Terima Kasih
Bagian II (Ending)
Naruto©Masashi Kishimoto
"Aku ingin bertemu Sasuke."
.
"Silahkan masuk," ujar Sakura mempersilahkan Karin masuk. Wanita berambut merah panjang itu hanya diam dan mengikuti langkah Sakura yang membawanya menuju ruang tamu rumah Sasuke tersebut. Ada sebuah pemikiran di mana ia berpikir Sakura adalah wanita yang dinikahi oleh Sasuke. Wanita itu seakan tak canggung memasuki mantan ketua timnya tersebut. Tidak. Mungkin saja wanita itu bukan istrinya. Wanita itu hanya rekan Sasuke, tidak lebih. Karena Karin dapat mengingat dengan jelas bagaimana pria bermarga Uchiha tersebut ingin membunuh wanita berambut merah muda sebahu itu. Namun, Karin pun dapat mengingat dengan jelas bagaimana tetesan airmata yang mengalir membasahi wajah wanita itu ketika ia gagal membunuh Sasuke. Ia bisa melihat kesakitan wanita itu hingga tanpa sadar membuatnya ikut menangis. Dan ia pun bisa melihat dengan jelas cinta yang begitu besar untuk Sasuke dari wanita itu. Entah kenapa ia menjadi tak memiliki nyali untuk bertemu dengan Sasuke.
Wanita itu tidak seperti dirinya.
"Aku akan memanggil Sasuke-kun dulu. Kau tunggulah di sini," kata Sakura sambil mempersilahkan Karin duduk di salah satu sofa sementara ia menuju kamar Sarada. Sasuke pasti masih di sana karena sarapan yang ia siapkan masih utuh belum tersentuh. Dan dugaannya benar. Sasuke masih bersama Sarada. Bahkan pria itu sedang menyuapi gadis kecil mereka. Aa, sejak kapan Sarada menjadi begitu manja seperti sekarang ini? Gadis kecilnya terlihat tak ingin jauh dari ayahnya. Sakura bahkan tak tega untuk mengganggu mereka berdua. Namun tamu itu membutuhkan Sasuke.
"Mama!" Seru Sarada riang. Sakura hanya membalas dengan senyuman. Sasuke menoleh ke arahnya dan mendapati tatapan tak biasa dari Sakura. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan wanita itu. Ya, ia mengerti.
"Kau makan sendiri. Papa ada urusan," titah Sasuke. Sarada menatapnya dengan pandangan bertanya. Namun akhirnya dia mengangguk tak membantah. Sasuke memberikan piring berisi sisa makanan Sarada pada gadis itu dan kemudian mengikuti Sakura meninggalkan gadis itu sendirian di kamarnya. Pintu kamar Sarada sudah ditutup.
"Ada apa?"
"Ada seseorang mencarimu." Jawab Sakura. Ketika Sasuke hendak bertanya siapa, wanita itu terlebih dahulu memanggil namanya, membuat ia menyadari siapa orang yang ingin menemuinya.
"Karin, apa yang kaulakukan di sini?" Tanya Sasuke dingin, menuntut. Sakura terkejut. Ini pertama kalinya semenjak mereka menikah, Sasuke berkata dengan nada yang dingin. Sasuke sudah berubah, itu yang Sakura tau. Namun kenapa sekarang pria itu seakan kembali pada dirinya yang penuh kegelapan? Perlahan, rasa takut menghantui Sakura.
"Tentu saja menemuimu. Kita sudah lama tidak bertemu," jawab Karin santai. Sasuke yang tidak sehari dua hari mengenal Karin tentu tau bahwa itu bukanlah jawaban Karin yang biasanya. Wanita itu tidak suka berbasa-basi. Dan mengatakan hal seperti itu. Karin adalah tipe tsundere. Mustahil rasanya Karin blak-blakan tentang perasaannya, terlebih di depan Sakura.
Melihat reaksi kedua orang yang tak bersahabat tersebut, Sakura pun mengambil sikap. Ia membawa Sasuke duduk di sofa berhadapan dengan wanita itu. Karena sejujurnya ia tak tau apapun tentang wanita yang merupakan mantan anak buah Sasuke tersebut. Yang ia ingat hanyalah, wanita itu pernah diselamatkan olehnya setelah nyaris tewas karena suaminya itu. Selebihnya ia tak tau apapun. Sasuke tak menceritakan apapun padanya mengenai rekan-rekan timnya selama tak berada di Konoha.
Sasuke maupun Karin tak ada yang membuka suara. Sasuke yang memang dasarnya tidak terlalu suka bicara hanya diam. Sedangkan Karin, ia merasa seperti berada di tempat yang salah saat ini. Kemarahan dan kekecewaannya menghilang entah kemana. Melihat Sasuke bersama wanita itu membuatnya merasakan perasaan yang tak dapat didefinisikan. Meski kata-kata Sasuke padanya begitu dingin, namun ia bisa merasakan kehangatan di dalam hati pria itu. Rasa hangat yang tak pernah ada selama ia bersama dengan Sasuke. Dan kehangatan itu membuatnya ingin menangis. Ada rasa haru yang entah darimana datangnya ketika ia merasakan hal itu.
"Ano, Karin-san, sebenarnya ada apa?" Akhirnya Sakura yang terlebih dahulu membuka suara. Ia tak tahan dengan segala keheningan yang menggantungkan berbagai jawaban. Karin terdiam. Wajahnya tertunduk. Sakura bisa melihat jikalau ekspresi wanita itu berubah sedih. Namun berusaha ditutupi. Ia melirik Sasuke yang berada di sampingnya dengan pandangan bertanya, tetapi Sasuke tak menjawab.
"Aku menyukai Sasuke."
"Eh?" Sakura tak dapat lagi menyembunyikan keterkejutannya. Ia bahkan mengerjapkan matanya sambil melirik Sasuke yang terlihat tak terkejut sama sekali.
Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap mereka berdua dengan tenang seolah apa yang diucapkannya tak berdampak apapun. Sakura menatap Karin dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Ia terkejut karena ucapan Karin. Dan juga, ada rasa cemburu yang membuat dadanya sesak.
"Aku menyukai Sasuke sejak pertama kali bertemu dengannya," lanjut Karin tanpa ragu. Sasuke menatapnya tajam, tak suka dengan segala ucapan Karin. Karena Sakura ada di sampingnya, mendengarkan semuanya. Ia tak mau apa yang dikatakan oleh Karin merusak hubungannya dengan Sakura. Baginya, Sakura adalah cahayanya. Wanita itu adalah segalanya bagi Sasuke. Dia orang yang amat berarti bagi dirinya. Dan tak ada seorangpun yang berhak menyakiti hatinya.
"Hentikan omong kosongmu!"
"Sasuke-kun!"
"Anak laki-laki yang menolongku ketika ujian chunin berlangsung. Anak laki-laki yang tersenyum padaku. Anak laki-laki yang kemudian mengajakku bergabung dengannya. Anak laki-laki yang dipenuhi oleh dendam. Anak itu …."
"Kubilang hentikan," desis Sasuke tajam. Aura di sekitarnya berubah gelap, menakutkan. Sakura dapat merasakan tubuhnya bergetar. Tidak. Sasuke tidak boleh seperti ini. Sasuke tidak boleh menjadi seperti dulu lagi. Namun sepertinya gagal. Warna hitam di mata Sasuke berubah menjadi semerah darah. Sharingan-nya aktif. Sakura terkejut. Demikian pun dengan Karin. Ia tidak menyangka bahwa efek dari ucapannya akan berakibat seperti ini.
"Sasuke-kun …." Sakura pun hendak memegang tangan suaminya itu, berusaha menenangkan. Namun Sasuke malah menyentak tangan Sakura, membuat warna hijau itu membulat.
Pria itu berdiri dan menatap Karin tajam seakan ingin membunuh wanita itu. Karin meneguk ludahnya. Sasuke yang seperti ini tak ada bedanya dengan iblis.
"Seharusnya saat itu aku memang membunuhmu, Karin."Wanita berkacamata itu terkejut bukan main. Pria itu mendekati Karin dan mengaktifkan chidori-nya. Ia benar-benar akan membunuh wanita itu. Karin berdiri. Sakura pun begitu. Wanita yang menjadi istrinya tersebut menarik tangan Sasuke, namun Sasuke malah menatapnya penuh kebencian dan mendorong Sakura hingga wanita itu terjatuh membentur bibir sofa.
"Jangan menghalangiku! Atau aku juga akan membunuhmu, Sakura!" Ancam Sasuke tak main-main. Sakura menatap punggung itu sedih. Airmata mengalir di pipinya. Kenapa jadi seperti ini?
Karin merasa terdesak sekarang. Sudah tak ada jalan lagi. Punggungnya membentur dinding. Sedangkan Sasuke sudah berdiri di depannya dan bersiap membunuhnya. Ia memejamkan matanya pasrah. Tinggal beberapa senti lagi kilatan petir itu mengenai tubuhnya, sebuah suara menarik Sasuke ke alam kesadarannya.
"Papa…." sebut Sarada sedih. Sasuke berdiri mematung sambil menatap tangannya. Chidori-nya mulai tak aktif. Yang tersisa hanya penyesalan yang luar biasa dalamnya. Sarada, putrinya, melihat dengan jelas apa yang akan dilakukannya.
"Sarada…." Sasuke menatap anak itu yang menatapnya kecewa. Ya, putrinya pasti kecewa. Ayahnya seorang pembunuh. Dan tiba-tiba saja ia merasa sangat kotor. Ia kembali memandangi tangannya. Tangan itu sudah menghabisi banyak nyawa. Bahkan tangan itu pun hampir merenggut nyawa istrinya, dulu.
Sakura bangkit dan menghampiri mereka. Terlebih dahulu ia menghampiri putrinya dan membawa sang putri kembali ke kamarnya. Tapi Sarada menolak. Ia bersikeras ingin melihat ayahnya.
"Papa…." Suara itu terus terngiang di telinganya dan makin menariknya ke dalam jurang penyesalan.
"Kita masuk ke kamar dulu, Sarada," perintah Sakura sambil menggandeng Sarada dan ia kembali terkejut ketika merasakan demam anaknya kembali tinggi.
"Aku mau bersama Papa," jawab Sarada menolak Sakura. Karin hanya terdiam menyaksikan adegan mereka. Sedangkan Sasuke tak berani menatap Sarada maupun Sakura. Hingga tiba-tiba tangan mungil itu menggenggam tangannya, membuatnya melihat dengan jelas wajah pucat putrinya. Dan juga merasakan panas yang diderita oleh putrinya.
"Papa, aku mengantuk," ucapnya lemas. Sasuke menatapnya sedih. Ia berjongkok dan mengangkat Sarada, kemudian menggendongnya yang tanpa sadar, gadis itu sudah kembali terlelap.
Sasuke pun membawa putrinya ke kamar sementara Sakura menyuruh Karin pulang.
"Maaf …." Karin berucap lirih. Meski tak terlalu terlihat, namun raut wajahnya menunjukkan penyesalan. Sakura mendekati wanita itu dan berkata, "sebaiknya kau pulang."
Karin menatapnya setuju dan berjalan keluar dari kediaman Konoha. Namun, tepat selangkah sebelum ia keluar melewati pintu tersebut, ia berkata pada Sakura, "terima kasih sudah membuatnya kembali hidup."
Sakura terdiam melihat kepergian wanita itu. Tetapi, tak lama kemudian ia tersenyum.
"Terima kasih juga sudah menjaganya selama ia tak ada di Konoha."
.
.
Karin tak pernah mengerti dirinya sendiri yang begitu tergila-gila pada Uchiha Sasuke. Yang ia ingat adalah, Sasuke adalah laki-laki yang sudah menolongnya. Ia laki-laki yang tersenyum padanya di kala pandangan matanya memburam. Senyum itulah yang selalu ingin Karin lihat. Senyum seorang anak laki-laki yang telah membiusnya, membawanya ke dalam perasaan suka yang tak terdefinisikan. Perasaan yang ia sendiri pun sangsi menyebutnya cinta. Namun, adakah rasa yang lebih tinggi dari itu? Ia hendak bertanya, namun tak tau harus bertanya pada siapa.
Hidup bertahun-tahun bersama dengan Orochimaru telah membuatnya menjadi wanita yang kuat. Pria itu mengajarkan padanya bahwa untuk mencapai sesuatu ia harus kuat. Pria itu pula yang pertama kali mengetahui kelebihan Karin. Dan bersama pria itu pula, ia kembali bertemu dengan anak laki-laki itu. Anak laki-laki yang kemudian ia ketahui bernama Uchiha Sasuke.
Ia bahagia kala melihat wajah Sasuke lagi. Namun, kala melihat tak ada senyum di wajah itu, hatinya sedikit sedih. Sasuke yang dilihatnya bersama Orochimaru bukanlah Sasuke yang dulu menolongnya. Laki-laki itu berubah. Ya, berubah menjadi lebih dingin, tapi tetap keren di matanya.
Setelah Orochimaru mati dibunuh olehnya, dia mengajak Karin bergabung dengannya. Karin masih ingat dengan jelas bagaimana cara Sasuke mengajaknya. Ekspresi wajahnya penuh dengan keyakinan dan tak sekalipun ingin dibantah. Namun Karin membantahnya, ya meski pada akhirnya ia menuruti kemauan Sasuke. Ia berdiri di samping pria itu bagaimanapun keadaannya. Bahkan, meski kenyataan menyakitkan menghampirinya kala Sasuke (nyaris) membunuhnya, ia tetap mencarinya. Karena ia adalah sosok bawahan yang setia pada atasannya, meski Sasuke adalah hal yang berbeda.
Karena ia hanya ingin melihat wajah itu sekali lagi, lagi, dan lagi. Sekalipun pada akhirnya, wajah itu kembali menyakitinya.
Karin hanya ingin kembali kepadanya. Meski hanya akan dan tetap akan menjadi bawahannya.
"Sialan! Airmata sialan!" Karin mengusap kasar airmata yang mengalir di pipinya kala mengingat hal itu. "Kenapa aku menangis?" tanyanya pada dirinya endiri dengan nada yang amat sangat rendah. Ia membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Kacamatanya tergeletak di samping kakinya. Rambutnya yang merah menutupi seluruh wajahnya. Kenapa ia menjadi begitu menyedihkan?
"Maaf, Karin."
"Aku tidak akan memaafkanmu, Sasuke. Tidak akan pernah."
.
.
"Sarada melihat semuanya," sesal Sasuke. Raut wajahnya terlihat frustasi. Sakura hanya memeluknya dalam diam, merasakan berbagai macam perasaan yang tak dapat diungkapkan oleh suaminya.
"Semua akan baik-baik saja, Sasuke-kun," hibur Sakura sambil mengusap lembut punggung Sasuke. Ia menatap putri kecilnya yang tengah terbaring tak berdaya dengan wajah pucat karena sakit. Tatapannya teramat sedih. Ia merasa gagal menjaga anaknya.
"Aku hanya … tidak ingin kehilangan keluargaku lagi." Kali ini suara Sasuke terdengar bergetar seperti menahan tangis. Sakura semakin erat memeluknya, menyalurkan rasa sayangnya yang begitu besar pada Sasuke.
"Kau akan selalu memiliki kami, Sasuke-kun. Aku dan Sarada, kami tidak akan pernah meninggalkanmu," kata Sakura. Perlahan ia melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke dalam. Mata hitam milik Sasuke terlihat sendu. Namun tak lama kemudian, mata hitam itu membulat di kala ia merasakan sentuhan bibir Sakura yang mencium bibirnya pelan. Hanya sekilas, beberapa detik, sebelum akhirnya Sakura tersenyum dan berkata, "aku mencintaimu."
Dan tak sampai hitungan detik, Sasuke menarik Sakura ke dalam pelukannya. Mencium harum tubuh istrinya tersebut, kemudian berbisik, "arigatou …."
.
.
"Aku sudah tidak apa-apa, Ma." Gadis berambut hitam itu terlihat kesal karena sedari tadi ibunya menyuruhnya beristirahat. Padahal ia ingin sekali latihan dengan ayahnya. Ya, mumpung Sasuke ada di rumah.
"Bagaimana kalau kau sakit lagi, Sarada? Tubuhmu belum sehat benar," ujar wanita itu khas keibuan. Ya Tuhan, bagaimana bisa ibunya secerewet ini? Batin Sarada kesal. Ia bahkan sudah tidak demam seperti kemarin.
"Tapi aku memang sudah tidak apa-apa, Ma," kekeuh Sarada. Keras kepala, sama seperti ayahnya. Sakura hanya menghela napas melihat kekeraskepalaan anaknya ini.
"Yah, baiklah. Tapi jangan terlalu keras dan terlalu lama latihannya. Mengerti?" nasihat Sakura lembut. Sarada mengangguk senang.
"Terima kasih, Mama," ujarnya sambil mencium singkat pipi Sakura dan langsung berlari menemui ayahnya yang sudah lebih dulu berada di tempat latihan mereka.
"Anak itu …." Sakura tersenyum sambil memandang kepergian putrinya, kemudian melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
.
.
"Untuk apa kau menemuiku?" tanya Karin. Nada suaranya terdengar sangat dingin di telinga Sasuke. Pria itu menemuinya setelah selesai menemani anaknya latihan. Kebetulan Karin masih ada di Konoha. Sasuke pun menemuinya.
Hari di mana Karin menemuinya, ia menceritakan segala hal tentang Karin pada Sakura. Keberadaannya di apartemen Karin pun atas saran dari Sakura. Wanita itu meminta Sasuke untuk menyelesaikan masalahnya dengan Karin. Biar bagaimanapun juga, Sakura sebagai seorang wanita tau betul bagaimana rasanya patah hati. Ya, ia patah hati karena suaminya sendiri. Dan hari itu pula Sakura sukses membuatnya merasa bersalah untuk kesekian kalinya.
Jadi disinilah dirinya, menghadapi wanita tsundere seperti Karin.
"Aku tidak ingin melihatmu lagi, Sasuke!" ketus Karin. Sasuke menatapnya datar.
"Aku sudah menikah. Jika itu yang ingin kau ketahui," kata Sasuke tanpa mengubah ekspresinya. Karin memalingkan wajahnya. Kepalanya terasa mendidih. Ia tersenyum sinis.
"Selamat kalau begitu."
"Hn. Aku pergi," pamit Sasuke tanpa basa-basi. Dia pun berjalan melewati Karin tanpa sedikitpun memperhatikannya.
"Ck. Menyebalkan." Mengabaikan kata-kata Karin, Sasuke terus saja berjalan meninggalkan apartemen wanita itu. Karin hanya mengumpat tak jelas. Namun tak lama kemudian ia bersikap seperti biasanya, menjadi fangirl Sasuke.
"Tapi Sasuke semakin tampan setelah menjadi ayah. Ugh … bagaimana rasanya, ya … hihi … dengan Sasuke?"
Biarkanlah ia berimajinasi.
.
.
Dua hari setelahnya, Sakura dipanggil oleh Naruto. Ia berpikir, ada hal penting yang ingindisampaikan oleh Hokage muda tersebut. Namun sepertinya ia salah. Naruto terlihat begitu santai saat melihatnya. Di samping itu, ada Kakashi juga di sana. Tim 7 nyaris lengkap. Karena Sasuke tidak ada di sana.
Sakura duduk di tempat yang telah disediakan oleh Naruto. Ada secangkir sake di sana yang sudah disiapkan untuknya. Sakura tidak menyentuhnya. Bisa dikatakan, kedatangannya sangat terpaksa. Karena sebenarnya, Sakura memiliki tugas untuk melakukan terapi di klinik miliknya. Dan kehadirannya di sini membuatnya harus mengalihkan tugas tersebut kepada anak buahnya. Namun sesampainya ia di sini, ternyata hanya acara minum-minum sekaligus reuni kecil-kecilan. Bisa dibayangkan betapa jengkelnya Sakura. Bukan karena ia tak menginginkan acara ini. Sejujurnya ia pun merindukan tim 7. Tapi ia memiliki hal yang lebih penting dari itu.
"Kalau tak ada yang ingin kau bicara kan, aku pergi, Naruto." Wanita itu terlihat beranjak dar duduknya. Namun Naruto menahan tangannya.
"Ayolah, Sakura-chan. Kita sudah lama tidak berkumpul seperti ini. Memangnya kau tidak kangen?" bujuk Naruto dengan nada yang terdengar kekanakan di telinga Sakura. Wanita itu menatapnya malas.
"Anak-anak itu lebih membutuhkanku," jawab Sakura tegas. Naruto melepaskan tangan Sakura. Kakashi yang melihat kedua mantan anak didiknya itu hanya tersenyum di balik maskernya. Mereka sudah dewasa.
"Sudah-sudah," lerai Kakashi. "Duduklah dulu, Sakura. Tidak lama. Setelah itu kau boleh kembali ke klinik," lanjut Kakashi menasihati. Naruto mengangguk setuju. "Nah, dengarkan Kakashi-sensei, Sakura-chan."
Sakura akhirnya mengalah. Ia kembali duduk dan langsung meminum sake yang telah disediakan untuk dirinya. Naruto menatapnya horor. Ternyata Sakura memang menakutkan.
"Aku tau apa yang kau pikirkan, Baka!"
"A … Sakura-chan, kau cantik sekali," puji Naruto dengan nada ketakutan terselip di setiap kata-katanya. Sakura menatapnya tajam. Ia melempar sumpit ke arah Naruto dan nyaris mengenai tangan pria itu. Naruto bergidik. Kakashi tertawa pelan.
"Yang seharusnya kau puji itu Hinata, Baka!"
"Aku heran kenapa Sasuke mau menikahimu," gumam Naruto rendah, namun masih dapat didengar oleh Sakura. Matanya melotot tajam pada Naruto dan pukulan pun nyaris mengenai kepalanya. Namun sebelum itu terjadi, sebuah suara menghentikannya.
"Maaf, aku terlambat."
.
.
"Hari ini kalian kedatangan guru baru," info Shino selaku salah satu guru di akademi Sarada. "Ya, silahkan masuk!"
"Hn."
Sarada terkejut.
Boruto menatapnya malas. Ia bahkan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tau siapa guru yang dimaksud oleh Shino. Dia adalah sahabat ayahnya, yang menurut pandangannya adalah orang yang menyebalkan. Dia adalah ayahnya Sarada.
Uchiha Sasuke, guru baru yang akan mengajar mereka semua.
"Aku, Uchiha Sasuke, yang akan mengajar kalian semua." Kata-kata Sasuke terdengar dingin. Membuat sebagian murid di ruangan itu bergidik ngeri. Namun tidak dengan Sarada dan Boruto. Kedua makhluk berbeda gender itu malah terlihat santai. Bedanya, Sarada menampakkan wajah antusias khas Uchiha. Sedangkan Boruto terlihat tak berminat. Ia bahkan tak memerhatikan Sasuke sama sekali. Ia sibuk dengan kertas kosong di atas mejanya. Sesekali ia mencoret-coret kertas tersebut. Hingga sesuatu membuatnya mengangkat kepalanya menatap Sasuke.
Tak
Sebuah pensil terlempar tepat di atas meja Boruto hingga membuat jantung bocah itu berdetak lebih cepat dari biasa. Seluruh murid yang ada di sana langsung memandang Boruto ngeri. Bukan apa-apa. Guru mereka kali ini bukanlah orang sembarangan. Dan sepertinya kali ini mereka tidak akan bisa main-main jika masih ingin hidup.
"Kalau kau berpikir aku akan mengistimewakanmu karena kau adalah anak Hokage, kau salah besar, Bocah!" Nada suara Sasuke yang sangat dingin membuat Boruto membulatkan matanya. Dia langsung berdiri menatap tajam pria yang menjadi ayah Sarada tersebut. Sarada memalingkan wajahnya. "Dasar bodoh!"
"Memangnya kau pikir aku mau diistimewakan oleh laki-laki sepertimu?" tanya Boruto dengan nada menantang. "Dan satu lagi, aku bukan bocah!" teriaknya sambil menunjuk Sasuke dengan jari telunjuknya. Sasuke menatapnya tajam.
"Kalau begitu tunjukkan padaku!"
"Eeeehhh?"
.
.
"Hahahaha. Kau memang sahabat terbaikku, Sasuke." Naruto merangkul bahu Sasuke. Dan Sasuke langsung melemparkan tatapan tajam padanya.
"Bagaimana caramu membujuknya, Naruto?" tanya Sakura sambil melirik Sasuke yang duduk di samping pria berambut kuning tersebut. Naruto kembali tertawa. Aa, rasanya memang sangat lucu. Sasuke yang pada awalnya menolak untuk menjadi guru Boruto mendadak berubah pikiran. Dan lagi, Sakura sama sekali tak tau mengenai hal tersebut. Ia menatap Sasuke menuntut penjelasan. Namun Sasuke tak bergeming.
Naruto mencondongkan wajahnya ke arah Sakura, membuat Sasuke yang melihatnya panas. Sakura agak sedikit mundur. Dan Naruto berbisik padanya. "Jangan berikan Sasuke jatah dan Sasuke akan menurutimu."
"HENTAAAAIIIIIIII!"
Bletak
Buagh
Dan esok hari akan ada berita bahwa sang Hokage Ketujuh telah dianiaya oleh murid Hokage Kelima.
.
.
Tamat
2943 words
.
Sebelumnya terima kasih banyak atas respon kalian semua pada chapter sebelumnya. Saya mohon maaf jika mengecewakan.
Untuk reader yang bernama hiashi, saya ingin menjelaskan bahwasannya saya tidak sedang mencari sensasi dengan membuat fic ini. Mohon maaf, tetapi kata-kata Anda mengganggu saya. Saya bahkan tidak mengenal Anda dan Anda memfitnah saya dengan mengatakan hal yang Anda sendiri tidak mengetahui kebenarannya.
Dan sebagai informasi untuk semuanya, saya mengambil Karin sebagai tokoh ketiga dalam hubungan SasuSaku dikarenakan hanya Karin yang cocok dengan peran tersebut. Dan lagi, Masashi Kishimoto menunjukkan Karin sebagai wanita yang dekat dengan Sasuke selain Sakura. Jadi karena alasan itu saya selalu memakai Karin dalam fic-fic saya. Lagipula Karin bukan orang jahat. Dia hanya salah satu dari sekian banyak wanita yang menyukai Sasuke.
SasuSaku sendiri sudah canon. Jadi, saya juga tidak akan menyimpang dari fakta itu. Misal, saya membuat fic SasuSakuKarin tapi endingnya SasuKarin. Saya gak akan sejauh itu. Kalaupun saya membuat fanfic dengan ending SasuKarin, itu khusus fic SasuKarin. Saya tidak akan membawa-bawa nama Sakura.
Mungkin itu saja yang bisa saya jelaskan. Sekali lagi, saya tidak bermaksud apapun. Dan saya juga tidak mencari sensasi. Jadi, mohon maaf jika saya salah menempatkan fanfic ini. Tapi terima kasih untuk segala saran, dukungan dari para readers sekalian yang juga sudah menyempatkan untuk me-review.
Balasan reviewnya, Insya Allah nanti akan saya PM.
Terima kasih sudah membaca. :)
