TITLE : Popular Boy and His Ideal Type (Chapter 2)
AUTHOR : NinHunHan5120
GENRE : Yaoi, boys love, romance, friendship, school life
LENGTH : Series
RATING : T
CAST :
Oh Sehun
Xi Luhan
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
SUMMARY : Chanyeol sang idola sekolah yang tidak pernah merasakan jatuh cinta tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama dengan orang yang tidak tertarik padanya. Sehun namja tampan yang tergila-gila pada kakak kelasnya yang cantik. Dapatkah mereka berdua mendapatkan hati namja ideal mereka?
~Preview chapter 1~
"Kalau hyung sudah tidak ada urusan denganku, aku akan kembali ke kelas," izinnya.
"Pergilah," kataku sedikit ketus agar tidak menghilangkan imej ramahku.
Sebelum pergi ia membungkukkan badan. Namja ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Harus kepada siapa lagi aku meminta bantuan? Suho? Dia tidak dekat dan jarang berinteraksi dengan Baekhyun. Masa iya aku harus beraksi sendiri?
Di tengah lamunanku tidak sengaja aku menabrak seseorang –lagi-. Kenapa aku selalu bertabrakan dengan orang dikala melamun?
"Maaf," ucapku.
"Gwaenchana," ucap suara lembut itu.
Aku memandang orang itu. Dan ternyata dia adalah...
.
.
.
.
.
~Chapter 2~
^_Chanyeol's POV_^
"Xi Luhan?" ujarku spontan dengan suara pelan. Namun kurasa ia mendengarku, terbukti karena ia juga menatapku sekarang.
"M-mian. A-aku tidak sengaja," ucapnya sedikit membungkukkan badan. Suaranya terdengar gugup. Atau hanya perkiraanku saja?
"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Ngomong-ngomong kenapa kau ada di sini? Bukannya tadi kau berada di kelas?" tanyaku. Sedikit mengobrol dengan namja incaran Oh Sehun tidak ada salahnya kan?
"Ada yang harus kulakukan di perpustakaan. Bukannya bel masuk sudah berbunyi? Kenapa kau masih berkeliaran? Tadi aku melihatmu bersama Sehun di depan kelasku. Sekarang kenapa belum masuk ke kelas?" tanya Luhan beruntun. Aku mengernyit memahami pertanyaannya. Mana yang harus kujawab terlebih dahulu? Kenapa dia sangat ingin tahu sekali? Berkeliaran? Memang dia pikir aku kucing liar? Dan kenapa—
"Kau berniat membolos?" belum sempat aku menjawab dia sudah mengambil kesimpulan sendiri. What the hell.
"Ani. A-aku baru saja mau ke kelas. Tadi aku masih ada urusan dengan kekasihmu. Jadi –" kataku terburu karena aku tidak mau dia berpikiran yang negatif tentangku. Apa jadinya seorang idola sekolah dicap buruk? Namun kalimatku segera kuhentikan ketika kulihat muncul semburat merah di pipinya. Aigoo~ dia cantik sekali jika tersipu.
"Dia bukan kekasihku," ucapnya pelan dengan kepala tertunduk. Mungkin untuk menyembunyikan rona pipinya.
"Aku tahu. Tapi dia menyukaimu kan? Dan sebentar lagi kalian pasti akan menjadi sepasang kekasih," kataku. Aku tidak tahu kenapa bisa seyakin ini? Aku hanya asal bicara.
"Maksudmu?" aku tersenyum misterius melihat wajah penuh tanyanya.
"Ehm... Sepertinya aku harus ke kelas sekarang. Sampai jumpa," pamitku setelah memberikan senyum manis –menurutku- kepadanya. Meninggalkannya dengan raut wajah bingung.
^_End of Chanyeol's POV_^
^_Sehun's POV_^
Aku merebahkan tubuh lelahku di ranjang king size kesayanganku. Setelah mandi dan makan malam aku ingin segera berkelana ke alam mimpi. Pertandingan tadi sungguh melelahkan. Tapi rasa lelah itu terbayar dengan kemenangan yang membanggakan. Bagaimana tidak? Lawan kami adalah Kirin Art School yang merupakan salah satu sekolah ter-elit di Korea Selatan selain sekolahku tentunya. Kami cukup bangga bisa mengalahkan sekolah itu. Selain untuk membuat nama sekolah dipandang baik oleh publik, juga karena urusan pribadi. Namja yang kusukai menontonku. Aku harus bermain dengan mengerahkan seluruh pesonaku. Yang membuatku senang hari ini selain memenangkan pertandingan juga karena aku bisa makan siang dengannya. Walau bukan yang pertama kali tapi aku selalu senang bukan main ketika makan siang bersamanya. Bibirku tersungging membentuk sebuah senyuman yang jika para yeoja melihat pasti akan berteriak histeris.
"Kau seperti orang gila senyum-senyum sendiri,"
Aku tersentak ketika mendengar suara berat memekakkan telinga itu. Ternyata saking asyiknya membayangkannya sampai aku tidak tahu ada tiang listrik yang masuk ke kamarku.
"Ya! Hyung! Kau mengagetkanku," seruku seraya bangkit dari acara berbaring dan menatapnya garang.
Kris hyung menyeringai dan duduk di tepi ranjangku.
"Aku sudah mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Akhirnya aku masuk dan menemukanmu tengah melamun. Aku tidak tahan melihat wajah bodohmu ketika tersenyum. Maka dari itu aku menyadarkanmu," ucap Kris hyung. Aku mempoutkan bibir.
"Kau tidak tahu seberapa heboh yeoja dan namja di luar sana ketika melihatku tersenyum? Sepertinya kau perlu memeriksakan matamu," kataku ketus.
"Kecuali aku. Kau tahu kalau senyumku lebih menawan darimu? Kau harus bangga mempunyai kakak sepertiku karena membuatmu bisa tampan sepertiku. Yah walau masih tampan aku sih," kata Kris hyung dengan bangganya.
"Kau menyebalkan hyung. Yang harus aku beri ucapan terima kasih adalah appa dan eomma, bukan kau. Aku adalah namja paling tampan dan populer di sekolah. Semua murid dan guru bahkan tukang kebun mengakui itu," ujarku tak mau kalah.
"Seandainya aku bersekolah di sekolahmu tentu aku yang paling populer. Kau beruntung karena tidak satu sekolah denganku," kata Kris hyung dengan ekspresi menyebalkannya.
"Yah.. Aku beruntung sekali," cibirku.
"Asal kau tahu hyung. Tidak ada namja ataupun yeoja yang tidak memujaku. Di sekolah maupun di luar sekolah," lanjutku.
"Yang benar saja. Kau yakin? Bahkan namja pujaanmu tidak meneriakkan namamu sama sekali ketika pertandingan. Yang kudengar malah dia meneriakkan nama kaptenmu. Siapa? Cendol? Aish.. Aku lupa namanya,"
"Chanyeol hyung?"
"Yap. Kau tahu sendiri. Dia lebih mengelu-elukan namanya daripada namamu," kata Kris hyung dengan menuding jari telunjuknya padaku.
"Bagaimana kau bisa tahu?" aku menatapnya penuh selidik dengan alis bertaut.
"Tentu saja aku memperhatikannya. Dia paling bersinar diantara semua penonton. Kau tidak perlu bertanya kenapa aku bisa tahu mana yang namanya Luhan. Dia adalah teman JHS ku dulu ketika di Beijing. Dari melihat fotonya di dompetmu aku sudah tahu kalau Luhan yang kau sukai adalah teman lamaku," jelas Kris hyung.
"Ya! Kenapa kau baru memberitahuku? Tahu begini aku bisa menanyakan tentangnya padamu,"
"Memangnya aku mau memberitahu tentangnya padamu? Berusahalah sendiri. Luhan bahkan tahu kalau kau adalah adikku. Apa dia tidak memberitahumu?" tanyanya. Aku menggeleng.
"Kasihan sekali kau. Sejauh mana hubunganmu dengan Luhan?" tanya Kris hyung lagi.
Aku bingung harus menjawab bagaimana. Pasalnya aku bahkan masih canggung dengan Luhan hyung. Ya walaupun aku sudah lama berteman dengannya. Tapi aku masih belum berani menyatakan cinta padanya. Entah mengapa, padahal sebentar lagi dia akan lulus.
"Tinggal selangkah lagi aku akan mendapatkannya," ujarku yakin. Kris hyung mengendikkan bahunya.
"Dulu Luhan adalah teman dekatku. Dia sahabatku. Dia anak yang sangat polos. Tidak pernah menerima tawaran namja manapun untuk mengajaknya berkencan. Aku mengagumi sifatnya itu. Pernah terpikir olehku untuk menjadikannya sebagai kekasihku tapi tidak mungkin aku menghancurkan persahabatan kami,"
"Hyung menyukai Luhan hyung?" tanyaku mengintimidasi.
"Oh tidak tidak. Jangan menatapku seperti itu. Kau sangat seram, kau tahu? Aku memang menyukainya tapi sebagai teman. Jangan berpikiran aku ingin benar-benar menjadikannya kekasihku. Aku hanya bercanda," jelas Kris hyung ketika mendapat death glare dariku. Aku bernapas lega. Kupikir Kris hyung benar-benar menyukai Luhan hyung.
"Aku tak heran jika kau menyukainya. Dia namja yang sangat baik dan juga pintar. Nyaris sempurna. Dia seperti malaikat. Aku sangat mendukung dia menjadi adik iparku," kata Kris hyung disertai kekehannya.
"Aku yakin pasti sainganmu tidak sedikit," tebak Kris hyung.
"Memang. Tapi karena aku Oh Sehun, tidak ada namja yang berani mendekati orang yang kusukai. Mereka merasa tidak pantas bersaing denganku karena mereka yakin Luhan hyung pasti akan memilihku," ujarku dengan percaya diri.
"Ya ya.. Aku hargai kepercayaan dirimu. Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau mengalahkan kakakmu sendiri?" ujar Kris hyung seraya memukul pundakku.
"Kau lengah hyung. Dan aku tidak mungkin mengalah hanya karena kau adalah hyungku. Pertandingan tetaplah pertandingan. Harus sportif. Tidak peduli hubungan darah. Selama pertandingan kita adalah rival bukan saudara," ucapku.
"Aku bahkan tidak percaya bisa kalah darimu," Kris hyung mendecih.
"Kau mengakui kalau aku lebih hebat darimu kan?" aku menyunggingkan senyum miringku.
"Sudah kubilang. Kau beruntung menjadi adikku. Kau mewarisi bakat bermain basketku dengan baik," kata Kris hyung.
"Sudah kubilang. Eomma dan appa yang mewariskannya padaku, bukan kau," kataku membalasnya.
Aku melompat ke atas ranjang dan tidur telungkup membelakangi Kris hyung.
"Sudah, tidurlah. Besok kita harus sekolah," kata Kris hyung sebelum beranjak meninggalkanku sendirian di kamar.
Berbicara tentang Luhan hyung, aku jadi ingat awal mula aku bertemu dengan rusa cantik itu. Wajah cantiknya mengalihkan duniaku.
#FLASHBACK ON#
^_Sehun's POV_^
Seoul, Juli 2013
Setelah turun dari mobil Kris hyung aku terburu-buru berlari menuju gerbang yang jaraknya masih lima meter di depanku. Ini adalah hari pertamaku masuk SHS tentunya setelah menjalani masa orientasi. Aku bersyukur karena masa menakutkan itu telah berakhir. Gara-gara semalam aku bermain playstation terlalu larut dengan Kris hyung, paginya kami telat bangun. Aku dan Kris hyung hanya tinggal berdua di apartemen. Orang tua kami berada di China.
Aku mempercepat lariku, mengerahkan seluruh tenaga. Tidak memedulikan rambutku -yang baru kuwarnai silver kemarin di salon- yang menjadi berantakan akibat berlari kencang. Bagaimana bisa aku terlambat di hari pertamaku menjadi siswa SHS? Itu tidak mungkin terjadi. Sedikit lagi maka aku akan sampai tepat waktu.
BRUK
Aku berhasil mencapai gerbang sebelum bel berbunyi. Mungkin karena aku berlari tidak beraturan sehingga tidak memerhatikan keadaan sekitar, aku bertabrakan dengan seseorang yang sepertinya juga terburu-buru. Sontak kami berdua terjatuh bersama dengan posisi bertindihan. Aku berada di atasnya dan dia di bawahku. Jarak wajah kami sangat dekat. Aku bisa merasakan deru napasnya yang menerpa wajahku. Bau harum nan manis berloma-lomba masuk ke hidungku. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat intens wajahnya. Mata besar berbinar yang menyerupai mata rusa, hidung mungil yang mancung, bibir pulm semerah cherry, warna kulit yang putih merona bersinar, tulang pipi sedikit tinggi, rambut coklat karamel yang menutupi dahinya. Cantik. Kesan pertama yang kudapat ketika melihat wajahnya.
Cukup lama kami terdiam dalam posisi seperti ini. Aku tak berkedip sedikitpun menatapnya begitupun dia. Sampai kudengar deheman pak satpam yang menginterupsi momen indahku.
"Mau sampai kapan kalian memeragakan adegan di film india? Kalian tidak dengar bel sudah berbunyi? Cepat masuk ke kelas!"omel pak satpam penjaga gerbang.
Aku pun segera bangkit dari atas tubuhnya dan menatap tajam pak satpam menyebalkan itu. Aku membersihkan debu yang menempel di seragamku dan merapikan rambut silverku yang berantakan. Untung aku memakai gel tadi, andai tidak pasti rambutku berantakan lebih parah dari ini. Aku melihatnya melakukan hal yang sama denganku. Aku hampir lupa untuk meminta maaf padanya. Namun aku sedikit terkejut ketika melihatnya. Dia memakai celana dan rambutnya pendek. Aku kira dia tadi yeoja. Salahkan wajahnya yang sangat cantik.
"Cheongseohamnida," ucapku seraya membungkukkan badan.
"Tidak ada waktu untuk bermaaf-maafan. Cepat masuk ke kelas sebelum saya melaporkan kalian ke waka kesiswaan," pak satpam tadi bersuara lagi. Aku mendecih melihatnya. Saat ingin berbalik aku sudah tidak mendapati namja itu lagi. Kuedarkan pandanganku ternyata ia telah berjalan menjauh. Dengan segera kukejar dia. Aku belum mendapat maaf darinya, ingat?
"Chogiyo! Chamkaman!" seruku berharap ia dapat mendengarku. Aku tersenyum lebar ketika ia berbalik. Aku segera berlari mendekat.
"Chengseohamnida. Tadi aku terburu-buru sehingga tidak sengaja menabrakmu," ucapku dengan napas terengah-engah.
"Gwaenchana. Aku juga bersalah. Aku juga terburu-buru sehingga tidak sengaja menabrakmu," ucapnya menirukan kalimatku disertai senyumannya yang err... manis sekali. Dia semakin terlihat cantik saat tersenyum. Tanpa sadar aku mengangkat kedua sudut bibirku membentuk senyuman.
"Kajja. Masuk ke kelas. Kita sudah terlambat," ajaknya.
"Kau berada di kelas mana?" tanyaku.
"Di lantai tiga. Aku duluan ya," pamitnya. Setelah memberikan senyumannya dia berlalu.
Lantai tiga? Menurut bimbingan masa orientasi kemarin lantai tiga adalah kelas dua belas. Itu berarti dia kelas dua belas. Aku kira dia masih kelas sepuluh sama sepertiku. Dilihat dari wajahnya kelihatan lebih muda dariku. Ternyata dia sudah di tingkat akhir.
Oke, sepertinya aku sudah sangat terlambat. Jarum panjang menunjuk angka dua belas. Bel masuk sudah berbunyi dua puluh menit yang lalu. Aku harus bergegas menuju ke kelas sambil berharap mudah-mudahan seonsaengnim belum datang. Jika terlambat dan mendapat hukuman pun aku tidak menyesalinya karena semua itu telah terbayar dengan bertemu dengan bidadari cantik. Aku malah mensyukuri. Kalau tidak terlambat mana mungkin aku bertemu dengannya. Ini pertama kalinya aku bahagia ketika terlambat.
#FLASHBACK OFF#
Aku tak hentinya tersenyum mengingat pertemuan pertamaku dengannya. Sungguh hari yang sangat beruntung bagiku walau setelahnya aku mendapat hukuman lari keliling lapangan sebanyak lima putaran. Itu tak terlalu buruk mengingat ia juga mendapatkan hukuman yang sama. Sepertinya kami berdua bernasib sama. Apa jangan-jangan kami jodoh?
#FLASHBACK ON#
^_Sehun's POV_^
Aku terengah-engah dengan napas tak beraturan sambil menopang tubuhku di lutut. Padahal ini baru satu putaran, masih tersisa empat lagi. Bagaimana aku tidak lelah? Tadi pagi aku sudah maraton mengejar pintu gerbang, sekarang harus mengelilingi lapangan seluas ini sebanyak lima putaran. What the hell.
PUK
Aku merasakan seseorang menepuk bahuku. Aku mendongak dan mendapati di depanku ada seorang bidadari cantik yang kutemui tadi pagi.
"Kau dihukum juga? Ah, bodoh sekali aku bertanya seperti itu. Kita berdua kan sama-sama terlambat," ujarnya terkekeh kecil.
"Sunbae.."
"Kajja, cepat kita selesaikan hukumannya. Supaya bisa cepat istirahat," ia membantuku menegakkan badan kemudian berlari mendahuluiku.
Aku masih terpaku menatapnya yang semakin menjauh. Sepertinya aku sudah menemukan obat penghilang rasa lelahku. Aku segera menyusulnya dengan senyum merekah di bibirku. Seumur hidup aku tidak pernah merasa sebahagia ini ketika mendapat hukuman. Salahkan bidadari yang berlari di depanku ini yang membuat segala hal buruk menjadi indah.
Tak terasa lima putaran telah kulalui. Selama berlari aku terus menatap punggungnya sampai tak sadar hukumanku telah selesai. Aku mungkin tidak akan menyadarinya kalau dia tidak berhenti. Lari lima putaran seperti lima langkah bila dia ada di depan mataku. Aku bahkan tidak merasa lelah sedikitpun setelah melihat senyumnya.
"Kau lelah? Kajja ke kantin," ajaknya. Aku mengikutinya dan menyeimbangkan langkahku dengannya.
"Hari ini sebenarnya tidak ada pelajaran. Ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan semester. Mengapa peraturan tetap berlaku di saat seperti ini? Sekolah ini sangat disiplin, tidak mentolerir apapun," ocehnya. Aku hanya dia saja mendengarkan suaranya yang –sangat- merdu di telingaku.
Kami memasuki kantin yang cukup luas. Banyak murid yang berada di sini. Ini memang masih jam pelajaran seharusnya. Seperti yang ia katakan bahwa hari ini tidak ada pelajaran. Makanya para murid berhamburan sesukanya.
"Kau mau membeli apa?" tanyanya.
"Ehm... Aku tidak tahu," jawabku yang memang tidak tahu menu di kantin ini karena baru pertama kali mengunjunginya.
"Kau ini. Baiklah, kau bisa menunggu di sana. Aku akan memesan minuman untukmu," ucapnya menunjuk kursi kosong di tengah kantin.
Aku menurut dan menunggunya. Tak lama kemudian ia kembali membawa dua cup minuman dan duduk di depanku. Aku menerima minuman darinya setelah mengucapkan terima kasih. Sesaat aku terhenyak.
"Bagaimana sunbae bisa tahu kalau aku suka bubble tea?" tanyaku heran.
"Benarkah? Aku hanya memesan minuman kesukaanku. Aku tidak tahu kalau kau juga menyukainya. Syukurlah kalau begitu," ujarnya tersenyum senang.
Aku mengangguk mengerti dan tersenyum dalam hati karena seleraku dengannya sama.
"Oh iya, kau murid baru kan? Selamat datang di SOPA," ucapnya.
"N-ne, gamsahamnida sunbae," ucapku gugup.
"Tidak perlu seformal itu. Cukup panggil aku hyung. Namaku Luhan. Kau siapa?" tanyanya seraya mengulurkan tangannya.
Luhan. Nama yang indah. Seindah pemiliknya.
"Namaku Oh Sehun," aku membalas uluran tangannya.
Lembut. Kesan yang kudapatkan ketika bersentuhan dengannya.
#FLASHBACK OFF#
Awal pembicaraan, awal perkenalan, dan awal menyentuh tangannya. Semua itu tak akan kulupakan begitu saja. Sebut saja aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Setelah hari itu tak kusangka aku sering bertemu dengannya. Mulai dari berpapasan di koridor, di kantin, di lapangan, bahkan di toilet. Mungkin kita memang benar-benar jodoh. Yah mudah-mudahan saja. Sejak itu pula aku menjadi sering mengobrol dengannya. Aku mulai mengenalnya lebih jauh. Dia mengambil jurusan vokal, sedangkan aku jurusan dance. Ternyata dia adalah orang China. Keluarganya menetap di China. Dia mengikuti pertukaran pelajar di Korea dan dengan berat hati meninggalkan kampung halamannya untuk meraih cita-citanya menjadi penyanyi. Dia sangat pintar. Dia tinggal sendiri di sebuah apartemen tak jauh dari sekolah. Dia mempunyai sahabat yang bernama Byun Baekhyun. Sahabatnya itu tidak terlalu terkenal, berbeda jauh darinya yang sangat dikenal semua kalangan terutama namja. Tentu saja tak heran karena dia sangat cantik, pintar, dan berbakat sehingga tidak sedikit namja maupun yeoja yang ingin menjadi kekasihnya. Dan itu membuatku jengkel. Dari situ aku memikirkan cara bagaimana aku juga bisa terkenal sepertinya. Aku harus membuktikan padanya kalau aku yang terbaik. Kemampuan akademikku tidak begitu bagus memang. Aku akan mengikuti klub yang dulu pernah kuikuti di JHS. Aku mengikuti audisi klub basket dan akhirnya diterima. Pemain basket biasanya paling dikagumi. Walaupun aku tidak menjadi kapten tapi aku cukup bersyukur karena diterima. Mungkin dari sini aku bisa menjadi populer. Dan benar saja. Setelah pertandingan pertama yang kuikuti, namaku langsung melejit bak selebriti yang naik daun. Tidak sia-sia aku mempunyai wajah tampan dan bakat bermain basket. Semua warga sekolah memujaku. Luhan hyung bahkan bangga kepadaku. Kini aku setara dengannya.
Aku dan Luhan hyung semakin dekat. Banyak yang mengira kami adalah sepasang kekasih. Tentu itu yang kuharapkan. Luhan hyung selalu tersipu setiap orang-orang mengatakan itu. Neomu kyeowo hyungiiie. Tentu aku berharap hubunganku dengannya lebih dari teman dan kakak adik. Semua orang tahu bahwa aku menyukainya. Tidak ada yang berani mendekati Luhan hyung lagi. Mungkin mereka minder bersaing dengan Oh Sehun. Selangkah lagi aku pasti akan mendapatkannya.
..
..
..
..
..
~T_B_C~
BIG THANKS TO:
meliarisky7, indrisaputri, ViviPExotic46, flamintsqueen, BaekheeChanlove, Rnine21, RapByun, EXO Love EXO, parklili, hunhan, shin il kwang, EllisaAzzusa, Guest, HunHanie
Gimana gimana? Pada salah nebak ya? Kalian pasti mengira Baekhyun. Yang bener Luhan.
Mungkin chap ini agak membosankan *banget thor* karena berisi dialog-dialog tidak penting dan pemikiran Sehun serta nostalgianya bertemu dengan Luhan. Nggak ada ChanBaek moment. Sabar ya readers... Chap depan akan berisi HunHan lagi dengan sudut pandang Luhan. Ada ChanBaek juga kok.. Padahal awalnya aku niat Cuma bikin ChanBaek dan HunHan hanya slight, tapi HunHan merengek minta dijadiin tokoh utama. Jadinya seperti ini deh. Mudah-mudahan suka. Aku akan buat seimbang antara HunHan dan ChanBaek.
Author minta maaf karena update'nya lama. Padahal udah jadi beberapa hari yang lalu. Nggak tau kenapa lepi author nggak bisa buka FFN, ada yg tau kenapa? Jadinya mesti ke warnet buat post FF ini. Jarak rumah aku ke warner itu jauh. Mungkin seminggu sekali aku bakal ke warnet. Sabar ya readers...
Yang mau cerita abal ini dilanjut mohon review-nya. Kalian juga boleh memberikan pendapat, saran, maupun kritik. Aku usahakan update secepatnya.
Terakhir, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Marhaban ya ramadhan..
Sampai jumpa di chap selanjutnya
