BIG EVENT HUNHAN INDONESIA

.

.

.

PRESENT

.

.

.

Miserable Without You

Rate: M

Genre: Hurt, comfort, romance

Warning: GS (GenderSwitch), typo(s)

.

.

.

Summary:
"Aku akan kembali dan kita akan bermain bersama lagi. aku janji" - Oh Sehun
"Apa kau melupakanku atau kau memang tidak mau bertemu denganku lagi? Argh aku gila karenamu, Oh Sehun" - Xi Luhan

.

.

.

Main Cast:

Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Kai

Do Kyungsoo

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Support cast:

Kim Jongdae

Kim Minseok

Kim Joonmyeon

Zhang Yixing

Kris Wu

etc.

.

.

.

Disclaimer: Cerita ini murni dari pikiran saya. Tidak ada unsur penjiplakkan. Semua cast yang berada di dalam cerita ini milik Tuhan

Tidak suka? Jangan lanjut membaca:)

Dilarang keras menjiplak, meniru, mencopy-paste tanpa izin dari saya sebagai penulis

.

.

.

NB: TULISAN DI "BOLD" BERARTI DENGAN BAHASA MANDARIN

.

.

.

2 tahun kemudian...

Seoul, 12 April 2008

Untuk: Xi Luhan

Halo Lulu! Apa kabar? Ge-ge mengirimkan surat ini untukmu. Masih ingat ge-ge kan? Maaf sudah membuat Lulu menunggu selama 2 tahun. Ge-ge masih belum bisa mengunjungi Lulu karena belum ada waktu. Masih mau menunggu kan? Maafin ge-ge ya. Oh ya, ge-ge dapat kabar kalau Lulu dapat peringkat pertama di kelas ya? Selamat untuk Lulu. Lulu mau hadiah apa? Ge-ge akan mengirimnya dari sini untuk Lulu. Ge-ge di sini baik - baik saja, jangan khawatir. Apa Lulu sudah bisa berbicara Korea dengan baik? Kalau sudah berkunjunglah ke sini karena ge-ge akan mengajakmu berkeliling. Ge-ge baru saja menjadi seorang trainee di sebuah agensi besar di Korea, ge-ge harap Lulu juga bisa mencapai cita - cita Lulu dengan baik. Semoga kita dapat bertemu secepatnya. Ge-ge merindukan Lulu!

-Oh Sehun-


Beijing, 20 April 2008

Untuk: Oh Sehun

Oppa! Lulu juga merindukan oppa! Lulu sudah bisa membaca tulisan hangul dengan baik jadi bisakah Lulu mengunjungi oppa? Tapi Lulu masih terlalu kecil untuk menemui oppa di Korea. Lulu harap oppa mau menunggu Lulu. Jika oppa sudah menjadi trainee, berarti oppa akan menjadi artis nantinya, selamat untuk oppa! Oppa, Lulu mau oppa datang ke sini agar kita bisa bermain lagi. Lulu tidak mau apapun asalkan oppa di sini bersama Lulu. Lulu akan selalu menunggu kok. Semoga oppa selalu sehat dan memiliki waktu untuk mengunjungi Lulu. Jangan lupakan Lulu, oppa! Lulu akan selalu mengingat oppa!

-Xi Luhan-

.

.

2 tahun kemudian...

Beijing, 20 Mei 2010

Untuk: Oh Sehun

Oppa, apa kabarmu baik - baik saja? Sudah 4 tahun tapi oppa belum bisa menemui Lulu. Tidak apa, Lulu akan selalu menunggu. Oppa, Lulu mendapat peringkat pertama di sekolah. Lulu sudah lulus oppa! Sekarang Lulu sudah terdaftar di sekolah menengah pertama di kota Beijing. Orang tua Lulu memutuskan untuk pindah ke kota supaya Lulu mendapat pendidikan yang lebih baik. Bagaimana dengan masa trainee oppa? Apa berjalan dengan lancar? Ahh Lulu sangat merindukan oppa. Lulu percaya bahwa oppa pasti akan menepati janji oppa suatu saat nanti. Lulu akan tetap menunggu kok. Semoga oppa selalu dalam keadaan sehat dan bahagia karena jika demikian maka Lulu akan merasakan hal yang sama di sini

-Xi Luhan-

.

.

2 tahun kemudian...

Beijing, 10 Januari 2012

Untuk: Oh Sehun

Oppa! Kenapa oppa tidak membalas suratku? Apa oppa sangat sibuk? Tidak apa, aku mengerti keadaan oppa. Bagaimana kabar oppa? Apa semuanya baik - baik saja? Aku harap begitu. Berita terakhir yang aku tahu adalah bahwa oppa masuk ke sebuah agensi dan menjadi trainee di sana? Apa oppa sudah mulai debut atau belum? Jika belum, berusahalah semaksimal mungkin karena aku tahu oppa sangat berbakat di bidang seni. Oppa pernah menari untukku ketika aku menangis waktu dulu karena teman - temanku meninggalkanku untuk bermain di pantai. Ahh aku jadi mengenang masa itu. Aku mendapatkan prestasi yang baik di sini sehingga aku masuk ke dalam kelas percepatan. Aku akan lulus tahun ini dan aku minta doa oppa supaya aku bisa mendapatkan hasil yang terbaik di sini. Aku sangat merindukan oppa. Apakah oppa tidak merindukanku juga? Aku harap oppa membalas suratku secepatnya

-Xi Luhan-

.

.

10 tahun kemudian...

Seorang lelaki berwajah malaikat berjalan terburu - buru menyusuri lorong gedung sebuah agensi besar ini untuk menghampiri beberapa orang di bawah naungannya. Di tangannya terdapat beberapa kertas berisikan daftar lagu yang akan di tampilkan. setelah menemukan ruangan yang ia cari, ia segera masuk dan sudah di sambut oleh orang - orang tersebut

"Hyung, kau datang? Ahh aku kira kau menonton konser SNSD sunbae-nim" Mereka menghentikan latihan mereka setelah melihat manager mereka yang mempunyai wajah seperti malaikat itu datang dengan beberapa lembar kertas

"Kalian mau mengadakan konser lagi, mana mungkin aku..."

"Apa?! Konser?!"

"Ya, kalian akan mengadakan tur konser di berbagai negara lagi mulai bulan depan" Kim Joonmyeon, manager yang memiliki wajah malaikat itu membagi lembaran kertas di tangannya kepada 3 orang yang sedang tidur terkapar di lantai ruangan tempat mereka latihan dance

"Konser lagi? Ahh hyung, aku lelah. Haruskah aku mengirim surat kepada agensi untuk menambah jam tidurku? Konser tur dari agensi saja belum selesai. Hyung, minggu depan jadwal tur konser di Jepang dan kami harus mempersiapkan konser kami sendiri ketika konser tur lain lagi berjalan? Hyung, aku bisa gila jika seperti ini terus" salah satu dari mereka memiliki kulit tan memprotes hingga ia mendapat satu pukulan dari temannya

"Ya! Yang kau pikirkan hanya tidur, eoh? Dasar pemalas! Enyahlah kau pemalas! Kau penari yang hebat tapi pemalas dalam melakukan apapun" seseorang dari mereka yang memiliki tinggi di atas rata - rata itu yang memukul kepada lelaki berkulit tan yang sudah ia anggap sebagai adik itu

"Chanyeol hyung! Ini sakit!" lelaki yang memiliki kulit tan itu mengelus kepalanya sambil merintih kesakitan. Dasar manja!

"Aish! Orang - orang ini sudah tua masih saja bertingkah seperti anak - anak" lelaki yang lain menggelengkan kepalanya sambil mendecak malas kepada dua orang temannya yang sudah berumur tapi masih memiliki sikap anak - anak yang terkadang membuat fans mereka heran, sebenarnya siapa yang memiliki umur paling muda?

"Ya! Oh Sehun! Apa yang kau katakan?! Ulangi sekali lagi, hyungmu ini tidak mendengarnya!" Seseorang bernama Chanyeol menghampiri lelaki bernama Sehun itu yang sedang berbaring tenang di sofa. Ia memilih pindah menjauh dari dua lelaki yang tadi beradu mulut itu

"Tidak ada. Ada yang ingin kau bicarakan, Joonmyeon hyung?" Sehun, lelaki itu langsung meninggalkan sofa kesayangannya lalu berlari menuju Joonmyeon yang sedang membaca kertas - kertas di tangannya

"Hentikan sikap anak - anak kalian! Aish! Aku bingung kenapa harus aku yang menjadi manager kalian!" Joonmyeon memukul Sehun dengan gulungan kertasnya membuat Chanyeol dan lelaki tan bernama Kai itu tertawa

"Supaya hyung terlatih jika sudah memiliki anak nanti! Aish! Hyung hentikan! Sebaiknya hyung memikirkan pernikahan daripada harus memukulku seperti ini! Hyung!" Sehun meronta - ronta sedangkan temannya malah semakin tertawa atas tingkahnya. Teman seperti apa mereka?

"Apa yang kau katakan, eoh?! Ya! Kau seharusnya juga berpikir begitu! Umurmu juga sudah tua, Oh Sehun" Joonmyeon tidak berhenti memukul Sehun dengan kertasnya

"Lebih tua, hyung. Tapi lihatlah hyung yang lebih bersikap anak - anak daripada kami. Sampai kapan hyung mau memukulku?!"

"Bertengkarlah hingga larut malam, aku ingin tidur" Kai berjalan menghampiri sofa dan lalu segera menghempaskan badannya dengan nyaman

"Ya! Jangan sampai kau tidur, Kai! Aku akan menyirammu dengan air es. Kau ingat, sekarang masih musim dingin" Joonmyeon berhenti memukuli Sehun dan berjalan menghampiri Kai dengan senyum licik tercetak di bibirnya

"Baiklah hyung, kurasa kita lebih baik berlatih daripada kau mengambil satu ember air untuk Kai" Chanyeol menghentikan aksi Joonmyeoon yang ingin memukul Kai dengan memeluk Joonmyeon yang tingginya jauh berbeda dengan Chanyeol

"Lepaskan pelukkanmu!" Chanyeol melepas pelukkannya lalu tersenyum sumringah membuat Joonmyeon menatapnya sinis

"Latihan kali ini sampai larut malam! Itu hukuman untuk kalian!"

"Hyung!"

.

.

"Ini resep obatnya, tuan. Tolong diminum sesuai jadwal yang telah ditentukan. Selamat malam, dan lekas sembuh" Seorang wanita berambut panjang bergelombang berwarna cokelat berdiri dengan tegap lalu membungkuk. Setelah itu ia mempersilahkan pasiennya keluar dari ruangannya dengan hormat serta senyum yang terus mengembang di bibirnya membuat kecantikannya hampir mendekati sempurna.

"Dokter Xi apa kau langsung pulang atau..."

"Tidak, Yixing. Ada jadwal operasi nanti malam jam 1 pagi" wanita dengan name tag bertuliskan "Xi Luhan" di jas putih bersihnya melepas kacamatanya lalu memijit kepalanya pelan. Seharian ini banyak pasien yang menghampirinya dan sudah dua operasi yang ia hadapi hari ini dan akan bertambah menjadi tiga nantinya.

"Tapi sepertinya eonni sudah kelelahan. Setahuku ada dokter yang bertugas untuk dini hari" Zhang Yixing, suster yang selalu bersamanya di rumah sakit ini menyusun peralatan dokter yang ada di ruangan Luhan lalu menyimpannya ke dalam lemari

"Lihat! Tidak ada dokter spesialis yang sama denganku. Kyungsoo ada untuk membantuku dalam operasi" Luhan menunjukkan kertas berisi jadwal jaga para dokter di rumah sakit ini

"Butuh ditemani, eonni?" Yixing mengambil tempat di depan Luhan, tempat biasa para pasien berkonsultasi dengan Luhan

"Tidak perlu, banyak suster yang berjaga di malam hari, kan? Kau sebaiknya pulang dan beristirahatlah" Luhan tersenyum lalu ia berjalan ke arah dispenser untuk mengambil segelas air

"Siapa yang meminta jadwal operasi jam 1? Aish! Tidakkah mereka tahu dokter juga butuh istirahat?" Yixing memprotes jadwal kerja seorang dokter yang terkadang tidak manusiawi

"Sebenarnya itu adalah tugas Dokter Park Ji Soo, tapi ia harus pergi ke rumah pasien pribadinya. Jadi, aku menggantikannya. Mungkin aku akan tidur di ruangan ini lagi" Luhan terkekeh membuat Yixing tersenyum simpul. Terkadang ia kagum dengan dokter yang satu ini. Ia masih berumur 24 tahun tapi sudah memiliki gelar dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) karena prestasinya sewaktu sekolah dulu. Ia mengikuti kelas percepatan di menengah pertama dan menengah atas lalu mengambil jurusan kedokteran di negeri gingseng ini dan lulus dengan nilai diluar perkiraan siapapun. Ia langsung direkrut masuk ke rumah sakit yang namanya sudah terkenal di seluruh Korea ini dan seberapa banyak pun pekerjaan yang ia hadapi, ia tidak pernah mengeluh.

"Sepertinya aku akan menemani eonni dalam melakukan operasi nanti" Yixing mengayunkan tangannya yang menggenggam benda persegi panjang yang ajaib itu. Di sana tertera nama Suster Park Sooyeong, teman baik Yixing yang sama - sama diterima di rumah sakit ini

"Halo, ada apa eonni?"

"Yixing-ah, apa kau bisa menggantikan eonni untuk operasi jam 1 nanti? Eonni akan pergi kencan malam ini" terdengar suara cengiran di seberang sana membuat Yixing tersenyum

"Tentu. Kali ini aku memakluminya, eonni. Bersenang - senanglah"

"Terima kasih, Xing-ah. Kau memang terbaik! Sampaikan permintaan maafku untuk Dokter Xi. Dokter muda itu pasti mengerti posisiku"

"Ya!"

Yixing menyimpan ponselnya di saku bajunya lalu menatap Luhan dengan senyuman di bibirnya

"Ayo kita ke cafe untuk minum kopi" Yixing berdiri begitu pun Luhan

"Jadi, kau serius menggantikan Sooyeong?"

"Ya. Ada masalah, Dokter Xi?"

"Kau memang paling mengerti diriku, Yixing-ah" Luhan menghampiri Yixing dan segera merangkul pundaknya lalu mereka keluar dari ruangan kerja Luhan dengan tertawa kecil

"Kau selalu memujiku jika aku mau menemaniku, eonni. Aku bosan" Yixing merengut lucu membuat Luhan tertawa lalu ia mengerjai Yixing

"Apa ini maksudnya? Kau minta ditraktir, eoh?" Luhan menggelitik Yixing membuatnya tertawa terbahak - bahak

"Good job, eonni. Kau mengerti maksudku. Aku ingin Americano ya, eonni"

"Apa yang tidak aku mengerti darimu, eoh?"

.

.

"Hyung, aku harus pergi!" Sehun mengambil ponselnya yang sedang mengisi daya di pojok ruangan lalu ia juga tak lupa memakai hoodienya yang berwarna hitam senada dengan warna kaos dan celana jeansnya

"Mau kemana? Latihan belum selesai, Sehun-ah" mata Joonmyeon tidak berhenti mengikuti kemana pun Sehun berjalan dari sudut ruangan ke sudut lainnya hanya untuk mengambil barang - barangnya

"Adik sepupuku akan menghadapi operasi sekitar... oh astaga! 20 menit lagi, hyung! Aku harus pergi!" Terakhir, Setelah ia mengecek jam di pergelangannya, Sehun meraih kunci mobilnya di atas meja dengan pintu masuk

"Jangan pulang hingga pagi hari atau aku akan menarikmu menemui staf agensi Sehun!"

"Tetap gunakan maskermu walaupun rumah sakit saat ini sangat sepi. Hati - hati di jalan, Sehun-ah. Baliklah ke dorm, jangan ke rumah orang tuamu! Jangan lupa acara nonton bola bersama!" Chanyeol melambaikan tangannya ke udara dan Sehun membalasnya lalu ia keluar dari ruangan tersebut

Sehun segera meraih tombol lift dan pintu lift segera terbuka. Ia menatap seseorang di dalamnya sebelum masuk lalu menutup pintu lift tersebut

"Selamat malam, sunbae" orang itu menyapa Sehun ramah

"Ya, selamat malam, Irene" Sehun tersenyum simpul di tengah dirinya yang sedang dikejar waktu

"Sunbae nampak terburu - buru, ada urusan penting?"

"Ya. Aku duluan!" Sehun dengan cepat melangkah ke luar ketika pintu lift terbuka dan ia berlari menuju parkiran.

Sehun melajukan mobil mercedez benz kesayangannya dengan cepat karena jarak dari gedung agensinya ke rumah sakit tersebut bisa menghabiskan waktu satu jam. Sebenarnya jika Sehun tidak datang juga tidak masalah karena sepupunya pun juga sangat mengerti keadaan Sehun yang sering pulang larut karena latihan. Tapi, Sehun merasa ini merupakan keharusan untuk menjumpai adik sepupunya itu yang akan menghadapi operasi pertamanya karena penyakit radang tonsil dan adenoid (amandel) yang Sehun kurang mengerti. Maklum, dia tidak menyentuh pelajaran IPA semenjak masuk sekolah kesenian menengah atas yang cukup terkenal di Korea.

Setelah mendapatkan tempat parkir, Sehun segera turun dan langsung berlari masuk ke gedung rumah sakit yang sangat besar itu. Ia mencari - cari letak lift dan ketika ia sudah menemukannya ia menekan tombol lift lalu masuk dan segera menekan angka 7 karena apa yang barusan ia baca di depan lift adalah letak ruang operasi yang berada di lantai 7

"Permisi, suster" Sehun sedikit berdehem untuk menyamarkan suaranya agar tidak diketahui siapapun

"Selamat malam, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Suster yang berdiri di belakang meja resepsionis itu tersenyum ramah tanpa ada rasa curiga sedikit pun

"Pasien atas nama Kim Seojun, apa sedang berada di ruang operasi?"

"Sebentar saya periksa dulu, tuan" suster dengan name tag "Park Hyeri" itu duduk di kursinya lalu berkutak dengan komputer di hadapannya sebelum kembali berdiri dan melemparkan seulas senyum kepada Sehun

"Pasien atas nama Kim Seojun sedang menjalankan operasi dari satu jam yang lalu dengan dokter bernama Xi Luhan dan Do Kyungsoo di ruang operasi sebelah sini" Suster tersebut menunjuk dengan tangannya lorong di sisi kirinya

"Baiklah. Kapan operasi akan selesai?"

"Sekitar 30 menit lagi, tuan" Suster tersebut tersenyum setelah menghitung waktu dengan jam dinding yang tertempel tepat di belakangnya

"Terima kasih" Sehun membungkuk lalu segera menuju ke ruang operasi yang dimaksud dan ia sudah menemukan keluarga Seojun di sana

"Sehun-ah, kau datang?" Mama Seojun langsung berdiri dan memeluk Sehun

"Ne, ahjumma. Apa semuanya baik - baik saja?" Sehun membalas pelukkan dari mama Seojun

"Semuanya pasti akan baik - baik saja. 30 menit lagi operasi akan selesai" Mama Seojun melepas pelukannya lalu mengajak Sehun duduk

"Apa dia mencariku tadi? Maaf aku datang terlambat karena harus latihan" Sehun memainkan kunci mobilnya sambil menunduk

"Tidak. Dia bahkan tidak tahu kau akan mengunjunginya. Tidak apa, Sehun-ah. Semua sudah mengerti kondisimu" Mama Seojun tersenyum sambil menepuk pundak anak dari kakak kesayangannya itu

Semua terdiam. Sehun sibuk dengan pikirannya sendiri begitu juga dengan kedua orang tua Seojun. Hanya terdengar detingan jarum jam yang terus berputar hingga mereka melihat tanda lampu di depan ruang operasi berubah menjadi warna hijau yang sebelumnya bewarna merah

"Operasinya berhasil" Sehun berdiri begitu juga dengan orang tua Seojun. Mereka menunggu Seojun keluar dari ruangan tersebut

"Aku akan berbicara dengan dokternya nanti, Ahjumma dan Ahjussi bisa langsung menghampiri Seojun di ruang rawatnya" Mama Seojun mengangguk begitu juga Ayahnya. Sehun kembali memasang maskernya takut - takut kalau suster di sini merupakan salah satu fansnya

"Selamat tuan dan nyonya. Operasnyai berhasil. Pasien akan kami bawa ke ruang inap dan kita akan menunggu ia siuman dari obat biusnya" Seorang dokter datang menghampiri mereka dengan ramah membuat Sehun sedikit terpana

"Semuanya baik - baik saja, bukan?"

"Tentu. Tidak ada masalah selama operasi. Ada yang bisa berbicara dengan saya di ruangan saya?" dokter tersebut memandang tiga orang di hadapannya satu - persatu.

"Saya yang akan berbicara dengan anda di ruangan anda, dokter" Sehun berdehem

"Mari ikut saya ke ruangan. Permisi tuan dan nyonya" Dokter tersebut membungkuk hormat lalu ia berjalan diikuti oleh Sehun di belakangnya

"Selamat malam dan silahkan duduk di sini, tuan" Dokter tersebut mempersilahkan Sehun duduk di kursi pasien sedangkan ia mengambil berkas yang berada di tangan Yixing yang sudah berdiri di belakang kursi dokter tersebut

"Sebelumnya, pasien bernama Kim Seojun belum pernah berkonsultasi ataupun memeriksa dirinya kepada saya. Biasanya dilakukan oleh Dokter Park Ji Soo. Tapi berhubung Dokter Park memiliki urusan pribadi, maka saya selaku dokter yang menangani masalah yang sama dengan Dokter Park menggantikannya untuk melakukan operasi. Perkenalkan nama saya Xi Luhan, senang bertemu dengan anda" Luhan mengulurkan tangannya dan segera di sambut ramah oleh Sehun

"Ya, senang bertemu dengan anda"

"Jadi kita langsung saja, tuan. Menurut hasil operasi yang baru dilakukan, pasien Kim Seojun..." Luhan menggeser kursinya untuk mengambil beberapa file di mejanya yang lain lalu ia letakkan di meja di hadapannya

"Pasien Kim Seojun akan merasakan sakit yang luar biasa saat obat bius sudah habis. Rasa sakit itu akan terasa selama 10 hari. Untuk itu pasien harus diberikan asupan yang dingin seperti es krim, pudding, jelly agar dapat membuat lapisan selaput lendir tetap lembap dan mencegah keropeng mengering dan gugur lebih cepat. Ada yang mau di tanyakan, tuan?" Luhan menatap mata Sehun sambil menunggu jawabannya. Sungguh, ia merasa tidak asing dengan mata ini

"Jadi kalau diberikan makanan yang berbau gorengan, bisa?"

"Maaf, tuan. Anda berbicara kurang jelas, bisa diulang kembali?"

Sehun membuka maskernya sementar Luhan sedang mencari kertas untuk mencatat resep obat yang akan ditebus

"Jadi kalau diberikan makanan yang berbau gorengan, bisa?" Sehun berdehem dan tepat saat itu juga Luhan menatap wajahnya dan ia menjatuhkan rahanganya sempurna

"Oh- Oh Sehun?"

"Apa kau mengenalku?" Sehun melongo

"Kau..."

"Ahh! Kau salah satu fans kami, ya?" Sehun tertawa membuat Luhan semakin bingung

"Fans? Apa kau artis?"

"Tentu. Kau tidak mengenal boygrup kami? Kami debut dengan nama EXO. Sudah berjalan hampir 10 tahun" Sehun tersenyum dan itu tidak mengubah ekspresi Luhan

"Kau tidak mengingatku?" bisik Luhan

"Maaf, anda bicara apa Dokter Xi? Saya tidak mendengarnya" Sehun mendekatkan wajahnya ke arah Luhan membuat Luhan otomatis menjauh

"Tidak ada. Jadi, apa yang tuan pertanyakan tadi?" Luhan menunduk, ia enggan menatap Sehun di depannya

"Jika diberikan makanan yang mengandung minyak seperti makanan di goreng, bisa?"

"Oh, tidak bisa, tuan. Makanan penggaruk seperti roti bakar atau kraker dan sejenisnya seperti yang disebutkan oleh tuan dapat membuat tenggorokannya teriritasi, jadi jangan berikan dulu dan jangan berikan makanan atau minuman panas juga. Selama proses penyembuhan di sini, pihak rumah sakit akan memberikan makanan yang dingin untuk dikonsumsi pasien" Luhan berbicara sambil menuliskan resep obat di kertasnya

"Berapa lama penyembuhan berlangsung?"

"Sekitar 2 minggu. Ini resep obat yang harus ditebus, tuan" Luhan merobek kertas tersebut lalu menyodorkannya kepada Sehun

"Kalau begitu saya permisi. Terima kasih, Dokter Xi" Sehun bangkit berdiri begitu juga Luhan. Mereka saling membungkuk lalu Sehun berjalan keluar dari ruangannya

"Apa kau melupakanku, oppa?" Luhan meletakkan kepalanya di atas meja

"Apa ada masalah, eonni?" Lihatlah, ia bahkan lupa kalau Yixing masih setia berdiri di belakangnya

"Dia melupakanku, Yixing-ah" detik itu juga air mata lolos dari mata indah Luhan.

"Tidak apa, eonni. Semuanya akan baik - baik saja" Yixing terus menepuk punggung Luhan yang menangis di pelukkannya. Ia bahkan tidak mengerti mengapa dokter muda itu menangis tiba - tiba. Yang ia tahu, Luhan butuh tempat untuk meluapkan kesedihannya dan Yixing sangat bersedia melakukannya tanpa diminta

"Dia bodoh! Kenapa dia melupakanku? Dia sudah melanggar janjinya!"

"Aku sudah berusaha mati - matian agar bisa menemuimu di Korea hiks, tapi apa yang terjadi sekarang? Hiks" Luhan menangis hingga sesenggukkan membuat Yixing enggan mengatakan apapun

"Kau juga bodoh, Luhan. Kenapa kau mempercayai lelaki brengsek seperti dia? Hiks"

"Eonni, jangan menangis" Yixing memeluk Luhan lalu mengusap punggungnya pelan

"Tidakkah kau tahu hiks hidupku tak berarti tanpamu hiks, Oh Sehun! hiks"

"Oh Sehun bodoh! Kenapa lelaki brengsek sepertimu bisa membuatku mencintaimu?!"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

Gue balik nih(?) Niatnya mau buat sedih gitu tapi kayaknya gagal dehh, yaudahlah ya, anggap aja itu cerita udah sedih banget /plak/ Oh iya, makasih buat review - review yang telah kalian berikan. Maaf gue gabisa sebutkan satu - satu disini tapi over all gue berterima kasih banget kalian juga udah rela - relain waktu kalian untuk baca nih ff. Gue sangat menghargai waktu kalian. Sorry gue baru update karena biasalah masalah sekolah yang tak pernah bisa dihindari (baca: ujian). Gue menghabiskan 7 jam waktu gue utk menulis satu chapter ini (sudah masuk makan, nonton, dan melamun ria) Jadi, gue berharap bagi yang baca ff ini untuk memberikan reviewnya supaya ff ini bisa memiliki alur yang menyenangkan bagi pembaca. Sekian aja dari guee, sampai ketemu di chapter selanjutnyaaa

.

.

*bow*