.

Jungkook sedikit bergidik di atas kursi panjang tempat di mana ia berbagi dengan seseorang yang selama setahun ini telah menemaninya. Tak memiliki ide apa yang akan dilakukan pemuda di sebelahnya saat ini. Ia sendiri tak mengerti mengapa mendadak dirinya merasa bahwa sesuatu yang buruk akan menimpanya.

"Aku tidak datang semalam,"

Suara berat dari Taehyung yang memulai percakapan membuatnya tersentak. Dengan ragu ia menatap pemuda itu.

"Dan juga tidak membalas panggilan-panggilanmu,"

Jungkook tidak menemukan pandangan hangat saat dirinya bertemu dengan tatapan Taehyung. Ia tak pernah melihat ekspresi yang dikeluarkan Taehyung saat ini. Cold and distant.

"Karena kupikir nilaiku lebih membutuhkanku,"

Jungkook mengeratkan kepalan tangannya yang diletakkan di atas paha. Berbagai pikiran mulai berkecamuk di dalam kepalanya.

"I–itukah alasanmu..? M-maaf, bila panggilan-panggilanku mengganggu waktu belajarmu.. Aku tahu nilaimu sangat penting.." ia jeda sejenak untuk melihat reaksi dari Taehyung.

"..T-tapi bukankah a-aku juga penting?"

Jungkook tak tahu dari mana ia mendapatkan keberanian untuk mengatakannya. Ia sangat mengerti bahwa Taehyung adalah tipe seseorang yang peduli dengan pendidikannya. Namun Taehyung sudah berkomitmen dengan dirinya, apa mungkin Taehyung bisa dengan mudah menghancurkan komitmen itu? Jungkook tahu Taehyung menggunakan akalnya dan tidak berbuat sesuatu tanpa memikirkan resikonya. Terlebih, Taehyung telah berkata bahwa ia mencintai Jungkook.

Pemuda di sebelahnya mendengus pelan yang terkesan sarkastik.

"Kau mau tahu? Setahun ini aku terjebak dalam dirimu," ia terkekeh pelan, "Tenggelam dalam permainan asmara seorang berandalan dengan berkata bahwa itu adalah cinta pertama," Jungkook merasakan perlahan kedua kakinya kehilangan rasa.

"Dan parahnya berandalan itu menganggap dirinya lebih penting daripada kehidupan dan masa depanku," Jungkook tercekat, cengkramannya semakin kuat.

"Terlebih lagi, aku yang sudah berharap ia mengubah kelakuan berantakan dirinya ternyata tak mendapat balasan apa-apa, ia malah tetap berandal dan bergaul dengan sesamanya. Ia membuatku lupa pada diriku sendiri, lupa bahwa aku memiliki keluarga yang menunggu keberhasilanku, tujuan hidupku, karena aku terlalu sibuk menghabiskan waktuku untuknya,"

Jungkook tak mengerti. Sama sekali.

Taehyung berkata dengan lancar dan terlihat tenang, seakan sedang menceritakan dongeng untuknya. Dengan kekehan sarkastik dan tanpa menatap dirinya.

"Wow, aku tak percaya aku membiarkan diriku jatuh ke dalam pesonamu. Seharusnya aku tahu kau adalah masalah,"

Kepalan Jungkook memutih, giginya menggeretak selagi tubuhnya diselimuti dengan aura kemarahan yang bercampur dengan kesedihan dan kekhawatiran. Mendengar ucapan terakhir Taehyung, Jungkook dengan cepat melayangkan pukulannya tepat ke atas dagu sempurna milik Taehyung.

Diselingi engahan, Jungkook bangkit dari duduknya dan masih mengepalkan tangan ia menatap pemuda dua tahun lebih tua darinya yang tengah meringis sembari memegangi dagunya yang memerah dan bibir bawahnya yang sobek akibat hantaman Jungkook dengan manik yang dihiasi bulir-bulir air.

"Argh.." rintih Taehyung sembari mengusap darah yang menempel di sekitar bibirnya. Sesekali ia meringis tatkala merasakan rasa perih.

"..Fuck," kembali dengan lenguhan nafas, "Bastard, fuck-head!"

Taehyung menundukkan kepala, masih memegangi dagu lebamnya selagi Jungkook mengumpat padanya. Tak ada tanda-tanda Taehyung akan mendongakkan kepalanya dan membalas tatapan Jungkook.

Bulir air mata tak sanggup dibendung oleh Jungkook, mesti pemuda itu terlihat marah, hatinya telah hancur menjadi bagian-bagian kecil. Kemarahannya mampu menghabisi seseorang jika dirinya sudah dikuasai oleh emosinya.

Namun, ini adalah Taehyung.

Sebelum Taehyung mendengar pekikan tangisannya yang seperti anak kecil, Jungkook dengan cepat berlari meninggalkan Taehyung. Tidak mempedulikan sekelilingnya yang mungkin saja mempertanyakan seorang pemuda berlari layaknya orang gila dengan penampilan kacau dan wajah sembab.

Ia tidak menengok ke belakang. Ia sudah tidak peduli dengan Kim Taehyung.

.

.

.

.

Ia sudah berjanji pada dirinya tidak akan mengingat seseorang bernama Kim Taehyung lagi. Setelah kepalan tinju yang ia layangkan pada dagu tajam pemuda itu, dengan ekspresi kemarahan bercampur rasa sakit yang dirasa tak ada bandingannya dengan kepalan tinju. Setelah semua itu..

Fuck you, Jungkook. Kau mestinya telah bersumpah pada dirimu sendiri tak akan peduli pada Taehyung. Tak akan berminat pada apapun yang berhubungan dengan pemuda itu. Tidak lagi berkomentar mengenai isu-isu kedekatan pemuda itu dengan teman wanitanya.

Namun pertahan dirinya yang disangkanya begitu kuat dengan cepat runtuh.

Ia butuh Taehyung.

Ia butuh pemuda itu.

Ia mungkin akan menendang selangkangannya, namun ia butuh Taehyung.

Sekarang..

Mendadak tubuhnya terlonjak begitu mendengar suara decitan pintu. Seseorang..tidak, ada dua orang memasukki ruangan. Salah satunya memiliki suara yang membuat Jungkook merasa ingin muntah,

"Long time no see, bunny,"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

[twt: sugarnim]

Part kedua done wehehehe.

Maafkan akuuuuu aku tau ini pendek, but seriously, seriously, seriously, aku ngerasa mesti dipotong di sini karena yah yah yah enak aja(?)

Aku sedikit mengalami buntu dan ugh mian, deeply sorry guys I love you, still. Akan berusaha lebih lagi nanti okeokeoke.

Thanks for reading~! Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktunya /emot hati/

Kindly do me the three big favors, favs/follows/reviews~!

Seeyou~!