JUDUL: GAJE
AUTHOR: SELAMANYA GUE YANG PUNYA CERITA BERJUDUL 'GAJE' INI!
'MENYONTEK' TOKOH-TOKOH PRINCE OF TENNIS YANG ASLINYA MILIK TAKESHI KONOMI-SENSEI
MET ENJOY!
CHAPTER SEBELUMNYA: Rikkai dan Shitenhouji pergi berlibur ke Depok untuk bersenang-senang.
"Welkom, to Depok!" seru seseorang yang sangat mereka kenal, "Sewa kamar 2 juta rupiah! Kalau tadak, kena kasih goya!"
"Wai, gila gak!" "Higa Chuu?!"
Kite Eishiro nyengir, "Gimana? 2 juta rupiah aja lho."
"Sama katering n' fasilitas tambah 2 juta lagi."
Sanada maju, "Emangnya kalian yang jaga hotel ni?"
"Yap." balas Hirakoba Rin, "Kami berhasil nyampe ke sini."
"Serius?! Dari Okinawa?!"
Dan musik petualangan mulai terdengar mengiringi cerita Kite, "Awalnya kami hanya latihan di India, namun kami diminta memecahkan kasus rohnya Mahatma Gandhi, kemudian kami pergi ke Australia dan menyelamatkan saudagar terkaya di-"
"Woi. Jangan main lah!" sergah Kirihara.
"Pokoknya, ujung-ujungnya sampe ke Ujung Kulon, kalian nyasar ke Depok gituh?" balas Shiraishi, disambut dengan anggukan anak-anak Higa Chuu.
"Jadi, mau nginap nggak di sini?" tawar Kite.
"5 juta untuk fasilitas komplit n' comfortable lho." sambung Hirakoba.
"Oi! Makin nambah aja tuh jumlah angkanya!" protes Kirihara.
"Kite, Rin! Higa Chuu! Jangan nakal, mereka kan teman-teman kita." seru sebuah suara yang sangat mereka kenal.
"Atobe-san?"
"Kalian datang juga, ahn?"
"Sejak kapan kau..."
"Ore-sama tahu kalian telah datang ke sini. Tenang, akan kubayar orang-orang bawel itu agar tutup mulut."
Mereka kini bisa melihat Higa Chuu menjerit senang sembari mengerubut sekoper kecil emas.
"Hotel ini termasuk hotel berkualitas yang paling ngetren di Depok." sahut Atobe Keigo, "Dan Hyotei juga sedang berada di sini."
"Hyotei? Kalian ke sini-"
"MARUI-KUN!" seorang anak lelaki berambut wortel gelap meloncat ke arah Marui dengan dramatisnya, "YAPPARI ANATA, MARUI-KUNNN!"
"Hoi, Kenya." sapa seorang remaja berambut biru gelap. Oshitari Yuushi, sepupu Oshitari Kenya.
"Hai, Yuushi." balas Kenya.
"Yok, masuk." sahut si sepupu.
Hyotei, Rikkai, dan Shitenhouji masuk ke penginapan tersebut, yang kata Atobe tingginya 40 lantai (mang ada di Depok?!).
"Sugoi..." gumam Kirihara. Atapnya tinggi dan dilapis marmer.
"Serius nih, asli?" tanya Shiraishi ke alamat Atobe.
"Ceriyus." sahut Atobe santai.
"Wow, alaynya..." gumam Shiraishi sambil mengikuti Atobe yang kini jadi tour guidenya anak-anak. (Jangan-jangan dia sudah menderita... ALAY INI DATANG SELALU?!)
"Sukhoi! Mewah bangedh!" alaynya Kirihara keluar. Senpainya hampir semua ngakak.
"Sukhoi itu nama pesawat yang jatuh, Akaya. Nama lengkapnya Sukhoi Super Jet 100." Marui menerangkan sambil setengah tertawa.
"Emangnya tadi aku bilang apa ya, senpai?"
"CAPEK DEHHH!"
"E-ehem..." Atobe berdehem minta perhatian, "Kamar kalian lurus terus belok sana." sahutnya sambil menuding, "Rikkai nomor 108, Shitenhouji nomor 110, dan Hyotei di seberang kalian, 109."
Atobe benar-benar udah mesanin semuanya ya...
"Oke deh." Shiraishi menerima kunci yang disodorkan Atobe. Kelima anak Shitenhouji itu berjalan masuk ke kamar.
"Sugoi! Luxury!" komentar Chitose kagum.
"Ada kolkasnya." "Wow, takoyaki!"
"Nanya? Takoyaki...!"
"Kimochi, na!"
"Yappari kimochi." sahut Atobe.
"Breakfast n' dinner tinggal tekan bel. Lunch harus turun ke kamar makan. Kolam renang di lantai satu, belok kiri aula."
Shitenhouji sangat menikmati kamar mereka. Sambil mendengarkan sebuah lagu yang mengalun dari tape recorder pinjaman Oshitari Yuushi untuk sepupunya, anak-anak Shitenhouji bersantai dalam 'kamar baru' mereka. Shiraishi membuka tirai jendela dan tampaklah sebuah padang rumput yang disinar lembut oleh matahari yang semakin memudarkan warna biru langit (hmm... buat yang tinggal di Depok, author kasih catatan deh. Namanya juga fic, salah pemandangan gpp kan? *muka ngeles*).
"Buka jendelanya dong!" Chitose menarik tuas gerendel dan membuka jendela. Angin bergulung-gulung menghempas ke muka.
"Wow, dingin!" komentar Kintaro gembira.
"Ke sana, yuk!" ajak Kenya.
"Sabar. Aku mau mandi dulu. Lengket rasanya."
Lepas anak-anak Shitenhouji bersih-bersih, kelimanya melakukan aktivitas berbeda. Khusus Shiraishi dan Kenya, keduanya berangkat menikmati padang rumput di bawah langit sore yang makin memerah.
"Keren yah." komentar Kenya sambil duduk di rumput dan mengelus-elus iguana yang tak sengaja ia bawa.
"Kaburiel suka di sini." timpal Shiraishi. Kaburiel bergerak perlahan-lahan sambil merumput. Shiraishi memandangnya dengan tatapan sayang, "My cutie-pie Kaburiel."
Malamnya, Atobe mengajak Shitenhouji dan Rikkai makan di luar, alias di restoran mewah.
"Serius? Siapa yang bayar?"
Siapa lagi kalau bukan... "Oreta."
Dan semua bisa melihat beberapa piring nasi goreng mewah, pizza, spaghetti, ayam goreng Orchi (langganan gue! Atobe emang tau yang terbaik, deh!), smoothie buah de es be datang ke meja mereka di sebuah restoran bernama... ga tahu deh!
"Sugoi! Yappari sugoi ne!" seru Jirou Akutagawa, si sleeping beauty abadinya Hyotei Gakuen.
"Apakah dikau t'lah terjangkit penyakit TBC?" sebuah suara bertanya.
"Apa, TBC? Choi dasa daze."
"Hyotei belum tahu nama penyakit paling populer masa kini, ya?" tanya Kenya.
"AIDS, TBC, dan gajemaniax!" Kirihara nyemak.
"Kali ini sudah terjangkit 2 orang yang AIDS dan gajemaniax. Sementara yang kena TBC belum kelihatan." Yanagi Renji dari Rikkai membaca data, "Gajemaniax diderita oleh Akaya dan Genichirou, sementara AIDS khusus Akaya saja." (Author: Anak-anak malaaaangg... Padahal aku ini fans-nya Kirihara ama Sanada lho...)
"Awas menyebar!" Kirihara tertawa.
"Orang gak bahaya-bahaya amat." sahut Yukimura enteng.
"Ini berbahaya! VIRUS! Sangat mematikan!"
"Maa, jadi kau kena penyakit juga, Sanada."
"Sebenarnya, AIDS dan gajemaniax itu menyerang apa, sih?"
Sekarang, panggung Sang Master telah terbuka.
"AIDS alias ALAY INI DATANG SELALU menyerang mental si penderita dan mengubah pikirannya menjadi kealayan yang kini diderita banyak anak-anak muda. Seperti yang diderita Akaya kini."
Kirihara senyum-senyum gaje dan langsung berkata, "Ceriyuss? Miyyapah?"
Uuuupphh! ALAYNYAAAAA!
(Author: Kalo buat gue sih, Akaya alay boleh jugaaa... tetep kyut kok!
Shiraishi: Iiiih... banyak nyemak si author ini!)
"Gajemaniax menyerang otak dan mengacau sistem kerjanya hingga apapun yang ia lakukan pasti gaje."
"TAWAKIGA! TARUNDORU!" Sanada memarahkan sendoknya yang tercebur masuk ke mangkok secara keseluruhan.
"Huahahahahahaha...!" Kirihara asyik menertawakan seorang anak yang berseluncur dengan sepatunya di luar restoran.
"... Gaje amat..."
"Ohh, mereka mulai," desah Shiraishi dengan suaranya yang gaje. Kenya tertawa, "Kita bersyukur Kinchan nggak kena."
"Nanya?" dengan polosnya si rambut merah bertanya.
"Ngomong-ngomong, yang baru masuk itu..."
"Gekokujyouto."
"Bukan! Itu Seishun!"
Hyotei, Rikkai, dan Shitenhouji menoleh ke arah pintu masuk Restoran XX.
"Anata...!" seru Kirihara, "Anata Seishun Gakuen!"
Yang dipanggil menoleh. Muka mereka hijau-hijau semua.
"Sini, yuk!" tawar Shiraishi ramah.
Seishun bergerak menuju meja mereka dengan gerakan sempoyongan bak orang mabuk.
"Ada apa, sih?" tanya Kenya.
"Kalian kayak orang mabuk."
Shiraishi berdiri menyambut Seishun, "Daijoubo ka?"
"Ada toilet di sini?"
"Kalo enggak salah, dekat sini ada infinitive toilet. Nggak tahu juga sih apa maksudnya."
Ketiga sekolah itu bergidik melihat muka anak-anak Seishun yang kayak monster hijau.
"Mada~ mada~ dane~"
Detik kemudian, toilet penuh dengan muntahan.
tO bE cONTINUED...
