Catatan: maaf banget baru update! Maklumlah kebanyakan main game klo ada waktu luang. Coba aja main Tekken atau Samurai Showdown, pasti ketagihan! Untuk para pembaca yang sudah benar-benar menanti, terima kasih banyak ya, apalagi yang sudah kasih komentar! Bagian kedua ini dipersembahkan untuk kalian semua kecuali silent readers! O_o
Disclaimer: Eiichiro Oda
Luffy sang Penakluk
Bagian 2 Ular dan Sang Ratu
.
.
.
Sinar mentari yang menyinari tempat itu tidak cukup terang, belantara pepohonan dan besarnya ukuran daun di dalam hutan hujan Amazon menutupi segala apa yang berada di bawahnya dengan sempurna, akan tetapi, Luffy dapat mengenali ular besar yang sempat dilihatnya sewaktu ia melewati sungai sebelum syuting tadi. Ular itu terlihat tidak jauh dari tempatnya berdiri, namun jalan setapak yang beberapa saat tadi ia lewati sudah tidak lagi terlihat. Dengan gerakan yang lincah, Luffy melewati pohon-pohon dan dahan-dahan besar di hadapannya, tidak mempedulikan tubuhnya yang semakin tergores oleh tajamnya ranting dan duri tanaman rambat yang panjang menjuntai ke bawah, menusuk siapa saja yang berani melewati daerah itu. Luffy semakin bersemangat saat ia merasa bahwa dirinya sudah dekat dengan ular tersebut. Sedikit lagi, sedikit lagi…
"Aduh!" mendadak Luffy nyaris terjerembab oleh licinnya daun-daun tebal yang membusuk, lembap dan pekat. Hampir saja ia terperosok ke bawah, menuju jurang yang terlihat sangat dalam. Luffy tertawa lega, menyadari ia masih selamat. "Shishishi… untung saja!"
Dengan bersemangat Luffy kembali menyelusuri hutan. Ia tidak salah mengenali hewan yang sangat unik itu. Di seberang Luffy, ular boa besar sepanjang 5 meter dan berwarna merah muda itu sangat jelas terlihat. Corak yang sangat unik dengan warna yang tidak biasa membuat Luffy menjadi sangat bersemangat, kedua belah matanya seketika menyala bagaikan laser. Kedua mata itu semakin membara saat ia menyadari bahwa ular yang sangat keren dan menakjubkan itu mengenakan sebuah penutup kepala dari tengkorak.
"Hebat!" Luffy berteriak keras. Rupanya teriakannya menyadarkan hewan melata yang tengah menjaga sarangnya. Begitu Luffy melangkah mendekat, boa besar itu mendesis dengan keras, membuka mulutnya lebar-lebar. Luffy paham bahwa ular itu menyangka bahwa dirinya adalah ancaman. Namun rasa penasaran dan kesukaannya terhadap ular membuatnya tidak gentar sama sekali.
"Shhhh!"
"Ah, ular baik, aku hanya ingin melihatmu dengan seksama. Kau tidak perlu takut kepadaku." Luffy masih mendekati boa berwarna merah jambu itu, langsung menatap kedua mata liar yang berkilauan di kegelapan hutan. "Ular yang baik…"
"SSSHHH!"
Mendadak boa itu menyerang Luffy, berniat mematuk pemuda nekad yang rupanya tidak sayang nyawa bila sedang menginginkan sesuatu. Entah memang berani, gila, kacau atau apa, Luffy sama sekali tidak menghindari patukan sang ular yang langsung menuju ke arahnya. Ia hanya terus mempertahankan tatapannya dengan sang ular besar itu.
"Ular yang baik, hentikan!"
Herannya, ular itu mendadak patuh, ia berhenti, menyadari bahwa dalam tatapan Luffy sama sekali tidak ada ketakutan maupun permusuhan. Suatu hal yang tidak biasa karena ular yang terancam biasanya sangat agresif dan selalu menyerang. Salome memang bukan ular biasa. Ia tidak jadi menyerang Luffy, yang pasti bukan disebabkan oleh karena perkataan Luffy barusan. Kenapa? Tentu saja ular itu tidak paham apa yang Luffy sebelumnya bicarakan, ular 'kan tidak memiliki telinga. Namun insting hewannya menyadari adanya persahabatan yang ditunjukkan oleh pemuda Brasil itu.
"Yap! Berhasil! Berhasil!" Luffy bersorak-sorai penuh kegembiraan, menyadari kemenangannya dalam menaklukkan boa sebesar itu. Perlahan Luffy mengelus si boa dengan penuh perhatian dan kekaguman. "Corak yang benar-benar indah. Aku tidak pernah melihat ada spesies langka sepertimu sebelumnya. Memang sih belum lama ini aku melihat boa dengan corak putih maupun corak ungu hasil persilangan di Columbia, tetapi corak merah jambu seperti ini benar-benar menarik."
Luffy berbicara panjang lebar, sambil terheran-heran. "Tapi aku pernah dengar sebelumnya bahwa boa corak seperti ini ular langka yang dulu terdapat di suku kuno Aztec… atau apa ya? Ah! Peduli apa! Pokoknya kau itu sangat kereeeeen!"
Boa besar itu melingkari lengan Luffy dan mendesis senang. Luffy menyadari bahwa di belakang ular besar itu terdapat ular boa lain yang berukuran lebih kecil, dan beberapa telur ular yang belum menetas. Kedua mata Luffy mendadak menyala dengan sangat terang sekali lagi. "Pantas kau galak! Kau sedang menjaga telurmu?"
Mendadak sebuah anak panah muncul dari balik pepohonan, melintasi kepala Luffy dan menggores pipi sebelah kirinya. Darah perlahan menetes dari wajah Luffy yang terluka saat anak panah kedua muncul dan menyerangnya, nyaris menembus dadanya.
"WOOOOOAAAHHH!" Luffy berteriak kaget, "PANAAH AAAPAAAN NIIIHHH?"
.
xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx
.
Sesosok tubuh yang tinggi semampai dengan lekuk tubuh yang luar biasa menarik muncul dari arah anak-anak panah itu berasal. Wajah wanita itu terlihat luar biasa sombong dan angkuh, bahkan ia tidak terlalu sudi melihat Luffy. Dengan suara keras wanita itu berteriak, "apa yang kaulakukan terhadap Salomeku? Jauhi dia!"
"Heh?" Luffy sama sekali tidak mengerti Bahasa Amazon Kuno yang diucapkan oleh Hancock. "Bisa kau ulang sekali lagi ucapanmu? Kok terdengar aneh sekali di telingaku, ya?"
"Pria sialan, kau tidak mendengar perkataanku? Cepat jauhi… eh?"
Rupanya panah Hancock secara tidak sengaja mengenai boa lain yang sedang mengerami telur di belakang Luffy. Hancock langsung pucat pasi saat ia menyadari hal itu, dengan cepat ia mendekati Salome dan Luffy. Luffy pun terkejut pada saat yang bersamaan. Salah satu ular boa itu terluka!
"Ah, apa yang telah kulakukan?" erang Hancock penuh penyesalan. Salome hanya bisa mendekati pasangannya, ekspresi ular kesayangan Hancock itu sangat pilu, seakan menggambarkan perasaannya yang sedih. Hancock merasa amat bersalah.
"Maafkan aku, Salome…"
"Heh, makanya jangan suka sembarangan memanah, jadi kena 'kan!" Luffy merengut. Ia mendekati boa yang terluka itu, lalu mengorek sesuatu dari dalam tas kecilnya. Dari dalam sana Luffy mengambil sebungkus ramuan berwarna putih dan perban yang bersih. Ramuan itu adalah campuran antiseptik yang telah dicampur oleh daun obat hasil racikannya sendiri selama bertahun-tahun dengan berbagai percobaan dengan ular peliharaannya. Yah, walaupun sekarang kebanyakan peliharaan Luffy sih sudah mati semua. Dengan wajah prihatin Luffy mengusap kepala Salome. "Tenang saja, akan kuobati pasanganmu…"
"Apa itu? Mau kau apakan ularnya?" Hancock mendesis galak. "Jangan sampai kau…"
Dengan sangat cekatan Luffy menahan kepala boa yang terluka, lalu ia mencabut anak panah itu dengan cepat. Luffy takut ular itu akan mengamuk dan menghancurkan telur-telur kecil yang sedang dierami oleh boa itu karena itu ia tetap menahan kepala si ular dan mengelap darah luka panah itu dengan hati-hati.
"Shhhh," boa itu mendesis marah. "Shhhh…"
"Tahan, ya!" Luffy menatap ular itu dengan kepedulian tingkat tinggi, berharap ular itu bisa mengerti maksud baiknya. Meskipun ular itu dapat paham sekalipun, rasa sakit yang ia derita tidak bisa dihentikan. Butuh waktu yang tidak sebentar sampai si ular berhenti meronta, Luffy cukup lelah juga menahan kepalanya, padahal Luffy belum sempat memberikan ramuannya sama sekali. "Aduuuh! Berhenti memberontak! Aku sedang mengobatimu!"
Mendadak sepasang tangan ikut mencengkam kepala si ular, lalu menyokong Luffy. "Cepat, lanjutkan mengobati ular ini, biar aku yang menahan kepalanya."
"Ternyata kau baik juga!" Luffy tersenyum, lalu ia mengoleskan ramuannya dengan rata sebelum membalut luka sang ular dengan perban. Tak lama ia berteriak dengan gembira. "Nah, pengobatan selesai!"
Hancock yang tidak tahu pengobatan sama sekali pun menyadari balutan asal jadi yang telah dilakukan oleh Luffy, namun dari ekspresi membaik yang ditunjukkan oleh ular pasangan Salome itu, ia tidak jadi memprotes Luffy. Sebaliknya, ia meminta maaf.
"Maafkan aku, aku tidak tahu kau tidak bermaksud jahat, soalnya selama ini banyak sekali pemburu bodoh yang terus saja mengincar Salome kesayanganku. Tadinya kupikir kau salah satu dari mereka. Aku benar-benar minta maaf," Hancock berkata penuh sesal, wajah bekunya mulai mencair. "Pasti aku…"
Luffy meraih wajah Hancock dengan kedua tangannya, lalu menatap wanita itu sambil tersenyum senang. "Tidak apa-apa. Yang penting semua sudah beres 'kan?"
Dada Hancock langsung berdegup dengan sangat keras. Perasaan aneh yang pertama kali ia rasakan mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Pemuda yang berdiri di hadapannya sama sekali tidak tampan, malah terkesan sangat bodoh. Namun perasaannya yang tulus, kebaikannya terhadap makhluk kesayangannya, dan sikapnya yang tidak mendendam itu telah menyentuh hatinya.
"Kenapa wajahmu merah? Kau sakit?"
Hancock langsung menggeleng, ikut memegangi tangan Luffy di pipinya. Luffy pun melepaskan Hancock darinya, dan perlahan menyengir lebar kepada wanita itu. "Ya, sudah kalau kalau kau baik-baik saja. Aku mau pulang dulu."
"Eeeehh?" Hancock terkejut karena mendadak pemuda itu beranjak pergi dari sana. Ia pikir pemuda itu akan menginap lebih lama lagi. Dia sudah mau pergi?
Luffy pun membelai Salome dan pamitan, "aku pulang dulu, ya, ular baik! Eh, arah pulang ke mana ya?"
.
xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx
.
"Ah, tidak, terima kasih." Ace menolak tawaran anggur dari sang pramugari pesawat. Hatinya terasa tidak enak karena gelisah yang tidak menentu sejak tadi. Biasanya hal ini selalu terjadi bila Luffy tersangkut masalah. Apa adiknya yang bodoh itu baik-baik saja? Luffy tidak keracunan buah liar atau terantup laba-laba, bukan? Kenapa dia selalu membuatku cemas sih?
"Penerbangan memasuki daerah hujan yang berangin, harap penumpang mengenakan sabuk pengaman demi keselamatan," terdengar suara pramugari memberikan aba-aba. Ace langsung mengeratkan sabuk pengamannya dan memejamkan mata. Ia tidak suka goncangan dan petir, rasanya memuakkan.
.
xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx
.
Luffy memang pemuda yang keras kepala, sekali ia tertarik dengan sesuatu, ia akan berusaha dengan segenap hati untuk mendapatkannya. Namun rupanya wanita yang sedang mengikutinya itu jauh lebih keras kepala dibanding dia. Tanpa sepengetahuan Luffy, Hancock terus mengikutinya dari jarak yang ia rasa aman, terus menatap pemuda itu dengan raut wajah memerah.
Baru kali ini sang putri merasakan sesak di dada yang kian membuatnya menderita. Namun apa daya, tidak melihat pemuda itu malah membuatnya semakin tersiksa lagi. Ia teringat kata-kata Nenek Nyon, sang tetua di sukunya.
"Kalian harus hati-hati terhadap para pria, mereka bisa menularkan virus berbahaya yang mematikan." Nenek Nyon berkata dengan sungguh-sungguh. "Satu-satunya cara agar virus itu sembuh adalah mengikuti pria itu sampai virusnya hilang."
Hancock paham bahwa Luffy telah membuatnya terkena virus yang mematikan tersebut, virus yang tak pernah ia dapatkan dari pria lain yang telah ia temui sebelumnya. Pemuda itu memang berbeda. Bahkan ia sama sekali tidak terpengaruh oleh kecantikannya sama sekali. Hancock berbisik mesra sambil menatap Luffy, "aku telah memutuskan, kaulah pria yang akan memberiku anak."
Dari kejauhan tercium kembali bau sedap yang menggoda nafsu makan Luffy yang sungguh menggila, itulah sebabnya mengapa Luffy berjalan dengan mengandalkan hidungnya, dan berlari dengan kecepatan penuh. Hancock terus mengikuti dengan sigap di belakangnya.
"WAAAH, KAU LAGI!"
Pria pirang berwajah tampan yang tengah merokok sambil memanggang babi hutan liar itu berteriak kaget sekaligus kesal saat melihat Luffy. Rupanya ia masih saja belum dapat menemukan jalan pulang dari hutan tersebut sejak perkelahian sengitnya dengan sang penunjuk arah sewaan. "Jangan harap kau bisa makan gratis, ya! Sana pergi!"
"Pelit…" Luffy memoyongkan bibirnya sambil mencuil sedikit daging yang sedang dimasak. "Wah, enak banget!"
"SUDAH KUBILANG PERGI, WAAAA!" kedua mata Sanji seketika langsung berubah menjadi bentuk hati saat ia melihat sosok Hancock di belakang pohon sana, tengah mengamati Luffy dengan wajah yang sangat menggemaskan. "CANTIK! MENGGODA! SUNGGUH MENGGAIRAHKAN!"
"Eh, kau kok bisa ada di sini?" Luffy bertanya, menengok sebentar ke arah Hancock, lalu kembali memokuskan perhatiannya kepada daging panggangan Sanji. "Jangan pelit begitu ah, bagi sedikit ya?"
Rupanya pria yang diajak berbicara itu tengah mendekati Hancock, lalu bertanya dengan suara yang sengaja dipelankan dan intonasi yang menggoda, "namaku Sanji, koki professional dari Perancis, siapakah namamu, wahai kecantikan yang tak bisa terhempaskan oleh badai yang tengah menggila di hatiku yang terus berdetak saat memandangi dirimu ini?"
Hancock langsung menatap Sanji dengan pandangan sedingin es. "Jangan berani kau bicara padaku, dasar pria hina!"
Sanji dapat merasakan bahwa tubuhnya membatu sesaat sebelum pecah berkeping-keping, padahal dia tidak mengerti apa yang dikatakan Hancock.
"Shishishi…" Luffy tertawa melihat reaksi Sanji saat Hancock dengan sadis mengabaikannya. "Dia memang galak kok! Bagi sedikit, ya!"
Sanji langsung berlari mendekati Luffy dengan kecepatan penuh, "kau kenal dia?"
"Bisa dibilang begitu."
Brengsek, kok bisa bocah bertampang bloon begini kenalannya secantik itu? Bikin kesal saja! Sanji terlihat sangat iri memandang pemuda Brasil yang tengah memperhatikan masakannya. Ia kembali memperhatikan Hancock. Pakaiannya sungguh menggoda, pakaian kulit berbulu dengan belahan paha yang menantang…
"Kenapa tampangmu jadi mirip monyet begitu?"
"Brengsek kau!" Sanji langsung menyumpahi Luffy. Kadang ekspresinya memang mirip monyet bila sedang berpikiran mesum. Mendadak ia mendapat ide. "Begini saja, kuberikan semua masakanku bila kau bisa mengenalkanku kepadanya."
"Dia bicara dengan bahasa asing, mana aku bisa bicara sama dia?" Luffy berkata terus terang, "tapi dia memang kenalanku sih!"
"YA SUDAH, AJAK DIA MAKAN BERSAMA!" Sanji berteriak kegirangan, seolah dunianya kembali bersinar sejak Nami meninggalkannya sendirian di Paris. "Cepat, ajak dia!"
"Ajak ya ajak, tapi aku 'kan tidak bisa bicara sama dia, loh!" Luffy monyong-monyong tidak karuan, perutnya keroncongan meminta diisi. Ia lalu memanggil Hancock dengan lantang, "hei, sini! Kita makan, yuk!"
Hancock tidak bergerak, tapi ia heran saat melihat Luffy berbicara kepadanya. Wajahnya langsung memerah semerah apel. Apa pemuda itu ingin mengajaknya hidup bersama?
"Kok, dia diam saja sih?" Sanji mulai tidak sabaran.
Luffy pun mendatangi Hancock dan menariknya. "Ayo, kalau kau tidak ikut bisa-bisa aku batal makan dagingnya. Kau suka daging, 'kan?"
Tiba-tiba Luffy mendatangi dan menggenggam tangannya, membuat Hancock tersipu malu. Tanpa susah payah pun Hancock mengikuti kemauan Luffy. Ia berbisik malu-malu, "bila itu maumu, aku setuju saja."
Mereka bertiga pun meneruskan makan sore itu, menikmati babi panggang ala hutan hujan tropis. Luffy mengambil porsi paling banyak, sementara Hancock terus memandangi pemuda itu makan, dan Sanji pun semakin bertanya-tanya dengan hubungan mereka. Koki pirang itu berpikir seandainya saja ada penerjemah, pasti semuanya akan menjadi jelas.
"Wah!" mendadak muncul si pemandu arah berambut hijau dari balik pepohonan besar di ujung sana. Ekspresinya langsung berubah bengis saat menatap Sanji. "Hahaha, masih di sini saja kau turis sialan?"
Sanji pun merasakan permusuhan yang sama. "Sama sepertimu, memang dasar pemandu arah sesat kau!"
"Kau yang payah! Sudah kubilang harusnya kau lewat jalan setapak yang waktu itu!"
"Itu 'kan menuju jurang, pemandu bodoh!"
Luffy tidak menghiraukan permusuhan gila-gilaan itu dan terus saja makan. Hancock mendesah pelan, berharap bisa terus menikmati saat-saat seperti itu. "Makanlah yang banyak, kau bahkan bisa memakan bagianku, aku tidak terlalu lapar."
"Bahasa Amazon Kuno!" pemandu berambut hijau itu agak terkesima. Seketika ia berhenti berkelahi dengan si bule Prancis dan mendekati Luffy dan Hancock. "Hebat, ini pertama kalinya aku mendengar bahasa ini!"
"Kau tahu bahasa yang dia gunakan?" Sanji pun ikut menghampiri Luffy dan Hancock. "Bagaimana bisa pemandu bodoh seperti kau bisa tahu?"
Pemandu itu mengenalkan diri di hadapan Luffy, "namaku Zoro. Boleh aku tahu siapa namamu dan wanita ini?"
Hancock mendengus sebal. Ia tidak suka ada pria lain di dekatnya selain Luffy. Untunglah pria yang satu ini tidak tergila-gila padanya, berbeda dengan pria pirang yang tadi. Akan tetapi Luffy malah tersenyum, "aku Luffy! Kalau dia aku tidak tahu sih…"
Hancock mencibir, "aku tidak suka bicara dengan pria asing."
Zoro manggut-manggut sesaat, lalu mengeluarkan sebuah buku lapuk dari balik bajunya. Ia membolak-balik buku tersebut, lalu berkata, "kurasa ia berkata bahwa ia senang berada di sini."
Sanji dan Luffy ikut manggut-manggut seakan memahami bahasa yang dikatakan oleh Hancock.
"Orang ini sudah gila, ya? Apa sih yang ia lakukan dengan benda itu?" Hancock semakin kesal. Ia menoleh ke arah Luffy, "suruh dia hentikan perbuatannya dan suruh dia berhenti memandangiku!"
Zoro meneruskan, "katanya, masakan koki alis keriting itu tidak enak, dan dia tidak suka memakannya. Namun dia suka denganmu, Luffy, dan katanya ia ingin memandangimu."
"Ah, masa sih? Masakanku tidak enak? Jangan asal bicara kau, rambut lumut!" Sanji mendengus dengan kesal. "Lagipula, kenapa dia suka dengan bocah ini? Aku jauh lebih baik dibandingkan dia!"
"Ah, aku lebih baik mengamatimu dari jauh saja," Hancock bergegas pergi dari sana. "Pria-pria ini membuatku jijik!"
"Tuh, katanya dia mau bunuh diri bila kau tidak memperbolehkannya untuk ikut denganmu!" Zoro kembali mengartikan perkataan Hancock. Tentu saja ia tidak punya kemampuan sebagus itu. Terjemahan patah-patah yang dilakukan olehnya hanyalah usaha susah payah yang ia tiru dari buku catatan istrinya yang merupakan seorang arkeolog. "Cepat kejar dia!"
Luffy pun berlari mengejar Hancock, menahan lengannya. "Kau jangan bunuh diri! Kau boleh ikut denganku!"
Hancock terkesima dengan reaksi Luffy. Tubuhnya serasa ingin meledak karena kaget dan wajahnya sangat merah karena malu. "Apa maksudmu? Kenapa kau mendadak menggengam tanganku?"
"Hei, Zoro! Apa katanya?" Luffy berteriak kepada Zoro, lengannya tidak melepaskan Hancock.
"HEEEEIII!" Sanji menjerit nyaring saat melihat Luffy memegang tangan Hancock dengan erat. "APA-APAAN ITU?"
"Dia bilang dia setuju untuk ikut denganmu!" Zoro berteriak balik. Ia tahu ia mulai melantur tak jelas, tapi semua ini ia lakukan untuk membuat koki genit yang sangat menyebalkan itu menjadi marah. Dan saat itu ia rela melakukan apa saja untuk membuat Sanji marah. Membalas dendam memang perbuatan yang menyenangkan. Oh, sial, sifat nakal istrinya mulai meracuni otaknya belakangan ini.
"HEI! SEJAK KAPAN MEREKA JADI BERHUBUNGAN?" Sanji tidak dapat menahan rasa kesal yang membuncah di dadanya. "KOK AKU TIDAK MENGERTI SAMA SEKALI, SIH?"
Luffy mengulangi kata-katanya dengan serius, "jangan bunuh diri, itu perbuatan bodoh! Tak jadi soal bila kau mau ikut denganku!"
Hancock hanya bisa mengangguk.
.
xxxxxxXXX0XXXxxxxxxx
.
Hanya Tuhan, hantu dan para binatang di hutan yang tahu bagaimana keempat orang itu bisa keluar hutan dengan selamat tanpa kurang suatu apa. Nyatanya mereka keluar hutan dengan aman. Hancock ikut dengan Luffy. Wajahnya masih memerah karena Luffy terus menggenggam tangannya dengan erat. Entah bagaimana pula, Sanji dengan tidak tahu malu pun mengikuti keduanya.
"Enak saja aku tidak tahu malu! Aku mengikuti bocah itu karena aku ingin berada di tempat syuting selanjutnya demi bertemu sayangku Nami! Bocah itu tidak mau memberitahukannya kepadaku!" Sanji berteriak kesal. Ia membawa semua kopernya dengan semangat, mengikuti Luffy dan Hancock yang berada di depannya. "Lagipula dia kok bisa-bisanya mendapatkan wanita secantik itu!"
"Berisik kau alis keriting!" Zoro membentak Sanji sebelum ia mengalihkan pandangannya kepada Luffy. "Eh, mana alamatmu?"
"Di sini." Luffy memberikan kartu nama yang telah disiapkan oleh Ace dari dalam sakunya. "Tapi aku orang sibuk, loh!"
"Tidak jadi masalah!"
Luffy dan Zoro saling bertukar alamat, karena Zoro ingin mengajak istrinya yang arkeolog itu untuk menemui Hancock. Luffy sih tidak ambil pusing dan setuju saja dengan permintaan Zoro. Yang jadi masalah adalah reaksi orang di rumah saat mereka tahu siapa yang ia bawa pulang nanti. Luffy menggaruk kepalanya sambil menyengir ke arah Hancock, yang juga tengah memandanginya dengan penuh cinta. Bagaimana reaksi kakek dan Ace ya? Ya masalah nanti dipikirkan nanti sajalah!
.
.
.
Makasih sudah membaca! Silahkan komentar kalau sempat!
Kita berjumpa di bagian selanjutnya!
