REMAKE SLEEP WITH THE DEVIL BY SANTHY AGATHA

.

.

.

Suasana yang hingar bingar membuat Minseok mengeryitkan matanya. Dia tidak suka suasana ramai dan menyesakkan seperti ini. Dia merindukan kamarnya, kamar tenang yang damai, tempat dia bisa duduk dan membaca sambil mendengarkan musik sayup-sayup.

Tapi musik yang sangat keras ini hampir melampaui batas toleransinya, ingin rasanya dia pergi dari tempat ini, tapi dia tidak bisa. Lelaki itu, lelaki jahat itu – menurut sumber yang dia dengar akan datang ke tempat ini beberapa saat lagi.

Minseok mencoba menarik turun rok hitam pendeknya yang mulai terasa tidak nyaman. Seragam waitress ini amat sangat tidak nyaman, dengan belahan dada yang begitu rendah dan rok yang begitu pendek, Minseok seperti dipaksa menyamar menjadi orang yang tidak dikenalnya. Tetapi bukankah itu memang tujuannya? Dia tidak ingin lelaki itu mengenalnya, meskipun hal itu sepertinya tidak perlu ditakutkannya, mereka hanya pernah bertemu satu kali, pada pertemuan singkat yang tak disengaja, saat lelaki itu menemui ayahnya di ruang kerjanya. Saat itu penampilan Minseok tidak seperti sekarang, rambutnya masih panjang dengan kacamata berbingkai tebal membingkai wajahnya, bajunya tertutup dan sopan, beda sekali dengan sekarang.

Minseok mengernyitkan matanya lagi, aku benar-benar berpenampilan seperti perempuan murahan, desahnya.

Suara berisik dari arah pintu masuk mengalihkan perhatian Minseok, matanya mencari-cari dan itu dia! Lelaki itu ada disana, dengan kedatangannya yang begitu heboh dikelilingi banyak sekali bodyguard berbadan kekar. Tanpa sadar Minseok mendengus, yah karena dia lelaki jahat yang suka menyakiti orang, dia pasti punya banyak musuh yang ingin membunuhnya.

Dengan penaMin n Minseok menjinjitkan kakinya, berusaha melihat dengan jelas sosok lelaki itu, Luhan. Sosok yang ditakuti dalam dunia bisnis karena tidak segan-segan menggilas siapapun yang menghalangi jalannya. Siapapun yang berani melawan Luhan, akan berakhir dalam tragedi. Seperti ayahnya, seperti seluruh keluarganya. Desah Minseok pahit.

Dulu keluarga Minseok adalah keluarga berada, ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di bidang konversi kelapa sawit, kebun mereka ada berhektar-hektar di luar pulau, dan mereka sangat kaya. Bagi Minseok keluarga mereka adalah keluarga bahagia, meskipun ibunya adalah wanita lemah yang sakit-sakitan, tapi selain itu dia adalah ibu yang sempurna.

Pikiran Minseok menerawang di saat-saat bahagia itu, saat dia, ayahnya dan ibunya berkumpul bersama di meja makan, menyantap Min pan pagi yang dibuatkan ibunya dengan penuh cinta, Ayahnya akan bercerita tentang pengalaman-pengalaman dalam perjalanan bisnisnya, dan ibunya akan menatap sang ayah dengan tatapan memuja. Semua terasa begitu bahagia, semua terasa begitu sempurna.

Sampai kemudian Luhan datang dalam kehidupan mereka. Luhan tertarik dengan perkembangan pesat bisnis ayah Minseok, dan berpikiran untuk menjalin suatu hubungan kerjasama. Pada awalnya ayahnya tidak tertarik, dia sudah cukup puas dengan bisnis yang dijalankannya sendiri. Tapi Luhan tidak menyerah, dengan berbagai cara dia berusaha mendekati ayahnya. Dan entah kenapa ayahnya akhirnya menyerah ke dalam kuasa Luhan, kuasa iblis kegelapan yang ketika mencengkeram tidak akan melepaskannya lagi.

Luhan menghancurkan keluarganya secara harfiah, entah kenapa kepemilikan ayahnya atas bisnis itu dimentahkan begitu saja, semuanya diambil oleh Luhan dan dikendalikan di bawah tangannya. Ayahnya tidak punya hak apa-apa lagi selain jatah bulanan untuknya dan keluarganya.

Keluarga Minseok jatuh miskin seketika. Rumah mewah mereka disita paksa, mereka harus pindah ke rumah mungil sederhana, berusaha memenuhi kebutuhan sendiri, tanpa pelayan-pelayan yang biasanya selalu siap sedia melayani kebutuhan mereka.

Minseok kuat menanggung itu semua. Tetapi ibunya tidak. Ibunya dari kecil terbiasa bergelimang kekayaan, seperti putri raja. Sampai menikah dengan ayahpun, ayah terbiasa memperlakukannya seperti ratu dengan banyak pelayan yang mengelilinginga. Ibunya sudah hancur ketika dipaksa memasak sendiri dengan tangannya yang rapuh dan tidak terampil itu – karena tidak pernah memasak seumur hidupnya. Dan makin hancur ketika mereka makin miskin, makin menderita. Akhirnya penderitaan itu tak tertanggungkan lagi bagi ibunya, dia mulai sakit-sakitan… semakin kurus, semakin sering menangis di malam-malam sepi. Lalu suatu pagi, ibunya meninggal begitu saja.

Minseok masih ingat ketika dia berdiri di samping ayahnya yang membeku, menatap wajah ibunya yang kurus dan pucat, ekspresinya seperti tertidur, dan merasa sedih, karena menyadari kenyataan bahwa ibunya mungkin lebih bahagia sekarang setelah meninggal dunia.

Sepeninggal ibunya, Ayahnya hancur. Hancur total. Dia mulai bermabuk-mabukan, kadang berteriak-teriak dan menangis sendirian di malam-malam sepi, lalu pada suatu hari, ayahnya mengendarai mobil mereka, satu-satunya harta mereka yang masih tersisa, dan menabrakkan diri pada tembok pembatas jalan hingga mobil itu terguling beberapa kali, dan ayahnya tewas seketika di tempat. Polisi mengatakan bahwa kandungan alkohol di darah ayahnya sangat tinggi, hingga dapat dikatakan, ayahnya lah yang membunuh dirinya sendiri.

Minseok sebatang kara. Dan rasa dendam yang terpendam dalam hatinya makin menyeruak setelah kematian kedua orangtuanya. Semua ini berakar dari Luhan. Sejak lelaki itu muncul di keluarganya, semuanya hancur dan musnah. Minseok harus membalas dendam, dengan cara apapun, untuk membalaskan kesedihan ibunya, dan kematian sia-sia ayahnya.

Sejak itu, dia menyelidiki semua hal tentang Luhan, dimana dia tinggal, bagaimana jadwalnya, apa kesukaannya. Semua informasi itu dikumpulkannya baik-baik dan disusunnya. Ketika Minseok mendapat informasi, bahwa Luhan sering menghabiskan waktunya dengan kekasih-kekasihnya di klub kelas atas ini, klub Azalea. Tanpa pikir panjang, Minseok meninggalkan pekerjaannya sebagai guru di taman kanak-kanak, pindah dari tempat tinggalnya dan melamar sebagai waitress di sini.

Semua butuh pengorbanan, Minseok menyadari bahwa pembalasan dendam butuh pengorbanan besar, Seperti ketika dia harus berdandan sebagai wanita murahan dengan rok mini dan baju seksi, kadang malam demi malam harus menahan diri dari siksaan kegaduhan dan hingar bingar musik, ataupun harus menahan hati karena banyaknya lelaki-lelaki genit yang selalu berpikir bahwa dia wanita murahan yang bisa dibeli.Semua butuh pengorbanan, mahal harganya. Tapi Minseok merasa itu akan sebanding dengan kepuasan yang akan dia dapatkan nanti, kepuasan untuk membunuh lelaki itu dalam siksaan menyakitkan, seperti yang dilakukan lelaki itu pada ayah dan ibunya.

Dia sudah mengoleskan racun yang tidak akan terdeteksi, di dasar gelas yang sudah disiapkan khusus untuk Luhan malam ini. Luhan tidak mau menggunakan gelas yang sama dengan orang lain. Gelasnya ekslusif, khusus hanya dipakai dirinya, dan tadi siang ketika berpura-pura membersihkan bar, Minseok menyelinap ke tempat penyimpanan khusus itu dan mengoleskan racun yang tidak terdeteksi ke gelas tersebut. Seteguk saja minuman dari gelas yg sudah diolesi racun itu ditelan oleh Luhan, maka seluruh dendamnya akan terbalaskan.

.

.

.
Luhan merasa muram malam ini. Entah kenapa. Dia sedang ingin menghajar seseorang, atau kalau perlu, membunuh seseorang. Malam ini dia datang ke klub bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk mencari masalah. Dengan dikelilingi para bodyguardnya yang selalu siap menjaganya, meskipun sebenarnya tidak perlu, karena Luhan menguasai beberapa keahlian bela diri. Tetapi ketika kau punya uang banyak, memang lebih baik jika kau membiarkan orang lain melakukan segala sesuatunya untukmu.

Pemilik klub sendiri yang menyambutnya. Tentu saja, mengingat betapa besar hutangnya kepada Luhan . Dengan tergopoh-gopoh lelaki gendut itu menggiringnya ke kursi VIP terbaik,

"Anda bisa memilih siapapun untuk menemani anda." gumam si pemilik Klub dengan nada menjilat.

Luhan menatap ke sekeliling dengan tak berminat, menatap semua perempuan disana yang hampir- hampir seperti semut mengelilinginya, dengan tatapan berharap untuk dipilih. Terlalu murahan. Gumamnya dalam hati, semua manusia di dunia ini murahan dan penjilat.

Luhan memutuskan tidak memilih siapapun, ketika tatapan matanya terpaku pada perempuan itu. Perempuan yang tampak salah tempat di klub malam mewah ini. Mengenakan baju luar biasa sexy tetapi tampak tidak nyaman di dalamnya.

Tanpa sadar seulas senyum jahat muncul di bibirnya,

"Aku mau dia." gumamnya sambil menunjuk perempuan itu.

.

.

.

"Aku mau dia."

Kalimat itu diucapkan dengan nada malas yang tenang, tetapi gaungnya terdengar ke seluruh ruangan. Entah kenapa suasana hiruk pikuk itu menjadi hening. Dan Minseok merasakan semua tatapan tertuju padanya. Pada dia yang sedang bersandar di meja bar, sibuk dengan pikirannya sendiri.

Dengan gugup Minseok menegakkan tubuhnya, berusaha membalas tatapan mata semua orang, lalu matanya terpaku pada mata itu, mata cokelat pucat sehingga nyaris bening, menyebabkan pupil matanya tampak begitu hitam dan tajam.

"Cepat kesana. Dia menginginkanmu." sang bartender yang berdiri di belakangnya berbisik kepadanya, seolah takut kalau Minseok tidak cepat-cepat menuruti keinginan Luhan , akan berakibat fatal.

Minseok mengernyit pada Luhan , mencoba menantang mata laki-laki itu, yang masih menatapnya dengan begitu tajam tanpa ekspresi.

"Apakah...apakah..." Minseok berdehem karena suaranya begitu serak, "Apakah anda ingin dibawakan minuman?"

Luhan hanya menatapnya beberapa saat yang menegangkan, lalu menganggukkan kepalanya.

"Bawakan satu, minumanku yang biasa."

Secepat kilat sang bartender meracik minuman kesukaan Luhan , minuman yang biasa. Tangan Minseok gemetar ketika menerima nampan minuman itu. Sedikit lagi Minseok...gumamnya mencoba menyemangati dirinya sendiri. Sedikit lagi semua dendammu akan terbalaskansedikit lagi….

Minseok mengucapkan kata-kata itu bagaikan doa, dengan langkah gemetar dia mendekati Luhan yang duduk bagaikan sang raja, menunggunya.

Diletakkannya gelas itu di meja depan Luhan , semoga kau lekas meminumnya dan lekas mati. Doa Minseok dalam hati.

Tetapi sepertinya Tuhan masih menginginkan Luhan hidup, karena lelaki itu terlihat tidak tertarik untuk menyentuh minumannya.

Matanya malahan tertuju pada Minseok dan memandangnya tajam.

"Duduk." Luhan menjentikkan jarinya. Melirik tempat di sebelahnya.

Sekujur tubuh Minseok mengejang menerima perintah yang begitu arogan, tanpa sadar matanya memancarkan kebencian, siapa lelaki ini berani-beraninya memerintahnya seperti ini?

Ketika Minseok termenung, seorang waitress lain dengan gugup mendorongnya supaya duduk, menuruti permintaan Luhan , sehingga dengan terpaksa Minseok duduk di sebelah Luhan .

"Siapa namamu?" Luhan menatap tajam ke arah Minseok, sama sekali tidak melirik gelas minuman di mejanya.

Minseok sudah siap dengan pertanyaan ini, nama samarannya, "Minjung" Jawabnya kaku.

Luhan mengernyit menatapnya dengan seksama, lalu jemari panjang itu tiba-tiba terulur dan menarik dagu Minseok mendekat, supaya dia bisa mengamati wajah Minseok dengan cermat,

"Aku tidak pernah melihat wajahmu sebelumnya di sini."

"Eh...dia...dia pegawai baru kami tuan Luhan , maafkan ketidaksopanannya, saya belum pernah mengajarinya bagaimana membawakan minuman untuk tamu sepenting anda," sang pemilik klub menyela dengan gugup, wajahnya tampak cemas melihat Minseok melayani tamu pentingnya dengan setengah hati. Dengan pandangan memarahi dia memperingatkan Minseok, "Ayo Min perkenalkan dirimu kepada tuan Luhan , tuan Luhan telah memilihmu untuk menjadi pelayan minumannya, itu merupakan suatu kehormatan untukmu, harusnya kau berterima kasih."

Perintah itu membuat Minseok menegakkan dagunya dengan angkuh.

"Saya sudah memperkenalkan diri saya, dan saya sudah membawakan minuman untuk tuan Luhan yang terhormat, karena itu saya akan pergi." jawab Minseok ketus, sambil beranjak dari tempat duduknya, toh misinya sudah tercapai, Gelas minuman beracun itu sudah ada di meja Luhan , dan sebentar lagi Luhan akan mati karena sesak napas.

Tetapi sebelum Minseok sempat berdiri, Luhan meraih jemarinya dan menariknya kencang, supaya terduduk lagi, kali ini di pangkuan Luhan .

"Apa… apaaan…." Suaranya terhenti ketika bibir yang keras dan dingin itu tiba-tiba melumat bibirnya, Minseok memberontak ketika menyadari bahwa Luhan sedang memagut bibirnya dengan ciuman yang basah dan panas.

Ciuman itu sungguh tak sopan karena bibir dingin Luhan tanpa permisi langsung memagut bibirnya, melumatnya tanpa ditahan-tahan, lidahnya langsung meyeruak masuk merasakan keseluruhan diri Minseok, menghisapnya, menikmatinya dan menggilasnya tanpa ampun.

Sekujur tubuh Minseok terasa terbakar, panas karena amarah dan demam kerena gairah. Lelaki ini sudah jelas-jelas sangat ahli ketika mencumbu perempuan, sehingga Minseok yang belum berpengalamanpun terbawa oleh gairahnya, mengalahkan kebenciannya. Tetapi pikiran bahwa lelaki ini telah memanfaatkan begitu banyak wanita demi memuaskan rasa arogan dan kekuasaannya membuat Minseok merasa muak, dan tiba-tiba muncul kekuatan dari dalam dirinya untuk mendorong laki-laki itu menjauh, dan menamparnya sekuat tenaga.

Plakk!

Suasana di klub itu menjadi sangat hening. Luar biasa hening. Bahkan musik yang hiruk pikuk itupun terhenti karena semua orang berhenti melakukan aktivitasnya dan menatap ke arah Minseok, yang berdiri dengan terengah-engah berhadapan dengan Luhan yang membatu duduk di sofa VIP nya.

Sedetik kemudian, sebuah tangan kasar mencengkeram lengan Minseok, begitu menyakitkan hingga membuat Minseok menjerit,

"Kurang ajar kau! berani-beraninya memukul Tuan Luhan ." teriak sebuah suara berat dan kasar, Minseok menoleh dan mendapati dirinya ditelikung oleh lelaki berbadan besar yang sepertinya salah satu bodyguard Luhan .

Lengan lelaki itu yang besar dan kuat menahannya sampai tangannya terasa kaku dan sakit. Tapi Minseok tidak menyerah, dia meronta sekuat tenaga, mencakar, menggigit lengan yang tetap terasa sekeras batu itu. Napasnya terengah-engah dan wajahnya merah padam menahan amarah dan rasa malu karena sebagai perempuan kekuatannya begitu tak berdaya menahan dominasi kekuatan laki-laki.

"Lepaskan dia." suara dingin Luhan terdengar di keheningan.

Orang-orang masih diam menunggu, memusatkan perhatian kepada apa yang akan dilakukan lelaki yang terkenal luar biasa kejam itu pada perempuan yang berani menamparnya.

Seketika itu juga, bodyguard Luhan yang berbadan kekar melepaskan Minseok, membuatnya hampir terjatuh karena kelelahan meronta-ronta.

Mereka berdiri berhadap-hadapan di bawah tatapan mata banyak orang yang menanti. Luhan yang masih berdiri dengan wajah dingin tak berekspresi sambil mengusap pipinya, bekas tamparan Minseok.

"Berapa hargamu?" suara Luhan terdengar tenang dan dingin,

Mata Minseok membelalak, harga? Apa yang dibicarakan lelaki ini? Matanya melirik ke gelas minuman Luhan yang sudah diracuninya di meja. Semuanya berantakan, serunya menahan kekesalan pada dirinya sendiri. Semua gara-gara dia tidak bisa menahan kebenciannya. Seharusnya ketika Luhan melecehkannya dia bisa menahan diri dan berpura-pura menjadi perempuan gampangan, seharusnya dia mau berkorban menahan perasaannya. Setidaknya ketika dia menurut, Luhan mungkin akan merasa senang dan lengah, lalu meminum minumannya itu dan mati. Tetapi sekarang semua sudah terlambat, Luhan tampak tidak tertarik lagi pada minumannya dan tertarik sepenuhnya kepada Minseok. Lagipula Minseok tidak bisa berpura-pura menyukai Luhan , kebenciannya terlalu dalam pada lelaki itu.

Kahi, primadona di bar ini mendekati Luhan dengan tatapan merayu, dialah yang biasanya dipilih Luhan untuk menemani lelaki itu minum ketika Luhan berkunjung, dan sekarang hatinya dipenuhi kecemburuan karena Luhan tampak begitu tertarik kepada anak baru itu. Padahal kalau dilihat dari kecantikannya, anak baru itu jauh lebih jelek daripada dirinya,

"Sudahlah Luhan ," Kahi menyentuhkan tangannya di kerah baju Luhan , "Perempuan jelek itu tidak akan bisa memuaskanmu, lebih baik biarkan aku yang menemani,,,,, aduhhh!"

Kahi mengaduh karena Luhan merenggut tangannya yang meraba kerah baju Luhan . Jemari Luhan mencengkeramnya dengan kekuatan tak ditahan-tahan lagi, menyakitinya hingga terasa menusuk ke tulang,

"Menyingkir." gumam Luhan dengan tatapan membunuh pada Kahi, lalu menghempaskan tangan Kahi dengan kasar sehingga tubuh Kahi terdorong menjauh. Sambil meringis menahan sakit dan ketakitan. Kahi lekas-lekas menjauh.

"Nah," Luhan memusatkan mata dinginnya kembali ke Minseok, "Katakan berapa hargamu, dan aku akan membayarnya."

.

.

.
Aku harus memiliki perempuan ini.

Luhan memutuskan dalam hati. Aku harus memilikinya segera.

Tuhan tahu dia sudah berusaha menyelamatkan perempuan ini. Tetapi entah kenapa perempuan satu ini memiliki tekad yang kuat untuk mencelakainya, hingga lupa bahwa dia sudah menantang lelaki paling berbahaya.

Mata Luhan melirik gelas yang diletakkan Minseok di mejanya, dia tahu kalau dia diracuni. Minseok terlalu tidak berpengalaman dalam usaha pertamanya membunuh orang. Tangannya gemetaran dan matanya gugup, berkali-kali melirik ke gelas minuman itu. Dan juga nama palsu yang menggelikan itu. Minseok bahkan tidak menyadari bahwa penyamarannya sudah terbongkar dari awal.

Sebenarnya tadi Luhan memutuskan untuk menertawakan Minseok diam-diam, dengan pura-pura akan meminum minuman beracun itu. Tapi bibir ranum itu, dan penampilan Minseok yang luar biasa seksi memunculkan sisi iblis dalam dirinya, sisi Iblis yang kehausan.

Mungkin sudah waktunya perempuan yang satu ini menerima pelajaran atas kenekatannya,

.

.

.
Minseok tertegun marah mendengar pelecehan Luhan atas dirinya. Berapa harganya? Hah! Dia pikir dia raja yang bisa membeli apa saja yang dia mau?

Lelaki iblis ini harus diajari, bahwa meskipun banyak perempuan yang bertekuk lutut di kakinya dan memohon-mohon untuk dimilikinya, ada perempuan yang tidak sudi disentuh olehnya.

Dengan marah Minseok mendongakkan dagunya menantang Luhan ,

"Saya lebih memilih mati daripada menjual diri kepada anda." gumamnya kasar

Suara di seluruh klub itu langsung dipenuhi dengungan gelisah menanti rekasi Luhan .

Tidak disangka-sangka Luhan tersenyum. Lalu melirik ke arah bodyguardnya,

"Tidak ada sesuatupun yang bisa menolak kalau aku ingin memilikinya." gumamnya datar dan memberikan isyarat tangannya kepada para bodyguardnya.

Semuanya berlangsung cepat, Minseok tidak sempat lari ataupun panik, karena tiba-tiba bodyguard Luhan yang berbadan paling besar, merenggutnya kasar, mengangkatnya kasar lalu membantingnya di pundaknya seperti sekarung beras

Sekejap dipenuhi rasa pusing karena posisi kepalanya dibalik mendadak, Minseok tersadar bahwa dia sudah diangkat keluar dari klub itu. Sekuat tenaga Minseok mencoba memberontak, Tangannya memukul-mukul punggung bodyguard itu dan kakinya menendang-nendang keras sambil berteriak-teriak menahan marah dan frustasi.

Tetapi tubuh bodyguard itu sekeras batu, tidak bereaksi atas pemberontakan Minseok.

Percuma meminta tolong, karena Minseok yakin tidak akan ada yang berani menolongnya, semua pengunjung klub yang pengecut itu hanya menatap kejadian di depan mereka dengan muka bodohnya, Sang pemilik Klub masih memandang takjub Luhan yang melenggang dengan santai meninggalkan ruangan dengan Minseok yang meronta-ronta dan menjerit-jerit dalam gendongan bodyguardnya.

.

.

.
Sesampainya di tempat parkir Minseok diturunkan, sedetik setelah dia diturunkan, Minseok berlari sekuat tenaga berusaha menjauh, tetapi baru beberapa langkah, tangan sekeras batu itu menangkapnya lagi.

Minseok meronta tapi tak bisa berontak, frustasi, dia menggigit sekuat tenaga tangan yang mendekapnya itu. Sang bodyguard mengaduh sambil mengumpat-umpat, sedangkan Luhan hanya menatap kegaduhan di depannya sambil terkekeh geli.

Minseok mencoba berontak, menggigit dan menendang sampai kelelahan, dia menatap Luhan terengah-engah dengan pandangan penuh kebencian, masih dalam cengkeraman kuat tangan bodyguard Luhan .

Luhan membalas tatapannya dengan senyum manis yang jahat,

"Kalau kau berjanji mau bersikap baik, mungkin aku akan menawarimu tempat yang nyaman, di sebelahku di dalam mobil."

"Mati saja kau!" sembur Minseok penuh kemarahan.

Luhan terkekeh lagi,

"Oke, kau yang minta." dengan isyarat anggukan kepala Luhan memerintahkan para bodyguardnya,

"Masukkan dia ke bagasi."

.

.

.

TBC