Semalam, ia nyaris saja melakukannya. Nyaris saja—jika ia tidak menghentikan dirinya sendiri.
Walaupun itu semua akan memabukkan jika dilakukannya, itu akan menjadi dosa termanis yang pernah ada di dalam hidupnya.
Bukan sebuah dosa, melainkan suatu pelanggaran janji.
Hati kecilnya ingin merasakan itu semua. Ia menyesali usianya sekarang yang masih terlalu muda dan harus menunggu beberapa tahun lagi untuk merasakan itu semua. Rasanya menyedihkan, sakit sekaligus tidak percaya. Tidak percaya bahwa pria yang kini menjadi suaminya akan terus mencintainya seperti sekarang ini karena ia tahu bahwa pria menginginkan sesuatu yang lebih dalam suatu hubungan. Jika sang gadis tidak dapat memenuhinya, maka yang terjadi mungkin sang pria akan meninggalkannya dan ia tidak ingin mengalami kejadian semacam itu. Itu kemungkinan mengerikan yang bisa dijabarkan olehnya.
Di dalam mimpinya, mimpinya yang terliar sekalipun, ia bisa merasakan lengan kokoh pria itu menyentuhnya dan membuatnya bagai di awang-awang.
Mungkin sama seperti film dewasa yang pernah ia tonton beberapa waktu lalu secara diam-diam dan membuatnya berpikir tidak-tidak. Membayangkan sesuatu yang ingin dilakukannya oleh pria itu.
Tidak, membayangkan pria itu jauh lebih membuatnya kecanduan. Sentuhan pria itu, ucapannya terhadap dirinya, tatapan matanya yang dingin sekaligus tajam. Ia tidak bisa melupakan bagaimana pria itu memandangi tubuhnya serta getaran yang dirasakan oleh dirinya. Mereka memang pasangan suami istri tetapi karena ia masih di bawah umur, pria itu menjaganya dan menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Bermaksud untuk melindungi dirinya tetapi di sisi lain itu menyakiti hatinya yang paling dalam.
"Berr.."
.
.
.
Midsummer Night Dream
APH ©Hidekaz Himaruya
Pairing: Sweden x fem!Finland
Warning: lemony smut, age-bending, AU, maybe OOC, genderbent.
.
.
.
Tiina terbangun di pagi-pagi buta, sekitar jam tiga pagi. Ia sadar secara penuh bahwa ia tidak mengenakan sehelai benang pun dan kemarin siang ia dan Berwald nyaris melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya. Lebih tepatnya ketika ia pergi ke kamarnya, ia hanya menutupi tubuh dengan selimut.
"Sudah gelap," Tiina bergumam lemah,menatap dirinya dengan perasaan kecewa mendalam. "Tak kusangka aku sudah tidur selama ini. Rasanya seperti seribu tahun lamanya."
Harus diakui oleh Tiina. Ia sedikit kecewa karena ia tidak merasakan dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri yang normal. Di musim panas seperti ini, Tiina hanya bisa memandang teman-temannya dengan tatapan iri dimana teman-temannya memiliki kekasih yang bisa diajak untuk berduaan di suatu tempat yang dapat dilihat banyak orang tanpa adanya rasa malu di dalam diri mereka. Kalaupun ada, hanyalah rasa malu untuk mengungkapkan segenap perasaannya terhadap orang yang dicintai.
Terkadang ia merasa sedih. Sedih karena ia harus mencintai orang yang usianya jauh lebih tua darinya. Mencintai orang yang usianya seperti ayah dan anak. Dulu, berkali-kali ia mengenyahkan semua perasaan cintanya terhadap Berwald, tetapi gagal dan ia semakin mendambakan pria itu. Ketika pria itu melamarnya, hati Tiina serasa melayang.
Tetapi entah mengapa, sekarang Tiina merasa kecewa. Ia tahu bahwa Berwald tidak menginginkan hal-hal yang di luar dugaan terjadi. Akan tetapi, Tiina menganggap Berwald tidak tertarik terhadap dirinya. Setelah pernikahan mereka saja, tidak ada bulan madu untuk mereka berdua. Semua kembali seperti semula tanpa adanya sentuhan intim. Paling hanya sebuah pelukan dan ciuman serta Berwald memperlakukan Tiina seperti anak kecil berusia delapan tahun. Dalam hati Tiina membatin, ia sudah berusia enam belas tahun dan dua tahun lagi ia berada di usia yang legal.
Apa Berwald mencintainya? Atau ia hanya pelampiasan nafsu semata?
Jika ia begini terus, mau sampai kapan ia terus merasa tersiksa. Ia harus memikirkan cara lain, agar Berwald tahu bahwa ia bukan anak kecil lagi.
Ia adalah seorang wanita, ingin dipeluk, dicintai dan disentuh dengan lembut.
Atau mungkin, ia harus memulai lebih dulu. Ya, memulai sesuatu yang seharusnya ia tidak lakukan sebagai seorang wanita. Itu akan menjadi pembalasan yang manis, di musim panas seperti ini. Mungkin dengan begitu ia tahu bagaimana perasaan Berwald terhadap dirinya? Karena setahu Tiina, pria akan bersikap jujur jika itu menyangkut kebutuhan biologisnya. Walaupun ia harus mengorbankan miliknya yang berharga, Tiina tidak takut untuk melakukannya karena ia yakin.
Tiina memeriksa lemari pakaiannya untuk mengecek apakah ia memiliki pakaian dalam yang bisa dibilang seksi dan memancing gairah pria, terutama untuk pria sekaku Berwald. Barangkali, dengan cara seperti ini Berwald akan menyerangnya habis-habisan dan mengakui semuanya terhadap Tiina.
—00—
"Ber—Berwald, ayo bangun dan kita bermain sebentar," desah gadis itu dengan nada gugup. Tiina membuka kancing piyama Berwald perlahan-lahan dan memperlihatkan tubuh pria itu yang bidang. Tiina menyentuhnya perlahan-lahan dan bersandar di samping pria itu. Apa ini rasanya bersentuhan dengan pria secara intim? Ia tidak mengerti apa-apa mengenai dunia pria, untuk melakukan hal seperti ini saja, ia merasa kalut.
Tetapi ia harus tetap melakukannya, tidak peduli apakah ini beresiko atau tidak. Tetapi memang lebih baik seperti itu. Perlahan ia melepaskan celana panjang yang dikenakan Berwald dan melemparkannya ke arah lain. Arah yang tidak terjangkau untuk pria itu. Ia melihat kejantanan pria itu samar-samar dan ia mulai merasa takut.
Buat apa aku takut, bodoh. Bukankah nanti pasti aku berhadapan dengan benda-benda semacam ini. Aku seperti orang bodoh saja.
Berwald yang sedang tertidur pulas memang sangat tampan, pikir Tiina geli sekaligus gugup. Tanpa kacamata, tanpa adanya beban yang harus dipikul oleh Berwald. Semuanya terasa damai di mata Tiina ketika melihat Berwald tertidur pulas.
"Moi—bisakah kau terus di sisiku, Ber?" ucapnya sedih dan memainkan bibir Berwald dengan jarinya. "Kupikir kita seharusnya lebih intim lagi."
Suara desahan seorang gadis yang dikenal Berwald membuat Berwald merasa nyaman. Suara itu begitu lembut dan mengingatkan terhadap istrinya yang paling ia cintai seumur hidupnya. Alunan cinta yang begitu merdu, membuat Berwald merasa hangat dan nyaman. Suara yang selalu ia dengar setiap hari, bahkan ia selalu memimpikannya.
Ia membuka matanya dan di hadapannya ada seorang gadis mungil manis dengan berbalut kamisol transparan berwarna merah yang memperlihatkan seluruh tubuh sang gadis. Terlihat jelas lekukan-lekukan tubuh tersebut, serta celana dalam berenda yang bewarna senada dengan kamisol tipis.
"T—Tiina!" Berwald terkejut, mendapati Tiina berada di sampingnya dan bersikap menggoda—bukan Tiina yang biasanya. "Apa yang kaulakukan? Pakaianmu?"
Tiina tidak bisa menahan rasa malunya dan wajahnya merah padam seperti kepiting rebus. Penampilannya sekarang seperti wanita penggoda dan ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menggoda pria secara langsung. Tatapan tajam Berwald langsung melumpuhkan niatannya. Ia tidak bisa menyerah begitu saja hanya karena tatapan seperti itu dan ia harus melakukannya dengan benar. Suka tidak suka, mau tidak mau dan ia harus berani untuk melakukannya. Demi harga dirinya dan juga perasaan cintanya.
Lupakan rasa malumu, Tiina. Ayo lakukan sekarang dan ini kesempatanmu!
"A—aku ingin dirimu, Ber," Tiina bergumam dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Berwald. Menempelkan bibirnya ke bibir sang gunung es tersebut dengan gugup. Gemetar karena ini pertama kalinya. "Aku menginginkanmu sejak lama."
Ya ampun, apa Berwald sedang mimpi buruk? Sejak kapan Tiina yang polos berubah menjadi seperti wanita penggoda. Dan lagi, ia telanjang. Apa Tiina tadi yang membukakan pakaiannya?
"Kau sedang tidak mabuk?" tanya Berwald dingin dan melepaskan diri dari pelukan Tiina, berusaha menahan hasratnya yang sedang menyala-nyala akibat melihat Tiina dengan pakaian mini seperti itu. Dalam hati, Berwald ingin melepaskan seluruh pelindung yang dikenakan Tiina seperti kemarin sore. Teringat akan tubuh polos Tiina dan ingin merasakannya secara langsung. Tetapi tunggu dulu? Tiina masih sekolah dan ia seharusnya tidak boleh berbuat seperti ini. Ia tidak memiliki kondom satupun karena Berwald tidak pernah menyukai benda semacam itu dengan alasan kenikmatan dan jika sampai ia lepas kontrol maka akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan Tiina.
"Mengapa melepaskanku, Ber?" ucap Tiina sedih. Ia merasa Berwald tidak menginginkan tubuhnya dan memandang dirinya sendiri dengan tatapan kecewa. "Apa karena tubuhku anak-anak?"
"Bu—bukan begitu. Aku—."
Perkataan Berwald terputus begitu melihat ekspresi Tiina yang sedih. Berwald ingin mengatakan pada Tiina bahwa sebaiknya Tiina menghentikan aksinya sebelum ia merusak masa depan Tiina dan kehamilan yang tidak seharusnya gadis itu tanggung, untuk saat ini.
"Adakah sesuatu yang mengganggu Ber? Apa aku menganggumu?" tanya Tiina dengan nada muram dan perlahan ia mulai melepaskan kamisol transparan yang dikenakannya. Sedikit demi sedikit benda itu terjatuh dan memperlihatkan tubuhnya yang ia perlihatkan kemarin, lebih tepatnya karena Berwald memaksanya.
Tubuh Tiina yang masih berkembang menggoda bagi Berwald. Melihatnya saja membuat Berwald ingin mencicipinya sedikit demi sedikit. Mata Berwald beralih ke daerah kewanitaan gadis itu, daerah yang ingin ia cicipi kemarin siang dan tampaknya ia akan menjadi pria pertama yang menyentuh Tiina.
Payudara yang indah, tubuh yang seperti gitar Spanyol. Ditambah dengan wajah polos Tiina. Tiina yang tidak bersikap agresif saja sudah menggoda para pria manapun untuk menidurinya. Begitu manis dan polos, tipe idaman semua pria manapun baik pria normal maupun pria dewasa. Ia berpikir pasti di sekolah Tiina adalah gadis yang sangat populer di mata pria.
"Ba—baiklah!" Berwald berkata dengan nada pasrah. "Itu semua teserah kepadamu!"
Tersenyum puas, Tiina mencium bibir Berwald dengan ganas. Saling beradu bibir, bibir bertemu bibir, kulit bertemu kulit, lidah bertemu lidah. Gerakan agresif Tiina membuat Berwald mau tidak mau ikut terhanyut ke dalam permainannya. Berwald memejamkan kedua matanya dan terus mengulum bibir Tiina selama sepersekian detik. Harus Berwald akui, ini sangat nikmat. Kapan lagi ia bisa mencicipi Tiina secepat mungkin. Tidak mungkin pria sepertinya mau menunggu lama jika untuk urusan seperti ini.
"Kau ingin bilang apa?" tantang Tiina jengkel dan membaringkan Berwald di tempat tidurnya. "Kau ingin memperlakukanku seperti barang menjijikan waktu itu."
Berwald menghela nafas, ia tidak pernah memperlakukan Tiina seperti barang menjijikan. Ia hanya ingin melindungi Tiina karena takut-takut terjadi sesuatu kepadanya. Mengapa jika harus seperti ini pada akhirnya? Tiina tidak mempercayainya dan menganggap Berwald memiliki wanita lain karena Berwald menolak menyetubuhinya dengan alasan usia Tiina yang masih muda.
"Aku tidak pernah seperti itu," jawab Berwald dengan nada tajam. Ia mendorong Tiina sekuat tenaga hingga akhirnya Tiina-lah yang terbaring di tempat tidur. Dengan kasar Berwald menggigit ujung payudara gadis itu hingga Tiina menjerit kesakitan. Nikmat dan tidak tertahankan, jika ini yang Tiina inginkan.
Tiina menatap Berwald dengan penuh kemarahan dan gemetaran akibat gigitan Berwald di payudaranya. Ia tidak menyangka bahwa pria stoic macam Berwald bisa menjadi singa jantan yang ganas. "Akhirnya kau melakukannya juga! Sudah sejak kemarin aku menunggu hal semacam ini."
Nada Tiina terdengar seperti menantang Berwald untuk melakukan yang lebih parah dari ini. Ada baiknya Tiina diam saja dan menikmati semua ini agar semua berjalan lancar. Berwald terus menciumi tubuh Tiina tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan hingga menimbulkan bekas, mencari-cari dimana titik sensitif tersebut berada.
Tidak butuh waktu lama untuk Berwald dalam menemukan dimana titik sensitif di tubuh Tiina yang bisa memancing gairah Tiina. Berwald sangat lihai melakukannya seolah-olah ia sudah sering bercinta dengan banyak wanita. Tiina mengerang kegelian dan ia merasakan sensasi yang memabukkan di seluruh tubuhnya. Rencananya untuk menguasai Berwald gagal total dan justru Berwald yang menguasai tubuhnya tanpa ampun.
"Be—ber, cukup!" Tiina memohon. "Itu sangat menggelikan sekali. Aku mohon hentikan!"
Tidak bisa, ia sudah berbuat sejauh ini dan lagi pula bukankah Tiina yang tadi memancing Berwald seperti ini. Jika Tiina memohon untuk minta berhenti itu sama sekali tidak bisa karena gairahnya sudah berkobar dan minta dibebaskan. Tiina harus tetap di sini hingga Berwald menuntaskannya. Persetan dengan fakta Tiina masih SMA.
Toh tidak akan terjadi apa-apa pada Tiina dan ia adalah suami Tiina. Jadi, ia berhak untuk melakukan apa saja pada Tiina. Tetapi dengan catatan ia akan berhati-hati agar tidak menimbulkan sesuatu yang membuat Tiina kebobolan.
"Bilang lagi!" geram Berwald seraya menekan pinggangnya agar Tiina tidak bisa kabur. Tiina merasakan alat vital Berwald mulai menempel di dinding kewanitaannya. "Akan kubuat kau tidak perawan lagi!"
Tiina bergetar dan merinding. Biasanya Berwald bersikap halus terhadapnya tetapi begitu mereka berdua bercinta, ia sangat kasar seperti ini. Memang salah Tiina yang tadi telah memancing pria itu untuk berbuat lebih, tetapi—
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Berwald bisa sekasar ini. Terlalu kasar malah hitungannya dan Tiina hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang. Pelajaran baginya agar tidak memancing nafsu pria sembarangan dan seenaknya.
Kalau pun ia harus kehilangan keperawanannya malam ini, ia tidak akan apa-apa selama Berwald mencintainya. Hanya saja ketakutan mendalamnya adalah bagaimana jika akhirnya Berwald berkata padanya bahwa sebenarnya ia tidak mencintainya dan hanya kasihan pada Tiina. Ia merasa takut dan tidak percaya diri, sesuatu menghalanginya untuk berkata pada Berwald mengenai apa yang diinginkan olehnya selama ini.
"B—Ber, apa Ber mencintaiku sekarang ini?" tanya Tiina dengan nada lirih. "Katakan padaku, aku mohon!"
Berwald terdiam sebentar, kemarahannya mendadak hilang begitu saja begitu mendengar pernyataan Tiina. "Apa maksudmu?" tanyanya datar. "Ada apa denganmu?"
Tiina mencari-cari pembicaraan yang tepat mengenai ini, wajahnya merah padam dan rasa malunya tidak tertahankan. Haruskah ia mengatakan pada Berwald bahwa sebenarnya ia ingin diperlakukan seperti istri pada umumnya. Ia merasakan adanya sesuatu yang kosong, sesuatu yang seharusnya ia miliki yaitu kebutuhan biologisnya dan sentuhan mesra.
"Bisakah Ber lebih memperhatikanku barang sedikit saja?" tanya Tiina sedih dan memeluk Berwald dengan erat. "Perlakukan aku sebagaimana istri pada umumnya."
Perkataan Tiina membuat Berwald tertohok, selama ini ia selalu menjaga Tiina sebisa mungkin dan menjauhkan Tiina dari semua hal yang berisiko tinggi. Ia tahu bahwa Tiina ingin Berwald menyentuhnya tetapi ia selalu menyangkalnya dan pura-pura tidak tahu apa-apa. Ia tidak ingin membuat Tiina sedih dalam hal apapun tetapi ia sama sekali tidak menduga bahwa pada akhirnya ia membuat Tiina merasa tersisih dan terluka.
"Aku selalu memperhatikanmu, Tiina," jawab Berwald dingin dan mencium bibir Tiina. "Kau kira aku apa? Pria mesum?"
Tiina tertawa mendengar perkataan Berwald yang terakhir. Gaya bercanda Berwald memang aneh tetapi membuat Tiina terhibur. Berwald memang pria paling kaku sedunia, harus dipancing terlebih dahulu agar kekakuannya hilang. Ia tidak menyesal menjadi istrinya.
"Aku mencintaimu, Tiina," tiba-tiba Berwald berkata. "Itu yang selalu di otakku."
Aku mencintaimu. Itu merupakan kata-kata gombal untuk jaman sekarang tetapi sampai kapan pun semua orang menyukainya jika kata itu diucapkan oleh orang yang dicintainya. "Kau selalu saja membuatku seperti ini, Ber," ucap Tiina.
"Lalu, mau aku melanjutkan itu lagi?" tanya Berwald tajam di telinga Tiina, menahan tubuh Tiina dengan kedua tangannya agar Tiina tidak lepas darinya. "Aku belum selesai!"
"A—aku—."
Ia belum selesai mengatakan sesuatu, tubuhnya sudah ditahan oleh Berwald. Tiina menjerit kesakitan ketika Berwald sudah berada di dalamnya. Mendorong miliknya untuk merobohkan kastil pertahanannya. Kesakitan, Tiina memeluk Berwald seerat mungkin agar ia tidak jatuh pingsan.
"Be—Ber, aagh—hentikan Ber!" Tiina menjerit kesal. "Kau membuatku ketakutan."
Berwald tidak peduli dan terus mendorong Tiina ke dalam hingga ia menemukan penahan tersebut. Mendorongnya dengan kasar agar Tiina tidak terlalu kesakitan dan ia bisa meraih kenikmatannya sendiri.
Tiina memejamkan matanya ngeri, jadi ini rasanya berhubungan intim. Inikah dengan apa yang dinamakan kegiatan suami istri. Seharusnya menyenangkan tetapi mengapa sesakit ini.
"Hanya sebentar," Berwald menyakinkan. "Tidak akan sesakit ini setelahnya."
Berwald terus merangsek ke dalam untuk beberapa lama. Terus mengecup bibir Tiina agar gadis itu tidak merasa kesakitan. Sedangkan Tiina, ia mulai menyadari bahwa ia sudah tidak merasa sakit melainkan ada sensasi memabukkan yang menyebar di pinggangnya. Menyadari bahwa bercinta ternyata tidak sesakit ini. Hanya ketika pada permulaan saja. Ia tidak menyesal dengan apa yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu dan ia merasa lengkap ketika Berwald berada di sisinya.
Tak berapa lama, pria itu sudah mencapai titik kenikmatannya dan mengeluarkan miliknya . Wajahnya terlihat lelah dan menatap wajah Tiina yang begitu polos. Rupanya ia masih polos, batin Berwald dalam hati dan menatap daerah intim Tiina. Ada percikan darah di sana—ya, ia tidak perlu mengatakan bahwa Tiina masih perawan. Seharusnya ia bisa lebih lembut pada Tiina.
"Apa aku melukaimu?" tanya Berwald cemas dan memeluk Tiina. "Katakan jika "ya"!"
Tiina menggelengkan kepala dan membalas pelukannya. "Tidak, Ber. Kau tidak menyakitiku, kau melengkapi diriku."
Berwald bisa tersenyum lega sekarang dan ini adalah musim panas terbaik yang pernah ia alami seumur hidupnya. Musim panas pertama bersama Tiina dan calon anak mereka kelak.
FIN
A/N oke, akan saya beritahu jika fic ini sebenarnya one shot tetapi saya pisah karena terlalu panjang. Mudah-mudahan tidak kecewa dan maaf jika Tiina saya jadikan pihak yang menyerang sang pria (wtf). Review please but no flame :3
