Ish: Ok! Update! Nyihahahaha~ Kesambet setan malem2 makanya bisa update fanfic! Ahahahaha~
Teru: Master sugoi!
Kaoru: Hmph, biasa aja kali, dasar panda bodoh heboh!
Ish: Udah, udah, Kao, Teru, jangan berantem, mendingan kita langsung mulai aja biar ga bikin reader nunggu...
Teru: Tunggu master! Ada pertanyaan!
Ish: Ya? apa Teru-chan?
Teru: Kenapa tiba-tiba ganti pair? Bukannya kemarin UsagixMisaki? Kenapa sekarang jadi NowakixHiroki?
Ish: Kufufu, kalau yang itu ra-ha-si-a~ Kao! Tolong bacain disclaimer dan warningnya dong~
Kaoru: Hmph, Junjo romantica belongs to Nakamura Shungiku but this weirdo story belongs to my stupid idiot master, Ish.
Teru: Warning: OOC! Gaje! Abal! Buatan amatiran! Nyerempet-nyerempet ke kau-tahu-apa! Ga suka? Flame aja... ^^
Ish: Eeeh~ Kok minta flame sih? Jangan!
Kaoru&Teru: Enjoy the story!
A/N: Should I change the rated now? Nyu? :3
"Nowaki!"
Teriakan itu seakan membangunkan seluruh apartemen yang sebelumnya terasa tenang dan damai. Selang beberapa saat setelah teriakan itu menggema, terdengar suara rusuh dari arah pintu kamar. Benda-benda yang terjatuh, suara teriakan, hingga terakhir suara langkah kaki yang melangkah cepat.
Sebentar kemudian, terlihat sosok Kamijou Hiroki yang berdiri dengan wajah masam juga baju yang lecek lantaran terjatuh karena terpeleset selimut saat bangun tadi.
Nowaki yang sedang duduk sambil menonton berita pagi pun menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah sang kekasihnya sendiri. Ia tersenyum lembut begitu mendapati Hiroki berdiri tak jauh darinya.
"Selamat pagi, Hiro-san."
"Selamat pagi apanya! Ini sudah kesiangan!" umpat Hiroki kesal. Alisnya yang mulai berkerut samar sudah bisa menjelaskan betapa kesalnya sang 'Oni Kamijou' itu pagi ini.
"Kan sudah kubilang untuk membangunkanku jam 7! Lihat sekarang jam berapa! Ah, dasar bodoh! Kau merusak rencana kita saja! Kalau begini sih kita pasti ketinggalan kereta!"
Sambil masih meneruskan omelannya, Hiroki pun sibuk bersiap-siap. Ia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya. "Kau tahu kan aku tidak suka kalau harus terburu-buru? Dasar bodoh!"
Nowaki yang tengah menjadi korban omelan dengan tenang menyahuti, sudah terlalu biasa. "Aku sudah bangunkan kok, sekitar 20 kali. Tapi tetap saja Hiro-san tidak bangun." Ia memajukan kepalanya dari balik sofa ke arah pintu kamar mandi yang tidak tertutup sepenuhnya. "Jadi kupikir Hiro-san masih capek karena semalaman membuat soal untuk ulangan, akhirnya aku memutuskan untuk membangunkan sebentar lagi."
"Bohong! Aku tidak ingat kau bangunkan!" teriak Hiroki dari dalam kamar mandi.
"Itu karena Hiro-san benar-benar tertidur dengan lelap kan?" sahut Nowaki, tetap saja santai dengan segala bentuk intimidasi curiga dari sang uke.
Tidak ada lagi argumen dari asisten dosen Universitas Mitsuhashi itu, yang ada malah teriakan.
"NOWAKI! KERANNYA BOCOR! Aduh! Sial! Berhenti, brengsek!"
Begitu mendengar teriakan Hiroki, Nowaki langsung beranjak bangun dan melangkahkan kakinya perlahan ke tempat kejadian perkara. Ketika itulah terdengar suara Hiroki lagi, kembali memanggil namanya.
"NOWAKI!"
"Iya, Hiro-san, aku ada disini." sahut Nowaki sambil membuka pintu kamar mandi pelan. Ia pun menemukan sosok Hiroki yang kini basah dari ujung kepala hingga ujung kaki lantaran diamuk oleh keran wastafelnya.
Nowaki terdiam, memandang kemeja putih Hiroki yang basah hingga secara kasat mata memamerkan tubuhnya yang indah. Matanya pun teralih ke arah wajah kekasihnya yang juga basah itu. Bibir merah Hiroki yang basah terkena air itu pun terlihat sangat menggoda.
Ia tidak bisa lepas dari sosok Hiroki. Ia bahkan tidak bisa berkedip dan hanya bisa menelan ludah dengan gugup karena fantasi di otaknya yang berlebihan.
Hiroki memicingkan matanya dengan tajam. "Apa hah? Kenapa melihatku begitu?" tanya sang uke dengan nada curiga seakan ia bisa mengintip isi kepala mesum dari semenya.
Nowaki tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, mendekat ke arah Hiroki. Sebentar kemudian, ia menarik wajah Hiroki mendekat dan menciumnya.
"Nowa-mmh!"
Tentu saja mulanya Hiroki mencoba untuk memberontak mengingat keterlambat mereka yang sudah diluar jadwal itu. Ia mendorong tubuh Nowaki yang lebih besar itu dengan tangannya. Namun bukannya berhenti, dominasi Nowaki justru semakin menjadi-jadi saja. Tidak kuasa melawan lagi, akhirnya Hiroki memejamkan matanya dengan pasrah.
Lidah mereka saling bermain, beradu, saling merebut dominasi.
Nowaki menjelajahi seluruh mulut Hiroki, merasakan inci demi inci perlahan. Tangannya mulai turun untuk membuka kancing-kancing baju yang membungkus tubuh indah Hiroki. Sementara sang seme sibuk, Hiroki sendiri merengkuh wajah Nowaki untuk menyatukan diri mereka lebih dalam lagi.
Seketika seluruh kancing yang mengunci keindahan tubuh sang uke terlepas, Nowaki langsung memojokkan Hiroki ke ujung kamar mandi. Mereka masih berciuman untuk beberapa saat, sampai akhirnya Nowaki melepaskan diri dan beralih menjelajahi jenjang leher asisten dosen jurusan literatur Jepang modern Universitas Mitsuhasi yang putih mulus itu. Sesekali ia jilat, hisap dan gigit hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"A-Aah... Nowaki."
Nowaki masih belum berhenti sampai disitu, ia turun dan menjilat dada bidang Hiroki. Berkutat disana sebentar sambil melihat respon yang diberikan sang uke.
"No-Nowaki! Aah... He-Hentikan, bodoh!"
Nowaki seakan menulikan diri dari perkataan Hiroki barusan. Tanpa ada niatan untuk berhenti di tengah jalan, tangan Nowaki bergerak turun ke arah resleting celana Hiroki.
Sirine tanda bahaya di kepala Hiroki menyala. Otaknya tahu apa yang akan terjadi kalau ia tidak menghentikan semenya sekarang. Mungkin sebenarnya Hiroki tidak keberatan; toh hari ini ia memang sedang mengambil cuti. Tapi sayangnya hari ini ia sudah menyusun rencana untuk pergi berlibur bersama Nowaki ke onsen.
Rencana itu sudah dipersiapkan dengan matang oleh keduanya. Memilih hari, tempat dan akomodasi. Namun rencana yang sudah susah payah dipikirkan itu hanya akan menjadi rencana semata kalau mereka tidak pergi sekarang, dan Hiroki tidak mau hal itu terjadi.
"No-Nowaki, he-hentikan bodoh! A-Aku bilang hentikan!"
"Tidak mau."
"Ka-Kau ini bodoh ya? Kau lupa kita harus pergi ke onsen? Kau mau rencana kita itu batal? Kalau tidak berangkat sekarang kita akan ketinggalan kereta, bodoh!"
"Kita bisa naik kereta berikutnya."
"Da-Dasar bodoh!" umpat Hiroki kesal. Karena merasa tidak mempan menggunakan cara halus, akhirnya Hiroki pun memakai cara kasar. Maklum, dia kan terkenal tidak sabaran.
Hiroki mendorong Nowaki yang sedang asik menikmati tubuhnya dengan sekuat tenaga. Berhasil menciptakan jarak antara keduanya.
"Minggir bodoh! Kalau kau nggak mau pergi, aku akan pergi sendiri!"
"Hiro-san... Maksudku bukan begitu, aku mau pergi."
"Kalau gitu cepat lepaskan aku dan kita bersiap pergi sekarang!"
Wajah Nowaki masih terlihat tidak rela, tapi ia tidak membantah. Ia hanya memandangi mata Hiroki seakan berharap kalau sang uke mau berbaik hati merubah keputusannya.
Namun sayangnya hal itu tidak terjadi. Melihat Nowaki yang sudah lumayan tenang, Hiroki buru-buru melangkah pergi keluar dari kamar mandi lalu berlari ke arah kamarnya. Sang seme tidak berkata apa pun untuk menghentikan kepergiannya. Ia hanya diam memandangi seakan sudah pasrah kalau memang harus berhenti di tengah jalan.
Ketika harapan Nowaki itu meredup, sosok Hiroki berhenti melangkah lalu kembali berbalik ke arahnya. Dengan alis yang sengaja dikerutkan dan wajah malu-malu yang khas, Hiroki berkata dengan terbata, "De-Dengar ya, kalau yang tadi itu bisa kita lanjutkan sampai puas kalau sudah sampai di onsen. Jadi bersabarlah."
Mata Nowaki melebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia pun tersenyum dengan lebar memandangi wajah Hiroki yang sangat manis di matanya itu. "Hai, Hiro-san."
Begitu lega melihat semenya sudah kembali tersenyum, Hiroki buru-buru melangkahkan kakinya ke arah kamar.
Hiroki memasang kancing kemeja barunya setelah mengeringkan tubuh. Ia berdiri sambil menghadap ke arah cermin, merapikan rambutnya yang berantakan dan basah terkena air. Ia melirik ke arah jam seklias kemudian berdecak kesal.
Nowaki bodoh! Lihat, akibat perbuatannya tadi jadwalnya semakin melenceng saja! Harusnya jam segini kan sudah berada di stasiun sambil menunggu kereta... Ah, dasar sial! gerutu Hiroki dalam hati.
Setelah melakukan pengecekan terakhir pada barang bawaannya, Hiroki pun membawa tasnya dan melangkahkan kaki ke arah pintu. Namun sebelum keluar, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia memandangi layar ponsel itu dengan wajah masam.
...Apa aku harus bilang ke Miyagi-kyoujyu kalau aku liburan ke onsen? ...Ah, tidak-tidak, buat apa aku bilang? Yang ada dia malah akan meledekku nanti.
Hiroki pun mengurungkan niatnya dan berniat pergi. Namun langkahnya terhenti. Ia kembali melihat ke arah layar ponselnya itu.
Tapi kalau tidak diberitahu nanti dia minta tolong macam-macam saat aku liburan. Aku tidak mau liburanku dan Nowaki terganggu olehnya. ...Mungkin lebih baik aku beritahu padanya supaya dia tidak menganggu liburanku. batin Hiroki.
Setelah akhirnya mengirimkan pesan singkat kepada Miyagi, Hiroki pun melangkah pergi keluar.
"Untung kita tidak ketinggalan kereta ya, Hiro-san." ujar Nowaki sambil tersenyum.
Hiroki menoleh lalu memicingkan matanya dengan tajam pada sang seme. "Kau bilang 'untung'? Kita sampai harus berlari-lari seperti orang gila karena nyaris ketinggalan kereta masih kau bilang 'untung'? Otakmu memang benar-benar bermasalah!" gerutu Hiroki dengan alis berkerutnya yang khas.
"Tapi kan yang penting sekarang kita sudah sampai di onsen." sahut Nowaki setengah menenangkan.
Begitu ia melirik ke arah Hiroki dan menemukan sang uke sedang mengerutkan alisnya, ia pun tersenyum kecil. Dengan jari telunjuknya, ia menyentuh kening Hiroki dengan lembut.
"Jangan terlalu sering mengerutkan alis begini, nanti berbekas dan tidak bisa hilang."
PLOSH!
Wajah Hiroki sukses dibuat merah oleh perlakuan Nowaki.
"Be-Berisik! Suka-suka aku mau melakukan apa! Biar saja kalau ada bekasnya, itu urusanku tahu!" protes Hiroki dengan wajah yang masih semerah kepiting rebus siap santap. "Sudah, daripada sok mengguruiku lebih kau minta kunci kamar kita sana!"
Nowaki tersenyum lalu menanggukkan kepalanya pelan. "Tunggu sebentar disini, aku akan segera kembali Hiro-san." pamit Nowaki sebelum pergi. Setelah itu, sosok Nowaki pun perlahan menjauh dari Hiroki.
Sepeninggalan semenya, Hiroki menghela nafas panjang sambil mengacak-acak rambut.
Apa-apaan aku ini... Sudah umur segini masih saja bisa dipermainkan oleh bocah seperti dia... Kamijou Hiroki, mau ditaruh dimana harga dirimu kalau sampai ada yang melihat wajahmu memerah karena perlakuan dari laki-laki yang bahkan lebih muda darimu?
Hiroki terdiam, berfikir.
...Tapi tidak ada orang yang mengenalku disini, jadi harusnya aku tidak perlu takut. Benar, tidak ada yang perlu ditakutkan. Disini tidak mungkin ada orang yang mengenalku.
Seketika pikiran itu terlintas di kepala Hiroki, mendadak ia melihat sesosok laki-laki muda yang berlari melintas di depannya. Nyaris saja laki-laki itu menginjak kakinya kalau ia tidak sigap menghindar.
Hiroki langsung menoleh ke arah laki-laki yang tengah berlari itu, seperti biasa, langsung mengomel. "Hei, bocah! Apa ibumu tidak pernah mengajarimu kalau tidak boleh berlari-lari di tempat umum?"
Laki-laki itu sepertinya tidak mendengar, ia masih saja berlari menghampiri sosok laki-laki lain yang berdiri tak jauh dari tempat dimana Hiroki berdiri.
"Usagi-san! Aku mau berendam air panas ya!"
"Ya sudah, di kamar saja."
"Tidak mau! Aku mau coba di pemandian yang besar!"
"Terserah deh."
Hiroki membelalakkan matanya tak pecaya. Matanya tak bisa terlepas dari sosok sang novelis yang juga teman semasa kecilnya, Usami Akihiko. Namun yang lebih membuatnya tak percaya adalah sosok laki-laki muda yang berada bersama sahabatnya itu. Takahashi Misaki, jelas ia langsung mengenali sosok itu. Mahasiswa yang sering mendapatkan nilai jelek tentu lebih mudah dihafal ketimbang yang mendapatkan nilai bagus.
Akihiko! Kenapa dia bisa ada disini? Terlebih lagi... bersama Takahashi Misaki! ...Tunggu dulu, Takahashi? Jangan bilang dia masih ada hubungan keluarga dengan Takahiro? ...Tidak, aku tidak ada waktu untuk memikirkan itu... Sekarang aku harus cepat pergi sebelum Akihiko menyadari kehadiranku...
Hiroki berbalik dan mengendap-endap perlahan menjauh. Namun sialnya Usagi sudah terlanjur menyadari keberadaannya.
"Hiroki?" panggil Usagi begitu ia melihat sosok sahabatnya dari belakang itu.
"Eh? Siapa Usagi-san? Kenalan?" tanya Misaki keheranan.
"Dia teman masa kecilku." jawab Usagi singkat. Ia masih memandangi sosok sahabatnya yang berdiri membelakanginya. Karena Hiroki tetap tidak menoleh, akhirnya Usagi datang menghampirinya. Menarik tangannya dan memaksanya untuk berbalik.
Seketika sudah berbalik, Misaki justru dibuat terkejut setengah mati.
"O-O-Oni Kamijou?" teriaknya dengan spontan.
Hiroki melirik ke arah Misaki, lalu melotot tajam dengan hawa hitam yang tak bisa disembunyikan lagi. Sukses membuat Misaki diam terpaku bagai papan kayu tak bernyawa dalam sekejap.
"Hiroki... apa yang kau lakukan disini? Kau berlibur dengan siapa? Keluargamu?" tanya Usagi. "Lama tidak bertemu denganmu, rasanya kau sehat-sehat saja." sambungnya sambil menepuk kepala Hiroki pelan.
Belum sempat Hiroki menjawab, suara Nowaki sudah terlebih dulu terdengar. Membuat sang 'Oni Kamijou' menoleh ke arah suara itu berasal, begitu juga Usagi dan Misaki.
Sosok Nowaki terlihat semakin mendekat. "Hiro-san! Maaf membuatmu lama menunggu, aku sudah dapat kunci kamar-" perkataan Nowaki berhenti begitu ia menemukan sosok Usagi di samping Hiroki. "Usami-sensei."
"Kau... yang waktu itu."
Mata Hiroki membelalak lebar memadangi sosok Nowaki dan Usagi yang kini berdiri berhadapan.
Tuhan... ini liburan terburuk yang pernah ada! batinnya sembari menjerit di dalam hati.
Dan di saat yang sama, Misaki pun menyadari bahwa firasat buruknya menjadi kenyataan.
Ish: Selesai! Yahoo~ XDD
Teru: Otsukaresama deshita, master! Oooh, jadi diganti pairnya itu supaya ntar ketemu sama UsagixMisaki ya? Jadi ini gabungan antara Junjo romantica dan Junjo egoist?
Ish: Shishishi, terlalu naif! Ini gabungan cerita Junjo romantica, Junjo egoist dan Junjo Terorist tau~
Teru: Arara~ Jadi habis ini pairing MiyagixShinobu muncul?
Ish: Iya! Dan mereka juga ternyata ada di onsen yang sama!
Teru: Kya~ Jadi semuanya ngumpul terus ketemu gitu? Waah~ ga kebayang gimana hebohnya nanti~
Ish: Ahahahaha, namanya juga 'Rumble at the onsen'! XDD
Kaoru: ...master, udah deh, gausah banyak bacot... Minta review terus udahan kek! Mau tidur nih!
Ish: Iya, iya... *ngeliat ke arah reader* Ehehehe, mind to review? XD
Teru: Review~ Review~ Review~ Yoroshiku onegaishimasu~~
Ish: Onegaishimasu!
Kaoru: ...Onegaishimasu.
