The Housekeeper

Main Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Se Hoon,

Other Cast : Xi Luhan, Kim Jongin, Do Kyungsoo

Pairing : Chanbek, Hunhan, Kaisoo

Genre : Romance, friendship, family

Rating : T


TOK...TOK...TOK

Ketukan nyaring tersebut terdengar sampai ke telinga lelaki yang masih setia bergumul dengan selimut hangatnya, tetapi lelaki tersebut tidak menghiraukan sama sekali ketukan yang semakin lama semakin menggema tersebut.

BRAK

"Chanyeol! Ayo antarkan aku ke sekolah" seorang pria berseragam sekolah membuka paksa pintu kamar Chanyeol –lelaki tersebut-, karena tidak mendapat jawaban lalu ia melompat ke atas ranjang Chanyeol yang sedang tertidur dan mengguncang-guncangkan tubuh lelaki itu.

"Chan ayo Chan ayo, jika kau tidak mau mengantarku nanti aku akan telat" Merasa di abaikan lantas pria berumur 17 tahun itupun mencari akal supaya bisa membuat laki-laki itu terbangun. Setelah terdiam cukup lama Baekhyun –pria itu- segera memencet hidung Chanyeol dengan kuat.

"Akkh! Apa yang kau lakukan? Itu sangat sakit!" Chanyeol lantas langsung terduduk dan mengelus-elus hidung kesayangannya yang mulai memerah tersebut.

"Ayo antarkan aku ke sekolah"

"Tidak mau"

"Ayolahh. Aku janji, aku yang akan mencuci piring setelah makan malam selesai"

"Kau yakin?" "Hmm"

"baiklah, ayo kita berangkat" Chanyeol segera menyambar jaket bercorak tentara yang tergantung disamping lemarinya dan mengambil kunci motor yang tergeletak di nakas samping tempat tidurnya.

"Kita pakai motor?" Tanya Baekhyun sambil menatap Chanyeol heran.

"Tentu saja. Ada masalah?" Chanyeol membalas menatap Baekhyun heran.

"Jika aku bilang itu masalah?"

"Baiklah, kita akan menggunakan mobil" Chanyeol memutar kedua bola matanya sebal lalu mengganti kunci motor tersebut dengan kunci mobil yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya.

...

Baekhyun

Aku melangkahkan kakiku tergesa-gesa di koridor sekolah. Ini sudah jam 07.15. Itu tandanya aku sudah terlambat 15 menit, jika saja tadi Chanyeol tidak menyogok satpam di depan sekolahku, mana mungkin satpam itu akan membukakan gerbang sekolah untukku.

Aku memperlambat langkahku saat mengetahui aku sudah hampir sampai di depan kelasku. Hei! Kalian tau? Kelasku masih sangat ramai dan berisik, itu tandanya jam pelajaran belum di mulai. Aku mencoba mendongakkan kepalaku saat sudah sampai di depan pintu kelas dan yeah aku benar kelasku benar-benar berisik.

"Kau terlambat?"

Oh ayolah aku baru saja mendudukan bokongku di bangku kesayanganku dan Luhan langsung bertanya seperti itu, bukankah sudah jelas bahwa aku memang terlambat.

"Tidak, aku hanya hampir terlambat"

"Oh ya?" Luhan memajukan bangkunya mendekat ke arahku.

"Kau menyebalkan. Kau sudah tau jawabannya kenapa masih bertanya"

"Oke oke" Luhan memutar badannya ke arah papan tulis.

"Pr matematika. Kau sudah?" Luhan kembali memutar badannya menghadap ke arahku yang duduk di sampingnya. Maksudku kami sebangku. Tunggu dulu! Apa dia bilang? Pr matematika?

"Kau bercanda?"

"Tidak. Aku serius, jangan bilang kau belum mengerjakannya?"

"Tendang aku jika aku sudah mengerjakannya" Aku menghela nafas pasrah. Bagaimana bisa aku lupa mengerjakan pr matematika itu tadi malam.

"Ya! Bagaimana bisa kau lupa mengerjakannya? Kau tahu kalau guru Ahn jika marah seperti apa? Bersiap-siaplah menjadi murid kesayangannya. Memangnya tadi malam apa yang kau lakukan sampai-sampai kau lupa mengerjakan pr seperti ini? Tidak biasanya kau seperti ini. Lal-"

"Tutup mulutmu sebelum aku memanggil sehun untukmu!" Aku memutar kedua bola mataku sebal. Pagi-pagi seperti ini aku sudah di jejalkan ocehan si Luhan.

"Dasar licik! Mengancamku dengan Sehun."

"Dengar, aku baru kali ini tidak mengerjakan pr matematika, jadi mana mungkin secepat itu aku akan menjadi murid kesayangannya guru Ahn, uhh memikirkannya saja sudah membuat perutku mual. Lalu soal apa yang ku kerjakan tadi malam sampai lupa mengerjakan pr itu karena Chan-" Hampir saja aku menyebut nama Chanyeol. Eh Chanyeol?!

Aku sontak mendelik hebat saat mengingat kejadian tadi malam yang membuatku melupakan pr matematikaku. Ini semua karena Chanyeol yang mengatakan padaku bahwa dia akan pulang terlambat karena ada kelas malam di sekolahnya dan terlebih lagi aku sangat penakut jika sudah di tinggalkan sendirian di rumahku yang sangat besar tersebut.

Jadi aku memutuskan untuk menunggu Chanyeol di teras depan rumahku sampai Chanyeol benar-benar pulang. Dan sialnya Chanyeol tidak mengatakan bahwa dia akan benar-benar pulang larut malam, jadi aku tertidur di teras depan rumahku sambil memeluk tubuhku yang kedinginan dan bajuku yang mulai sedikit basah.

Tolong jangan ingatkan aku lagi pada kejadian tadi malam. Itu membuatku ingin mencekik Chanyeol saat itu juga. Jika saja aku tidak lupa dengan kejadian tadi malam mungkin Chanyeol akan habis pagi ini.

"Chan siapa?" Tanya Luhan heran. Ah aku hampir saja melupakan Luhan sahabatku yang super manis ini.

"Bukan siapa-siapa. Aku tadi hanya salah bicara"

"Benarkah? Sepertinya aku pernah mendeng-"

Luhan menghentikan perkataannya saat melihat guru Ahn mulai memasuki kelas.

Setidaknya karena kedatangan guru Ahn aku jadi selamat dari pertanyaan-pertanyaan yang akan di lontarkan oleh Luhan kepadaku. Tapi jangan lupakan pr matematikaku yang belum aku kerjakan sama sekali. Matilah aku.

...

Author

Chanyeol melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sehabis dari mengantar Baekhyun tadi Chanyeol langsung di telpon oleh sekretarisnya yang memintanya langsung ke kantor karena ada clien yang tiba-tiba memajukan waktu rapat mereka.

Tentu saja itu membuat Chanyeol mengeluarkan sumpah serapahnya sepanjang perjalanan. Bagaimana tidak? Dia bahkan belum mandi pagi, jangan kan mandi mencuci mukapun dia tak sempat tapi setidaknya dia tidak lupa untuk menggosok gigi –tadi malam. Belum lagi hari ini dia mempunyai kelas pagi yang mau tidak mau harus dia lewati.

Jangan salahkan Chanyeol yang belum bisa membagi waktunya, ia masih remaja yang seharusnya masih bisa bersantai dan bersenda gurau bersama teman laki-laki lainnya. Bukan duduk bersama tumpukan berkas yang menunggu giliran untuk dia tanda tangani dan memimpin rapat yang –menurutnya- sangat menegangkan.

Chanyeol memarkirkan mobil sport berwarna merah miliknya di parkiran depan. Dengan tergesa-gesa dia memasuki gedung mewah kantor miliknya dan segera di sambut dengan cengiran seorang wanitaberwajah oriental.

"Ah Chanyeol kau sudah sampai?" Chanyeol hanya tersenyum masam kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.

"Hey hey ayolah, aku sedang berbicara denganmu tuan Park dan uhh kau sangat bau" Wanita tersebut mengikuti Chanyeol sampai ke ruangannya dan berceloteh tidak jelas.

"Ya! noona, ini semua gara-gara kau selalu saja memberitahuku secara mendadak, sekretaris seperti apa itu" Chanyeol menjatuhkan dirinya di sofa tak jauh dari tempat wanita yang lebih tua darinya itu berdiri, kemudian mengambil minuman kaleng yang ada di kulkas mini yang terletak di samping sofa yang dia duduki.

"Ya! Selalu saja menyalahkanku, salah sendiri kau tidak mengaktifkan ponselmu tadi malam, jika saja kau orang lain sudah ku pukul kepalamu" jawab wanitaitu dengan menggebu-gebu, Chanyeol hanya memutarkan kedua bola matanya malas dan mendecih sebal.

"Serin noona siapkan aku air panas, aku ingin mandi" ucap Chanyeol kemudian menatap wanita yang berdiri di depannya dengan cengiran andalannya.

"Sialan kau bocah pantas badanmu sangat bau, tunggu disini jangan berkeliaran kemana-mana kerena 15 menit lagi rapat akan di mulai" wanita itu mendengus sebal kemudian berjalan ke kamar mandi yang ada di ruangan tersebut.

Chanyeol hanya tertawa kecil karena berhasil membuat kakak sepupunya yang menjabat sebagai sekretarisnya itu marah. Ah iya Serin adalah kakak sepupu Chanyeol yang lebih tua 3 tahun dari Chanyeol. Sebenarnya Serin bisa saja menjabat sebagai direktur di perusahaan milik ayahnya sendiri hanya saja dia lebih nyaman bekerja di perusahaan ayahnya Chanyeol yang merupakan kakak kandung dari ayahnya Serin.

Ngomong-ngomong soal Chanyeol yang menggantikan ayahnya menjadi direktur itu karena ayahnya Chanyeol sudah meninggal dua tahun yang lalu karena penyakit jantung yang di deritanya, tapi Chanyeol baru beberapa bulan ini menjabat sebagai direktur karena sebelumnya ayahnya Serin lah yang mengambil alih perusahaan ayahnya tersebut di karenakan Chanyeol belum memasuki umur yang cukup untuk menjabat sebagai direktur.

Kalian pasti bertanya-tanya mengapa bukan ibunya Chanyeol saja yang mengambil alih perusahaan tersebut? Hey ayolah siapa yang tidak kenal ibunya Chanyeol? Dia seorang desaigner sekaligus pemilik butik terkenal di korea –bahkan Baekhyun pernah memakai baju buatan ibunya Chanyeol, eh tentu saja dia tidak tahu kalau itu ibunya Chanyeol. Karena kesibukannya tersebut dia jadi tidak bisa mengambil alih perusahaan suaminya tersebut dan akhirnya adik dari suaminya lah yang mengambil alih perusahaan tersebut.

"Ck! kenapa Serin noona lama sekali" Chanyeol menggumam kecil, kemudian berbaring di sofa sambil menerawang ke atas. Tiba-tiba Chanyeol teringat kontrak yang sudah dibuatnya dengan ibunya Baekhyun. Lalu, Chanyeol tersenyum tipis dan sangat manis.

'Saat itu, aku tidak percaya aku berani mengatakannya'

...

Kantin.

Tempat satu-satunya yang akan di gunakan 3 anak yang bisa di bilang kelaparan ini mencari makan. Jika saja ada tempat selain kantin mungkin mereka akan lebih memilih tempat itu, bagaimana tidak? Lihat lah kantin ini begitu padat.

"Sehun, kau kan laki-laki. Bagaimana kalau kau yang mengantri sedangkan aku dan Luhan menunggu di sini yayaya?" Baekhyun mencoba merayu sehun supaya mengantri makanan untuk mereka bertiga, dia benar-benar malas hanya untuk sekedar berdiri saat ini. Apalagi harus mengantri untuk mendapatkan makanan, memikirkannya saja sudah membuat kakinya pegal.

"Tidak mau! Memangnya kenapa kalau aku laki-laki? Memang kalian bukan laki-laki?" Sehun mendengus sebal.

"Tapi kan kau terlihat lebih manly" Ucap Baekhyun asal.

"Enak saja! Aku lebih manly" Luhan yang sedang bermain rubik lantas menyahut sembari memasang wajah galaknya yang langsung di balas cengiran oleh Baekhyun.

"Kubilang tidak ya tidak" Sehun menarik rambut Baekhyun yang mulai memanjang lalu menyentil dahinya dengan jarinya yang panjang tersebut.

"Ya! Oh Sehun itu sangat sakit, kenapa kau selalu menarik rambutku hanya untuk menyentil dahiku?" Baekhyun mengusap-usap dahinya yang agak memerah tersebut.

"Menyentil dahimu tanpa menarik rambutmu rasanya kurang pas" Sehun tersenyum jahil ke arah Baekhyun kemudian mengerang sakit karena Baekhyun mencubitnya dengan sangat keras. "Aww! Kenapa kau mencubitku?"

"Sudah kubilang dahiku adalah salah satu hal yang paling berharga dalam hidupku"

"Salahkan dahimu yang seperti lapangan golf tersebut sehingga aku selalu ingin menyentilnya"

"Aishh kau ini! Luhan kenapa daritadi kau hanya diam saja? Kau tidak berniat membelaku?" Baekhyun melihat ke arah sehun yang sedang menjulurkan lidah ke arahnya kemudian mendecih sebal.

"Kalian berisik! Aku jadi tidak fokus bermain rubik ini. Jadi lebih baik kalian berdua diam!" Luhan terus mengoceh dengan tangan yang terus mengotak-atik kubus berwarna warni tersebut.

Dan lihat? Mereka bahkan lupa tujuan awal mereka ke kantin adalah untuk menikmati makan siang mereka setelah melewati pelajaran yang sangat membosankan.

Diam-diam Baekhyun mengumpat dalam hatinya 'persetan dengan semua ini. Ya tuhan, aku benar-benar lapar ku harap Chanyeol nanti mau membelikanku makanan'

...

Baekhyun

'Sialan! Sialan! Chanyeol sialan!'

Aku terus mengumpat dalam hatiku sambil terus mencuci piring kotor bekas makan malam aku dan Chanyeol, kalian tahu apa yang membuatku terus mengumpat? Tentu saja bukan karena aku di suruh mencuci piring oleh Chanyeol karena pagi tadi aku lah yang berjanji mencuci piring sehabis makan malam, lalu apa yang membuatku terus mengumpat?

Dia ehm maksudku Chanyeol mencuci boneka kesayanganku, boneka yang mempunyai bau khas yang sangat ku sukai dan dengan seenaknya Chanyeol mencuci boneka tersebut yang sudah ku yakini baunya pasti akan berubah padahalkan dia tau jika itu adalah boneka kesayanganku.

"Baekhyun? Hey! Baekhyun!"

Aku tersentak dan segera menoleh ke arah Chanyeol yang sedang memegang baju seragamku yang sudah kotor di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mencoba mematikan kompor yang di atasnya ada panci berisikan air yang sudah medidih.

"Kau hampir membuat air ini gosong, sudah ku bilang jangan pernah melamun jika melakukan sesuatu di dapur"

"Dan kau selalu saja lupa untuk menaruh pakaian kotormu di tempat pakaian kotor, lain kali kau harus membiasakan menaruhnya di pakaian kotor" Chanyeol terus mengomel sambil membantu aku yang sedang menaruh piring bersih ke rak piring, aku sama sekali tak berniat untuk membalas omelannya karena aku masih sangat kesal dengannya.

"Kau hanya diam? Hey kau kenapa? Jangan bilang karena aku sudah mencuci bonekamu?" Oke untuk pertanyaan yang satu ini ku rasa aku tak bisa menahan untuk tidak menjawabnya.

"Ya, kau benar" Jawabku sambil mencoba menuangkan air panas –yang hampir gosong tadi- ke dalam mug kesayanganku yang berisi bubuk kopi.

"Baekhyun, bonekamu itu sudah sangat jorok jadi harus dicuci. Kau seorang pria tapi tingkahmu seperti perempuan"

"Ya! Lelaki mana yang suka di bilang seperti perempuan. Seharusnya kau izin dulu kepadaku lagipula itu kan barang pribadiku"

"Baiklah, aku minta maaf oke?" Chanyeol menyodorkan jari kelingkingnya ke depan wajahku, hei itu sangat kekanakan bukan?

"Hnn" Aku mengaitkan jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya kemudian kembali mengaduk kopiku yang sudah hampir jadi, tanpa berniat sedikitpun membuka suara.

"Jangan seperti itu, itu tandanya kau belum memaafkanku"

"Aku sudah memaafkanmu Chan, hanya saja aku terlalu malas untuk membuka suara"

Chanyeol hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

"Chan, tolongan bawakan mug ini ke kamarku. Ini sangat panas aku tidak tahan memegangnya"

"Baiklah, apa kau mempunyai banyak tugas? Akhir-akhir ini kulihat kau sering membuat secangkir kopi di malam hari. Mengkonsumsi banyak kopi juga tidak baik kau tau?"

"Aku tau, habis mau bagaimana lagi? Akhir-akhir ini tugas sekolah hampir membunuhku secara perlahan" Aku berjalan ke arah kamarku diikuti Chanyeol yang sedang memegang secangkir kopi yang ku buat tadi.

"Butuh bantuan? Kurasa aku bisa membantumu. Lagi pula kau kan sudah kelas tiga jadi hal seperti ini sudah biasa terjadi"

Aku menjatuhkan badanku di kasur dan duduk di pinggir kasur melepas sandal rumah yang masih bertengger di kakiku, aku mengernyit heran melihat Chanyeol yang sepertinya kebingungan menaruh cangkir berisi kopi panas tersebut.

"Taruh di nakas situ saja Yeol, aku akan meminumnya nanti" Ucapku dengan menunjuk nakas yang terletak tak jauh dari Chanyeol berdiri.

"Oh, baiklah. Jadi bagaimana? Mau ku ajari?"

"Kau yakin mau mengajariku?"

"Tentu saja, lagipula besok hari libur jadi aku tidak keberatan mengajarimu malam ini"

"Baiklah, tunggu disini sebentar. Aku akan mengambil buku dan peralatan tulisku"

Chanyeol menganggukan kepalanya kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur milikku.

"Hey, Chan kau membuat kasurku berantakan" Aku mencoba menarik tangan Chanyeol agar lelaki tersebut berdiri tetapi lelaki tersebut justru malah semakin berguling-guling tidak jelas dan semakin membuat kasurku berantakan.

"Biar saja, lagipula aku yang membersihkan kasurmu setiap pagi"

"Ughh lagi-lagi kau menyindirku pemalas secara tidak langsung"

"Tentu saja, mana ada menyindir secara langsung itu namanya frontal"

"Terserah apa katamu, sekarang ajarkan aku"

Chanyeol mengambil buku matematikaku dan mulai mengajarkanku, emm dia lumayan pintar ternyata. Setidaknya aku sedikit mengerti dengan apa yang di ajarkannya.

"Nah, sekarang coba kau kerjakan yang ini. Nanti aku yang akan mengoreksinya"

"Oke"

Sepertinya aku sudah tidak mempersalahkan soal rumit ini lagi, aku bahkan sangat lancar mengerjakannya. Kurasa Chanyeol benar-benar pintar. Ralat kurasa aku benar-benar pintar.

"Baekhyun, boleh aku bertanya?"

Chan kau bertanya di saat yang tidak tepat.

"Ya Silahkan"

Ohh tidak aku lupa rumus yang ini.

"Jadi, siapa lelaki yang bersamamu saat aku menjemputmu tadi siang?"

Ah aku ingat, baiklah sekarang bagaimana cara memindahkan angkanya.

"Baekhyun?"

Ah begini rupanya, hanya tinggal menghitung hasil akhirnya dan ini akan selesai.

"Baekhyun! Kau mendengarkanku?" Chanyeol berteriak di telingaku, sontak aku mengangkat wajahku sehingga dapat melihat wajahnya yang sangat menyebalkan itu.

"Ya! Kenapa kau berteriak di telingaku? Suaramu sangat cempreng tau!"

"Kau tidak menjawab pertanyaanku!"

"Aku sedang mengerjakan soal yang kau berikan"

"Setidaknya kau menjawabnya"

Sepertinya ini akan menjadi masalah yang panjang jika aku terus menjawab omelannya.

Dan sepertinya aku harus mengalah untuk kali ini supaya Chanyeol tidak bersikap acuh padaku, itu adalah hal yang mengerikan yang pernah ada.

Setidaknya aku baru sekali di acuhkan oleh Chanyeol karena aku tidak menuruti perintahnya untuk menunggunya menjemputku di sekolah, dan aku malah pulang sendiri dengan menggunakan bus kota dan dia sangat marah saat mengetahui itu.

"Baiklah, apa pertanyaanmu tadi?"

"Siapa lelaki yang bersamamu saat aku menjemputmu tadi siang?"

Lelaki? Ah Sehun.

Lelaki itu memang menemaniku menunggu Chanyeol menjemputku tadi siang. Ehm sebenarnya aku berkata kalau Chanyeol adalah supirku. Karena Luhan sedang ada urusan, jadi dia memutuskan untuk pulang langsung dan membuat sehun lah yang menemaniku menunggu supirku –Chanyeol untuk menjemputku.

"Ah, dia sehun temanku. Memangnya kenapa?"

"Sehun?"

"Ya, Oh Sehun. Apa kau mengenalnya?"

"Tidak, dia hanya seperti mirip dengan salah satu temanku"

"Oh jadi begitu"

'Sepertinya ada yang aneh dengan raut muka Chanyeol saat aku mengatakan Oh Sehun, apa ada yang di sembunyikannya?'

Aku hanya mengangkat kedua bahuku kemudian kembali melanjutkan tugasku yang hampir selesai, sedangkan Chanyeol dia kembali ke kamarnya setelah mengoreksi soal yang ku kerjakan tadi.

Chanyeol

Aku mengotak-atik kontak ponselku mencari nama seseorang yang sangat ingin aku telfon saat ini. Ah! Ini dia. Tanpa basa-basi aku langsung memencet nama tersebut dan segera mendekatkan ponselku ke telingaku.

"Halo"

"Hyung! Ada apa menelfonku malam-malam begini? Apa hyung ingin bicara dengan ayah?"

"Tidak, hyung ingin bicara denganmu. Bagaimana jika kita bertemu di kantor hyung besok?"

"Ah, baiklah aku akan kesana sehabis pulang sekolah besok"

"Oke, selamat malam dongsaeng"

"Selamat malam hyung"

Aku menghembuskan nafasku pelan.

'Astaga! Yang benar saja. Apa aku salah dengar tadi? Tapi aku benar-benar mendengar Baekhyun menyebut nama Oh Sehun. Dunia memang sempit'

TBC

Heyy! Updet kilat nih... sebenernya ini ff lama terus castnya baek sama oc, tp aku ganti chanbaek kekeke~

Review jan lupa yaa ;)