The Bad Student and The Jerk Teacher 2
KaiSoo Genderswitch
Happy reading
.
.
"Apa yang kamu lakukan di rumahku, bajingan? lancang?" Geram Kyungsoo mengepalkan tangannya.
"Lancang? Di rumah tunanganku sendiri? Tentu saja orang tuamu yang menyuruhku " lelaki itu menyeringai. Seringaian yang sama. Cih
.
.
Lelaki itu angkuh, pemaksa dan ingin mendominasi. Sekelebat bayangan bagaimana bencinya Kyungsoo di peralat oleh makhluk bernama laki-laki mendobrak dinding hatinya sehingga hati itu tak akan berani melawan logika kerja otaknya. Hati nya tak akan berani merasakan sedikitpun luluh karena cinta. Kyungsoo mendecih ingin meludahi kata 'cinta'. Menjijikkan, lemah, dan laki-laki yang sok mendominasi di depannya ini begitu berbahaya dari apapun, itu artinya perempuan harus menuruti keinginan si dominan? What the fuck.
"Keluar dari rumahku sekarang." Ucap gadis itu malas. Ia sedang tak ingin mengerahkan emosi karena ingin menjaga mood baiknya yang kembali berkat kedua sahabatnya.
"Gak mau. Toh, sebentar lagi, ini rumahku juga." ternyata lelaki ini keras kepala. Penampilannya memang tegas, dewasa dan, seksi. Tapi ketika mengenalnya jauh, ia tak ayalnya seorang anak kecil yang terjebak dalam tubuh dewasa yang fucking damn hot sexy.
"Terserah." Kyungsoo membuang tatapannya dan kembali melangkah menuju tangga tak mempedulikan makhluk sialan di depannya. Demi apapun ia hanya ingin istirahat di kamarnya. Tapi setelah melewatinya, lelaki itu menahan pergelangan tangan Kyungsoo. Argh kenapa hidupnya tak bisa tenang sebentar saja.
"Mencoba mengalihkan pembicaraan ya? Jawab, darimana saja huh?" Kyungsoo memutar bola matanya. Emosi nya terus susah payah ia tahan.
"Bukan urusanmu."
"Tentu saja urusanku, aku calon suamimu dan orang tuamu memberi tanggung jawab untuk menjagamu." Kyungsoo menganga jijik mendengarnya lalu mendecih dan tertawa remeh.
"In your dream! Aku gak pernah setuju sama perjodohan tolol ini." jawab Kyungsoo geram. "Jangan per...mphh" Kyungsoo bahkan belum menyelesaikan kalkmatnya, lelaki itu telah dengan lancang memanfaatkan bibirnya. Mengeksplorasi dengan sok menguasai bibirnya, menyesap, menarik dan sedikit menggigit bibir Kyungsoo sehingga gadis itu sedikit meringis, tangannya menepuk dada lelaki yang telah kurang ajar itu. Lalu setelahnya perlahan ia melepas ciuman paksa itu. Kyungsoo terengah berusaha meraup udara.
"what did you think you just did, airhead?"
"Cuma dengan cara itu membungkam mulut kasarmu." Kyungsoo susah payah melepas cengkraman lelaki itu di tangannya yang ia yakini pasti memerah karena itu menyakitkan.
"Apa maumu, sialan? Gak cukup yang kamu lakukan di ruang guru tadi huh?" Kyungsoo setengah mati emosi. Tangannya sangat sakit kali ini, ia hanya ingin terlepas. Kyungsoo lelah, ia menyerah memberontak. Karena malah menyakiti dirinya sendiri.
"Nah, itu mauku. Diam, dan jawablah. Apa susahnya sih?"
"Aku pergi sama sahabatku. Udah? Puas? Sekarang lepaskan ini, biarkan aku istirahat tuan Kim Jongin!" Jongin sebetulnya terus menahan emosi nya sejak tadi sore sepulang dari sekolah, bahkan saat mengetahui gadis di depannya ini pulang larut. Tak tahukah ia kalau Jongin setengah mati khawatirnya seperti orang gila. Ia sejujurnya sakit jika harus menyakiti Kyungsoo seperti ini. Melihat tangan Kyungsoo yang memerah membuatnya tak tega dan tak tahan lagi. Ia menarik Kyungsoo paksa ke sebuah ruangan, matanya terlihat mencari-cari. Kyungsoo hanya bisa meringis, setelah ini ia akan benar-benar melaporkan lelaki ini pada orang tuanya dan orang tua lelaki itu serta memaksa mereka membatalkan perjodohan mereka. Sesegera mungkin Jongin mengambil sebuah benda dari sebuah kotak. Mendudukkan Kyungsoo di sofa. Membuka benda yang ia pegang lalu mengoleskan isinya pada lengan Kyungsoo yang memerah. Raut penyesalan begitu kentara di wajah Jongin. Meskipun lelaki itu hanya bungkam tanpa ekspresi berlebih. Tapi tatapan matanya penuh perhatian dan kasih sayang. Tapi Kyungsoo seolah tak ingin melihatnya sama sekali
"Sudah selesai? Kalau sudah aku mau istirahat. Terimakasih. Pergilah. Jangan menampakkan wajahmu lagi didepanku." Kyungsoo beranjak dari sofa. Dan Jongin hanya bisa menghela nafas.
"Eomonim dan abbeonim pergi ke Jepang selama dua minggu. Mereka menyuruhku tinggal disini selama mereka pergi." mata Kyungsoo yang memang alaminya bulat, semakin membulat lalu dengan cepat menoleh ke belakang.
"Apa?" Fine, mood Kyungsoo telah hilang. Kyungsoo menatap lelaki di depannya benci dan geram. Ia mengepalkan tangannya merasakan seolah beban berat menimpa jantungnya.
"Hmm..tidurlah ini udah malam, Kyungsoo."
"Gak..gak..kamu gak boleh disini. Pulanglah! Aku akan bilang eomma dan appa."
"Gak bisa Kyungsoo. Aku tetap disini. Kalau kamu mengatakannya pada mereka juga percuma. Mereka akan tetap menyuruhku disini untuk menjagamu." Kyungsoo tak percaya. Ini bagaikan cobaan berat yang harus ia hadapi. Ia berusaha tak mempedulikan hal tersebut dan berbalik melangkah menaikki tangga dengan langkah yang ia hentak-hentakkan. Jongin hanya tersenyum melihat tingkah Kyungsoo. Ia tak akan menyerah sekuat apapun Kyungsoo menolak dan menjauhinya. Ia tahu masa lalu gadisnya itu yang membuatnya seperti ini. Jongin punya segala cara untuk mengetahui segalanya tentang Kyungsoo. Ia berjanji untuk menjaga Kyungsoo, tak akan pernah menyakiti gadis itu sedikitpun dan akan terus meyakinkannya untuk membuka hatinya. Jongin akhirnya menyadari dan mengakuinya bahwa ia begitu mencintai Kyungsoo.
.
.
.
.
Kyungsoo merasakan ketidakadilan menghampiri hidupnya semenjak perjodohan konyol itu dibuat. Kehidupan tenangnya tanpa laki-laki mengatur hidupnya telah musnah. Baru dua hari laki-laki bernama Kim Jongin itu tinggal di rumahnya. Ia seperti hidup di penjara. Sifat mendominasi dan pemaksa nya benar-benar membuat Kyungsoo muak. Usaha nya memohon-mohon pada orang tuanya dan orang tua Jongin benar-benar sia-sia. Percuma ia terdengar seperti kucing yang minta belas kasihan pada majikannya jika hasilnya nol besar. Bahkan orang tua kandungnya sendiri mengatakan jika ia harus menuruti bajingan itu. What the hell. Mereka orang tua kandungnya bukan sih? Kenapa dengan mudahnya mempercayakan anak gadis mereka pada lelaki mesum pemaksa, manja yang berkedok sebagai seorang guru di sekolahnya. shit.
"Masuk cepat. Kamu mau terlambat lagi huh?" Jongin menarik tangan Kyungsoo yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu rumahnya.
"Lepas..! Kamu kenapa sih selalu memaksaku? Kalau mau berangkat, sana pergi! Lagipula kamu gak mikir apa kalau kita satu mobil, satu sekolah bisa melihatnya. Dasar bodoh!" Jongin mendengus tak suka dengan bagian kata terakhir yang Kyungsoo ucapkan.
"Kamu juga kenapa sih selalu bicara kasar? Aku ini tunanganmu, calon suamimu. Diam da..." Jongin tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Kyungsoo lebih dulu memotongnya.
"Aish terserah. Aku bahkan belum lulus sekolah. Mendengar tunangan..calon suami..risih, tau?!" setelahnya Kyungsoo masuk lalu menutup pintu mobil Jongin. Lelaki itu tersenyum puas. Lalu memutar menuju kemudi mobilnya, melajukannya meninggalkan rumah itu.
.
.
.
"Cepat turun, ini sudah hampir terlambat Kyungsoo. Sebentar lagi masuk."
"Kamu ini bodoh atau apa, kalau orang-orang melihatku keluar dari mobilmu dan mereka mikir macam-macam, gimana? Huh" Jongin tersenyum melihat kepanikan Kyungsoo. Dilihat dari sisi manapun dan ekspresi apapun, gadis itu akan selalu terlihat menggemaskan. Lagaknya saja sok brandalan, padahal sekali imut ya tetap imut di mata Jongin.
"Ya biar aja. Kalau mereka tahu kamu tunanganku lebih bagus." jawab Jongin enteng tak sebanding dengan kepanikan Kyungsoo. Oh, ayolah Kyungsoo tak ingin seluruh siswa siswi tahu ia bertunangan dengan gurunya sendiri. Apa itu terlihat normal? Meskipun perbedaan usia mereka hanya 5 tahun. Tetap saja, status guru dan murid punya etika yang mengharuskan hubungan mereka tak lebih dari seorang guru yang mengajarkan muridnya, dan murid yang menghormati gurunya. Akhirnya dengan perdebatan dengan dirinya sendiri, Kyungsoo membuka pintu mobil Jongin dan keluar. Ia tak peduli dengan gosip yang akan muncul. Dia adalah siswi yang cukup ditakuti, tak akan ada yang berani mengganggunya. Well, benar saja ketika mereka berdua keluar dari mobil, rasanya seperti selebriti yang baru saja kepergok paparazzi. Beberapa pasang mata membulat tak percaya melihat siapa yang baru saja turun dari mobil Kim Jongin, guru ganteng, hot, super seksi, yang digilai tak hanya siswi-siswi seantero sekolah, tapi juga guru guru wanita,bahkan ibu-ibu orang tua murid juga seolah bersaing dengan anak-anak gadisnya. Argh, sebegitunya kah pesona Kim Jongin. Kyungsoo memang tak menampik kenyataan itu. Tapi itu hanya sebatas penerimaan kenyataan, bukan pujian apalagi rasa yang lebih dari itu. Tidak boleh terjadi.
Kini Kyungsoo dan Jongin bagaikan objek penelitian yang terus di observasi. Ada yang masih terkejut tak percaya, ada yang keheranan, kebingungan, bertanya-tanya, ada pula yang cemburu buta, menatap Kyungsoo bengis. Kyungsoo memutar bola matanya. Ini semua salah lelaki itu. Lelaki itu selalu membuat hidupnya tak tenang.
"Yah, Kyungsoo!" Luhan dan Baekhyun seperti telah terlatih karena suara mereka terdengar kompak. Kyungsoo hanya menggumam.
"Apa ini, berangkat bersama Kim songsaenim? Yah" Luhan dan Baekhyun saling menatap penuh arti
"Well, Kyungsoo kami telah meyakini sesuatu. Dan ingin menanyakannya."
"Apa sih? Aku sungguh tak ingin membahas guru sialan itu." Kyungsoo meletakkan tangannya diatas tas yang ia letakkan di atas meja, lalu menidurkan kepalanya. Namun tangan menyebalkan mengganggunya, menahan kepalanya agar tetap tegak. Kyungsoo hendak protes tapi pertanyaan Baekhyun menohoknya.
"Well, kau belum pernah memberitahu kami identitas tunanganmu itu. Dan kamu malah terlihat sering bersama Kim songsaenim." Luhan mengangguk setuju, berdeham lalu mengeluarkan suaranya juga.
"Ya, jelaskanlah sesuatu Kyungsoo ya! Gak ada yang boleh disembunyikan dari sahabatmu." tukas Luhan tegas. Kyungsoo memutar bola matanya. Mendengus. Kenapa semua orang memaksanya? Kyungsoo bisa gila.
"Oh. Baiklah, aku akan jujur. Tapi tidak disini.." Kyungsoo menghentikan sejenak kalimatnya menatap mata-mata yang begitu banyak tengah memperhatikannya sejak ia masuk kelas.
.
.
"Apaaaaa? Katakan sekali lagi Kyungsoo! Kamu bercanda kan? Astaga yaampun. Aku mimpi ya? Luhan cubit aku!" Seketika itu juga Luhan mencubit lengan Baekhyun sedikit keras, sehingga gadis dengan eyeliner itu memekik kesakitan. Ia menatap lengannya yang memerah lalu menatap Luhan bengis. Luhan hanya protes bahwa Baekhyun sendiri yang menyuruhnya mencubitnya. Kyungsoo mendengus melihat kedua sahabatnya.
"Udah? Jelas kan?" mereka kini berada di dalam mobil Baekhyun. Karena hanya itu satu-satunya tempat paling aman tanpa mata-mata dan telinga-telinga tak tahu diri yang bisa saja menguping pembicaraan rahasia mereka.
"Kyung, kamu serius kan? Gak bercanda?"
"God, aku nggak bercanda guys. Kalian sendiri yang minta aku jujur dan jelasin ini. Kalau gak percaya yasudah."
"That sexy hottie Kim Jongin, benar-benar tunanganmu? Oh, daebak Kyungsoo ya. Aku iri padamu." Kyungsoo memutar bola matanya mendengar kalimat Baekhyun.
"Kalian jangan sampai keceplosan ya, kumohon. Jangan bicarakan ini di area sekolah. Jangan sampai mereka tahu, okay..please?"
"Tenang aja Kyungsoo. Aku bahkan akan menyumpal mulut bocornya Baekhyun agar dia gak keceplosan." setelahnya mereka tertawa karena Baekhyun yang protes dan berusaha membalas kedua sahabatnya, menggelitiki mereka yang tertawa puas.
.
.
.
Riuh ramai suara para manusia mendominasi gedung sekolah di siang hari yang telah berebut posisi dengan sang petang. Seolah mencoba mengkudeta sang surya agar dengan cepat tenggelam dari tempatnya semula. Langkah-langkah kaki berlari, berjalan pelan, gontai beriringan serentak seolah burung-burung yang berterbangan keluar dari sangkarnya. Diantara barisan ribuan manusia berseragam itu terlihat tiga manusia tengah mengurung seseorang lainnya lalu menyeret orang tersebut ke tempat yang setidaknya hanya beberapa gelintir siswa siswi yang lewat dan jelas tak akan menghentikan aksi ketiga siswi cantik itu.
"A..am..pun..k..ku..mo..hon ma..maafkan aku Kyungsoo, aku tak sengaja." Kyungsoo meludah tepat di depan wajah orang yang tengah memohon padanya.
"Hmm..rambut panjangmu ini bagus juga, tapi lebih bagus lagi kalau.." yang tengah menjadi objek Kyungsoo dan kedua sahabatnya mengerti apa yang akan dilakukan gadis itu ketika ditangannya telah tergenggam sebuah gunting. Siswi itu melotot ketakutan.
"Ja..jangan..Kyungsoo kumohon jangan." gadis itu terisak namun tetap sesekali memberontak.
"Anggap saja rambutmu ini untuk mengganti buku kami yang sengaja kamu robek." Baekhyun menatap Luhan setuju lalu keduanya menatap Kyungsoo yang menyeringai.
"Dan karena mulut murahanmu dan gosip tolol yang kamu buat tentang Kyungsoo." Baekhyun tersenyum puas menatap Kyungsoo. Gadis itu terus memekik, meringis kesakitan ketika ia mencoba memberontak, karena tiga gadis yang mengurungnya justru semakin menjambak rambutnya dan menyiksa nya dengan kata-kata kasar. Berapa kalipun ia minta maaf dan menyesali nya, Kyungsoo, Baekhyun, dan Luhan tak terpengaruh dan detik selanjutnya rambut malang siswi itu terjatuh ke tanah dengan tak beraturan pada sisa-sisa di kepalanya. Ketiga gadis pelaku itu tertawa puas. Lalu meninggalkan siswi yang menjadi korban mereka setelah penyiksaan kecil. Ia memang bersalah karena emosi nya begitu membuncah sejak melihat Kyungsoo berada di mobil yang sama dengan lelaki pujaannya dua hari yang lalu. Terlebih ia tak tahan dengan perilaku ketiga perempuan yang ia anggap jalang itu dengan superior memperdayakan teman-temannya, membuat masalah, tak segan mengerjai teman-temannya dan bahkan gurunya pun tak luput dari kenakalan Kyungsoo dan kedua sahabatnya. Ia ingin sekali memberi pelajaran pada mereka bertiga terutama Kyungsoo dengan menyebar gosip bahwa gadis itu dengan tidak tahu malunya menggoda gurunya sendiri demi nilai dan pencapaiannya di sekolah. Ia puas ketika gosip itu tersebar cepat lewat media internal siswa. Dan menjadi perbincangan. Namun ia tak menyadari kebodohannya sehingga ketiga jalang itu tahu dan berakhir menyiksanya seperti ini. Ia tak mampu bergerak karena hanya bisa terus menangis, terisak menatap helaian potongan rambutnya yang telah tak berdaya di tanah. Dari jauh seorang lelaki dengan pakaian setelan jas berdiri lalu dengan cepat berlari menghampiri gadis malang itu.
"Kim Sohyun?" gadis pemilik nama itu mendongak menatao tak percaya pada objek di depan maniknya.
"Songsaenim..." suaranya terdengar lirih
"Kamu Kim Sohyun murid kelas 12-C kan? Kenapa kamu... Apa yang terjadi?" gadis itu hanya menunjukkan tatapan menyedihkannya pada gurunya yang menjadi akar dari meluap nya emosi Sohyun pada Kyungsoo, gadis itu. Sohyun hanya bisa pasrah ketika sang guru, Kim Jongin membantu nya berdiri dan mengantarnya pulang. Ia merasa pedih sekaligus senang, karena kini tak hanya gadis jalang itu yang merasakan berada satu mobil dengan Kim Jongin.
"Sepertinya kamu gak ada niat untuk menjelaskan. Tapi aku tahu ini perbuatan siapa." ucap Jongin memecah keheningan di dalam mobil setelah sebelumnya Sohyun hanya mengucapkan alamat rumahnya. Gadis itu hanya tertunduk, ia terlalu takut Kyungsoo dan kedua temannya menyiksanya lagi jika tahu ia seolah mengadu pada gurunya.
"Jangan takut, kalian harusnya melapor jika mereka bertindak kasar. Ini namanya tindakan pembullyan." Sohyun hanya tertunduk diam kembali setelah mengangguk menanggapi ucapan Jongin. Dalam hati ia merasa lega dan aman, bagaimana ia tak semakin jatuh hati dengan lelaki di sebelahnya jika hatinya selembut ini. Sohyun ingin sekali berharap lebih pada lelaki yang hanya berjarak 5 tahun lebih tua darinya itu. Namun khayalannya terusir dan terpukul keras ketika kesadaran menginvasi ruang berpikirnya. Mobil itu berhenti tepat di depan rumahnya. Dan ia menggumamkan banyak terimakasih dengan serta merta membungkukkan badannya. Jongin hanya menanggapi nya dengan senyumsn manis menenangkan setelah menyampaikan bahwa masalah Kyungsoo akan segera diurus dan ia perlu memberitahu orang tuanya.
.
.
.
Getaran sebuah benda yang berada di saku rok Kyungsoo membuatnya risih, benda itu tak berhenti bergetar namun Kyungsoo tak ingin menanggapinya karena ia tahu penyebabnya. Tapi lama-lama ia geram dan mungkin mematikan atau melempar benda itu jauh-jauh akan lebih baik. Kyungsoo mengambil benda di saku nya. Luhan yang melihat raut wajah tak nyaman Kyungsoo akhirnya membuka suara.
"Oh, siapa Kyung? Tunangan ganteng mu itu ya?" Baekhyun dan Luhan tertawa serentak. Kyungsoo hanya memberi tatapan 'wanna die?' pada kedua sahabatnya lalu selanjutnya mematikan benda yang adalah ponsel itu dan memasukkannya ke dalam tas.
"Hanya ada dua cara yang mungkin keduanya gak terdengar menyenangkan untukmu." Kyungsoo dan Luhan mengerutkan dahi nya bersamaan lalu saling menatap dalam kebingungan. Baekhyun merutuki kedua sahabatnya dan memutar bola matanya. Oh ayolah.
"Yang pertama, kamu harus menggagalkan perjodohan itu meskipun dengan cara kotor, atau yang kedua, ini terdengar tolol tapi kamu harus mencoba membuka hatimu lagi Kyung." dan setelahnya Kyungsoo langsung memuntahkan seluruh isi mulutnya yang penuh dengan makanan lalu terbatuk
"Ayolah Kyungsoo, he's so damn hot and fucking handsome.. Dia pintar, dewasa, baik hati, kaya ra.." kalimat Baekhyun tiba-tiba dipotong.
"Sekali lagi kamu ngomong, aku bisa muntah darah sekarang juga, Baek." Luhan terkekeh sampai sebelah tangan menutup mulutnya dan sebelahnya lagi menepuk-nepuk bahu Kyungsoo.
"Sudahlah..sudahlah..gak apa, Kyungie. Dia cuma terobsesi dengan Mr. Kim fucking perfect Jongin. Biarkan saja." Baekhyun mendengus tak suka lalu mengerucutkan bibirnya. Ia kesal kenapa Kyungsoo tak menyerah saja. Tapi ia yakin, bisa membuat sahabatnya itu sadar kalau ia bisa saja jatuh cinta lagi, dan tak menampik kalau Kim Jongin lah yang Kyungsoo cintai.
Deru suara mesin mobil melemah ketika berhenti di depan sebuah rumah besar. Tiga manusia di dalamnya saling berpelukan dan mengucapkan salam selamat malam ketika salah satu dari mereka turun dari mobil dengan tujuan masuk ke dalam rumah itu. Kyungsoo melambaikan tangannya ketika mobil itu menjauh, keluar dari gerbang rumahnya. Langkahnya gontai memasuki rumah yang tak ingin ia masuki. Karena salah satu penghuni ilegal yang memuakkan di dalamnya. Tak sampai Kyungsoo menaiki tangga, penghuni ilegal itu telah lebih dulu bersuara. Seperti deja vu, dimana beberapa hari yang lalu lelaki itu menghentikannya dalam keadaan seperti ini.
"Apa yang bisa membuatmu berhenti pulang larut malam?" suara lelaki itu terdengar mengintimidasi. Kyungsoo diam sejenak, menghela nafasnya lalu berbalik kemudian.
"Kamu benar-benar mau tahu? Okay..kalau kamu pergi dari sini..dari kehidupanku juga, itu bisa membuatku berhenti." dengan berani Kyungsoo menatap mata kelam yang telah bercampur emosi di dalamnya.
"Itu tidak mungkin."
"Kenapa? Kenapa sih kamu selalu bersikeras mempertahankan perjodohan tolol ini huh?" rahang Kyungsoo mengeras begitu juga dengan lelaki di depannya yang telah menahan emosi jauh sebelum gadis itu pulang. Jongin tak mungkin dengan gamblang memberitahu alasan utama nya bertahan di perjodohan ini, bertahan dengan sikap Kyungsoo padanya, bahkan bertahan di dalam ketidakpastian perasaan Kyungsoo.
"Aku bertanggung jawab menjaga dan melindungimu." Kyungsoo tertawa remeh diiringi bola matanya memutar malas.
"Aku gak butuh dijaga dan dilindungi kok, aku bisa melakukannya sendiri. Kamu gak perlu menjagaku, kamu gak perlu merubah perilaku ku, aku bisa melakukannya sendiri. Aku tahu dan sadar apa yang aku lakukan untuk hidupku. Kamu gak perlu repot-repot menerima tanggung jawab dari orang tuaku dan orang tuamu. Aku tahu ini cuma taktik mereka untuk mengubah sikapku." Jongin menatap Kyungsoo datar, ia bukan hanya sekali dua kali menerima perkataan semacam itu dari Kyungsoo. Ia tahu Kyungsoo benar, tapi sesuatu yang menariknya jauh untuk bersikap egois dengan memiliki gadis itu tak bisa berkompromi dengan logikanya. Hanya perjodohan ini satu-satunya cara agar gadis itu bisa ia miliki seutuhnya, selamanya.
"Berhentilah, Kim Jongin. Apa kamu gak mau mencintai seseorang dan bahagia? Jadi hentikan perjodohan ini." Jongin tersentak serasa dihantam dengan keras ke sebuah sudut ruangan dan terkunci tanpa bisa merasakan udara menyentuhnya. Ada gejolak yang memaksa keluar ketika jantungnya terasa dihujam dengan keras meski hanya dalam satu kali hujaman. Jongin mungkin sudah gila bertahan di tengah semua ini, tapi ia tak peduli dan ia semakin gila dengan apa yang tengah ia coba ucapkan pada gadis yang kini perlahan berjalan menaikki anak tangga.
"Lalu bagaimana kalau aku bahagia karena mencintai orang yang akan dijodohkan denganku?" Kyungsoo terlonjak mendengar kata demi kata yang terlontar dari lelaki di belakangnya. Mata nya membulat sempurna dan detik selanjutnya ia membalikkan tubuhnya. Ekspresinya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kamu bilang apa? Apa yang baru saja kamu coba katakan?" wajah Kyungsoo penuh antisipasi, berharap yang lelaki itu ucapkan salah di dengarnya. Dan antisipasi Kyungsoo meningkat setelah selanjutnya lelaki itu perlahan melangkah menaikki anak tangga mendekat ke arah Kyungsoo sehingga gadis itu berusaha mundur namun hampir limbung jika tak ada tangan yang menahannya. Posisi keduanya kini terlihat intim dengan Jongin merengkuh pinggang Kyungsoo posesif dan tanpa sadar tangan Kyungsoo mencengkram bahu Jongin.
"Maaf aku lancang, but.." Jongin menghela nafas sejenak untuk melanjutkan kalimatnya. "I think i love you." mata bulat Kyungsoo berhasil membulat sempurna bagaikan cahaya rembulan ketika ia sedang dalam kondisi full moon. Kyungsoo merasakan kepalanya berputar-putar, tubuhnya melemas, merinding merasakan getaran asing. Entah apa yang menghasut logika yang ia bangun dengan kokoh, sehingga ia tak mampu bergerak ataupun menolak rengkuhan lelaki di depannya.
Kyungsoo merasa tubuhnya seringan kapas. Ia seperti kehilangan kesadaran begitu mendengar sesuatu yang menjijikkan tapi membuat kerja jantungnya lebih cepat dari sebelumnya. Ia berharap salah mendengar atau mungkin lelaki itu salah berucap sehingga ia menggelengkan kepalanya. Namun seolah mengerti jalan pikiran Kyungsoo, Jongin kembali berucap
"Aku nggak salah, kamu pun nggak salah dengar Kyungsoo. Aku benar mencintaimu." lagi, jantung Kyungsoo berdentam-dentam seolah mencoba keluar dari tempatnya. Kerja jantungnya yang semakin cepat membuat syaraf dan seluruh organ tubuh nya melemah, berfokus hanya pada kerja jantungnya. Sehingga tak ada ruang bagi paru-parunya untuk meraup banyak udara. Ia tercekat, sesak, seperti dicekik kuat. Ia susah payah menatap mata cokelat gelap Jongin dan berusaha menemukan kesalahan atau kebohongan disana. Mungkin kelaki itu tengah melakukan trick, kamuflase atau semacamnya. Tapi kenapa sepasang mata itu malah menyiratkan ketulusan dan kesungguhan. Ah, tidak..ini hanya anggapan Kyungsoo dan lagipula kenapa logika nya tiba-tiba berbandik terbalik dengan yang seharusnya. Ia tak seharusnya percaya begitu saja. Ia bukan lagi gadis bodoh yang mudah begitu saja percaya.
"Aku sungguh-sungguh, Kyungsoo. Aku gak berbohong. Aku benar-benar mencintaimu. Percayalah." seolah mengerti apa yang tengah gadis itu pikirkan, Jongin mengucapkan semua kata-kata itu tanpa ada cacat atau gugup sedikitpun. Sorot matanya berusaha meyakinkan Kyungsoo, ia berharap Kyungsoo mengerti. Inilah alasannya mempertahankan perjodohan itu.
Tapi Kyungsoo semakin dibuat tak beraturan, logika dan akal sehatnya berlari berhamburan tanpa ingin membantu Kyungsoo keluar. Sehingga dengan tarikan nafas kasar, ia mencoba mengumpulkan logika dan akal sehatnya yang tengah berlari berhamburan untuk kembali pada barisannya. Menyadarkan dirinya dari situasi tersebut. Tidak..tidak, ini salah. Ini tidak boleh terjadi, pikir Kyungsoo. Lelaki itu hanya buta karena tidak mampu membedakan cinta, tertarik, atau mungkin nafsu. Nah, itu dia. Kyungsoo menyeringai mengetahui jika lelaki di depannya ini mungkin saja hanya ingin menikmati tubuhnya. Ya, Kyungsoo yakin yang satu itu jadi ia dengan tiba-tiba mendekatkan bibirnya meraih bibir Jongin yang hanya berada beberapa centi didepannya. Jongin tentu saja kaget dengan pergerakan Kyungsoo, ia berusaha menelusuri sebuah alasan tapi akal sehat nya terbuang begitu saja oleh gejolak perasaan yang merambat mengaliri pembuluh darahnya dan menyebarkan ke seluruh organ tubuhnya sampai kaku tak berdaya. Ia tahu ini gila tapi ia ingin perasaannya mengkudeta logika menimbulkan kepercayaan diri yang kuat bahwa gadis itu mencoba mencari kunci hatinya yang tertutup sejak pengakuan Jongin lewat sentuhan ini. Sementara itu Kyungsoo semakin menyesapi bibir atas dan bawah Jongin, melumatnya sedikit kasar. Jongin terperangah. Ia ingin sekali percaya diri jika Kyungsoo juga merasakan hal yang sama. Sudut bibirnya membentuk senyuman miring lalu tanpa basa basi membalas ciuman Kyungsoo lebih dalam lagi, menyesap mencecap rasa yang tertanam di bibir ranum Kyungsoo, melumat dengan bergairah dan menuntut namun tetap berusaha lembut agar tak melukai bibir manis gadisnya. Satu tangannya ia larikan ke tengkuk gadis itu, menekannya agar merasakan ciumannya lebih dalam lagi. Kyungsoo melenguh ketika Jongin menarik bibir bawahnya. Gadis itu telah larut dan terbawa egonya. Logika Kyungsoo telah berganti haluan, ia tak peduli dengan kenyataan. Toh jika lelaki itu memang menginginkan tubuhnya, ia tak peduli. Kyungsoo tak melakukan ini atas nama cinta. Cinta itu delusi yang memuakkan dan tak pernah nyata. Dua insan itu saling bertautan semakin dekat. Bibir yang semakin tenggelam satu sama lain. Keduanya memiringkan kepala berlawanan arah seolah mencari posisi ternyaman agar lebih mudah mencecapi bibir lawannya. Lenguhan dan erangan membuktikan panasnya gairah yang tertuang hanya dengan sebuah ciuman. Kyungsoo mencengkram kuat rambut Jongin, entah sejak kapan jari-jarinya menari disana. Jongin memanfaatkan celah di bibir Kyungsoo, masuk menginvasi mulutnya dan mengecap rasa yang memabukkannya. Melilit lidah Kyungsoo dengan paksa, menghisapnya seperti lebah penghisap madu. Tapi Jongin pikir rasa bibir dan mulut Kyungsoo lebih dari manisnya madu. Jongin melarikan lidah nya ke seluruh bagian mulut Kyungsoo dan terus melakukannya berulang-ulang hingga keduanya bergelut pada lenguhan kenikmatan namun juga pertanda bahwa keduanya membutuhkan ruang bagi saluran pernapasan untuk meraup oksigen. Sehingga Jongin lebih dulu melepas tautan sepasang bibir itu, tapi tak berarti ia berhenti. Ia beralih turun menuju ceruk leher putih Kyungsoo. Mengecup nya di setiap bagian. Awalnya kecupan kecil lalu berubah menjadi sebuah hisapan serta lidah yang bergerilya mengecap dari bawah ke atas lalu berulang-ulang.
"Nng mmmhhh.." erangan tak beraturan keluar dari mulut Kyungsoo dengan tangan membuat pola tak beraturan pada rambut Jongin, sedang matanya tertutup merasakan gejolak yang menguar ke seluruh tubuhnya. Suara yang keluar dari mulut Kyungsoo seakan pertanda bahaya yang dibawa oleh malaikat agar menariknya ke surga segera. Sensasi luar biasa menjulur ke seluruh tubuh Jongin dan tentunya bagian inti tubuhnya yang telah turn on hanya dengan suara merdu itu. Jongin susah payah mengumpulkan akal sehat yang telah didominasi gairah tak tertahankan. Jadi ia melepas tautannya dan sedikit menjauh dari Kyungsoo. Kyungsoo perlahan membuka matanya ketika merasakan Jongin tak lagi mencumbunya. Alisnya berkerut lalu selanjutnya lelaki itu membuka suara.
"Tidurlah, Kyungsoo. Sebenarnya ad..." belum selesai Jongin bicara, gadis di depannya telah memotong lebih dulu
"Apa ini? Kenapa? Bukankah ini yang kamu mau? Kalau bisa sekarang kenapa harus menunda? Aku bisa lihat kamu udah turn on." Kyungsoo menyeringai lebar menatap bagian bawah tubuh Jongin.
"Apa maks.." lagi-lagi Kyungsoo memotong
"Nah..nah. Aku tahu kamu cuma menginginkan tubuhku. Kamu mungkin salah mengartikan cinta dengan nafsu dan.." kini Jongin yang menghentikannya.
"Kyungsoo ap.."
"Sudahlah Jongin, aku tahu maksud.."
"Diam" Jongin membentak keras, Kyungsoo tersentak kaget lalu terdiam. Setelahnya lelaki itu mencengkram kedua bahu Kyungsoo, menatapnya tepat ke dalam manik cokelat gadis itu. Matanya menatap tajam, sarat akan emosi.
"Maaf aku membentakmu. Tapi ini bukan seperti yang kamu pikirkan Kyungsoo.. Aku ben.."
"Diam! Jangan lanjutkan kata-katamu! Nggak...aku gak mau dengar dan aku gak akan percaya apapun. Jangan macam-macam Kim Jongin. Ini salah.." gadis itu lalu menghempaskan tangan Jongin di bahu nya. Menggelengkan kepalanya cepat lalu bergerak menjauhi lelaki itu. Jongin tertohok, ia mengerti mengapa Kyungsoo bersikap begini. Ia bahkan telah menduganya dari awal Kyungsoo pasti tak akan menerima pengakuannya.
"Dengar dulu Kyungsoo, ak.."
"Nggak!" Kyungsoo cepat-cepat beranjak dari tempatnya, melangkahi sisa-sia anak tangga terakhir lalu berlari menuju kamarnya dan membanting pintunya keras-keras. Langkah Kyungsoo tak terkejar oleh Jongin sehingga lelaki itu hanya sampai di depan pintunya. Ia menghela nafasnya pelan. Bersandar pada dinding. Pikirannya kalut.
'I'll make you love me back, however.'
Ya, mereka hanya butuh waktu
.
.
.
.
~TBC~
.
.
Hello, sorry for not even saying hello di chapter sebelumnya. Lupa ngedit. Ini juga tanpa edit lagi. Langsung upload selagi ada waipi(wifi) :D
ff baru lagi setelah Back, dan ff yang satu itu entahlah, file nya hilang padahal udah hampir selesai ceritanya. Dan aku gak ada feel lagi lanjutin itu. Wkwkwk malah curhat.
Silahkan review ya reader. Maaf kalo enceh gak hot se hot matahari di siang hari..loh?/ ff ini penuh dengan kesalahan dan dosa. Mohon dimaklum, hanya nulis imajinasi aja, i'm not an author. Thank you *bow*
