ROYAL CRISIS
Disclaimer: NARUTO by KISHIMOTO MASASHI
ROYAL CRISIS by ARAANAMI
Rate: maybe T
WARNING: OOC,TYPO,AU,DLDR
.
.
Chapter 2: Hello
"Sst.., tenanglah Saki. Ini aku. Kau pasti merindukanku," ucap pemuda berambut raven itu sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sakura.
"Y..Y..Yang Mulia‼" Dengan reflek yang lumayan cepat, gadis merah jambu yang nampak kaget itu segera melepaskan diri dari pelukan sang pemuda. Yang Mulia Uchiha Sasuke. Dialah yang tiba-tiba muncul dan memeluknya. Seorang pangeran sekaligus putra mahkota dari Negara Hi.
"Yang Mulia, apa yang anda lakukan disini? Seharusnya anda pulang. Saya yakin para pengawal anda sedang mencari-cari anda," gadis itu langsung membungkukkan diri. Pertanda rasa hormat pada Sang Penerus Tahta.
"Apa-apaan kau ini? Reaksimu terlalu berlebihan. Dan juga, Yang Mulia itu terlalu formal bagiku, apalagi kamu masih sempat-sempatnya mengucapkan kata sesopan itu padaku. Berbicaralah seperti biasa. Panggil aku menggunakan namaku!" Sang Pangeran memegang bahu gadis di hadapannya. Dan menyuruhnya untuk berdiri.
"U..U..Uchiha-sama, anda harus kembali ke istana. Mereka pasti menunggumu."
"Tch, kau ini benar-benar tidak menyenangkan. Berbicara formal hanya membuatku bosan. Oh iya, ngomong-ngomong.."
"Ekhem." Seorang pria dewasa berdekhem menghentikan pembicaraan muda-mudi tersebut.
"Maaf Yang Mulia, tapi pengawal anda sedang menunggu anda di depan gerbang sekolah. Beberapa juda ada yang sedang mencari anda. Akan lebih baik jika kau anda tidak membuat mereka khawatir. Mari saya antarkan. Jika anda merasa kesusahan, birakan saya untuk membawa tas anda." Ucap pria berambut perak dengan gaya yang melawan gravitasi. Dialah Hatake Kakashi, kepala sekolah dari Konoha High School. Seseorang yang Sakura tahu salah satu dari anggota Anti-Uchiha. Yang sekarang ini sedang bersikap sangat baik pada seorang Uchiha.
"Tch, dasar bodoh." Sasuke hanya melewati Kakashi tanpa mendengarkan maupun mempedulikan perkataannya. Kemudian Sang Kepala Sekolah berbalik dan mengikuti jejak Sang Penerus Tahta.
Sakura hanya mematung melihat kedua pria yang meninggalkannya. Ia masih tidak sadar dengan apa yang baru saja terjadi. 'Anti-Uchiha berbicara dengan seorang Uchiha?' Hal itu masih mengganggu pikirannya. "Ah sudahlah. Tidak mungkin seorang rakyat tidak menghormati Rajanya, apalagi Penerus Tahta. Mungkin Ino berkata salah. Mungkin gosip itu tidak benar." Gadis remaja itu hanya menggeleng pelan. Kemudian ia meninggalkan tempatnya saat ini, dan segera menuju ke rumah tercintanya.
oOo
'Cih, dasar orang-orang bodoh. Mengganggu saja, padahal aku sangat merindukannya.' Aku benar-benar sangat mengutuk orang-orang ini. Berani-beraninya mereka menggangu reuni bersama pujaan hatiku.
"Yang Mulia, apakah ini adalah kisah Cinderella di dunia nyata?" Iruka, salah satu pengawalku bertanya hal gila padaku. Benar-benar gila.
"Tidak."
"Cinderella adalah sebuah dongeng dimana Cinderella diasuh oleh ibu dan kedua kakak tirinya yang jahat. Kemudian ia bertemu dengan seorang pangeran, saling mencintai, dan akhirnya mereka menikah. Meskipun sedikit, tapi kisah anda dengan si pink itu mirip dengan Cinderella. Dimana seorang Pangeran bertemu dengan gadis biasa, dan saling mencintai. Apakah anda yakin?"
"Ya."
"Baiklah. Saya mengerti."
Cih, pengawal gila ini memberiku pertanyaan yang sama gilanya dengan dirinya. Sakura tidak punya ayah. Bagaimana mungkin ia memiliki ibu dan kakak tiri? Lagipula kehidupan Sakura sangat berkecukupan dengan pekerjaan ibunya sebagai dokter. Apalagi sekarang Mebuki baa-san sedang merawat ibu di istana. Eh? Tunggu sebentar, Mebuki baa-san sedang merawat ibu di istana. Itu berarti dia sedang berada di istana sekarang. Ini kesempatanku. Jika ibunya menyukaiku, pasti ia akan menyuruh anaknya untuk menikah denganku. Ya, kesempatan bagus.
Lagipula, kisah cinta kami lebih indah dari sebuah dongeng.
oOo
"Huft, membosankan sekali. Okaa-san mengapa kau meninggakanku? Aku kesepian, sekarang apa yang harus kulakukan?" Gadis pink itu berbicara sendiri di kamarnya. Ia melirik jam digital berbentuk love pemberian ibunya. Pukul 14.42, itulah waktu yang ditunjukkan oleh jam serba pink tersebut. Sakura berfikir untuk berjalan-jalan sebentar. Ia mengambil jaket dan dompetnya. Rumahnya juga tidak lupa dikunci olehnya, ia memasukkan kunci rumah ke tas kecilnya.
Dengan kaus putih polos, jaket baseball pink, hotpants dan sneakers favoritnya, ia mulai melangkahkan kakinya menuju garasi. Ia juga menguncrit rambut indahnya bergaya ponytail. Sepertinya ibunya meninggalkan sepeda motor di garasi. Gadis cantik itu mulai mengambil helm dan kunci kontak motornya, dan mengendarai sepeda motor Mio Soulnya itu. Ia berkendara dengan kecepatan sedang dalam perjalan ke taman bermain terdekat. Ia masih baru mengenal tempat ini. Sakura takut jika ia ditilang oleh polisi karena berkendara dengan kecepatan di atas rata-rata. Meskipun mengebut adalah salah satu hobinya saat di Ame.
Konoha New Park. Itulah tempat yang Sakura kunjungi. Ia memarkirkan kendaraannya. Kemudian membayar tiket masuk, dan mulai menikmati suasana taman. Hijau dimana-mana. Burung berkicau dangan suara riang tawa anak-anak. Remaja pink tersebut melangkahkan kakinya menuju salah satu phon yang menurutnya rindang. Ia duduk di bawah pohon tersebut, sambil menikmati suasana. "Ternyata disini ada danau juga. Ah, ini bena-benar surga," kepala pinknya disenderkan pada batang pohon. Matanya mulai terpejam.
"Hyaaaaa…Hyaaaaaaaa…Otou-chan, dimana kau? Aku takut. OTOU-CHAN, hyaaaa.." Tangisan anak kecil membuat Sakura membuka matanya. Ia merasa kasihan dan menghampiri anak itu.
"Ada apa adik kecil, mengapa kau menangis?"
"Otou-chan tidak ada, aku hilang, hyaaaaa…."
"Sst, jangan menangis lagi. Nee-chan akan membantumu. Nah, sekarang siapa namamu adik manis?"
"Na..namaku Sasori. Aku takut, hyaaaa…."
"Tidak perlu takut Sasori-chan, nama nee-chan adalah Sakura. Nee-chan akan membantumu. Ayo, ikut aku."
Sakura menggandeng Sasori dan membawanya ke pusat informasi. Sasori terus-menerus menangis sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya Sakura memelikannya sebuah balon dan permen. Tangisan Sasori mulai mereda, ia Nampak senang dengan pemberian Sakura.
"Nah, Sasori, kita sudah sampai. Kau harus menjawab semua pertanyaan petugas disana. Mereka semua orang baik, kau tidak perlu takut." Sakura membawa anak berambut merah tersebut masuk ke ruang informasi setelah memberi tahu pada petugas tentang hilangnya Sasori. "Kenapa nee-chan tidak ikut masuk?" Tanya Sasori dengan suara polosnya. "Nee-chan harus kembali. Kau tidak perlu takut Sasori-chan, ayahmu akan segera menemuimu." Balas Sakura sambil tersenyum dan mengelus kepala merah Sasori. "Baiklah, kalau begitu arigatou nee-chan. Jaa-ne," bocah itu memasuki ruangan sambil melambaikan tangan pada Sakura.
Sekarang, si pinky berada di bawah pohon tadi. Lagi. Tidak ada lagi tempat yang sejuk dan strategis selain pohon ini. Di depan, ada danau. Di sampan kiri, ada pemandangan pegunungan Oto. Di samping kanan, hanya ada pohon-pohon besar. Dan di belakang, hanya ada orang-orang yang sedang piknik. Ia hanya mengamati danau di hadapannya. "Persis seperti dulu." Kemudian ia mulai memejamkan matanya.
Drrrt. Handphonenya bergetar di dalam dompet. Sakura mengambilnya dan membaca sms yang dikirim oleh ibunya. Mengambil beberapa pakaian dan peralatan pengobatan dan membawanya ke istana sekarang juga. Itulah perintah dari ibunya. 'Apa kaa-san ketumpahan air?' Pikiran Sakura mulai gila, ia takut ibunya terpeleset dan tertumpah air, atau terkena muntahan Yang Mulia Ratu. Segera ditepisnya pemikiran gila itu. Ia langsung melaksanakan perintah ibunya.
oOo
'Lalu, sekarang apa? Bagaimana aku bisa bertemu kaa-san? Apa yang harus kulakukan?' Kini remaja bak bunga sakura itu sudah berada di depan gerbang istana. Ia dilarang masuk ke dalam oleh penjaga. Kebingungan. Itulah bagaimana yang ia rasakan. Tasnya sudah penuh denga pakaian dan peralatan pengobatan ibunya. Ia masih tidak diperbolehkan masuk. Ibunya juga tidak mengangkat telepon maupun membalas sms darinya. Ia memang bisa menitipkannya pada penjaga, tapi perasaan ingin bertemu dengan ibu menghentikannya. Entah kenapa kesialan selalu menimpanya jika menyangkut tentang istana.
Lamborghini Veneno Roadster tiba-tiba melintas dan berhenti di depan gerbang istana. Sakura hanya bisa menganga. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan melihat dengan mata kepalanya sendiri mobil termahal di dunia. Ditambah dengan siluet pemuda tampan dan keren di dalamnya. Semakin membuatnya menganga dan mematung. Para penjaga segera membungkuk memberi hormat saat mobil itu muncul. Salah satu kaca mobil terbuka. Menampakkan Uchiha Sasuke, Sang Pewaris Tahta di dalamnya. Memakai kemeja dengan kancing atas terbuka dan kacamata hitam. Semakin menyempurnakan penampilannya meskipun rambutnya mencuat kebelakan dan sedikit acak-acakan. Kesan sexy semakin terlihat.
"Sakura, sadarlah. Kau kenapa? Apa yang kau lakukan disini?" Perkataan pemuda tersebut membuat Sakura tersadar dari lamunannya. Ia merasa sangat kikuk. Sekarang, apa yang harus ia lakukan?
"Eh? Maaf Yang Mulia, aku disini untuk memberikan sesuatu pada ibuku."
"Hn, kalau begitu masuklah ke mobilku. Para penjaga bodoh itu tidak akan membiarkanmu masuk." Sasuke mengerti dengan perasaan Sakura yang mungkin takut dan ragu-ragu. Melihat wajah kikuknya yang lucu dengan pipi chubbynya. Menambah kesan menggemaskan dan imut pada gadis pujaan hatinya itu. "Tidak perlu takut. Tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan menjagamu."
Dengan langkah perlahan dan tangan yang gemetar, gadis tercinta Sang Pangeran membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya, kemudian menutupnya kembali secara perlahan. Beruntung sekali para penjaga hanya diam tanpa memprotes perbuatan Sasuke. Sakura hanya menghembuskan nafas lega. Ia masih terdiam dengan wajah kikuknya. Tidak ada yang dilakukannya selain melihat keluar dari jendela. Mengagumi keindahan istanya , dan istanya ini terlalu luas, lebih luas dari sekolahnya. Suasana hening semakin membuatnya kikuk dan sangat gugup.
"Tenanglah. Kenapa kau gemetaran saat bersamaku? Santai saja. Tidak akan terjadi apa-apa padamu."
Gadis serba pink itu kaget dan tersadar. "Eh, i..iya Yang Mulia."
Tak terasa kini mereka sudah sampai di depan pintu utama istana. Sepasang insane di dalam mobil keluar dari tempatnya. Sasuke menyuruh salah satu pelayan pria untuk membawa mobil itu ke galeri mobilnya. Sakura kaget mendengarnya. 'Galeri mobil? Itu berarti mobilnya banyak, dan aku yakin semuanya mahal, langka dan sangat canggih. Sehebat itukah para penguasa?' "Hei, kenapa kau melamun terus? Sadarlah. Ayo ikut aku," Pangeran menggandeng tangan kanan gadis yang melamun di sebelahnya. Membuat lamunannya terhenti saat itu juga. Sasuke mengajak Sakura ke kamar ibunya, Permaisuri atau Ratu Uchiha Mikoto. Wanita paling terhormat seantero negeri.
Disinilah mereka, di kamar Ratu. Sang Ratu sedang terbaring di ranjang mewahnya. Keadaannya terlihat semakin membaik. Meskipun tidak tahu penyakit Ratu, Sakura yakin penyakitnya tidak parah. Wajah cantiknya tersenyum pada gadis surai pink itu. "Jadi ini Sakura? Mebuki, putrimu benar-benar sangat cantik." Blush, rona kemerahan muncul di pipi chubby gadis yang dipuji Sang Ratu. "A..arigatou. Saya merasa sangat terhormat Yang Mulia, tetapi kecantikan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan kecantikan anda." "Ah, arigatou, Sakura-chan." Sakura kembali memerah menahan malu saat berinteraksi dengan Permaisuri. Diam-diam ia mencubit pahanya, agar ia segera tersadar dari mimpinya yang kelewatan indah. "Sakura, dimana pakaian dan perlengkapan kaa-san?" Ucapan ibunya menyadarkannya seketika itu juga. Segera diberikan semua keperluan ibunya.
Merasa urusannya sudah selesai, Sakura pamit pulang. Ia membungkukkan tubuhnya, kemudian pergi dari ruangan itu juga. Saat berjalan di dalam dan luar istana menuju gerbang, ia hanya menundukkan kepala merah jambunya. Semua pelayan dan para pengawal memperhatikannya, membuatnya sangat malu. Meskipun sesekali ia melirik sekitar. Mungkin ia bisa bertemu Naruto. Setahunya, pemuda blonde itu menjadi pemimpin pasukan istana sekaligus pengawal pribadi Pangeran. Tidak sesuai harapannya, pemuda tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya. Padahal Sakura ingin meminta Naruto mengantarnya pulang karena ia tidak membawa motornya. Tentu saja hal itu dilakukannya agar tidak tersesat saat menuju istana. Bus adalah kendaraan yang ia tumpangi menuju kemari, meskipun ia masih harus berjalan dan bertanya dan masih saja tersesat untuk mencapai tujuannya. Sekarang Naruto tidak ada, itu berarti ia haru naik bus lagi, sementara hari mulai gelap. Kemungkinan besar tidak aka nada bus yang lewat. Parahnya lagi, rintik-rintik hujan mulai turun. Sepertinya ia hanya bisa berharap seseorang akan menyelamatkannya.
"Sasuke, kau tidak akan sekejam itu sampai membiarkan seorang gadi spulang sendirian disaat hari mulai gelap kan?" Pangeran hanya menyeringai mendengar ucapan ibunya. Kemudian ia langsung pergi.
oOo
'Sial,' Sakura terus merutuki nasibnya. Sekarang ia berada di toko kecil dekat istana. Bahkan sebelum sampai di halte, hujan turun begitu derasnya. Jaketnya menjadi agak basah, membuatnya menjadi tidak nyaman untuk dipakai. Parahnya lagi, semua pria di tempat itu menatapnya. Sekali lagi si pinky itu merutuki kebodohannya. 'Mengapa aku memakai hotpants? Seharusnya aku berpakaian lebih sopan jika harus ke istana. Dasar bodoh bodoh bodoh.' Jujur saja, ia takut. Sangat takut. Semoga seseorang akan menyelamatkannya sekarang. Tatapan dari pria-pria di belakangnya membuatnya sangat risih.
7 menit berlalu. Sakura masih tetap di tempatnya. Dan masih tetap dipandangi oleh pria-pria di sekitanya yang sepertinya semakin banyak. Air mata terus ditahannya, hujan deras sangat ingin diterobosnya. Ia harus pulang sekarang. Sekarang juga. Tapi bagaimana? Hujan semakin deras, hingga tidak ada satu kendaraanpun yang lewat. Ketakutan semakin menyelimutinya.
"Hei nona cantik, kemarilah. Jangan takut."
Suara slah satu pria di sekitarnya membuat ketakutannya semakin bertambah. Bahkan sepertinya ada beberapa yang mulai mendekati Sakura, bahkan memegang pundak atau kepalanya. Saat ini, sepertinya ia ingin mati saja. Sakura memejamkan matanya, tidak ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi tubuhnya bergetar karena dingin dan ketakutannya. Air mata mulai menetes dari matanya.
Duagh. Suara pukulan dan perkelahian mulai terdengar jelas di telinga Sakura. Ia masih takut untuk membuka matanya. Tiba-tiba tubuhnya ditarik, membuatnya membuka mata. Terlihat seorang pemuda memakai topi dan masker juga pakaian serba hitam dihadapannya. 'Dia, Sasuke-kun?' Dalam sekejap, kini sejoli itu sudah berada di mobil. Penyelamat Sakura membuka topi dan maskernya. Benar, Uchiha Sasuke adalah pangeran berkuda putih yang menyelamatkannya.
"Sakura, kau baik-baik saja?" Gadis itu hanya mengangguk pelan sambil meneteskan air mata beningnya saat Sasuke memegang kedua tangannya dan bertanya keadaannya. Kemudian Sasuke menyuruhnya melepaskan jaketnya. Tanpa basi-basi, Sakura melakukannya. Ia merasa tidak nyaman memakainya, dan Pangeran memberikan jaketnya pada Sakura. Ia tahu gadis pemilik hatinya pasti sangat kedinginan. Kemudian Sasuke menjalankan mobilnya menuju rumah Sakura. Mustahil ia tidak tahu alamatnya. Ia adalah Pewaris Tahta dan ia bisa melakukan segalanya.
oOo
"Sakura, kita sudah sampai. Berhentilah melamun." Uacapan Sasuke masih tidak dapat menghentikan lamunannya. Takut. Hal itu masih terus ia rasakan. Sasuke mengerti, gadis manapun pasti akan takut jika mengalami hal serupa. Ia masih bersyukur Sakura baik-baik saja. Setidaknya ia tidak terlalu terlambat. Sakura masih bisa diselamatkannya. Kemudian Sasuke mengantar gadis itu menuju depan pintu rumahnya.
"Sa..Sasuke-kun, jangan pergi. Jangan meninggalkanku lagi. Aku takut. Aku sangat takut," Sakura menggenggam tengan Sasuke, mencegahnya pergi. Pemuda itu langsung menarik Sakura dalam pelukannya. Sakura langsung menangis, menumpahkan segala ketakutan dan kesedihannya di dada bidang Sasuke. "Maaf," hanya itulah yang mampu Sasuke ucapkan. Ia mengelus pelan kepala Sakura, dan gadis itu memeluknya semakin erat. "Kenapa kau selalu terlambat? Kenapa kau selalu meninggalkanku?" Sasuke merasa hatinya bagai diiris ribuan pisau saat mendengarnya. Memang, ia selalu terlambat. Dan menghilang saat Sakura membutuhkannya. Kali ini, ia harus menemaninya. Sebentar saja. Ya, sebentar.
Kini Sakura terlihat bersih dan segar setelah mandi. Ia memasak sesuatu untuk makan malam. Tidak bersama ibunya, tetapi bersama Sasuke, Sang Pangeran. Untung saja di kulkas masih ada beberapa tomat. Nasi goreng ekstra tomat akan ia masak mala mini. Mengingat Sasuke yang harus segera pulang ke istana, ia harus memasak sesuatu yang mudah dan cepat. Sasuke pasti akan menyukainya, karena Sakura selalu membuatkannya dulu.
"Maaf lama Sas.. eh maksudku Yang Mulia." Sakura datang sambil membawa 2 piring nasi goring dan minuman buatannya. "Apa-apaan panggilan bodoh itu? Baru saja kau memanggilku Sasuke-kun," balas Sasuke dengan wajah jutek. "Ah, gomen. Ini dia nasi goreng kesukaanmu." "Hn, arigatou," akhirnya Sasuke dapat merasakan lagi makanan favoritnya setelah bertahun-tahun. Meskipun segala makanan dan minuman buatan Sakura adalah kesukaannya. Ibunya tidak pernah memasak, ia selalu memakan masakan pelayan. Memang rasanya sangat enak. Penampilannya juga menarik. Tapi tetap saja, masakan Sakura adalah masakan yang terenak di dunia. Ia langsung melahap dengan sedikit rakus nasi gorengnya. Sakura sengaja memberikan porsi lebih khusus untuk Sasuke. Sekarang pemuda di sampingnya tidak terlihat seperti seorang Pewaris Tahta. Sakura hanya tersenyum dan memakan makanannya. Malam ini, putrid seorang dokter dan Putra Mahkota Pewaris Tahta sedang makan malam bersama. Di rumah sederhana. Ditemani bintang-bintang.
"Hati-hati di jalan," ucap Sakura sambil melambaikan tangan pada Sasuke. Sementara Sasuke hanya diam sambil memegang gagang pintu mobilnya. Ia masih ingin disini. Ia tidak ingin kembali ke istana sialan itu. Ia masih ingin bersama cintanya.
Cup. Kini Sakura mematung. Dirasakannya Sasuke memeluk tubuhnya. Baru Sasuke mengecup singkat keningnya. Sakura hanya bisa membalas pelukan Sasuke erat. Ia sangat merindukannya. Merindukan Sasuke yang manja hanya padanya. "Jaga dirimu baik-baik." Kini suara baritone-nya membuat Sakura semakin tidak ingin berpisah dengannya. Tetapi Sasuke harus kembali. Atau para pengawal dan penjaga di istana akan mencarinya, bahkan ia bisa dihukum jika tidak pulang sampai larut malam.
Sakura hanya diam melihat mobil merah itu pergi. Menghilang dari hadapannya. Setidaknya, ini merupakan salah satu malam terindah yang pernah ia rasakan.
"Konbawa, Sasu-kun."
.
.
.
tbc
Yak, begitulah chapter 2. Maaf, aku ganti sudut pandangnya jadi orang ketiga. Soalnya kalo orang pertama pasti susah, ini ff penuh konflik. Jadi klo cuman sudut pandang sakura aja kan ngebingungin.
Oke,sebagai permintaan maaf, aku bikin chapter ini FULL
Terima kasih bagi yang sudah fave,follow,review, dan membaca fict aneh saya. Sekarang aku bales review bagi yg gk log in, bagi yg log in silahkan cek pm ;)
akuh: salam kenal juga :), makasih atas semangatnya :D
Latifa: iya, ini sudah lanjut :)
Uchino Sasurake: waa, kamu sampe review 2 kali, makasi ya :) naruto emang sudah lama kenal sama sakura, tapi kapan? Nah itu akan terjawab di chapter-chapter berikutnya :)
Kasuga Fugu Y: iya ini udah lanjut :)
sarah-chan: ini udah update :) makasih atas pujiannya :)
Sekali lagi terima kasih untuk semuanya, dan maaf kalau chapter ini mengecewakan atau jelek. Untuk chapter 3 gk bisa janji update kilat, soalnya mau kenaikan kelas. Maaaaffffff :(
Mind to RnR?
