Yosss, Balas-bals review dulu...
Sebagai tanda terima kasih...
Peringatan Berakhir di chap 3
hanazawa kay : NaruGaa... Makasih udah Review
LoneRaccoon : Hehe Typo adalah penyakitku... Makasih udah Review
Kuminosuki : Makasih ya... Makasih udah Review
Dark - Dhira Love SasuNaru - Gaa-Chama : Makasih udah Review
Para Guest : Makasih udah Review juga
Para Silent Reader : Makasih udah Review juga...
.
.
.
Disclaimer
Naruto
© Masashi Kishimoto
Pairing
NaruGaa
Warning
Au, Ooc, Yaoi, Boy's Love, Sho-ai
Romance/Hurt/Comfort/Death Character
Rate
T for Teeneger
Inspiration
Sinotron abal di Ind*siar
Summary
Gaara selalu ingin mendekati Naruto.
Tapi Naruto selalu mengusirnya.
"Jangan sakiti aku" Ucap Gaara.
Note
Sebenernya aku ga bermaksud Song Fic
Tapi aku rasa lagu BCL yang Saat Kau Pergi
Saangat terasa cocok buat fic ini
Jadi aku masukin aja
Don't Deranged Me n My Heart
(Jangan Sakiti Aku dan Hatiku)
© Kanami Aya
Chapter 2
Who Are You
Don't Like, Don't Read
RnR
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Cerita Sebelumnya
Namun setelah sadar aku terkejut. aku mengatakannya di depan pemuda yang aku kagumi. Sadar pasti perintaanku dia anggap aneh. Akhirnya aku mulai berlari untuk sembunyi. Aku kesampingkan dulu luka di daguku ini. Yang penting aku harus menghilang dari hadapannya.
Aku tak mau dia mengetahui aku. Aku mengaguminya. Dan aku mu terlihat sempurna. Setidaknya secara diam-diam.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Gaara memasuki rumahnya dengan rasa berdebar. Berdebar karena telah berhasil bertemu dengan pengalih perhatiannya. Sang pirang dengan mata seindah pagi. Di mata Gaara dia terlihat seperti matahari di balik awan biru. Dan yang pasti, Gaara berdebar karena luka lebabnya di bagian dagunya.
Setengah jam yang lalu luka ini masih terlihat biasa saja. Hanya memar dan sedikit mengeluarkan darah. Tapi sekarang. Lihatlah. Gaara merasa ada dua dagu kini di tubunya.
Karena memang luka itu kini benar-benar bengkak. Terasa begitu hangat bila ia sentuh. Dengan langkah cepat Gaara melangkahkan kakinya menuju kulkas. Mengambil es batu kristal yang ia letakkan di dalam kain. Kemudia ia rebahkan tubuhnya di sofa sembari mengkompres lukanya.
Sepertinya ia akan kembali ke hari yang panjang dengan rebahan. Pasalnya ia akan selalu demam setiap kali mendapatkan luka. Dan kini ia mulai merasakan tanda-tandanya.
Kepalnya mulai terasa pusing dan berat. Kelopak mata yang terasa panas dan terbebani. Nafas yang mulai sesak dan memenas. Dan akhirnya Gaara tertidur karena lelah menahan pusing.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Naruto menendang kaleng yang ada di depanjang jalan menuju rumahnya. Perasaannya kini benar-benar kalut. Berantakan. Tak menentu. Hal ini di sebabkan karena keasyikannya menggalaukan hubungannya dengan Hinata─kekasihnya terhenti akibat tingkah seorang pemuda bersurai merah.
Naruto yang merasakan Hand Phone nya bergetar mengarahkan tangan kanannya untuk mengambilnya. Dan seketika nama Hinata menghiasi layarnya. Cukup lama Naruto hanya memandangi gambar kontak Hinata hingga akhirnya ia mengangkat panggilan kekasihnya itu.
"Moshi-moshi Hina-can." Ucapnya saat Hand Phone nya sudah menempel di daun telinganya.
"Na-Naruto-kun. Ano... Otou-san ingin bertemu denganmu secara formal hari kamis nanti. Apa kau bisa." Suara Hinata di seberang terdengar gugup.
'Hari kamis. Sekarang malam minggu. Berarti empat hari lagi.' Batin Naruto. 'Ada apa Hiashi Jii-san ingin bertemu denganku.?'
"A-apa kau ada acara Na-naruto-kun?" Tanya Hinata lagi. Setelah cukup lama menunggu jawaban Naruto namun yang di tunggu tak kunjung menjawab.
"Ah gomen. Aku akan kesana Hina-can. Apa aku perlu memakai baju formal?" Naruto harus menanyakan tentang hal ini. Sebab ia merasa ayah kekasihnya itu setidikt kurang suka dengan penampilan dirinya.
Sebagai mahasiwa tahun akhir. Naruto terlihat seperti belum siap menjadi angkatan kerja baru. Ia justru masih terlihat seperti anak SMA yang emosinya masih labil. Lebih sering menggunakan celana jeans dan T-shirt serta sepatu kets atau snekers. Jauh sekali jika di bandingkan dengan saudara sepupu Hinata. Neji.
Pemuda berambut coklat gelap itu hanya berjarak satu tahun dengan Naruto. Tapi jika di lihat dari penampilan dan tingkah laku. Semua orang yang melihat jika Naruto dan Neji di sejajarkan. Pasti akan terlihat seperti berjarak lima-tujuh tahunan.
Neji memang figure yang bagus dan elite untuk ukuran pria dewasa. Dan Hiasi pernah terang-terangan ingin memiliki menantu bercirikan Neji. Dan hal itu ia katakana tepatdi depan Naruto.
"Tidak usah. Datanglah dengan penampilan biasanya." Balas Hinta di ujung sana. Sadar akan kehawatiran kekasihnya.
"Baiklah. Sampai ketemu hari kamis nanti." Ucap Naruto akhirnya.
"Tentu." Diam sejenak. "Em. Naruto-kun?" Panggil Hinata.
"Ada apa?"
"Aku mencintaimu." Aku Hinata. Sementara Naruto mendengarnya hanya menunjukan raut tanpa ekspresi. Dan Naruto kesal akan ekspesianya itu.
"Aku... juga mencintaimu." Naruto yakin ia menjawabnya hanya agar Hinata tak merasakan perasaannya yan kini mulai mengambang. Mulai... gantung. Seolah menguap.
"Oyasumi." Ucap Hinata.
"Ehm. Oyasumi." Balas Naruto. Kemudian ia dengar suara panggilan di tutup.
Naruto memasukan hand phone nya dalam saku celana bagian kanan. Kemudian ia mengadah menghadap lampu jalan yang bersinar terang. Di tatapnya hingga matanya mulai berkunang. Hingga menimbulkan efek cahaya semu di penglihatannya.
"Oka-san. Aku ingin cerita tentang sesuatu." Ucapnya. Merasa tak akan mendapat jawaban akhirnya Naruto kembali melangkahkan kakinya untuk pulang. Dan kali ini ia benar-benar menuju kerumahnya dan mengesampingkan perasaan tak menentunya.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Setelah bangun. Gaara masih merasa sangat lemah. Bahkan untuk mengambil roti tawar dan keju lapis di kulkas yang hanya berjarak sepuluh langkah dari posisinya sekarang. Sebagai sarapan. Karena Gaara sadar betul ia kini benar-benar lapar. Jika ia tak sarapan artinya ia tak akan bisa bekerja.
Aneh memang pikirannya kini. Sadar betul berjalan untuk mengambil sesuatu saja tak kuat ia malah memikirkan pekerjaan. Tapi mau bagaimana lagi. Uangnya tak akan terus bertambah jika ia hanya diam saja bukan? Sementara uang warisannya tak sebanyak dulu.
Seringkali Gaara berfikir ingin bergabung hidup bersana pamannya. Sasori. Tapi pasti sedetik kemudian ia berfikir kembali. Lucu rasanya menumpang hidup saat-saat terakhir seperti ini. Berharap ada yang merawatnya tak lama sebelum kepergiannya. Dan Gaara akhirnya membuang jauh-jauh fikiran itu.
Dengan langkah tertatih Gaara berjalan menuju kulkas di dapur minimalisnya itu. Di ambilnya dua lapis roti tawar yang terbuat dari gandum. Dan satu lapis keju. Merasa makanan tersebut susah di telan. Gaara meminum segelas susu untuk mempemudah sarapannya.
Setelah itu ia menuju kekamarnya. Menganti pakaiannya dengan baju kerjanya. Gaara berkerja di dua tempat berbeda. Pagi hingga siang ia bekerja sebagai kasir di café bernama Shukaku The Dog Coffee. Sore harinya hingga malam ia akan menjadi pramuniaga di sebuah supermarket. Selain sebagai pencari nafkah. Hal ini ia lakukan sebagai pengusir sepi. Gaara tak melanjutkan kuliah setelah lulus SMA dua tahun lalu. Ia lebih memilih bekerja Karena mungkin hal ini lebih mudah dilakukan.
Gaara memerhartikan penampilannya di cermin berukuran 1X0.5 meter tersebut. Luka di dagunya sangat kentara. Terlihat menganggu jika ada yang akan membayar di kasir nanti.
Akhirnya Gaara mengambil plaster dan verban. Di tatanya sedemikian rupa hingga menutupi lebam tersebut. Setelah itu dengan sedikit ragu Gaara memutuskan tetap berangkat kerja. Mengindahkan perintah dokternya yang melarangnya aktifitas saat mendapat luka.
Di perjalanan sebenarnya Gaara merasa tak kuat lagi berjalan. Namun rasa bosannya dirumah mengalahkan segalanya. Untuk apa beradah di rumah. Tidak ada yang akan merawatnya. Jika ingin sesuatu harus mengambil sendiri. Lebih baik di buat beraktifitas. Mungkin rasa pusingnya bisa berkurang.
"Ohayo." Sapanya setelah sampai di ruang karyawan tempatnya bekerja.
"Ohayo. Gaara." Ucap Tenten dan Lee berbarengan.
"Ohayo." Ucap Shikamaru mengikuti. Pria berrambut godrong namun sering di kucir inilah yang akan di gantikan Gaara menjaga kasir. Yang Gaara tahu. Shikamaru anak yang cerdas. Namun sayang, setelah meningalnya sang ayah ia harus menggantikannya sebagai tulang punggung keluarga.
"Ehm. Ohayogozaimasu." Jawab Gaara membalas sapaan teman-temannya.
"Ehm. Gaara. Apa kamu sakit." Tanya Tenten. Ia merasa janggal dengan penampilan Gaara yang memakai baju penghangat dan syal yang menutupi leher hingga menutupi hidungnya. Padahal sekarang baru masuk musim semi. Belum begitu dingin.
"Aku baik-baik saja. Tidak usah menghawatirkanku." Ucapnya kemudian melepas baju hangatnya disusul syalnya. Memperlihatkan benjolan di dagunya yang semula tertutup syalnya.
Namun tiba-tiba Shikamaru meletakkan tangannya di dahi Gaara. Dan itu membuat alis shikamaru kiri naik.
"Tenten. Kau yang jaga kasir sekarang. Lee. Usahakan Gaara tidak melayani banyak pelanggan hari ini." Ucapnya kemudian.
"Gaara sakit. Aku bisa perkirakan suhunya sekarang hampir mencapai 42 derajat Celcius. Sangat tinggi untuk ukuran normal yang hanya bisa mencapai 37 derajat Celcius." Lanjutnya. Sementara Lee dan Tenten hanya terdiam.
"Aku baik-baik saja. Ini masalah kecil." Kilah Gaara kemudian.
"Tapi kau..."
"Aku baik-baik saja Shikamaru. Aku yang merasakan tubuhku. Bukan Kau. Lee-san. Tenten. Lakukan bagaian kalian. Aku akan tetap dikasir." Potongnya kemudian melangkah keluar. Menuju meja kasir.
"Menduksai." Shikamaru merasa kesal. Bingung harus bagaimana lagi.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Gaara bersyukur pagi ini tidak banyak pelanggan. Sehingga ia bisa sedikit beristirahat sambil bekerja. Maksudnya ia kerjanya dari tadi duduk-duduk terus. Gaara melempar pandangannya keluar jendele. Menyaksikan kegiatan orang-orang di luar jendela. Namun tiba-tiba nafasnya serasa berhenti. Ia kembali bertemu dengannya. Sang matahari di balik awan biru.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Naruto POV
Aku berjalan menyusuri jalan trotoar di Konoha Street. Dengan langkah kecil aku menikmati udara pagi ini. Menyaksikan pohon-pohon sakura yang mulai sedikit bunganya. Bertanda musim semi akan berlalu sebentar lagi.
Pagi ini setelah pulang kuliah aku ada janji dengan Hinata. Belum tau sebenarnya mau ketemuan dimana. Tapi kemudian aku menangkap sebuah café yang terlihat nyaman dimataku. Tidak terlalu ramai. Cocok untuk pembicaraanku dengan Hinata yang akan kubahas sebentar lagi.
Kulangkahkan kakiku memasuki café yang tadi sempat ku baca bernama Shukaku The Dog Coffee. Ku dengar sang kasir mengucapkan 'selamat datang. Tapi kuabaikan. Ku pilih bangku pangling pojok kanan. Ku angkat hand phone ku dan ku tekan lama angka dua. Nomor cepat untuk Hinata.
"Moshi-moshi." Jawab Hinata di seberang sana.
"Moshi-moshi Hina-can. Kuliahmu sudah selesai?" Tanyaku sementara tanganku yang lain membuka daftar menu.
"Lima belas menit lagi Naruto-kun."
"Baiklah. Aku tunggu di Shukaku The Dog Coffee bagaimana. Bisa?" Aku melambaikan tangan kananku. Pertanda ingin memesan sesuatu.
"Ehm baiklah. Di jalan Konoha Street 'kan?" Tanya Hinata di seberang sana sambil berbisik. Mungkin kini sedang ada dosen di dekatnya.
"Benar. Tunggu sebentar Hina-can." Aku melihat seorang karyawan wanita mengjampiriku. Aku menjeda pembicaraanku.
"Cappuccino hangatnya satu. Latte nya di banyakin. Terus roti panggang kejunya dua porsi." Pesanku yang langsung dicatat cepat oleh sang karyawan bercepol dua.
"Baik saya ulang pesanannya. Satu Cappuccino extra latte satu. Dua roti panggang rasa keju. Benar tuan." Tanya karyawan itu. Sebagai jawaban aku mengangguk.
"Baik. Mohon di tungu sebentar." Ucapnya lamu menjauh.
"Dua porsi roti panggang? Kau sedang bersama siap Naruto-kun." Tanya Hinata di seberang sana menyadarkanku masih dalam pembicaraan dengannya.
"Ah tidak aku hanya belum sarapan. Jadi aku merasa lapar." Jawabku.
"Baiklah kalau begitu." Hinata memutuskan pembicaraan.
Aku menutup hand phone ku dan mengalihkan pandanganku menyusuri bangunan café ini. Terlihat bagus. Rapi mungkin. Entahlah aku tak begitu mengerti gaya tata ruang. Merasa bosan aku menatap lukisan anjing gemuk di bagian kasir. Namun hal itu membuatku menangkap sosok seseorang yang aku kenali. Mungkin.
Rambut merah itu. Warna hijau mata itu. Bukankah dia?
"Ini pesanannya tuan." Ucap karyawan tadi menghancurkan lamunanku. Sedikit terkejut aku di buatnya. Pasalnya aku tak menyadari kapan ia datang.
"Terimakasih." Ucapku. Dan dia kembali menjauh.
Kembali dengan usahaku mengingat siapa pemuda yang tengah menjadi kasir itu. Aku tiba-tiba menemukan sebuah kata. 'Es batu' Ya. Dia pemuda tadi malam yang mengerjaiku. Setidaknya itu yang aku tangkap dari kejadian tadi malam. Dan seketika rasa tidak sukaku muncul dengan sendirinya.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Gaara POV
Tuhan. Mengapa engkau pertemukan aku denganny lagi. Aku tida siap. Lihatlah penampilanku hari ini. Aku yakin tidak bisa menjawab pertanyaannya jika ia mengingatku. Apa yang harus aku lakukan?
Tapi entah mengapa melihatnya seperti obat tersendiri bagiku. Dia bagaikan doktin penyemangat untuk membuatku berdiri dengan tegak. Padahal tadi aku merasa kakiku tak akan bisa lagi menyangka berat tubuhku.
Ku lihat ia sedang menghubungi seseorang. Siapa? Mungkin wanita di sampingnya tadi malam. Sedetik kemudian, entah mengapa aku merasa tidak suka. Kemdian aku melihatnya mengangkat tangannya. Mungkin memesan. Sesaat aku tertegu. Hanya dari lengan atasnya aku tahu bahwa tubuhnya memiliki bentik yang bagus. Terlihat dari otot yang timbul di sana.
Tapi tiba-tiba aku merasa dia mulai melihat kearahku. Mungkin. Tersentak aku langsung menundukkan wajahku. Menyibukkan dengan sesuatu yang lain. Berusaha mengalihkan perhatianku.
Sepuluh menit berlalu ada pengunjung lain yang memasuki café tempatku bekerja. Dan dari rambutnya aku yakin gadis itu akan menuju ke kursi diamana sosok yang kukagumi duduk. Dan benar. Ia duduk tepat di depan nya. Membelakangiku. Menghalangi pandanganku yang sedari tadi curu-curi pandang.
Café tempatku bekerja tak terlalu luas. Hanya berjarak tiga pasang bangku antara aku dan dia yang notabene duduk di paling ujung. Sehingga pembicaraan yang ia lakukan dapat ku dengar dengan jelas. Dan saat gadis itu menyapanya aku akhirnya tau. Bahwa dia bernama Naruto. Sementara gadis itu bernama Hinata.
"Kenapa sudah sampai? Katanya lima belas menit lagi berakhirnya? Kau ingin pesan apa? Aku yang bayar." Ucap Naruto seraya tersenyum. Aku ingin. Aku ingin dia tersenyum padaku.
"Pesan Cappuccino saja. Aku tak ingin makan. Sedang diet."
"Jangan. Diet tak bagus bagimu. Aku sudah senang dengan tubunhmu yang sekarang." Ku lihat Naruto mulai menyentuh tangan gadis itu. Kesal aku melihatnya. Mungkinsekarang gadis itu sedang memerah pipinya.
Setelah itu mereka asyik bicara sementara aku malas memerhatikannya lagi. Bikin dada sesak saja. Tapi karena jarak ini. Mau tidak mau aku tetap menangkap pembicaraan mereka. Dan yang aku tangkap adalah... si gadis ingin dilamar oleh pemuda di depannya. Ya. Hinata ingin di lamar oleh Naruto. Empat hari lagi di kediamannya.
Tuhan. Kenapa sesak sekali. Di sini sesak sekali. Di hatiku. Di pernafasanku. Aku sadar rasaku padanya memang tidak normal. Aku bukan gay. Aku tau betul itu. Tapi salahkah aku mengharapkannya. Menginginkannya untukku. Kini aku menemukan arti hidup setelah kesendirianku. Dan hal itu akan hilang dalam empat hari. Kenapa harus seperti ini.
Tiba-tiba rasa pusingku bertambah. Namun karena sang gadis─atau aku harus membiasakan memanggilnya Hinata─beranjak meninggalkan Naruto dan melintas di depanku. Seperti ia akan pulang terlebih dahulu. Karena pekerjaan ku paksakan untuk mengucap kewajibanku.
"Terima kasih. Silahkan datang kembali." Setelah itu aku jatuh terduduk.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
"Gaara." Ku dengar Lee meneriaki namaku. Mungkin ia sempat melihat cara jatuhkan. Dan benar saja. Beberapa saat kemudian dia menghapiriku dan membantuku berdiri. Tapi saat aku tegak berdiri aku di buat terkejut karena tiba tiba ia berdiri di depan meja kasir. Naruto kini mulai memerhatikanku. Dan entah mengapa aku melihat dia tersenyum. Mengejek.
"Kau tak papa?" Tanya Lee.
"Aku baik-baik saja Lee-san." Kilahku.
"Sudahlah. Kau istirahat saja. Biar aku yang di kasir." Ucapnya. Aku menggeleng. Tanda tidak setuju.
"Kau yakin?" Lanjutnya. Aku mengangguk. Akhirnya Lee menjauh. Kemudian aku berdiri didepan mesin kasir, meminta bonnya. Dia menyerahkannya. Dan aku menghitung jumlah pesanannya.
"Enam ratus dua puluh yen."Ucapku. Kulihat ia mengeluarkan dompet berwarna coklat dan mengeluarkan uang seribu yen. Aku menerimanya. Kemudian ku beri dia kembalian. Tepat sebelum ia memegang ganggang pintu aku memanggilnya.
"Naruto!" Panggilku. Dia menoleh. Binging mengapa aku mengetahui namanya.
"Jangan menikahinya." Lanjutku. Entah mengapa aku ingin mengatakannya. Entah mengapa aku ingin mencegahnya. Kulihat dia berbalik dan menghadapku.
"Kau menguping? Gaara-san?" Tanyanya. Tentu ia juga tau namaku. Tadi Lee-san meneriaki namaku keras.
"Aku mohon." Aku tak menjawab pertanyaannya.
"Heh? Kamu pikir siapa dirimu? Itu urusanku. Bukan hakmu melarangku." Kulihat tatapannya berubah tajam.
"Aku... Aku mohon." Aku terbata menjawab pertanyaannya. Bingung jawaban apa yang akan ku berikan. Mana mungkin ku jawab aku menyukainya. Itu akan terdengar konyol.
"Tolong ya Gaara-san. Jangan campuri urusan saya. Wajah lemahmu itu membuatku muak." Ucapnya seraya menunjuk ke wajahku. Atau tepatnya ke daguku. Kemudian ku lihat Naruto benar-benar pergi. Menjauh. Tanpa bisa ku cegah. Menghancurkanku sekali lagi.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
To Be Continued
Huwaa...
maaf baru update...
ngantri ngetiknya ama 3 fanfic TBC ku yang lain...
plus aku baru selesai UAS...
Makasih yang udah review...
kembali aku berharap revieww...
kira2 kurang apa cerita ini...
biar aku masukin di chap 3...
aku ingetin lagi fic ini Berakhir di chap 3...
