Fandom: Naruto
Author : Masashi Kishimoto
Title: Not A Happy Ending
Writer: Kyra De Riddick
Genre: Family, Tragedy, Hurt/Comfort
Rating: T (T+ maybe)
Pair: Sasuke x Naruto, Sasuke x Sakura
.
OMAKE
Naruto merebahkan kepalanya di atas makam ibunya seolah-olah ia tidak rela pergi dari tempat itu. Air matanya mengalir dalam tangis bisunya. Ia kehilangan ibunya hanya beberapa hari setelah ia bersamanya. Ibu yang hanya bisa ia temui selama beberapa menit sehari. Itupun setelah ia menjadi sosok bonekanya.
Ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk merasakan hangatnya pelukan ibunya, atau suaranya yang memanggil namanya. Ia hanya mendengarnya dari cerita-cerita Iruka. Tentang bagaimana ibunya berjuang untuk mempertahankannya agar tetap terlahir di dunia ini.
"Ibu," panggilnya serak.
Ia bangun ketika ia merasakan kehadiran seseorang. Dihapusnya air matanya meskipun jejak tangis di wajahnya masih sangat jelas. Ia berbalik hanya untuk mendapati sosok Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura berdiri menatapnya.
Sasuke mendekati makam yang masih baru itu. Ia berlutut dan meletakkan buket mawar merah di dekatnya. Ia tidak lagi mampu menahan tangisnya saat melihat nama Naruto terukir rapi di atas nisan batu. Dipeluknya nisan Naruto seolah-olah itu adalah tubuh Naruto.
"Maaf," ucapnya di antara isakannya. "Maafkan aku. Maaf."
Sasuke terus meminta maaf meskipun ia tidak akan mendapatkan jawaban apapun.
"Dia tidak pernah membencimu," ujar Naruto yang tidak pernah lepas memperhatikan sikap Sasuke sejak ia datang. "Dia meninggal setelah aku memberitahunya aku menghancurkanmu."
Tangis Sakura semakin pecah mendengar cerita gadis di hadapannya. Rasa sesal tiba-tiba saja hinggap di hatinya.
"Dia hanya menangis dan menangis dan menangis dan menangis. Dia menangis sampai dia benar-benar tidak bisa lagi menangis."
"…"
"Akulah yang membunuhnya."
"Ikutlah denganku," ujar Sasuke tiba-tiba. "Aku tidak bisa menjaganya saat aku masih lemah. Tapi sekarang aku bisa menjagamu."
"Ikut denganmu?" ulang Naruto. "Sebagai apa?"
Sasuke langsung membeku di tempat. Tatapan Naruto begitu menusuk seolah-olah ingin mengingatkannya bahwa ia adalah manusia bejat yang meniduri anaknya sendiri. Sasuke mengepalkan kedua tangannya erat. Rasa bersalah di dadanya kembali bergejolak.
"Bisakah kau bersikap sebagai ayah setelah apa yang kaulakukan padaku?" Tanya Naruto sinis.
"Naruto, Sasuke-"
"Jangan pikir kenyataan kau meniduri aku yang merupakan anakmu akan terhapus dengan bersikap begitu," Naruto menyela Sasuke.
"Karena itu-"
"Karena itu jangan pernah berpikir kita akan menjadi keluarga. Karena selamanya kenyataan kau sebagai manusia bejat tidak akan berubah."
"Lalu apa yang harus kulakukan?!" seru Sasuke frustasi. Jiwanya tidak sepenuhnya kembali tenang. Ia terlalu terguncang dengan kematian Naruto dan rasa bersalahnya pada gadis di hadapannya.
"Hancurlah," kata Naruto sedingin-dinginnya. "Hancurlah, dan aku akan hidup."
Sasuke jatuh berlutut mendengar ucapan Naruto. Jiwanya sepenuhnya hancur oleh kata-kata Naruto. Ia harus hancur agar putrinya tetap hidup. Ia harus hancur sebab ia memang sudah tidak memiliki tujuan lagi. Naruto sudah mati dan putrinya menginginkan kehancurannya untuk tetap hidup.
Kesadaran Sasuke perlahan menghilang. Ia tertawa tetapi matanya terus mengalirkan air mata. "Aku akan hancur!" serunya pada sosok Naruto yang menjauh tanpa menoleh padanya. "Naruto, aku akan hancur agar anak kita bisa hidup. Hahahaha!"
"Sasuke-kun!" teriak Sakura panik.
"Hahahaha! Aku hancur! Aku hancur!"
Suara-suara Sasuke dan Sakura perlahan menghilang dari pendengaran Naruto dengan bertambahnya jarak di antara mereka. Air mata tidak berhenti mengalir dari sepasang safir miliknya.
"Hancurlah, ayah," bisiknya pelan, seolah takut aka nada yang mendengrkannya. "Dengan begitu, akulah yang akan menanggung semua dosa ini."
THE END BENERAN
Kalian mungkin sudah sadar. Fic ini adalah sequel dari Extraordinary Friendship. Hehehehe gimana pendapat kalian?
