Disclaimer:
-Naruto © Masashi Kishimoto-
.
Warning:
-OOC/Canon/Typos/Romance/AR-
-Mohon beri tau jika terdapat kesalahan dan kerancuan dalam penulisan, karena terkadang saya terlalu malas untuk membaca ulang, hehe-
.
Spesial to:
-nara yuki,jiro yujikku ,Namikaze Mutiara Hana,Soohyo, anyaaa,Awitway A.M and Readers -
- Sebelumya saya ucapkan terimakasih pada Senpai-Senpai yang udah kasih saran membangun untuk ceritaku ini, dan saya juga ucapkan terimaksih kepada siapa saja yang sudah mau berkunjung ke sini ^_^ -
.
-^-^-^-^-Happy Reading-^-^-^-^-
.
.
Shikamaru dan Ino sudah tiba di kantor Hokage, disana terlihat sudah ada Shikaku dan Yoshino serta Shizune dan Tsunade bahkan Tetua Konoha dan Suna. Entah kenapa suasana seperti ini sangat ditakutkan oleh Shikamaru, mengingat ada sang Ibu disini. Padahal Ibunya tidak pernah sama sekali di panggil Hokage, apakah Ibunya memang akan mendapat misi, tapi Ibunya bukan lagi seorang ninja melainkan Ibu rumah tangga yang mengurus seluk beluk keperluan rumah tangga. Mungkinkah Misi istimewa ini akan bersama keluarga, Yoshino dan Shikaku. Tapi misi macam apa yang akan Hokage berikan untuk keluarga kecil sederhana ini.
Mereka semua terlihat sedang menatap Shikamaru yang terlihat santai tapi lebih terlihat seperti bermalas-malasan. Sang Tetua Sunagakure yang melihat peringai buruk Shikamaru, segera bertanya.
"Jadi ini anaknya, apakah orang seperti dia bisa diandalkan.?"
Shikamaru yang mendengar berkedut heran. Memangnya apa yang salah dari Shikamaru, dia 'kan orang yang pintar mengalisi keadaan meski dalam keadaan terpepet -untuk hal merancang strategi tidak yang lain.
"Shikamaru,bersikaplah yang yang sopan terhadap tamu. Kau itu, Cepat minta maaf!" Sang Ibu mulai mengomel dan membentaknya. Membuat Shikamaru jenuh dan ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.
"Memangnya apa salahku, Bu?"
"Jangan membantah apa yang Ibu bilang, cepat minta maaf.!"
"Baiklah, Bu." Shikamaru lebih memilih menuruti kehendak Sang Ibu daripada membatahnya lagi karena hal itu akan sangat jauh merepotkan, meski Shikamaru masih heran 'kenapa harus meminta maaf, memangnya apa kesalahannya.' Tapi dengan minta maaf keadaan akan tenang tidak tegang seperti ini.
"Maafkan saya, Tetua Suna?" Shikamaru membungkukan punggung mencoba meminta maaf.
Tetua tidak berseru malah terlihat mengalihkan pandangan, tapi didetik berikutnya Tetua Suna beraksi dengan mengatakan hal yang sedikit menyinggung.
"Aku maafkan, namun jika kau bersikap seperti itu lagi tidak akan kumaafkan, rubahlah peringai burukmu itu, ini tidak buruk untuk kedepannya."
Tunggu, Shikamaru sedikit heran, Tetua Suna mengatakan 'ini tidak buruk untuk kedepannya' memangnya apa yang akan terjadi dimasa depan. Tetua Suna seolah-olah mengatakan Shikamaru akan menjadi miliknya.
"Apa maksud Anda berbicara seperti itu, Tetua-sama?"
Pertanyaan Shikamaru tidak digubris karena Ayahnya telah menyerbu lebih dulu, membuat Shikamaru memilih bungkam.
"Saya akan menjamin bahwa Shikamaru dapat melakukannya, karena dia adalah orang yang sangat bertanggung jawab terhadap misinya. Tetua-sama"
"Kami juga tidak keberatan dengan misi ini, asalkan jangan putuskan kontak kami dengan Shikamaru, bagaimana pun juga dia adalah putra kami satu-satunya" Sang Ibu ikut menimpali.
"Jadi kumohon agar diplomasi antara Konoha dan Suna ini jangan pernah terputus lagi, Tetua-sama."Kini Hokage yang berseru lalu disusul dengan Ayahnya.
"Biarkan saya yang bertindak, jika terjadi sesuatu pada Shikamaru."
Tetua Suna terlihat mengangguk. Jujur ini sangat membingungkan, sebenarnya apa yang akan terjadi pada Shikamaru, para orang tua dan kakek nenek ini berbicara dengan ungkapan yang masih menjadi tanda tanya besar bagi Shikamaru, Shikamaru harus lebih memeras otaknya untuk berpikir lebih panjang. Satu persatu pernyataan orang tua dan kakek nenek dan orang yang menyalaminya -yang tadi di ungkapan, dikaitkan satu persatu, jika semua pernyataan tadi dikaitkan dengan peristiwa penyerangan Sunagakure akan melahirkan sebuah kesimpulan yang masih belum diterima otak jenius Shikamaru, mungkinkah misi ini ada kaitannya dengan mempererat hubungan kekerabatan antara pihak Konoha dan Sunakagure yaitu...
Analisa Shikamaru harus terhenti begitu saja, karena Sang Tetua Suna sudah ada dihadapannya sedang memegang pundak Shikamaru.
"Jika memang kau anak yang bertanggung jawab, jangan pernah mengecewakan kami, Pihak Sunakagure, kami sangat membutuhkan orang sepertimu, Nak. Kami anak senang menerima Shinobi sepertimu di desa. Kami tunggu kedatanganmu, Nak "
Itulah sepenggal pernyataan tetua Suna yang merupakan amanat yang harus Shikamaru jalankan sebelum akhirnya mereka –tetua suna- pergi ke tempat tinggal berpasir, desa Sunagakure.
Shikamaru masih kaget dengan apa yang dilakukan tetua Suna padanya, mereka sangat percaya dan menaruh harapan pada Shikamaru dengan begitu besar, tapi mereka pihak Sunagakure bukan Konoha, Shikamaru adalah Shinobi Konoha ia hanya akan mematuhi apa yang Tetua-Daimo Konoha dan Hokage katakan.
"Shikamaru, kau harus menikah."
Pernyataan singkat Hokage membuatnya kaget. Menikah, memang ada dalam daftar kehidupan masa depan Shikamaru. Tapi ungkapan dari Hokage ini tidaklah wajar, dia seperti memaksa Shikamaru untuk cepat-cepat menikah.
"Aku memang akan menikah, Hokage-sama. Tapi tidak sekarang, aku masih ingin menjalani masa remajaku."
"Tinggalkan tentang pikiran masa remaja bodoh itu, Sekarang kau sangat kami butuhkan, tidak ada koma kau harus menikah secepat mungkin titik" Hokage sedikit membentak Shikamaru yang terlihat tidak terima dengan penyataan 'Menikah cepat'.
"Kenapa Anda mengatur kehidupanku sekarang, bukankah Anda seorang Hokage, seharusnya Anda memikirkan rakyat Anda, bukan malah mengatur kehidupan orang lain seperti ini"
Mendengar bantahan Shikamaru yang tidak sopan. Sang ibu segera menendang kaki anaknya, otomatis membuat Shikamaru merintih kesakitan dan repleks memegang kaki kanannya yang kesakitan karena tendangan keras dari Sang Ibu.
"Ibu, apa yang kau lakukan."
"Bersikap yang sopan terhadap Hokage. Kau itu satu-satunya jalan menyelamatkan desa ini. apa kau ingin melihat kehancuran desa sekali lagi, berkorbanlah untuk desa ini demi keselamatan banyak orang."
Penjelasan ibunya, memperjelas apa yang telah Shikamaru analisis sebelumnya. "Jangan bilang aku harus menikah dengan gadis Suna."
"Kau memang pintar menganalisa keadaan. Tidak heran misi ini memang cocok untukmu." Shizune yang dari diam kini ikut berseru.
"Jadi, misi istimewa yang Ino bilang tadi..."
Perkataan Shikamaru harus tergantung, karena Ino sudah menyela lebih dulu. Shikamaru jadi hampir lupa bahwa dia kesini bersama Ino. Ino yang dari tadi diam ditambah posisi Ino yang membelakangi Shikamaru, membuat Ino jadi terasingkan.
"Menikah dengan putri Suna. Itulah misi istimewa yang Hokage berikan. Hanya kau saja yang mendapat misi istimewa ini. Bagaimana mudah bukan, tidak perlu bertarung dengan musuh?"
Ino menganggap misi ini merupakan misi termudah yang tidak memerlukan tenaga untuk bertarung melawan musuh, tapi bagi Shikamaru ini merupakan misi yang sangat merepotkan, setiap hari ia harus berurusan dengan seorang wanita, tidak bisa bersantai seperti dulu lagi, lalu dia harus beradaptasi dengan atmosfer Sunagakure yang berbeda 180 derajat dengan Konoha yang sejuk, banyak pepohonan, hewan-hewan cantik, terutama awan yang banyak dan indah. Bagi Shikamaru tidak ada tempat seindah Konoha. Shikamaru jadi membayangkan, bagaimana kehidupannya kelak di Sunagakure, pasti sangat jauh lebih merepotkan dan lebih menyusahkan dibandingkan sekarang.
"Ino, kenapa kau tidak memberi tauku sejak tadi."
"Karena jika kuberi tau pasti kau akan kabur. Benar bukan?" Ino menatap Hokage,Yoshino dan semua yang ada di tempat ini satu persatu untuk meminta pesetujuan dari mereka.
"Kau!" Tekan Shikamaru kesal pada Ino. Lalu melayangkan kembali kekesalannya "jadi kalian semua berkomplot." Kini Shikamaru yang berbalik menatap semua, mereka pun mengganguk dengan kompak, membuat Shikamaru ingin mengatakan hal yang sudah ingin diungkapkan sejak tadi. Dengan nada cukup tinggi Shikamaru berucap " Dasar..."
"... Merepotkan." Lanjut orang-orang yang ada dalam kantor Hokage, mereka sudah bisa menebak apa yang akan Shikamaru katakan selanjutnya.
"Hei !" Shikamaru berontak karena kalimatnya harus terhenti begitu saja, padahal kalimat itu bisa menjadi penenang hati Shikamaru ketika gundah. Semua yang ada disana terlihat tertawa, senang karena telah berhasil mengerjai Shikamaru. sedangkan Shikamaru hanya bisa mengendus, kesal dengan kelakuan mereka yang telah berani-beraninya mengerjai Si jenius Shikamaru.
Detik selanjutnya keadaan kembali normal, tapi perkataan Shikamaru membuat keadaan menjadi menegang dan panas seperti sedang berada digurun sahara pada tengah hari saat dimana Sang Surya sedang asyik memancarkan sinar gagahnya yang bisa membuat air dingin menjadi hangat, cucian menjadi kering, keringat bercucuran deras. sebentar lagi akan terjadi pertarungan adu argumen yang sangat menegangkan antara Hokage dan Shikamaru. saling serang dan menjatuhkan itu yang terjadi dan akan mereka lakukan.
"Hokage-sama kenapa harus aku yang melakukan misi ini, bukankah masih banyak shinobi di Konoha ini.!"
"Benar, tapi hanya kau satu-satunya yang cocok dengan misi ini."
"Apa alasan Hokage-sama memilih saya, bukankah Anda tau saya merupakan Shinobi pemalas !"
"Benar, tapi kau memiliki kemampuan di atas rata-rata, itu alasan kami memilih kau, Shikamaru "
"Apakah alasan Hokage memilih saya karena kemampuan saya yang mampu menganalis keadaan dengan akurat serta mampu membuat strategi dalam keadaan terjepit, apakah itu alasan Hokage memilih saya ?! Itu adalah alasan yang tidak bisa diterima !"
"Benar, kau memang jenius, Shikamaru. Kau mampu membaca keadaan yang kami sedang pikirkan bahkan dalam keadaan terjepit seperti ini."
"Bukan waktunya memuji Tsunade-sama, sekarang jelaskan apa maksud semua ini. Aku hanya perlu penjelasan ! "
Sang Hokage sudah mencoba menahan diri dari tadi untuk tidak marah, berusaha setenang mungkin menghadapi hujatan Shikamaru yang dari tadi ditujukan padanya, tapi kali ini Sang Hokage sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk meledak lebih keras, mengeluarkan semua kekesalan yang bertumpuk di hatinya.
Brakkk, Sang Hokage menggebrak meja kerjanya cukup keras, membuat siapapun yang mendengar akan berdiri bulu kuduknya, ketakutan dengan sikap keras Hokage. kertas-kertas yang berterbangan serta meja yang retak menjadi bukti bagaimana sekuat apa kekesalan Sang Hokage Perempuan ini terhadap Shikamaru.
"Kau ! sebagai seorang shinobi Konoha kau seharusnya mengerti bagaimana keadaan desa ini. Shinobi adalah bentuk kesetiaan kepada pemimpin bukan bentuk penghianatan terhadap pemimpin. Kau harus mengerti itu.!"
"Aku tau nona Tsunade, tapi bukan itu yang kumaksudkan. Aku ingin Anda menjelaskan apa tujuan Anda memberikan misi merepotkan ini padaku."
"Bodoh ! bukankah kau sendiri yang mengatakan Jika mereka marah karena asset berharga mereka di curi maka harus menggantinya dengan asset yang berharga pula.Apa kau lupa dengan perkataanmu dulu. Kau sendiri yang menyuruh membuat kesepakatan dengan Sunakagure. Dasar bodoh!" Hokage benar-benar marah sehingga kata-kata kasar keluar begitu saja.
"Jadi maksud Anda, aku adalah asset berharga konoha."
"Hanya kau yang kami miliki, dan mereka pun sangat senang dengan kesepakatan ini."
"Bukankah Naruto juga merupakan asset berharga konoha, bahkan dia adalah pahlawan."
"Tapi dia terlalu bodoh tidak sepertimu, sudahlah Shikamaru, berkorban untuk desa ini."
"Tapi nona Tsunade misi ini terlalu sulit bagiku, aku belum siap untuk menikah."
"Siap tidak siap kau harus siap. Semua orang menaruh harapan padamu. Mereka mengganggapmu juga seorang pahlawan. Tak meski bertarung baru kau mendapatkan gelar pahlawan, tapi dengan kebaikan hati dan pengorbanan kau juga telah mampu menjadi pahlawan. Sudahlah Shikamaru hilangkah pikiran masa remaja itu, kau telah dewasa, sudah selayaknya kau membahagiakan Ayah dan Ibu dengan memberikan kami menantu dan cucu" Sang Ibu yang dari tadi hanya memperhatikan perdebatan antara Hokage dan Shikamaru kini ikut berseru, meramaikan perdebatan. Membuat suasana semakin memanas dari sebelumnya.
Shikamaru yang mendengar seruan Sang Ibu, menoleh padanya dan bergumam 'Ibu'. Shikamaru tidak percaya ibunya akan bicara seperti itu. Sang ibu mengatakan seolah-olah dia sedang memohon belas kasihan, itu membuat Shikamaru haru. Ibunya merupakan wanita bertempramental tinggi yang sulit bersikap lembut, sikap lembutnya mungkin hanya terjadi 3 X dalam 1 bulan. Itu juga jika beruntung.
"Tapi.. bukankah masih ada ayah yang ahli strategi juga, kenapa tidak ayah saja yang menerima misi ini"
Dukkk ucapan Shikamaru sukses membuat betis kanannya kesakitan, pasalnya Sang ibu menendang kakinya cukup keras, sebagai kelancangan Shikamaru berbicara. Dengan kekuatan respon otak yang cepat, Shikamaru segera memegang betisnya yang kesakitan. Intonasi sang ibupun berubah dari rendah -memelas- berubah jadi tinggi –Membentak-
"Dasar anak kurang ajar, mau kemanakan ibu jika ayah menikah lagi, ibu tidak rela jika dimadu."
Sang ibu mengecakan pinggang dihadapan Shikamaru yang betisnya tengah kesakitan lalu menjewir kuping Shikamaru hingga merah. Shikamaru kesakitan lalu meminta sang Ibu untuk melepaskan jewerannya. Sementara Shikaku, Sang Ayah hanya menghela nafas melihat kelakuan istrinya yang Over itu, sebenarnya Shikaku setuju-setuju saya jika menerima misi itu secara gadis suna yang akan dinikahi itu cantik, masih muda, harum, singset lagi.
Suasana disini terlalu panas, jika dibiarkan terus berlanjut maka akan terjadi lelehan. Maka Shikamaru pun pergi dari tempat yang mengurungnya untuk mencari udara sejuk yang akan membuat pikiran dan hatinya dingin. Shikamaru sudah tidak peduli lagi dengan suara-suara yang menyuruhnya untuk tidak pergi, masa bodoh mau mengatakan apa karena Shikamaru tidak akan mendengarkan , karena yang Shikamaru pikirkan hanya sebuah tempat sejuk nan indah yang dimana disana Shikamaru tertidur lelap, tidak ada yang mengganggu.
"Oi Shikamaru mau kemana kau, aku belum selesai bicara. Kemari kau!" Seru Hokage
"Dasar anak kurang ajar, tidak sopan ketika orang sedang berbicara kau pergi begitu saja? Kemari kau Anak kurang ajar !" Sang ibu mengecakan pinggang, marah.
"Oi, Shikamaru kau tidak penasaran dengan gadis Suna yang akan kau nikahi?" tanya Ino.
Namun suara-suara itu dihiraukan Shikamaru, Shikamaru malah mengangkatkan tangan dengan badan berbalik kearah pintu untuk memberi isyarat bahwa dirinya akan keluar dari tempat ini, namun perkataan Sang ayah membuat langkah Shikamaru terhenti.
"Ayah pikir kau memang anak kebanggan ayah ternyata itu salah besar." Langkah Shikamaru terhenti dan jantungnya berdetak keras satu kali.
Sang ayah melanjutkan ucapannya dan ia segera menghampiri Shikamaru yang sedang menundukan kepala. "Sebagai seorang laki-laki kau tidak pantas melakukan semua ini, kau tidak boleh lari dari tanggung jawab, itu sama saja kau adalah seorang pengecut berarti kau lebih rendah dari sampah. Ayah menyesal sudah mengatakan hal yang tidak benar pada Tetua Suna."
Shikamaru diam meresapi apa yang dikatakan ayahnya, Shikamaru jadi teringat saat setelah selesai misi penyelamat Sasuke,dulu ayahnya sangat kecewa karena Shikamaru tak mampu melindungi temannya dan menjadi pemimpin yang tidak tegas bagi bawahannya.
Shikamaru menyadari kesalahannya, segera ia berbalik menghadap semua yang tengah berharap padanya. Dengan perasaan yang masih sedikit tidak terima, Shikamaru terpaksa memamerkan seulas senyum untuk menunjukan ada keikhlasan dihatinya, karena Shikamaru tidak ingin membuat orang-orang kecewa dengan pilihannya. Shikamaru mengambil nafas sejenak guna untuk memantap hatinya, ia ingin mengungkapkan sesuatu.
"Aku tidak akan mengecewakan kalian, meski misi ini merepotkan bagiku tapi aku tidak akan lari dari tanggung jawab ini, aku adalah shinobi Konoha yang menimba ilmu dan besar disini sudah seharusnya aku berkorban demi desa yang telah membesarkan namaku. Aku pergi bukan untuk lari dari tanggung jawab aku hanya ingin mencari tempat sejuk untuk menenangkan hati, hanya itu yang Kupikirkan sekarang"
Semua yang ada disana terharu, ada rasa bahagia yang terselubung mendengar pengakuan dari seorang Shikamaru, Si pemalas berhati mulia. Ini yang mereka harapkan dari Shikamaru, sebuah jawaban 'Ya' dengan perkataan yang mantap.
Sang Ayahpun bangga, lalu ia menepuk pundak anaknya sambil tersenyum. Pundak tegak ini sebentar lagi akan menopang sebuah tanggung jawab besar sebagai seorang kepala keluarga.
"Ini yang ayah harapkan darimu, sebuah tanggung jawab. Ini baru anak ayah yang bisa dibanggakan. Ayah bangga padamu." Setelah menepuk pudak Sang anak, Sang ayah pergi melewati anaknya yang tengah berada di ambang pintu, seketika Shikamaru pun tersenyum melihat sang Ayah yang tersenyum bangga padanya.
^-^-^-^-^-^-^-^ This Is Mission That Very Troblesome ^-^-^-^-^-^-^-^
Sementara disebuah tempat yang hampir seluruhnya pasir, desa Sunagakure. Sedang melakukan sebuah pertemuan dengan pokok pembicaran tentang 'Pernikahan'. Mereka sibuk tentang persiapan yang harus mereka lakukan dari mulai dekorasi ruangan, hidangan, penghulu dll. Lalu dari balik pintu ruangan rapat, terdengar percekcokan yang sangat keras membuat pembicaraan terhenti. Disana terdengar suara yang membuat siapapun mendengar cukup merasakan ketegangan, percecokan kurang lebih seperti ini.
"Maaf, Anda tidak boleh masuk, sedang ada pertemuan."
"Bodoh, Aku tidak peduli, pokoknya aku ingin berbicara dengan tetua keriput yang keras kepala itu, meminta penjelasan tentang semua ini. Minggir !"
"Tapi Anda tidak boleh masuk, jika Anda masuk kami akan melakukan tindakan tegas."
Penjaga pintu yang tidak lain adalah Anbu Suna segera menghadang laju seorang wanita bertempramental tinggi, anak dari Kazekage, berbagai cara mereka lakukan sampai mengeluarkan jutsu terkuat untuk menghadang lajunya. Sekuat apapun mereka mengeluarkan jutsu, tapi berhasil digagal wanita tersebut, dia merupakan Jonin Konoichi terhebat di Suna, jadi sangat sulit untuk menaklukan wanita bertempramental tinggi yang sulit diatur itu.
"Jurus ninja ! Angin sabit sabaku!"
Dhuarrrrr semua Anbu yang menghadang terpental begitu saja, bahkan dinding yang menghalangi ruangan pertemuan roboh begitu saja karena kekuatan dahyat dari pemilik jutsu. Maka semua orang yang sedang menghadiri pertemuan, tercegang begitu melihat sang pemilik jutsu keluar dari reruntuhan serta kepulan asap yang terselubung yang memenuhi ruangan ini, kini Sang pemilik jutsu tengah mengecak pinggang dengan muka sanggar. Kankuro yang melihat si pemilik jutsu segera memarahinya.
"Temari, apa yang kau lakukan?! "
Namun bentakan Kankuro tak mampu menghentikan niatnya untuk menemui tetua Suna. Temari menatap satu persatu orang yang ada di pertemuan, namun orang yang dicarinya tidak ada. Temari kesal, segera ia bertanya pada orang di pertemuan.
"Dimana kalian menyembunyikan orang tua keriput itu?" tanya Temari dengan mimik muka yang menakutkan.
"Apa maksud Anda, Temari?" tanya salah orang yang ada dalam pertemuan.
"Jangan pura-pura tidak tau, cepat katakan dimana orang tua keriput itu. aku ingin meminta penjelasan tentang pernikahan ini, kenapa harus aku kandidatnya, bukankah masih banyak gadis di desa Suna ini. dan yang paling aku kesal, kalian tidak meminta persetujuanku dulu, dasar brengsek "
"Jaga bicaramu, Temari. Kau adalah wanita tidak pantas mengucapkan kata kasar seperti itu." Sang guru pembimbing yang tak lain Baki bereaksi atas kalimat kasar yang Temari ucapkan.
"Guru dan semua yang ada di sini sama, kalian egois, hanya memikirkan diri sendiri, tidakkah kalian memikirkan bagaimana perasaan dan kesiapanku untuk menghadapi semua ini. bayangkan jika kalian diposisiku, apa yang akan kalian lakukan ketika mendapat pemberitaun mendadak seperti ini. coba pikirkan baik-baik, jangan seenaknya mengambil tindakan !"
Mereka semua tertunduk, menyadari kesalahan yang mereka lakukan. Temari merasa menang melihat mereka tidak berkutik lagi. Lalu Temari menarik kerah kankuro kasar sambil memberi tatapan mengancam.
"Kankuro kau pasti tau, dimana orang tua keriput itu, cepat katakan atau kuhancurkan tempat ini. !" ancam Temari yang membuat Kankuro ketakutan, kakak perempuannya ini memang sangat menakutkan jika suasana hatinya sedang suram, membuat orang-orang lebih memilih menjauhinya.
Namun terdengar suara dari jauh yang membuat Temari harus melepas tarikan kerah Kankuro lalu menoleh ke arah sumber suara yang ternyata adik yang sangat di cintainya. Kankuro menjadi merasa perlu mengucapkan terimakasih pada Gaara karena telah menyelamatkan hidupnya.
"Hentikan Temari, itu tindakan yang tidak tepat." Ucap Gaara sambil berjalan santai menemui orang-orang yang ada didalam ruang pertemuan.
Bagi Temari, Gaara merupakan satu-satunya adik yang ucapannya selalu didengar, Gaara merupakan adik bijaksana yang karismanya sangat tinggi membuat dia sangat cocok menjadi seorang pemimpin.
Sejak penyelamatan desa Suna oleh Gaara yang diserang salah satu kelompok anggota akatsuki yaitu Deidara dan Tobi, yang membuat nyawa Gaara harus melayang di tangan akatsuki karena roh ekor satu (ichibi) dikeluarkan paksa dari wadah pemiliknya, pengorbanan Gaara membuat keberadaannya menjadi diakui di desa, bahkan sang Yondaime Kazekage yang merupakan Ayah Gaara menjadi sangat memperhatikan dan menyayanginya, tidak seperti dulu yang menganggap Gaara adalah Monster.
Sungguh beruntung nasib Gaara karena memiliki teman seperti Naruto yang mengerti akan hidupnya serta rela berkorban deminya bahkan mengajari segala hal yang tidak diketahui Gaara. Pengorbanan Gaara terhadap desa Suna membuat dia diakui bahkan semua orang telah menaruh harapan besar dan kepercayaan, bahwa dialah Sang Pahlawan yang bisa menyelamatkan desa ini. pengharapan dan kepercayaan penduduk, membuat Gaara dikabarkan akan menjadi calon kuat Kazekage mendatang, menggantikan tampuk kekuasaan dari Sang Ayah yang telah meninggal. Kini Gaara bukanlah Si Monster Pembunuh berdarah dingin dari desa pasir, melainkan Si Pahlawan pelindung desa yang dulu menjadi penggelap desa dan kini menjadi penerang desa.
Mata temari tak henti menatap wajah Gaara yang semakin mendekat, membuat Temari memilih bungkam namun perkataan Gaara membuat Temari harus bicara.
"Meski keputusan ini masih berat bagiku, sebagai adikmu. tapi kau harus melakukannya demi desa ini." Ucap Gaara.
"Apa maksudmu, Gaara. Aku masih tidak mengerti?" tanya Temari.
"Kelapangan hatimu untuk menerima keputusan ini membuat keadaan akan membaik, Desa suna ini sedang membutuhkan Shinobi yang memiliki kemampuan yang hanya dimiliki desa Konoha saja, sekaligus untuk mempererat hubungan diplomasi antara Konoha dan Sunagakure. Kau harus mengerti itu."
Temari terenyuh mendengar penuturan bijak Gaara, membuat pikiran Temari mendingin. Kini semua orang sedang berharap pada Gaara untuk membuat Temari lebih berpengertian.
"Tapi, kenapa harus aku yang melakukannya. Bukankah masih banyak gadis di desa ini"
"Tapi hanya kau yang cocok, Neechan?" ini kali pertama Gaara memanggil Temari dengan panggilan kakak, membuat hati Temari tercegang, tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Aku butuh penjelasan Gaara bukan pernyataan."
"Ingatkah berapa umurmu sekarang, neechan?" tanya Gaara untuk memulai penjelasan.
Temari berpikir, namun ketika akan menjawab sudah dijawab Gaara duluan.
"Kau sudah berumur 21 tahun, sudah layak untuk menikah. Mau berapa tahun lagi, kau akan mengundurkan pernikahan. Kau adalah seorang manusia yang akan mengalami masa tua dan wanita yang akan mengalami masa Menopause, ingatlah hal itu?. Banyak lelaki yang melamarmu kau tolak dengan berbagai cara dan alasan, tempramentalmu yang tinggi membuat laki-laki yang melamarmu memilih enggan dan mengundurkan diri..."
Temari tertunduk, semua yang dikatakan Gaara memang benar. Gaara kembali melanjutkan kalimatnya yang tergantung
"..ini adalah cara yang tepat untuk membuatmu bisa menikah, hilangkan pikiran tentang kesiapanmu itu. Semua orang pada dasarnya mampu melakukan kegiatan yang menurutnya sulit, mereka sulit karena diri mereka yang membuat itu sulit, mereka terlalu malas untuk menjadikan kesulitan menjadi kemudahan. Kau sebenarnya mampu walau hati mengatakan tidak siap? Siap akan datang sendirinya. Keputusan ini pada dasarnya untuk kebaikanmu juga. Jadi mohon mengertilah?"
Ungkap Gaara dengan penuh bijaksana, kemudian setelah itu Gaara semakin mendekatkan jaraknya dengan Temari, setelah mendekat Ia pun menepuk pundak kakak perempuannya yang tengah tertegun, memberinya sebuah penenang dan kepercayaan agar Sang kaka dapat berpikir jernih menghadapi permasalahan yang tengah menimpannya.
Setelah memberi petuah yang membuat Temari dan semua yang ada ruang pertemuan tertegun, Gaara kemudian membalikan posisinya menghadap ke arah pintu lalu berjalan so cool dengan kedua tangan masuk ke saku celana panjang longgar yang didominasi warna merah marun. Gaara pun keluar tanpa mengatakan sepatah katapun yang terlihat hanya lambaian tangan kanan sebagai penanda kepergiannya.
Sadar apa yang dikatakan Sang adik bungsu, Temari lalu mengejar langkah Gaara meminta dia menjelaskan sekali lagi apa maksud 'keputusan ini memberatkannya'.
Sebuah Fakta yang belum diketahui Kankuro, Tetua Suna, dan Semua orang yang terlibat dalam pernikahan Termari. Bahwa Temari tau informasi ini dari anak didik Gaara yang sangat disayanginya dia adalah Matsuri.
Saat itu Temari sedang berjalan mengelilingi desa, berusaha menikmati suasana desa yang sudah ditinggalkannya beberapa minggu, karena pada minggu-minggu kemarin, ia habiskan di Konoha yang menurut temari suasananya lebih indah di banding desanya, tapi bagaimana pun juga seenak-enak tinggal di negri orang lebih enak tinggal di negri sendiri, karena jauh lebih leluasa dalam bertindak. Temari di Konoha bukan untuk bersenang-senang melainkan menyusun arsip ujian chuunin bersama orang yang menurutnya paling menyebalkan, Shikamaru.
"Desa ini memang tidak jauh lebih indah dari desa Konoha, disini tidak banyak pohon yang tumbuh atau pun hewan yang tinggal. Tapi desa ini adalah harta berharga bagiku, di sini aku dilahirkan dan dibesarkan dengan kasih sayang, aku diakui disini sebagai mana orang-orang pada umumnya, namaku menjadi besar seiring desaku yang semakin terkenal. Aku bangga menjadi bagian dari desa ini."
Temari terus berceloteh sehingga tanpa sadar ia menabrak sesuatu yang cukup keras.
Gubrakk
Temaripun mengendus, mengeluarkan benda yang masuk ke hidungnya, baru saja Temari mencium lantai berpasir yang membuat muka dan bajunya di penuhi pasir.
"Temari,, ah kau ini membuat puppet yang ku rancang jadi rusak."
Terdengar suara yang menegur Temari, Temari pun mendongkak, terlihat orang berambut merah tengah mengecakan pinggang menatap Temari, Temari pun segera memberi cengiran tak bersalah pada orang berambut merah tersebut. Ternyata Temari menabrak sebuah puppet yang sedang dirancang oleh pembuatnya dia adalah cucu nenek Chiyo…
"Sasori-kun, hehe maaf." Temari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal setelah berdiri.
Sasori menghela nafas, kelakuan Temari ini sudah hampir sering terjadi membuat puppet (boneka kayu) yang telah di rancang susah payah, rusak begitu saja oleh kelakuan Temari yang tidak bertanggung jawab.
"sudah puluhan puppet yang kau rusak, kini kau kembali merusak puppet yang susah payah ku rancang, kau ini . hilangkan sifat cerebohmu itu, Temari-chan"
Temari dan Sasori merupakan teman dekat yang sudah lama saling mengenal, tidak heran mereka berbicara dengan bahasa non formal. Kecuali dalam keadaan yang diharuskan bersikap formal, seperti dalam rapat.
"Maafkan aku Sasori-kun, kali memang tidak sengaja, salah sendiri meletakan puppet dimana saja. Jadi kecelakan ini tidak murni 100 persen kesalahanku. Kau juga terlibat, jadi salahkan juga dirimu yang teledor"
Temari memanyunkan bibirnya sambil bersidekap dengan angkuh. Namun tidak terdengar sanggahan dari seorang Sasori. Malah didetik berikutnya membuat hati Temari berdegub karena sikap perhatian Sasori. Sasori memegang pipi Temari, membersihkan pasir yang menempel dipipinya lalu membersihkan pasir yang menempel dibajunya
"aku sudah tidak mau mendengar alasanmu, kau memang selalu begitu. Mencari alasan agar tidak mau disalahkan." Ungkap Sasori.
Jantung Temari masih berdegub, ia berusaha untuk menghilangkan rasa itu dengan mengudurkan jarak diantara mereka.
"kau kenapa?" tanya Sasori.
"sudah cukup, aku sudah bersih."
Lalu tiba-tiba Sasori membungkam mulut Temari dengan tanggannya lalu menyeretnya ke belakang pohon terdekat tanpa seizin pemilik mulut. Sikap kasar Sasori membuat Temari harus mengingit telapak tangan Sasori yang membungkamnya. Sasori pun segera melepas bungkamannya karena kesakitan.
"Apa-apa'an kau ini, apa kau ingin ku terbangkan hah !"Temari mendecakan pinggang.
Namun Sasori malah menekuk kepala Temari ke bawah dengan tangan kanannya, Sasori juga ikut menekukan kepala sehingga perbandingan tinggi antara mereka dengan pohon yang menjadi tempat persembunyian, lebih tinggi pohon tempat persembunyian yang tingginya sebatas dada orang dewasa.
Saat Temari akan berontak, Sasori telah mensuut, supaya jangan berbicara karena sebentar lagi akan ada orang yang lewat. Setelah diamati ternyata 2 bocah yang selalu tidak pernah lepas dari Gaara, yang selalu berkompetasi mendapat perhatian Gaara, yang selalu membuat Temari ikut campur karena sikap over mereka, yang selalu membuat konsentrasi Temari buyar karena celotehan mereka, mereka adalah Matsuri Si rambut coklat pendek dan Yukata Si rambut hitam panjang.
Mereka terlihat sedang bergelayutan manja di lengan Gaara, Matsuri disebelah kanan, Yukata disebelah kiri. Sementara Gaara yang berada pada posisi tengah hanya diam namun wajahnya menunjukan kesengsaraan seolah mengatakan "tolong aku." .
Temari yang melihat kesengsaraan Gaara menjadi jengah dengan kelakuan 2 bocah yang bergelayutan manja di kedua lengan adik bungsunya, Temari menyingsihkan lengan bajunya ke atas lalu berdiri, namun saat akan melangkah Sasori menarik lengannya lalu menekukan kepalanya seperti tadi.
"Jangan membuat persembunyian kita terbongkar, sudah kita perhatikan saja, kali saja ada informasi menarik yang bisa dijadikan gosip"
"sejak kapan kapan kau menjadi penggosip"
"Suut jangan berisik, nanti ketahuan"
Temari pun diam walau hati sangat kesal dengan kelakuan kurang ajar Sasori. Sikap berikutnya, Temari lebih banyak diam memperhatikan objek pengamatanya.
"Gaara-sensei. apa kau lapar?"tanya Matsuri.
"ah gaara-sensei pasti ingin minum karena sudah lelah berjalan, ia kan Gaara-sensei"
"Tidak, Gaara-sensei pasti lapar bukan ingin minum. Yukata."
"Tidak Gaara-sensei pasti ingin minum, Matsuri"
"Makan"
"Minum"
"Makan"
"Minum"
Terjadi perdebatan antara Matsuri dan Yukata, mereka saling memenangkan apa mereka ucapkan. Dengan perdebatan ini, membuat lengan Gaara bebas. Segera Gaara berjalan bebas meninggalkan 2 bocah - namun lebih pantas disebut Remaja putri- yang sedang adu mulut. Padahal menurut Gaara perdebatan mereka ada benarnya,Gaara sedang kelaparan dan Kehausan. Maka kini Gaara sedang mencari kedai untuk mengganjal perutnya yang sudah bunyi dari tadi, minta untuk cepat diisi supaya diam.
Temari yang melihat itu tersenyum menahan tawa, agar tidak menimbulkan kehebohan. Sementara Sasori lebih terlihat mengeluh, mengeduskan udara singkat dari hidungnya, karena tidak menemukan sesuatu yang menarik yang mungkin bisa menjadi bahan pembicaraan orang banyak, yah mungkin boleh dibilang gosip.
"Matsuri, Matsuri kau mendengar suara cekikikan." Tanya Yukata, namun terlihat Matsuri sedang sibuk menengok ke kanan, kiri, depan, belakang dengan gaya berlebihan. Setelah Yukata sadar bahwa sensei tampannya hilang, Yukata pun ikut mencari seperti gaya Matsuri, membungkuk melacak jejak seperti detektif.
"Huaa Gaara-sama Hilang." Mereka berdua berteriak heboh.
Tapi setelah itu mereka diam, karena datang seorang Konoichi cantik berambut coklat pendek namanya Maki, membisiki sesuatu ke telinga Matsuri. Setelah itu Maki pun berlalu meninggalkan 2 remaja putri yang dilanda cinta.
Matsuri meloncat kegirangan mendengar informasi dari Maki yang menurutnya suatu kabar yang membahagiakan, sikap aneh Matsuri membuat Yukata penasaran, ingin tau apayang dibisikan Maki pada sahabat rivalnya.
"hei hei jelaskan apa yang membuatmu kegirangan."
"Perempuan tua itu sudah tidak akan mengganngu kita lagi. yeahh."
Hanya itu yang keluar dari mulut Matsuri namun belum cukup membuat Yukata paham betul apa maknanya, dan Yukata pun kembali bertanya, berharap lebih mengerti dengan penjelasan berikutnya.
"Apa maksudmu, Matsuri."
"Maksudku Temari-sama akan menikah dengan pemuda Konoha."
Temari diam, berhenti cekikikan, mendengar apa yang dikatakan Matsuri. Kali ini Temari akan memasang kuping baik-baik dengan pendengaran jernih diatas rata-rata, segala bentuk bunyi yang membuat pendengaran tidak jernih diberhentikan dengan cara halus (mensuut/memberi isyarat) maupun kasar (diterbangkan dengan kipas), baik itu hewan maupun manusia, Temari tidak peduli yang penting apa yang inginkannya tercapai.
Dalam detik yang terus berganti per mili detiknya, ketegangan terjadi, suasana yang tidak diharapkan bagi orang-orang yang ditimpa berita buruk terus bermunculan, kekesalan, rasa ingin menonjok, rasa ingin mematahkan leher, rasa ingin membantingkan orang, itu yang dirasakan Temari saat ini. Sementara orang yang bersama Temari, Sasori, sedang berusaha agar tidak membuat Temari tersinggung, dengan kata lain Sasori sedang merinding melihat aura gelap dari seorang perempuan tempramental iblis , maka kini Sasori sedang berusaha mejauhi hal buruk yang mungkin akan menimpanya. Pasalnya, berita ini cukup membuat Temari naik darah, tidak bisa bernafas dengan teratur yang seperti biasanya terjadi, terkadang tangan Sasori dan batang pohon menjadi incaran indah Temari untuk melampiaskan kekesalannya dengan memplintir atau sekedar menekan dengan tenaga kuat.
Matsuri mengabarkan bahwa pihak Konoha dan Sunagakure akan berdiplomasi lagi bahkan makin ingin mempererat hubungan kekerabatan. Pihak Konoha mengajukan permohonan untuk membuat kesepakatan, dan tetua Suna menerima ajuan Konoha dengan kesepakatan bahwa pihak Sunakagure sedang membutuhkan Shinobi ahli strategi yang dimiliki Konoha dan ingin mengambil salah satu Shinobi hebat Konoha dengan mempertalikannya dalam sebuah ikatan pernikahan, itu dinilai efektif untuk memperkembangbiakan Shinobi ahli strategi di wilayah Suna. Jika pihak Konoha mengajukan kandidat seorang Konoichi dari desanya, maka pihak Suna mengangkat kandidat seorang Shinobi tampan dari desanya, begitu pun sebaliknya.
Dan ternyata pihak Konoha mengajukan kandidat Shinobi tampan dan gagah, ahli pembuat strategi yang sudah terkenal dan tidak diragukan lagi, dari klan penjaga rusa, dari seorang generasi Shinobi terdahulu yang kehebatannya masih diakui sampai sekarang oleh negara besar, merupakan generasi orang tua yang sekarang menjadi tangan kanan Hokage yang sangat dipercayakan. Kandidat itu adalah Shikamaru, sedangkan kandidat Suna adalah Temari, perempuan tempramental, Putri yondaime kazekage, pemilik kipas besar, Kakak dari Jinchuriki Ichibi, ahli pasir dan seorang pengguna kugutsu yang mukanya dicoreng dan suka memakai baju hitam, Gaara dan Kankuro.
Namun saat Matsuri akan memberitahukan siapa kandidat terkuat yang akan mendampingi hidup Temari, Temari sudah beranjak dari tempat, pergi menemui tetua untuk memberi perhitungan. Sasori tidak berhasil mencegah kepergian Temari yang sudah menyiapkan kipas ditangan untuk memberi perhitungan dengan sudah memasang mimik muka penuh dendam dan amarah, membuat Sasori lebih memilih untuk mengurungkan niatnya untuk mencegah kepergian Temari.
^-^-^-^-^-^-^-^ This Is Mission That Very Troblesome ^-^-^-^-^-^-^-^
-Shikamaru POV-
Akankah ini berakhir, sebuah penderitaan yang membuat hidupku tidak nyaman, sebuah keterikatan yang membuat hidupku terasa terombang-ambing yang membuat alur hidupku yang sudah dirancang sedemikan rupa musnah begitu saja. Akankah semua itu berakhir, jika 'Ya' kapan itu terjadi, aku ingin cepat-cepat terbebas dari belengu ini, mengakhiri apa yang tidak ada dalam daftar masa depanku.
Nyaman, tentram, sunyi, indah, sejuk, harum, awan, pohon, taman. Semua itu tidak akan pernah kudapat disana. Suasana seperti itu hanya akan menjadi angan-angan panjang tanpa akhir yang selalu kurindukan keberadaannya. Tandus, panas, kering, pasir, kehausan, mungkin itu yang akan kudapat. Sungguh menyedihkan hidupku ini, terombang-ambing dalam kehidupan yang entah akan terbawa ke arah yang mana, tergantung kekuatan angin yang berhembus.
"Ternyata kau ada disini, Shikamaru."
Suara besar dan berat tertangkap oleh kedua daun telingaku yang sedang tertekuk oleh kedua lengan yang bertumpu dibelakang kepala, yang jari-jarinya saling tersimpul. Aku sedang tiduran disebuah atap gedung bertingkat yang menjadi tempat favoritku dan Chouji menenangkan diri sejak kami masih kecil.
Digedung ini, aku pertama kali bertemu dengan Chouji dan ayahnya Choiji, Chouiza. Waktu itu Chouji terlihat murung dan sang Ayah terlihat sedang menenangkan. Saat aku sampai disana dan memberitahukan bahwa tempat ini adalah tempat Favoritku memandang awan, ayah Choiji terlihat senang. Sejak saat itulah aku dan Chouji berteman bahkan bersahabat sampai sekarang.
"Apa ada yang sedang kau pikirkan, Shikamaru?"
Aku melirikan mata kearah orang yang memanggilku, terlihat Chouji sudah duduk disampingku. Aku hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Chouji karena aku sudah bisa menebak bahwa Chouji sudah tau apa yang kupikirkan.
"Aku tau ini berat bagimu, tapi kau dengan tangan terbuka menerima semua ini, aku bangga padamu. Kau tau Shikamaru, semua orang sangat berterimakasih dengan kesediaanmu itu. Ino bahkan sedang berbaik hati memberikan diskon 80% untuk pembeli yang datang ke tokonya selama 2 hari berturut-turut, sebagai ungkapan bahagia bahwa salah satu temannya akan mengakhiri masa lajangnya."
Chouji diam, tidak lagi berbicara. Namun perasaan Chouji sedikit aneh, ia tidak merasakan pergerakan dariku, namun yang Choiji dapat tangkap adalah sebuah denguran halus yang keluar dari mulutku yang sedikit tebuka. Saat melirik kearahku, helaan nafaslah yang Choiji luapkan sebagai ungkapan kekecewan.
"Kau memang selalu begitu, karena ini memang tabiatmu. Aku tau bebanmu sedang banyak, dan tidur merupakan cara untuk menenangkan pikiranmu. Ahhh tidur memang cara yang tepat untuk membuat kita rileks, selamat tidur, Shikamaru"
Chouji ikut dalam acara tidurku, mencoba untuk bersikap tenang ketika menghadapi masalah, seperti aku. Kami berdua berselonjor, menyimpulkan tangan dibelakang kepala, menghadap kearah awan putih yang berkumpul, berjalan sesuai irama yang mengalun.
Minggu depan akan menjadi hari yang merepotkan bagi Shikamaru, hari dimana Shikamaru ingin berlari, menjauh, pergi, sebebas-bebasnya seperti burung yang keluar dari sangkarnya, terbang ke banyak wilayah tanpa ada seseorang yang menghalangi jalannya.
.
.
.
Bersambung
.
.
Akhirnya beres juga, tapi sayang cerita masih bersambung. Yah yah gimana atuh, karena memang harus begini ceritanya saudara-saudara. Harap saudara-saudara tenang, dan lampiaskan kekesalan itu di Review, tapi jangan ngeri-ngeri yah, nanti si aku pundung gak mau bikin cerita lagi, yah boleh dibilang aku orang yang cengeng. Hehe
.
.
Thanks udah baca ceritaku yang mungkin sedikit membingungkan para saudara-saudara.
Author junior ini masih perlu bimbingan para senpai-senpai dalam meningkatkan kualitas cerita. Di terima segala bentuk review yang mengkritik, memberi saran, bahkan yang ngeflame sekali pun, namun kalau bisa dengan bahasa yang halus, agar enak dihati saya dan para saudara-saudara, dan segala bentuk masalah pun dapat terhindari.
Salam persahabatan dari Author junior yang masih perlu bimbingan. (^_^)/V
.
.
oh, yah buat Awitway A.M insyaallah saya usahain masukin pair Naruhina, Inosai, Nejiten. tapi mungkin tidak terlalu eksplisit, karena secara garis besar cerita ini berpairing Shikatema, nanti takut dibilang tidak konsisten lagi dalam ceritanya. hehe (buat jaga-jaga). Terimaksaih udah Review ^_^
