Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya
Warning: standard warning applied, (possible] mis/typos, crack pair [Lukas/Natalia aka Norway/Belarus/], [might be] OoC.
No profit gained
Happy reading
-oOo-
drabble two: all begins with bet
Chapter warning: Canon [during Metal Euro Ice Hockey Challenge], countries personification
-oOo-
Norwegia menatap lurus ke arah lapangan dilapisi es itu. Bangku penonton di stadion indoor olahraga hoki tampak hampir penuh. Suara terdengar gaduh: ia bahkan tak bisa mendengar suara dari arah lapangan karena bunyi teriakan, obrolan, dan tepuk tangan yang datang hampir dari seluruh penjuru. Akhirnya ia hanya bisa duduk di bangku dan menatap para pemain hoki es yang saling berebut bola hoki untuk disarangkan ke gawang musuh.
Personifikasi negara pemasok petroleum Eropa itu mendecak pelan ketika melihat pemain Belarusia berhasil mencetak skor untuk kedua kali: 2-0 untuk negara bekas Uni Soviet. Stadion memperlihatkan dua reaksi: gemuruh sorak sorai bahagia, dan juga decakan kecil hati.
"Sepertinya sudah bisa terlihat akhirnya, bukan?"
Menoleh, iris biru memantulkan refleksi dari sang personifikasi Belarusia. Terduduk tenang berjarak dua bangku di sampingnya. Mengenakan blazer coklat muda yang merangkapi terusan putih bercorak bunga.
Mendengus, Norwegia kembali mengarahkan pandang ke dua belas pemain hoki es yang masih bersaing untuk menjadi juara Metal Euro Ice Hockey Challenge tahun 2015, "Tidak baik menarik kesimpulan secepat itu," lantas menyesap kopi pahit yang sudah agak mendingin.
"Timmu sudah tertinggal dua angka, jika kau belum sadar," lanjut si gadis Slavic dengan tenang. Tatapan meremehkan dan senyuman sinis terkembang.
Salah satu pemain Norwegia berusaha menyarangkan bola di gawang lawan, sebelum bola itu terpental setelah terhalang oleh tongkat pemukul si penjaga gawang.
Pendukung negara berbendara merah hanya mendesah kecewa.
Pemuda berhelai pirang melirik ke penunjuk waktu pertandingan, "Masih ada lima menit, dan ini baru babak pertama."
Belarusia memutar bola mata, "Jangan terlalu optimis. Apa yang bisa terjadi dalam waktu lima menit?"
"Bisa saja, semua yang bermain di sini adalah pemain terbaik masing-masing negara, bukan?"
Adik dari negara adidaya Russia tersebut hanya mendecak pelan, "Terserah, yang jelas tim-ku lah yang akan menang."
Acuh tak acuh, Norwegia hanya mengangkat bahu, "Silahkan berpikir begitu."
Beberapa saat setelah sang negara Nordik menyelesaikan ucapan singkatnya, salah satu pemain Norwegia berhasil melesatkan bola ke pertahanan pemain Belarusia. Gemuruh terdengar riuh—campuran antara sorak sorai dan desah kecewa. Pemain Norwegia melakukan selebrasi singkat, sedangkan sang lawan hanya bisa berdiri dan melihat.
Peluit yang menandakan akhir babak pertama berbunyi. Jeda istirahat tujuh belas menit pun dimulai.
Sang personifikasi negara mantan Viking mengumbang senyum yang hampir tak terlihat, "Lihat, jangan melompat ke kesimpulan," melirik, ia mendapati Belarusia memberinya pelototan yang biasanya akan membuat negara manapun bergidik ketakutan.
Namun Norwegia mempertahankan sikap dan tatapannya—sepertinya ia pengecualian.
"Baru satu gol dan kau sudah bertingkah seperti orang brengsek begini," ucapnya kejam.
Menyesap kopinya lagi, Norwegia membalas santai—sama sekali tak tersinggung atau terpengaruh dengan umpatan kasar barusan, "Ya, baru satu gol, dan ini masih jeda antar babak."
Ekspresi di wajah cantik itu tampak demikian dongkol, namun Norwegia justru berusaha keras menahan senyum yang bisa merusak ekspresi datarnya.
"Timku adalah tim terbaik dan mereka hampir tidak pernah kalah."
"Sama, mereka juga terbaik yang kupunya. Aku yakin mereka menang."
Belarusia mendengus dan menatap sinis, "Tujuh-tiga di akhir babak untuk Belarusia."
Alis pirang Norwegia terangkat beserta dua iris biru hampa yang tampak sedikit terperanjat, "Bertaruh?"
Sepasang violet menatap sengit, "Boleh saja."
Melipat tangan di dada, Norwegia menghela napas dan tampak berpikir singkat, "Enam-tiga untuk Norwegia."
Belarusia tertawa, ada nada menghina di sana, "Optimis sekali," ia menyibakkan helai pirang panjangnya yang terjatuh di sekitar bahunya, "Boleh saja. Apa taruhanmu?"
"Peluang investasi yang lebih luas bagi rakyatku di negaramu?"
"Mati saja kau."
Norwegia mengendikkan bahu, "Sudah kuduga itu responmu jadi aku punya alternatif," sahut Norwegia cepat dan terdengar tak hirau pada umpatan kasar yang lagi-lagi ditujukan padanya, "Jadi, bagaimana jika aku menang, kau mentraktirku makan siang? Jika aku kalah, aku yang akan mentraktirmu makan siang?"
"Dan siapa bilang aku ingin makan siang denganmu?"
"Itu taruhan paling simpel yang bisa kubayangkan," Norwegia menekuk bibirnya ke bawah, "Sejujurnya aku benar-benar ingin kau membuka peluang investasi—"
"Baiklah brengsek, dan jangan bicara itu lagi!" tukas Belarusia sengit, lantas melempar pelototannya ke lapangan hoki es yang masih sepi, "Siapkan saja uangmu. Makanku banyak dan aku tidak pernah ingin makan makanan cepat saji."
Senyum samar terukir di bibir personifikasi negara beribukota Oslo, "Tentu. Kau juga—seleraku juga sama."
Tak berapa lama pertandingan kembali dimulai. Babak kedua sama dengan yang pertama dalam hal durasi: tiga puluh lima menit. Dua tim yang saling mengungguli: melakukan serangan atau mempertahankan diri. Dua belas pemain yang merupakan pilihan terbaik dari negara masing-masing, meluncur dengan sepatu luncur es di sana-sini. Tongkat pemukul bertabrak dengan bola, tubuh-tubuh yang saling bertabrakan keras beberapa kali. Para pendukung tak henti atau lelah untuk menyemangati.
Hingga akhirnya papan skor otomatis menunjukkan angka 5-2 saat babak kedua diakhiri.
Sorak sorai terdengar sangat gemuruh dan ricuh ketika para pendukung merayakan kemenangan bagi tim negara lingkar kutub utara—Norwegia.
Senyum ada di wajah si pemuda, sedangkan si gadis mengatupkan rahang dan mengutuk lawannya dengan tatapan mata.
"Aku tahu restoran paling enak dan mahal di sini," ucap Norwegia, mengumbar senyum samar.
"Kau—" Belarusia menghela napas kasar dan memutar bola mata, lantas dengan sekuat tenaga, ia menginjak keras kaki Norwegia yang tak jauh darinya.
Pemuda itu mengaduh dan sedikit meringis sakit.
"Setidaknya kau pantas mendapatkan itu," Belarusia berdiri, lantas berbalik, "Tunjukkan jalannya, dan aku harus pergi satu jam lagi."
"Baik-baik," gumam Norwegia menyerah, lantas turut berdiri dan melangkah di samping personifikasi Belarusia.
Dalam hati tak bisa ia tahan rasa lega—seakan beban lama yang ia tanggung di hari itu juga terangkat dan lepas begitu saja.
Siapa sangka jika ia bisa benar-benar mengajak Nona Belarusia untuk duduk satu meja makan berdua hanya dengannya? Tak salah instingnya untuk mengajak Belarusia melihat Metal Euro ini bersama.
Saat mereka sudah berada di luar stadion, berjalan beriringan dengan pelan di jalanan beraspal, si pemuda kembali berujar, "Tapi aku serius, Nona Belarusia. Aku ingin kau mempermudah investasi—"
"Aku benar-benar akan mendorongmu ke jalan biar kau tertabrak dan mati, jika kau tak bisa diam, Norwegia."
Norwegia bungkam.
Mungkin membutuhkan lebih dari sekedar makan siang untuk membuat hubungan mereka ke depan lebih dari sekadar kenalan.
. drabble two ends .
Fact: Tahun 2015 di penyelenggaraan Metal Euro Ice Hockey Challenge, Norwegia berhadapan dengan Belarusia. Awalnya Belarus unggul 2-0, namun kemudian hingga babak akhir Norwegia bisa mencetak 5 gol dan membawa tim negara tersebut ke penyisihan selanjutnya :)
A/N: Akhirnya bisa bikin NorBela canon T^Tb I'm soooo proud!
