Kuroko No Basket milik Fujimaki Tadatoshi, saya tidak mendapatkan keuntungan materiil apapun dari pembuatan fanfiksi ini.
Alternative reality | Alternative timeline
.
.
Lelaki yang Berjalan di Belakang.
—dua; Aomine Daiki; sekeping langit yang jatuh ke bumi
.
.
.
.
Terkadang, ada rahasia yang tak bisa kaucapkan pada siapapun, termasuk pada hatimu atau pada langit di atasmu—
.
.
Pagi hari, hari ini, harinya.
.
.
Hari itu adalah hari dengan langit paling cerah yang pernah kulihat selama hidupku.
Hidupku memang baru berjalan sembilan belas tahun dan sebagian besar hitungan itu kuhabiskan dengan dengan bermain basket di bawah atap langit. Aku sudah sangat familiar dengan langit, kalau kau menanyakan itu padaku, sama halnya dengan hubunganku dan bola basket.
Ketika aku melompat, langit musim semi seakan merentangkan dirinya untuk merengkuhku dalam pelukan. Ketika aku mencapai ring, matahari pada langit musim panas seakan menyemangatiku, lagi, lagi, lagi! Dan ketika aku menjejak bumi lagi pada musim gugur dan gemerisik dedaunan kering itu terdengar bersamaan dengan bunyi bola yang baru saja masuk ring, langit senja seakan memujiku dengan mengecupi ujung rambut biru tuaku.
Melihat kenyataan kalau aku bukanlah orang yang suka memerhatikan keadaan sekitar dan lebih memilih tenggelam dalam majalah-majalah dewasa, mungkin saja keningmu akan berkerut ketika mengetahui sisi dimana aku sering memerhatikan langit.
Yah, bukan masalah, sih, bagiku.
Karena sebagaimana pun aku menyangkalnya, toh ia tetap ada, memayungiku pada setiap waktu yang kuingat.
Termasuk pada masa tergelapku ketika basket tidak lagi menyenangkan dan tidak lagi ada senyum yang terulas ketika papan skor menunjukkan kemenangan.
Aku tahu, masih ada satu tempat yang bisa memberikan satu ruang untuk bagian diriku yang dulu.
Atap sekolah.
Merentangkan diriku, menatap langsung langit.
Kabur dari latihan—apa urgensi dari latihan bila kemenangan akan datang?, dan pergi ke atap menjadi kebiasaanku yang baru ketika masuk ke Touou, meskipun Satsuki terus saja mengoceh dan menyeretku pergi, aku tetap tidak bisa pergi. Karena—karena di sana ada langit yang menyimpan sebagian diriku.
Dalam ulasan tinta kelabu, dalam gerombolan raksasa-raksasa putih, dalam awan setipis kapas, dalam lautan biru dengan awan kejauhan, ada aku disana; aku menemukan diriku. Diriku yang terus berubah setiap detiknya, sama seperti awan yang berarak pada langit.
Bukankah menyenangkan ketika menemukan sesuatu yang sama dengan diri kita?
Tapi, hari ini, ketika aku hendak pergi ke sekolah dengan seragam musim dingin yang bagiku terlalu hangat, aku mendapati langit menatapku aneh.
Atau aku yang menatap aneh langit.
Karena pada hari ini, iris biru tuaku tidak menemukan setitik awan putih pada langit.
Langkahku berhenti begitu saja.
Aku tidak tahu tepatnya berapa lama aku berdiri mematung di sana, atau apa yang kupikirkan ketika melihat langit biru yang begitu biru tanpa noda di atas sana.
Tapi, langit musim dingin biru cerah di atasku seakan menghentikan waktu karena aku merasa dunia juga ikut berhenti pada detik aku melihat langit itu.
Aneh.
Baru saja aku hendak mengalihkan pandanganku dan mengutuk kekonyolan pertamaku hari ini, aku merasakan sesuatu menyentuh kakiku.
Bola basket.
Tak jauh dari tempatku berdiri, ada sebuah lapangan basket yang sering kugunakan dulu. Ah, aku bahkan tidak sadar sedang ada dimana dan jam sedang menunjuk angka yang mana ketika sedang melamun, bagus sekali. Ketika kukira bola basket itu jatuh dari langit, aku mendengar celotehan anak-anak sekolah dasar dengan jaket tebal pada lapangan basket itu. Mereka saling menyikut satu sama lain sambil menatap bola basket dan aku secara bergantian. Tatapan mereka sejelas denting bel gereja; mereka ingin bola basket itu kembali tetapi sungkan untuk mengambilnya—atau untuk memintaku mengembalikannya. Aku tersenyum sedikit kemudian melemparkan bola basket itu.
Bola itu bergerak seakan sedang memanjat langit, melambung tinggi di angkasa dengan warna biru cerah sebagai latarnya. Aku menatap laju bola itu, sama dengan anak-anak minus mulut mereka yang menganga.
Biru.
"Aomine-kun."
Bersamaan dengan bisikkan lembut pada telingaku, sebuah kilatan biru cerah mendadak muncul dalam kepalaku.
Seperti kepak sayap kupu-kupu, halus, menyentuh sisi yang sudah lama kulupakan semenjak setahun lalu, warna biru cerah itu mengisi benakku.
Bola basket itu kemudian mencapai titik tertingginya, lalu meluncur turun masuk ke dalam ring dengan mulus. Gegap gempita anak-anak kecil itu terdengar, namun, kepalaku masih mencoba untuk mencari satu suara itu.
Satu suara yang entah seperti apa dan milik siapa, waktu sudah membuatku melupakannya.
Namun, yang terdengar adalah derap kaki anak-anak dengan sepatu bot yang menghampiriku dan celotehan mereka mengenai lemparanku, ajakan mereka untuk bermain, permintaan untuk diajari cara melempar seperti itu dan pujian-pujian yang entah mengapa membuat kepalaku pusing.
"Aku harus pergi." Aku melempar senyum simpul kepada gerombolan anak-anak itu dan kembali melangkah. Mereka mendesah kecewa namun aku bisa merasakan tatapan mereka mengikuti punggungku hingga aku menghilang di persimpangan.
Satu, dua, tiga kemudian empat, aku terus berjalan menjauhi lapangan itu, menjauhi perasaan tak menyenangkan yang tadi sempat menyergapku.
Kini, setelah melewati beberapa belokan kompleks pemukiman, aku mendapati diriku sudah berada pada jalanan utama, jalanan yang ramai oleh mereka yang hendak entah pergi ke mana dan dalam beberapa kedipan, aku sudah bercampur dengan kerumunan itu. Langkah mereka panjang dan cepat sehingga aku pun ikut terbawa ritme dan arusnya.
Orang-orang ini, kepala-kepala ini, mereka semua hanya mengikuti rutinitasnya. Dan ketika aku berpikir bahwa aku juga sama seperti mereka, terkungkung oleh suatu rutinitas, aku mendongak untuk kembali melihat langit yang begitu biru itu, yang barangkali mengetahui jawaban dari pertanyaan—siapa diriku?
Tapi, hari itu langit juga berbeda.
Tidak ada awan yang bisa merepresentasikan diriku. Hanya ada biru, biru dan biru.
Biru. Biru. Biru. Biru. Biru.
Biru. Biru. Biru. Biru. Biru—
"Aomine-kun."
Kakiku berhenti melangkah. Aku mendengarnya. Walaupun pelan seperti embusan angin, tapi kali ini aku yakin aku mendengarnya.
Suara itu …
Aku langsung menengok ke belakang.
Dalam waktu yang singkat sebelum seseorang mendorong bahuku untuk kembali melangkah, aku melihatnya. Beberapa meter di belakangku, di balik kerumunan dan kepala-kepala itu, ada seseorang lelaki yang berjalan di belakangku.
Seorang lelaki dengan warna rambut biru cerah.
Seorang lelaki dengan warna rambut yang membuatku berpikir bahwa mungkin— mungkin saja, tanpa sepengetahuanku, ada sekeping bagian dari langit cerah itu yang telah jatuh ke bumi.
.
.
.
.
.
—karena mungkin, mungkin saja langit bisa mendengar apa-apa yang bahkan hatimu tak berani bisikkan.
.
.
.
.
.
a/N:
hai, kembali bertemu dengan deite.
Terimakasih untuk yang kemarin sempat meninggalkan review, yang sudah mem-fave, mem-follow dan membaca fic ini. Deite harap fic ini setidaknya bisa menghibur kalian. Sejauh ini, deite sudah cukup disiplin dengan mem-post cerita seminggu sekali, semoga kedepannya juga tetap begitu ya.
Aah, ngerasanya belum maksimal banget nih penggarapan fic ini. Aomine-nya ooc banget, plotnya masih blur, eyd-nya berantakan dan diksinya kaku banget. Tapi walaupun gitu, deite ingin tahu apa yang kalian pikirkan ketika membaca fic ini / /malu/
sampai ketemu di ch selanjutnya yaa~ :3
