Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Just trust me!

Chapter II

.

.

.

Sai POv

Mungkin hari ini aku sedang sial. Sudah datang terlambat, menabrak orang lagi. Dan yang paling aneh, adalah rasanya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya? Entahlah, semakin aku berusaha untuk mengingatnya,kepalaku semakin sakit. Daripada mengingat yang tidak jelas seperti itu. Mendingan mengingat pelajaran.

Aku masuk dan mendapati teman-temanku yang sibuk mempersiapkan bahan-bahan. Entah untuk apa bahan-bahan itu. Astaga! Bukankah sekarang adalah praktek biologi? Kenapa aku lupa ya?

Aku terkejut ketika seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh dan mendapati Kurenai-sensei yang telah menepuk bahuku. Aku segera menyingkir karena dari tadi aku hanya mematung di depan pintu. Benar-benar hari yang memuakkan.

" Sekarang bawa peralatan yang kalian butuhkan untuk penelitian. Kita akan meneliti tentang materi peristiwa osmosis pada sel hewan dan tumbuhan," ucap Kurenai-sensei. Aku segera menuju ke mejaku dan mengambil selembar kertas dan bolpoint.

" Kau selalu seperti biasanya. Tak modal," ucap Kiba. Teman sebangku-ku. Aku hanya tersenyum.

" Toh kita hanya disuruh mengamati dan mencatat hasil pengamatan. Terus dibuat laporan. Ngapain susah-susah membawa buku bio segala?" jawabku enteng. Kiba nyengir dan memukul bahu kananku.

Entah kenapa bahuku terasa sangat sakit. Padahal, aku tahu kalau Kiba memberikan pukulan yang terbilang pelan. Aku hanya bisa meringis.

" Begitu saja kau kesakitan. Payah," komentar Kiba. Aku hanya tersenyum. Kami bersama-sama berjalan menuju lab biologi.

Sesampainya disana, aku segera bergabung dengan anggota kelompok tetapku. Kami duduk di kursi dengan meja yang panjang. Kalau diukur, kira-kira meja itu bisa 'memenuhi standar' untuk 7 orang. Namun tiap kelompok memiliki anggota sebanyak 5 orang.

Kami meneliti satu persatu sel hewan dan tumbuhan. Aku disini bertugas untuk mengamati dan menggambar bentuk sel yang berada dalam larutan hipotonik, hipertonik maupun isotonic. Padahal, tinggal difoto saja apa susahnya sih?

Kiba bertugas untuk menyayat specimen. Gaara bertugas untuk memasang preparat sekaligus menempatkan lensa mikroskop tepat pada objek. Tenten bertugas untuk mengambil alat-alat dan preparat yang disediakan di meja depan sekaligus mencuci alat-alat yang telah dipakai bersama Ino.

Tinggal specimen terakhir. Aku melihat lembar kerja yang dibagikan oleh Kurenai-sensei saat pertama masuk lab tadi. Kulihat kolom yang paling bawah.

Darah?

Aku bukan anak banci ataupun perempuan ataupun orang yang phobia dengan darah. Hanya saja, aku selalu merasa pusing dan haus jika melihat darah. Entah kenapa.

" Ih, darah. Jangan aku ya?"

" Yosh, biar aku saja deh…." Ucap Kiba. Dia mulai membersihkan jari telunjuk kirinya dan mulai menyayat kulit di bagian itu. Darah mulai keluar dari bagian yang tersayat. Kami-sama, aku tidak kuat lagi….

Brukkk!

Aku hanya merasa bahwa aku sedang berbaring di lantai dan teman-teman sekelasku mengelilingiku. Dan kegelapan mulai menyelimutiku.

Sai POV end

.

.

Sasuke POV

Aku masih tidak mengerti kenapa adikku sendiri tidak mengenaliku. Apa dia orang lain? Tapi kenapa aku benar-benar merasa dan melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia adalah adikku. Kurasa aku harus mengintainya hari ini.

Yang aku tahu kulitnya semakin pucat dibandingkan saat terakhir waktu kita bertemu dulu. Kurasa dia sudah lama tidak minum darah.

Aku memperhatikan dirinya yang sedang sibuk dengan berbagai macam preparat di lab bilogi. Aku hanya bisa mengawasi dari jauh. Namun ada satu hal yang membuatku berdiri dan hendak berlari menghampirinya.

Aku melihatnya pingsan!

Namun keinginanku kupendam dalam-dalam karena aku sadar bahwa itu adalah dunia manusia. Tapi aku yakin kalau itu Sai. dan kejadian yang terjadi di dpan mataku menyatakan bahwa Sai sudah lama tidak meminum darah. Aku mulai khawatir.

Aku hanya bisa mengawasi ketika Sai dibawa ke ruang kesehatan. Mereka melonggarkan pakaian Sai. aku hanya bisa mendengus geli. Sai itu sedang haus. Dia tidak sedang kepanasan seperti kalian yang pingsan saat upacara.

Aku menungguinya hingga seseorang lelaki paruh baya memasuki ruangan itu. Dia berbicara dengan perawat dan berjalan menghampiri Sai. perasaanku tidak enak. Dia mulai mengusap kepala Sai dan sepertinya dia mencari sesuatu di dahi Sai yang tertutup rambut.

Perawat yang berada disana sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Kulihat lelaki itu menekan dahi sai dan tiba-tiba Sai tersadar. Mereka berdua pergi dengan menaiki sebuah mobil. Aku terus mengikutinya hingga hari mulai senja. Aku bisa melihat gerombolan werewolf yang sepertinya mengejar mobil itu. Aku segera menyiapkan pedangku.

Werewolf itu mengepung mobil mereka. Tiba-tiba saja lelaki itu melompat melalui atap mobil yang terbuka sambil memapah Sai yang tidak sadarkan diri di pangkuannya. Aku mulai berpikir kalau dia bukan manusia biasa.

Lelaki itu menuangkan botol yang berisi cairan merah dari dalam sakunya. Dia lalu menuangkannya ke dalam mulut Sai. Aku panic. Namun belum sempat aku bangkit dan menghunus pedangku, aku melihat Sai yang membuka mata perlahan dan lelaki tua itu memberikan sebuah pedang.

Tak salah lagi! Itu adalah pedang milik Sai!

Sai berdiri dengan tatapan kosong. Dia menghunus pedangnya dan bergerak menerjang musuh tanpa ampun. Gerakannya cepat!

Setelah para werewolf terbantai habis, lelaki tua itu menjentikkan jarinya dan tubuh Sai ambruk seketika. Seperti robot mainan yang mati dan hidup hanya dengan menekan tombol on dan off. Kurasa aku mulai tahu apa yang terjadi dengan adikku bernama Sai ini.

Aku berlari meninggalkan mereka dan mulai mencari informasi. Semoga saja Sai masuk sekolah besok.

Sasuke POV end

Beberapa jam kemudian….

Sai POV

Aku terbangun dan aku merasa sedang berbaring di atas tempat tidur. Aku menoleh ke sekeliling dan ternyata ini adalah kamarku sendiri. Aku menoleh ke samping dan mendapati makanan dan minuman di sana. Aku berusaha bangkit untuk mengambilnya.

Tiba-tiba aku mendengar suara Danzo-jiisan. Jauh sih, tapi entah kenapa telingaku bisa mencapainya.

'tadi aku diserang dan untung saja Sai ada di sana.'

'Jadi? Apa anda membuatnya bertarung eh?'

'Mau bagaimana lagi? Karena itulah kita tidak bisa menyerang markas werewolf jika kejadiannya seperti ini. kurasa dia haus, tadi saja dia pingsan di sekolah.'

'Yah, kalau begitu besok kita gunakan Sai untuk menyerang markas werewolf. Bukankah semakin haus dia semakin brutal?'

'Yah, kurasa begitu.'

Aku terpaku. Aku? markas werewolf? Digunakan? Akkhhh!

Entahlah. Aku hanya ingin menenangkan diri. Semoga malam ini aku bisa tidur dengan tenang dan nyenyak. Dan semoga saja aku bisa melupakan kejadian hari ini. fiuh..!

Aku terbangun ketika jam menunjukkan pukul lima pagi. Aku segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Danzo-jiisan juga bersikap seperti biasanya. Aku mulai penasaran.

Dalam perjalanan aku mulai memikirkan segalanya. Kalau dipikir-pikir, aku sama sekali tidak ingat masa laluku. Maksudku, aku tidak ingat mengenai masa kecilku seperti teman-temanku yang lain. Aku sering terbangun dengan perban maupun luka memar yang aku tidak tahu dapat darimana. Kepalaku sering pusing. Dan aku sering merasa haus bahkan setelah aku minum tiga gelas penuh air.

Atau jangan-jangan… aku….

Ah….. sudahlah !

.

.

.

.

Pelajaran berlalu dengan cepat. Aku bersiap untuk pulang namun sebuah pengumuman mengumandangkan bahwa seluruh panitia perpisahan harus berkumpul sepulang sekolah untuk membenahi dan menata peralatan yang dibutuhkan.

Mau tidak mau aku harus berkumpul. Aku mengirim sms ke Danzo-jiisan dan segera menuju ke ruang OSIS. Kami bekerja hingga malam. Saat ini aku sedang sendirian mengunci ruang OSIS.

Krieeetttt…

Aku menoleh. Entah kenapa aku merasakan kelima indraku menajam. Aku tidak pernah seperti ini.

Sai POV end

.

.

Sasuke yang sedang mengawasi Sai terkejut ketika melihat sekelebat bayangan lewat di belakang adiknya. Dia yakin kalau itu adalah werewolf. Apa mungkin werewolf mengincarnya untuk balas dendam?

Sasuke melihat bayangan lain. Kali ini adalah bayangan seseorang. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Sai. Dan yang dia tahu sekarang Sai sedang dikepung. Sai sendiri hanya mengambil langkah mundur dengan was-was.

Tiba-tiba dia melihat seseorang yang menyekap Sai dari belakang. Sasuke berlari mengejar mereka. Hingga akhirnya mereka masuk ke dalam ruang kelas. Sasuke membukanya dan mendapati orang itu sedang mencekoki Sai dengan sesuatu berwarna merah.

" Apa yang kau lakukan padanya?! lagipula kau ini siapa?!" teriak Sasuke.

" Aku adalah Kabuto. Aku disini bertugas untuk membawa adikmu. Dia adalah vampire yang berbakat. Ne Sai, ternyata kakakmu ada disini. kenapa tidak kau kasih sapaan padanya?" kata orang bernama Kabuto seraya menaruh sebuah pedang samurai ke genggaman tangan Sai yang tidak sadarkan diri. Lalu dia mendekati telinga Said an membisikkan sesuatu.

" Bertarunglah, Sai."

.

.

.

.

To be continued

.

.

Author's note:

Meskipun ga ada yang review, mau tidak mau fanfic ini Kasumi lanjut. Yah, daripada mubadzir…..