Tidak ada yang tahu mereka pergi kemana. Tapi Naruto mengetahui tujuanya, tujuanya adalah tempat yang kemarin tidak sengaja ditemukanya saat tidak bersama dengan Hinata. Tempatnya sejuk, penuh bunga matahari dan lavender. Sangat cocok untuk mereka masing-masing yang menyukai bunga tersebut.

Sedari tadi Hinata terus saja berteriak dengan gembira dalam gendongan Naruto. dia tidak pernah mengeluarkan ekspresi ini sebelumnya, tapi kenapa saat ini dia dapat berteriak dengan seperti ini. seakan dia tertular sifat suaminya itu.

Tangan yang sejak tadi memeluk leher Naruto kini bertambah erat setiap loncatan. Dia masih penasaran akan dibawa kemana dia oleh Naruto-kun-nya. Hembusan angin kencang menerpa wajah dan matanya sehingga membuatnya berair. Rambutnya berkibar dengan liar diterpa angin.

Yang dilakukan Naruto saat ini hanya fokus dan tersenyum dengan gembira menyaksikan dan mendengar Istri sahnya berteriak kegirangan. Hatinya ikut senang dibuatnya.

Tempat yang dituju itu terlihat oleh mata Naruto, tidak dengan Hinata. Dia sekarang lebih memilih membenamkan kepalanya di dada atas sebelah leher Naruto. Diam.

"Hey.. Apa kamu tertidur..?" Naruto bertanya setelah dia mendarat di padang bunga itu.

"Apa sudah sampai?" tanya Hinata polos dengan menengok ke Naruto.

Imutnya, pikir Naruto. Wajah polos Hinata itu membuat Naruto ingin sekali mencubit ujung hibungnya dan mengecup bibir sensual itu. "Hmm.." jawabnya seraya mengangguk.

Perlahan Hinata menengok ke segala arah dan hanya mendapati bunga-bunga yang bermekaran dengan sangat indahnya. "Sugoi.." ucapnya kagum dengan mata berbinar-binar.

.

.

.

AFTER THE LAST

Disclaimers : Masashi Kishimoto.

Rated : T

Genre : Romance

Pairing : Naruto X Hinata

Warning : OOC, typo, AU, dan lain-lain.

.

.

Perlahan Hinata diturunkan oleh Naruto. Kakinya yang telanjang akibat sepatunya sudah terjatuh saat perjalanan tadi begitu geli menyentuh rumput. Dia gerakan jari-jari kakinya lincah. Mereka tersenyum, bercanda dan saling kejar-kejaran dengan tawa dan senyum yang tidak luput dari bibir mereka hingga mereka lelah dan berbaring bersebelahan.

Mereka terus saja dalam posisi berbaring dengan berpegangan tangan sampai matahari condong ke arah barat. Mengakhiri untuk menerangkan bumi di bagian ini.

Tapi Naruto menyadari ini adalah waktu yang sangat indah dan sayang untuk di lewatkan.

Naruto perlahan duduk dan mengajak pula Hinata untuk duduk sepertinya. Wajah Hinata tampak bertanya-tanya akan tindakan Naruto saat ini. Tapi Hinata akhirnya mengetahui Naruto menyuruhnya duduk untuk apa.

Matahari itu sungguh indah saat terbenam diantara bukit di depan sana. "Naruto-kun. Ini sungguh indah." Ucapnya dengan mendekat dan bersandar pada pundak Naruto, merasakan kehangatan yang tercipta darinya.

Naruto sama sekali tidak menjawab. Dia hanya tersenyum bangga karena sudah membuat Hinata senang. Dia merangkul pinggang Hinata dan lebih mendekatkan jarak antar mereka.

Matahari sudah tenggelam menyisahkan benang-benang merah yang masih terlihat samar. Perlahan Hinata menggerakan tanganya untuk menangkup pipi Naruto. Tanpa ragu dia mendaratkan ciuman singkat di pipi Naruto. "Aku mencintaimu, Naruto-kun." Ucapnya lirih di samping telinga Naruto.

Untuk jeda sejenak, Naruto tetap tidak bergerak. Otaknya masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Dan detik berikutnya, tubuhnya seakan bergerak tanpa persetujuanya. Tanganya menangkup pinggang Hinata yang mulai menjauh untuk memperdekat jarak mereka kembali.

Sedangkan dengan Hinata, dia memekik kaget karena tiba-tiba saja Naruto merangkulnya. Dia masih terlihat malu sekali akan tindakanya barusan.

"Ap.."

Ucapan itu tidak bisa diteruskan Hinata karena bibir Naruto sudah menghentikanya, membawanya dalam ciuman panas menggelora.

Sempat terpikir untuk mendorong Naruto dan melepaskan ciuman mereka. Tapi pikiran itu tidak terlaksana kereka kehangatan dan rasa bibir Naruto telah menembus pertahanan fisik dan batinnya. Sehingga alih-alih mendorong, Hinata malah mengalungkan tanganya pada leher belakang Naruto guna memperdalam ciuman mereka.

Ciuman itu sungguh sangat lama dan panas tapi akhirnya berakhir juga, benang safila tercipta saat kedua bibir itu terpisah. Wajah Hinata sungguh sangat merah saat ini.

Mereka sama-sama diam karena masih berusaha menormalkan nafas mereka.

"Kita pulang..?" tanya naruto saat sudah dapat mengendalikan nafasnya dan langit sudah benar-benar gelap. Dia khawatir keluarga Hinata mencari dan mencemaskanya. Dia juga ingin makan malam bersama keluarga barunya. Merasakan kebersamaan bersama keluarga seperti impianya sejak saat dilahirkan.

Sebenarnya Hinata enggan untuk pulang saat ini. Tempat ini indah walaupun hanya diterangi cahaya remang-remang dari bulan yang sudah hadir. Dia tidak menjawab pertanyaan Naruto, dia hanya merangkul leher Naruto, meminta untuk digendong seperti saat mereka pergi ke tempat ini.

Naruto menengok. "Hmm.." katanya bertanya-tanya.

"Gendong ..." Ucap Hinata manja. Dia mulai suka menggoda suaminya sekarang. Mungkin perbuatanya itu menyenangkan. Sifat malunya pun sudah hilang, mungkin itu karena terbiasa. Naruto tidak menjawab dan terus memandang hinata dengan ekspresi kaku. Hinata juga ragu kakinya dapat digerakan atau tidak, itu masih terasa lemas karena ciuman tadi.

"Haaaaaaahhh…" dia mendesah. "Baiklah."dan tanganya menggapai belakang lutut dan punggung Hinata.

Hinata hanya tersenyum bangga karena sudah dituruti. Dia juga merasakan bahwa tubuhnya sudah tidak menyentuh tanah. Naruto sudah berdiri dan siap untuk meloncat untuk pulang. "Bersiaplah Hime.." ucap Naruto tersenyum.

"Umm.."

"Nii-sama kemana saja?"

Itulah pertanyaan pertama saat keduanya sudah sampai rumah. Tidak, mereka masih sampai dan mendarat di depan rumah dan sudah bertemu dengan Hanabi yang siap dengan seribu pertanyaanya.

"Bulan madu singkat, Imoutou.." ucap naruto dengan nada menggoda. Dalam gendonganya masih ada Hinata yang memeluk dan memendamkan kepalanya, mungkin tertidur.

"Makan malam sudah siap, ayo…" ucap Hanabi lagi, mengajak. Mereka berdua berjalan dengan Naruto terlebih dahulu.

"Nii-sama, apa Nee-sama tertidur?"

"Eh…" perlahan Naruto menoleh pada seseorang yang ada dalam gendonganya. "Apa kamu tidur, Hinata..?" pertanyaan yang bodoh.

"Iya.." Jawab Hinata menggoda. "Aku tidur Naruto-kun."

Mana ada orang tidur bisa bicara, pikir naruto. "Sepertinya Nee-sama mu memang tertidur Hanabi-chan.." ucap Naruto bercanda.

Hinata menahan tawa dalam gendongan Naruto. Dia tidak pernah segembira ini dalam hidupnya. Jadikan kegembiraan ini selamanya Tuhan, doa Hinata dalam hati.

Naruto masih saja membawa Hinata dan membaringkan tubuh Hinata di atas kasur mereka. Mata Hinata yang sedari tadi terpejam tidak mengetahui kalau saat ini mereka hanya berdua saja dalam kamar. Hanabi sudah pergi setelah mengantarkan letak kamar ini.

Dia perlahan membuka mata dan memperhatikan sekitar. Kamar ini tidak jauh dari kamar miliknya, hanya lebih besar saja. Dia juga mendengar gemericik air dari kamar mandi. Rupanya Naruto-kun sedang mandi, pikir Hinata.

Hinata masih tetap seperti itu sampai suara handle pintu kamar mandi akan dibuka. Hinata dengan cepat membanting tubuhnya kembali saat itu juga dan diam-diam mencuri pandang.

Naruto keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk sebatas pinggangnya. Hinata mengetahui itu dengan sebelah matanya yang dibukanya sayu.

Naruto juga sudah mengetahui dia saat ini diawasi oleh Hinata. Tapi ia tidak ambil pusing untuk itu. Dia tetap melanjutkan untuk berganti pakaian sampai dia selesai.

Naruto perlahan melihat Hinata yang memandangnya dengan wajah memerah dan terkesan melamun. "Cepat, kamu juga harus ganti pakaian." Ucap Naruto, "Kita sudah ditunggu."

"Eh…" Hinata tersadar dari melamunnya dan segera beranjak untuk berganti pakaian. Dia segera mengambil pakaian biasa dan…

Diam…

Mukanya memerah membayangkan dia akan berganti pakaian dan dilihat oleh Naruto. Walaupun mereka sudah menjadi suami istri tapi tetap hal ini membuat Hinata malu. Dia belum terbiasa dalam hal ini.

Naruto menyadari itu, "Apa aku keluar..?" tanya Naruto pengertian.

"Maaf yah Naruto-kun." Hinata menunduk. "Aku belum terbiasa.."

"Iya." Jawab Naruto cepat. "Aku mengerti Hinata."lanjutnya. "Jadi, aku tunggu di meja makan bersama yang lain yah..?"

"Iya.." jawab Hinata lirih.

Dia menyesal menyuruh suaminya keluar kamar saat ini. Walau tidak secara langsung. Kenapa rasa malunya belum saja hilang sepenuhnya. Mereka sudah sah menjadi suami istri, wajar jika salah satunya atau keduanya melihat hal yang tidak boleh di lihat siapapun, bukan.

Hinata menyingkirkan rasa penyesalanya dengan menggeleng keras. Dia sedang ditunggu untuk makan malam bersama. Dia harus cepat, tidak ingin orang lain lama menunggunya.

Keluarga Hyuga yang terkenal makan dengan ala bangsawan itu menyulitkan Naruto. 'Terlalu rapih dan anggun.' Pikir Naruto

Mereka dilarang berbicara saat makan, mereka diperbolehkan berbicara saat selesai makan.

"Apa rencana kalian kedepan?" ucap Hiashi tiba-tiba. "Apa langsung ingin mempunyai anak..?"

Naruto yang kebetulan saat ini sedang minum menjadi tersedak oleh pertanyaan ayah mertuanya. Hinata yang duduk di samping Naruto segera mengelus-elus punggung Naruto, berharap batuknya mereda.

"Otou-sama.." ucap Hinata lirih pada ayahnya.

"Aku hanya bertanya." Jawab Hiashi. "Jadi kapan..?"

Kali ini Naruto sudah dapat mengendalikan kekagetanya dan sudah tidak batuk lagi. Dia tersenyum setelahnya pada Hiashi. "Secepatnya.." jawabnya mantab dan menengok ke Hinata. "Bukan begitu..?"

"Eh…" Hinata kaget. Segala macam pemikiran terus berputar di kepalanya, bagaimana malunya dia akan menghadapi Naruto di ranjang dan membayangkan proses pembuatan manusia baru itu.

Hinata menggelengkan kepala keras, disingkirkan pemikiran tidak waktunya dengan keras. Naruto menyadari keanehan Hinata dan segera bertanya. "Hinata? Apa kamu tidak apa-apa?"

"Eh.."

Naruto yang telah melihat muka Hinata yang memerah itu berpikir sekalian menggodanya lebih jauh. Ekspresi apayang diperlihatkan Hinata jika dia bilang.. "Mala mini juga kita akan membuat anak Hinata..!" ucapnya lirih di dekat telinga Hinata.

Wajah sampai leher Hinata sekarang benar-benar merah saat ini. tubuhnyua kaku, shok atas ucapan lirih Naruto yang dekatr dengan telinganya.

"Hahahaaa…" Naruto tiba-tiba tertawa. " Lihatlah Tou-san, Hanabi-chan. Hinata tidak bisa bergerak dengan muka yang sangat merah." Naruto tetap tertawa, dia sudah tidak tahan tidak tertawa melihat Hinata begini.

Hiashi tertawa sedikit dan berdehem untuk meredamnya, digantinya dengan tersenyum. Dan jangan tanya Hanabi yang sudah tertawa memegang perutnya. Memenag dia mengakui kakanya itu sungguh sangat lucu jika seperti itu. Mengingat yang telah menggodanya adalah Naruto, sosok yang sejak kecil dikaguminya.

Sungguh keluarga yang bahagia.

.

.

.

.

.

.

END.

A/N : Untuk ending aku memang tidak berkomentar akan kekecewaan kalian (jika kecewa). Dan bayangkan saja selanjutnya mereka melakukan proses pembuatan manusia baru. Boruto muncul dan di susul dengan Himawari.

Maaf untuk kekecewaan kalian.. sungguh…