Rin Sighs..

Summary : Rin adalah seorang gadis yang selalu saja menghela napas. Walau ia tidak tahu apa sebabnya.. Apakah dia bisa berhenti menghela napas? /Bahasa aku, kamu dan bisa jadi gue, elo../ Versi Rani Konako.. / Chapter 1 : Girl who always sigh../ Apdet!

Pairing : Rin X Len (?)

Genre : Angst

Warning : Chara death, alur menukik tajam, pergantian POV 2 kali. Mungkin kesalahan penulisan karna saya bingung.. .

.

.

.

V

Ga suka? Bubar sonooh!*Ditendang*


(Normal POV)


"Bantu aku dalam mempersiapkan barang-barang." ucap Len lalu memberikan sebuah buku kepada Mikuo. Muka Mikuo langsung semerawut ketika melihat apa yang diberikan Len padanya. Sementara Len hanya menyeringai pelan melihat muka Mikuo. Mikuo lalu berdiri dan menjewer telinga Len sambil melirik Len yang di sebelahnya dengan sinis.

"LEN! KAU PIKIR AKU APA HAH! NGAPAIN KASIH BUKU ANEH BEGINI!" ucap Mikuo tepat di dekat telinga Len. Len memejamkan matanya. Kepalanya sudah sangat pusing sekali akibat teriakan Mikuo di depan telinganya. Bahkan kita bisa melihat efek burung-burung kecil yang mengelilingi kepalanya sekarang.

"Haish dah! Bersyukurlah udah ane beliin nih buku! Lumayan buat peningkatan kadar cintamu pada Miku!" ucap Len sambil memijit pelipisnya untuk mengusir rasa pening supernya. Mikuo hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, dia lalu melirik ke arah Len dan menghela napas.

"Baiklah aku akan membantumu, aku sudah siap jadi korbannya. apa kau punya cara untuk membuatku meninggal dengan sah-sah saja?" ucap Mikuo sambil melirik ke arah Len lagi. Len lalu menggerakan manik azurenya pelan ke atas. Dia menghela napas pelan dan melihat sebuah cahaya putih menghampirinya.

"Persiapan sudah selesai Len-sama! Kita hanya tinggal menunggu saatnya tiba!" ucap cahaya putih itu yang segera berubah menjadi seekor binatang yang mempunyai sayap yang berbeda warna. Len lalu mengangguk pelan sambil mengedipkan matanya. Mikuo hanya tersenyum kecil sambil menepuk pundak Len. Len yang merasa di tepuk pundaknya langsung menengok ke arah Mikuo.

"Kau tahukan kita sudah menghilangkan ingatan Rin sejak kejadian kecelakaan beruntun itu?" kata Mikuo tersenyum sedih dan pahit. Suasana tiba-tiba hening, bahkan angin tidak berani berhembus di antara mereka. Len menatap Mikuo serius sambil mengusap kepala binatang tadi. "… aku sudah siap.. jangan lupa panggil Gumi untuk mencatat kematianku." ucap Mikuo lagi sambil berjalan menjauhi Len yang diam di tempat.

Perlahan-lahan sayap Mikuo berubah menjadi berwarna kemerahan, pertanda bahwa ia akan segera dimusnahkan. Sesaat kemudian seorang gadis berambut pink panjang tiba-tiba muncul di depan Mikuo sambil memandang Mikuo dengan azurenya lembut. Mikuo lalu tersenyum melihat gadis itu. Gadis itu lalu menepuk pundak Mikuo pelan dan memunculkan sayap berwarna hitam pekat.

"Kenapa kau tidak minta kepadaku Mikuo?" kata gadis itu sambil meraih tangan Mikuo dengan tangannya. Mikuo hanya memandang gadis itu sedih. Matanya menyiratkan perasaan sedih mendalam seperti ada sesuatu yang terjadi antara Mikuo dan gadis itu di masa lalunya. Mata mereka yang saling bertemu juga tidak memancarkan percikan tapi menimbulkan kesan hangat dan rindu dari keduanya.

"Karna.. aku tidak mau kau menangis… Luka-san bukannya kau harus mendampingi suamimu?" ucap Mikuo sambil melepaskan tangannya dari tangan gadis yang bernama Luka. Luka memejamkan mata azurenya dan membukanya kembali sambil melihat Mikuo dengan sedih.

"Tidak, hari ini dia sedang ada tugas dengan Gumi… dia lebih mementingkan Gumi daripada aku, bahkan beberapa hari ini dia mengacuhkanku. Bagaimana denganmu Mikuo? Hubungan lancar dengan Miku yang sebagai manusia itu?" ucap Luka sambil menaruh kedua tangannya di pinggangnya. Mikuo diam dan tak bisa berkata apa-apa seakan-akan mulutnya terkunci oleh sesuatu. Luka lalu tersenyum dan mendekati Mikuo perlahan. Mengenggam tangan Mikuo dan,

Mencium Mikuo dengan lembut.


Sementara Rin…


Rin memandang ke arah sekitar. Hening tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Walaupun angin berhembus di taman yang ia kunjungi. Walaupun masih pagi, Rin biasanya hanya terdiam sambil memikirkan kenapa dia selalu menghela napas setiap harinya. Rin sangat muak dengan helaan napasnya yang selalu datang dan tidak ia harapkan. Bahkan sekarang dia sudah menghela napas selama 5 kali.

"Hn… aku ingin sekali berhenti menghela napas tapi-" ucapan Rin terpotong ketika melihat Mikuo yang entah dari mana melihatnya di dekat ayunan berwarna merah muda. Tapi, ada yang aneh dengan Mikuo yang sekarang ia lihat. Mikuo yang sekarang ia lihat berbeda dari biasanya. Rin memandangnya dengan sangat penasaran. Mikuo yang merasakan aura Rin langsung tersenyum manis sambil mendekati Rin.

"Hai Rin! Kau sedang apa di sini?" ucap Mikuo pelan. Rin lalu memalingkan mukanya, matanya terbelalak melihat bayangan seorang anak lelaki berambut honey blond walaupun langsung menghilang ketika Rin mengedipkan matanya. Sementara Mikuo yang melihat itu hanya mendengus kesal ketika melihat anak itu. 'Dasar Len bodoh! Untuk saja kau segera pergi tadi!' Pikir Mikuo yang mukanya menjadi sangat bete sekali. Sementara Rin lalu mengeleng-gelengkan kepalanya dan mengucek matanya.

"Yang tadi apa ya? Mikuo lihat gak?" ucap Rin langsung dibalas gelengan cepat oleh Mikuo.

"A-aku ga liat apa-apa kok Rin…" ucap Mikuo cepat lalu berjalan tiga langkah menjauhi Rin. Anginpun tiba-tiba berhembus pelan. "Rin, apa yang kau lakukan jika temanmu meninggal?" kata Mikuo sambil melirik Rin dingin dengan ucapan datar.

DEG!

Pertanyaan Mikuo membuat Rin kaget sesaat. Yah, selama ini dia memang sering mengacuhkan Mikuo. Tapi entah kenapa sekarang dia merasa ada sesuatu yang aneh dari gaya bicara Mikuo yang sangat berbeda dari biasanya. Rin lalu berusaha menenangkan dirinya bahwa tidak terjadi apa-apa. Dan berusaha menjawab pertanyaan Mikuo.

"Aku pikir aku akan diam saja.. kau tahukan kalau aku tidak punya teman?" kata Rin dengan nada datar. Mikuo lalu menghela napas pelan dan tersenyum kecil.

"Benar yah? Aku juga tidak masuk teman menurutmu, hn… Rin.. jaa ne~!" ucap Mikuo lalu pergi ke jalan raya tanpa menengok kanan kiri. Mikuo lalu melihat ke atas dan melihat Len yang tersenyum pelan dan mengedipkan matanya.

"Maafkan aku Mikuo…" guman Len lalu menunjuk ke arah kanan. Mikuo hanya melirik ke kanan dan menelan ludah.

"MIKUO! AWAS!" Rin berteriak ketika melihat sebuah bis yang melesat kencang sekali. Mikuo lalu menengok ke kanan dan tersenyum. Seakan-akan dia sudah siap dengan semuanya. Mikuo hanya diam lalu melihat ke arah Rin yang berusaha meneriakannya akan adanya bis itu. Mikuo lalu tersenyum pelan.

"Aku mengorbankan diriku untuk kedua temanku, jika kau bersedia tabraklah aku dan bawalah aku ke dunia lain yang…"

BRAAK!
CKIIIIIIT!

Darah segar dan hangat menyebar. Mikuo yang sudah tergeletak setengah sadar dengan kondisi tubuh terluka parah. Rin mematung ketika melihat Mikuo yang tergeletak, mulutnya bahkan tak bisa berbicara sepatah katapun. Sangat terlihat bahwa Rin sangatlah kaget dengan apa yang terjadi.

Seorang gadis berambut pink muda hanya menangis di dekat ayunan berwarna merah muda. Air matanya tidak dapat dia tahan karna melihat pemandangan mengerikan itu.


(Rin POV)


Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Mikuo yang dilumuri darah dimana-mana dengan senyum lembut miliknya. Aku berlari cepat ke arahnya untuk menyelamatkannya.

"Be-bertahanlah Mikuo!" ucapku sembari mengambil handphoneku yang berada di sakuku. Napas Mikuo makin melemah dan mukanya sangat kelihatan sangat pucat. Aku sangat khawatir dengan keadaanya yang sudah dibilang lumayan parah.

"Haha.. untuk apa kau menolongku Rin? Bukankah kau bilang kau akan diam saja?" ucap Mikuo lemah, ekspresinya sangatlah datar dan bisa dikatakan dingin. Perlahan mata Mikuo menutup pelan. Nafasnya juga berhenti.

"Kau jangan bercanda Mikuo! Maaf aku berkata seperti itu!"

Aku mengerakan tanganku ke tangannya dan mengecek nadinya apa masih berdenyut atau tidak.

Nihil,

Bo-bohong! Tidak mungkinkan!

Aku lalu memengang dadanya dan..

Tangisku meledak entah karna apa. Rasa perih langsung menyergap dalam hatiku. Sekarang aku mengerti apa perkataan Mikuo kepadaku.


Tanpa kusadari seseorang mengamatiku dari jauh. Seorang pemuda berambut honey blond diikat pony tail dengan senyum licik di wajahnya.

"Sudah dilaksanakan Len, Mikuo memang pintar, sekarang kita hanya tinggal menunggu besok." ucap gadis berambut hijau lumut dengan mata senada sambil menyerahkan seekor burung berwarna putih. Len tersenyum dan berkata,

"Rasakan rasa sakit itu, besok kau akan bertemu denganku." Lalu Len menerbangkan burung merpati putih itu dan tersenyum. "Mikuo, sekarang… Kau bisa pergi…" burung merpati itu lalu menunduk dan pergi entah kemana. Sementara Len yang melihat kepergian Mikuo/burung merpati itu langsung menghilang saat melihatku menangis pelan.

"Tunggu ya Rin… Aku akan menghentikan helaan napasmu."


TBC


A/N : Wah, wah.. Chapter ini ngebahas Mikuo yang mengorbankan dirinya agar Len bisa bertemu Rin. Yah… Walau pertamanya ga ada niat bikin ginian… Karna dah lama ga apdet malah kepikiran beginian. Jadi chapter ini full Mikuo dan Luka. *Entah kenapa lagi betah ngebikin LukaXMikuo* Karna itu.. GOMENNASAI banget! Dan Len itu malaikat ya~

Maaf ga bisa bales ripiu dulu~ T^T