Semuanya gelap. Tubuhnya sakit―terutama tangan kanannya―dan ia merasakan sakit di kepala, seolah-olah ia baru saja ditabrak oleh sebuah truk. Ia mengerang, dan berusaha menahan rasa sakit yang tak tertahankan. Ia mengutuk pelan, menggumamkan beberapa kata 'Fuck' atau 'Shit' dan sebagainya, tapi apa mau dikata sepertinya hal itu tak berguna.

Alfred berdiam diri sejenak, mencoba membuka matanya, berusaha untuk menebak kira-kira dimanakah ia berada sekarang. Satu hal yang ia ketahui, adalah ia tidak seharusnya berbaring di atas sebuah―apa yang sepertinya adalah―sofa.

Alfred berusaha bangkit dari―yang kelihatannya seperti―sebuah sofa, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Lantai yang terbuat dari kayu sehingga menimbulkan bunyi berdecit ketika seseorang menapakkan kakinya pada lantai yang terlihat sedikit berumur itu, serta dinding berwarna krem kecoklatan, perpaduan warna coklat yang didominasi oleh warna beige, lengkap dengan semacam pohon dengan model bonsai bunga sakura yang berada di pojok ruangan, memberikan kesan yang lembut dan menenangkan, dan juga pernak-pernik yang menghiasi seluruh ruangan, memberikan sebuah pemikiran yang kuat bahwa pemilik ruangan ini adalah seorang Asia. Apa daya, pikiran sang American satu ini sedang sangat tidak tenang.

Ketika ia menyadari bahwa―mungkin―persendian pada tangan kanannya telah bergeser.

Mengapa ia bisa tahu? Mudah, ia tidak bisa menggerakan tangannya, yang hanya meninggalkan dua pilihan. Antara tulang di tangan kanannya patah―yang sangatlah tidak mungkin karena meski pun tangan itu sakit, ia tidak merasakan rasa sakit yang membunuh―atau persendiannya mengalami permasalahan, yaitu tulangnya bergeser. Dan ia lebih memilih opsi kedua karena menurutnya opsi kedua itu lebih aman, dan―sepertinya―tidak begitu menyakitkan.

Tapi satu-satunya hal yang masih ia belum bisa ia tangkap dengan akal sehatnya―apabila memang ada dalam diri Alfred F. Jones―adalah 'Dimana aku berada kini?'

Seolah menjawab pertanyaan batinnya, ia mendengar seseorang membuka pintu geser. Alfred segera bersiaga, ada sedikit ketakutan dan rasa panik menyelimutinya, sebab ia sendiri tak bisa mengingat pasti mengapa tangannya cedera dan berakhir di sebuah sofa yang empuk. Ia hanya tahu bahwa ia pingsan sebelumnya, tapi ia tak mengerti―atau mengingat―bagaimana ia bisa pingsan.

Semoga lelaki berambut hitam dengan pakaian aneh-nya itu―yang sebetulnya hanya berupa balutan kain, mampu menjelaskan kepadanya, apa yang telah terjadi.

"Ah, rupanya anda sudah siuman ya?"

Aksen yang terdengar sangat oriental dan pelafalan bahasa Inggris yang sangat tidak wajar di telinga sang American sejati satu ini, menyapa dirinya dengan suara dan tutur kata yang kelewat halus. Sungguh jarang ia temui lelaki―yang sempat ia salah kaprahkan sebagai wanita―dengan perangai yang sangat... sangat feminim.

"Di… dimana dan… siapa kau!"


I Haven't Met You Yet

Second chapter: Hidup seperti ini, sungguh, terlalu mengejutkan

Hetalia : Axis Powers © Hidekazu Himaruya,

Captain America © Marvel,

Superman © Jerry Siegel,

Final Fantasy XIII © Square Enix

WARNING : AU, maybe OOC, bahasa-bahasa eksplisit, dll.

Now Playing – You and I Both by Jason Mraz


"Tolong ikuti saya, Mr. Jones."

Alfred mengikuti sang―apa yang sepertinya adalah―asisten muda menuju ke ruang rawat. Setelah pertemuan pertamanya dengan Kiku Honda, pria Jepang yang adalah salah satu owner dari Peony Tea Shop, Alfred segera diantar―dengan banyak perlawanan dari sang American―menuju ke rumah sakit terdekat.

Di sana, ia segera membuat reservasi dengan seorang dokter tulang, atas paksaan sang lelaki Jepang. Pada akhirnya Alfred pun terpaksa menunggu seorang diri di tengah-tengah ruang tunggu yang terdiri tidaklah lebih dari orang-orang berpenyakit, atau yang memiliki komplikasi tertentu. Dan entah bagaimana, Kiku memutuskan untuk meninggalkannya sendirian sebab ia masih memiliki pekerjaan yang harus dilaksanakan. Tentu saja lelaki berambut hitam itu tidak lupa untuk meninggalkan kartu namanya, yang ditulis menggunakan huruf alien. Sungguh, semua orang harus segera mempelajari bahasa Inggris, karena America adalah pemersatu bangsa!

Tapi pada akhirnya, ia tidak banyak memberikan protes, karena sang pria Jepang telah hilang begitu saja. Lihat saja nanti, bila ia bertemu kembali ia pasti akan meminta ganti rugi dan juga alasan mengapa Coffee shop langganannya menghilang begitu saja. Yah, tapi hal itu harus ia lakukan nanti, sebab ia telah tiba di hadapan sebuah pintu bertuliskan 'OrthopedicDr. Berwarld Oxenstierna, Sp,OT'. [1]

Sebuah nama yang aneh…

"Baiklah Mr. Jones, silakan masuk dan menemui dokter Oxenstierna." Dan asisten itu pergi menghilang begitu saja, meninggalkan Alfred F. Jones berdiri sendirian di tengah-tengah lorong rumah sakit yang berwarna putih bersih, warna yang membuat perasaannya tidak enak.

Untuk sesaat, Alfred serasa berada di salah satu adegan film-film horror, dimana dalam beberapa momen ke depan, akan ada monster, setan atau apalah yang akan segera keluar seketika ia membuka pintu di hadapannya. Bisa saja suster ngesot hasil impor dari Indonesia, atau Pontianak dari Malaysia, tapi siapa yang tahu?

Dan benar saja, ketika ia membuka pintu…

Tatapan horror telah muncul di depannya.

"AAAAAAAAAAGH!"

Dan lelaki American―yang selalu mengklaim dirinya adalah hero incarnation―hanya bisa berdiri lemas. Mungkin saat ini juga, ia harus meminta pada dokter tulangnya untuk segera memeriksa kaki dan mungkin juga tambahan diagnosa dari dokter syaraf.

"M'suk."

'Seseorang' dari dalam ruangan tersebut menatapnya dengan intens dan horror. Alfred F. Jones segera mengutuk sosok yang berada di depannya, dan ia yakin bahwa ini jauh lebih menyeramkan daripada film horror buatan temannya yang berasal dari Thailand itu! E… eh, tunggu dulu... Orang ini berjas dokter, dengan name tag resmi dari rumah sakit terjepit pada sisi baju sebelah kirinya, dan sebuah stetoskop yang menggantung di lehernya… oke, jika diterima dengan akal sehat―sayangnya Alfred tidak mengenal kata 'Akal Sehat'―kita bisa langsung mencerna kenyataan bahwa orang ini adalah dokter.

Dan memang, ia memang dokter, kan?

– ・–

"Ini h'sil di'gnos'mu, Mr. Jon's." Kemudian, sang dokter mulai menjelaskan mengenai kondisi tulangnya, yang lebih sering diucapkan dalam rupa gumaman sehingga Alfred tidak terlalu mengerti apa yang ia katakan.

"Maaf, apa kau bisa mengulanginya lagi?" Pintanya dengan suara―sangat, teramat, tidak lebih besar dari sebuah bisikan―kecil. Tak lama kemudian Alfred―akan sangat―menyesali tindakannya tersebut. Tatapan mata sang dokter sangat menakutkan, seolah-olah ia akan membunuh Alfred di tempat. Ah, rasanya ia melihat pintu surga kini…

"'Pa?"

Keringat dingin telah mengucur―bagaikan air terjun Niagara―di sekujur tubuh Alfred. Ia mencoba berbicara, sayang, kata-kata yang keluar malah bergetar.

"A-ah, tidak apa-apa, aku hanya mengatakan bahwa ruangan ini bersih yah… haha... hahahaha…"

Alfred bersumpah, bahwa ia tidak akan datang ke rumah sakit ini lagi, untuk selama-lamanya.

Dan keadaan berlalu begitu saja. Sang dokter berbicara, sedangkan Alfred―berusaha―mendengarkan. Dari apa yang ia tangkap melalui cuap-cuap―menurut Alfred―setengah tak niat sang dokter, sepertinya, ia mengalami pergeseran sendi pada bahu kanannya serta sedikit retak pada tulang-tulang di lengannya sehingga ia takkan bisa menggerakan seluruh bagian dari lengan kanannya itu selama kurang lebih sepuluh hari. Hell, kalau seperti ini, ia tak akan bisa melakukan apa pun selama kurun waktu tersebut, secara dirinya tidak kidal dan… oke, sangat merepotkan.

"…J'di, s'lama s'puluh h'ri ke dep'n, kau tak b'leh m'ngg'rak'n t'ng'nmu, 'pa pun y'ng t'rj'di."Sang dokter yang masih berbicara dengan ekspresi datarnya itu menuliskan semacam surat keterangan dan juga resep obat yang bisa diambil oleh Alfred, "Ini r'sep obat 'tukmu, agar b'sa m'namb'h asup'n kalsium 'tuk m'mperc'pat p'mulih'n k'nd'si tul'ngmu, atau…" dokter itu terdiam sebentar, "…'au k'suntik?"

Alfred memang tak bisa mendengar keseluruhan dari perkataan sang dokter, namun ia sangat yakin bahwa ia mendengar kata 'suntik' di akhir kalimatnya. Salah satu hal yang paling dibenci, dan mungkin ditakuti oleh seorang Alfred F. Jones.

"TIDAAAAAAAAAAAAAK!"

Ia benar-benar bersumpah, tak akan datang lagi ke neraka jahanam ini.

– ・–

Selama beberapa waktu tertentu, terdengar teriakan-teriakan―bagai wanita-wanita di komik shoujo yang sepertinya hendak diperkosa―dari arah ruang rawat Berwald Oxenstierna... Oke, semua orang di rumah sakit itu tahu, bahwa dokter satu itu adalah seorang homoseksual, tapi di saat yang sama, mereka juga tahu, bahwa dokter dari Swedia tersebut tak akan sembarangan mencari 'sasaran' baru, sebab Berwald adalah tipikal homoseksual setia. Dan menurut 'rumor' ia sudah memiliki seorang 'calon pengantin.'

Karena itulah, sang asisten bernama Tino―yang hendak kembali masuk ke dalam ruangan dokter Berwald sembari membawa barang-barang keperluan medis untuk sang dokter―terkejut ketika ia melihat sosok Mr. Jones yang tengah menangis kesakitan―atau ketakutan, sementara sang dokter, tengah berupaya menahan posisi tangan pasien malang yang tak henti-hentinya menangis tersebut.

"Dokter Oxens-, ah, Berwald! Apa yang terjadi di sini!" Wajah sang asisten yang biasanya tampak seperti malaikat tidak berdosa, kali ini telah berubah menjadi sosok yang menakutkan sehingga membuat wajah sang dokter pucat berubah pucat... dan disalahkaprahkan oleh banyak orang menjadi semakin seram

"Maaf Tino, p'sien 'ni tak mau di'm, t'long j'ngan s'lah p'ham." Alfred―yang masih berlinangan air mata―hanya memperhatikan keadaan ruangan yang saat ini telah berubah menjadi satu ruangan bersuasana yang sangat canggung. Apa yang telah terjadi di neraka jahanam ini?

"Sebetulnya... apa yang sedang kau coba kepada Mr. Jones?" Tino melirik ke arah pasien dokter Berwald, yang saat ini sedang bertelanjang dada. Dan mukanya memerah karena ia tidak terbiasa melihat pemandangan seperti itu.

"'ku s'dang m'ncoba m'ngemb'likan p'sisi t'langnya…"Untuk beberapa waktu mereka saling bertukar kata, sebelum akhirnya Tino memutuskan untuk kembali kepada pekerjaannya―sebelum ia memberikan tatapan kasihan―kepada sang pasien, yaitu Alfred.

Pada intinya, Alfred sungguh tak mengerti. Sejak awal ia tersadar, ia terbangun di sebuah ruangan yang tak jelas dimana tempatnya, kemudian seseorang dengan logat oriental dan wajah berkesan sangat Asia yang melemparkannya ke dalam sebuah neraka―yang menurut Alfred―berkedok rumah sakit, meninggalkannya dengan sebuah kartu dalam bahasa alien serta dokter dan asisten gila yang berusaha membunuhnya, baik secara fisik mau pun mental. Tetapi, setelah sedikit tawar-menawar tentang masalah konsultasi harian dengan sang dokter, serta masalah biaya dan lain-lain, akhirnya Alfred pun diperbolehkan keluar dari neraka jahanam berkedok rumah sakit satu ini. Hal pertama yang ia lakukan ketika itu juga adalah melompat kegirangan―dengan banyak protes dari sang dokter dan celotehan dari asisten, berlari keluar bangunan tersebut, dan mencium jalanan.

Ah, ia cinta kebebasan!

– ・–

Baru tiga hari berlalu, semenjak Coffee Shop favoritnya itu menghilang.

Dan baru tiga hari berlalu, semenjak tulangnya bergeser dan Alfred F. Jones harus mengalami pengalaman paling menakutkan dalam hidupnya, yang adalah sebuah rumah sakit beserta dengan isinya.

Tiga hari berlalu, semenjak ia harus menahan keinginannya untuk melakukan seks dengan sembarang orang seperti biasanya... maklumlah, dia sudah addicted dengan hal bernama seks...

Serta tiga hari telah berlalu, semenjak ia tidak bisa menggerakan tangan kanannya.

Tetapi Alfred F. Jones, seorang American sejati, sudah cukup merasa tersiksa. Ia menderita, ia tidak bisa melakukan apa-apa selama tiga hari tersebut. Tidak bermain Final Fantasy XIII, tidak melaksanakan aktivitas malamnya, dan juga tidak bisa melaksanakan apa pun tanpa harus merasa dibatasi. Ia membenci semua ini, ia bosan, ia ingin mati saja―walau pun itu adalah sebuah bualan, ia harus melakukan sesuatu.

Tetapi apa? Alfred sendiri mengerti bahwa dirinya adalah seorang yang sangat mudah teralihkan perhatiannya. Ia tidak bisa melakukan sesuatu dalam kurun waktu yang lama tanpa merasa bosan, terkecuali hal itu adalah bermain game yang sayangnya tak bisa ia lakukan sekarang. Memutar-mutar channel televisi dan tidak berhasil menemukan acara yang sepertinya baik untuk ditonton, akhirnya Alfred hanya bisa mendesah, sebuah desahan yang sudah muncul lebih dari seribu kali dalam kurun waktu tiga hari.

"AKU BOSAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!" ia berteriak, kemudian tangan kiri yang tidak terluka mengacak-ngacak rambut pirangnya dengan harapan dapat menghapus kebosanan itu. Kalau saja bisa ia bisa, ah, dunia ini pasti akan terasa lebih menyenangkan…

Calon astronot itu mematikan televisinya, melempar remote TV itu ke sembarang tempat dan untuk kesekian kalinya, kembali mendesah. Ia memperhatikan semua pernak-pernik yang berada di dalam penthouse miliknya, dan untuk pertama kalinya ia bosan dengan seluruh keadaan ruangan yang menjadi kebanggaannya selama ini. Ruangan bermodel minimalis yang di-cat putih, dengan alas karpet berwarna coklat pucat, dan dinding yang dihiasi dengan berbagai poster Captain America, dan Superman dalam berbagai versi dan pose, sungguh meramaikan kondisi ruangan yang sangat… sangat kontras satu sama lain.

Pada beberapa sisi ruangan, terdapat sejumlah pigura foto yang entah menggantung di dinding, atau ditempatkan di atas rak buku yang berisi berbagai komik terbitan Marvel―yang telah mengkontaminasi pikiran dan menyebabkannya berdilusi bahwa ia adalah seorang hero incarnation―sedangkan sebagian kecilnya adalah buku yang berhubungan dengan astronomi. Kebanyakan dari foto-foto yang terpajang, berisikan foto narsis Alfred, atau Alfred yang berada di tengah-tengah teman sesama angkatan kuliahnya. Sebuah foto dengan pigura yang paling menarik perhatiannya, foto dirinya dengan seseorang yang mirip sekali dengan dirinya―siapa gerangan orang itu?―sedang berpose di depan Statue of Liberty.

Matanya masih mengedar kesana-kemari. Sesekali melihat ke arah jendela yang dihiasi gorden dengan motif bendera Amerika Serikat. Alfred F. Jones memang orang yang sungguh nasionalis pada beberapa sisi…

Ia berpikir, sembari berjalan menuju arah balkonnya. Terdiam sebentar selagi melihat-lihat kondisi kota New York pada siang hari yang sibuk dengan ribuan―bahkan puluhan ribu―orang berjalan-jalan di sepanjang jalan raya kota tersibuk di dunia satu ini, dan mencoba mencari cara untuk menghilangkan kebosanannya tanpa harus menggunakan tangan kanannya. Ia merutuk untuk kesekian kalinya dalam tiga hari terakhir mengapa ia harus terlahir tidak kidal.

Ah! Betapa bodohnya dia! Mengapa ia tidak memikirkan bahwa dengan berjalan-jalan di tengah kota saja bisa menghilangkan kebosanannya? Yah, ia sendiri juga tidak begitu yakin, tapi setidaknya ia bisa melakukan sesuatu dengan santai untuk menghilangkan rasa bosan itu. Lagipula, siapa tahu di luar sana akan ada hal yang menyenangkan. Tak ada salahnya ia mencoba berjalan-jalan di siang hari yang padat seperti ini, bukan?

Ia mengenakan jaket bomber kesukaannya pada bahunya yang tegap. Membiarkan jaket yang dimaksud sedikit tertiup-tiup oleh angin sembari ia bergerak-gerak. Ia menutup pintu―tak lupa pula menguncinya, sebelum kemudian beranjak menuju lift, dan segera menekan tombol lantai satu. Sepanjang lift itu turun, Alfred bersiul-siul, menyanyikan salah satu soundtrack dari Final Fantasy XIII favoritnya.

– ・–

Ia berjalan mengelilingi blok-blok di sekitar penthouse-nya, mengunjungi beberapa tempat yang sebelumnya agak enggan ia kunjungi, dan juga mendatangi sebuah cinema dengan harapan ada film menarik yang patut ditonton―sayangnya tak ada. Sesekali ia melewati beberapa taman yang berlokasi tak jauh satu sama lain, dan disanalah ia menemui beberapa pasangan tengah berciuman dan berpacaran dengan romantis. Ia mendecak, andaikan tangan kanannya tidak sedang di-gips seperti saat ini, pasti ia sudah bersenang-senang dengan wanita-wanita single yang bisa ia comot kapan saja. Tapi siapa gerangan yang mau mengencani seorang pria ber-gips? Ah, takkan ada yang mau.

Ia berhenti pada sebuah perempatan, menunggu lampu merah agar berubah menjadi hijau supaya dirinya dan juga para penyeberang lain bisa menyeberang ke seberang. Alfred kembali menatap bosan ke sekelilingnya, dimana-mana hanya ada lautan manusia, manusia, dan manusia lagi. Sesekali ia berharap bahwa kerumunan manusia ini adalah kumpulan alien yang baru saja turun dari langit.

Kala itu, ia menangkap sosok lelaki yang sepertinya… kelewat familiar.

Ia melihat sosok lelaki itu berada di arah yang berlawanan, sepertinya hendak menyeberang ke arahnya saat ini. Di saat yang sama, lampu merah pun berubah menjadi hijau, tanda menyeberang. Alfred mengikuti arah lautan manusia yang hendak menyeberang, dan pada momen yang sama, lelaki itu pun berjalan ke arahnya juga.

Pada saat itulah, mereka bertemu, satu sama lain.

Alfred memandang ke arah lelaki dengan alis yang―kelewat―tebal itu, dan rambut dirty blonde miliknya. Kedua matanya bertemu dengan sepasang iris emerald milik lelaki beralis luar biasa tebal itu, dan seketika itu juga, ia ingat dengan jelas siapakah laki-laki yang tengah berpapasan dengannya. Alfred hendak mengulurkan tangan kirinya, menyentuh pundak lelaki itu, sebelum ia tertabrak oleh salah satu penyeberang jalan, sehingga ia terantuk ke samping, dan tangannya tidak berhasil meraih sosok tersebut.

Ia berusaha melawan arus para pejalan kaki yang hendak menyeberang, pandangan matanya tetap tertuju kepada satu sosok yang sama. Ketika ia akan melewati untuk menyeberang kembali, ia tidak menyadari bahwa lampu telah berubah kembali menjadi merah. Alfred pun terpaksa berhenti, ketika ia nyaris ditabrak oleh sebuah taxi kuning―ciri khas kota New York―dan ia dikirimi sumpah serapah oleh pengendara yang tampak marah.

Pria itu terus berjalan tanpa sepertinya menyadari kehadiran Alfred. Alfred pun memutuskan untuk mengikuti figur tersebut, dengan harapan ia bisa mencari jawaban tentang apa yang telah terjadi, dan kalau bisa juga meminta ganti rugi, sebab ia yakin, bahwa lelaki itulah penyebab segala penderitaannya selama tiga hari ini.

Lampu kembali berwarna hijau, Alfred pun berlari, tidak mempedulikan kondisi tangannya yang terkadang terantuk oleh pejalan kaki lain. Memang sakit, tetapi seorang hero harus bisa menahan rasa sakit seperti ini bukan?

Lelaki itu berbelok pada sebuah tikungan, dan Alfred pun melakukan hal yang sama, hingga mendadak lelaki itu hilang dari pandangan matanya. Alfred kebingungan, ia melihat kesana dan kemari, tapi ia tak bisa menemukan sosok pria beralis tebal itu ditengah kerumunan manusia-manusia yang berlalu-lalang.

Alfred mendecak kesal, meski pun begitu ia terus berjalan, hingga ia tiba di depan sebuah toko buku antik.

'Aneh.' Pikirnya. Ia tidak pernah menyadari terlebih lagi melihat toko buku ini. Padahal toko buku ini masih terletak pada distrik yang sama dengan penthouse miliknya. Ia melihat ke dalam toko buku tersebut melalui kaca etalase, menemukan buku-buku tua―yang nyaris tidak akan ia sentuh―terpajang dengan rapi di depan etalase. Tetapi apa yang membuatnya terkejut, adalah ketika sosok lelaki beralis tebal itu muncul dari balik salah satu rak-rak tinggi yang berada di dalam toko, walau hanya sekilas.

Alfred berlari masuk ke dalam, menghiraukan sapaan dari penjaga toko―seorang lelaki tua yang sepertinya takkan hidup lama―dan segera berlari menuju sebuah section bertuliskan 'Fiction.'

Ada. Lelaki itu berada di sana, di antara buku-buku tua dan kuno yang sudah berdebu. Ia sedang menggenggam sebuah buku tua dengan sampul yang terbuat dari kulit, hal yang sudah jarang ia temukan lagi pada buku-buku masa kini. Lelaki itu tampak tenang, dengan senyuman tipis menyinggung dari ujung bibirnya, seolah ia tengah menikmati bacaan yang tengah ia baca.

Alfred berusaha untuk tak mempedulikan ekspresi lelaki itu dan berjalan mendekat, tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak terlalu lambat, biasa saja. Lelaki itu nampaknya tidak menyadari keberadaannya. Dan ketika Alfred menjulurkan tangannya, hendak menyentuh bahu lelaki tersebut dari samping, ia justru bertemu dengan sepasang mata berwarna hijau emerald.

"Apa yang kau mau dariku?" Geram lelaki tersebut, buku yang berada di dalam tangannya sudah ia tutup, dan ia kembalikan ke dalam rak, bergabung bersama dengan buku-buku tua yang lain.

"Ada hal yang ingin kutanyakan padamu, alis tebal." Balas Alfred, dengan sedikit kesal. Lihat apa yang telah ia terima, mengikuti lelaki itu dari satu jalan ke jalan yang lain hanya untuk mendapatkan seorang lelaki sinis, ditambah lagi alisnya tebal.

"Apa katamu, kau yankee?"

Alfred nyaris tidak bisa mengerti kata-kata dari lelaki tersebut… tunggu, ia masih berbicara dalam bahasa Inggris juga kan… tapi bahasa Inggris macam apa itu! Logatnya kelewat aneh, tetapi bila ia dengarkan baik-baik, bukankah itu logat British?

"Hei, siapa yang kau sebut yankee!" Bela Alfred, tersinggung. Ia―sangatlah yakin bahwa ia―bukan seorang yankee.

"Tentu saja kau, bodoh! Memang ada siapa lagi di dalam tempat ini?" Kata lelaki itu sambil mendengus, seakan-akan merendahkan Alfred. Ah ia benar-benar geram!

"Sudahlah, aku tidak mau datang ke toko tua ini hanya untuk berdebat denganmu." Alfred, yang merasa lebih hebat dibandingkan pria British bertubuh lebih kecil itu, memutuskan untuk mengalah saja, dan langsung berbicara to the point.

"Huff, sebetulnya apa yang kau mau dariku, git? Kau kan, orang sinting yang mengikutiku sejak tadi di jalan?" Pria beralis tebal itu melipat tangannya, dan memandang Alfred dengan wajah kesal. Alfred terdiam sejenak, lelaki ini tahu kalau ia mengikutinya semenjak tadi?

"Kau... kau tahu? Bagaimana?" Suaranya menjadi kecil, entah ia ingin menangis atau tertawa, tetapi yang pasti masalahnya pasti menjadi jauh lebih mudah bila lelaki ini sudah mengetahuinya dari awal.

"Bodoh," Alfred meringis, lelaki itu betul-betul ingin membuatnya marah ya? "Tentu saja dari gerak-gerikmu. Orang macam apa yang akan berlari melawan arus manusia di kota New York dengan gips di tangan kanannya? Lagi pula, aku sempat melihatmu ketika nyaris di tabrak oleh taxi tadi. Kau memandangiku kan?" Ia mengatakannya dengan perkataan menuduh, dan setiap kata yang ia lontarkan penuh dengan ketidaksukaan dan rasa was-was.

Alfred, yang menemukan dirinya tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa memandang si lelaki British dengan pandangan tidak percaya. "Kalau begitu, kenapa kau tidak menungguku!" Kata Alfred, nyaris setengah berteriak.

"Apa? Memang aku punya kewajiban apa untuk menunggumu? Aku saja tidak kenal kau!" Arthur melangkah maju, sembai menyemburkan semua perkataannya. Wajahnya memerah akibat marah, dan kakinya menghentak-hentak di atas lantai kayu, menyebabkan debu-debu berterbaran, mengepul ke atas. Tangannya menunjuk tepat di tengah-tengah dada sang American, seakan-akan ia mencoba untuk mendorong lelaki yang lebih besar tersebut.

Alfred yang terkejut dengan tindakan agresif sang British, hanya bisa mengambil langkah mundur. Apa-apan pria ini? Tidak kenal katanya? Bah, jangan bercanda, Alfred adalah lelaki yang telah ia lukai, bisa-bisanya ia tidak mengingat hal itu.

Selang beberapa detik, lontaran kata-kata sang pria British terhenti. Alfred menemukan ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan serangan balasan. Ia melangkah baju, kali ini menghantam lantai dengan lebih keras, dan ia berteriak dengan suara yang besar selagi tangannya menunjuk sebuah titik diantara kedua mata pria beralis tebal tersebut.

"Tidak ingat! Ha! Kaukan, lelaki yang sudah melukai tanganku ini! Lihat sekarang apa yang terjadi! Tulangku bergeser, dan aku harus menghadapi dokter sinting di rumah sakit itu!" Wajah lelaki dihadapannya tidak berubah. Wajahnya masih memerah karena amarah, dan ia tidak menunjukan tanda-tanda akan mengalah sedikit pun. Alfred melanjutkan.

"Ditambah lagi, kalau kau tahu saja, tanganku," ia menunjuk tangannya yang di-gips, "Menjadi seperti ini adalah karena perbuatanmu! Dan aku berharap... bukan, menagih kau untuk mengganti biaya, dan semua waktu yang telah kuhabiskan akibat cederaku ini!"

"Pria tidak sopan!" Arthur mencela balik ketika Alfred berhenti untuk bernafas. "Aku tidak tahu siapa kau, dan untuk sebuah pemberitahuan saja, aku tidak ingat pernah bertemu dengan orang sepertimu!" Arthur melangkah mundur, membersihkan debu-debu palsu yang menempel pada pakaiannya, dan ia segera berjalan keluar, sisi tubuhnya tidak sengaja berbenturan dengan tubuh Alfred.

Alfred hendak mengejarnya, tetapi lelaki itu berjalan lebih cepat daripada dugaannya. Dalam seketika saja ia sudah menghilang, tidak terlihat lagi di tengah keramaian kota New York.

"Sialan lelaki itu." Gerutunya kesal. Bisa-bisanya ia melakukan tindakan kekerasan dan tidak mengingatnya. Ya, ia harus kembali ke toko itu, Peony Tea Shop. Di sana ia pasti bisa menemukan jawaban yang terus menghantui dirinya, dan juga untuk meminta ganti rugi yang telah dijanjikan.

– ・–

"Āsā? Mengapa kau datang tergesa-gesa?"

Lelaki yang melafalkan nama Arthur dengan aksen Japanese-English miliknya, Honda Kiku, memanggil lelaki pemilik iris emerald tersebut. Ia, Kiku, yang tengah membersihkan teko teh tampak terkejut dengan kedatangan pria berambut dirty blonde yang sangat mendadak. Pria itu berjalan menuju counter tempat di mana Kiku sedang berdiri.

"Ah Kiku, aku pulang." Sapa Arthur, Kiku pun tersenyum, tangannya tidak pernah lepas dari kain lap dan teko yang saat ini sedang ia bersihkan, dan ia membalas sapaan pria tersebut. "Selamat datang, Āsā."

Pria yang bernama Arthur itu berjalan menuju belakang counter, tangannya menggengam gagang pintu. Kiku yang menyadari hal ini, segera meletakkan teko teh dan kain yang sedang ia pegang dan berbalik badan.

"Tunggu sebentar, Āsā." Katanya, dengan nada yang sedikit memerintah. Arthur berbalik badan, mata hijau emerald bertemu dengan mata hitam pekat.

"Apa yang terjadi? Wajahmu tampak sangat marah..." Kiku berucap, kalimat yang keluar kali ini lebih lembut dari pada sebelumnya, dan seulas senyuman kecil menghiasi wajah orientalnya. Ah, sepertinya ia memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari sepupunya itu ya?

"Tidak apa-apa Kiku, aku hanya dikejar oleh orang gila, yang meminta ganti rugi atas tangannya yang cedera. Dasar, siapa pula yang pernah melukainya…" Kiku tidak tampak terkejut, justru ia tersenyum lembut, seperti seorang kakak kepada adiknya. Ia berjalan mendekat, mendekap kedua tangan Arthur di dalam kedua tangannya.

Meski pun Kiku lebih pendek dibandingkan pria itu, tetapi ia memiliki suatu pancaran aura yang memberikan ketenangan dan yang mengindikasikan siapakah yang lebih tua diantara mereka berdua.

"Apakah, orang itu mengatakan hal yang telah menyakiti hatimu?" Ia berbisik, wajahnya tetap memandang ke bawah, ke arah tangan mereka yang saling bertautan. Untunglah toko sedang sepi dikarenakan sudah hampir sore hari, bila tidak apa kata para pelanggan mengenai situasi ini? Yah, bukannya ia peduli dengan hal itu, pada akhirnya mereka berdua adalah keluarga. Apa yang salah bagi keluarga untuk saling menunjukan rasa kasih sayangnya bukan?

"Ya, ia menyebutku…" Arthur bergumam, dan Kiku tidak dapat mendengar perkataannya yang terakhir. Pria keturunan Jepang itu menangkat kepalanya, mendongak ke atas dan melihat wajah merah Arthur, kali ini bukan karena marah tetapi karena malu.

"Aku takkan bisa mendengar bila suaramu seperti itu."

"Ia mengataiku alis tebal…"Arthur berkata kembali dengan suara yang lebih besar, tetapi tetap bernada malu dan sedikit sisa-sisa kemarahan. Mendengar hal ini, Kiku bukannya kaget, melainkan tertawa. Hal itu justru membuat wajah sepupunya memerah bagaikan sebuah strawberry. Ah manisnya.

"Ja-jangan tertawa! Kau kan tahu sendiri bagaimana aku tidak menyukai alis ini…"

Kiku, yang masih tersenyum karena geli, hanya mengusap-ngusap kepala rambut Arthur, sebuah tindakan yang selalu ia lakukan semenjak mereka masih kanak-kanak.

"Kau memang tidak pernah berubah ya, Āsā…"

Tak kuasa menahan malu, akhirnya Arthur melangkah mundur dan membalik tubuhnya. Seluruh wajahnya berwarna merah, bahkan hingga ke kuping. Ia membuka pintunya, selagi Kiku kembali melanjutkan pekerjaannya. Rasanya teko yang ia bersihkan tidak kunjung selesai juga.

"Hei, Kiku…" Terdengar suara Arthur dari dalam ruangan. Ia belum menutup pintu tersebut, melainkan berdiri membelakangi sang Nihon-jin. [2]

Kiku terus menggosok teko tersebut, sebuah teko yang Yao bawa pulang dari Cina, kampung halamannya. Teko itu berwarna putih, dengan hiasan bunga sakura―atau Yīnghuā dalam bahasa ibu Yao―yang pada pinggir bunga-bunga tersebut, dilukis menggunakan cat berwarna keemasan.

"Apa mungkin... aku telah melukainya?"

"Siapa yang kau maksud? Kalau kau tak mengatakannya aku tak mungkin tahu kan?" Akhirnya selesai juga. Kiku meletakan kain berwarna kuning yang semenjak tadi ia gunakan, dan berjalan menuju sebuah lemari. Ia membuka lemari tersebut, dan memasukan teko teh yang telah bersih itu ke dalam. Dengan begini ia hanya perlu mengelap meja.

"Pria itu. Orang gila yang terluka itu."

Kiku mengambil sebuah apron berwarna putih yang ia gantungkan di atas sebuah gantungan, dan mengikatkan apron tersebut disekeliling tubuhnya. Sembari mengikat tali-tali apron itu, ia pun membalas perkataan Arthur.

"Mengapa kau bisa berpikir demikian?"

Jawaban yang ia tunggu datang dengan cepat, dan sedikit bernada bingung. "Entahlah? Sebuah firasat mungkin." Dan lelaki dengan rambut dirty blonde itu sekali lagi menyapa sang pemuda Asia dengan pelan, "Kiku…"

"Ya?" Kiku mengambil kembali kain berwarna kuning itu, dan mulai mengelap counter berwarna coklat kayu tersebut.

"Apa aku telah melukainya, ketika, kau tahu, ketika hal itu terjadi. Ditambah lagi melupakan dirinya, dikarenakan kondisiku yang seperti ini…"

Pada awalnya Kiku tidak mengatakan apa-apa. Yang terdengar di dalam Tea Shop yang hendak tutup itu hanyalah suara gerakan tubuh sang pria berambut hitam, dan suara beberapa buah benda yang sedang ia pindahkan ke dalam lemari.

"Tidak, aku tidak yakin kau telah melukainya," 'Karena kau adalah anak yang baik hati.' Tambahnya di dalam batin.

"Oh, yah, mungkin saja ya? Mungkin saja ia salah orang? Lagi pula banyak orang berperawakan seperti diriku bukan?"

Dengan demikian, Arthur pun menutup pintu, masuk menuju bagian dalam dari toko teh bergaya Asia tersebut.

Kiku hanya mendesah.

"Yare yare…" [3]

Dan ia pun melanjutkan pekerjaannya.

– ・–

Ia mendengar suara pintu terbuka. Tidak ada siapa pun lagi di dalam toko, karena Yao sedang pergi dan Arthur sudah pulang ke apartemennya, yang hanya menyisihkan satu hal.

"Maaf, okyaku-sama[4], tetapi toko kami sudah tutup. Mohon datang kembali besok pagi." Katanya kepada siapa pun yang telah masuk, tidak menyisihkan tatapan sedikit pun kepada penghuni yang lain di dalam ruangan tersebut.

"Tidak, aku datang ke sini bukan untuk bertamu." Kiku mengenali suara yang familiar ini. Ia membalik badan dan bertatap mata dengan pria yang baru saja ia tolong tiga hari yang lalu. Kiku memperhatikan legan kanan pria tersebut, yang tampaknya cedera. Ah, jadi diakah pria gila yang dikatakan Arthur?

"Selamat malam, tuan…" Pria Jepang itu baru ingat, bahwa ia tidak mengetahui siapa nama 'tamu tak diundang'-nya ini.

"Alfred. Alfred F. Jones." Jawab pria dengan logat American yang kental. Wajahnya tampak sangat serius.

"Ah ya, selamat malam Jōnzu-san. Apakah yang bisa saya bantu pada sore hari ini?"

– ・–

Mereka berdua duduk di atas sebuah sofa, kopi dan teh hangat di hadapan masing-masing pria. Teh hijau untuk Kiku dan espresso affogato untuk Alfred.

"Jadi, itulah yang terjadi."

Alfred cukup terkejut ketika Kiku mengajaknya menuju sebuah café, hanya untuk berbincang-bincang sejenak. Dan apa yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah sang pria Jepang yang melafalkan namanya dengan aneh ini, menawarkan dirinya untuk mentraktir Alfred.

Awalnya Alfred merasa tidak yakin―kini ia sungguh-sungguh melupakan keinginannya untuk meminta ganti rugi―dan berkeyakinan bahwa seorang hero sepertinyalah yang seharusnya membayarkan biaya minum dari seorang lelaki Asia misterius. Tetapi Kiku berlagak tidak mendengarnya dan berkata sesuatu tentang 'permintaan maaf atas tindakan Arthur' dan 'sebagai ganti rugi.' Tentu saja Alfred tak mengetahui siapa Arthur yang dibicarakan, tetapi ia memiliki dugaannya sendiri.

"Ah," Kiku meminum tehnya, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Anak itu memang sering seperti itu, tolong maafkan dia."

Alfred meletakan cangkir yang baru saja ia minum, dan ia memandang Kiku dengan tatapan cukup mengintimidasi. Tetapi sepertinya pria Jepang itu tidak terpengaruh. "Bagaimana aku bisa memaafkan dia, Kiku? Ia sudah membuatku terluka, memasukanku ke dalam neraka yang kau sebut rumah sakit itu, dan sekarang melupakanku!"

Kiku hanya memandang sang pria Amerika dihadapannya dengan wajah tanpa ekspresi. Ia terus meminum tehnya, hingga akhirnya teh itu pun habis. Ia meletakkan cangkir yang kosong di atas meja.

"Jōnzu-san..." Kiku berusaha berbicara, tetapi Alfred segera memotong perkataannya.

"Alfred. Jones itu nama ayahku. Dan aku bukan ayahku, atau pamanku…"

Raut wajah Kiku berubah, seakan-akan ia memikirkan cara yang paling nyaman untuk mengatakan hal itu. Ia mendehem dan akhirnya kembali berbicara.

"Arufurēdo-san, saya hanya mau mengatakan sesuatu. Anak itu sendiri tidak mau melupakan anda."

Alfred tersedak. Ok, maaf saja, tetapi kata-kata itu terdengar sangat, gay di telinganya... Bukan, bukannya ia mendiskriminasi mereka, Alfred pun terkadang mencari seorang lelaki untuk di bawa pulang. Tetapi, hei! Ia baru saja bertengkar dengan pria yang sepertinya bernama Arthur yang dikontekskan oleh sang pemuda Asia dengan sebutan "Anak itu." dan ia tak yakin kalau hal ini akan berakhir baik.

"Ah, maaf Kiku." Alfred mengambil selembar tissue yang disodorkan oleh Kiku sesegera mungkin dan menggunakannya untuk mengelap mulutnya. "Tetapi apa yang baru saja kau katakan? Tentang pria bernama Arthur yang tak mau melupakanku?"

"Betul sekali." Kiku memandang Alfred, kali ini dengan pandangan serius, dan Alfred berani bertaruh kalau pria Asia itu bisa membaca isi hatinya.

"Mengapa bisa begitu?"

"Ini adalah hal yang tidak diketahui oleh banyak hal, terkecuali saya dan kakak saya, Wang Yao. Untuk menempatkan semua relasi kami, sebenarnya hubungan kami dengan anak itu adalah keluarga tanpa ikatan darah, yah mungkin ada ikatan darah, tetapi yang pasti kami bukanlah saudara kandung." Kiku memandang ke arah cangkir teh miliknya, memandang dengan semacam pandangan yang sedikit intens dan dalam pada cangkir yang telah kosong itu, seolah mencoba mencari susunan kalimat yang tepat untuk melanjutkan ceritanya.

Alfred membetulkan posisi duduknya, sepertinya ia akan mendengar sebuah kisah yang mungkin cukup menarik, setidaknya semenarik seorang nenek yang menarikan tarian hula-hula.

"Āsā, sepupuku yang paling kecil, ia sedikit berbeda dengan masyarakat pada umumnya."

Alfred sedikit tersentak dengan penekanan dari kata sedikit yang diucapkan oleh sang pemuda Asia tersebut, kali ini mencoba untuk tidak menyemburkan kembali kopinya. Apa maksudnya dengan berbeda? "Dan kiranya hal 'kecil' macam apa yang bisa menyebabkan semua, semua permasalahan ini?"

"Sebetulnya separuh dari kesalahannya adalah kesalahan saya. Sayalah yang telah mengajarkan dirinya setiap pagi mengenai seni bela diri bernama jūdō, yang ia gunakan untuk membanting anda."

Ah, jadi itukah nama jurus aneh yang berhasil membuatnya pingsan? Pantas saja lelaki bertubuh kecil itu bisa membanting dirinya yang bertubuh cukup besar, ditambah lagi Alfred merupakan pengunjung setia Gym yang berada di dekat penthouse-nya.

"Dan karena anda mendekatinya ketika ia tidak menyadari, secara insting ia menganggap anda sebagai 'musuh', dan secara refleks ia membanting anda."

Tetapi, hal ini tidak menjelaskan satu hal…

"Aku bisa mengerti hal itu, dan bisa menganggapnya sebagai sebuah kecelakaan. Tetapi…" Alfred meminum espresso affogato miliknya, dan membiarkan rasa pahit-manis melingkupi dirinya. Betul-betul minggu yang melelahkan...

"Tetapi mengapa ia tidak mengingat anda, bukan begitu?" Kiku memotongnya, dan Alfred hanya tersenyum kecil kepadanya. Mungkin ia memang bisa membaca isi hatinya, ataukah Alfred merupakan seorang pribadi yang sangat mudah dibaca?

"Ya…" Suaranya menghilang, ditengah-tengah kerumunan orang yang saling berbicara di sana. Orang-orang yang tertawa dengan sahabatnya, orang yang mengumbar kemarahan melalui telepon genggam, dan beberapa orang lainnya yang hanya diam menikmati minuman mereka.

"Itu karena, Arufurēdo-san, anak itu tidak bisa mengingat hal yang telah terjadi sebelumnya."

"Eh?"

Baik, ini bukanlah hal yang ia sangka akan dengar. Tak bisa mengingat hal yang terjadi? Apakah ia amnesia atau sebangsanya? Alfred antara ingin―atau tak ingin―mempercayai perkataan pria Jepang yang saat ini duduk di hadapannya.

"Seperti kataku barusan, ia tidak bisa mengingat hal yang terjadi sebelumnya. Hal-hal yang bukan rutinitasnya takkan bisa ia ingat. Ia bisa saja melupakan semua hal yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu, dan tidak memiliki ingatan mengenainya sedikit pun." Kiku melanjutkan pembicaraannya, Alfred hanya bisa mendengarkan, tak tahu harus berbicara apa, "Pada intinya, apa yang ia lakukan hari ini diluar dari rutinitasnya, esok hari, ia tak akan bisa mengingat lagi tentang kejadian kemarin diluar rutinitasnya. Seperti itulah..."

Kiku terdiam sesaat, mencoba berpikir kembali tentang apa yang harus ia katakan selanjutnya, "Terkadang, bila keadaannya cukup baik, ia mampu mengingat hal yang baru saja terjadi beberapa hari sebelumnya. Sayang, pada beberapa tahun terakhir ini, hal itu nyaris tak terjadi lagi."

Alfred hanya memandang wajah Kiku, memperhatikan, dan mencari. Mencari kebohongan, atau pun kepalsuan yang mungkin tersirat di dalam wajah si lelaki jepang. Tidak ada. Alfred tidak bisa menemukan apa pun. Hanya kasih sayang, kesedihan, dan apakah itu, penyesalan?

Kiku berdiri, meletakan sejumlah uang di atas meja, dan mengenakan kembali topi serta syalnya. "Arufurēdo-san, semoga uang yang saya berikan cukup untuk mengganti rugi segala waktu dan permasalahan yang telah anak itu berikan. Tolong, janganlah menyalahkannya karena ia tidak bersalah."

Kiku pun berjalan menuju pintu yang akan membawanya keluar menuju jalan raya. Senyuman pahit tidak pernah meninggalkan wajahnya, dan Alfred hanya memandang, tanpa melakukan apa pun.

Sesaat sebelum keluar, Kiku mengatakan sesuatu, sebuah kata-kata yang tidak berwujud suara, hanyalah kata-kata yang ia ciptakan melalui gerakan bibir, dan ia pun meinggalkan Alfred sendirian. Sendirian ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang berbahagia, yang bersedih, yang bersuka cita. Meninggalkan sang American ditengah-tengah alunan musik Jazz seakan-akan merangkulnya di dalam setiap nada yang telah diciptakan.

'Bila bersedia, tolong kembalilah ke toko kami. Saya yakin anak itu juga menunggu anda.'

To be continued


[1] Sp. OT itu gelar kedokteran untuk bidang Orthopaedi dan Traumatologi, semacem spesialis tulang gitu. Gelar yang kami pakai disini merupakan gelar orthopaedi yang digunakan dalam kedokteran Indonesia, jadi apabila ada perbedaan dengan gelar yang dari Amerika dan sebagainya, mohon maklum, kami tak bisa menemukan gelar orthopaedi untuk Amerika ( karena para author gila ini udah kelewat sinting #WOI )

[2] Nihon-jin ( Japanese ) : orang Jepang.

[3] Yare, Yare… ( Japanese ) : menyatakan semacam "Ya ampun…"

[4] Okyaku-sama ( Japanese ) : menyatakan "Tamu" dalam konteks yang lebih sopan.

Author's Note:
Re -
Siang semuanya~ Kami, duo Sky's Inquisitors kembali muncul~ /plak. Ok, pertama-tama ada hal yang harus saya jelaskan terlebih dahulu, mungkin bagi beberapa orang yang bertanya-tanya mengenai penggunaan bahasa Kiku, saya akan menjelaskannya disini. Ok, dalam anime bahkan komik Hetalia, Kiku selalu berbicara menggunakan 'watashi' yang berarti 'saya'. Nah, masalahnya, saya merasa kata-kata itu terlalu formal, sehingga dalam beberapa kasus tertentu, seperti ketika ia berbicara dengan Arthur, Kiku akan menggunakan bahasa yang lebih informal. Selain itu, terima kasih, bagi semua orang yang telah bersedia untuk membaca, memberikan story alert, dan juga memberikan review. Berkat semua hal tersebut, hari ini kami bisa segera mempublish second installment dari I Haven't Met You Yet (oh iya, judulnya berubah~ karena...karena...ini dan itu...). Sekian~ Re undur diri dulu /bow

Rii - Setelah saya menggebrak rumah Re dan membajak komputernya, maka inilah hasil produksi 24 jam paling gila dari kami ==" berhubung kemampuan beta kami masih pas-pasan dan seenak jidatnya kami mengganti judulnya, maka inilah hasil dari kami =)) semoga anda-anda semua menikmati apdet kilat ini~ terima kasih~ #sujudsembah

.

Reviews Amuse Us :3