Warning dichap pertama.
A long night
Sejak beberapa hari tersebut Halilintar merasakan sesuatu yang tidak kena dengan Gempa , yang juga sering berkelakuan pelik dari biasa .Dia tentu menyembunyikan sesuatu sehingga Halilintar sendiri tampak hairan dengan perubahan Gempa yang selalu bimbang dan gelisah.
"Gem? Kau oke?" Tanya pemuda itu lembut sambil memandang insan dihadapannya dengan seksama . Semestinya Gempa kalau bermasalah akan sentiasa menutupi diri . Katanya , tidak mahu mencemaskan orang , namun sebaliknya semakin dibuat risau olehnya . Halilintar memang tidak suka kalau Gempa menutup-nutup masalahnya samaada besar ataupun kecil , apalagi sekarang mereka sudah bersuami-isteri. Halilintar tidak berbunyi dan terus memerhatikan gelagat sang pujaan hati agar dapat sedikit petunjuk. Mengenai Gempa ,Halilintar memang berlembut hati dengannya ,sehinggakan dia bersabar tidak seperti yang lain sangka .
"Gem, kalau ada sesuatu ceritakanlah... jangan kau sembunyikan begini..." Ucap Halilintar sambil menangkup wajah Gempa yang sedari tadi menunduk. Gempa sendiri masih tidak ingin menatap mata Halilintar didepannya, sebab menatap matanya hanya akan mengulang kembali mimpinya beberapa hari yang lalu. Dan ia tak ingin itu terjadi. "Aku tidak apa-apa Hali... kau tidak perlu khawatir," jawabnya pelan.
Namun Halilintar tidak mudah percaya. Dari gelagatnya sudah terlihat kalau sang istri tengah menyembunyikan sesuatu.
Halilintar menghela nafas saat percubaan untuk kali keduanya gagal . Gempa dengan cepat meminta diri dan berlalu untuk menguruskan hal lain, meninggalkan Halilintar untuk menjamu makan petangnya bersama buah hatinya , Petir.
HaliGem
Gempa sekarang pantang mendengar telefon rumah tatkala Halilintar masuk kerja, setelah kejadian ngeri dimimpinya , ia sering mendapati dirinya terkena ketakutan yang teramat apalagi saat menerima panggilan dari pejabat tempat Hali bekerja . Jantung yang berdetak tidak keruan, fikiran yang bercelaru serta ketakutan . Dan Halilintar sering mendapati atmosfera yang cukup mencurigakan.
Halilintar akan menghubungi Gempa tiap kali ada masa terluang disela waktu rehat di kem. Dia lebih kerap memeriksa serta menghantar pesanan singkat pada Gempa bagi memastikan keadaannya dirumah . Sementara itu sama juga dengan Gempa yang selalu mengharapkan balasannya.
Terkadang juga , Halilintar mendapati Gempa tengah melamun saat melakukan sesuatu.
'Apa yang sebenarnya terjadi padanya?'
"Gem, kali ini kumohon ceritakan padaku apa masalahmu. Kita sudah menikah, kau bisa menceritakan semua beban hatimu padaku." Kata Halilintar saat mereka ada di kamar. Ini yang ketiga kalinya ia mencoba bertanya dan ia harap kali ini akan berhasil. Gempa terlihat sedikit tersentak namun ia buru-buru menutupinya. Terlihat sekali kalau ia tengah memikirkan sesuatu. "A-aku tak punya beban apapun Hali... aku hanya sedikit lelah saja..." jawabnya berbohong.
Mendengar hal itu membuat sang kepala keluarga merasa geram. Sampai kapan Gempa mau begini?
"Gem, jangan berbohong. Aku tau sesuatu tengah mengganggu hatimu. Kau bahkan sering melamun akhir-akhir ini dan kulihat tadi pagi kau hampir membuat masakanmu gosong karena melamun. Jadi, aku harap kau mau bercerita padaku sekarang. Aku tak bisa tenang kalau kau memendamnya sendiri..." ujar Halilintar panjang.
Gempa tetap enggan untuk bercerita. Kepalanya menggeleng lemah .
"Tiada yang harus ku ceritakan Hali"
Gempa beralih untuk menatap suaminya, seolah tatapan seperti merayu agar Halilintar berhenti menyoal. Merasa tak sampai hati , walaupun dia juga merasa gerigitan ,Halilintar mengalah pada akhirnya dengan rengusan lalu baring ke tempat tidurnya segera . Begitu juga Gempa yang lekas membenamkan diri ke dekapan Halilintar sebelum perselisihan betul-betul berlaku . Dimana , Halilintar sendiri agak terperanjat tapi hanya dengusan serta gerakkan kecil seperti elusan dikepala , diterima oleh Gempa .
"Malam..." Sang suami mengecup keningnya setelah menutup lampu tidur, membiarkan si isteri untuk menetap dekat disisinya.
HaliGem
Halilintar tidak langsung tertidur kala itu. Walau sang istri enggan bercerita, dalam hati ia akan tetap mencari tahu apa yang membuat Gempa nampak resah akhir-akhir ini. Cukup lama ia merenung, berfiikir tentang berbagai kemungkinan yang dapat menjadi penyebab resahnya Gempa sampai akhirnya tertidur karena mengantuk.
"Hiks-"
Halilintar terbangun ketika mendengar suara isakan yang membisik Ialu lekas menyalakan lampu tidur agar dapat melihat dengan lebih jelas. Setelah lampu menyala, ia dapat melihat dengan jelas sang istri yang tengah menangis dengan mata yang masih terpejam sambil mendekap dirinya. Halilintar spontan merasa panik.
"Gem? Bangun... kenapa menangis? Kau sakit? Atau ada sesuatu lainnya yang mengganggumu?" Tanyanya sambil mengoncangkan bahu Gempa.
"H-Hali hiks- Ja-jangan tinggalkan aku... hiks-"
'Tunggu... dia mengigau?'
Halilintar terus memanggil seraya menepuk-nepuk pipi Gempa. Lalu mengusapnya sebaik mata Gempa terkelip-kelip.
"Gempa? " Halilintar rasa tak serba tentu . Telapaknya masih melekat pada wajah Gempa sambil mengesat air mata yang terurai lebat. Automatik , tangan Gempa pula menggemgam tangannya "Hali..."
Mendengar suara lembut yang pecah oleh isak , Halilintar semakin sendu melihatnya kala hairannya Gempa menangis setelah cuba tersenyum. Dia sempat melihat Gempa yang cuba mengecam wajahnya yang sangat dekat.
"Hei-hei kamu kenapa.." Halilintar mengetatkan lagi pegangannya . Ingin memberi keselesaan lebih agar Gempa tenang . Tangannya juga tak pandai diam , melilitkannya kebelakang gempa kemudian membelai rambut si isteri. Yang lebih membuatnya susah hati , Gempa meraung namanya berkali-kali bagaikan orang kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
" Ya...Gempa...aku disini...aku disini...dekat dengan mu.."
Jawabnya , walau ia tidak pasti itu akan berhasil tapi setidaknya dia cuba.
Suara serak dari Gempa membuat Halilintar menjadi lebih resah lagi.
Apa ini yang mengganggunya selama beberapa hari terakhir?
Bisik Halilintar dalam hati.
"Hei Gem, tenanglah, tenang... aku ada di sini, kau bisa merasakanku dan aku takkan pergi meninggalkanmu..." ujar Halilintar menenangkan. Ia dapat mendengar kalau tangis sang istri mulai mereda walau ia masih sesenggukan.
"Gempa... coba ceritakan padaku sekarang, apa yang membuatmu menangis? Aku tau kau memintaku untuk tidak bertanya tentang hal ini lagi tapi, aku tidak bisa menahannya. Apakah ini ada kaitannya dengan perubahan sikapmu beberapa hari terakhir?" Tanya Halilintar untuk kesekian kalinya. Ia tak ingin Gempa tetap memendam semuanya sendiri apalagi setelah ia menangis seperti ini.
Gempa mulai menjauhkan badannya sedikit dari Halilintar namun ia tetap memegang tangannya. Awalnya ia agak ragu untuk memberitahu sang suami tentang masalahnya ini namun... sepertinya kali ini ia harus bercerita. Gempa mengumpulkan sedikit keberanian untuk mendongak dan memandang iris crimson milik Halilintar. "S-sebenarnya... aku mengalami mim-pi buruk beberapa hari yang lalu... dan mimpi itu memperlihatkan dirimu yang h-hilang saat berperang..." jelas Gempa sambil berusaha menahan tangisnya.
Mendengar kata-kata Gempa , Halilintar agak terkesan sampaikan dia mengumpul dan memeluk si isteri erat. Dia mungkin tidak memahami secara keselurahan , akan tetapi , mendengar kehilangannya sewaktu perang? Halilintar mengelus rambut Gempa sambil mengucapkan kata-kata menenangkan . Membiarkan insan kesayangannya untuk menyamankan diri lalu mengecup dahinya setelah lama menunggu sampai dia tenang sepenuhnya . Halilintar tertawa halus sambil mengesat bekas airmata.
"Aku takkan hilang begitu saja tau..." Halilintar mengalunkan ucapan begitu ia menampalkan dahinya pada Gempa . Jari-jemarinya sibuk mengusap sampai menekup muka sang istri .
Gempa dapat merasakan wajahnya menghangat. Ia sudah berhenti menangis dan hatinya sudah sedikit tenang. Namun tetap saja rasa khawatir masih menghantui dirinya. "U-uh... Benarkah? Aku takut Hali... b-bagaimana kalau mimpiku itu benar?" Katanya dengan suara agak parau.
Halilintar terdiam sejenak sebelum tersenyum lembut, "Jangan khawatir... aku akan selalu ada untukmu... kau tidak perlu merasa takut, resah, dan gelisah begini... Aku akan berhati-hati saat bertugas dan akan pulang ke rumah dengan selamat. Sekarang kau bisa tenang, menangislah kalau kau masih ingin, jangan tahan perasaanmu ok? Dan juga... kalau kau ada masalah, ceritakan padaku. Aku akan berusaha membantumu sebisa mungkin..."
Gempa hanya menganggapi kata-kata Halilintar dengan sesenggukkan , jauh dalam hati dia sendiri tidak pasti samaada dia boleh berbuat sedemikian. Lebih-lebih lagi ketika fikirannya berserabut. Dia sekarang keletihan. Dia tidak mahu memikirkan apapun selain untuk melekat pada suaminya untuk sementara waktu. Manakala Halilintar , entah merasa resah ataupun senang, kerana Gempa akhirnya menunjukkan sisi insecure. Dimana Gempa terlihat rapuh , sekali-sekala dia menginginkan begitu agar dirinya berguna untuk Gempa bergantung padanya. Halilintar menghembus nafas berat begitu dia menghirup aroma Gempa yang wangi. Sangat menyenangkan dan nyaman serta tubuhnya yang terasa letih terus hilang sebaik menerima dekapan erat dari insan tersebut.
HaliGem
Mengetahui kebiasaan Gempa dimalam hari dan juga bagi meneruskan perbicaraan mereka , Halilintar sepertinya agak semangat untuk melayan dan terus membuka sebuah pertanyaan.
"Mau minum yang hangat ?"
Kebiasaan Gempa kalau terbangun di tengah malam , semestinya Halilintar sudah hafal . kadangkala ada harinya dia mendapati Gempa membuati susu hangat jika dia juga ikut terbangun atau dibanguni untuk menemankan . Gempa mengangguk setelah mendongakkan kepalanya kemudian berganjak dari katil bersama Halilintar untuk pergi ke dapur .
"Biar kubuat minumnya. Hali mau apa?" Tanya Gempa sesaat setelah mereka sampai di dapur. Halilintar tersenyun simpul sebelum mendekati istrinya, "Biar aku bantu. Aku ingin teh pekat saja." Sang istri mengangguk lalu berlalu untuk mengambil bahan dan barang yag mereka perlukan.
Tidak lama, hanya sekitar 5 menit dua minuman hangat sudah berada di atas meja. Sementara Halilintar dan Gempa duduk berhadapan di meja makan. Gempa meminum sedikit susu digelasnya demi sedikit menenangkan diri. Halilintar didepannya memperhatikan gerak-gerik sang istri yang masih nampak sesenggukan, "Hei Gem, coba senyum sedikit... ayo perlihatkan padaku senyum manismu itu..." pintanya setengah menggoda.
Gempa menurunkan gelasnya lalu menatap suaminya malu-malu sebelum akhirnya tersenyum manis sambil mengalihkan pandangannya dengan wajah merona. Sang kepala keluarga terkekek pelan melihat kelakuan istrinya yang malu-malu seperti ini, 'Imut...' pikirnya.
"Kau tahu Gem, sebenarnya dengan kau bermimpi tentang hal ini ada bagusnya juga."
Gempa yang masih merona kembali menatap Halilintar dengan bingung, "Bagus... apanya?"
"Tentu saja, sebab aku jadi tahu kalau kau memang benar-benar mencintaiku. Kau bahkan sampai menangis akibat mimpi itu." Jawab Halilintar dengan senyuman diwajah.
Mendengar ucapan Halilintar Gempa sekilas memerah dan terus menundukkan pandangannya, dia memang tidak mahu mengakui bahawa dia sangat malu dengan penjelasan Halilintar. Walaubagaimanapun , wajar dengan perilaku Gempa yang tidak mengakui sayangnya dengan kata-kata melainkan dia lebih suka dengan tindakan . Senyuman Halilintar melebar tika melihat jari-jari milik lawan bicara menekuk dengan muka yang habis tertutup oleh rambut , membiarkan muka meronanya terhalang dari dilihat. Well cukup setakat menerima perlakuan sayang Gempa , bagi Halilintar ia sudah memadai...akan tetapi terkadang dia juga perlu tahu sebesar manapun kasih sayang si isteri dengan cara yang agak melampau .
Selain itu , Halilintar juga jarang mengungkap rasa kasihnya dengan kata , sangat sering kali membuat orang-orang lain tertanya jika dia pernah mengucapkan kalimat yang boleh meyakinkan pasangannya .Tapi Gempa tidak mempermasaalahkan soal itu , cukup mendapati pemerdulian serta perhatian Halilintar itu pun sudah dikira 'bonus point'
Cup~
Sosok yang sedari tadi mengelamun melayan fikirannya akhirnya tersedar . Kini dia lebih merasa serba tak keruan menahan malu selepas mendapati si suami tak melengahkan masa bertindak.
"Ku sangat menyanyangi mu "
Wajahnya terbenam beserta lingkaran erat yang menghangatkan .Entah ke berapa kali dia ingin menjerit malu kepada Halilintar. Gempa terbenam dalam pelukkan Halilintar dengan belaian yang tak terhingga.
Done!
Review reply
My Style :
Haha, yah begitulah xD
Mm soal GemHali... entahlah... masalahnya aku (Rara) kurang 'wah' kalau dibalik. Tapi kalau Ka Sya aku gatau juga... Jadi untuk sekarang maaf ya belum bisa dipenuhin permintaannya x'))
Asha:
Wah syukur deh kalau terhibur xD
Maaf ya, kita gabisa update kilat sebab kita ada kesibukan tersendiri dan juga terkadang kita harus berhadapan dengan wb :""
Soal itu... ehm terserah kamu aja mau bayanginnya gimana. Adopsi bisa, uhukm-preguhuk juga bisa /w\ /heh
Akamatsu Hanna:
Wah makasih xD Hee syukur deh kalau masih bisa dimengerti x')) Haha syukurlah kalau bisa menghibur xD
Shilla Kila:
Maaf ya kita gabisa update kilat karena beberapa alasan x")
Kin's582:
Iya ini ada chapter 2 nya kok x)
EruCute03:
Iya ini dilanjut kok x)
Maaf ya tapi gabisa update kilat karena alasan tertentu x")
Dalam satu chapter ni kami berdua collab seperti yang kamu semua sedar bahasanya bercampur. Maaf jika ia nampak pelik sampaikan saya sendiri nak jerit(OTP terlalu omey oke)
See you in next chapter~!
-Salam Aidilfitri dari ManisPedas29 dan Rarachan24 ,puasa hampir tamat QwQ
