Disclaimer
Kuroko no Basuke is belongs to Tadatoshi Fujimaki
Uta no Prince-sama is belongs to Broccoli Production
But this fanfiction is mine
Rated: T+ alias nyerempet ke M
Genre: Humor, Family
Main Casts:
Midorima Shintarou as himself
Kagami Taiga as Midorima Taiga
Kuroko Tetsuya as Midorima Tetsuna (fem!Kuroko)
Support Casts:
Akashi Seijuurou as Midorima Seika (fem!Akashi)
Kurusu Shou as Midorima Shouko (fem!Shou)
- the others
Warning
AU, Alternate age, Gender Swicth (sesuai kebutuhan), susis!Shintarou, fujo!Tetsuna, sedikit (banyak) OOC, sedikit (banyak) kata-kata menjurus, DLDR
Happy Reading Guys!
.
.
.
.
.
Triiiing...!
Pik!
Sebuah alarm berbunyi dengan nyaringnya. Merasa terganggu, sebuah tangan pun menghentikan bunyi alarm yang baru saja mengganggu tidurnya. Setelah itu, seorang wanita berambut merah darah bangkit sambil mengucek-ngucek matanya yang sewarna dengan batu delima. Setelah itu, dia merenggangkan tubuh polosnya yang hanya tertutup oleh selimut tebal. Melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Ngh... udah pagi ya..." guman wanita itu lalu memandang seluruh isi kamarnya yang berantakan. Pakaian tercecer di lantai sekitar kasur, seprai yang tersibak hingga setengahnya menyentuh lantai. Belum lagi dengan pria berambut hijau yang berbaring di sebelah wanita itu dengan keadaan yang sama telanjangnya. Sudah pasti tau kan, apa yang sudah dilakukan oleh dua anak manusia ini?
'Ck! Bakal tugas tambahan nih. Males... mana tadi malem Shin maennya kasar lagi. Duh... sakitnya tuh di sini...' batin wanita itu meringis. Apalagi merasakan nyut-nyutan di bagian yang... if you know what I mean.
"Shin... bangun Shin... udah pagi" kata wanita itu sambil mengguncang tubuh pria berambut hijau.
"Hm... lima menit lagi, Sei... masih ngantuk..." guman pria yang dipanggil Shin tadi sambil mengubah posisi tidurnya yang semula terlentang menjadi miring ke kanan. Membelakangi wanita itu.
"Shin! Bangun!" seru Sei mengguncang tubuh Shin lebih keras.
"Morning kiss-nya dulu dong..." kata Shin dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap Sei dan memandang Sei mesum. Dan satu bantal pun melayang di muka Shin.
"Oy! Midorima Shintarou! Berhenti bertingkah mesum atau aku akan menendangmu dari kamar ini karena kau dipecat dari rumah sakit!" ancam Sei.
"Iya, Midorima Seika sayang… nih aku bangun" kata Shin bangkit lalu mencium kening Sei singkat.
"Ya udah, cepat sana mandi! Aku akan menyiapkan sarapan" kata Sei lalu mengambil kimono tidurnya yang tergeletak tak berdaya di lantai. Setelah itu memakainya.
"Tidak mandi bersama saja? Kan lebih efektif" goda Shin sambil memeluk pinggang Sei dari belakang.
Pletak!
"Ittai yo… kenapa aku yang malah dijitak?" protes Shin setelah mendapat jitakan 'sayang' dari sang istri.
"Gak mau! Nanti yang ada kau malah 'memakanku' di kamar mandi" rajuk Sei mempoutkan bibir ranumnya. Imutnya…
'Justru kalau kau yang seperti itu, aku tak hanya memakanmu, Sei… tapi akan aku telan bulat-bulat' batin Shin dengan wajah mupeng.
"Sudah! Sudah! Cepat mandi trus bangunkan Taiga dan Tetsuna! Shouko biar aku yang urus" kata Seika lalu cepat-cepat keluar kamar. Takut diserang Shintarou secara tiba-tiba. Sementara Shintarou menatap pasrah ke arah pintu kamar tempat keluarnya Seika. Kemudian Shintarou mencomot handuknya ngasal dan berjalan ke kamar mandi.
.
緑間の兄弟
.
Setelah selesai mandi, Shintarou pun bergegas untuk membangunkan adik-adiknya. Tentu saja setelah memakai kemeja dan celana yang sudah disiapkan Seika di gantungan pintu kemarin sore. Sambil tangannya membenarkan dasinya, Shintarou membuka pintu kamar bertuliskan 'Midorima Taiga' dan menemukan adik laki-lakinya yang masih saja tertidur.
"Taiga, bangun Taiga!" kata Shintarou sambil menoel-noel pipi Taiga. Dan Taiga pun menggeliat di kasurnya. Shintarou pikir, Taiga akan terbangun. Tapi ternyata…
"Zzz… zzz…" Taiga hanya mengubah posisi tidur. Dan bahkan suara dengkurannya terdengar.
"Aish! Ini anak… masih aja ngebo" guman Shintarou kesal lalu mengambil ancang-ancang untuk berteriak. "MIDORIMA TAIGA‼ BANGUN GAK! KALAU KAU TIDAK BANGUN, SEMUA KOLEKSI BASKETMU AKU LOAKAN SEMUA‼"
"Waa… ampun Mbah… koleksi saya jangan dibuang Mbah… saya janji bakal jadi anak yang baik dan suka menabung… saya janji tidak akan menjahili Aniki lagi… saya juga janji tidak akan mengintip Seika-nee di toilet lagi…" pekik Taiga yang langsung terbangun. Rupanya dia masih mengigau toh…
"Oy! Oy! Taiga!"
Dengan efek slow motion, Taiga pun mendongak dan melihat Shintarou yang sudah memberi deathglare padanya. "Eh, Aniki… ohayou"
"Jadi kau pernah mengintip Seika, Taiga?!" tanya Shintarou lengkap dengan aura-aura yang menyeramkan.
"Iya, eh t-tapi, tapi… a-aku tidak sengaja! Sumpah!" kata Taiga mencoba mengelak tapi yang ada emerald di balik kacamata itu semakin memincing padanya. "B-beneran Aniki… w-waktu i-itu, aku sedang kebelet. T-trus k-karena aku sudah tak tahan keburu eek-nya mau keluar, ya udah a-aku langsung m-masuk ke toilet. D-dan aku t-tidak tau kalau t-ternyata, Seika-nee j-juga sedang poop"
"TAIGA NO BAKA‼"
Pletak‼
"Sekarang cepat kau mandi lalu sarapan. Kau hari ini ada jam kuliah kan?" kata Shintarou lalu keluar dari kamar Taiga dan meninggalkan adik laki-lakinya bersama benjol besar yang tumbuh di kepalanya. Poor Taiga…
Setelah itu, Shintarou beralih pada kamar di sebelahnya. Dibukanya pintu bertuliskan 'Midorima Tetsuna' itu dan menemukan kamar si bungsu kosong.
"Lho? Tetsuna mana?" guman Shintarou cengo.
"Tetsuna? Kau dimana Tetsuna?" panggil Shintarou celingak-celinguk mencari adik perempuannya.
"Ada apa mencariku, Shintarou-nii?" tanya seorang gadis yang berdiri di depan pintu kamar.
"Eh? Tetsuna, kau sudah siap toh?" tanya Shintarou sambil menatap Tetsuna, gadis itu, dari atas sampai bawah. Terlihat Tetsuna yang sudah rapi dengan seragam musim seminya. Rambutnya yang berwarna baby blue, dia kepang menjadi dua.
"Aku sudah siap dari tadi, Shintarou-nii"
"Haa… baguslah. Ayo kita ke ruang makan!" ajak Shintarou yang berjalan ke ruang makan.
"Hai" kata Tetsuna kemudian melirik ke arah meja belajarnya. Di sana, terdapat setumpuk komik-komik bergenre shounen-ai di atas sana.
'Fiuh… untung aja Shintarou-nii tidak menemukannya' batin Tetsuna lega.
.
緑間の兄弟
.
"Papa! Ohayou…" sapa gadis kecil berseragam TK yang sedang duduk di kursi makan, lalu menghampiri sang ayah.
"Ohayou mo, Shouko-chan" sapa Shintarou sambil menggendong dan mencium pipi chubby anaknya, Midorima Shouko.
"Waa… anak Papa udah cantik aja nih. Hn… udah wangi pula" kata Shintarou sambil terus menciumi wajah anaknya dengan gemas. Membuat yang diciumi tertawa karena geli. "Mama mana?"
"Mama lagi macak di cana, Pa" jawab Shouko dengan aksen cadel yang khas anak-anak sambil menunjuk ke arah dapur.
Setelah itu, Shintarou menurunkan Shouko dan beralih ke dapur. Dilihatnya sang istri yang sedang berkutat dengan bahan-bahan makanan. Kimono tidur yang semula membungkus tubuh Seika, kini berganti menjadi setelan kaos merah muda dengan celana tiga perempat berwarna krem. Dipermanis lagi dengan apron merah marun bergambar hello kitty. Rambut merahnya yang semula kusut karena aktivitas 'ahem' semalam, tersisir rapi dan dikucir ponytail.
'Mencoba menghindariku lagi, huh?' batin Shintarou yang menduga Seika sudah mandi bersama Shouko tadi. Sudah menjadi kebiasaan Seika untuk mandi bersama sang anak semenjak Shouko berusia satu tahun. Sebenarnya, Seika hanya berniat untuk memandikan Shouko. Tapi, setiap memandikan Shouko, air yang digunakan selalu menyiprat dan membuat baju yang dikenakan Seika menjadi basah. Jadi Seika sekalian mandi bersama Shouko agar lebih efisien. Dan Shintarou paham itu.
"Oh… jadi sekarang kau lebih memilih mandi bersama Shouko-chan ketimbang aku, huh?"
Dan Seika yang sedang asyik menggoreng telur pun dikagetkan dengan tangan kekar Shintarou yang melingkari pinggang kecilnya. Belum lagi dengan suara Shintarou yang terdengar seduktif dan menggoda di telinga wanita yang dulunya bermarga Akashi itu.
"H-hanashinasai! Aku sedang memasak, Shin!" omel Seika merasa terganggu dengan tingkah suaminya.
"Kau belum menjawabku, Nyonya Midorima" kata Shintarou lalu dengan nakalnya meniup telinga sang istri. Dan wajah Seika pun memanas dibuatnya.
"M-mou… atashi o hijimeru yamette!"
Tanpa menghiraukan protes dari sang istri, Shintarou pun mematikan kompor yang masih dipakai Seika untuk menggoreng telur.
"Oy! Oy!"
"Hari ini gak usah masak" kata Shintarou masih dengan suaranya yang mampu membuat Seika meleleh.
"B-baka! Trus nanti makannya gimana?!"
"Aku 'makan' kamu saja, Sei. Lagipula aku belum mendapat morning kiss-ku" jawab Shintarou lalu mendekap erat tubuh mungil Seika. Kemudian dikecupnya bibir ranum Seika. Mengambil morning kiss-nya.
"Iya, kau yang 'makan' aku. Trus anak dan adik-adikmu itu makan apa?" rajuk Seika mempoutkan bibirnya. Membuat Shintarou terkekeh pelan lalu kembali mencium bibir Seika. Dan kali ini, sedikit lumatan lembut Shintarou berikan di bibir Seika. Dan mereka baru saja akan menikmati french kiss ketika 'sesuatu' menginterupsinya.
"Shintarou-nii? Aneesan? Kalian sedang apa?" tanya Tetsuna cengo melihat kakak sulungnya dan kakak iparnya yang hampir melakukan 'ahem'. If you know what I mean…
"Mama… kok Mama lama cekali cih macaknya? Malah dempet-dempet telus cama Papa. Choko udah lapel tau" udah tau kan suara siapa ini…
"Eh?" sedangkan pasutri itu, yang sudah melepas tautan bibir mereka tapi masih dalam posisi memeluknya, hanya memandang Tetsuna dan Shouko dengan tatapan horror.
Ichi…
Ni…
San!
"Kyaaaaa‼" pekik Seika mendorong Shintarou menjauh dari tubuhnya. Alhasil, Shintarou pun terjengkang dengan pantat yang mendarat duluan.
"Ittai‼ Pantatku…" ringis Shintarou mengelus-ngelus pantatnya. Sedangkan Seika menghadap ke belakang sambil menutup wajahnya yang sekarang hampir menyaingi warna rambutnya.
"Mattaku… emangnya kurang ya, 'jatah' semalam yang sampai tumpeh-tumpeh itu? Sampai-sampai kau melakukannya di depan anak kecil" ledek Taiga yang tiba-tiba nongol sambil menunjuk Shouko dan juga Tetsuna.
"Umurku sudah 16 tahun, Taiga-nii!" protes Tetsuna tidak terima dibilang anak kecil.
"Diam kau, baka Taiga!" nyolot Shintarou yang masih ngelus-ngelus pantatnya.
Pletak!
"Yang baka itu kamu, Shintarou no baka‼ Bisa-bisanya kau mencemari otak polos anak dan adik iparku yang cimit-cimit itu?!" omel Seika setelah memberi jitakan pada Shintarou. "GAK ADA 'JATAH' UNTUK MALAM INI DAN KAU TIDUR DI RUANG TV! DAN PERINTAHKU INI MUTLAK!"
"Eh? HEEEE‼" pekik Shintarou merana.
"Shouko sayang, Shouko balik dulu gih sama Tetsuna-bachan. Sebentar lagi makanannya udah siap" kata Seika sambil mengelus-ngelus rambut Shouko.
"Oke, Mama. Iku, Techu-bachan!" kata Shouko lalu mengajak Tetsuna kembali ke ruang makan.
"S-Sei… c-chotto matte…"
"Apa?! Gak ada protes! Kalau kau masih ngotot, aku tambah menjadi seminggu!"
Shintarou kicep. Okey… sepertinya jiwa 'iblis' Seika sedang bangkit pagi ini.
Puk!
"Kamu sabaro, Aniki…" kata Taiga sambil mem-puk-puk bahu sang kakak. Dan Shintarou sadar, rupanya dia lupa untuk menonton Oha-asa. Sialnya, keberuntungan Cancer, zodiak Shintarou, berada di urutan paling akhir. Poor Shintarou…
Sementara itu di ruang makan, Shouko masih gak mudeng dengan adegan Mama-Papanya barusan.
"Techu-bachan!"
"Hn? Nani? Nani?"
"Itu tadi Mama cama Papa lagi apa sih? Kok tadi dempet-dempetan? Telus, bibil meleka belcentuhan lagi"
Oh my God, Shouko… rupanya kau me-notice-'nya'!
"Entahlah, Bachan juga tidak tau" jawab Tetsuna angkat bahu. Benar-benar 'seperti' bocah polos si Tetsuna itu.
.
緑間真太郎
.
Setelah memarkirkan sepeda motornya, Shintarou pun berjalan memasuki bangunan bernama 'Kitai Hospital' dengan wajah madesu. Di ruang administrasi, dua orang perawat yang sedang mengobrol, tersenyum ramah pada Shintarou.
"Ohayou gozaimasu, Midorima-sensei" sapa mereka.
"Yo…" sahut Shintarou ngasal. Dan berlalu melewati dua perawat itu.
"Waa, sepertinya Midorima-sensei sedang badmood deh" bisik perawat 1 pada perawat 2.
"Halah biasa mah itu… paling lagi dihukum sama istrinya…" kata perawat 2.
"Oy! Oy! Aku dengar itu. Cepat bekerja!" omel Shintarou sewot. Tengsin juga ketahuan 'SUSIS' oleh bawahannya.
"H-hai!" dan dua perawat itu pun langsung bubar kembali pada pekerjaannya.
Dengan kesal, Shintarou pun kembali berjalan menuju ruang prakteknya. Ketika sampai, dibukanya pintu ruangan bertuliskan 'dr. Midorima Shintarou' dengan lesu.
"Ah! Ohayou, Midorima-sensei!" sapa seorang perempuan berambut raven berponi belah tengah. Dia adalah perawat sekaligus asisten Shintarou, Takao Kazuko.
"Eh? Kau kenapa badmood begitu, Sensei? Abis dikurung di kandang ayam lagi sama istri?" goda Kazuko begitu merasakan aura madesu dari si sulung Midorima.
"Urusaii!" sewot Shintarou.
"Aish galaknya… ntar pasien pada kabur loh… trus ditendang deh sama istri gara-gara pasiennya gak jadi berobat. Dokternya galak sih… kan pasiennya jadi pada takut semua"
Kapak mana kapak? Rasanya Shintarou ingin memutilasi asistennya dan kemudian melemparnya ke kandang titan. Itu pun kalau ada titan.
.
緑間大我
.
Taiga menatap jengah ke arah seorang pemuda tan berambut biru tua yang sedang asyik dengan teropongnya. Ya, apalagi yang dia lakukan selain mengintip mahasiswi yang berlalu lalang, begitulah pikir Taiga. Dia adalah Aomine Daiki, sahabat Taiga, yang hobi sekali membaca majalah hentai. Dan Taiga menjadi jijik ketika melihat setetes iler mengalir dari bibir Daiki. Belum lagi dengan wajah mupengnya itu.
"Wooo… gila… itu dada gede… sampai boing-boing gitu… ssleeerp…" guman Daiki lalu menghisap iler yang ada di ujung bibirnya agar tidak tumpeh-tumpeh.
"Oy! Dekil! Jadi niatmu ngajak aku bolos kuliah cuma buat beginian doang?" tanya Taiga kesal.
"Yaelah, Taiga… aku bosen kalau terus-terusan di kelas sambil mendengarkan 'dongeng' dari dosen. Lagian aku juga gak pelit kok buat ngajak-ngajak kamu. Sebagai cowok, kita tuh butuh 'asupan' supaya otak kita fresh" kata Daiki masih melanjutkan 'misi mulianya' tanpa menoleh Taiga. "Wooo… ada gitar Spanyol lewat… manis juga. Tapi sayang, dada tepos"
"Fresh?! Dakimu itu yang fresh! Kalau dosennya nyantai sih gak apa-apa. Tapi ini tuh jamnya Araki-sensei! Dan sialnya lagi, dosen killer itu kenal sama Aniki. Kalau Araki-sensei sampai ngelapor, bisa-bisa aku digantung Aniki tau!"
"Itu mah deritamu, dasar jones" ledek Daiki masih adem ayem sambil ngelihatin cewek pakai teropong.
"Oy! Kamu itu juga jones, bakayaro!"
"Tidak setelah aku mendapatkan adikmu"
"Enak aja! Sampai Spongebob beranak pun, kau gak bakal kuijinin untuk mengencani Tetsuna! Dan juga, bisakah kau hentikan memasang wajah menjijikanmu itu?!"
"Biarin! Daripada kamu, jones abadi gak ada usaha buat nyari cewek! Waa… jangan-jangan kau malah impoten" merasa tersinggung, Daiki pun menghentikan kegiatan nistanya dan beralih pada Taiga yang sudah tidak tahan menahan gondoknya.
"Yosh! Kau menantangku, hah?!"
"Tentu saja, dasar calon perjaka tua!"
Dan adu deathglare pun terjadi di antara Daiki dan Taiga. Persahabatan mereka memang merepotkan karena mereka juga rival terutama di bidang basket. Apalagi Taiga juga mempunyai dendam kesumat karena pernah dikalahkan di pertandingan basket musim panas di tahun ketiga SMP.
"Ahem!" dan sebuah suara menghentikan adu deathglare itu.
"APA?!" bentak mereka berdua dan menoleh ke arah sumber suara secara kompak. Tapi tak lama kemudian, wajah garang mereka berubah menjadi pucat seketika.
"Ah! Maaf saja kalau aku sudah mengganggu acara santai kalian. Khukhukhu…" kata seorang wanita berusia empat puluhan dengan tangan kanan memegang shinai yang dipukul-pukulkan di telapak tangan kirinya. Tak lupa dengan aura-aura yang menguar dari tubuh wanita itu dan membuat kedua pemuda itu menjadi merinding.
"A-Araki…sensei?"
"Midorima Taiga… Aomine Daiki… silahkan ikut ke ruanganku, SEKARANG‼"
Okey… tamatlah riwayat kalian, Midorima Taiga dan Aomine Daiki…
.
緑間テツナ
.
Sebuah buku ber-cover dua orang laki-laki telanjang saling bertindihan, dimana laki-laki yang berada di atas berambut pirang sedangkan laki-laki di bawah berambut ebony, perlahan-lahan turun lalu menampakan helaian baby blue sang pemilik. Rupanya si pemilik buku itu, Tetsuna, sedang serius membacanya di saat teman-temannya sedang mengisi perut untuk memulihkan tenaga.
"Tecchan…" seru seorang gadis berambut merah muda lalu menghampiri Tetsuna yang masih tenggelam dalam bacaannya di kursi taman sekolah. Dia adalah sahabat sekaligus tetangga sebelah Midorima bersaudara, Momoi Satsuki.
"Eh? Kau lagi baca apa tuh?" tanya Satsuki sambil membaca sampul buku yang menutupi wajah Tetsuna kecuali kening serta poninya. Dan mata yang senada dengan rambut musim seminya itu melebar ketika membaca tulisan yang tercetak di sampulnya.
Durarara's doujinshi
The Sweetest Valentine
Shizuo X Izaya
NC-21
"Ya ampun, Tecchan! Itu kan doujin yang aku idamkan selama ini! Kok kamu bisa mendapatkannya? Secara itu doujin kan susah banget nyarinya! Aah… pokoknya aku pinjam! Pinjam! Pinjam! Nee? Nee? Nee?" pekik Satsuki setengah merengek.
"Mo-Momoi… san…" panggil Tetsuna dengan nada yang sangat lirih dan juga masih menutupi wajahnya dengan buku doujin itu.
"Y-ya…?"
"R-rasanya aku… aku…" kata Tetsuna terbata-bata lalu menurunkan buku itu dan memperlihatkan wajahnya yang sangat OOC.*)
"Aku bahagia setengah mati… muehehehe…" lanjut Tetsuna lengkap dengan tawa fujo-nya. It's really, really totally out of character.
"Te-te-te-TECCHAN! ADA APA DENGAN WAJAHMU?!" pekik Satsuki kaget melihat wajah Tetsuna yang biasanya kalem-kalem aja sekarang menjadi… ah sudahlah… kokoro ini lelah…
"Ah! Itu dia… Tetsunacchi! Momocchi!" panggil pemuda berambut pirang itu dan menghampiri kedua gadis itu.
"Ah… Ki-chan!" sapa Satsuki pada pemuda yang bernama Kise Ryouta itu.
"Uh… kalian berdua kemana sih? Dicariin juga. Ayo kita makan-ASTAGA! TETSUNACCHI, KAU KENAPA BISA MIMISAN SEPERTI INI?!" kata Ryouta yang kemudian terpekik saat melihat Tetsuna yang ternyata sedang… mimisan.
Diambilnya sapu tangan dari sakunya lalu diraihnya tengkuk Tetsuna agar si empu sedikit mendongak. Setelah itu, Ryouta mulai membersihkan darah yang mengalir dari hidung Tetsuna dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Sementara itu, Tetsuna meletakan doujin-nya di sampingnya, yang langsung dicomot Satsuki, lalu tangannya mencoba mengambil alih sapu tangan itu dari Ryouta.
"Mou ii desu, Kise-kun. Aku bisa menyelesaikannya sendiri kok" kata Tetsuna.
"Tapi Tetsunacchi, ku lihat akhir-akhir ini kau sering mimisan. Aku kan jadi khawatir kalau kamu kenapa-kenapa. Kalau seumpamanya ternyata kamu punya penyakit kanker gimana?" kata Ryouta yang mulai mendramatisir.
"Ish! Kise-kun mah doanya jelek"
"Modus… modus… Ki-chan modus…" celetuk Satsuki mulai merasa diabaikan.
"Ish! Biarinlah, Momocchi! Tetsunacchi kan pacarku!"
"Eh? Pacar? Memangnya, sejak kapan kita pacaran, Kise-kun?" tanya Tetsuna dengan polosnya.
Jleb!
"Tetsunacchi hidoii…" kata Ryouta pundung.
"Hahaha… ada yang gak dianggap tuh sama 'pacarnya'… uh… kacian…" ledek Satsuki yang sukses membuat Ryouta semakin pundung. Kata Taiga, kamu sabaro Ryouta…
Sementara itu, Taiga bersin-bersin di tempatnya.
"Kayaknya ada yang lagi ngomongin aku deh…" guman Taiga sambil menggosok-gosok hidungnya.
.
緑間の兄弟
.
"Tadaima!"
"Okaerinasai, Shin. Tumben kau pulang lebih cepat, are? Shin, Taiga, doushitano kore wa?"
Seika yang menyambut suaminya pulang pun cengo saat melihat Shintarou menjewer telinga Taiga dan menyeretnya masuk.
"Daijoubu yo, Sei. Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran. Dan kau tak perlu ikut campur karena ini urusan sesama lelaki" jawab Shintarou sedikit menoleh Seika tapi tangannya tetap berada di telinga Taiga. Setelah itu, Shintarou kembali menyeret Taiga menuju sebuah ruangan. Tak lama kemudian, terdengarlah jerit pilu dari si tengah Midorima.
"ITTAI‼ GIVE UP! GIVE UP!… GYAAA… AMPUN ANIKI‼"
Sementara itu, Seika yang cengo pun akhirnya mengangkat bahu lalu menutup pintu rumahnya. Setelah itu, istri dari Midorima Shintarou itu kembali melakukan aktivitasnya merapikan rumah.
.
緑間の兄弟
.
Bel pulang sudah berbunyi. Semua murid pun berhamburan keluar dari lingkungan sekolah untuk pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan ketiga sahabat ini, Tetsuna, Satsuki dan Ryouta.
"Tecchan, Ki-chan, aku duluan ya! Jaa nee…" pamit Satsuki lalu berjalan ke arah barat.
"Ah! Sepertinya manager-san sudah main summon aja" gerutu Ryouta sambil memandang ponselnya yang berisi pesan dari managernya. Ya, beginilah hidup menjadi seorang model. Apalagi punya wajah ganteng seperti Ryouta. "Tetsunacchi, kau tak apa-apa aku tinggal sendiri?"
"Iie, daijoubu desu" jawab Tetsuna.
"Waa… gomen-gomen… aku jadi tidak bisa menemanimu untuk menjemput keponakanmu"
'Dan juga mengajakmu berkencan, mumpung lagi berduaan. Ah! Ini gara-gara manager-san sih, suka datang di saat yang tidak tepat' gerutu Ryouta dalam hati.
"Tenang saja, aku bisa jaga diri kok. Aku duluan ya, mata ashita" kata Tetsuna dengan senyum manisnya kemudian berjalan ke arah timur, menuju sekolah Shouko.
Sedangkan Ryouta hanya bisa memandang kepergian Tetsuna sambil ber-heavy rotation-ria.
み
ど
り
ま
Di perjalanan, Tetsuna memandang pesan singkat dari kakak sulungnya yang dia dapatkan ketika jam makan siang tadi.
。。。
From: Shintarou-nii
Tetsuna, tolong hari ini kau yang jemput Shouko di sekolah. Aku sedang ada urusan dengan kakakmu yang satunya lagi. Dan Seika, katanya dia sedang tidak enak badan. Aku sudah bilang kepada gurunya untuk menjaga Shouko sampai kau datang nanti. Maaf merepotkanmu.
14 Mei 2015, 12.15
。。。
"Tumben-tumbenan Shintarou-nii menyuruhku untuk menjemput Shouko. Biasanya juga Aneesan atau kalau tidak, Taiga-nii yang punya jam bebas kuliah" guman Tetsuna kemudian menutup ponsel flip-nya dan menaruhnya pada saku seragamnya.
Tak terasa, Tetsuna sampai juga di gerbang sekolah taman kanak-kanak tempat Shouko belajar. Di sana, Tetsuna melihat Shouko yang sedang asyik bermain pasir dan ditemani oleh perempuan berambut jingga kemerahan yang merupakan gurunya.
"Sumimasen, omatashimashita" kata Tetsuna menghampiri dua orang beda usia itu.
"Ah! Apakah kau yang bernama Midorima Tetsuna?" tanya perempuan itu.
"Techu-bachan…" seru Shouko lalu berlari dan menubruk Tetsuna.
"Hai. Midorima Tetsuna desu, yoroshiku" jawab Tetsuna lalu memeluk Shouko yang berada di gendongannya.
"Konnichiwa, Midorima-san. Nanami Haruka desu, yoroshiku onegaishimasu" kata Nanami, nama perempuan itu, kemudian ber-ojigi.
"Arigatou Nanami-sensei sudah menjaga Shouko. Maaf, malah jadi merepotkan Sensei" kata Tetsuna tak enak hati.
"Ah! Jangan sungkan-sungkan, Midorima-san. Lagipula Shouko-chan juga tidak pernah nakal di sekolah. Jadi itu tidak merepotkan"
"Sekali lagi terima kasih banyak, Nanami-sensei"
"Kochiro koso"
Setelah itu, Tetsuna meninggalkan lingkungan sekolah dengan Shouko yang berada di gendongannya.
"Techu-bachan lama banget cih… Choko campai jamulan tau nungguinnya. Untung aja ada Nanami-cencei jadi Choko tidak bocan" rajuk Shouko dengan wajah imutnya yang khas anak-anak. Membuat Tetsuna mencium pipi keponakannya sangking gemasnya.
"Gomen nee, Shouko-chan. Gimana biar Shouko-chan tidak bete lagi, kita mampir dulu di cafe-nya Atsushi Ojisan?" tawar Tetsuna yang langsung direspon oleh pekikan semangat Shouko. Haa… dasar anak kecil…
.
緑間の兄弟
.
"Tadaima!" seru Tetsuna dan Shouko berbarengan.
"Okaerinasai" sahut Seika yang baru saja keluar dari dapur. "Kalian darimana saja? Kok agak telat?"
"Maaf Aneesan, tadi aku dan Shouko mampir dulu ke cafe Atsushi-niisan karena aku telat menjemputnya dan Shouko ngambek" jawab Tetsuna.
"Mama! Mama!" panggil Shouko sambil loncat-loncat. Membuat Seika berjongkok untuk menyamai tinggi anaknya.
"Ada apa sayang, hn?" tanya Seika dengan suara yang diimut-imutkan kemudian mencium dada Shouko dengan gemas.
"Ada oleh-oleh dali Achuchi-jichan buat Mama" kata Shouko sambil menyerahkan sebuah bingkisan kepada Seika.
"Aa… arigatou Shouko-chan…" kata Seika masih dengan suara imutnya.
"O iya, kata Achuchi-jichan juga, kalau Papa nakal cama Mama, Choko halus lapol cama Jichan"
"Eh? Emang nakal yang kayak gimana maksudnya?"
"Kata Jichan cih kalau tidak calah, kayak cuka mecum gitu cama Mama. Cukanya glepe-glepein Mama"
Dan Seika pun terkekeh geli mendengar perkataan polos dari anaknya. Diusapnya rambut anaknya dengan sayang. "Nanti bilang ke Atsushi-jichan, kalau Papa gak pernah nakal sama Mama ya! Sekarang kau mandi dulu sama Tetsuna-bachan"
"Okey, Mama" seru Shouko kemudian berlari menuju kamar Tetsuna.
'Haa… Niisan… Niisan… udah punya ponakan lima tahun masih aja sister complex kambuh' batin Seika geleng-geleng kepala mengingat kakaknya, Akashi Atsushi, masih posesif padanya. Ya, semenjak Seika remaja, kakak bongsornya itu sudah mengidap penyakit sister complex.
"O iya Aneesan, tadi kata Shintarou-nii kau sedang tidak enak badan? Daijoubu desu ka?" tanya Tetsuna sedikit khawatir dengan kesehatan kakak iparnya.
"Tadi kepalaku memang pusing dan badanku lemas sekali. Tapi sekarang sudah agak mendingan kok. Mungkin Aneesan hanya kelelahan saja" jawab Seika sambil tersenyum menyakinkan.
"Techu-bachan… hayakku!"
"Ah! Kau sudah ditunggu Shouko tuh. Mandilah! Air hangatnya sudah Aneesan siapkan untukmu dan juga Shouko"
"Hai. Arigatou, Aneesan" kata Tetsuna kemudian menyusul Shouko yang sudah berada di dalam kamarnya.
.
緑間の兄弟
.
"Ittatatata… Aniki kok sadis banget sih…" rintih Taiga sambil mengompres benjol besar di kepalanya.
"Waa… ada bakpao di kepala Taiga-jichan! Cugoii…" kata Shouko lalu menusuk-nusuk benjol Taiga dengan jari-jari mungilnya.
"ITTAI! Duh… Shouko-chan… benjol Ojichan jangan ditusuk-tusuk… atit tau…" jerit Taiga udah mau mewek aja. Sedangkan, Shouko malah mencak-mencak senang sambil menoel-noel benjol pamannya yang dikira bakpao.
Oh… betapa ngenesnya Taiga. Udah dibikin benjol sama bapaknya, sekarang benjolnya malah dibuat mainan sama anaknya. Ckckck…
"Shouko… udah jangan nakal! Kasihan tuh Taiga-jichan jadi kesakitan gitu…" kata Seika sambil menunjuk Taiga yang sudah terbentuk 'sungai mengalir' di wajahnya.
"Ups! Gomen nee, Taiga-jichan" ucap Shouko lalu turun dari kursi kecil yang dia pakai memanjat ketika ingin mengambil sesuatu yang lebih tinggi.
"Lho? Taiga-nii kenapa kepalamu bisa benjol segede itu?" tanya Tetsuna yang baru muncul di ruang makan bersama Midorima family, kecuali Shintarou yang masih khusuk menonton Oha Asa. Seragam musim seminya berganti dengan kaos oblong putih dan celana pendek di atas lutut berwarna gelap. Begitu pula dengan rambut baby blue-nya yang semula dikepang dua, sekarang dibiarkan tergerai sampai punggung.
"Abis di-smack down sama Aniki" jawab Taiga ngasal.
"Di-smack down? Kenapa?" tanya Tetsuna lagi.
"Gara-gara ketahuan bolos"
"Bolos? Kenapa?"
"Diajak sama si Dekil buat ngintipin cewek"
"Ngintipin cewek? Kenapa?"
"Tetsuna, bisakah kau hentikan pertanyaan 'kenapa-kenapa'-mu itu? Kau lama-lama jadi seperti korban iklan biskuit dari negara antah-berantah itu deh!" omel Taiga mulai gondok.
"Eh? Kenapa?"
"AARRGH‼ KENAPA ADIKKU POLOSNYA OVERDOSIS GINI SIH?!" pekik Taiga prustasi. Njir, padahal gak nyadar aja gimana ekspresinya Tetsuna waktu menemukan doujin ShiZaya hard lemon.
Seika geleng-geleng kepala melihat tingkah kakak-adik itu. Kemudian wanita itu menghampiri Shintarou di ruang TV setelah selesai menyiapkan makan malam mereka.
[Selamat! Cancer sedang berada di puncaknya. Dan untuk lucky item-nya adalah boneka unicorn]
"Shin, ayo makan dulu! Nontonnya dilanjut nanti saja" panggil Seika. Dan tanpa protes pun, Shintarou mematikan TV dan menyusul istrinya yang sudah lebih dulu ke ruang makan. Toh, dia sudah nonton bagiannya Cancer.
.
緑間の兄弟
.
Makan malam Midorima family pun selesai. Semua anggotanya sudah mencar untuk melakukan aktivitas selanjutnya. Seika yang sudah merasa mengantuk, memilih masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Di ruang TV, Taiga asyik menonton TV yang sedang menyiarkan berita tentang olahraga. Tetsuna sedang mendongengkan Shouko di kamar bocah lima tahun itu. Sementara itu, Shintarou yang merasakan hawa-hawa positif dari Seika, pun memutuskan untuk ikut masuk ke dalam kamarnya. Toh seharian ini Seika sudah tidak ngamuk-ngamuk lagi, kecuali insiden pagi tadi. Shintarou masuk setelah membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci itu. Membuat Shintarou yakin bahwa istrinya sudah 'jinak' dan melupakan hukumannya. Tapi ternyata dugaan Shintarou salah karena setelah itu…
"SIAPA BILANG KAU BOLEH TIDUR SERANJANG DENGANKU MALAM INI?! CEPAT KELUAR! ATAU KAU TAK BOLEH MENGGREPEKU SELAMA SEBULAN‼"
Dan setelah itu, Shintarou pun sukses ditendang dari kamarnya. Rupanya Seika belum melupakan insiden tadi pagi. Dan Shintarou pun hanya bisa pasrah. Lalu dengan tampang madesu, Shintarou pun mengambil bantal yang ikut dilemparkan padanya, dan menghampiri Taiga yang sedang berusaha menahan tawanya karena mendengar teriakan cetar membahana milik sang kakak ipar.
"Hmmp… k-kau kenapa, Aniki?" tanya Taiga masih menahan tawa.
"Abis diusir sama Sei" jawab Shintarou dengan wajah cemberut.
Puk!
"Kamu sabaro…" kata Taiga mem-puk-puk Shintarou yang langsung dihadiahi deathglare oleh si sulung. Sedangkan yang di-deathglare cuma bisa mesem-mesem gaje.
'Hehehe… lumayan kan bisa buat acara balas dendam untuk yang tadi siang…' batin Taiga nista.
.
.
.
End…?
Glosarium (untuk bahasa Jepang yang jarang digunakan di fanfic):
Kochiro koso: sama-sama
doushitano kore wa: ada apa ini
Sumimasen, omatashimashita: maaf menunggu
Ojigi: membungkuk dalam tradisi Jepang
M-mou… atashi o hijimeru yamette!: Ih… berhenti menggangguku!
Ket:
*) bayangkan aja muka Kuroko yang setelah menang di semi final WC ngelawan Kaijo.
Tsuki's diary:
Otanjoubi omedetou buat Papa… (baca: OnoD) semoga panjang umur, banyak rejeki, dan juga… makin disayang sama Mama… (baca: Kamiyan) teheee…
Okey… kenapa end? Karena Tsuki emang sengaja membuat per-chapter itu oneshoot. Tapi meskipun oneshoot, chapter satu sama yang lainnya mungkin ada yang berkesinambungan. Jadi, terserah minna-san saja mau menganggap end atau belum. Dan yang pasti fanfic Tsuki yang ini adalah kumpulan oneshoot.
Well, Tsuki ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya buat yang ngebaca, ngefave, ngefollow, atau bahkan yang ngereview. Tsuki senang banget karena akhirnya Tsuki bisa nongol lagi di FFn ini. Apalagi fanfic Tsuki dapat sambutan yang baik. Tsuki tau, fanfic Tsuki ada yang masih perlu diperbaiki. Dan untuk fanfic multichap Tsuki yang sebelum-sebelumnya, Tsuki mohon maaf karena sudah menelantarkan mereka. Tapi Tsuki janji akan Tsuki lanjut secepatnya. Hn… mungkin segitu dulu curhatan Tsuki. Takut PHP-in karena kebanyakan author's note.
Mind to review?
